Tag Archives: puisi

IFW Writer’s Digest e-Magazine Diluncurkan Awal Juli 2012

Sebagai perhimpunan penulis yang senantiasa bergerak maju, The Indonesian Freedom Writer, awal Juli 2012, akan meluncurkan majalah elektronik (e-Magazine) yang diberi nama IFW Writer’s Digest, atau Writer’s Digest.

Majalah ini akan terbit sebulan sekali, dan dapat diunduh secara gratis di blog resmi IFW ini.

Memuat karya-karya sastra dan artikel umum lainnya, seperti cerpen, cerita mini, puisi, esai sastra, opini umum, kajian puisi, dll.

Anda dapat mengirimkan karya, tentunya, dengan tetap mengacu pada misi IFW. IFW menghadirkan blog ini, awalnya untuk memacu semangat penulisan dengan mementingkan ide dan gagasan. Dan pada e-Magazine ini, tulisan-tulisan yang akan dimuat harus secara literatif memenuhi syarat redaksi: ditulis dengan bahasa yang baik dan benar (lebih baik jika sastraistik), jelas disampaikan, terukur secara logika, tak memprovokasi, tak SARA.

Untuk beberapa edisi ke depan, redaksi tak memberikan honor untuk setiap tulisan yang dimuat, sehingga itu lebih banyak artikel masih akan diambil dari dokumen panel penulis tetap IFW. Namun, Anda masih tetap bisa mengirimkan tulisan Anda jika ingin.


Awan Hitam (Saat dan Peristiwa) Kumpulan Puisi Fuad

Buku "Awan Hitam" dan Fuad, penulisnya (Gambar Kanan)

Judul: Awan Hitam (Saat dan Peristiwa) Kumpulan Puisi
Penulis: Fuad
Pengantar: Hudan Hidayat
Desain/Ilustrasi: Yoga/Doni
Proofread: Gieb
ISBN: 978-602-96901-2-5
Penerbit: Mijil Publisher
Harga: Rp 52.000,- (111 +xii ) –

Suatu permainan membuka dan menutup. Suatu gerak ada dan tiada. Suatu kehendak dari dorongan motif yang merenungkan dunia tanpa, atau mungkin – ia pendamkan dalam, amanat puisi yang harus kita tarik dari simpulan isi – ia sadari. Kesadaran yang belah saat melihat dunia yang dilihatnya secara terbuka. Dunia itu pun adalah misteri juga. Di kedalaman benda-benda yang ditatapi oleh aku-lirik, dekat-nya fuad, benda-benda itu menampakkan emosinya. Atau sang aku yang emosional? Yang artinya benda-benda itu terhampar saja secara objektif – netral tanpa emosi. Bisa jadi. Tapi puisi tak mengatakan penampakan seperti itu – benda-benda itu ikut sedih dan sombre, seperti aku dalam dekat itu, sedih dan sombre. Atau seperti kita dalam dunia dan disambar oleh dekat-nya fuad, ikut terdiam dan patah hati melihat dunia yang tak berkesudahan ini. (Hudan Hidayat)

Buku ini dapat dipesan melalui akun Fuad (Awan Hitam) dan Team Mijil Publisher (Helena Adriany dan Harri Gieb)
Harga buku belum termasuk ongkos kirim

Pembayaran melalui transfer ke rekening:
Fuad
Bank Mandiri Cikarang
No.Rek 156-00-0321218-2


Keinginan Sapardi Dilafaz Cinta Gibran

(Mengakhiri silang sengkarut debat dan klaim khalayak pada jejak sebuah puisi)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

SILANG pendapat perihal dua entitas puisi yang masing masing berjudul “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono dan “Lafaz Cinta” karya Kahlil Gibran yang sangat identik dalam syair-syairnya, sepertinya akan segera berakhir.

Bagi saya, awalnya persilangan pendapat yang ramai terjadi di berbagai situs dan blogger sastra Indonesia, soal kedua puisi ini belum menyita perhatian saya. Sampai suatu waktu Shinta Miranda, seorang sastrais perempuan, membuat umpan pada komentarnya di tulisan saya Ada Apa Antara Dauglas Mulloch dan Taufiq Ismail.

Pada Shinta Miranda, saya kemudian menyanggupi untuk membuat telisik literasi atas dua puisi berjudul berbeda namun memiliki kesamaan larik itu.

Persilangan pendapat yang bermula pada adanya kesamaan nash puisi ini membuat saya tertarik. Entah siapa yang mulai membenturkan dua nama penyair itu pada satu bidang puisi? Tetapi saya pun sependapat jika sebuah karya mesti ditahbiskan pada pengkaryanya, bukan pada pengutipnya, atau pada pengklaiman pihak lain.

Agar lebih jelas, yang mana nash puisi yang “disengketakan” itu, berikut saya kutip puisi tersebut;

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/ kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/ awan kepada hujan yang menjadikannya tiada//

Syair ini tentu saja indah, sehingga sering bahkan terkutip di banyak undangan pernikahan, dan kartu ucapan pada kado antar kekasih. Ini seketika menarik bagi saya. Sebab dibeberapa situs atau blog pecinta sastra, ketika literasi ini ditampilkan dengan menyebut salah satu dari dua penyair itu, seketika lahir debat. Konyol, sebab kadang debat tadi berganti keras bahkan sering lancung menjadi sarkas. Tak ada yang mau mengalah, masing-masing pihak mengemukakan pendapat dan sangkaan yang sebenarnya tak berujung-pangkal.

Penelusuran Literasi untuk Membuktikan Akurasi Klaim

Untuk membuktikan siapa sebenarnya pemilik sah karya puisi itu, saya pun mencoba melakukan penisikan literasi pada kedua penyair. Ketersediaan bahan penisikan lumayan membantu.

Karena saya percaya pada premis bahwa sejak awal melihat dan membaca puisi itu adalah nama Sapardi Djoko Damono yang tertera dan belum pernah melihatnya diterakan atas nama Kahlil Gibran, dan menangkap kemungkinan lain adalahnya duplikasi, maka saya berangkat dengan sebuah hipotesa subjektif untuk menisik karya-karya Gibran.

Alasan saya pada hipotesa subjektif ini adalah; 1) karya Gibran kebanyakan berbahasa asing, dan hanya sedikit yang telah ditranslasi ke bahasa Indonesia, sehingga merujuk dokumen aslinya agak sukar; 2) total karya Gibran beserta varian dan derifasinya berjumlah 522 karya, termasuk karya-karya Gibran dalam bahasa Arab, Inggris, terjemahan dari bahasa Arab, karya seni, artikel pendek, puisi, kumpulan surat, biografinya, dan kritisasi, tesis, essai, artikel dan review atas karyanya, rekaman suara, pochette, laporan pameran, dan sejumlah karyanya dalam bahasa Italia dan Perancis; 3) jejak kepenyairan Sapardi mudah ditelusuri.

Ada dua sumber dokumen yang saya gunakan dalam penisikan; hardcopy berliterasi Indonesia (cetak/buku) dan softcopy berliterasi asing (digital/literasi internet). Untuk kepentingan menguber literasi Kahlil Gibran dalam bahasa asing, saya memutuskan menggunakan tiga mesin mencari (search engine) yang terbukti akurat, yakni Google.com, Yahoo.com, dan Bing.com. Sebuah mesin pencari Ask.com tidak saya gunakan sebab memiliki kelemahan (sukar menemukan dokumen dengan kata kunci panjang secara akurat).

Metodenya sederhana saja, namun butuh kesabaran ekstra untuk menisik sekian banyak literatur rujukan. Jika pada karya Gibran, saya temukan memang ada syair serupa yang merujuk namanya, maka saya terpaksa harus kembali “menguber” karya-karya Sapardi. Saya mendahulukan Gibran sebab ini bisa membantu mempercepat uji tisik literasi yang saya lakukan.

Ada enam buku Gibran Kahlil Gibran (berbahasa Indonesia, terbitan Pustaka Jaya) yang menjadi acuan saya sebagai bahan uji, yakni; Lagu Gelombang; Pasir dan Buih; Potret Diri; Sang Pralambang; Sayap-Sayap Patah; dan Taman Sang Nabi.

Sebagai pembanding saya sertakan pula beberapa karya Gibran dalam bahasa Inggris. Lima e-book novel Gibran Kahlil Gibran berbahasa Inggris; The Broken Wings (1959); The Earth Gods (1931); The Perfect World (1918); A Tear and a Smile (1914); dan Nymphs of the Valley (1908).

Kumpulan surat-surat; 1) Beloved Prophet: The Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell and her Private Journal, [New York, Alfred A. Knopf, 1972 (in notes B.P.) – Hilu, V. (ed. and arr.)]; 2) Blue Flame: The Love Letters of Kahlil Gibran and May Ziadah, [Harlow, Longman, 1983 – Bushrui, S. B. and S. H. al-Kuzbari (eds. and trans.)]; 3) Gibran: Love Letters, [Oxford, Oneworld, 1995 (rev. ed. of Blue Flame) – Bushrui, S. B. and S. H. al-Kuzbari (eds. and trans.)]; 4) Chapel Hill papers (Minis family papers), in the Southern Historical Collection, University of North Carolina at Chapel Hill, item #2725, [1948, includes correspondence of Mary Elizabeth (Haskell) Minis from and about Kahlil Gibran]; 5) I Care about your Happiness: Quotations from the Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell, [selected by S. P. Schutz and N. Hoffman, Boulder, Blue Mountain Arts, 1976]; 6) The Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell, [Houston, Annie Salem Otto, 1964 – Otto, A. S. (ed. and arr.)]; 7) Unpublished Gibran Letters to Ameen Rihani, [trans. S. B. Bushrui, Beirut, Rihani House for the World Lebanese Cultural Union, 1972].

Defeat (poem); Freedom and Slavery (poem); Love (poem); O Mother Mine (moulaya; syrian folk songs); Out of My Deeper Heart (short articles); Reflections on Love (short articles); Speech and Silence (short articles); Three Maiden Lovers (moulaya; syrian folk songs); Youth and Age (short articles); The Wisdom of Gibran: Aphorisms and Maxims, ed. and trans. J. Sheban, New York, Philosophical Library, 1966.

Saya menyertakan pula kumpulan surat Gibran, sejumlah puisi penting, artikel pendek, teks moulaya, dan kumpulan kata bijak Gibran, sebab saya menaruh sangka bahwa bisa saja enam larik puisi itu diselipkan Gibran dalam surat-suratnya, atau bagian dari artikel, puisi, moulaya, atau bahkan dalam salah satu kutipan bijak Gibran.

Memulai Penisikan

Setelah menyiapkan tiga mesin pencari berbeda, saya pun memasukkan kata kunci; kahlil gibran’s book containing these words i want to love you with a simple like the words that were not spoken to the fire that makes wood ashes i want to love you with a simple like cues that were not delivered to the rain clouds that make it dead.

Hasilnya, hanya satu rujukan yang memuat puisi itu sebagai milik Gibran, yakni fatoerblogs_wordpress_aphorisms-love. Sayangnya blog ini adalah blog milik orang Indonesia yang memuat translasi syair dalam bahasa Inggris yang gramarnya acak-kadut.

Kata kunci saya sempitkan, menjadi; all+kahlil gibran’s books have containing words I want to love you with a simple, like the words that were not spoken to the fire that makes wood ashes, I want to love you with a simple, like cues that were not delivered to the rain clouds that make it dead.

Setelah disaring, rujukan yang persis benar mengacu pada syair bermilik Gibran ada tiga, yakni; fatoerblogs_wordpress_aphorisms-love; jovinohidayat_blogspot_jika-cinta-berbicara; jovinohidayat_ blogspot_archive. Sayangnya lagi, ketiga rujukan ini adalah blog milik orang Indonesia yang memuat translasi syair seadanya. Malah ada kemungkinan tiga puisi pada tiga blog ini berasal dari satu sumber penerjemahan.

Lalu kata kuncinya saya sempitkan lagi, menjadi; all + kahlil gibran’s + books + have containing + words + fire + wood + ashes + cues + rain + clouds

Sama seperti kata kunci format kedua, saya kembali menemukan tiga rujukan blog yang sama.

Semua rujukan mesin pencari terhadap Gibran dan Sapardi hasilnya identik, sehingga jelas sekali kongklusi bahwa syair-syair itu disadur sekenanya dari satu blog ke blog lainnya (tanpa memperdulikan fakta pengkarya).

Sama halnya untuk literasi penyair Gibran dalam bahasa Inggris, perlakuan yang sama juga saya berikan untuk literasi penyair Gibran dan Sapardi dalam penelusuran berbahasa Indonesia.

Kata kunci mengalami tiga kali formasi penajaman, untuk menghasilkan rujukan yang seakurat mungkin.

  1. Kata kunci pertama; kahlil gibran+sapardi buku yang mengandung kata Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…seperti kata-kata yang tidak berbicara dengan api yang membuat abu kayu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…seperti isyarat yang tidak disampaikan kepada awan hujan yang membuatnya mati.
  2. Kata kunci kedua, yang disempitkan; buku+Kahlil Gibran+Sapardi memiliki kata-kata yang mengandung aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata-kata yang tidak berbicara dengan api yang membuat abu kayu, aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tidak disampaikan kepada awan hujan yang membuatnya mati.
  3. Kata kunci ketiga, yang kian disempitkan dengan separasi kata inti pembentuk puisi; semua + buku + kahlil gibran + sapardi + api + kayu + abu + isyarat + hujan + awan.

Yang menarik, ketika saya menggunakan kata kunci berbahasa Indonesia dan sekaligus mempadankan dua nama (kahlil gibran+sapardi) untuk syair yang sama, diperoleh rujukan dengan pembagian; 6.412 hasil untuk Gibran, dan 5.159 hasil untuk Sapardi. Uniknya, dari 11.571 rujukan puisi ini yang ditemukan semuanya sama persis pada larik, yang membedakannya hanya judul dan tera pengkaryanya saja.

Rekomendasi Pencabutan

Semua rujukan ini dipisahkan sesuai karakter literasi yang paling kuat rujukannya, dengan ditentukan oleh kelengkapan kata dan kalimat yang disadur oleh para pemilik blog. Dari rujukan yang tersisa jika berbentuk file *.pdf maka akan didownload terlebih dulu lalu disaring dengan menggunakan fasilitas (tools) software pemilah kata.

Karena semua karya awal Gibran ditranslasi dalam bahasa Inggris maka saya melacak puisi tersebut dengan menggunakan ektraksi kata inti menggunakan software pemilah kata.

Hasilnya, sungguh membuat saya lega. Ternyata yang diperdebatkan selama ini tidak lebih sekadar bualan belaka. Semata-mata hanya memetik karya tanpa mengecek referensi awal. Parahnya, karya itu sudah tersebar kemana-mana, dan dipolemikkan dalam silang sengkarut yang tak berujung.

Saya berani mengatakan, bahwa dengan ini, perdebatan perihal syair tersebut telah berakhir. Bahwa syair indah itu adalah milik Sapardi Djoko Damono dengan judul asli “Aku Ingin”, dan bukan syair milik Gibran yang diberi judul “Lafaz Cinta”. Saya merekomendasikan agar para pemilik blog segera mencabut syair jiplakan berjudul “Lafaz Cinta” yang didaulatkan atas nama Gibran, dan memasang nama Sapardi Djoko Damono, sebagai pemilik asli syair itu.

Kesimpulan ini dapat saya buktikan secara empiris. Perhatikan penggunaan kata kunci (fire, wood, ashes, cues, rain, dan clouds) pada beberapa karya utama Gibran dari enam sample buku yang digunakan, dan lima e-book, serta beberapa literasi Gibran berformat *.pdf.

Dari enam kata kunci utama pembentuk syair, hanya dua kata yang sering muncul dalam karya-karya Gibran, yakni Ashes (abu) dan Fire (api). Dan, tidak ada karya Gibran yang mempertemukan enam kata di atas dalam larik-larik pada dua bait pendek, atau pada sebuah puisi utuh.

Karya-karya Gibran yang mengandung kata Ashes :

“life is as cold as ice and as grey as ashes.”

[ Kahlil Gibran to Yusuf Huwayik, in A Self-Portrait (1972), 26. ]

“like ashes which hide the embers but do not extinguish them.”

[ Jessie Fremont Beale to Fred Holland Day, Nov. 25, 1896. Quoted in J. and K. Gibran, Life and World, 37–38. ]

“Night is over, and we children of night must die when dawn comes leaping upon the hills; and out of our ashes a mightier love shall rise. And it shall laugh in the sun and it shall be deathless.”

[Beloved Prophet, 323]

Sedangkan, dalam karya Gibran (dan yang merujuk Gibran dan karyanya) yang mengandung kata Fire :

One of his greatest delights was to cast images in lead using old sardine tins. He used to put the lead on the fire to melt and then fill the two halves of the can with fine moist sand. Then pressing the image in between the two, he would scrape away the sand that squeezed out, put the two halves together again and pour the lead into the mold until the image had cooled.

[Beloved Prophet, 429]

“Dust of the Ages and the Eternal Fire”

[in Nymphs of the Valley, 30. Gibran also wrote “The Poet from Baalbek,” a story with the theme of reincarnation (Thoughts and Meditations, 1–8). Ameen Rihani in his magisterial work The Book of Khalid, which was to later influence Gibran’s own writings, refers to Baalbek as being the place where Shakib spent much of his childhood.]

His rebellion, no doubt in this instance fired by his own bitter rejection by Hala’s powerful family, is evident in “The Broken Wings”.

[Man and Poet, Khalil Gibran.]

After the fire, Gibran began painting and writing with renewed resolution. Perhaps in recognition of his indebtedness to Fred Holland Day he wrote “Letters of Fire”, beginning his soliloquy with the lines inscribed on Keats’ grave in Rome: “Here lies one whose name was writ in water.”

[Man and Poet, Khalil Gibran]

“Write upon my gravestone: Here lies the remains of him who wrote his name on Heaven’s face in letters of fire.”

[A Tear and a Smile]

Three stories written during this period, “Martha,” “Yuhanna the Mad,” and the “Dust of the Ages and the Eternal Fire,” were later published together under the title “Ara’is al-Muruj”.

[Nymphs of the Valley]

The other story in the trilogy, “Dust of the Ages and the Eternal Fire,” deals with the themes of reincarnation and preordained love. The hero appears first as Nathan, the son of a Phoenician priest in Baalbek, and then in his new incarnation as Ali al-Husaini, a Bedouin nomad.

[Nymphs of the Valley, The Husainis were an Arab tribe dwelling in tents around Baalbek]

In January 1912, after much delay, Gibran’s Arabic novella al-’Ajnihah al-Mutakassirah (The Broken Wings) was published. He sent Mary a copy in which he had translated the dedication: TO THE ONE who stares at the sun with glazed eyes and grasps the fire with untrembling fingers and hears the spiritual time of Eternity behind the clamorous shrieking of the blind. To M.E.H. I dedicate this book. – Gibran.

[ Kahlil Gibran, dedication in The Broken Wings, 1959 ]

It is true the world will be apt enough to censure thee for a madman in walking contrary to it: And thou art not to be surprised if the children thereof laugh at thee, calling thee silly fool. For the way to the love of God is folly to the world, but is wisdom to the children of God. Hence, whenever the world perceiveth this holy fire of love in God’s children, it concludeth immediately that they are turned fools, and are besides themselves. But to the children of God, that which is despised of the world is the greatest treasure.

[ The Perfect World was later published in 1918 in The Madman: His Parables and Poems (1918); quoted in Heinemann edition (1971), 71.]

The name of Arrabitah spread wide and far becoming tantamount to renaissance, to rejuvenation in the minds of the younger generations, and to iconoclasm and hot-headed rebellion in the eyes of the older and more conservative ones. The lines of battle were clearly drawn: the issue was never in doubt. So quickly was the tide turned in favor of Arrabitah that those who hailed it were no less puzzled than those who opposed it…no one knows the “secret” save that hidden power which brought the members of Arrabitah together at a certain spot, in a certain time, and for a certain purpose entirely irrespective of their conscious planning, endowing each with a flame that may be more, or less brilliant than that of another, but all coming from the selfsame fireplace.

[Naimy, A Biography, 157, 158.]

My life has a great deal of seeing people in it, just individuals, one by one, and groups as well. And I want it to be so more and more. I want to live reality. Better than to write ever so truly about fire, is to be one little live coal. I want some day simply to live what I would say, and talk to people. I want to be a teacher. Because I have been so lonely, I want to talk to those who are lonely.

[Beloved Prophet, 356]

Who shall inscribe the name of the present generation in the scrolls of Time, who they are and where they are? I do not find them among the many “nightingales of the Nile and the warblers of Syria and Lebanon,” but among the few whose lips and hearts have been touched by a new fire. Of those some are still within the womb of Creative Silence; some are breathing the air we breathe, and treading the ground we tread. Of the latter –, nay, leading the latter – is the poet of Night and Solitude, the poet of Loneliness and Melancholy, the poet of Longing and Spiritual Awakening, the poet of the sea and the Tempest – Gibran Kahlil Gibran.

[Naimy, A Biography, 159–60. First published in Beirut in 1934 and translated into English by Mikhail Naimy in 1950, and published by the Philosophical Library.]

Again in Mother Earth the artist portrays men and women, rooted to the earth and at the same time endowed with the transformational and unifying power of fire, expressed in The Earth Gods thus:

Behold, man and woman/ Flame to flame/ In white ecstasy// Roots that suck at the breast of purple earth/ Flame flowers at the breasts of the sky// And we are the purple breast/ And we are the enduring sky// Our soul, even the soul of life, your soul and mine/ Dwells this night in a throat enflamed/ And garments the body of a girl with beating waves// Your sceptre cannot sway this destiny/ Your weariness is but ambition// This and all is wiped away// In the passion of a man and a maid//

[The Earth Gods, 31.]

Dari rujukan ini dapat saya simpulkan, bahwa dalam karya-karya Gibran tidak ada dua bait yang menggabungkan enam kata kunci yang terdapat pada puisi yang dipolemikkan, sehingga dapat dipastikan bahwa TIDAK PERNAH ADA puisi berjudul Lafaz Cinta karya Khalil Gibran. Uji literasi membuktikan bahwa secara eksistensial, syair pada puisi di bawah ini adalah sah milik Sapardi Djoko Damono:

Aku Ingin

Oleh Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

[]

Saya puas dengan hasilnya. Tentu saja, saya pribadi puas atas penelusuran dua hari ini. Hanya saja, masih ada yang sedikit mengganjal hati saya. Mengapa selama ini penyair Sapardi DD, tidak berusaha meralat sangkaan keliru orang-orang atas syairnya tersebut. Apakah beliau sengaja membiarkannya demikian, agar polemik menjadi ramai, atau beliau tak mau ikut-ikutan “capek” pada sesuatu yang tiba-tiba menjadi silang sengkarut.

Entahlah…yang pasti selamat buat beliau atas syair indahnya itu. []

—————————

Catatan penulis:

*] Akumulasi rata-rata data yang berhasil diperoleh dari ketiga mesin pencari untuk literasi Gibran berkata kunci bahasa Inggris; Google [124.000], Yahoo [0], Bing [12.900]

**] Sedangkan akumulasi rata-rata data yang berhasil diperoleh dari ketiga mesin pencari untuk literasi Gibran+Sapardi berkata kunci bahasa Indonesia; Gibran : Google [955], Yahoo [17], Bing [5.440], dan Sapardi : Google [635], Yahoo [54], Bing [4.470]

***] Software dan fasilitas pemilah kata+kalimat pada file PDF dan e-book: Adobe Reader 9.2, dan PDF Word+Phrase Extractor 3.0 Beta 3

Sapardi Djoko Damono. Foto: Arif Relano Oba

Gibran Kahlil Gibran. Sumber foto: Flickr


Lalu Bagaimana Aku, Kekasih

Oleh Syaiful Alim

 

 

Bagaimana aku mampu mencintaimu, Kekasih

bila biji gandum yang kutanam di sawah tak tumbuh

biji gandumku dicungkili serdadu, diganti peluru

sungguh, apa yang kusuguhkan agar kau tetap tegap tegar

 

Bagaimana aku mampu menyayangimu, Kekasih

bila siang begitu panjang, malam takut datang

api amunisi lebih terang dari api matahari

bukankah malam adalah waktu dendang dentang.

 

Bagaimana aku mampu merinduimu, Kekasih

bila sajak-sajakku di Koran pagi tersisih

tergencet oleh berita bom bunuh diri dan kawin-cerai selebriti

bukankah bait-bait puisiku itu baiat rubaiyat buatmu.

 

Bagaimana aku mengasihimu, Kekasih

bila penguasa senantiasa menyisihkan asa Rakyat

politik cuma pola polah licik memetik kursi

dan kami bersedu sedan makan nasi basi.

 

Bagaimana aku manunggaling padamu, Kekasih

bila bencana silih berganti

gempur lumpur, gempar merapi, tampar Stunami

lempar saja diri ini ke sunyimu, tapi…

 

Bagaimana aku mampu membawamu ke surga, Kekasih

bila neraka ada dimana-mana

ayat-ayat suci Tuhan diperalat untuk menumpuk mayat

berapa kali kita kan melayat bersama lalat.

 

Bagaimana aku mengajakmu ikut berperang, Kekasih

bila senjata yang kita punya adalah welas asih

menyembelih hewan kurban saja pikir ribuan kali

apalagi menumbangkan hidup manusia di bumi.

 

lalu

bagaimana

aku

?

 

 

2010

 


Sesuatu Yang Menyebalkan

Oleh Dwi Klik Santosa

 

1.

Setiapkali kukatakan, hei, aku lapar.

… selalu saja kau bilang, “makan saja itu puisi!”

 

2.

“Kamu manis, deh. Besok datang ya, di acara peluncuran bukuku.”

“Buku, buku … Kapan kau belikan aku baju!”

Zentha

5 April 2010

: 09.2o


Puisi Cinta

Oleh Ade Anita

Saya adalah penggemar dongeng sejak masih kecil. Bukan karena selalu ada keajaiban di dalam dongeng, tapi karena dalam cerita dongeng selalu terjadi pertemuan dua orang kekasih yang saling mencintai satu sama lain dan akhirnya mereka awet dalam percintaan hingga maut memisahkan mereka.

…and they Happy ever after.

Hingga mereka akhirnya Bahagia selamanya.

Tentu selalu ada rintangan dalam sebuah kisah cinta. Terkadang rintangan itu menguras air mata, kadang membangkitkan amarah. Tapi kekuatan cinta benar-benar ampuh dilukiskan pada setiap dongeng. Cinta yang mampu mengalahkan seorang raksasa yang amat menakutkan dan amat biadap sekalipun. Mampu mengalahkan api yang menjilat-jilat dan membakar seantero jagad raya. Bahkan cinta juga dilukiskan mampu menembus langit, menyeruak ke dalam dasar bumi dan tetap berdiri kokoh meski berada di puncak gunung yang amat tinggi dan runcing.

Pada akhirnya…saya menjadi seorang yang selalu percaya bahwa cinta bisa menyelesaikan banyak hal. Dan cinta juga bisa menyembuhkan semua luka yang ada. Itu sebabnya saya selalu menyukai membaca semua puisi cinta. Juga semua cerita cinta. Meski terkadang muak jika membaca tulisan tentang cinta yang terlalu picisan dan murahan.

Pagi ini…ketika saya baru pulang dari dokter karena putri bungsu saya terserang diare—(nama tengah semua anak-anak saya memiliki arti ‘cahaya cinta’ loh, hehe…maaf out of topic)—saya diundang untuk membaca sebuah puisi cinta dari seseorang yang saya kagumi yang baru saja kehilangan orang yang dicintainya : BJ Habibie…

Jujur, sejak ibu Ainun Hasri Habibie meninggal, saya selalu mengucurkan air mata menyaksikan kedua sejoli (BJ Habibie dan almarhumah istrinya) merasakan kepedihan sebuah perpisahan. Sekaligus terharu karena kisah cinta mereka, ternyata lebih indah dari pusi-puisi cinta yang pernah disuguhkan di hadapan saya untuk saya nikmati. Jadi, hati saya langsung terenyuh membaca puisi cinta seorang Habibie untuk istri tercintanya yang telah tiada. Sambil berharap, semoga suami saya juga mencintai saya sedemikian dalam seperti itu.

Dan inilah puisi cinta seorang Habibie untuk istrinya tersebut :

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,

pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,

Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

Selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

Selamat jalan,
calon bidadari surgaku …

[]



Enam Benam Dalam Benak

Oleh Syaiful Alim

 

(1) Pohon Randu

Bunga randu memeluk tangkai

angin meliuk lihai.

Rindu lapuk sehelai demi sehelai.

 

(2) Kafe Kopi

Pekat tandas ke dasar gelas.

Bibir rekat rakaat deras

bubar debar, disambar selebar ruas.

 

(3) Buku

Buka buku kemarau.

Dedaun kaku, rasa risau

berayun kangen Ibuku.

 

(4) Kursi

Sabar diukur kursi.

Debar akur, detak jam melandai.

Dada dilanda lindu puisi.

 

(5) Daun Talas

Lamat-lamat bibir hujan lumat tubuh perempuan.

Beri aku daun talas, Tuan.

Amat ikhlas ulas elus Jumat Tuhan.

 

(6) Apel

Ulat menggeliat di liat kulit.

Kau rindu, lahap sedikit.

Tersedu dan sakit.

 

[]

Khartoum, Sudan, 2010.


Beberapa Benda Kamar Tidur

Oleh Syaiful Alim

 

(1) Ranjang

Tidurlah, Sayang

di ranjang yang kubangun di dadaku.

Kubisikkan dongeng sangkuriang yang berahi

pada ibunya sendiri.

Sengaja kumatikan lampu

supaya kaumampu membedakan nyala lilin

dan paha angin yang bergetar di ubin kamar.

Tidurlah, Sayang

berenanglah di sungai mimpi

akan kautemui ikan-ikan yang

memasang iklan di sepanjang jalan kota: kami kian renta

sedangkan air entah ke mana. Ambil kami, taruh di akuarium kecil saja.

Tidurlah, Sayang!

aku mau bermain layang-layang

bersama bayang-bayang burung yang terbang.

Tidurlah, Sayang!

 

(2) Sprai

“Kau lebih memilih darah atau gairah?”

“Kau darah dan gairah”

“Hah?”

“Ah”

“Lihatlah gairah merajah merah di kain sprai”

“Jangan kau cuci sprai itu. Biar kian api berahi sepi”

“Okelah kalau begitu. Bantu aku tutup pintu, menepilah di pipi”

 

(3) Piyama

Puas sebatas umpama

Puasa daku peluk mama

Puasi puisi di sebalik piyama

Pisau risau di bilik tak bernama.

 

(4) Bantal

Adakah paling bantal jika kantuk mengental?

Aku dan kau batal memintal kutuk

Eh, ada dada tertusuk duri busuk

Bolehlah kawan besok membesuk.

Adakah paling bantal ketika kata terpental?

 

(5) Selimut

Kenapa tubuh butuh selimut

Supaya selamat dari lumat lumut.

Gigil gagal sebut malam

Selamat tinggal masa silam.

Selama salam tercabut

Kelam menyambut kabut.

 

(6) Parfum

Kau memohon wangi bunga,

pohon teduh penyeduh aduh.

Dusta disita Sinta,

Rama pengadu tuduh.

[]

 

Khartoum, Sudan, 2010.


Membacah ‘Duh’ : Kerinduan yang Berpeluh

( sambutan buku Puisi ‘Serangkaian Tunggu’ Penyair Helena Adriany )

Oleh Syaiful Alim

Saya belum punya buku puisi ‘Serangkaian Tunggu’ Penyair Helena Adriany. Tapi biarlah ini jadi awal mula apresiasi utuh ketika saya memiliki buku itu nanti.

Teks Sajak:

“duh”

I.

setiap pagi aku duduk di gerbang memandang matahari

padahal aku tahu gerbang membuka menjelang petang

II.

ada sebuah kertas di sampingku

tetapi mengapa aku menulis di saputangan

III.

sebaiknya kuikat rindu di luar pintu kamar

sebelum kau pikir aku lupa mematikan lampu

Balikpapan, 03 January 2010

Kaji Puisi: Membaca “duh” Penyair Helena Adriany: Kerinduan yang Berpeluh

SAJAK selalu lahir dari kegelisahan. Entah itu kegelisahan yang bersumber dari dalam diri atau luar diri sang Penyair.

SAJAK kuat dan abadi dipicu oleh kegelisahan. Kegelisahan menjadi pemantik tenaga puitik untuk menembakkan kata-kata.

PEMIKIR dan PENYAIR Robert Frost menyatakan bahwa sajak itu lahir dalam kondisi resah gelisah, ketidaknyamanan, dan ketidakmestian hidup. Lalu dia menyebutkan beberapa misal, yaitu marah pada keadaan yang salah, rasa cemburu, sakit rindu, juga patah hati.

“a poem, begins as a lump in the throat, a sense of wrong, a homesickness, a lovesickness,…it finds the thought and the thought finds the words.”

KETIKA itulah sajak bisa jadi alat perjuangan atau sebagai jalan meringankan beban yang tak tertanggungkan itu.

Memang, puisi tidak seperti sepiring nasi yang mengenyangkan perut pengungsi, puisi tidak seperti selimut yang menghangatkan orang kedinginan, puisi tidak seperti setetes obat merah yang menutup luka, puisi tidak seperti seoles minyak angin yang menyembuhkan perut kembung, puisi tidak seperti perban untuk melindungi luka dari kuman, puisi tidak seperti pakaian yang melindungi tubuh dari sengatan matahari, puisi tidak seperti pasir, koral, semen, batubata dan seng yang menegakkan cagak rumah. Tetapi puisi bisa menjadi cahaya kala gelap, pengingat kala lupa, penggedor kala teledor, pengobat kala sakit, penguat kala sekarat, jamu kala jemu, pemicu kala buntu, pemacu kala galau, penghibur kala hancur, istri kala sepi.

Penyair Subagio Sastrowardoyo pernah menulis puisi berjudul ‘sajak’ yang berkenaan dengan peran atau fungsi sajak bagi kehidupan.

“Ah, sajak ini,

mengingatkan aku kepada langit dan mega.

Sajak ini mengingatkanku kepada kisah dan keabadian.

Sajak ini melupakanku aku kepada pisau dan tali.

Sajak ini melupakan kepada bunuh diri”

***

Sebelum saya memasuki tubuh sajak, maka izinkan saya menyentuh dulu judul yang menjadi pintu.

Sungguh menarik apa yang diajukan oleh Penyair Helena Adriany dengan judul ‘duh’ ini. Apakah ‘duh’ sama dengan ‘aduh’? dimana letak gores perasaan keduanya?

ADUH. Kata ‘aduh’ bisa meloncat dari bibir jika tubuh atau bagian (seluruh) tubuh kita meradang kesakitan, misalnya ditusuk atau tertusuk peniti atau duri. Kata ‘aduh’ bisa hadir dari bibir ketika terpesona dengan sesuatu atau seseorang yang menakjubkan. Seperti ucapan, “aduh, tampannya penyair ini”. Kata ‘aduh’ juga bisa melesat dari bibir jika tersentak oleh sebuah kesalahan, kesalahan yang melahirkan penyesalan. Seperti ucapan orang yang terlambat datang di sebuah acara, “aduh, kenapa saya tidak dari tadi ke sini, pembicaraannya menarik sekali” atau ucapan kekasih, “aduh, kenapa dulu aku tidak menerima lamaranmu, maafkan aku”.

DUH. Huruf ‘A’ telah hilang dari tubuh ‘aduh. A yang menjadi pemantik telah lenyap ke dimensi yang senyap, sepi, sunyi. Apakah ‘A’ yang hilang ini mempengaruhi arti? Pasti dan tentu. ‘A’ di kata ‘ADUH’ adalah timbul dari sebuah kesengajaan si aku lirik untuk memaknai apa yang dirasakan. Sedangkan A yang hilang dari kata ‘DUH’ menyiratkan sebuah sikap yang ditetaskan dari luar kesadaran. Kesadaran formalistik telah sirnah ke dalam dimensi yang tak berbatas. Apa yang terjadi? Adalah perasaan yang utuh dan terombang-ambing dengan sesuatu atau seseorang yang membayangi diri si aku lirik. Ia adalah perkawinan antara kesakitan dan penyesalam. Namun perkawinan itu dibalut dengan selubung jiwa yang melambung, ngelaut, ada kehendak untuk terus meneguk kesakitan itu, tapi di sisi yang lain juga ada kehendak untuk menyesali apa yang sedang dan telah terjadi. Tapi penyesalan itu ditolaknya dengan halus. Sebab jika dia menyesal, berarti dia telah terbunuh oleh perasaannya sendiri. Lebih baik membiarkannya dan terus terjadi. Ada harapan yang kelak dipeluknya dalam pertemuan. Harapan yang dicicil dari kerikil-kerikil kesakitan membayangkan dan menghadirkan kekasih. Itulah yang disebut dengan rindu atau kerinduan. Rindu memang pedih. Tapi perjumpaan mengobati. Rindu memang ngilu. Namun pertemuan yang menyembuhkan.

SUNGGUH. Saya lebih bisa menikmati ‘duh’ penyair Helena Adriany ini dengan ‘kerinduan berpeluh’. Sebuah kerinduan yang meletihkan, melelahkah. Seolah si aku lirik menempuh perjalanan jauh untuk merangkai pucuk-pucuk rindu yang kelak mekar dan jadi mawar. Mawar pun berduri.

SUNGGUH. Saya lebih bisa menikmati ‘duh’ penyair Helena Adriany dengan ‘kerinduan berpeluh’. Penantian yang begitu lama akan kedatangan kekasih itu telah meluruhkan keringat kehangatan yang berlelehan di sekujur tubuh. Layaknya seorang pendaki gunung, peluh yang berlelehan itu dinikmati sampai mencapai puncak yang dikehendaki. Ia tak kan beranjak dan turun lagi ke bawah. Ia terus melangkah dan melangkah.

“duh”

I.

“setiap pagi aku duduk di gerbang memandang matahari

padahal aku tahu gerbang membuka menjelang petang”

Ini saya sebut ‘laku rindu pertama’.

Imaji kita langsung diseret oleh penyair berlesung pipit ini: seolah kita melihat dari dekat atau jauh seorang yang duduk di bangku atau di segunduk tanah memandang cerah sinar matahari. Apa yang hendak disuarakan oleh si aku lirik yang dipeluk rindu dalam larik sajak ini?

Saya kira kata ‘gerbang’ adalah kunci dari pembacaan larik cantik ini. Saya lebih condong memaknai ‘gerbang’ sebagai ‘pintu waktu’. Pintu waktu yang sudah menjadi kesepakatan antara kedua kekasih. Pintu waktu itu sebagai jalan masuk untuk saling berpelukan, meredam dendam rindu.

Memang seorang perindu itu berperilaku aneh dan unik. Keanehaan itu digerakkan oleh rasa gelisah yang menujah dada. Seperti yang kita rasakan dari keanehan yang dilakukan si aku lirik pada larik ini: sudah tahu gerbang itu membuka menjelang petang, tapi tetap saja menunggui sang kekasih semenjak matahari terbit. Betapa peluh penantian itu.

“setiap pagi aku duduk di gerbang memandang matahari”

Dan ‘matahari’ itu berperan sebagai latar saja. Bukan menjadi matahari yang bermakna konotatif. Matahari di situ seolah jadi saksi, juga jadi pelampiasan kegelisahan sang perindu (si aku lirik). Pagi dan matahari diajak ikut oleh si aku lirik untuk menanggung kegelisahan yang menggunung di dada itu.

Saya terkenang Penyair Besar Chairil Anwar yang begitu jeli dan lihainya memasang benda-benda alam ke dalam tubuh sajak-sajaknya. Seperti terlihat pada puisi di bawah ini.

AKU BERADA KEMBALI

Aku berada kembali. Banyak yang asing:

air mengalir tukar warna, kapal-kapal, elang-elang

Serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;

rasa laut telah berubah dan kupunya wajah

juga disinari matari

lain.

Hanya

Kelengangan tinggal tetap saja.

Lebih lengang aku di kelak-kelok jalan;

lebih lengang pula ketika berada antara

yang mengharap dan yang melepas.

Telinga kiri masih terpaling

ditarik gelisah yang sebentar-sebentar seterang

guruh.

Dari sajak di atas nampak betapa air, kapal, elang, mega dimasukkan Penyair untuk memperkukuh tubuh sajaknya. Kesemua benda alam itu memang sengaja diletakkan, dan pasti dengan maksud tertentu. Misalnya sebagai penggambaran bahwa si aku lirik sedang tercabik dan lengang memandang laut yang dibalut air biru, kapal-kapal yang berlabuh-berlayar, elang-elang terbang menghiasi angkasa.

“padahal aku tahu gerbang membuka menjelang petang”

“padahal aku aku tahu…”

Ada tiga isyarat yang mengeram dalam larik ini. Pertama, sudah adanya nota kesepakatan yang dibuat oleh kedua kekasih. Kedua, adanya perasaan getir yang menyesakkan dada si aku lirik yang menunggu itu. ketiga, pengorbanan cinta.

Duduk sejak pagi memandang matahari sementara gerbang terbuka menjelang petang hanya bisa dilakukan orang kangen yang sejak pagi dilanda gelisah berharap suatu pertemuan. Sebuah pertemuan yang ditentukan waktu yang disepakati itu, yaitu ketika matahari terbenam dipukul malam.

II.

“ada sebuah kertas di sampingku

tetapi mengapa aku menulis di saputangan”

Ini saya sebut ‘laku rindu kedua’.

BETAPA GEMILANG larik sajak ini. Saya mencium aroma pengalihan fungsi sebuah benda. Sang penyair telah melakukan perubahan fungsi atas benda ‘saputangan’ itu.

Adalah menarik menelisik perubahan fungsi atas ‘saputangan’ itu – dari seulas saputangan menjadi benda lain yang bisa difungsikan untuk menulis. Saputangan yang biasanya untuk menghilangkan peluh atau kotoran debu yang lengket di tubuh, kini jadi benda yang dipakai nulis.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan si aku lirik dalam larik sajak ini? Kenapa ia menulis di saputangan? Apakah yang dimaksud kerja ‘menulis’ di sini?

“ada sebuah kertas di sampingku

tetapi mengapa aku menulis di saputangan”

Sudah jamaknya seorang perindu itu gelisah. Ketika kegelisahan makin menujah, maka airmata yang menggantikannya. Airmatalah yang berbicara. Apakah yang dibutuhkan perindu yang airmatanya bercucuran berceceran di lantai? Kertas atau saputangan? Bisa kertas bisa saputangan. Kertas untuk menulis sajak, misalnya. Saputangan untuk membasuh basah airmata.

Tapi kenapa si aku lirik lebih memilih saputangan?

HIDUP adalah pilihan. Saya menduga saputangan terpilih karena “efek kegunaan” yang mengeram di diri saputangan. Saputangan lebih berdaya guna meniriskan tangis ketimbang kertas.

Tapi kenapa sang penyair menggunakan kata kerja ‘menulis di saputangan’…?

Pada hakikatnya seorang perindu yang membasuh basah airmatanya itu adalah menulis. Setiap usapan adalah pembentukan kata. Kata-kata yang meneterjemahan rindu itu. bebutir airmata yang mengalir itu menulis rindu.

(kasihan sekali ya si kertas itu, tak terpakai, sini kupakai nulis puisi )

III.

“sebaiknya kuikat rindu di luar pintu kamar

sebelum kau pikir aku lupa mematikan lampu”

Ini saya sebut ‘laku rindu ketiga’.

ALANGKAH memikat larik terakhir puisi Penyair Helena Adriany ini. Di sini sang penyair dengan jelas memunculkan kata ‘rindu’ dan menyebut yang dirindu itu dengan ‘kau’. Ini semacam gerak ledakan kerinduan yang dipendam dan diperam di dada.

“sebaiknya kuikat rindu di luar pintu kamar”

Saya terpikat dengan bahasa kata kerja penyair ini: kuikat. Begitu pintar dan cantiknya sang penyair memainkan atau memutar logika pembaca: mengikat rindu? rindu seolah hidup dan berleher. Agar rindu itu tidak lari, maka diikat pada sesuatu. Juga supaya seusai bangun tidur, si aku lirik bisa melepas ikatan rindu itu, dan melampiaskan kegelisahannya kembali.

LALU kenapa rindu diikat? Berbahayakah pada diri si aku lirik?

Saya tertarik dengan apa yang dikatakan para sufi bahwa rindu itu bercahaya, bersinar begitu terangnya, sehingga mereka silau, lalu menuju gua-gua memadamkan cahaya itu dengan dzikir kepadaNya. Begitu juga dengan rindu dalam puisi ini: rindu itu bersinar alangkah terangnya. Sehingga lekas-lekas si aku lirik mengikatnya (memadamkannya) di luar pintu kamar.

Berbahayakah rindu yang bersinar terang itu pada diri si aku lirik?

TENTU dan PASTI berbahaya. Rindu saya asosiasikan sebagai lampu di ruang kamar tidur. Lampu harus dipadamkan dahulu jika ingin tidur pulas. Begitu juga dengan rindu yang memancar sinar itu. si aku lirik ‘mengikatnya’ karena mencoba menenangkan kegelisahan yang menderanya sejak pagi.

“sebaiknya kuikat rindu di luar pintu kamar

sebelum kau pikir aku lupa mematikan lampu”

***

DEMIKIAN tafsir sajak ‘duh’ Penyair Helena Adriany ini. Sebuah tafsir sederhana dari seorang perenang buta, syaiful alim, di lautan yang penuh gelombang dan ombak. Semoga tafsir saya ini salah atau lepas dari niat mula Penyair ini menuliskannya. Tapi yang perlu dipegang adalah bahwa tidak ada tafsir mutlak di dunia ini. Seperti apa yang terkata dalam sajak di bawah ini.

“Setiap hendak kutangkap

Ia lolos dari dekap

Tak mampu menampung rasa

(sajak yang tak peduli, subagio sastrowardoyo)

Helen, siapa yang harus bertanggung jawab terhadap airmata yang mengalir dari mataku seusai menelaah sajakmu? Pinjamkan aku saputanganmu.

[]

Khartoum, Sudan, 2010.

Syaiful Alim

Penulis Novel ‘Kidung Cinta Pohon Kurma’


Pelukan di Negeri Poci

Oleh Hera Naimahh

di beranda itu kunanti dirimu
namun rindu sepertinya memang harus terus menunggu

di batas sepi itu kueja namamu huruf demi huruf di antara memori-memori kita yang terentang dalam gelombang waktu yang panjang

meski telah sangat rapi kubuat komposisi warna keterpisahan cinta kita
namun pelukanmu mencair juga di redup malam negeri poci menjelma puisi seribu purnama

***
hera-100910

[]


%d blogger menyukai ini: