Tag Archives: minggu

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen Minggu Ke-IV, Juli 2012

E-Book Bunga Rampai Cerpen Minggu Ke-IV, Juli 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-IV, Juli 2012

Periode: 16 – 22 Juli 2012


Minggu Pagi Di Victoria Park

Oleh Very Barus

Tadi malam, gue dan 4 orang teman nonton film Minggu Pagi di Victoria Park, di BSM Cinema. Sempat pesimis dan berat hati masuk ke dalam bioskop. Bayangin aja, waktu masuk ke dalam bioskop tidak satu pun ada penonton—bukan karena kami kecepatan masuk. Tapi emang bener-bener nggak ada penonton. Jadi saat nonton gue dan teman-teman clingak-clinguk. Sempat melontarkan kalimat.

Wadoh, kita salah beli tiket nih! Gila! Menontonnya aja cuma kita doang. Pasti filmnya jelek dan membosankan!”
Alaaa….itung-itung nonton film serasa di rumah sendiri aja..” ucap teman menghibur kegundahan kami. Oke lah kalo begitu……

Film pun dimulai….

Opening screen-nya menampilkan kemegahan kota Hongkong dengan gedung-gedung pencakar langit dan juga hiruk pikuk manusia berlalu lalang. Ciri khas kota Hongkong yang never sleep
Gue senyum-senyum sendiri melihat ke indahnya Hongkong. Lamunan gue langsung terbang ke Hongkong saat tutup tahun kemaren gue dan teman-temen menghabiskan tahun 2009 di Hongkong dengan segala hiruk pikuknya.

Film terus berputar…. cerita bergulir bak sedang menyaksikan kisah yang sesungguhnya. Gue terus memantengin tuh pelem serasa nggak berkedip. Konflik di film ini “sangat dapat” dan natural. Semua pemain memerankan tokoh mereka dengan natural. Logat jawa nan medok membuat gue senyum-senyum sendiri (lagi). Teringat (lagi) saat gue interview beberapa TKI di sana saat mereka sedang nongkrong di Victoria Park. Dandanan boleh mirip artis Hongkong. Tapi logat tetap JAWA MEDOK.

Pada film itu juga digambarkan bagaimana hubungan sesama jenis (lesbian) menjadi hal yang sangat biasa. Bahkan mereka tidak sungkan berciuman di depan umum dan juga tinggal serumah bareng. Begitu juga konflik terlilit hutang yang juga banyak dikeluhkan oleh TKI di sana. Hubungan percintaan dengan pria BANGLADES yang tukang morotin…semua benar-benar dikisahkan, layaknya apa yang diceritakan para TKI saat gue wawancara mereka tempo hari itu…

Akhirnya gue puas… dari awal film hingga sampai pamungkasnya, tidak ada rasa jenuh menontonnya. Gue suka film ini… gue suka SEKAR (Titi Sjuman). Gue suka Mayang (Lola Amaria) dan gue suka semua pemain-pemainnya. Sangat berkarakter dan sangat menjiwai peran mereka sebagai TKI.

Titi Sjuman yang logat jawanya begitu medok. Dengan umpatan “J****KKKK…!!!!” saat marah pada temannya. Membuat aku tertawa geli. Lola yang sebagai kakak di film ini juga sangat pas memerankan Mayang. Kalem dan lembut namun gigih.

Gue bener-bener memuji penulis skenario cerita ini (Titien Watimena) yang mampu mengemas kisah yang juga bisa membuat emosi kita up and down. Dan memuji kenekatan Noe Letto memproduseri film ini. Dan ternyata menurut aku SUKSES!

Banyak kisah-kisah menarik di film itu yang dikemas “pas” oleh Pic(k)lock Production ini. Sehingga tidak menimbulkan kejenuhan, over acting dan juga terlalu diulur-ulur seperti kebanyakan film-film lokal yang beredar…untuk menghabiskan durasi, alur cerita terlalu dipanjang-panjangkan…berliku-liku tapi tidak jelas… tapi film ini BEDA!

Saran gue nonton deh film ini…. Cukup recomended sebagai tontonan di akhir pekan ini….

Ada sepenggal kisah saat gue nonton film ini :

Sepulang gue dari Hongkong Januari kemaren, gue sebenarnya tengah mempersiapkan novel terbaru gue ber-setting kota Hongkong yang mengisahkan tentang TKI yang bekerja di sana. Gue tertarik dengan kehidupan para TKI yang ternyata banyak banget yang menjadi LESBIAN dengan latar belakang masalah yang beraneka ragam. Sehingga gue pikir menarik juga untuk di angkat ke dalam novel. Itu sebabnya gue mewawancarai beberapa TKI yang lesbian lengkap dengan pacar-pacar mereka (perempuan). Juga tempat-tempat mangkal mereka gue jabani….

Tapi anehnya, hampir 40 persen imajinasi gue sama dengan imajinasi penulis skenario film ini… dan mereka memvisualisasikannya ke dalam film ini……padahal gue sama sekali tidak kenal sama penulis film ini…tidak tau mereka bikin film ini dan juga tidak terbesit untuk meniru kisah-kisah di dalam film ini. Meski ada 60 persen cerita yang berbeda dalam bukuku kelak…

Sementara imajinasi gue sedang MANDEG menulis novel tentang TKI di Hongkong. Karena gue belum mendapatkan FEEL kota Hongkong lagi… teman gue menyarankan agar gue tinggal sebulan di Hongkong untuk bisa mendapatkan FEEL kisah TKI Hongkong…

Hmmm…….. semoga saja bisa..!!!

Resensi MPdVP gue kutip dari Detik.com (www.detik.com)

Film produksi Pic[k]lock Production ini berfokus pada Mayang, anak pertama dari pasangan Sukardi dan Lastri yang disuruh ke Hong Kong untuk mencari tahu keadaan adiknya, Sekar (Titi Sjuman yang bermain ciamik) yang tidak lagi mengabarkan kondisinya selama beberapa bulan.

Sebenarnya, antara Mayang dan Sekar ada hubungan ‘sibling rivalry’ alias permusuhan antar saudara. Sang ayah selalu memuji Sekar yang selalu mengirim uang dari jauh, sembari merendahkan Mayang yang masih menumpang dan cuma seorang petani tebu.

Hubungan keduanya, yang terasa sekali relasi kimiawinya, inilah plot utamanya. Dan dari sini kita mengetahui sisi-sisi lain dari kehidupan TKW. Proses pembuatan yang memakan waktu dua tahun itu juga menjadi keuntungan tersendiri dalam menyelami para TKW. Dari segi skenario, Titien Wattimena menulis bagus dan menebus kekurangannya di ‘Menebus Impian’.

‘Realitas’ lain adalah betapa banyak para TKW yang terjebak untuk berutang pada lintah darat bernama Super Kredit. Salah satunya adalah Sekar, yang luntang lantung dan kerja serabutan untuk menyambung hidup plus menyicil utang dengan cara apapun.

Judul film yang awalnya bertajuk ‘Hong Kong Rhapsody’ ini terinspirasi dengan ritual para pekerja ini yang hobi berkumpul lengkap dengan dandanan dan telepon genggam layaknya anak gaul di Victoria Park tiap Minggu Pagi. Di tengah film, ada poster sayembara via sms untuk memboyong band favorit dari tanah air. Siapakah itu, hayooo?.

Film ini juga diperkuat oleh Donny Damara, Imelda Soraya, Permata Sari Harahap, dan Donny Alamsyah. Para pemain bekerja ekstra untuk berdialek Jawa Timuran, walau satu dua aktor masih terdengar seperti cengkok Jawa Tengah. Dan bintang yang paling bersinar sesungguhnya adalah Yadhi Sugandhi yang benar-benar menjadikan kota Hong Kong sebagai panggung.

Sang penata kamera itu bekerja sama dengan Art Director Rico Marpaung–berhasil menyajikan sudut-sudut kota dan memberikan identitas yang kuat.

Dan jangan bayangkan film ini seperti ‘Betina’ yang terkesan “art”, garapan Lola sebelumnya. Film ini cukup komunikatif dan beberapa adegannya mampu mengusap tombol emosi kita.

[]


Tuhan Mencintaimu

Oleh Adhy Rical

: mwa

semalaman kau melawan koma
sepagi ini kabarmu tiba
sekadar mengingatmu di kaki langit
kau bawakan mug dari pasar minggu
untuk kupakai minum di tim
sambil bercerita
tentang ginjal kita yang tak bertemu

tuhan mencintaimu
kami setelahnya

Konawe, 2009
[]

akhirnya kutemukan dirimu dari file temanku


Purnama, Cinta, dan Ulang Tahun

Oleh Hera Hizboel

“Hari itu….
ada bingkisan indah berpita merah muda
ada sekeranjang bunga dan
ada seikat cinta yang manis
cinta yang membuat hatiku berdebar-debar
mataku berbinar-binar
dan jantungku menggemuruh
cinta yang menyadarkanku bahwa
hujan masih puitis
matahari masih romantis
dan purnama tetap setia
sungguh
sebuah cinta yang tiada tara…”

 

***

SEJAK kira-kira seminggu yang lalu aku mendapat kabar, bahwa Malaikat memajukan jadwal purnama bulan ini, yang sedianya jatuh pada tanggal 28 Juni menjadi tanggal 26 Juni. Dan itu artinya, Allah sengaja hendak memberiku kado istimewa (purnama itu) padaku.

Maka, malam Minggu itu, di tengah hiruk pikuk menghadiri undangan pernikahan seorang kerabat, aku menyimpan rencana kampungan. Usai pesta, aku ingin ke Monas menatap kadoku-purnamaku, dan mengabadikannya. Kalau ditanya, kenapa Monas? Aku tak punya jawaban logis kecuali aku mengikuti kata hatiku.

Maka, berangkatlah aku malam itu ke Monas. Tika dan Reza berbaik hati mengantar, menemani, dan memotretku hingga pukul 00:00 dini hari. Maka, jadilah aku punya kenangan manis berupa foto dengan latar belakang purnama dan Monas.

Akhirnya, jadilah ulang tahunku kali ini menjadi ulang tahun terindah. Ada purnama, ada bingkisan bagus, ada hujan kata-kata, dan ada tiupan doa dari kekasih, saudara, teman, dan sahabat.

Untuk itu, izinkan aku memohon maaf karena tidak bisa mengucapkan terima kasih satu persatu. Maka, lewat note ini terimalah ucapan terima kasih yang tak terhingga dari lubuk hatiku yang paling dalam atas semua itu. Semoga Allah memberkati, merahmati, dan meng-ijabahi doa-doa dan impian kita semua. Amin. I Love U All. []

26 Juni 2010

Aku dan Purnama

Aku-Purnama-Monas

Aku-Bunga-Monas

 


%d blogger menyukai ini: