Kuliah Pada Rendra

Oleh Dwi Klik Santosa

TERAMAT MAHAL arti Rendra bagi khazanah intelektual di negeri ini, bahkan dunia, begitu menurut hitunganku, setelah membantu Mas Edi Haryono menyelesaikan penyusunan buku bertajuk Menonton Bengkel Teater Rendra setebal 2.000 halaman dan Ketika Rendra Baca Sajak setebal 300-an halaman itu. Menghadirkan Rendra sebagai dosen, kehormatan bagi institusi mana pun. Konon katanya, dulu, UI dan UGM, bahkan beberapa universitas luar negeri, sebut saja Australia dan Malaysia, pernah beberapa kali melobinya agar bersedia mengajar di kampusnya masing-masing, menjabarkan ilmu budaya. Melulu Rendra enggan mengomentari tawaran-tawaran itu dan selalu menolaknya. Seminar-seminar dan diskusi yang diadakan dengan menghadirkan Rendra pun jadi teramat mahal bagi orang sepertiku. Rendra sangat eksklusif. Memang, begitulah kenyataannya, pujangga, budayawan, seniman dan penyandang berbagai gelar sosial di masyarakat itu bukanlah omong kosong belaka. Oleh sebuah perjodohan, rupanya, kesempatan demi kesempatan dapat kutembus untuk akhirnya diberi kemudahan-kemudahan dapat belajar dan kuliah pada Rendra. Tanpa membayar SPP, uang gedung dan sebagainya. Betapa beruntungnya aku.

Menuju kampus Rendra di rumahnya, di bilangan Cipayung Jaya, bukanlah hal yang mudah ditempuh dari tempat asalku berolah hidup (bersama Mas Edi Haryono di BelaStudio), di Rawamangun. Jadwal kuliah yang dimulai pukul 08.oo menjadi syarat yang harus kujalani dengan usaha keras untuk tepat waktu menjangkaunya. Berangkat dari rumah, setidaknya, lebih pagi dari jam 05.oo. Berjibaku dengan berdesakan di antara ketiak penumpang di dalam kereta, begitulah nuansa pengalamanku berkuliah pada Rendra yang autentik ini. Berganti kendaraan tiga kali dengan beda kendaraan pula. Rawamangun – Stasiun Cikini kutempuh dengan bus Metromini jalur 46, memakan waktu setengah jam. Stasiun Cikini – Stasiun Citayam, hampir satu jam setengah kuhabiskan dengan peluh keringat dan berdesakan dengan berjubelnya penumpang. Setelah sampai di Stasiun Citayam, nyambung lagi dengan ojeg. Baru sepuluh menit kemudian, nyampai di areal pekarangan Rendra yang luas.

Kuliah dimulai pukul 08.oo tepat. Selesai pukul 16.oo. Istirahat hanya untuk makan siang dan Shalat Dhuhur atau Shalat Jum’at. Kuliah reli panjang yang sangat asyik, bukan saja karena kharisma Rendra, Pak Dosen, tapi karena hal-hal yang jauh dari formalitas dalam tata cara belajar-mengajar di ruang makan itu. Ruang makan. Ya, kuliah diadakan di ruang makan. Kuliah ini hanya diadakan pada setiap hari Selasa dan Jum’at.

Duduk di sembarang tempat, para siswa dapat mengikuti kuliah se-enjoy mungkin. Yang penting enak dan leluasa menyimak, tak terhalang hambatan selama mengikuti kuliah. Berdiri dimuka, Rendra berpidato memberi kuliah. Sedang berdiri di papan board besar, Mbak Ida, istri Rendra, dan kadang digantikan Mas Dudy Anggawi, senior BTR, sebagai asisten, yang membantu menuliskan skema-skema dan bagan alur kuliah serta beberapa kata-kata dan sebuah nama yang sulit dihafal ejaannya.

Suasana kuliah yang dinamis. Dialog interaktif yang komunikatif. Bila ada hal-hal yang tidak jelas dan menyebabkan pikiran terganjal, peserta kuliah berhak menuntut kejelasan dari Pak Dosen. Tak jarang terlibat debat seru pula, antara para siswa dengan Pak Dosen, jika terdapat perbedaan pencernaan menyangkut sebuah alur risalah. Memang begitulah, sikon ini seperti disengaja Pak Dosen, didramatisir sedemikian rupa agar supaya ruang kuliah ini mengalir dan tidak monoton. Jika kami semua sudah puas berpendapat dan berargumen dengan seru serta antusiasnya, lalu mendongenglah Pak Dosen. Dongengan yang lantun dan cermat itu pun seperti menjilma sihir saja. Manthuk-manthuk saja kami mengunyah mencernanya. Data dari Rendra seperti saja palu godam, hendak memukul balik kegoblokan dan kedunguan kami karena sok pintar punya pendapat dan argumen yang seolah-olah hebat. Sialan!

Dan bila, udara Cipayung Jaya yang dingin menyebabkan keletihan dan kantuk, diperbolehkan pula setiap orang yang ada di ruang kuliah menyeduh kopi, teh dan melalap ketela rebus dan kacang. Sambil makan dan minum, kuliah jalan terus.Terus mengajar Pak Dosen dengan gaya kelakarnya yang hangat, yang kadang sering menjebak pemikiran kami semua. Edan, sungguh mati! Sampai tak terasa, pukul16.oo tiba, tak terasa berjam-jam berinteraktif dengan Rendra serasa tak menunjukkan waktu yang lama. Benak kami jadi kusut. Dahi pun jadi berkilat-kilat berminyak berkerutan. Sedang rambut kami yang kebanyakan gondrong makin keriting dan kusut saja. Wuaaaaa …

Dari session ke session. Waktu ke waktu. Mengalirlah pengetahuan yang sangat berharga dan berarti, memercik dari kantung pengetahuan Pak dosen Rendra. Bedah Filsafat Seni. Hakekat dan cabang pengetahuan yang spesifik tapi berjendela luas. Bahkan mampu mengisi ruang batinku untuk memahami siapa sebenarnya manusia. Bagaimana pertaliannya dalam pergumulan meniti waktu, sehingga menandakan keunggulan adab, budi dan daya. Dari behavior dan manner. Menjabarlah, unsur-unsur hakekat menjilmanya seni. Menjalar dari astronomi, astrologi, biologi, metafisika, materi, logika dan dialektika. Lalu meluncurlah teori-teori penulusuran keunikan manusia. Teori psikoanalis, Sigmund Freud, dengan pemahaman manusia dari sudut id, ego dan super ego. Ivan Pavlov dengan psiko eksperimentasi; brainwashing dan brainstorming. Ivan Illich dengan teori-teori pembebasan manusia; hakekat sekolahan yang candu, dogmatis dan artifisial. Lalu, serial eksistensil asal-usul manusia dan pencariannya dari Engel, Kahn, Hegel, Marx hingga Descartes, dan lain sebagainya. Khazanah ilmu yang sangat adiluhung dan membukakan mata. Membakar semangat dan menggairahkan gelegak intelektual.

Dan tak kalah muak dan sebal, tatkala berkemuka termin-termin risalah perusak mental manusia. Adalah Niccolo Machiaveli, pujangganya bangsa Italia yang jenius tapi fasis. “Negara akan kuat jika penguasanya kuat,” inilah prinsip dari buah pikir The Prince, karya besarnya. Mimpi yang banyak ditiru oleh para chauvunistik; Napoleon Bonaparte, Mussolini, Hitler dan Stalin. Mau yang hendak menyatukan sebuah bangsa tapi malah terpecah oleh intrik-intrik kekuasaan elite politik. Dan lalu, hal senada ditiru, menjadi bagian hitam sejarah kita, yakni Amangkurat II, hegemon Jawa di bawah panji kekuasaan gelap Mataram, pada tahun-tahun 1748 – . Kekuasaan adalah segala-galanya. Negara adalah aku. Maka rakyat haruslah mematuhi lidahku. Begitulah, petatah petitih ini diwarisi para penguasa negeri kita dimasa-masa sesudahnya. Inilah kotak kardus negeri kita, … warisan dari mimpi pemimpin picisan. Bah!

Sejak berkuliah pada Rendra pada rentang 1996 – 1997 itulah, aku jadi gandrung filsafat. Tak terasa buku-buku tebal koleksiku kini adalah buku-buku filsafat rentetan serial dari tokoh-tokoh yang pernah tersebut oleh Pak Dosen Rendra. Makin hari kupahami banyak teori dan pengetahuan sejarah yang melatar-belakanginya. Bahkan bermula dari kegemaran mengejar seri kuliah filsafat itu. Pengetahuan yang lain pun kucari dan kejar pula untuk sekedar mencari jawab atas kebuntuan-kebuntuan pertanyaan yang membingungkan di seputar persoalan eksistensi manusia dalam pertaliannya dengan kodrat semesta. Maka, tak ayal, trilogi Socrates, Plato dan Aristoteles jadi sering saya cari dan beli bahan-bahannya. Oleh karenanya, aku jadi sedikit tahu juga perihal Sophocles, Aristophanes dan Euripides. Sebab para sastrawan ini hidup pada zamannya Aristoteles. Yang artinya juga, akhirnya aku jadi bersangkutan dan sering menghayalkan sosok Alexander Agung, maniak perang, sang penakluk dari Yunani, murid Aristoteles yang dahsyat, karena di usia 27 tahun telah menaklukkan sepertiga jazirah dunia ini, dan sangat terkenal karena eksperimen budaya penyatuan Negeri Persia yang barbar dengan peradaban Yunani yang dianggap berbudaya berlabel Budaya Graeco-Persia itu.

Arus deras perguliran ini  kuantusiasi betul-betul hingga bentangan alirnya terus merembes, hingga membentuk penelusuran hakekat adiluhung Indonesia, yang pada akhirnya terus bersentuhan dengan siapa itu Ranggawarsita, Sanjaya, Kajao Ladido, Hamengkubuwono IX, Tan Malaka, Sutan Syahrir, Mohamad Hatta, Chairil Anwar, Natsir dsb dsb. Dan lalu sangat pahamlah aku akhirnya, kenapa tiba-tiba sosok Soekarno yang dulu mercusuar dan menara gading dalam pemahamanku, rontok seketika, saat membedah sosok-sosok brilian nusantara itu. Ya, tapi barangkali ini rasionalisasi tentatif, karena Soekarno pun betapa hebat mempengaruhi jalan pemikiran itu. Justru, mengenangkan Soekarno adalah juga paradoks dan antitesa untuk mengenali kekayaan keragaman, dan memang cenderung menunjukkan betapa kecil sebetulnya Soekarno itu, dan tapi, yang lantas kesemuanya itu jadi komplit dan holistik menggenapi sejarah manusia brilian yang pernah terlahir di bumi nusantara. Setidaknya ini menurut perhitunganku.

Wah, membedah Seni, betul-betul jendela wawasan yang tidak main-main. Aku jadi bingung dan suka tak habis pikir, begitu luas daya jelajahnya. Dan kata-kata Pak Dosen, Rendra, pada suatu ketika, “aku muak melihat seniman-seniman muda yang tidak mempunyai kegagahan jiwa, tidak mempunyai kelurusan pikiran dan pengendapan pengalaman, “begitu menohok telak ke ulu hati.

Semenjak mendengar kata-kata itu meluncur dengan ketus dari lontaran Pak Dosen, siapa yang tak syok dan tercabik. Kata-kata itu bagai palu godam, senantiasa betah mengiang-ngiang. Dari semua dosen yang pernah kujumpai selama ini aku pernah mengecap kuliah dan belajar, kata-kata itulah paling telak dan masuk di pikirku hingga saat ini. Ya, kata-kata hidup yang tak pernah kusangsikan kedalaman empiriknya. Betapa tidak, mendengar dan membaca biografi Pak Dosen, ketika ia berusia muda, begitu fantastis dan serasa musykil saja kebenarannya. Usia 10 tahun, sudah membaca Socrates, Plato, dan Aristoteles. Umur 17 tahun, sudah berani pidato di mimbar radio tanpa teks menjabarkan siapa itu Steinbeck, Boris Paternak, Stanilavsky, Ranggawarsita, dsb. Akibatnya, setelahnya, dengan sebat melayani debat dengan tokoh-tokoh sekaliber Iwan Simatupang, Sitor Situmorang dan Sudjatmoko. Dan lalu, umur-umur 20-an dengan lugas dan cermat, pikiran-pikirannya mengalir menjadi esai-esai, cerpen, puisi dan naskah drama yang menggetarkan, bahkan menggegerkan khalayak seni pada masa itu.

Kuliah dan menjadi murid Rendra, betapa, dalam kesempatan yang langka ini begitu menantang dan menggairahkan. Tidak ada nilai-nilai A, B,C, D dan E. Tidak ada drop out dan wisuda. Kebanggaan dan bersombong atas proses ini, kadang-kadang justru menjadi friksi diri yang galau dan menakutkan. Begitu tak mudah memahami nilai-nilai dan makna tersembunyi di balik pengetahuan dan pelajaran yang pernah diajarkan Rendra. Ilmu kuwi kelakone kanthi laku (ilmu itu terjadinya karena dijalani), barangkali ini menjadi bahasa ibu bagi siapa pun para penuntut ilmu yang arif. Barangkali itu pula sesuatu syarat yang harus dipahami dan dilakukan agar kita betul-betu mengerti dan paham, apa yang pernah dan akan terus diajarkan Pak Dosen Rendra kepada kita.

Salemba, 23 Februari 2006

DALAM PELUKAN PAK DOSEN : wisuda tanpa gelar, momen yang terindah dalam hidupku

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: