Foto Bugil, Seni atawa Porno?

Oleh Mappajarungi Manan

Foto-foto: Marwan Jr

“Ah, aku bingung. Mana karya seni dan mana porno”  ujarku kepada rekan, usai menyeruput secangkir kopi hangat di ruang loby Hotel Nikko, Jakarta. Jumat, siang(26/8)  sekitar pukul 15.00 WIB. Rupanya,  era kebebasan, semua diidentikkan dalam segala hal. Misalnya, bebas mengobok-obok agama, bebas memaki-maki. Kini aku baru usai menyaksikan kebebasan memajang foto-foto porno. Mungkin aku dibilangin kuno ya, karya seni dibilangin porno?…hehehehe.

Cafe Oak, Hotel Nikko,  yang biasa dipakai menikmati suasana santai dengan alunan musik, berubah jadi pameran foto karya fotografer, seperti Darwis Triadi, Davi Linggar, Jay Subyakto, Kay Moreno, Marsio dan Oetomo. Tidak ketinggalan pula beberapa fotografer dari Majalah FHM Indonesia. Tampilan karya para juru foto professional itu berlangsung dari tgl 23-28 Agustus 2005.

Suasana yang sejuk di Oak room itu, menimbulkan pikiran beragam. “Duh bagusnya foto ini ya, artistic sekali, jadi pingin punya foto seperti ini” ujar seorang wanita yang melihat-lihat karya fotografer Marsio. Disetiap figura, wanita yang menyaksikan pajangan itu tak berkedip. Ketika berada di depan karya Darwis Triadi,  seakan merasakan sendiri sebagai model. Tampak karya Darwis, seorang perempuan bugil berdiri menghadap pohon, dengan hamparan sawah. Sayang karya itu hitam putih. Wanita itu begitu mengagumi tanpa kedip. Harga sebuah karya foto darwis tertulis Rp 5 juta.

Darahku mendesir.. ah kaco nih. Kendati tidak sevulgar karya Darwis, namun terlihat soft. Karya Kay Moreno dengan model Lena Maya, membuat aku sedikit tertegun ia penuh berbalut bunga dengan percikan air. Sayang NOT FOR SALE. Namun ketika melihat karya Marsio lainnya dengan model  Karenina, norak,namun harganya diatas karya Darwis yakni Rp 10 juta.

Suguhan dari karya fotografer itu, kendatipun telah memiliki nama besar, tapi ternyata tidak semuanya menampilkan karya bagus. Pose-pose Karenina yang dijepret oleh Marsio banyak yang norak. Misalnya Darwis yang memotret model Kinaryosih tidak menimbulkan greget demikian pula karya Oetomo  dengan model Davina. Karya Hitam Putih Darwis lebih bercerita.

Akhirnya aku sulit mengambil kesimpulan mengenai definisi pornografi yang sudah jelas dan tegas dalam pandangan agama. Tetapi batasan pornografi  yang telah baku itu, kini masih terus diperdebatkan dan diarahkan untuk dikaburkan. Inilah penampilan erotisme yang direkam dalam foto oleh mereka.

pornoaksi dalam konteks terminologi Islam. Dalam Islam, aurat  tersebut memiliki definisi yang sudah jelas, yaitu sesuatu  yang tak patut dilakukan, tidak patut diperlihatkan atau tak  patut diucapkan. kaitan ini ada aurat rohani dan jasmani. Mengutip    firman Allah SWT yang artinya, “Tutuplah dadamu dengan  kerudungmu”. “Itu sudah jelas. Buat wanita suara dan rambut saja menyangkut aurat.

Kalau rambut dan suara mungkin dianggap wajar, namun haram yang besar menunjukkan pusar dan buah dada. Namun melihat  kenyataan itu masyarakat akan terdiam, bagi pengumbar nafsu itu adalah karya seni, untuk menutupi “kekurangannya” itu.

Tampilan karya foto itu, merupakan suatu gambar yang bisa menimbulkan rangsangan seks. Tapi masyarakat Indonesia tidak tunggal. Yang pasti, kelihatan “putting beliung” adalah bahaya. Dapat menimbulkan petaka, ya gak?..  Jadi ingat foto Sophia Latjuba hehehehe.. tapi foto Sophia dan Asarah Azhari, angin “Putting beliungnya” gak nampak hehehe bener gak nih? …Jadi.. sulitkan menilai, mana seni dan porno? []

Aug 26, ’05 9:26 AM

foto: Marwan Jr

foto: Marwan Jr

foto: Marwan Jr

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: