Tag Archives: membaca

Membaca Pelacur : Membaca Sebuah Empati

Oleh Ade Anita

Notes ini berawal dari sebuah pertanyaan, bagaimana caranya agar bisa menulis sesuatu yang mempermainkan emosi pembaca.

Ya. Sebagai seorang pembaca, saya juga sering menemui sebuah tulisan yang begitu mengaduk-aduk emosi pembaca. Seakan-akan kita hadir di tulisan tersebut dan menyaksikan kisah yang disajikan secara langsung. Dan sebagai seorang penulis pemula, saya sendiri juga ingin sekali bisa menghasilkan tulisan seperti itu. Mungkin sama inginnya dengan penggemar film yang ingin menyaksikan film dalam bentuk 3D hingga film-film itu terasa benar-benar nyata.

(oot dulu yah: kemarin waktu saya jalan-jalan ke toko elektronik, saya melihat penawaran untuk televisi layar datar besar yang menyajikan teknologi 3D. Jadi, penonton harus memakai kacamata khusus. Luar biasa menariknya, apalagi ketika ada acara sepak bola, yang digilai oleh suami saya. Suami saya bilang, “seperti menonton di stadionnya langsung deh, De. Tertarik nggak buat beli ini?” dan saya dengan bodohnya hanya bilang, “Iya, itu karena kamu pakai kacamata khusus 3D, sedangkan aku kan tidak pakai kacamata itu. Nanti yang ada aku lari ke atas genteng dan sibuk benerin antena, karena menyangka antena televisi kita berubah arah.”.. hehehe..:P).

Oke. Kembali ke topik semula.

Lalu, bagaimana caranya agar tulisan kita bisa ‘dalam’, dan memerah emosi pembaca yang membaca tulisan kita? Mungkin, dengan cara kita menulis semua ide yang ada di kepala kita. Tapi setelah selesai menulis, cobalah untuk menempatkan diri sebagai pembaca yang sebelumnya tidak pernah membaca tulisan kita tersebut.

Nah…nah…bingung kan? Hehehe…sebenarnya yang saya mau katakan adalah, mencoba untuk berempati pada tokoh yang sedang kita tulis.

Berikut ini saya punya tiga puisi dari tiga penulis luar biasa. Ketiganya membahas sebuah topik yang serupa, yaitu tentang Pelacur. Pada tahu kan pelacur itu siapa? Nah, ketiga penulis luar biasa ini, belum tentu juga pernah bertemu dengan seorang pelacur. Pun belum tentu juga pernah bersinggungan langsung dengan profesi seorang pelacur. Mungkin kata pelacur dalam kepala mereka, mereka dapat dari pengetahuan membaca dan menonton berita saja. Selebihnya hanya imajinasi. Dan disinilah keluar-biasaan ketiga penulis ini ketika menempatkan diri sebagai pembaca. Dalam arti, mereka tahu dimana sela-sela emosi pembaca yang bisa diaduk sedemikian rupa hingga bisa menerima imajinasi mereka tentang sosok pelacur menurut versi masing-masing.

Sekali lagi, tulisan ini saya buat dalam rangka saya pribadi juga sedang belajar agar bisa menulis sehebat para penulis di bawah ini. Saya pernah membandingkan, mana di antara ketiga penulis ini yang terasa benar-benar menghayati dan berempati pada tokoh imajinasi mereka, dan punya pendapat sendiri tentang kesan yang mereka berikan. Tidak tahu ya dengan pendapat kalian, sama apa tidak dengan pendapat saya..hehehe.

Ya sudahlah…nikmati sajiannya dan perhatikan cara imajinasi seseorang untuk menyelipkan sebuah empati terhadap tokoh yang mereka ciptakan.

[]

Pelacur di mata penulis Pik Parwati:

Puisi tentang “Jiwa Yang Tersakiti” (Diikutkan dalam lomba Fatamorgana Publisher)

by Pik Parwati on Tuesday, 09 November 2010 at 13:50

Rintihan Pelacur

Oleh Pik Parwati

Aku terjaga

Sakit

Perih

Pedih

Tubuhku terpasung kemiskinan

Jiwaku dipenjara keinginan

Suara lengkuhan  mulai lenyap

Tawa palsu hilang sudah

Aku tertinggal disni

Terhempas oleh sisa nafsu.

[]

Sekarang, pelacur di mata penulis Faradhina Indzifara:

Subuh Seorang Pelacur

by Faradina Izdhihary on Friday, 12 February 2010 at 11:37

sebelum bedug subuh ditabuh perempuan itu memunguti remah tulangnya ia bersyukur masih tersisaseorang pelanggan melumatnya hingga lebur semalam

perempuan yang dipanggil pelacur itumemilih sepi sebagai istanasejak selaput daranya direngut dengan paksa

di bekas luka itu tuhan meniitip seorang bidadari yang mengajarkan padanya menentang dunia

ketika padanya diminta lembar-lembar rupiah penebus susu dan bubur bayi perempuan itu sadar hanya punya vagina karenanya putrinya ada dengannya ia akan menyuapinya

sebelum fajar rekah selalu ia tulis surat untuk tuhannya”kau tahu, darah dan hatiku tetap perawan meski lelaki yang menjamahku telah ribuan”

bila siang perempuan-perempuan berdiri di teras-teras dengan secangkis besar gosip dan rerasan menatapnya sambil memuntahkan sarapanperempuan itu membalas dengan ketulusan

adakah jaminan bagi istri-istri pendosayang memuja fitnah jadi kudapan? kau tahu, padaku tuhan memberi janjiseorang pelacur masuk surgasetelah memberi minum anjing yang dahaga

sedang yang kusuapi anak manusia luka yang ditorehkan lelakimu saat perempuan seperti kalian lalai mengikat syahwatnya

[]

Nah, sekarang tulisan lain lagi. Sungguh belum lengkap jika belum membaca prosa tentang pelacur yang ditulis oleh Ilham Q. Moehiddin berikut ini:

Pelacur Jalanan Mati Awal Maret

by Ilham Q Moehiddin on Thursday, 28 October 2010 at 17:55

Pelacur Jalanan Mati Awal Maret

(bias demokrasi)

Hujan rintik memanahi bumi Jakarta sore itu.

Sekelompok anak berlarian menawarkan payung pada penyeberang dan penunggu bis kota. Seketika kesibukan di emperan menyepi, khawatir rintik itu menjadi sederas hujan dua hari yang lalu.

Motik berjalan terburu buru dengan sepotong lembar koran menutupi kepalanya yang beruban. Tidak hirau belakang sandal jepit tipis mengangkat air ke roknya yang bau. Tidak dihiraunya juga cemoohan segerombolan pelajar di halte utara Istana Merdeka yang begitu angkuh dengan pagarnya, seolah tidak tahu ada hati yang sedang menangis terluka.

Motik menghapus titik hujan yang campur dengan keringatnya. Ia jongkok bisu menyalang mata mengawasi gerombolan pelajar tadi yang gencar mencemoohnya. Motik tahu mereka malu untuk menghampirinya. Karena dia bau. Karena dia begitu ringkih untuk tugas hariannya. Dia terlalu tua.

Bahkan mentari pun malu menyengatnya dengan sinar garang Tuhan. Seolah, mentari tahu, buat apa bagi Motik sinar itu, toh dia sudah muak menikmatinya tiap hari. Motik sadar dia sudah tidak laku di pasaran jalan jalan Jakarta.

“Mentari, mengapa malu padaku. Apa kau tidak mau lagi menyetubuhiku? Jangan nistakan tubuhku lagi. Dulu kau begitu memujanya, sekarang kau bahkan meludahi selangkanganku. Jangan…jangan sakiti aku.” Pelan tajam dia berujar, meratapi keangkuhan Mentari.

Kamu bau…aku muak…kamu bau…kamu bau…kamu bau…

Mentari menyahuti rintihan Motik dengan koor panjangnya.

“Mengapa?”

Tapi, mentari membisu di relung awan awan. Jakarta pun bisu, seakan merasai kepedihan hati Motik atas penolakan Mentari. Sementara itu bis bis lalu lalang sibuk sendiri sendiri.

Bulan Februari, seribu sebilan ratus sembilan puluh lima, setahun yang lalu Motik tidak harus malu seperti sekarang ini. Waktu itu, dia belum terkena penyakit ‘kekelaminan’ politik orang orang gede. Bodoh betul Motik kenapa mau dicicipi oleh peradaban ‘kabinet’. Waktu pun juga yang mengubah arah arus peradaban republik yang sudah beranjak tua ini.

Begitu buruk, sebanding dengan aku yang bau, pikir Motik menasehati diri sendiri.

Kini, menjelang awal Maret, tahun ini Motik sangat lain. Ia bahkan tidak tersentuh tangan tangan malaikat penunggu republik. Ia ditolak bagai daging mentah seminggu yang lalu.

“Jangan…jangan sakiti tubuhku!” Motik merintih pilu seolah menahan sakit ketika seorang mencoba meraih tangannya.

Seharusnya dia gembira. Ada sejumput khawatir memancar dari sorot matanya. Ia bingung dengan polah orang orang yang sedikit sedikit berubah. Suatu ketika nyalang, ketika yang lain begitu lembut seakan semua dosa terampuni.

“Jangan sakiti tubuhku…hatiku. Aku yang malu dan bau, tidak mau semakin di ejek, dihindari. Biarkan aku sendiri. Pergi! Menjauh dari manisku, menjauh dari sorgaku. Aku tidak mau itu semua lagi. Aku mau pergi sejauh mungkin…jauh sekali. Mundur dari percaturan bumi yang terus membodohiku. Biar aku terima karma Tuhan. Tuhan tidak akan malu walau kuhampiri sedekat apapun. Pergi…! Biarkan aku sendiri!”

Motik memohon dengan bibir gemetar oleh dingin hujan sore itu.

Jakarta belum mau menyahuti Motik. Mungkin Jakarta masih harus berpikir seribu kali untuk langkahnya. Jakarta pun linglung harus terus diduduki dengan keangkuhan beton beton kualitas nomer lima. Jakarta belum mau membela Motik.

Motik belum mau hengkang dari tepukan tangan republik yang tidak pernah tidur dengan cobaan. Padahal, Motik begitu menyesali itu semua, harapannya untuk dibela seringkali membuncah menjadi teriakan histeris yang menyumbat nada nadi ekonomi konglomerat. Seharusnya Jakarta membelanya, bukan menyatroni hatinya, menamparnya hingga terjungkal ke pinggir pinggir jaman yang kejam.

Motik tahu itu semua adalah manis suatu ‘permainan’. Maka, dia tidak perlu nyeleneh untuk mengubah kodrat alam. Motik sadar dia terus diawasi. Waktu terus merambat di sela sela jemari kakinya.

Berturut turut menundurkan logika yang terkadang turut pula menyesatkan. Kasihan Motik, sejak hari itu dia tidak terlihat lagi di sepanjang jalan jalan Jakarta. Jakarta bahkan melupakannya. Jakarta bahkan, tidak tahu lagi hidup Motik.

Tubuhnya terbaring kering di gardus yang basah air hujan. Awan menangis. Jakarta menyesal. Mentari malu untuk ingkar dari kata hatinya. Mentari tetap angkuh.

Motik mati.

Mati dengan luka hati yang dia bawa bawa dari bulan lalu.

Seiris senyum miris membekas pada wajahnya. Motik memang harus pergi. Dia sudah cukup senang karena Mentari pernah menyetubuhinya, pernah menjamahnya, pernah merasakan selangkangannya. Walau pun semua harus membayar murah untuk itu.

Sore itu, kembali rintik memanahi bumi tanpa Motik. Karena Motik sudah mati.

Gerombolan pelajar di halte utara Istana Merdeka ‘harus’ menyoraki Motik yang lain. Motik tidak perlu malu lagi, walau dia bau.

Jakarta, 19 Agustus 1996

[ cuplikan dari : Cerpen [IV], Bab II. Cerpen, Kitab & Tafsir Perawan ]

[]

Iklan

Membacah ‘Duh’ : Kerinduan yang Berpeluh

( sambutan buku Puisi ‘Serangkaian Tunggu’ Penyair Helena Adriany )

Oleh Syaiful Alim

Saya belum punya buku puisi ‘Serangkaian Tunggu’ Penyair Helena Adriany. Tapi biarlah ini jadi awal mula apresiasi utuh ketika saya memiliki buku itu nanti.

Teks Sajak:

“duh”

I.

setiap pagi aku duduk di gerbang memandang matahari

padahal aku tahu gerbang membuka menjelang petang

II.

ada sebuah kertas di sampingku

tetapi mengapa aku menulis di saputangan

III.

sebaiknya kuikat rindu di luar pintu kamar

sebelum kau pikir aku lupa mematikan lampu

Balikpapan, 03 January 2010

Kaji Puisi: Membaca “duh” Penyair Helena Adriany: Kerinduan yang Berpeluh

SAJAK selalu lahir dari kegelisahan. Entah itu kegelisahan yang bersumber dari dalam diri atau luar diri sang Penyair.

SAJAK kuat dan abadi dipicu oleh kegelisahan. Kegelisahan menjadi pemantik tenaga puitik untuk menembakkan kata-kata.

PEMIKIR dan PENYAIR Robert Frost menyatakan bahwa sajak itu lahir dalam kondisi resah gelisah, ketidaknyamanan, dan ketidakmestian hidup. Lalu dia menyebutkan beberapa misal, yaitu marah pada keadaan yang salah, rasa cemburu, sakit rindu, juga patah hati.

“a poem, begins as a lump in the throat, a sense of wrong, a homesickness, a lovesickness,…it finds the thought and the thought finds the words.”

KETIKA itulah sajak bisa jadi alat perjuangan atau sebagai jalan meringankan beban yang tak tertanggungkan itu.

Memang, puisi tidak seperti sepiring nasi yang mengenyangkan perut pengungsi, puisi tidak seperti selimut yang menghangatkan orang kedinginan, puisi tidak seperti setetes obat merah yang menutup luka, puisi tidak seperti seoles minyak angin yang menyembuhkan perut kembung, puisi tidak seperti perban untuk melindungi luka dari kuman, puisi tidak seperti pakaian yang melindungi tubuh dari sengatan matahari, puisi tidak seperti pasir, koral, semen, batubata dan seng yang menegakkan cagak rumah. Tetapi puisi bisa menjadi cahaya kala gelap, pengingat kala lupa, penggedor kala teledor, pengobat kala sakit, penguat kala sekarat, jamu kala jemu, pemicu kala buntu, pemacu kala galau, penghibur kala hancur, istri kala sepi.

Penyair Subagio Sastrowardoyo pernah menulis puisi berjudul ‘sajak’ yang berkenaan dengan peran atau fungsi sajak bagi kehidupan.

“Ah, sajak ini,

mengingatkan aku kepada langit dan mega.

Sajak ini mengingatkanku kepada kisah dan keabadian.

Sajak ini melupakanku aku kepada pisau dan tali.

Sajak ini melupakan kepada bunuh diri”

***

Sebelum saya memasuki tubuh sajak, maka izinkan saya menyentuh dulu judul yang menjadi pintu.

Sungguh menarik apa yang diajukan oleh Penyair Helena Adriany dengan judul ‘duh’ ini. Apakah ‘duh’ sama dengan ‘aduh’? dimana letak gores perasaan keduanya?

ADUH. Kata ‘aduh’ bisa meloncat dari bibir jika tubuh atau bagian (seluruh) tubuh kita meradang kesakitan, misalnya ditusuk atau tertusuk peniti atau duri. Kata ‘aduh’ bisa hadir dari bibir ketika terpesona dengan sesuatu atau seseorang yang menakjubkan. Seperti ucapan, “aduh, tampannya penyair ini”. Kata ‘aduh’ juga bisa melesat dari bibir jika tersentak oleh sebuah kesalahan, kesalahan yang melahirkan penyesalan. Seperti ucapan orang yang terlambat datang di sebuah acara, “aduh, kenapa saya tidak dari tadi ke sini, pembicaraannya menarik sekali” atau ucapan kekasih, “aduh, kenapa dulu aku tidak menerima lamaranmu, maafkan aku”.

DUH. Huruf ‘A’ telah hilang dari tubuh ‘aduh. A yang menjadi pemantik telah lenyap ke dimensi yang senyap, sepi, sunyi. Apakah ‘A’ yang hilang ini mempengaruhi arti? Pasti dan tentu. ‘A’ di kata ‘ADUH’ adalah timbul dari sebuah kesengajaan si aku lirik untuk memaknai apa yang dirasakan. Sedangkan A yang hilang dari kata ‘DUH’ menyiratkan sebuah sikap yang ditetaskan dari luar kesadaran. Kesadaran formalistik telah sirnah ke dalam dimensi yang tak berbatas. Apa yang terjadi? Adalah perasaan yang utuh dan terombang-ambing dengan sesuatu atau seseorang yang membayangi diri si aku lirik. Ia adalah perkawinan antara kesakitan dan penyesalam. Namun perkawinan itu dibalut dengan selubung jiwa yang melambung, ngelaut, ada kehendak untuk terus meneguk kesakitan itu, tapi di sisi yang lain juga ada kehendak untuk menyesali apa yang sedang dan telah terjadi. Tapi penyesalan itu ditolaknya dengan halus. Sebab jika dia menyesal, berarti dia telah terbunuh oleh perasaannya sendiri. Lebih baik membiarkannya dan terus terjadi. Ada harapan yang kelak dipeluknya dalam pertemuan. Harapan yang dicicil dari kerikil-kerikil kesakitan membayangkan dan menghadirkan kekasih. Itulah yang disebut dengan rindu atau kerinduan. Rindu memang pedih. Tapi perjumpaan mengobati. Rindu memang ngilu. Namun pertemuan yang menyembuhkan.

SUNGGUH. Saya lebih bisa menikmati ‘duh’ penyair Helena Adriany ini dengan ‘kerinduan berpeluh’. Sebuah kerinduan yang meletihkan, melelahkah. Seolah si aku lirik menempuh perjalanan jauh untuk merangkai pucuk-pucuk rindu yang kelak mekar dan jadi mawar. Mawar pun berduri.

SUNGGUH. Saya lebih bisa menikmati ‘duh’ penyair Helena Adriany dengan ‘kerinduan berpeluh’. Penantian yang begitu lama akan kedatangan kekasih itu telah meluruhkan keringat kehangatan yang berlelehan di sekujur tubuh. Layaknya seorang pendaki gunung, peluh yang berlelehan itu dinikmati sampai mencapai puncak yang dikehendaki. Ia tak kan beranjak dan turun lagi ke bawah. Ia terus melangkah dan melangkah.

“duh”

I.

“setiap pagi aku duduk di gerbang memandang matahari

padahal aku tahu gerbang membuka menjelang petang”

Ini saya sebut ‘laku rindu pertama’.

Imaji kita langsung diseret oleh penyair berlesung pipit ini: seolah kita melihat dari dekat atau jauh seorang yang duduk di bangku atau di segunduk tanah memandang cerah sinar matahari. Apa yang hendak disuarakan oleh si aku lirik yang dipeluk rindu dalam larik sajak ini?

Saya kira kata ‘gerbang’ adalah kunci dari pembacaan larik cantik ini. Saya lebih condong memaknai ‘gerbang’ sebagai ‘pintu waktu’. Pintu waktu yang sudah menjadi kesepakatan antara kedua kekasih. Pintu waktu itu sebagai jalan masuk untuk saling berpelukan, meredam dendam rindu.

Memang seorang perindu itu berperilaku aneh dan unik. Keanehaan itu digerakkan oleh rasa gelisah yang menujah dada. Seperti yang kita rasakan dari keanehan yang dilakukan si aku lirik pada larik ini: sudah tahu gerbang itu membuka menjelang petang, tapi tetap saja menunggui sang kekasih semenjak matahari terbit. Betapa peluh penantian itu.

“setiap pagi aku duduk di gerbang memandang matahari”

Dan ‘matahari’ itu berperan sebagai latar saja. Bukan menjadi matahari yang bermakna konotatif. Matahari di situ seolah jadi saksi, juga jadi pelampiasan kegelisahan sang perindu (si aku lirik). Pagi dan matahari diajak ikut oleh si aku lirik untuk menanggung kegelisahan yang menggunung di dada itu.

Saya terkenang Penyair Besar Chairil Anwar yang begitu jeli dan lihainya memasang benda-benda alam ke dalam tubuh sajak-sajaknya. Seperti terlihat pada puisi di bawah ini.

AKU BERADA KEMBALI

Aku berada kembali. Banyak yang asing:

air mengalir tukar warna, kapal-kapal, elang-elang

Serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;

rasa laut telah berubah dan kupunya wajah

juga disinari matari

lain.

Hanya

Kelengangan tinggal tetap saja.

Lebih lengang aku di kelak-kelok jalan;

lebih lengang pula ketika berada antara

yang mengharap dan yang melepas.

Telinga kiri masih terpaling

ditarik gelisah yang sebentar-sebentar seterang

guruh.

Dari sajak di atas nampak betapa air, kapal, elang, mega dimasukkan Penyair untuk memperkukuh tubuh sajaknya. Kesemua benda alam itu memang sengaja diletakkan, dan pasti dengan maksud tertentu. Misalnya sebagai penggambaran bahwa si aku lirik sedang tercabik dan lengang memandang laut yang dibalut air biru, kapal-kapal yang berlabuh-berlayar, elang-elang terbang menghiasi angkasa.

“padahal aku tahu gerbang membuka menjelang petang”

“padahal aku aku tahu…”

Ada tiga isyarat yang mengeram dalam larik ini. Pertama, sudah adanya nota kesepakatan yang dibuat oleh kedua kekasih. Kedua, adanya perasaan getir yang menyesakkan dada si aku lirik yang menunggu itu. ketiga, pengorbanan cinta.

Duduk sejak pagi memandang matahari sementara gerbang terbuka menjelang petang hanya bisa dilakukan orang kangen yang sejak pagi dilanda gelisah berharap suatu pertemuan. Sebuah pertemuan yang ditentukan waktu yang disepakati itu, yaitu ketika matahari terbenam dipukul malam.

II.

“ada sebuah kertas di sampingku

tetapi mengapa aku menulis di saputangan”

Ini saya sebut ‘laku rindu kedua’.

BETAPA GEMILANG larik sajak ini. Saya mencium aroma pengalihan fungsi sebuah benda. Sang penyair telah melakukan perubahan fungsi atas benda ‘saputangan’ itu.

Adalah menarik menelisik perubahan fungsi atas ‘saputangan’ itu – dari seulas saputangan menjadi benda lain yang bisa difungsikan untuk menulis. Saputangan yang biasanya untuk menghilangkan peluh atau kotoran debu yang lengket di tubuh, kini jadi benda yang dipakai nulis.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan si aku lirik dalam larik sajak ini? Kenapa ia menulis di saputangan? Apakah yang dimaksud kerja ‘menulis’ di sini?

“ada sebuah kertas di sampingku

tetapi mengapa aku menulis di saputangan”

Sudah jamaknya seorang perindu itu gelisah. Ketika kegelisahan makin menujah, maka airmata yang menggantikannya. Airmatalah yang berbicara. Apakah yang dibutuhkan perindu yang airmatanya bercucuran berceceran di lantai? Kertas atau saputangan? Bisa kertas bisa saputangan. Kertas untuk menulis sajak, misalnya. Saputangan untuk membasuh basah airmata.

Tapi kenapa si aku lirik lebih memilih saputangan?

HIDUP adalah pilihan. Saya menduga saputangan terpilih karena “efek kegunaan” yang mengeram di diri saputangan. Saputangan lebih berdaya guna meniriskan tangis ketimbang kertas.

Tapi kenapa sang penyair menggunakan kata kerja ‘menulis di saputangan’…?

Pada hakikatnya seorang perindu yang membasuh basah airmatanya itu adalah menulis. Setiap usapan adalah pembentukan kata. Kata-kata yang meneterjemahan rindu itu. bebutir airmata yang mengalir itu menulis rindu.

(kasihan sekali ya si kertas itu, tak terpakai, sini kupakai nulis puisi )

III.

“sebaiknya kuikat rindu di luar pintu kamar

sebelum kau pikir aku lupa mematikan lampu”

Ini saya sebut ‘laku rindu ketiga’.

ALANGKAH memikat larik terakhir puisi Penyair Helena Adriany ini. Di sini sang penyair dengan jelas memunculkan kata ‘rindu’ dan menyebut yang dirindu itu dengan ‘kau’. Ini semacam gerak ledakan kerinduan yang dipendam dan diperam di dada.

“sebaiknya kuikat rindu di luar pintu kamar”

Saya terpikat dengan bahasa kata kerja penyair ini: kuikat. Begitu pintar dan cantiknya sang penyair memainkan atau memutar logika pembaca: mengikat rindu? rindu seolah hidup dan berleher. Agar rindu itu tidak lari, maka diikat pada sesuatu. Juga supaya seusai bangun tidur, si aku lirik bisa melepas ikatan rindu itu, dan melampiaskan kegelisahannya kembali.

LALU kenapa rindu diikat? Berbahayakah pada diri si aku lirik?

Saya tertarik dengan apa yang dikatakan para sufi bahwa rindu itu bercahaya, bersinar begitu terangnya, sehingga mereka silau, lalu menuju gua-gua memadamkan cahaya itu dengan dzikir kepadaNya. Begitu juga dengan rindu dalam puisi ini: rindu itu bersinar alangkah terangnya. Sehingga lekas-lekas si aku lirik mengikatnya (memadamkannya) di luar pintu kamar.

Berbahayakah rindu yang bersinar terang itu pada diri si aku lirik?

TENTU dan PASTI berbahaya. Rindu saya asosiasikan sebagai lampu di ruang kamar tidur. Lampu harus dipadamkan dahulu jika ingin tidur pulas. Begitu juga dengan rindu yang memancar sinar itu. si aku lirik ‘mengikatnya’ karena mencoba menenangkan kegelisahan yang menderanya sejak pagi.

“sebaiknya kuikat rindu di luar pintu kamar

sebelum kau pikir aku lupa mematikan lampu”

***

DEMIKIAN tafsir sajak ‘duh’ Penyair Helena Adriany ini. Sebuah tafsir sederhana dari seorang perenang buta, syaiful alim, di lautan yang penuh gelombang dan ombak. Semoga tafsir saya ini salah atau lepas dari niat mula Penyair ini menuliskannya. Tapi yang perlu dipegang adalah bahwa tidak ada tafsir mutlak di dunia ini. Seperti apa yang terkata dalam sajak di bawah ini.

“Setiap hendak kutangkap

Ia lolos dari dekap

Tak mampu menampung rasa

(sajak yang tak peduli, subagio sastrowardoyo)

Helen, siapa yang harus bertanggung jawab terhadap airmata yang mengalir dari mataku seusai menelaah sajakmu? Pinjamkan aku saputanganmu.

[]

Khartoum, Sudan, 2010.

Syaiful Alim

Penulis Novel ‘Kidung Cinta Pohon Kurma’


Sepucuk Surat Kepada Cinta

Oleh Hera Naimahh

aku mengenalnya lewat lembar-lembar catatan yang memuat tentang riwayat cinta abadi sepasang kekasih yang membuat penglihatanku terpaku di kedalaman setiap kalimatnya

aku menjumpainya di penghujung senja saat kenangan dan kenyataan berbaur dan mengabur dari penglihatan

Aku memahaminya lewat percakapan demi percakapan yang membuat langit jiwaku berpendar-pendar oleh cahaya jingga hingga aku mengira dialah kekasih jiwa yang akan menemaniku menjemput malam

(Aku mohon maaf padamu untuk semua hal yang tak kumengerti, untuk semua kebimbangan dan ketidakpastian, dan untuk keterasingan yang membentang di antara kita)

mampukah aku berlari meninggalkannya demi ketenteraman lain yang tak sepenuhnya kupahami? haruskah kuingkari panggilan jiwa dan lari menuju lorong tanpa cahaya menuju negeri tak bermusim?

wahai cinta peluklah aku dan berikan kesejukan pada setiap tarikan nafasku yang tak henti meneriakkan asmaMu

wahai jiwa yang dikepung rindu tak berkesudahan. kupasrahkan segenap hasrat menjelma kesejatian dan tunduk patuh pada kehendakMu

sungguh, Tuhanlah yang berkuasa memberi keajaiban kepada siapa saja yang dikehendakiNya, dan memberi cinta kepada orang-orang yang tak henti menjumpaiNya

aku akan di sini. setia menanti hujan datang menghalau kemarau dan membasahi hati dengan kehangatan tak terduga, lalu kita bersama-sama lagi menulis dan membaca puisi, merenda hari dengan rangkaian huruf demi huruf, kemudian melengkapinya menjadi sebait simfoni dan kita nyanyikan berdua hingga akhir usia

***

hera
19 Ramadan 1431 H
29 Agustus 2010


Josephine Maria “Membaca” Adhy Rical

Style pose Josephine Maria saat membacakan Kutang Pancara karya Adhy Rical

KUTANG PANCARA
Oleh Adhy Rical

kutunggu engkau di pancara
melewati sungai konaweha
perempuan pasir menyimpan pokea di kutangnya
jangan takut tenggelam
kita buka dengan kancing baju
agar keringatmu menderas

sudah lama mengail dakimu apung
tapi tak pernah tenggelam lelah
belum bisa mengeja titahmu tatih
padahal kau memanggilku lelaki air
setelah menyelam dalam tangis anakmu
apakah aku mirip perempuan batu menangis?

kutunggu engkau di pancara
menjadi bilalmu
dan dayung masa tuamu
apakah engkau akan datang kutangku?

kutang yang engkau titipkan padaku
sudah kupenuhi beras
kau tak perlu memelas
dua tiga lelaki mendayung tubuhmu

[]

Laosu, 2010

pancara: rakit kayu
pokea: kerang sungai

###


[Puisi sahabatku, Adhy Rical aku baca pada Reboan Wapres, Bulungan, 30 Juni 2010]. Thx u Adhy..

Josephine Maria

http://josephinemaria.wordpress.com/Josephine Maria Johanita Ina Buan, ini kerap dipanggil ‘Joes’ mewarisi darah Flores-Adonara, Nusa Tenggara Timur, dari kedua orangtuanya. Lahir dan dibesarkan di kota Surabaya, Jawa Timur. Kini dia menetap di Jakarta. Hobi menulis sejak sekolah menengah pertama (SMP) dan berbakat menggambar sejak masih sekolah, yang terapresiasi dengan sangat baik pada berbagai perlombaan menggambar. Cintanya pada seni memang mengakar sejak dini. Peraih Diploma Analis Kesehatan Kulit ini, selain berkesenian, bekerja sebagai Trainner & Consultant SPA, dan Beauty Consultant Klinik Skin Care. Buku pertamanya; Antalogi 10 Penyair Tarian Ilalang, yang diterbitkan bersama 10 sahabatnya di jejaring Facebook. Situs webnya http://ranahaksara.wordpress.com/ dan akun Facebook : Josephine Maria. Karyanya yang lain dapat disimak di Puisi-puisi Josephine Maria di Oase KOMPAS.


%d blogger menyukai ini: