Tag Archives: sastra

IFW Writer’s Digest e-Magazine Diluncurkan Awal Juli 2012

Sebagai perhimpunan penulis yang senantiasa bergerak maju, The Indonesian Freedom Writer, awal Juli 2012, akan meluncurkan majalah elektronik (e-Magazine) yang diberi nama IFW Writer’s Digest, atau Writer’s Digest.

Majalah ini akan terbit sebulan sekali, dan dapat diunduh secara gratis di blog resmi IFW ini.

Memuat karya-karya sastra dan artikel umum lainnya, seperti cerpen, cerita mini, puisi, esai sastra, opini umum, kajian puisi, dll.

Anda dapat mengirimkan karya, tentunya, dengan tetap mengacu pada misi IFW. IFW menghadirkan blog ini, awalnya untuk memacu semangat penulisan dengan mementingkan ide dan gagasan. Dan pada e-Magazine ini, tulisan-tulisan yang akan dimuat harus secara literatif memenuhi syarat redaksi: ditulis dengan bahasa yang baik dan benar (lebih baik jika sastraistik), jelas disampaikan, terukur secara logika, tak memprovokasi, tak SARA.

Untuk beberapa edisi ke depan, redaksi tak memberikan honor untuk setiap tulisan yang dimuat, sehingga itu lebih banyak artikel masih akan diambil dari dokumen panel penulis tetap IFW. Namun, Anda masih tetap bisa mengirimkan tulisan Anda jika ingin.

Iklan

Ayo Bergerak Bersama Selamatkan PDS HB. Jassin

Penggalangan Dana (Donasi) #KoinSastra

Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB. Jassin, yang didirikan pada 1979, kini terancam ditutup. Hal ini disebabkan terancamnya PDS tak bisa beroperasi lagi menyusul keluarnya Surat Keputusan Gubernur DKI yang memotong anggaran PDS sehingga menjadi Rp50 juta.

Sebelum keluarnya SK Gubernur DKI tersebut, pada tahun-tahun sebelumnya, PDS HB Jassin sempat memperoleh Rp 500 juta tiap tahun. Kemudian, dana itu terpotong menjadi Rp 300 juta. Tahun lalu, pengelola gudangnya ilmu para seniman, sastrawan, dan peneliti dalam dan luar negeri ini sudah ngos-ngosan menerima dana yang disunat menjadi Rp 164 juta. Dan, kini PDS tak bisa berkutik sama sekali…anggaran PDS dipotong menjadi Rp 50 juta

SK (Surat Keputusan) Gubernur DKI Jakarta No. SK IV 215 tertanggal 16 Februari 2011, yang ditandatangani langsung oleh Fauzi Bowo menyatakan jelas-jelas bahwa PDS HB Jassin hanya memperoleh anggaran Rp 50 juta setahun. Dengan anggaran sekecil itu jelas sekali tak akan mencukupi untuk membayar pegawai dan perawatan secara memadai.

Sejak Paus Sastra Indonesia, HB. Jassin mengumpulkan semua dokumentasi sastra secara teliti pada 1932, sampai saat ini terdapat sekitar 18.000-an buku fiksi, 12.000-an buku non-fiksi, 507 buku referensi, 812 buku naskah drama, 875 biografi pengarang, 16.774 kliping, 517 makalah, skripsi dan disertasi sebanyak 630 judul,  732 kaset rekaman suara, 15 video kaset rekaman, juga 740 foto pengarang. Data ini masih berubah dari hari ke hari dan semakin besar jumlah jenis koleksinya.

Kelengkapan koleksi sastra langka yang dimiliki PDS HB. Jassin bahkan dianggap setara dengan kelengkapan perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

PDS HB. Jassin

Salah satu ruang koleksi di PDS. HB. Jassin

Untuk menyelamatkan PDS HB. Jassin sejumlah pecinta sastra membangun sebuah gerakan moral untuk membantu meringankan beban pengelola menjaga semua koleksi berharga tersebut. Gerakan ini bernama #KoinSastra.

Sangat diharapkan bantuan kawan-kawan pecinta sastra dan pecinta literasi untuk bisa membantu. Besar atau kecil bantuan donasi kawan-kawan sangatlah penting untuk menjaga kelangsungan PDS HB. Jassin.

Keterangan lebih lanjut untuk membentuk kantong donasi #KoinSastra dapat menghubungi Tim Penggagas Gerakan, saudara Khrisna Pabichara di nomor [0813.9895.8598] atau langsung ke nomor rekening: 131-00-0971505-5 Bank Mandiri, a.n. Zeventina Octaviani.

AYO, SELAMATKAN PDS HB. JASSIN. SELAMATKAN LITERASI BERHARGA MILIK INDONESIA



Mencari Puisi yang Hilang dari “Buton, Ibu dan Sekantong Luka” Karya Irianto Ibrahim

Catatan Sederhana Kawan Baik

Oleh Adhy Rical

1

Apa yang akan kuceritakan lebih dulu padamu, penyair? Tentang angka lahir yang nyaris sama barangkali? Atau kisah colo-colo di sebuah pulau kecil yang berulang kali memanggil petani ubi dalam celah karang: Lakudo.

Kisah masih terbayang, seperti ikan seperahu yang kita bakar sore itu.Lalu sebuah buku datang dari tanganmu di Kedai Arus. Malam itu, sepuluh tahun terasa lebih dekat. Aku yakin, buku itulah yang pertama kau berikan pada seseorang di Kendari: padaku.

Sangat membahagiakan bukan? Apalagi kau memintaku membicarakan buku itu.Nah, melalui catatan sederhana ini, aku akan menulis dari hati saja. Menulis sebelum puisi-puisi dalam bukumu lahir. Ketika kita masih satu meja di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unhalu. Bukankah yang lain telah banyak menulis tentangmu sewaktu bedah buku di tiga kota: Yogakarta, Tasikmalaya, dan Jakarta?

Aku akan memelukmu sambil membisikkan sebuah tabloid Podium Pers Mahasiswa Unhalu tentang “Darah Itu Merah Jenderal”. Di sinilah puisi dalam bukumu bermula meskipun aku lebih memilih, bukumu lebih dominan tentang ibu. Bukankah puisi pembuka “Bunda, Kirimkan Nanda Doa-doa” adalah puisi pertama meskipun tak tercantum sebagai halaman pembuka puisi? Lalu lihatlah tahun-tahun setelahnya, ibu begitu bertenaga di sana. “Kelak Kau akan Mengerti” meskipun rumah dan kenangan sama-sama telah usang, tapi aku masih ingat “Sajak Botol” tahun 1996. Kukira, ini puisi yang luput setelah Nanga-Nanga malam itu, kita bermain api di bawah terpal.

2

Ada 53 puisi dalam antologi “Buton, Ibu dan Sekantong Luka”. Ditulis dalam rentang tahun 2000-2010 (meralat pernyataan Sarabunis Mubarok sebelumnya,2007-2010). Kurun sebelas tahun itu, terdapat satu puisi yang terbit pada tahun 2000 (Bunda, Kirimkan Nanda Doa-doa) dan 2001 (Pantai Katembe). Puisi terbanyak ditulis tahun 2007 (22 puisi) lalu menyusul tiga tahun berikutnya.

Bicara tentang Anto, sebenarnya kita tidak saja diajak membaca sejarah Butuni 1969 tetapi bagaimana mencintai ibu dan seseorang yang kelak menjadi ibu untuk anak-anakmu (Suatu Ketika di Kamar Kontrakan). Tentu saja pembacaan lain dari konteks puisi yang telah ia paparkan sebelumnya akan lebih terang (Sebuah Cerita dari Dua Gelas Kopi, Peminang Sepi, Pada Sebuah Pesta, Sungai Sajak, Hawa Semedi, Perahu Kanak-kanak). Keenam puisi tersebut disuguhkan kepada kawan-kawan yang mencintainya. Anto begitu paham, pada siapa puisi itu ditujukan sebelum ia benar-benar menulisnya. Kelak kau akan mengerti, begitulah.

Ada satu hal yang tak bisa lepas dari kepenyairan Anto selain potret sosial yang dekat dari dirinya dan sangat kuat dalam buku antologi puisi ini, yakni romantisme kebebasan. Anto tetap satu arah memotret keseharian: ada doa ibu yang tak pernah lepas. Ibulah yang membuat sosok penyair ini begitu kuat dalam metafor maupun proses penulisan lainnya.

3

Irianto Ibrahim telah berhasil membukukan karya puisinya. Kita patut bangga sebab ini yang pertama sebuah buku antologi puisi terbit di Kendari. Realitas sosial begitu bertenaga. Kita bisa membaca sejarah berdarah tahun 1969 itu melalui buku kecil ini. Dan, Anto memang tak main-main, sejarah itu memang kelam tapi laras memang tak perlu datang untuk sekadar mencatat buku kecil Saleh Hanan, “Buton, Basis PKI” dengan buku puisi. Maka, buku ini memang wajib dibaca.

Mungkin buku berikut akan kita temukan puisi Anto yang hilang itu. Bukankah tahun 2002-2006 tak satu pun puisinya hadir di sini?

[]

Kendari, 2010 

Buku: “Buton, Ibu dan Sekantong Luka”, Irianto Ibrahim, Frame Publishing, Yogyakarta, 2010.


%d blogger menyukai ini: