Konser Kebahagiaan

Oleh : Ade Anita

Ada banyak sekali hadiah yang aku terima di sepanjang hidupku. Tapi ada satu hadiah yang amat istimewa untukku.

Bukan. Itu bukan berasal dari sesuatu yang mahal.

Jangan juga berpikir bahwa itu sesuatu yang langka. Bahkan, itu juga bukan berupa sesuatu yang sudah lama aku impikan untuk bisa aku dapatkan. Hadiah itu adalah sebuah teh kotak biasa dan sebatang coklat murahan yang aku terima beberapa tahun yang lalu tepat di hari ulang tahunku. Anak sulungku yang memberikannya. Kala itu dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Teh kotak dan sebatang coklat. Lalu seraut wajah malu-malu dari pemberinya.

“Ibu, selamat ulang tahun ya. Sorry ya, Cuma bisa ngasi ini.”

Lalu anak laki-lakiku itu berjalan cepat-cepat menjauhiku, menutupi sikap canggungnya sementara aku sibuk menahan rasa haru setelah menerima pemberiannya. Uang sakunya tidak banyak kala itu. Tentu dia berusaha menyisihkan sedikit uang sakunya, mengenyahkan rasa hausnya di bawah terik matahari sepulang sekolah, berjuang mengusir keinginan untuk jajannya agar bisa membeli hadiah-hadiah tersebut. Itu sebabnya hadiah yang dia berikan itu terasa begitu istimewa bagiku.

“Bam, terima kasih ya untuk hadiahnya.”

“Ah, Cuma segitu aja kok. Ngapain terima kasih.” Tapi tetap saja rasa haru terus menderas.

Lalu kemarin, tanggal 30 Juni 2011, anak lelakiku yang kini sudah beranjak dewasa kembali memberiku sebuah hadiah.

“Gimana, bam? Sudah keluar pengumumannya?”

Wajah yang dahulu mungil dan kini sudah mulai dibayangi kumis tipis yang terpapas pisau cukur itu tersenyum.

“Iya, aku diterima di Fasilkom UI.”

“Alhamdulillah.”

Hanya sebaris kalimat itu yang keluar dari mulutku dengan tenang. Padahal jika saja isi kepalaku transparant, kalian akan melihat aku sedang menari-nari mencoba untuk terbang dan menggapai semua bintang yang bertaburan di langit luas. Kalian akan melihat aku sedang berputar-putar menebarkan aneka warna dan bentuk bunga-bunga ke seluruh penjuru di sekitarku.

Aku ingin memulas seluruh permukaan di sekitarku dengan warna-warna ceria. Aku ingin membangunkan semua burung-burung agar mereka semua berkicau dan bernyanyi bersamaku. Aku amat bahagia. Bahagia tiada tara.

Hingga ketika malam sudah larut dan semua orang sudah bersiap untuk tidur, aku pun menyempatkan diri menyelinap masuk ke kamar anak lelakiku itu. Ah. Dahulu sekali bahkan dia pernah tidak berani tidur sendirian di kamarnya dan sekarang, dia sudah menjadi raja di kamarnya sendiri. Dahulu sekali, dia pernah aku timang-timang dengan rasa gemas dan sayang yang selalu menyeruak di dalam dada dan kini dia tampak sudah duduk di muka notebooknya dan asyik bercengkerama dengan teman-teman tweeter dan facebooknya. Aku langsung berbaring di tempat tidur yang ada di sebelah meja tulisnya dan menatap wajahnya dengan rasa sayang yang ternyata masih tetap menyeruak dan penuh di dalam dadaku.

“Kenapa sih bu?”

Mata anak lelakiku ini melirikku di sela-sela keasyikannya mendengarkan headphone yang entah membunyikan apa di telinganya. Matanya masih asyik menatap layar monitor di hadapannya.

“Bam.”

Cuek dia melirik aku dan menaikkan alisnya sebagai isyarat pengganti kalimat, “Ada apa?”. Aku hanya tersenyum dan mengelus kepalanya. Rambutnya tebal dan sedikit kasar. Dahulu, aku pernah khawatir melihat kepalanya yang sedikit penyok karena tindakan dokter memvakum dirinya yang akan lahir tapi serangan asmaku kambuh di saat dia sudah berada di jalan lahir. Dahulu, aku pernah sibuk mengolesi kepala ini dengan kemiri yang dibakar dan ditumbuk halus lalu dioleskan perlahan secara rata agar rambutnya yang amat sangat tipis bisa tumbuh dengan tebal seperti yang disarankan oleh banyak orang.

“Bam.”

Aku kembali memanggilnya dan kali ini anak lelakiku melepas earphone di telinganya.

“Kenapa bu?”

“Terima kasih ya.”

“Untuk apa?”

“Karena sudah berhasil lulus SNMPTN dan dapat UI.”

Anak lelakiku tersenyum tipis dan kembali mengenakan earphone di telinganya.

“Ah, ibu. Dikirain apaan. Begitu saja pakai terima kasih.”

Aku melepas sebelah earphone-nya.

“Ibu terima kasih bukan karena kamu dapat UI. Ibu terima kasih karena kamu sudah berusaha maksimal. Ibu terima kasih karena kamu sudah berusaha untuk mendapatkan yang terbaik. Yang lainnya bonus, jadi ibu satuin saja jadi paket terima kasih yang sama.”

Anak lelakiku itu lalu merebut kembali sebelah earphone-nya yang ada di tanganku dan memakainya lagi di telinganya sambil tersenyum.

“Iya, sama-sama.”

Aih. Lalu rasa yang selalu menetap di dalam dadaku kembali terasa berderap.

TRAM. TRAM. TRAM.

Ternyata, rasa sayang dan rasa menyeruak di dalam dadaku yang muncul ketika melihat anak lelakiku ini hadir pertama kali enam belas tahun yang lalu, belum pernah berubah sedikitpun. Aku mencoba untuk bersikap biasa saja pada semua orang. Seakan tidak ada yang istimewa yang terjadi dalam hari-hariku. Tapi, andai saja kalian bisa melihat isi hatiku. Ada sebuah konser yang sedang diputar disana. Konser itu bernama konser kebahagiaan.

Allahumma, terima kasih untuk semua karunia dan hadiah yang Engkau berikan padaku sejak dahulu hingga kini dan yang akan datang.

Allahumma, jagalah diriku dan diri keluargaku agar tidak pernah terlena lalu lupa hanya karena semua nikmat yang Engkau berikan. Ammiin. []

 Catatan penulis: kenang-kenangan ketika selesai pengumuman SNMPTN 30 JUni 2011. Untuk Ibam: jika suatu hari tidak sampai umur ibu melihat keberhasilanmu selanjutnya di masa yang akan datang, tetap terus berusaha maksimal ya nak untuk mendapatkan yang terbaik dan jangan lupa untuk tetap tawakkal pada Allah. Ibu sayang ibam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: