Kesempatan untuk Menjadi yang Terbaik

Oleh : Ade Anita

 

Bayi besar nan cantik di hadapanku tampak tertidur lelap. Pipinya ranum, matanya mungil, bibirnya berwarna pink kemerahan. Dia tampak begitu kuat dan  tak terkalahkan. Beratnya kini sudah mencapai 8 (enam) Kilogram meski usianya baru dua bulan. Belum bisa tengkurap, masih senang tidur lama-lama. Jika saja orang yang tidak mengenalnya melihat bayi ini tertidur, pasti mereka menyangka usianya sudah lima bulan. Aku mengelus pipi tembem yang ranum itu perlahan.

Bayi cantik bertubuh besar ini adalah anak keduaku. Dia lahir dengan bobot besar, 4780 gram dengan tinggi 58 cm. Itu sebabnya meski usianya saat itu baru berusia 2 (dua) bulan, tapi penampilannya sudah seperti bayi berusia lima atau enam bulan. Baju-bajunya sudah banyak yang tidak muat. Ah. Sebenarnya, terlalu cepat baju-baju yang kami persiapkan untuknya tidak muat lagi di tubuhnya. Membeli pakaian baru terus menerus tentu sudah tidak mungkin lagi meski rasa ingin membelikan dan memberikan yang terbaik senantiasa menggebu-gebu di dalam hati. Keperluan sehari-hari kami masih banyak, terlebih hidup di daerah rantau sebagai keluarga mahasiswa beasiswa, di Sydney Australia. Akhirnya, kemarin aku ambil kain gendongan yang aku bawa dari Indonesia untuk aku potong-potong dan dijahit menjadi pakaian bagi bayi cantik kami ini.

“Bayi kita terlalu besar untuk digendong dengan kain ini. Dialih fungsikan saja ya, jadi pakaian. Lihat, warna dan pola kainnya manis-manis sekali.”

Lalu bayi cantik besar itu pun mengenakan pakaian yang berasal dari kain gendongan batik. Warna merahnya menambah kecantikan dan kelucuannya. Dia selalu tersenyum dan tidak pernah menuntut banyak. Dalam hati, aku senantiasa berdoa agar Arna, nama putri kami ini, bisa tumbuh menjadi seorang muslimah yang senantiasa ikhlas dan menjadi sosok sholehah yang terbaik.

Beberapa tahun yang lalu, sebuah luka sempat menghampiri anakku ini. Yaitu ketika dirinya tidak terpilih untuk menjadi salah satu anggota sebuah kegiatan hanya karena dia mengenakan jilbab. Tapi keceriaan dan keikhlasan tidak pernah luntur dari hatinya. Bahkan aku belajar bagaimana penerapan sebuah ikhlas itu dari dirinya. Yaitu ketika posisi istimewa dia di sisi ayahnya, diberikan kepadanya adik bungsunya.

“Ayah, Hawna mau di sebelah ayah. Hawna! Sini dik, nih, tidur di sebelah ayah saja, enak. Hangat.”

Padahal biasanya dialah yang selalu menempati posisi di sebelah ayahnya. Ayah yang amat dia sayangi. Ayah yang selalu membuatnya sakit demam jika tidak bertemu lebih dari dua hari. Demam karena menahan rindu. Dirinya dan ayahnya memang sulit untuk terpisahkan. Rasa sayangnya pada ayahnya sudah sedemikian besar. Tapi ketika dilihatnya adik bungsunya murung karena tidak dapat tempat, dia dengan ikhlas memberikan tempat istimewanya pada adik bungsunya.

Ya. Rasa sayang itu memang sesuatu yang misterius. Karena rasa sayang, seseorang bisa menjadi sedemikian egois. Tapi karena rasa sayang pula seseorang bisa melakukan sesuatu yang tidak masuk akal dan logika, yaitu melepas kesenangan kesenangan pribadinya. Padahal dulu, Arna tidak pernah bisa tidur jika tidak berada di sisi ayahnya. Jadi, menjadi sesuatu yang mentakjubkan ketika aku melihatnya memberikan tempat istimewanya kepada orang lain dengan amat ikhlas. Subhanallah, aku belajar banyak darinya.

“Arna, sepertinya posisimu di SMP 41 rawan deh.”

“Hah? Yaaa….”

Seraut wajah kecewa aku temui ketika kami asyik menatap hasil seleksi masuk SMP Negeri Reguler Jakarta di  tanggal 27 Juni 2011 lalu. Berdua kami menatap perubahan cepat yang terjadi di layar monitor notebook.

Di sekolahnya, Arna berhasil menduduki nilai tertinggi. Tapi, ternyata ada banyak anak di Jakarta yang juga mendapat nilai yang lebih tinggi dari dirinya. Itu sebabnya perubahan posisi peringkat seorang anak di seleksi masuk SMP Negeri Reguler menjadi amat cepat. Persaingan amat tajam. Mereka yang memiliki nilai tinggi, menendang keluar mereka yang memiliki nilai terendah. Memaksa mereka yang tersingkir untuk mau menerima pilihan alternative selain dari pilihan utama mereka. Atau malah memaksa mereka yang memiliki modal nilai pas-pasan untuk tidak mendapat tempat dimanapun. Aku berdebar. Khawatir Arnaku akan tersingkir, lalu kecewa.

“Ibuuuuuuuuu…. Aku sudah keluar dari SMP 41!”

Sebuah suara terkejut terdengar berteriak lantang. Membawaku berlari meninggalkan pekerjaan rumah tanggaku. Di layar monitor, nama anakku sudah hilang dari daftar SMP utama yang ingin dia pilih. Namanya kini terpampang di alternative pilihan kedua, SMP 73. Lalu dalam sekejap, proses turun peringkat terus terjadi. Debaran di jantungku kian bertalu-talu. Satu persatu, teman sekolah Arna pun menyingkir dari daftar.

“Na, kalau ternyata nggak dapat juga, nggak apa-apa ya?”

Ragu aku bertanya padanya. Tapi meleset dari perkiraanku yang menduga akan mendapatkan raut wajah kecewa, aku mendapatkan sebuah senyum yang ikhlas dari wajah putriku.

“Iya, nggak apa-apa. Nanti kita pilih saja lagi yang lain. Kan masih ada kesempatan kedua?”

Aku tersenyum. Untuk kesekian kalinya gadis kecil ini mengajariku bagaimana menerapkan sikap ikhlas dan tawakkal dalam kehidupan ini.

Beberapa pekan yang lalu, aku mengajari dua putri cara meronce manik-manik untuk menjadi perhiasan. Awalnya mereka kesulitan tapi akhirnya mereka gembira melakukannya. Bahkan aku dibuatkan oleh mereka sebuah bros yang cantik.

“Wah, hebat deh. Jadi orang itu memang harus memiliki banyak keterampilan nak. Karena kita nggak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan. Tapi apapun yang terjadi, kalau kalian sudah punya keterampilan, kalian akan siap dengan apapun kemungkinannya. Kesempatan untuk menjadi yang terbaik itu bukan cuma tersedia di satu tempat saja.”

Akhirnya, hari-hari yang penuh dengan debaran jantung itu pun berakhir. Tanggal 1 Juli 2011, sudah keluar pengumuman resmi bahwa anakku diterima di SMP 73. Dan pagi ini, sebuah kecupan aku daratkan di pipi yang tidak lagi tembem dan ranum. Sebuah rasa haru tumbuh dengan cepat di dalam dadaku.

“Arna, terima kasih ya untuk usaha belajarnya selama ini.”

Putriku hanya tersenyum tipis. Padahal rasa sayangku membeludak sedemikian tebal di dalam dadaku untuknya. Selalu. []

Catatan penulis: kenang-kenangan seleksi penerimaan siswa di SMPN Reguler Jakarta, 1 Juli 2011. Buat Arna: Terima kasih ya sayang, untuk semua usaha maksimalnya hingga bisa mendapatkan yang terbaik. Ibu sayang Arna.

 

Oh ya, aku mengikut sertakan kisah proses kelahiran Arna yang memiliki bobot besar, mulai dari awal kontraksi hingga proses kelahirannya, dalam buku kumpulan kisah para bunda yang melahirkan anak-anak mereka. Sudah bisa diperoleh di semua toko buku dengan judul: Berjuanglah, Bunda Tidak Sendiri terbitan Elex Media Komputindo, seharga Rp 44.800.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: