Sehari Bersama Anak-Anak Penderita Autis

Oleh Very Barus

 

(wujud mereka sulit berinteraksi)

 

PAGI tadi (18/11), gue dan teman mendatangi sebuah sekolah  atau bisa juga disebut sebagai Pusat Rehabilitas Medis Terapi kelainan perkembangan anak. Lokasinya di  Bandung. Tujuan utama  kami datang ke sekolah tersebut karena ada proyek foto untuk Company profile dan juga untuk buat situs tentang anak-anak penderita Autis.

Kalo boleh jujur, baru kali pertama ini gue bertemu dan bertatap muka dengan puluhan anak-anak penderita Autis. Ada rasa prihatin, haru, lucu, riang. Yang jelas saat berada ditengah-tengah mereka, perasaan gue menjadi campur aduk.

Selama ini gue hanya mendengar kisah sahabat gue  (Mbak R) yang memiliki cucu penderita autis tingkat ADHD ato Attantion Deficit Hyperactivty Disorders. Mendengar kisah mbak R yang begitu setia dan sayang terhadap cucunya membuat gue bisa merasakan how deep her love to B. bahkan mbak R sering mengeluh juga tentang minimnya jasa pengajar untuk anak-anak penderita Autis.

Pagi tadi….

Gue mendapat tugas memotret anak-anak autis tersebut saat mereka sedang melakukan aktivitas. Mulai bermain, belajar, bernyanyi, makan hingga Therapi. Kalo boleh jujur, gue bener-bener speechless berhadapan dengan mereka. Ternyata susaaaahhhhhhh….. banget!!! Karena mereka tidak bisa atau susah banget berinteraksi dengan orang lain. Mau kita teriak menyuruh mereka mengikuti apa yang kita suruh  juga nggak bakalan di gubris. Kecuali guru-guru tim pengajar yang memerintahkan baru deh mereka sedikit menurut. Karena mereka punya kode-kode tersendiri.

Sejujurnya gue sangat suka sama anak kecil. Tapi melihat anak-anak Autis kok gue jadi sedih banget. Mereka hanya bisa memainkan jari-jari tangan mereka. Menangis, memberontak (berteraik-teriak) dan kalau pun ada yang sudah mahir bernyanyi, maka mereka akan bernyanyi. Dan satu lagi, diantara mereka ada juga yang sangat hiper aktif. Ada yang jago melukis juga. Dan lukisan mereka cukup mencengangkan mat ague. CUKUP BAGUS!

 

SALUT SAMA GURU



(salah satu pengajar yang sangat sabar dan telaten)


Dibalik semua rasa yang ada dibenak ini, gue sangat mengacungin JEMPOL sama tim pengajar. Gimana tidak? Mereka sangat sabar mendidik, mengajarkan dan merawat anak-anak autis tadi dari pagi hingga sore menjemput. Tidak ada keluhan yang terlontar dari bibir mereka. Yang ada wajah-wajah tulus dan sabar merawat dan mengajarkan mereka tentang apa saja agar mereka bisa tumbuh menjadi anak autis yang lebih baik lagi.

“Kalo memikirkan materi, kita sudah lama tidak mengajar disini mas. Ini semua semata-mata karena ketulusan hati kami untuk menjaga dan mendidik mereka. Kalo soal gaji, sangat kecil yang kita dapat,” ucap salah seorang tim pengajar yang sudah mengabdi selama enam tahun di sekolah tersebut.

Ada beberapa kelas yang dipakai untuk mengajar anak-anak penderita Autis.(Perkembangan, Advance, Speed Yunior, Speed) dan ada juga ruangan khusus untuk therapy dan olahraga (memanjat, melompat dan juga naik tangga). Masing-masing kelas punya guru yang khusus menangani mereka. Lagi-lagi gue hanya terpaku melihat kesabaran guru-guru tersebut mendidik mereka.

 

ANAK-ANAK BORJU



(Hasil karya mereka…)


Kalo dilihat latar belakang anak-anak autis tersebut, banyak diantara mereka yang terlahir dari orangtua yang berpendidikan, terkenal dan juga orang kaya. Bahkan beberapa dari anak-anak autis tersebut memiliki orangtua yang sangat terkenal. Mulai dari rector, doctor, dokter spesialis, artis, designer dan pejabat. Mungkin kalo disebutkan namanya, kita pasti bilang,” ooo, itu toh bapaknya…!!”

Tapi sayang, setelah dikorek-korek keterangan dari tim pengajar, banyak dari orangtua anak-anak autis tadi tidak ingin indentitas mereka diketahui. Jadi cukup hanya guru-gurunya saja yang tau siapa orangtua anak-anak autis tadi. Orang lain tidak perlu tau…

“Mungkin mereka malu punya anak penderita autis mas,” ucap seorang tim pengajar.

Ya, bisa jadi itu benar bagi mereka. Karena jika publik tau mereka memiliki anak autis, mereka malu dan takut jadi bahan olok-olokan. Tapi alangkah piciknya orangtua seperti itu…. Tidak mengakui anaknya yang menderita autis. Biar bagaimana pun anak-anak autis juga butuh perhatian, kasih sayang dan juga pengakuan dari orangtuanya..bukan hanya dititipkan ke sekolah atau pusat rehabilitasi…dan urusan perawatan hanya dilimpahkan ke tim pengajar anak-anak autis…

Damn..!!!!

Tega banget bukan..???

Bahkan yang paling menyedihkan, ada penderita autis yang usianya sudah mencapai 43 tahun. Dan tingkah lakunya juga sangat ke kanak-kanakan…dan dia adalah anak seorang rektor di salah satu universitas terkemuka di kota Bandung.

 

(pendekatan gue terhadap mereka…)


Hingga sore menjelang, gue masih bertahan di sekolah tersebut. Masih bermain2 dengan anak-anak autis yang lambat laun mulai mengenal wajahku dan juga mulai berani mendekat untuk diajak bermain…

Hmm… alangkah bahagianya jika kita juga peduli sama mereka… karena jangan hanya tim guru-guru pengajar saja yang dilimpahkan tanggung jawab untuk mendidik mereka… kita-kita juga HARUS memiliki hati nurani untuk merawat mereka…..

Banyak hikmah yang gue petik dari pertemuan dengan anak-anak penderita autis. Dan satu hal… DIMATA TUHAN KITA ADALAH SAMA….tidak ada pengecualian…

 

 

[]

Iklan

3 responses to “Sehari Bersama Anak-Anak Penderita Autis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: