Tag Archives: zikir

[Puisi] Persembahan Cinta

Oleh Sang Majhul

Cosmic Sufi (foto: flickr)

Rindu mengantar padanganku di sore ini.
Saat jejak-jejak waktu terurai bersama gerimis putih.
Syairku terkubur pada sebuah ungkapan, lalu mati berkafan bingkai zaman.
Pilu bertasbih, duka berdzikir.
Kalbu berpetuah, untuk sebuah persembahan cinta kala kembang purnama merekah indah.
Haramkah…rasa ini di hati ini, yang begitu lebat mengguyur hati.
Menumbuhkan cinta dan kerinduan pada sang Rabbul ‘Izzati.
Haramkah…rasaku, jika merindukan surga-NYA bersamamu.
Cintaku berada diantara lantunan rindu yang tak bermata. Sepi mengguyur, sesal menerpa. Nalarku meronta, akalku luruh tersentuh air mata kemudian basah. Bumi dan langit terisak menahan duka kemudian pecah berantakan memaknai sebongkah persembahan cinta.

Iklan

Allah “Maha Kangen”

Oleh Hera Hizboel

 

 

SUATU hari, saat melintas di jalan tol Jagorawi dari arah Jakarta menuju Bogor, saya membaca papan lalu lintas di sisi kiri jalan yang berisi informasi kecelakaan di jalan tol tersebut yang terjadi selama setahun terakhir. Jumlah korban tewas maupun luka-luka jumlahnya cukup fantastis. Angka itu jauh lebih besar dibandingkan angka kecelekaaan yang terjadi di jalan raya Bogor menuju Puncak. Hal itu membuat hati saya sibuk mengira-ngira penyebab hal itu. Selanjutnya, saya pun bercakap-cakap dengan diri sendiri, kenapa di jalan tol yang secara fisik lebih mulus, tidak berliku, dan lebih mudah dilalui justru lebih sering terjadi kecelakaan. Jangan-jangan penyebabnya justru tak hanya keterampilan mengemudi belaka. Jangan-jangan penyebabnya juga tak sekedar menyangkut fisik infrastruktur jalan raya saja. Barangkali ada hal-hal yang lebih bersifat kepribadian dan kejiwaan seorang pengemudi. Demikian saya sibuk menduga-duga.

 

Dalam hidup ini, orang yang senantiasa berkecukupan dan jauh dari segala kesulitan hampir dapat disamakan dengan seseorang yang berkendara dan mengemudi mobil di jalan tol. Jalan yang demikian lurus, mulus, dan bebas hambatan, cenderung melenakan. Berbeda misalnya dengan kalau kita mengemudi di jalan raya menuju Puncak Pass. Jalannya begitu berkelok-kelok, penuh tanjakan dan turunan, bahkan di salah satu sisi jalan terdapat jurang yang cukup dalam. Pada situasi sulit seperti itu justru membuat orang menjadi lebih waspada dan sangat hati-hati.

 

Demikian pula sikap manusia pada umumnya dalam menjalani kehidupan ini. Hidup yang berkecukupan, baik dari segi materi maupun kasih sayang, malah membuat manusia terbuai. Kesibukan menikmati segala kelebihan tersebut akan membuat manusia lupa pada Allah – Sang Pemberi Hidup. Padahal, Allah lah yang telah melimpahkan semua nikmat dan karunia tersebut. Kesibukan menikmati kekayaan, perhatian, dan cinta kasih berlimpah dari sekeliling, apakah dari keluarga, teman, sahabat, pacar, suami atau istri, membuat Allah tersisih dan tak lagi dikangeni.

 

Saya setuju dengan istilah budayawan Emha Ainun Nadjid yang mengatakan bahwa Allah itu pencemburu. Dia tak mau diduakan dan dibanding-bandingkan dengan apa pun. Bahkan, menurut saya, Allah itu juga “Maha Kangen.” Dia terus saja “menarik-narik” perhatian dan ingatan kita agar senantiasa tertuju kepada-Nya. Kita tak boleh mencintai apa pun di dunia ini melebihi cinta kita kepada-Nya. Kita tak boleh kangen pada apa pun di muka bumi ini melampaui kangen kita pada-Nya. Kita boleh cinta dan boleh kangen pada apa pun, asal orientasinya adalah minallah-ilallah-billah-lillah. Dari Allah-untuk Allah-dengan Allah-milik Allah.

 

Seorang teman yang dikhianati kekasihnya, menangis berhari-hari. Ada pula teman lain yang sedih berkepanjangan karena suami yang dicintainya pergi menghadap Allah. Dan di sebuah rumah mewah seorang laki-laki terkapar tak berdaya karena gagal terpilih kembali menjadi gubernur. Mereka sedih dan terluka oleh perasaan kehilangan yang amat sangat. Dalam kesedihan yang memuncak itulah mereka ingat Allah dan merintih menyebut-nyebut asma-Nya. Allah yang selama bertahun-tahun hanya sesekali muncul dalam lintasan pikiran. Allah yang tak pernah sempat diingat karena sibuk dengan berbagai kesenangan.

 

Karena Allah “Maha Kangen,” maka Ia selalu punya cara untuk membuat kita kangen pada-Nya. Dia juga selalu punya cara untuk membuat kita (lagi-lagi) jatuh cinta pada-Nya. Di antaranya adalah dengan cara seperti kasus di atas. Keterpisahan secara fisik maupun hati antara kita dengan orang yang kita kasihi, dan keterpisahan antara kita dengan pangkat dan jabatan yang pernah kita genggam, akan membuat kita merasa sangat nelangsa. Karena secara naluriah setiap orang memiliki sense of spiritualism, maka dalam situasi sangat sedih seperti itu sudah pasti akan “lari” dan mengadu pada Allah.

 

Saya teringat pada kisah masa lalu, saat menjalani hubungan percintaan yang sangat romantis dengan seseorang. Kisah cinta yang terjalin selama tiga belas tahun hancur berkeping-keping, dan saya sangat patah hati. Dalam puncak kesedihan, saya pun bersimpuh dengan air mata berderai-derai seraya memanjatkan doa yang saya kutip dari Munajat Cinta Rabbi’ah Al-Adawiyah:

 

“Tuhanku

Tenggelamkan diriku dalam samudera

Keikhlasan mencintai-Mu

Sehingga tak ada sesuatu yang menyibukkanku

Kecuali berzikir kepada-Mu.”

 

Sejak itu saya patah arang. Saya tak lagi bisa jatuh cinta secara romantis dan berbunga-bunga. Pada akhirnya, memang hanya cinta Allah yang tak berubah oleh ruang dan waktu. Hanya Allah yang kesetiaannya tak terhingga. Dan, hanya Allah yang punya kangen bergunung-gunung dan cinta tak berujung.

 

[]

 

hera-20/10/2010


Jejak Sajak Satu ( Sembilan Sajak )

Oleh Syaiful Alim

Sajak Kesatu: Lelaki dengan Lika Liku Luka

Aku lelaki dengan lika liku luka.

Aku suka jika air mataku kauseka.

Tubuhku penuh jejak peluh

sungai yang mengeluh.

Kemarau meranjau hijau

burung-burung urung berkicau.

Maukah kau jadi Kekasih

basuh basah resah, sisihkan rusuh perih?

Darah lutut netes tanpa kain pembalut

angin hilang arah, angan terbuang di surut laut.

Ingin tangan raih putih Cahaya

tapi aku cuma sahaya.

Masihkah ada dada

bisa terima trauma

yang berputar bagai reroda?

Jujur, nasibku kurang mujur.

Pernah berlayar, mencintai pantai

tapi perahu dengkleh oleh leleh badai

kesal sesal ngucur dari sekujur usia

yang sia-sia menangisi sisa air mata.

Oh! Aku lelaki dengan lika liku luka

betapa hidup sulit diterka!

Sajak Kedua: Matamu Mendung, Air Mata tak Kuasa Kubendung

Matamu mendung

air mata tak kuasa kubendung.

Entah tangan angin lelah

atau bebuah awan mentah

hingga bebutir air urung jatuh

ditadah gundah, gigih tagih jatah

bermusim-musim kemarau latah

melukai rahim mawar dan janin-janin sajak

yang mukim di makam jejak.

Kunamai matamu mendung

air mata tak kuasa kubendung.

“Ayolah menangis. Menangisi air mataku

yang sebentar lagi beku, sebenar rindu padamu.”

Pepohonan kaku, menahan kelu.

Kemarau dibakukan di buku-buku

kabarkan petani yang sunyi

meratapi pipi kian keriput dan tanaman padi

yang tak pernah luput dari rerumput

hama yang lama jadi piyama

senang dan kenyang sebatas umpama.

Oh! Hidup sehangat peluk mama

dingin takluk disengat kutuk nama: Mata!

Sajak Ketiga: Surga tak Terduga

“Eva, mungkin ini Surga sebenarnya

pohon khuldi tumbuh di mana-mana?”

“Adam, ini Bumi?

atau hmm, aku belum mengerti”

“Hmm, sebentar, apakah masuk akal

cuma karena memakan Khuldi

kita diungsikan ke Bumi?”

“Seharusnya kita sangsi”

“Hmm,Tuhan itu otoriter

daripada darah tercecer

lebih baik bumi kita isi dengan puisi.”

“Hmm, bertani, bernyanyi

berpuisi, dan melukis sunyi.”

Sajak Keempat: Ular Liar dalam Dada

“Adam, ada ular liar dalam dada

berbisik, hai Eva, kenapa kau

masih di sisi Adam, cari cara curi

rusuk kanannya. Lalu ajukan surat cuti

lari dari diri menari bersama matahari”

“Eva, juga pada dadaku. Seolah ditusuki paku

berbisik, hai Adam, kenapa tak kau

ambil lagi rusuk kirimu. Supaya kau

kian lelaki.”

Semua bermula dari bisik

lalu luka karma serupa sisik

laku ular menebar kobar berisik.

Ah! Alangkah asyik!

Ah! Alangkah cabik!

Sajak Kelima: Benda dan Beda

Lalu Tuhan berfirman tengah malam:

Kuajarkan kepadamu, Adam, nama-nama benda

manusia suka dendam karena beda.

Iya. Begitulah manusia senantiasa sia-sia

saling duga paling tafsir tanpa pikir ragam makna.

Tak.Tak ingin kautergelincir retak

belajarlah pada sajak, setiap jejak

lahir sejuta berita derita dan cerita cinta.

Sajak!

Sajak Keenam: Kupahat Namamu di Paha Liat Laut

Jangan kauduga cintaku surga berjelaga.

Adalah lega menerima jelaga juga telaga

ada kalah dan menang yang lelah

sayap seolah sebelah, ah!

Aku berjaga di batas getas dan cadas

bertahan dalam laju dan kandas

tersebab cinta menderas

dan rindu tajam menebas.

Karena namamu berurat denyut

maka kupahat namamu di paha liat laut.

Cinta sekuat maut, tak satu pun luput

jemari rindu merebut serabut laut

menghindar dari surut

memudar kalut.

Kemarau gontai bantai pantai

habis badai

habis ombak

jejak tak terlacak

oh! Hidup redup dalam degup tangis

jemari melantai

mengemis gerimis.

Tidak! Demi namamu

aku ikhlas melepas segala

mengemas bianglala.

Tidak! Demi namamu berurat denyut

aku berjibaku dengan pasang dan surut.

: Namamu!

Sajak Ketujuh: Surau Suram

Surau suram

walau cahaya lampu

kilau bikin silau

mampu menggalaukan

ikan-ikan di danau.

Jamaah memamah zikir

tapi kikir pikir.

Ulama berlama-lama seteru

dengan tanda seru dan saru.

Oh! Haru!

Inikah deru juru Bisik

bikin segala penjuru berisik?

Oh! Mata bagai cadik

bidik pelangi di sore yang wangi!

aku saksikan surau suram

hakikat kemarau diikat temaram.

Sajak Kedelapan: Mencintai Rasa Sakit, Menggapai Asa dengan Rakit

Sakit karena rindu adalah niscaya

sedikit jumpa adalah cahaya.

Sejak kau jadi sajak

aku tak hendak beranjak dari kenduri duri

dan mawar penawar hambar hari-hari.

Kita tahu, cinta adalah nama lain dari air mata

maka aku mencintai rasa sakit

menggapai asa dengan rakit

yang terbuat dari seikat bambu kata.

Bisa sebab biasa

kutulis tangis senantiasa

bukan mengemis gerimis

pada pagi yang magis dan amis

darah menjarah segala arah

burung terbang luka parah

paruh tak utuh

peluh luruh

keluh jatuh

di nada nadi tak utuh.

Duh! Adalah mata air kuseduh.

Duh! Adakah pohon teduh.

Duh! Ada yang kuunduh.

Aku mencintai rasa sakit

seperti aku mencintaimu

sebab di balik kesakitan-kesakitan

tumbuh subuh dan embun berkilau bagai intan.

Sajak Kesembilan: Sembahyang Tanpa Asin Sembah, Yasin Mewabah Bagai Air Bah

Aku datang kepadamu, Sayang

membawa sekantung air mata

dan kata yang sulit ditata

jadi puisi. Bayang-bayang

gelita meronta.

Aku sepi, mimpi api.

Aku kerdil, harap kandil.

Aku sahaya, pinta cahaya.

Aduhai! wajahmu yang dihijab seribu tabir

kubuka dengan takbir hingga bibir terkilir.

Aduhai! tubuhmu yang diutuhkan subuh dan pasir

kulabuhkan sentuh yang ngalir.

Lihatlah luka subuh yang tak kunjung sembuh

kambuh rubuhkan tubuh bersimbah

sembahyang tanpa asin sembah

yasin mewabah bagai air bah

mungkin nangisi negeri setengah tiang

dan para bedebah yang tertawa riang

seraya khutbah di masjid raya

serta minta doa kian jaya.

Lampu yang lampau di surau itu

tak mampu memancarkan getar sinar

cuma terdengar suara parau

atau suara muadzin meracau

bau tembakau

bikin kacau

istri dan anak risau

tungku beku tak tanak nasi

perut terisi igau

dan kicau murung burung gagak

lapar yang kaku bagai cagak.

Oh! Bagaimana aku mencintaimu

kalau kilaumu raib dalam gemerlap lampu maghrib

kota-kota ajaib berjibaku dengan aib.

Oh! Ilalang tumbuh di kening

angin lalu lalang goyangkan hening

dedaun beringin pada kemuning

Oh butuh utuh embun bening!

Basah subuh belum kubasuh

sembahyang tanpa asin sembah

yasin mewabah bagai air bah

ah!

Khartoum, Sudan, 2010.

[][][]

TELAH BEREDAR NOVEL ‘KIDUNG CINTA POHON KURMA’ DI TOKO BUKU. BISA PESAN-BELI VIA INBOX SAYA. HARGA CUMA Rp. 60.000. SUDAH TERMASUK ONGKOS KIRIM.

“Tanggal 19 Agustus lalu aku bertemu Joko Pinurbo dan Acep Zamzam Noor. Kami berbincang tentang novel Syaiful Alim, KIDUNG CINTA POHON KURMA. Menurut Jokpin, novel itu ditulis oleh orang yang cerdas. Isinya mengurai tentang pentingnya toleransi, sehingga perlu dibaca tidak hanya oleh orang Islam tapi juga para pemeluk agama lain. Menurut Acep, novel itu sangat bagus untuk mengimbangi kelemahan yang terdapat pada “Ayat-Ayat Cinta”.

( Sitok Srengenge, Penyair )


Percintaan Absurd

Oleh Hera Naimahh

ada benderang membawa kabar

yang harus kubaca dengan sabar

hingga segenap kata dan titik koma di sana

tak salah baca

tak salah makna

air mata pun menetes di hari ke sembilan puluh lima perjalanan kisah kasih kita

malam itu

hatiku membiru

hatiku cemburu

air mata itu

atas nama sedih

atas nama pedih

atas nama cinta

atas nama asmara kita

aku terus berpikir. aku terus berzikir. aku pun menyerah pada takdir dan kubiarkan segenap doa terus mengalir

kekasih purnamaku

akan kubaca sekali lagi

masih perlukah aku di sini

masih mampukah aku berdiri

melanjutkan kisah ini

atau, kusudahi saja percintaan rumit ini

hidup memang senantiasa menyimpan kebahagiaan dan kesedihan  tak terduga

***

hera

23 Agustus 2010

[]


Kembang Sedap Malam

Oleh Hera Hizboel

kembang darimu adalah nyanyian merdu yang menina boboku

kembang darimu adalah matahari yang membangunkan lelap tidurku

kembang darimu adalah puisi yang menggenapi rinduku

kembang darimu adalah musim semi yang membangkitkan segenap hasratku

kembang darimu adalah nyanyian merdu yang mengiringi tarian ku

kembang darimu adalah riak gelombang harapan dan cintaku

kembang darimu mengusik angin dan cuaca negeri sunyiku

kembang darimu adalah langit biru luas terbentang

menatap kembang –kembang itu diam-diam tumbuh perasaan di hatiku. antara keberanian dan ketidakberdayaan. Antara kebimbangan dan keyakinan. antara harapan dan ketidakpastian. antara kesanggupan dan rasa cemas

kembang itu…. mewangi di dasar hatiku

kembang itu…. menjadi kembang bagi jiwaku

kembang itu…. menjelma bintang dan rembulan yang menerangi sajadahku

kembang itu…. menggenapi lantunan zikir-tasbih-dan tahmidku

kembang itu.… menggelegak, menggemuruh, dan melebur di luas semesta-Mu

[]

5 Ramadhan 1431 H

hera



%d blogger menyukai ini: