Tag Archives: tulisan

[Kajian] Membaca Tarian Jiwa Julia Napitupulu

(Sebuah telaah sederhana tentang kehadiran seorang Julia Napitupulu dalam Buku : JEJAK-JEJAK CINTA TUJUH PEREMPUAN)

 

Oleh Kusnadi Arraihan *)

Tulisan, apapun bentuknya adalah sebuah cermin gerak dinamis dari jiwa penulisnya.  Tulisan adalah wahana yang paling jujur, tentang kedirian seseorang. Banyak hal yang tersimpan dalam gerak tulisan itu. Kehidupan ini bagi seorang penulis adalah bukan hanya ketika dia berbicara soal bakat, tetapi juga merupakan alat seperti katub pengaman untuk melepaskan sebahagian dari beban kehidupan. Itu sebab mengapa menulis tak sepenuhnya hanya mengandalkan panca indera, tetapi juga melewati proses perenungan, aktualisasi imajinasi dan ini tugas dari dinamika kejiwaan penulisnya.

Inilah cermin kesan yang paling terlihat, ketika saya pertama sekali mengenal seorang perempuan pemilik nama Julia Napitupulu, saya hanya mengenalnya dari ruang Facebook, yang notebene diperlukan sebuah kemampuan daya jelajah analisa kita terhadap apa yang ditulis oleh seseorang, karena bisa jadi, tak sepenuhnya kita yang berkerabat di halaman jejaring sosial tersebut pernah saling bertemu muka. Maka pengenalan kita tentang sahabat tersebut biasanya hanya tertumpu pada tulisan yang disajikannya. Dan hal inilah yang coba saya lakukan juga terhadap seorang Julia Napitupulu.

Dalam buku “Jejak-Jejak Cinta Tujuh Perempuan” yang diterbitkan Penerbit Langit Kata tahun 2011, tebal 168 halaman, memuat tulisan dari tujuh penulis dalam bentuk cerita pendek dan puisi.

Ketujuh penulis tersebut, yaitu : Tina K – Ami Wahyu – Ami Verita – Lely Aprilia – Ayudya Prameswari – Tita Tjindarbumi – Julia Napitupulu. Penyunting oleh Ami Wahyu, foto sampul Thony Tjokro, pewajah sampul dan pewajah isi disajikan oleh Donoem.

Dalam kaitan ini, saya mengkhususkan untuk sedikit menyajikan hasil “penglihatan” saya pada tulisan Julia Napitupulu. Penulis dengan latar belakang pendidikan ilmu psikologi ini memiliki multi talenta, karena di sela-sela menulis, Julia Napitupulu adalah seorang trainer bidang soft competence, seorang pembawa acara, bahkan juga piawai memainkan alat musik piano sekaligus menekuni bakatnya sebagai penyanyi. Benar-benar sebuah jiwa yang tak pernah berhenti menari.

Dalam buku ini, Julia Napitupulu ada menyajikan tiga tulisan, yang sekejap seusai membacanya, ada yang terus bergerak dalam benak, jejak kesan yang ditinggalkan tulisan dari hasil imajinasi penulis ini tak hanya mencari ruang, tetapi juga terus mengelana dalam pikiran. Mengapa demikian? Karena seorang Julia (demikian ia biasa disapa para sahabatnya – atau juga dengan nama Jula, sebuah sapaan penuh historis dari masa kecilnya) menulis dengan sepenuh jiwa yang bergerak, karena hati nurani penulis ini mampu menitipkan “ruh” pada setiap kalimat yang dituliskannya. Dapat kita rasakan nuansa yang demikian jernih ketika membaca salah satu sajiannya pada buku ini, yang ia beri judul “Melodi yang Tercipta Begitu Saja”. 

Dari judulnya saja, sungguh Julia telah berani keluar dari patron penulisan judul karya sastra yang pada umumnya menjauhi makna harfiah, lebih kental dengan penggunaan perumpamaan. Dalam tulisannya ini, Julia menggambarkan betapa sesuatu yang disebutnya dengan “melodi” itu bukan disiapkannya lebih dahulu baru kemudian melodi itu melahirkan banyak senandung. Tetapi justru, dengan kebersahajaan rasa dan jiwanya, Julia mencoba untuk menikmati jalinan kehidupan yang tersambung sebagai tali temali ini, dengan kadar kualitas dan cara-cara yang hebat, sehingga justru kisah kehidupan yang mungkin hal wajar bagi kehidupan orang lain, justru menjadi rahim yang melahirkan banyak melodi bagi kehidupan seorang Julia. Hidup telah dengan baik di-improvisasi olehnya.

Struktur tulisan yang lahir dari seorang Julia Napitupulu sebenarnya tak sepenuhnya kental dengan sastra, hal ini wajar, karena mungkin pengalaman dan latar belakang pendidikannya telah memasukkan unsur psikologi dalam setiap ia menuliskan sesuatu. Tetapi yang terasakan saat menikmati tulisan-tulisannya justru kita berada dalam ruang keindahan yang runut dan seperti memenuhi semua keelokan sastra. Mari kita perhatikan lirik dari tulisannya ini, saya petikkan :

di siang yang bagai hening malam

aku dan lekakiku terbaring dalam pesona

terlontar dari bintang-bintang yang meledakkan kami

dalam warna-warna pelangi

 

wajahnya,

raut lelaki yang tuntas

merekam sensasi

yang masih menjalari pori-pori

aku mengeja damai

diteratur hembus nafasnya

 

Diksi yang disajikannya sederhana, tapi proses pengendapan makna dalam benak setelah memahami dua bait lirik di atas, justru menjadi tidak sederhana. Larik “di siang yang bagai hening malam” adalah sebuah kontradiksi yang indah, Julia lihai sekali memilih bait ini. Pada bait kedua kita perhatikan: “wajahnya, raut lelaki yang tuntas”. O, duhai indahnya. Sebagai lelaki tulen, saya bahkan belum bisa mencerna dengan baik, makna hebat di balik larik itu.

Menikmati secara keseluruhan “Melodi yang Tercipta Begitu Saja” terasa kita memasuki sebuah ruang yang luas, dan di setiap sudut ruang itu ada keindahan yang bersahaja. Pada bagian tengah ruang itu, ada penataan bunga-bunga yang penuh warna. Ruang itu adalah kehidupan itu sendiri. Julia sangat suka menggunakan metafora alam untuk mempersonifikasikan tentang realitas hidup. Dan dalam tulisan ini Julia dengan sangat piawai menggambarkan sosok lelaki, sulit bagi pembaca untuk menyembunyikan kekaguman untuk cara-cara dia menuangkan ke dalam bentuk bahasa.

Kita lihat saja caranya menuangkan sketsa imajinasi tentang lelaki itu. Lelaki yang memiliki wajah sebagai raut yang tuntas, tulang rahang yang kukuh like a wave to the sea, tulang lehernya a bird to the sky, tulang belikatnya sekuat kayu, seliat tanah. Dan banyak hal lain yang digambarkan Julia dengan sangat anggun. Seluruh yang dimiliki lelaki itu pada akhirnya melahirkan sebuah melodi. Sungguh sebuah tulisan yang menjadikan nafas selalu harum, seperti sebuah telaga bening yang eksotis.

Pada tulisan kedua yang disumbangkan Julia dalam buku tersebut diberi judul “Sekarang Aku Tahu untuk Apa Aku Bernyanyi. Sebuah judul yang biasa saja. Tapi sungguh berbeda dengan isinya. Tulisan ini juga terkesan skema prolog, digambarkan seperti dialog, dan dengan menggunakan bahasa yang menghanyutkan rasa.

Kekuatan tulisan-tulisan Julia yang saya kenal memang bercorak seperti itu. Ini yang saya katakana di awal tadi sebagai pengaruh ilmu psikologi yang digelutinya. Artinya, semua puisi dan tulisan Julia selalu menghentak di kedalaman rasa yang terdalam. Sehingga sulit bagi pembaca untuk mengabaikan sebarispun dari larik-larik yang ditulisnya.

Pada tulisan ketiga yang disajikan dalam buku ini, Julia menggunakan bahasa Inggris yang indah, untuk menuliskan keindahan puisinya tersebut. Judulnya pun cukup menggugah “You’re My Every Phrase”. Ah!

Tulisan ini juga tetap menggambarkan tentang dua anak manusia, juga masih menggunakan alam sebagai bagian dari perumpamaan yang hendak diungkap. Dalam suatu pembicaraan, Julia pernah mengatakan kepada saya bahwa memang dia suka menggunakan unsur alam sebagai bagian dari tulisannya, karena hakikatnya alam itu adalah kehidupan itu sendiri. Dengan demikian, dalam perspektif Julia, alam itu adalah realitas hidup untuk mewakili banyak rasa, banyak keadaan, dan itu telah dilakukannya dengan menggunakan idiom-idiom yang memukau.

Secara keseluruhan, dengan tidak mengabaikan kehebatan tulisan dari enam penulis lainnya,  ketiga tulisan Julia yang dalam buku ini diletakkan pada bagian penutup, tetapi justru di sini kelihaian penyuntingnya untuk menjadikan ketiga tulisan Julia ini bukan sebagai “grendel”, tetapi justru menjadi “perekat” imaji pembaca terhadap buku ini. Karena ketika kita menyelesaikan keseluruhan isi buku ini, maka ketiga tulisan Julia ini menjadi bagian penting dari “penahan kesan menarik” terhadap keseluruhan isi buku.

Sebuah tulisan memiliki banyak tanggung jawab untuk mewakili suatu keadaan di tengah khalayak, tulisan tentang cinta, tentang anak-anak, tentang remaja, dan tentang orang tua, bahkan tentang keseluruhan hidup manusia, adalah warna yang membuat kita faham tatanan masyarakat berserta pola pikir yang bergerak membentuk peradaban. Dan seorang Julia Napitupulu tengah berusaha menggeluti semua kemampuan bakat yang dititipkan Tuhan kepadanya. Dalam setiap tulisannya, perempuan Batak ini benar-benar memproses sebuah tulisan seperti menjaga sebuah proses kelahiran seorang anak, sedemikian rupa dia menjaga seluruh kualitas, dan ini juga yang membuat dirinya, dalam segi kuantitas tulisan agak tertinggal dibandingkan dengan bakat menulisnya yang sebenarnya sangat baik itu. Ini masalah sikap dan komitmen, dan seorang Julia menjaganya menurut perspektif yang dimilikinya.

Ada rasa kagum yang terselip, di tengah gelombang aktivitasnya yang demikian padat, belum lagi urusan perannya sebagai seorang istri dan ibu dari dua orang anak, seorang Julia Napitupulu masih sempat menulis. Bisa jadi mungkin bukanlah tulisan yang fenomenal, tapi di ruang rasa jiwa saya, tulisan Julia selalu memberikan nuansa keanggunan yang memukau.  Karena membaca tulisannya seperti menyaksikan jiwanya menari-nari, mengisi semua ruang sambil terus bergerak dinamis, dengan ritme dan tempo yang indah. Julia Napitupulu adalah sebuah jiwa yang terus menari. ***

16 Mei 2011

*) Kusnadi Arraihan – Penikmat Sastra. Menetap di Medan.

The Dancing Soul (illustrasi oleh Ardi Nugroho, Surabaya)

Kusnadi Arraihan, bernama pena ‘Koez’ lahir pada 19 September kini tinggal di kota Medan, Sumut. Buah penanya dapat pula dilihat pada: http://hamparanbirutanpabatas.blogspot.com, http://kusnadiarraihan.wordpress.com

Iklan

[Kajian] Gaya Deiktik yang Kuat dalam Tulisan Julia Napitupulu

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

 

 

Suatu waktu, Julia Napitupulu, mentautkan enam tulisannya ke wall account Facebook milik saya. Jelas sekali maksudnya…agar saya membacanya. Tulisan-tulisan Julia saya salin, sehingga mudah bagi saya membacanya satu per satu. Keenam tulisan Julia itu adalah:

1) Dendam Kepada Penjual Coklat (kumpulan puisi pendek, 2010); 2) Hanya Sekali dan Tak Pernah; 3) Lahir Sebagai Pecinta; 4) Merekam Kedamaian; 5) Satu Hari Ku Hidup Untukmu; 6) Surat Panjang untuk Suami Tercinta, Demi Anak Perempuan Kita.

Gaya bahasa populer memenuhi pembacaanku. Tapi tidak selalu. Pada satu-dua tulisan Julia kental menggunakan metafor, tetapi di satu-dua tulisan lainnya metafor-nya sangat tipis. Dan, yang menarik dari tulisannya sehingga enak dan renyah di baca adalah gayanya berkisah.

Karena semua tulisan ini bagus-bagus, maka saya hanya akan sharing dari model penceritaan Julia saja.

Ada tiga tulisan yang mengandung mutual yang intens antara karakternya: Hanya Sekali dan Tak Pernah, Surat Panjang untuk Suami Tercinta, Demi Anak Perempuan Kita, dan Satu Hari Ku Hidup Untukmu. Judul terakhir ini sengaja saya pisahkan, sebab ‘unik’ dan akan saya bahas terakhir.

Di luar kisah berjudul ‘Satu Hari Ku Hidup Untukmu’, saya nyaris subjetif ketika membaca kedua tulisan lainnya. Entah. Barangkali saya terbawa melankoli sehingga nyaris mengubur sisi objektifitas saya. Tetapi…sungguh, kedua penceritaan ini menghanyutkan, renyah, mengalir, tak padat metafor, begitu mudah difahami.

Ada perbedaan ketika kita menceritakan pengalaman pribadi, dan fiksi. Pengalaman empirik seringkali memuluskan sebuah tulisan sehingga alurnya mengalir. Empirisme dalam bentuk tulisan memang membuat kita (pembaca) serasa menjadi bagian dari diri si penulis dalam pembacaan.

Pada dua tulisan ini saya pun menemukan direct core yang unik dan sukar dilakukan pada kebanyakan penulis:

“Suamiku, suatu saat kamu akan berterimakasih aku pernah tempelkan surat ini di kulkas kita (p.s.: ga usah pula kamu tanya kenapa aku nempelnya di kulkas, ya).”

[pembuka pada tulisan Surat Panjang untuk Suami Tercinta, Demi Anak Perempuan Kita]

Atau,

“Katakan…Berapa kali dalam sehari aku melintas di pikiranmu.”

“Hanya sekali…karena sesungguhnya kamu tak pernah keluar lagi…”

[paragraf kedua, Hanya Sekali dan Tak Pernah]

 

Direct core macam ini sebenarnya biasa saja, hanya jarang sekali ada penulis yang bisa meletakkannya begitu saja di permulaan tulisan. Kebanyakan mereka harus mengantarnya dulu, sebelum membuat kalimat macam itu. Tapi Julia lancar sekali melakukannya. Ini bagus dan layak dipertahankan sebagai penciri.

Sebenarnya saya sangat penasaran pada kisah Satu Hari Ku Hidup Untukmu. Pada kisah ini, Julia sedikit unik, dengan menempatkan objek penceritaannya dalam anti-laksem “bolak-balik”, aku bermaksud sebagai dia, dan dia bermaksud sebagai aku. Julia menghindar dari lexical definition.

Penghindaran unik ini biasa disebut deiktik, dan sudah dimulai Julia sejak dari judul kisahnya, Satu Hari Ku Hidup Untukmu. Dalam kisah ini, penulis, menceritakan kesan-kesannya pada sang kekasih yang terkena stroke akut, sehingga melemahkan beberapa fungsi motorik primer tubuhnya. Dan untuk bisa membahagiakan karaktek ‘Aku’ yang diwakili si penulis, karakter ‘Dia’ hendak memenuhi hari “terakhirnya” dengan segala keindahan suasana. Tetapi, dalam pembacaan, kita digiring oleh penulis untuk merasakan itu dari sisi ‘Aku’, dan bukan dari sisi ‘Dia’.

Membaca kisah Julia ini, saya teringat pada Yale Bloomfield, seorang linguistik Amerika. Bloomfield berhasil meneruskan pendapat Sapir yang semula hanya berkutat pada linguis tradisional penduduk Amerika. Metode pemutahiran Bloomfield inilah yang membuat saya teringat ketika membaca cara berkisah Julia.

Entahlah, apakah sebelumnya Julia sudah menyadarinya atau belum, agaknya Julia telah melakukannya. Pada re-struktur karakter yang terantar lewat definisi, ciri pembeda, dan dasar penentuan opisisi fonologi.

Tanpa disengaja (atau memang disengaja), Julia menyentuh antimentalis Bloomfield dalam gaya penceritaannya, sehingga mengantarkan konsepsi komunikasi Julia pada pembacanya sebagai stimulus pencerita yang hendak memunculkan reaksi berbeda pada pembaca.

Pada Bloomfield, yang penting dalam bahasa adalah fungsinya, sebagai penghubung stimulus penutur (atau pencerita) dengan reaksi mitra tutur (atau pembaca). Definisi ‘Aku’ tidak memperturutkan bunyi dan maksud sebagai ‘Aku’ dan demikian pula dengan definisi ‘Dia’. Julia memperlakukan penyebaran definisi dan sifat akustik menjadi sesuatu yang penting.

Mari kembali ke Julia lagi.

Kisah ini sendiri adalah kisah yang terangkat dalam penceritaan dari memori masa lampau penulis. Dalam notes penulis, tertera; bahwa kisah ini dituliskan kembali setelah delapan tahun ‘mengendap’. Artinya, memori yang melekat pada dinding benak penulis, sedemikian kuatnya, sehingga penulis begitu lancar mengkisahkannya kembali.

Maka, simaklah.

 

Satu Hari Ku Hidup Untukmu

Oleh Julia Napitupulu (30 Juni 2010)

 

Setelah 5 hari ‘mati suri’, belum pernah tekadku begitu kuat untuk hidup dengan sikap seolah-olah besok aku mati…jadi, hari ini sangat berharga.

Kupegang lengannya lembut: “Mau makan apa..?”

“Terserah…yang kau suka…” jawabmu termangu.

“Ya jangan dong…kan aku yang mau traktir…pengen apa?” desakku (duh, besok aku tak hidup lagi…katakan, mau makan apa?? Apa pun…aku siap..maksudku, perutku siap, dompet lumayan siap..)

“Yah..ga usah yang mahal-mahal lah, kasian duitmu abis nanti…”

Aduh, aku terharu banget…Rasanya ada magma yang siap meledak dari pusat jantungku. Melebur dengan mata air yang sudah menggantung sejak tadi di pelupuk mataku. Kok masih sempet-sempetnya kau mikirin aku…kan aku udah kerja, udah bisa lah kalau traktir-traktir makan aja.

Sebenarnya acara makan-makan ini juga sesuatu yang ‘ditularkan’ dari mu. Kuingat dirimu dulu…selalu menutup hari yang ‘berat’ dengan makanan terbaik, meski tidak harus dari restoran terbaik. Kau memperlakukan acara makan bersama layaknya seorang Ibu yang menjamu putranya yang kembali dari medan perang. Sehabis berselisih, makan bersama. Kelar kerja bakti seharian, makan bersama. Sehabis bertangis-tangisan, makan bersama. Untuk mu makan bersama, seperti berpelukan di momentum terpenting, di mana setiap orang akan mengenang masing-masing seperti saat mereka sedang berpelukan damai.

“Dulu kan suka gado-gado? Atau gudeg? Inget gudeg yang di Benhil…manis kan? Aku juga ga suka…kalau yang ini kayak yang di pramuka…gurih, asin, selera kita banget deh…” desakku penuh harap, sambil kucari gairah berpelisir makanan itu di matanya.

Tapi entah kapan sudah menguap rupanya excitement itu. Matanya bertemu dengan mataku…mengerti bahwa aku ingin membahagiakannya, seolah-olah besok aku beneran bakal mati. Tuturku dalam hati, ”aku menyesal, saat kau masih doyan banget makan di luar, aku jarang traktir makan…malah suka kelayapan.”

Kau mampu ‘membaca’ tutur hatiku, hanya lewat tatapan sesal mataku. Lalu senyummu hadir, dikembangkan semata-mata untuk membesarkan hatiku…“Saya pengen (pizza) aja…” Tuturmu dengan lafal yang udah agak kacau karena darah keparat itu membuat ‘sumbatan’ kecil lagi untuk yang kesekian kalinya di otakmu.

Aku tak mampu menangkap kata ‘pizza’ yang kau sebutkan, karena pengucapanmu yang sudah tak jelas. Setengah mati aku berpikir keras, agar tak perlu menyinggung harga dirimu. Mataku jelalatan memelototi deretan restoran yang kau maksud. Apa sih katanya…bihaaa??? Bisaa…??

“Ooooo PIZZAAAAA ya…?” kejarku nyaris teriak. Ujung matamu yang turun seperti ujung mataku yang turun mengedip gembira. Kegembiraan yang sedikit direkayasa, yang ku tahu hanya untuk membesarkan hatiku. Tapi aku ga peduli, karena aku sudah ambil sikap seolah-olah ini hari terakhirku. Jangankan Pizza, Menara Pisa sekali pun kalau perlu kuboyong ke hadapanmu sekarang.

Lalu kita menaiki tangga itu, dan betapa bangganya aku…tubuhmu yang memang tak terbilang tinggi namun selalu terasa menjulang itu, sudah agak membungkuk, bahkan kakimu mengkerut. Tapi otot-otot dilenganmu selalu berdenyut gagah. Tanganmu bersih tapi besar jari-jarinya, layaknya tangan lelaki. Selalu membuatku aman.

Interupsi datang dari empat orang pria yang dengan gaya melecehkan seolah-olah aku ini bukan manusia, terang-terangan melirik kakiku yang telanjang penuh gairah. Yang satu wajahnya ganteng banget, satu kayak kurang umur, dua lagi ancur jijay(ihh…masi inget lhoh gw!!☺). Menangkap basah ‘teman sejati’nya dilecehkan, rahangmu yang maskulin langsung mengeras…dan balas menatap mereka dengan garang. “APAA LIAT-LiAT?”

Whuih…power seorang marinir sejati. Sesaat, tiba-tiba dampak stroke-mu seperti tak punya kuasa. Adduhhhhhh, dalam hatiku, sudahlah, mubazir sekali kalau tekanan darahmu sampai bergolak lagi hanya karena empat mahkluk ga penting yang nepsong karena ngeliat betis perempuan. Tapi meskipun peristiwa heorik ini sudah ga ke-itung berkali-kali kualami, mau ga mau dadaku tetap tergetar juga…

Wouwww…moment of truth…I’m saved again by my Hero.

Tiba-tiba…tubuhmu seperti tegak dan menaungi tubuhku yang jauh lebih sehat. Pemuda-pemuda malang itu pun mengkerut, kayak cacing tanah disiram air mendidih. Tadinya aku mau berkata padamu, “sudahlah…ga perlu ribut karena hal-hal sepele…ga worth it”, tapi berhubung besok aku mati, aku memutuskan untuk mengakuimu sebagai pahlawanku, the only one hero.

“Makasi ya…keparat-keparat pengecut itu mengkeret semua cuman karena digituin aja…” Kau cuma menanggapi dengan mengangkat dagumu dengan anggun bak bangsawan…dadaku sesak, dan membatin—aduhh, siapa lagi yang bakal membelaku nanti..??

 

In my childhood, I cant think of any other need as strong as the need for your protection…

 

Lalu kita pun duduk, muka bertemu muka, masing-masing tahu, bukan acara makan bersama ini yang menjadi agenda utama. Aku memberanikan diri mengangkat wajahku dan menatap langsung ke matanya…sedetik, dua detik. Fenomena ‘flashback’ itu terjadi lagi. Kita memang seperti cermin ya…

Semua orang bilang begitu. Masing-masing kita pun meyakini begitu, dari dulu. Bedanya, dulu dua cermin ini kerap saling menyilaukan dan memantulkan sinar mematikan ke sesamanya. Sekarang tidak, kini dua cermin ini bekerja dengan seharusnya. Menjawab sebelum yang satunya bertanya, menangis sebelum yang satunya mengadu. Mengangguk paham sebelum yang satunya berujar.

Gemetar tanganmu mengambil kertas dan pulpen. Keringatmu menetes untuk memerintahkan jemari-jemarimu agar patuh kepada instruksi dari otak. (dasar stroke keparat!!! kalau kamu manusia, sudah habis kau kuinjak-injak!!)

Tulisanmu untukku sungguh-sungguh menjadi pondasi untuk ku melanjutkan perjalanan hidupku selanjutnya…dan entah mengapa, detik itu aku tahu, bahwa secarik kertas itu adalah pemberianmu yang terakhir. Mungkin ini yang namanya bisikan jiwa. “Sayangku…saya tidak tahu apa yang mau kita bicarakan…(isakku dalam hati saat membaca kalimat pertamamu…bahkan kau pun tahu ya, kita ke sini emang bukan mau makan).

Lalu mataku menelusuri tulisan indah yang kentara ditulis oleh tangan yang gemetar. Tangan maskulin tercinta yang sudah ga nyambung antara mata dan tangan, kubaca hampir tanpa bernapas; but I do love you…You sphere the air of our home…like a sun in my heart, shining all the time…be shining wherever U are…i love you so much, my Sunshine…”dan bait-bait berikutnya mengabur karena tetes di pelupukku.

Sempurna…

Bila benar ku mati besok, kematianku akan sempurna. Karena di hari terakhirku, aku mendengar pernyataan yang paling jujur dari jiwa…betapa indah maknaku bagimu.

Jadi aku mataharimu ya? Karena itukah kau betah berjam-jam bicara denganku, meski hari sudah gelap? Karena itukah kau betah berdansa bernyanyi lama-lama denganku, meski pesta sudah lama usai? Karena bersama ‘matahari’, hari selalu saja terasa seperti baru dimulai.

Tak tahan dengan keterharuan yang sangat, setengah melompat aku membenamkan kepalaku di dadamu yang aman, dan merasakan tanganmu membelai rambutku, tapi kali itu bukan Kau Pa, yang bicara seperti biasa. Mungkin bibirmu terlalu letih, aku tersedu meratap…“aku sayang Papa…cinta sekali…sayaaannngggg sekaliii. Trima kasih sudah memaknaiku sebagai Mataharimu. Aku tak kan mati suri lagi…doakan ku untuk menemukan Matahariku…dan juga memanggilnya SunShine ku ya Pa…”

Kurekam semua detil di hari itu, Pa. Setiap tarikan nafas, setiap tatapan mata, setiap sentuhan, setiap kata, yang terucap…dan yang tak sanggup terucap. Kurekam dan kuabadikan di jiwa…seperti Papa mengabadikan aku di jiwa mu…

Satu hari…dimana ku sungguh benar-benar hidup, hanya untukmu…

 

Jakarta, Sabtu, 25 juni 2010, 02.20 wib

Penuh bangga, haru & cinta, mengenang Dia, 8 tahun yang silam..

 

Saran professional yang dapat saya berikan pada penulis adalah; sebaiknya kisah ini diangkat ke bentuk novel romantic-love story, sehingga akan terasa benar gagasan dan ide dasarnya, yang memang kuat itu.

Julia berhasil menciptakan keseluruhan gagasannya dalam lansekap yang terbatas, sehingga memuat kemungkinan kisah bisa dilebarkan dengan menggali lebih dalam memori penulis. ***

 


Menemukan Tulisan-tulisan Rendra Tahun 1960-an

Oleh : Dwi Klik Santosa

PADA suatu kesempatan, Bela Studio, sanggar tempat kami berkegiatan, punya hajat besar. Yaitu riset mencari bahan dan data apa saja berbau Rendra dan Bengkel Teater Rendra untuk keperluan penyusunan sebuah buku dan pusat data website. Riset di Jogja, jauh hari setelah mendengar kabar ini, tak dapat saya sembunyikan rasa senang. Antusias dan ingin segera saya lakukan.

Tidak ada alasan menolak jadwal tersebut, sekalipun diberikan target yang cukup berat dalam tenggang waktu yang sangat singkat. Menyapu semua data; foto dan tulisan tentang Rendra dari kemunculannya sejak remaja, tahun 1950-an, hingga sekarang. Tajuk kegiatan yang menyenangkan dan menantang.

Sebagaimana riset-riset yang telah saya lakukan beberapa tahun lalu, dari perpus ke perpus, pusat dokumentasi ke pusat dokumentasi, senantiasa terjadi ketegangan yang luar biasa. Mungkin ketegangan lebih disebabkan karena perasaan yang ‘tertekan’, sebab dalam waktu 2 minggu itu, saya diandalkan untuk mendapatkan bahan-bahan yang cukup signifikan, menambah isi buku yang kurang.

Hari pertama dan kedua, nihil data. Sejumlah tempat saya jajagi dan datangi. Kegiatan mencari foto-foto; proses dan pementasan Rendra saya utamakan. 3 tempat, yakni redaksi Kedaulatan Rakyat, yang berita budayanya diasuh oleh harian khusus Minggu Ini, redaksi Basis, majalah kebudayaan, dan redaksi Bernas saya hubungi. Melalui telepon, saya hubungi pemred-pemred. Agak mengecewakan, karena nyaris dijawab sama; bahwa pusat dokumentasi mereka, tidak cukup baik untuk menyimpan sejumlah foto-foto yang ada. Seperti yang diakui sendiri oleh Pak Hadjid Hamsyah, pemred Minggu Ini, foto-foto momen dari periode dekade tahun 1990-an saja sudah sulit ditemukan, apalagi foto-foto periode di bawahnya.

Begitupun hal yang sama dikatakan oleh Pak B. Rahmanto, redaktur senior Majalah Basis, juga mengatakan hal yang sama. Dan kurang lebih, kabar dari Bernas pun yang pindah-pindah alamat kantor, juga mendapatkan jawaban serupa.

Begitupun 3 tempat lainnya, yakni Perpustakaan Hatta di Jalan Solo, Perpustakaan UGM di Bulak Sumur, dan Pusat Kliping di Shoping Center. Nyaris tidak saya dapatkan data yang menghibur. Hanya dari Perpustakaan Hatta, masih saya dapatkan 3 tulisan Rendra yang berasal dari copy-an bendel Majalah Prisma, tahun 1980-an. Dari ketiga tempat, pusat data legendaris kota Jogja ini, semua koleksi data yang ada adalah yang terbaru. Mencari data dari tahun 1980-an ke bawah, sudah tidak ditemukan lagi di rak-rak dan lemari penyimpanannya.

Baru pada hari ketiga dan keempat, agak sedikit lega. Dua hari mendatangi Perpustakaan Daerah di Jalan Malioboro, setelah membuka-buka bendelan koran dan majalah kuno, beberapa data penting, mulai saya dapatkan. Mengobati kekecewaan karena sebuah prediksi; nampaknya tidak akan berhasil saya memenuhi target mendapatkan foto-foto, antusias saya telusuri semua data (koran dan majalah) yang tersimpan di perpustakaan kuno itu. Tulisan-tulisan tentang karya tulis, resensi pementasan puisi dan teater Rendra dari era 1950 – 1990, satu per satu saya dapatkan. Meski pun, didera jengkel dan marah yang tertahan, karena mendapatkan dilema yang mengenaskan. Banyak tulisan dari koran dan majalah yang rusak serta hilang, karena disilet dan digunting dengan paksa dan kasar. Sangat yakin saya, jika lembar-lembar yang tersilet tersebut adalah data-data yang saya cari. Sebab sebelum berangkat, dari Bela Studio, saya cukup seksama dibekali panduan, berupa list atau daftar urut-urutan jadwal pementasan Rendra dari tahun ke tahun.

”Kami tidak dapat mencegah perusakan itu, sebab kami tidak selalu dapat mengawasi pengunjung setiap waktu,” begitu kata Pak Bowo, kenalan baik yang telah puluhan tahun bertugas jadi penjaga perpustakaan di situ.
Begitupun, kemudian pada hari-hari berikutnya, dengan kerja ekstra keras, dari Perpustakaan Daerah di Jalan Malioboro, Perpustakaan di Taman Kebudayaan Yogyakarta di samping belakang Pasar Bringharjo, Perpustakaan Kolsani di Jalan Abu Bakar Ali, Pusat Dokumentasi Kata Ketik di Sinduardjo, Dari Koleksi pribadi; Ibu Dina Yurida (penjaga perpustakaan UGM), dan Bang Azwar A.N., mantan senior Bengkel Teater Rendra, sekian data, baik kliping koran dan majalah, maupun foto asli, selama 2 minggu berhasil saya dapatkan dan bisa saya bawa pulang ke Jakarta dengan hati gembira.

Setelah sampai di BelaSel, kost sementara Bela Studio yang juga markas penerbit Burungmerak Press di perumahan sudut Jalan Salemba Tengah, segera saya tumpahkan apa-apa yang saya dapat dari Jogja kepada Mas Edi Haryono.

“Temuanmu kali ini lumayan,” puji Mas Edi.

Beberapa hari kemudian, setelah meneliti secara seksama, bahan dan data yang saya dapat, Mas Edi memanggil saya untuk diskusi.

“Selamat ya, kamu hebat. Tulisan-tulisan Rendra di Starweekly ini sangat memenuhi syarat untuk dibukukan. Anda siap menjadi editornya?” ujar ketua Bela Studio itu.

Jauh dari yang saya duga sebelumnya, tidak menyangka, jika kembali saya diberi amanat yang langka dan menantang ini. Menjadi editor buku tulisan-tulisan asli Rendra. Wah, betapa ini suatu ‘kesempatan yang dimanjakan’.

Lembar demi lembar yang berisi 18 tulisan itu, setelah dipilah-pilah Mas Edi, lalu saya baca kembali. Saya timbang-timbang dan diskusikan dengan Mas Edi. Saya ceritakan perasaan saya, tentang prosesi mendapatkan tulisan itu. Di depan komputer, dengan dahi yang berlipat, Mas Edi Haryono setia sekali mendengarkan cerita saya. Selalu begitu. Ketua bagi sejumlah anggota Bela Studio, yang notabene juga adalah organisator dan dokumentator Rendra ini, senantiasa hangat mendengarkan laporan-laporan saya; baik laporan yang baik maupun yang berupa keluh-kesah.

Setelah menyalin ke-18 tulisan Rendra ini, mengoreksi dan mengeditnya, ruang pikiran saya dipenuhi kunang-kunang. Dari yang semula agresif, mendadak saya jadi lebih pendiam. 18 tulisan yang mengesankan. Tidak sekedar membaca, mengoreksi dan ingin menjadikannya buku, rupanya saya telah terseret dan terbawa jauh, disebabkan terpengaruh karisma isi tulisan yang hebat ini.

Rendra Muda yang ‘Berisi’

Delapan belas tulisan Catatan-catatan Rendra Tahun 60-an. Bagi saya, merupakan tulisan padat dan sangat kuat. Tidak ‘bombastis’ dan ‘menggurui’. Sekalipun memang terkesan menuju ke arah itu. Menurut saya, tulisan-tulisan Rendra dalam kumpulan buku ini, adalah proses yang jujur dari sebuah pengamatan yang dilakukan oleh orang yang sadar akan diri, ruang dan waktu. Dimana, di dalam memberikan pernyataan dan pandangan, terlebih dahulu, pastilah ia telah mempunyai ‘isi’, baik pengalaman secara empiris, maupun data yang dicapainya dari berbagai referensi, yang berupa catatan-catatan dan teori-teori.

Fantastis! Keseluruhan tulisan ini, adalah uraian visi seorang Rendra, yang dalam usia semuda itu mampu menghadirkan, dan bahkan mengurai misi yang sedemikian ‘akurat’ dan ‘hidup’. Subtil-subtil kehidupan yang diterawang jauh melewati apa-apa yang sudah kita baca dan yakini selama ini dari teori-teori yang ada. Lebih spesifik lagi, pemahaman-pemahaman tentang seni dan kesenian yang merupakan penjabaran esensi dari sebuah kebudayaan. Yaitu, hasil budi dan daya manusia yang menempati sejengkal ruang dan lingkup kehidupannya.

Bagaimana mungkin, Rendra yang pada saat tulisan-tulisan (sebagian besar) ini dibuat dan dimuat (tahun 1959 – 1961) berumur 24 menjelang 30 tahun. Dan kategori yang baru menuju dewasa itu, betapa ia mampu dengan berani dan gamblang melontarkan statement-statement yang gawat tapi lugas. Tentulah (jika saja tidak munafik), siapa pun; cendekiawan, seniman, budayawan, birokrat, akademisi dan lainnya yang hidup di ranah intelektual akan terkaget-kaget. Apalagi pada zaman itu, adalah masa-masa orde baru, yang amat rentan bagi pikiran-pikiran kritis untuk dilontarkan.

Begitupun dengan saya. Saking kagetnya, saya jadi banyak introspeksi. Sebelum saya kenal dan mengagumi Rendra, saya adalah pengagum Bung Karno. Dari sekian buku yang saya baca, buku-buku tentang Soekarno selepas SMA sudah menjadi bacaan favorit. Dari buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid 1 dan 2 yang tebal dan merupakan kumpulan tulisan Soekarno yang pernah dimuat di berbagai media surat kabar itu, setidaknya telah membakar elan pemikiran saya tentang banyak hal. Tidak saja mengenai esensi nasionalisme, sosialisme dan freedomisme. Tapi juga termaktub di dalamnya, tentang kedudukan seni bagi sebuah bangsa. Oleh beberapa sikap Soekarno yang menjunjung tinggi nilai seni, yang ditunjukkan dengan kegemarannya mengoleksi benda-benda seni tingkat tinggi dan menggelar pembangunan sekian benda dan “tempat” kesenian di beberapa tempat, nyaris dikatakan, Soekarnolah berjasa membentuk selera kebudayaan di Indonesia. Dan tentang asumsi itu mari simak komentar Rendra :

Faktor intimitas jarak antara penonton dan panggung sangat sering dilupakan oleh orang Indonesia dalam membangun gedung-gedung teater. …. kedua balkon samping di Teater Tertutup itu sangat menghina penonton fungsinya, sebab sebagai tempat menonton ia lebih menyiksa daripada mengenakkan. Sedangkan Bali Room di Hotel Indonesia mencerminkan selera picisan dan rupanya dibangun dengan prasangka bahwa semua penonton itu mempunyai teropong. Banyak lagi, terutama di zaman pemerintahan Soekarno, dibangun oleh orang-orang gedung-gedung pertunjukan yang bombastis, ialah sesuai dengan selera rendah Soekarno dalam kesenian, yang hanya sesuai untuk rapat- rapat saja.
Penjajahan Belanda yang memperkenalkan kita pada gedung-gedung tonil dan gedung-gedung komidi. Lalu Soekarno yang sangat gampang terpengaruh oleh hal-hal yang bombastis dari kebudayaan Barat itu seperti orang Barat yang kolot berpaling pada model-model ampiteater atau kolusiumnya Nero. Meniru-niru Barat tanpa tahu persoalan yang sebenarnya, itulah ciri khas kebudayaan dari Soekarno. Lihatlah saja Patung Selamat Datang yang bersifat menjiplak itu, dan koleksi lukisan-lukisan realismenya, dan lalu seleranya akan dekorasi dan pesta, yang semuanya mencerminkan selera Barat yang bersifat rendah, bukan dari jenis yang tinggi.

Memahami dengan bening dan menelusuri logika yang ada pada pengamatan Rendra dalam tulisan ini, saya jadi teringat kata-kata almarhum YB. Mangunwijaya, “sebelum mencipta sesuatu, bangun dulu jiwamu.” Dan lalu saya teringat dengan salah satu buku beliau yang berjudul Wastucitra. Bahwa sebuah gedung atau bangunan itu didirikan, hendaknya dipikirkan secara matang berdasarkan; wastu yang berarti roh yang menopang ornamen atau bagan, dan citra yang berarti fungsi untuk membangun keindahan. Tidak ada bangunan, rumah atau gedung yang baik atau indah, jika tidak dibangun berdasarkan roh atau bagan yang baik sebagaimana menurutkan fungsinya.

Rendra muda memang bergelora. Tidak seperti kebanyakan anak muda lain, yang pada umumnya mencari kebanggaan dengan berburu prestasi, sensasi dan sebagainya, demi hanya untuk mendapatkan ‘pengakuan’ atas nama status diri. Ambisi untuk ingin selalu menjadi pemenang, juara, dan seterusnya. Dalam sepak terjangnya, sebagaimana dapat kita baca kembali dari autobiografi maupun biografi menurut berbagai versi yang ada, Rendra seakan tidak memperhitungkan itu. Jika ada data yang menyebutkan, bahwa suatu ketika, ia dinobatkan menang pada sebuah sayembara tertentu, itu bukan berarti, dia tertarik dan ambisius mengikuti kejuaraan-kejuaraan tersebut. Tapi buah pikir yang brilian dan keberaniannya yang menembus batas itulah bahan penilaian yang mutlak, yang ‘terpaksa’ harus memenangkannya. Sehingga akhirnya dia berpredikat juara dan mendapatkan penghargaan.

Rendra tidak saja jagoan dengan karya-karyanya (baik esai, cerpen, puisi, drama), tetapi dengan kematangan berlogika dan melontarkan pendapat-pendapatnya itu, ia telah menjadi pendekar kelas wahid, yang selalu ingin memenangkan setiap pertarungan. Kenapa ia jagoan? Sebab, sebagaimana kita tahu, bahwa kewajaran dan keniscayaan hidup di negeri kita ini, dari waktu ke waktu, orde ke orde, melulu seolah-olah milik mereka para birokrat, teknokrat dan ‘tuan-tuan’ yang berlagak big boss, dimana mereka-mereka itulah yang dalam perpindahan periode era di negeri kita ini, melulu pula memegang ‘decision maker’, alias yang merasa lebih berhak memutuskan segala hal.

Jika Rendra tidak jagoan, dalam hal ini, maka menurut saya, tidak akan menariklah sejarah pergerakan dinamisasi di Indonesia. Tidak menjadi seru, karena tidak muncul “Robinhood”, “William Wallace” dan “Lancelot”, –tiga “petualang, pembela rakyat sejati” legendaris kebanggaan negeri Britania– yang nyata-nyata nakal, binal, sekaligus romantis dan heroik, hadir di tengah kehidupan kita yang kaya akan dongeng ini. Maka kurang sreg rasanya, hidup sebagai manusia Indonesia, pada zaman gila globalisasi ini, jika tidak hadir sesosok teladan yang mampu membukakan aura kita, supaya terus berani menggenggam pedang, dan tidak takut mencium anyir bau darah. Agar kesadaran diri menggayuh ‘cita-cita’ akan terus sebagai matahari, kesabaran yang sebagai bumi, keberanian yang menjadi cakrawala, dan perjuangan yang menjadi pelaksanaan dari kata-kata, sebagaimana katanya. Agar kewajaran tetap dan akan terus terbela dengan baik, sebagaimana berlaku sesuai fungsi, guna dan manfaatnya.

Membandingkan visi Rendra dengan visi saya pribadi, begitupun, manusia rata-rata seumur saya, betapa hanya bisa terantuk-antuk suntuk mengelus dada, sejujurnya dan setulusnya, mengakui kekerdilan kita sebagai orang muda. Apa yang sudah saya dan Anda miliki serta lakukan, terhadap diri sendiri, sesama dan kehidupan, dalam usia-usia yang semestinya dinamis dan bergelora ini? Lalu juga simak, salah satu nukilan Rendra dalam buku kumpulan esai-nya Memberi Makna pada Hidup yang Fana, “Saya muak pada seniman-seniman muda yang tidak mempunyai tenaga, tidak mempunyai kegagahan jiwa, tidak mempunyai kelurusan pikiran dan pengendapan pengalaman”.

Yang Muda yang Berkarya, yang Muda yang Bercinta, rupanya bukan saja parodi dari sebuah judul film yang pernah dibintangi Rendra. Lebih daripada itu, konon semenjak umur 10 tahun, Rendra tidak saja sudah beranjak untuk menghabiskan bacaan-bacaan tentang Socrates, Aristoteles, Plato dan lain-lain, tapi lebih dari itu ia sudah menghebohkan lewat puisi dan cerpennya. Maka tidaklah heran, jika lantas kemudian ia menjadi bahan gunjingan yang tak habis-habis. Dan makinlah ia menjadi-jadi. Pada usia 17 tahun, mengasuh acara sastra dunia di sebuah radio, dengan gamblang menceritakan siapa itu Boris Paternak, Ranggawarsita, John Steinbeck, Albert Camus dan sebagainya. Hingga menginjak usia 20 tahun, tak urung, Rendra terpaksa harus berhadapan dengan Iwan Simatupang dan Sitor Situmorang, untuk adu debat dan uji argumentasi. Begitupun, tak ayal, Umar Kayam, Subagyo Sastrowardoyo dan Soedjatmoko, pernah juga terhenyak dari kursinya, untuk terlibat sitegang kata dengannya. Dan seperti terlansir oleh berbagai sumber, para senior, legendaris sastra dan budaya Indonesia itu, pada akhirnya seolah mengiyakan apa-apa saja yang diargumentasikan pemuda Rendra.

Yang muda yang bergelora. Tidak naif kiranya, jika sejak umur remaja, Rendra sudah banyak mengenal cinta. Betapa indah, dunia hidup Rendra. Lalu bagaimana halnya dengan kita? []

Salemba, 2005


Begini Cara Saya Menikmati Tulisan (1) : Sarapan Dua Cerpen Dari Dua Penulis Kreatif

Oleh Ade Anita

PAGI ini, Senin 3 May 2010 saya disuguhi dua sarapan notes yang berisi cerpen. Subhanallah.. indahnya.

Dua cerpen ini ditulis oleh Cepi Sabre dan Melvi Yendra. Yang satu berjudul “Tokoh-Tokoh Cerita Dari Sebuah Kotak Kayu” (Cepi Sabre) dan yang satunya lagi berjudul “Tobat” (Melvi Yendra).

Keduanya saya persandingkan bukan karena keduanya memiliki kerenyahan dalam penuturan kalimat-kalimat yang terjalin di dalamnya. Juga bukan karena gaya menulis cerdas yang mereka suguhkan. Keduanya saya persandingkan karena keduanya menulis cerpen dari sesuatu yang sudah amat akrab di dunia imajinasi pembaca.

Dalam tulisan “Tobat” (pernah dimuat di Republika, 25 april 2010); Melvi menceritakan ulang kisah tentang seorang pendosa yang telah membunuh 23 orang lalu ingin bertobat. Di versi asli kisah ini, pembaca tentu sudah pernah membaca atau mendengar tentang seorang yang telah membunuh 99 orang lalu ingin bertobat tapi ternyata mati di tengah jalan. Malaikat lalu menghitung lebih dekat mana jarak dia ke arah tobat dan ke arah perbuatan dosanya. Tentu saja lebih dekat ke arah tobatnya dan si pendosa pun diangkat ke surga.

Melvi mengangkat kembali kisah ini. Tapi tentu saja dengan modifikasi kekinian. Tidak sebrutal 99 orang, karena secara logika, orang yang telah membunuh 99 orang secara langsung pasti akan terlacak kejahatannya oleh kepolisian. Jadi, cukup 23 orang saja (sedikit lebih banyak dari korban babe yang membunuh anak-anak jalanan setelah mereka disodomi terlebih dahulu). Tapi tetap merupakan kejahatan brutal. Kisah pembunuh 99 orang ini disampirkan Melvi di tengah ceritanya untuk mencerahkan hati tokoh central di cerpen Tobatnya ini.

Sama seperti kisah pembunuh 99 orang, si pembunuh 23 orang inipun akhirnya juga ingin bertobat. Dia ingin bertobat setelah membaca pesan dari putrinya yang rindu ingin bertemu. Kian tergerak hatinya setelah mendengar alunan suara orang yang mengaji di masjid (dan ternyata suara seorang ustad) hingga dia memutuskan untuk mendatangi ustadz tersebut di Masjid dalam usahanya melarikan diri dari kejaran kepolisian.

Sedangkan dalam kisah “Tokoh-Tokoh Cerita Dari Sebuah Kotak Kayu” (Cepi Sabre), Cepi menceritakan tentang seorang lelaki yang bernama Frick Fritzgerald yang berprofesi sebagai seorang penulis cerita. Dia selalu meletakkan tokoh-tokoh cerita khayalannya di dalam sebuah kotak kayu. Sayangnya, karena diletakkan dalam sebuah kotak kayu yang kecil, si tokoh-tokoh cerita yang mini-mini tubuhnya tapi memiliki kecerdasan tersendiri ini, cepat belajar untuk menghadapi situasi yang tidak enak. Diletakkan dalam sebuah kotak kayu yang tertutup dan sempit, tentu saja merupakan sebuah situasi yang tidak enak. Karena letaknya yang tertutup menjadikan cakrawala berpikir mereka menjadi kerdil dengan sendirinya karena tidak banyak mengalami perkembangan akibat tidak pernah melihat dunia luar secara bebas lagi. Kerdilnya cara berpikir lamban laun akan mematikan kreatifitas. Cupek; sumpek; pengap dan akhirnya kerdil untuk kemudian lenyap tanpa bekas. Tokoh-tokoh cerita yang mini yang cerdas dan bisa diajak bertukar pikiran untuk membentuk sebuah cerita oleh Frick Fritzgerarld ini akhirnya berontak. Mereka mencoba untuk melarikan diri. Walhasil, Frick Fritzgeraldpun menjadi sibuk mengejar semua tokoh ceritanya yang melarikan diri dan memasukkannya lagi satu persatu ke dalam kotak.

Cerdas sekali idenya Cepi Sabre menulis cerpennya ini kan?

Saya amat menikmati gaya Cepi Sabre yang selalu ringan dan renyah dalam bertutur. Sekilas saya merasa bahwa dia sedang membicarakan tentang kondisi terkini para penulis dengan gaya sarkasmenya yang halus dan sopan. Betapa banyak penulis yang selalu merasa bahwa mereka punya keunikan tersendiri dalam menulis dan mengklaim kekhasannya tersebut sebagai miliknya pribadi. Lalu.. bagaimana jika tokoh-tokohnya tersebut ternyata merasa bosan diceritakan dengan gaya yang itu-itu saja? Apa jadinya jika para tokoh khayalan itu ingin merasakan proses kreatifitasnya sendiri-sendiri? Bisa jadi mereka bisa lebih kreatif… bisa jadi juga mereka bisa malah mati dan terlupakan. Tapi, sebagai pemilik ide, setiap penulis akan berusaha keras untuk menyimpan karakter-karakter ciptaannya itu dalam sebuah kotak ide rapat-rapat.

Lalu… apa hubungannya cerpen Cepi Sabre dan Melvi Yendra?

Jika Cepi Sabre masih melukiskan kondisi terkini para penulis maka Melvi Yendra memberikan contoh nyata yang dilakukan oleh penulis. Ketimbang harus terpaku dengan cerita baku yang sudah turun-temurun diceritakan dengan gaya yang sama (kisah tentang pembunuh 99 orang yang bertobat) maka Melvi mencoba untuk “mengadopsi” tokoh cerita yang berhasil kabur dari kotak ide ini menjadi tokoh cerita yang baru.. pembunuh 23 orang. Artinya.. jika kita semua menulis lalu tiba-tiba kehabisan ide mau nulis apa… jangan pernah ragu untuk membuka kotak ide dan ambil satu tokoh. Bisa jadi tokoh itu sudah banyak diceritakan banyak orang; bisa jadi itu adalah tokoh yang amat sangat umum dan tidak punya keistimewaan; tapi kita bisa memodifikasinya agar kembali menjadi tokoh yang fresh lagi.

Subhanallah… keduanya memang cerdas dan benar-benar sudah memberikan sarapan bergizi untuk saya belajar menulis.

[]

Tokoh-Tokoh Cerita Dari Sebuah Kotak Kayu

(Cerpennya Cepi Sabre)

“Di sana! Di sebelah sana, Gabriel!”

“Kakimu, Tuan Frick! Di bawah kakimu!”

Frick Fritzgerald adalah seorang penulis cerita. Frick Fritzgerald suka menyimpan tokoh-tokoh ceritanya ke dalam sebuah kotak kayu. Setiap kali ingin mengarang cerita, Frick Fritzgerald akan membuka kotak kayu tersebut, mengambil beberapa tokoh, lalu mulai menulis cerita. Ceritanya menjadi begitu hidup karena tokoh-tokoh yang ada di dalamnya memang hidup. Di dalam sebuah kotak kayu.

Beberapa minggu belakangan ini, Frick Fritzgerald tidak menulis cerita apa pun. Bukan berarti Frick Fritzgerald kehabisan ide atau tokoh untuk dijadikan cerita. Beberapa minggu belakangan ini, tokoh-tokoh cerita Frick Fritzgerald suka melarikan diri dari kotak kayu itu. Begitulah, Frick Fritzgerald sibuk mengejar-ngejar tokoh-tokoh ceritanya sendiri. Tanpa tokoh-tokoh cerita itu, Frick Fritzgerald akan kesulitan menulis cerita.

Bisa saja Frick Fritzgerald membuat tokoh-tokoh lain, tapi tokoh-tokoh cerita yang sudah dibuatnya dan melarikan diri itu bisa menulis cerita sendiri. Akan sangat lucu sebuah cerita yang ditulis sendiri oleh tokoh ceritanya. Belum pernah ada. Belum pernah ada, tapi lucu. Dan kali ini Frick Fritzgerald dibantu oleh seorang makhluk dengan sepasang sayap kecil di punggungnya, Gabriel.

Gabriel. Tidak salah lagi, Gabriel adalah salah satu malaikat Tuhan. Gabriel sedang menjalankan tugasnya berkeliling dunia ketika di sebuah kota Gabriel melihat satu rumah dengan lampu yang masih menyala. Gabriel melihat Frick Fritzgerald berbicara dengan beberapa makhluk aneh. Makhluk-makhluk aneh itulah tokoh-tokoh cerita buatan Frick Fritzgerald yang selama ini disimpannya di dalam kotak kayu.

Gabriel begitu terpesona dengan pemandangan yang dilihatnya. Gabriel berpikir bahwa Frick Fritzgerald adalah Tuhan yang lain. Tidak bisa tidak, hanya Tuhan yang bisa menciptakan tokoh-tokoh cerita. Gabriel tidak berpikir lama untuk mengetuk di pintu rumah Frick Fritzgerald lalu minta dimasukkan juga ke dalam kotak kayu.

Satu-satunya alasan saya tidak memasukkan Gabriel ke dalam kotak kayu itu adalah ukuran tubuhnya yang besar. Gabriel hampir setinggi Frick Fritzgerald. Sepasang sayap kecil di punggungnya menambah besar ukuran badan Gabriel. Sementara tokoh-tokoh cerita buatan Frick Fritzgerald tidak pernah lebih tinggi daripada sebuah gelas. Itulah sebabnya sangat sulit menangkap tokoh-tokoh cerita itu setiap kali mereka melarikan diri dari kotak kayu Frick Fritzgerald.

Seekor anjing dengan topi pet setinggi gelas berlari dengan kencang. Anjing itu masih sempat menoleh ke belakang satu kali sebelum sebuah tangan yang sangat besar menggenggamnya. Anjing itu ikut berguling bersama si pemilik tangan yang ternyata adalah Frick Fritzgerald.

“Bwahahaha … Akhirnya tertangkap, Gabriel! Anjing nakal ini sudah kutangkap!”

Frick Fritzgerald memasukkan kembali anjing dengan topi pet itu ke dalam kotak kayu. Anjing itu masih hendak melompat keluar lagi, tapi Frick Fritzgerald cepat menutup kotak kayunya. Topi petnya terjatuh. Frick Fritzgerald memungutnya lalu memasukkannya juga ke dalam kotak kayu.

“Bagus, Tuan Frick. Saya sudah sangat lelah. Anjing itu benar-benar lincah.”

Gabriel segera menjatuhkan tubuhnya di sofa. Tidak lama kemudian, Frick Fritzgerald pun melakukan hal yang sama.

“Aku juga, Gabriel. Mereka semakin lama semakin cepat. Mungkin karena mereka juga sudah hafal letak perabotan-perabotanku. Kupikir, sebaiknya kita kosongkan saja rumahku ini, Gabriel.”

Tapi mereka berdua, Frick Fritzgerald dan Gabriel, berhenti hanya sampai di sana. Keduanya terlalu lelah untuk mengosongkan rumah Frick Fritzgerald hari itu juga. Terlebih mereka sekarang merasa begitu nyaman di dalam pelukan sebuah sofa. Nafas Frick Fritzgerald dan Gabriel mulai lebih teratur.

“Bagaimana bisa, tokoh-tokohmu melarikan diri dari kotak kayu itu, Tuan Frick?”

“Entahlah, Gabriel. Kupikir, mereka sudah merencanakannya sejak lama lalu bersama-sama mengangkat tutup kotak kayu itu.”

“Maksudku, bagaimana bisa, kau tidak punya kendali atas mereka, Tuan Frick? Bukankah mereka semua itu kau yang ciptakan?”

“Aku bukan Tuhan, Gabriel.”

Gabriel tersentak. Selama ini Gabriel merasa yakin bahwa Frick Fritzgerald adalah Tuhan yang lain. Itulah sebabnya Gabriel memilih mengikuti Frick Fritzgerald daripada meneruskan tugasnya yang menjemukan, berkeliling dunia. Di rumah ini Gabriel bisa melihat Frick Fritzgerald menciptakan tokoh-tokohnya, menulis cerita tentang tokoh-tokoh itu, lalu menyimpan mereka ke dalam sebuah kotak kayu.

Kadang-kadang Frick Fritzgerald menulis cerita baru dengan tokoh-tokoh yang sudah lama disimpannya di dalam kotak kayu itu. Beberapa tokoh baru akan ditambahkan Frick Fritzgerald untuk melengkapi tulisannya. Gabriel sangat menikmati ketika Frick Fritzgerald mengeluarkan tokoh-tokoh ceritanya dari kotak kayu itu dan mulai bercerita dengan mereka. Ketika semua selesai, Frick Fritzgerald akan menuliskan semua itu menjadi sebuah cerita baru. Jadi pengakuan Frick Fritzgerald bahwa dirinya bukan Tuhan, sangat mengejutkan Gabriel.

“Kalau kau bukan Tuhan, Tuan Frick, lalu bagaimana caramu menciptakan tokoh-tokoh ceritamu?”

“Entahlah, mereka hanya keluar begitu saja dari dalam kepalaku, Gabriel. Awalnya hanya satu, lalu dua, lalu semakin banyak sehingga aku butuh sebuah kotak kayu untuk menyimpan mereka semua.”

“Lalu ceritamu, mereka atau dirimu yang menulisnya, Tuan Frick?”

“Tentu saja aku yang menulisnya, Gabriel. Tokoh-tokoh ceritaku tidak kubiarkan menuliskan ceritanya sendiri. Kami memang suka berbicara untuk membuat sebuah cerita. Mereka menceritakan keinginannya dan aku menceritakan keinginanku. Lalu aku akan menulis keinginan kami itu sebagai sebuah cerita. Mereka sangat menentukan cerita yang kutulis, Gabriel. Tapi tetap tidak kubiarkan mereka menulis ceritanya sendiri.”

“Lalu kau, Tuan Frick, apakah kau percaya pada Tuhan?”

“Tentu saja, Gabriel! Tuhan adalah seseorang yang menuliskan cerita tentang aku. Juga tentang dirimu, Gabriel.”

“Tapi Tuhan tidak pernah mengajakmu bercerita. Kau tidak bisa menceritakan keinginanmu, dan dia tidak pernah menceritakan keinginannya. Padaku tentu lain, Tuan Frick. Tuhan memberi tugas langsung padaku. Begitupun, kami tidak pernah saling menceritakan keinginan kami masing-masing.”

“Aku tahu, Gabriel. Tapi aku tetap yakin bahwa Tuhan ada dan sedang bekerja semalam-malaman untuk menuliskan cerita tentang aku dan kau, ‘Frick Fritzgerald Si Penulis Cerita Dan Gabriel Si Malaikat Tuhan.’”

“Aku tidak pernah melihat Tuhan menulis, Tuan Frick. Percayalah.”

“Yah, Tuhan tentu punya cara lain untuk itu kan, Gabriel.”

“Tidakkah kau berpikir bahwa Tuhan adalah sebuah ‘saya’, Tuan Frick?”

“Saya?”

“Ya. ‘Saya’ yang memutuskan untuk tidak memasukkanku, Gabriel ini, ke dalam kotak kayu hanya karena ukuran tubuhku yang besar. Aku hampir setinggi dirimu, Tuan Frick, dan sepasang sayap kecil di punggungku ini menambah besar ukuran badanku.”

“Ah, kau hanya berhalusinasi, Gabriel. Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau belum pernah melihat Tuhan menulis?”

Gabriel diam. Pikirannya mulai menyusun kepingan-kepingan pengetahuan yang baru didapatnya. Frick Fritzgerald yang bukan Tuhan, Tuhan yang menulis tentang Frick Fritzgerald dan dirinya sendiri, juga ‘saya’ yang memutuskan untuk tidak memasukkan dirinya ke dalam kotak kayu bersama tokoh-tokoh cerita Frick Fritzgerald yang lain.

Frick Fritzgerald juga sedang termenung. Kemungkinan-kemungkinan yang dikatakan Gabriel ada benarnya. Tuhan bisa saja tidak pernah menulis tentang dirinya atau tentang apapun. Dan yang membuatnya semakin tertarik adalah kemungkinan bahwa dirinya, Frick Fritzgerald, adalah Tuhan. Tapi Frick Fritzgerald cepat menolak pikirannya ini, meski dia sudah menciptakan banyak tokoh cerita, Gabriel tidak pernah diciptakannya. Gabriel tidak pernah keluar begitu saja dari dalam kepalanya.

“Tuan Frick, Sang Kapten! Sang Kapten!”

Seseorang yang tingginya tidak lebih dari sebuah gelas dengan seragam merah dan celana biru terlihat berlari di atas meja tulis Frick Fritzgerald. Dengan ketangkasan seperti seorang tentara, orang itu turun dari meja dengan melompat dari satu laci ke laci yang lain, lalu lari dengan kencang.

Frick Fritzgerald segera bangun dari sofa. Dengan cekatan Frick Fritzgerald mencegat orang yang disebut Gabriel sebagai Sang Kapten itu. Gabriel meloncat ke sisi yang lain, tapi Sang Kapten bergerak sangat cepat. Sang kapten segera berbelok ke arah lemari dan mengubah arah larinya.

“Di sana! Di sebelah sana, Gabriel!”

“Kakimu, Tuan Frick! Di bawah kakimu!”

Saya harus menghentikan cerita ini di sini. Kalau saya teruskan, maka kita bisa berminggu-minggu terjebak bersama Frick Fritzgerald dan Gabriel mengejar-ngejar tokoh-tokoh cerita yang melarikan diri dari sebuah kotak kayu. Kita tentu punya pekerjaan lain yang lebih penting daripada sekedar mengejar-ngejar mereka. Begitu juga saya. Saya masih harus menyelesaikan cerita yang lain.

Frick Fritzgerald dan Gabriel terdiam. Mereka berdua tidak bergerak sama sekali. Mereka berdua tidak bersuara. Bahkan mereka berdua bernafas dengan sangat hati-hati.

“Tuan Frick, ‘saya’,” kata Gabriel setengah berbisik.

“Aku tahu, Gabriel,” Frick Fritzgerald juga setengah berbisik sekarang.

“Ini menakutkan, Tuan Frick.”

“Ya, ini benar-benar menakutkan, Gabriel.”
[end of note – penulis Cepi Sabre]
[]

Tobat

Cerpen Melvi Yendra

[Republika, 25 April 2010]

TEMBAKAN itu datang dari berbagai arah. Dada dan kepalanya pecah. Rusuk dan kedua kakinya rengkah. Ketika malaikat maut menghampirinya, ia melihat lambaian tangan putrinya dan terukir senyum di bibirnya.

Lelaki itu roboh dengan puluhan peluru bersarang di tubuhnya.

[]

Beberapa saat sebelum penembakan

Lelaki itu keluar dari masjid, berdiri sejenak memandang ke arah kegelapan. Angin pagi menerpa wajah kerasnya. Dicobanya memejamkan mata. Sedikit saja, sebentar saja, ia merasa sangat bahagia. Entahlah, ia kini merasa benar-benar terbebas. Ia ingin pulang. Sudah lama ia ingin pulang. Ia lelah menghabiskan umurnya di jalanan. Ia bosan dengan kegelapan. Wajah anak perempuannya kini memenuhi ruang pandangnya. Ia rasanya ingin terbang saja agar cepat sampai di rumah. Ia memakai jaket kulit hitamnya dan mengenakan sepatunya. Ditariknya napas panjang sekali lagi sebelum melangkah menuruni tangga masjid.

[]

Setengah jam sebelum penembakan

Sosok-sosok bersenjata itu tiarap di semak-semak, di dalam kegelapan. Sudah lebih dari satu jam. Masjid itu telah dikepung. Lelaki yang mereka tunggu ada di dalam, di saf terdepan, sedang shalat Subuh bersama empat orang jamaah lainnya. Dalam perhitungan, mustahil ia bisa lolos sekarang. Meskipun, sesungguhnya, legenda yang tersiar tentang lelaki itu masih membuat mereka gemetaran. Sejak sepuluh tahun terakhir, ia selalu lolos dari kepungan. Kabarnya, ia menyimpan ilmu kanuragan. Dan, kabarnya punya indra keenam.

“Kenapa tidak kita serbu sekarang saja, ndan?” bisik seorang anggota pasukan kepada komandannya.

“Kau ingin menyerbu orang yang sedang sembahyang? Markas tidak akan suka. Wartawan akan senang menulis berita kita telah menodai rumah Tuhan,” sahut sang komandan.

“Ia bisa saja lolos lagi,” kata anggota pasukan pesimis.

“Tidak lagi. Masjid ini telah dikepung. Ia tidak akan bisa mengelabui kita kali ini,” sahut sang komandan, yakin.

“Bagaimana kalau lelaki itu keluar duluan? Pasti terjadi kericuhan,” tanya anggota pasukan sekali lagi.

“Tidak akan ada bedanya buat kita. Itu sudah risiko tugas. Biarkan markas yang akan menjawab semua caci maki masyarakat,” sahut sang komandan dan menyuruh anak buahnya diam.

Mereka menunggu. Menit demi menit berlalu. Shalat Subuh pun usai. Setelah zikir dan doa yang singkat, satu per satu jamaah keluar dari masjid dan pulang. Tak satu pun di antara mereka yang sadar, ada pasukan polisi sedang ber sembunyi di kegelapan. Masjid itu berada jauh dari rumah-rumah penduduk, di pinggir jalan yang sepi, di tengah persawahan.

Lelaki yang mereka incar belum juga keluar. Ia masih duduk di saf terdepan. Menundukkan kepala, sedang berdoa.

[]

Satu jam sebelum penembakan

Ustaz Ramli menghela napas untuk kesekian kalinya. Ia gemetaran begitu lelaki asing itu selesai berkisah. Tak mudah baginya menerima kenyataan bahwa ia kini sedang berhadapan dengan seseorang yang mengaku telah membunuh 23 orang manusia. Degup jantungnya berkejaran dengan putaran biji tasbihnya. Saat ini, Ustaz Ramli benar-benar ingin Tuhan memberinya petunjuk jawaban apa yang harus diberikannya kepada lelaki itu.

“Jadi, Ustaz, apakah Tuhan akan menerima tobat saya?”

Ustaz Ramli sudah sering mendapat pertanyaan seperti itu, tetapi belum pernah yang seperti ini. Untuk menjawab pertanyaan itu, ia menceritakan kisah yang diambil dari salah satu hadis Nabi Muhammad SAW. Dahulu kala, pada zaman umat-umat terdahulu, ada seorang pembunuh kejam yang telah membunuh 99 orang. Namun, setelah beberapa waktu, pembunuh itu sadar dan ingin bertobat. Maka, mulailah ia mencari seorang alim untuk menyatakan tobatnya. Namun, ketika berhasil menjumpainya, sang alim malah membentak pembunuh yang ingin bertobat tersebut dan mengatakan bahwa tidak ada ampunan bagi seorang pembunuh. Karena marah, si pembunuh pun membunuh sang alim. Sehingga, genap 100 orang yang telah ia bunuh.

Setelah itu, sang pembunuh merasa menyesal dan kembali meneruskan perjalanannya untuk mencari orang alim lain untuk menyatakan tobatnya. Maka, saat menemui orang alim kedua, ia berkata, “Apakah ada jalan untuk bertobat setelah saya membunuh 100 orang?” Si orang alim menjawab, “Ada. Pergilah ke dusun di sana karena banyak orang yang taat kepada Allah. Berbuatlah sebagaimana perbuatan mereka. Dan, janganlah engkau kembali ke negerimu karena negerimu adalah tempat para penjahat.” Dan, pergilah pembunuh itu. Di perjalanan, mendadak maut menjemputnya.

Maka, bertengkarlah Malaikat Rahmat dan Malaikat Siksa, memperebutkan roh si pembunuh. Berkata Malaikat Rahmat, “Orang ini telah berjalan untuk bertobat kepada Allah dengan sepenuh hatinya.” Lalu, berkatalah Malaikat Siksa, “Orang ini belum pernah berbuat baik sama sekali.”

Maka, diutuslah seorang malaikat lain untuk menjadi hakim di antara dua malaikat itu. Malaikat yang ketiga berkata, “Ukur saja jarak antara dua dusun yang ditinggalkan dan yang dituju. Maka, ke mana orang ini lebih dekat, masukkanlah ia kepada golongan orang sana.” Setelah diukur, didapatkan lebih dekat jaraknya ke dusun baik yang ditujunya kira-kira sejengkal. Maka, dipeganglah roh orang ini oleh Malaikat Rahmat.

“Jadi, aku masih bisa bertobat?” tanya lelaki itu setelah mendengar cerita Ustaz Ramli.

“Tentu saja, pintu rahmat Allah selalu terbuka luas untuk orang-orang yang ingin bertobat,” jawab Ustaz Ramli.

“Tapi, saya tidak tahu caranya, Ustaz. Jadi, mohon ajari saya,” kata si lelaki.

Belum sempat menjawab, beberapa jamaah datang. Waktu Subuh telah masuk dan azan segera dikumandangkan.

“Setelah Subuh, mampirlah ke rumah. Rumah saya di ujung jalan sana, rumah ketiga dari sebelah kanan. Saya akan tuntun Saudara untuk bertobat,” sahut Ustaz Ramli. Si lelaki mengangguk, kemudian pergi mengambil wudhu.

Sehabis shalat dan berzikir, Ustaz Ramli menghampiri si lelaki.

“Saya pulang duluan. Saya tunggu di rumah,” kata sang Ustaz. Si lelaki yang ingin bertobat mengangguk dan melanjutkan doanya sendirian.

[]

Dua jam sebelum penembakan

Ustaz Ramli terpaksa berhenti mengaji. Lelaki berjaket kulit hitam berbadan kekar itu masuk ke dalam masjid terhuyung-huyung. Mulanya, ia berpikir lelaki itu salah satu preman kampung yang mabuk dan terdampar di tempat itu. Namun, melihat lelaki itu sadar dan segar bugar, Ustaz Ramli mengoreksi dugaannya.

“Assalamu ‘alaikum,” sapa Ustaz Ramli.

Lelaki itu tak menjawab. Ia mendekat dan menyalami sang Ustaz.

“Tolong saya, Pak Ustaz,” katanya lirih.

Ustaz Ramli kini benar-benar kaget. Lelaki di depannya bersimbah air mata. Ia menangis sesenggukan.

“Apa yang bisa saya lakukan untuk Saudara?” tanya Ustaz Ramli waswas campur bingung.

“Saya ingin bertobat.”

Ustaz Ramli terdiam.

[]

Dua setengah jam sebelum penembakan

Tiba-tiba saja, lelaki itu merasa letih. Kakinya perih. Di sebuah persimpangan, ia berhenti berlari. Ia pikir, para pengejarnya sekarang sudah kehilangan dirinya.

Matanya melihat puncak sebuah masjid, kecil di kejauhan. Sayup-sayup terdengar suara bacaan Alquran dari pengeras suara.

Tiba-tiba, ia merasa sangat rapuh.

[]

Tiga setengah jam sebelum penembakan

Ia keluar dari rumah besar itu tanpa kesulitan. Suara anjing menggonggong, tapi di sana, di kejauhan. Di salah satu belokan, ia berhenti karena telepon genggamnya bergetar. Sebuah pesan singkat datang dari nomor yang sangat ia kenal:

Selamat ulang tahun, Ayah. Semoga panjang umur dan selalu bahagia. Ayah lagi di mana? Ayah sudah janji, di hari ulang tahun Ayah yang ke-45 ini, Ayah akan pulang dan tak akan pergi lagi. Fitri ada kado untuk Ayah. Ayah pasti suka. Salam sayang selalu, Fitri dan Ibu.

Ia memejamkan mata. Membayangkan wajah Fitri, anaknya yang masih kecil dan istrinya di rumah. Sudah berapa lama ia tidak pulang? Ia sudah tidak ingat. Entah mengapa, ia teringat akan putrinya. Ia pernah berjanji untuk menemani putrinya itu.

Ia ingin menangis, tapi terlambat. Air matanya sudah menetes membasahi pipinya. Tiba-tiba ia tersenyum. “Preman ternyata masih punya nurani,” batinnya.

Lelaki itu membuka mata ketika mendengar suara mencurigakan di suatu tempat tak jauh dari tempatnya berdiri. Naluri memerintahnya untuk segera berlari.

Ia pun berlari, tak berhenti.

[]

Empat jam sebelum penembakan

Ia berdiri di pinggir tempat tidur besar itu. Lelaki yang harus ia bunuh sedang mendengkur sendirian di atas ranjang. Tampak tenang. Terlihat tanpa dosa.

Ia sebenarnya tidak terlalu menyukai pekerjaannya. Pembunuh bayaran bukanlah pekerjaan yang baik, ia tahu. Namun, pekerjaan ini kadang-kadang memberi lebih dari sekadar uang. Ia sering merasa puas setelah mengeksekusi para maling ini. Kadang-kadang ia merasa sedang menunaikan tugas suci. Ia seakan-akan adalah algojo yang ditunjuk untuk menghukum mati para pelaku korupsi.

Tiap kali sebelum membunuh, ia tak lupa berdoa agar dosa-dosanya diampuni.

[]

Dua jam setelah penembakan

Ustaz Ramli kembali ke masjid karena lelaki yang ingin bertobat itu tak kunjung mengetuk pintu rumahnya. Di halaman masjid, ia menemukan banyak bercak darah yang telah coba ditutupi dengan tanah.

Ustaz Ramli merinding.

Lebih-lebih ketika ia mencium aroma wangi. Aroma wangi yang asing, yang belum pernah ia cium sebelumnya. (*)

Jakarta, 4 April 2010

Melvi Yendra, pegiat sastra, tinggal di Depok.


%d blogger menyukai ini: