Tag Archives: terminal

Saputangan Merah

Oleh Dwi Klik Santosa

Baru kali ini aku diberikan kenang-kenangan aneh. Sehelai saputangan berwarna merah. Terbuat dari kain berbulu halus dan lembut. Betapa sesuatu yang indah dan sangat mengenangkan. Sesuatu yang lucu, mungkin. Dan entahlah, saat mengingat lagi masa-masa dulu itu.

Dulu sekali, ibuku pernah bercerita padaku. “Pemberian sebagai tanda kasih dari seseorang berupa saputangan, biasanya memberi isyarat tidak bagus bagi hubungan itu di kemudian hari.”

Ibuku orang kuno. Orang Jawa dan terlahir dari kampung. Tentu saja, kata-katanya ini kuanggap usang saja. Kebanyakan orang Jawa kan begitu, sedikit-sedikit gejala dan sebagainya selalu dihubung-hubungkan dengan hal-hal yang sifatnya gaib dan mistik. Dan, bagi pencernaan pemikiranku yang sedang tumbuh girang-girangnya ngilmiah, kadang-kadang kuartikan seperti hanya untuk menakut-nakuti saja. Ah, ibu.

Bagaimana pun saputangan merah itu, bagiku adalah hal yang istimewa. Apalagi, benda itu diberikan oleh seorang bule cantik bernama Michelle. Ya, Michelle Young, begitu pada awal bertemu dulu ia mengenalkan namanya. Dari sepintas lewat pengetahuanku tentang sosok dan pribadi seorang bule, terlalu banyak kuasumsikan konotatif. Entahlah, aku ini barangkali orang Indonesia yang berjenis tradisional dan konservatif.

Tapi, ketika berkenalan secara dekat dan intens dengan Michelle. Semua hal yang konotasi itu seperti hilang seketika. Bahkan, sungguh aneh bagiku. Jika dari suku asalku, penampilan seorang perempuan agung itu disebutkan serba halus, menunjukkan karakter ibaratnya seorang putri kedaton. Namun, si bule berambut pirang ini seperti tak kalah memanifestasi sebutan estetika ningrat itu.

Entahlah, serba kebetulan dan beruntung saja sepertinya pada waktu tempo dulu itu, dimana pada saat yang tak terduga, dapat berkenalan dan bahkan berhubungan dekat dengan seorang mojang asing yang brilian tapi santun.

“Kamu lucu,” selalu begitu komentarnya. Seusai aku menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

“Aku bukan badut,” kilahku.

Dan, senyum yang pipit di kedua pipinya itu, sungguh memberi panorama istimewa; si bule pirang yang kejawa-jawaan.

“Engkau tidak boleh bersendawa seperti itu,” katanya lagi, “itu tidak sopan.”

Waduh. “Iya, habis, saya tidak terbiasa minum minuman bersoda,” kilahku lagi.

Dan, selalu saja setiap aku berkilah, disikapinya dengan senyum, bahkan derai tawa yang lepas.

Perjalanan bus antar kota, Jakarta – Denpasar waktu itu memang melelahkan. Tapi, tidaklah demikian seolah-olah. Justru, biar saja, semakin lama semakin bagus. Haha.

Tatkala bus Lorena executive itu melaju tenang meninggalkan ibukota, AC bus yang adem serasa sihir saja yang cepat menilapkan semua penumpangnya. Begitupun aku. Novel yang baru saja beberapa lembar kusantap, tanggal pula dari tatapku. Tidak penuh memang kursi bus itu diisi penumpang. Kursi berinterior super deluxe yang berjajar dua-dua itu, di sisiku kosong. Tanpa diduga dan mendadak saja, bus ini tergoncang. Berderit keras dan panjang. Seisi bus pun pada goyah.

Rupanya Pak Sopir yang cekatan, berusaha menghindari penyeberang jalan yang sembrono, dengan membantingkan badan bus keluar ruas jalan. Untungnya ada tanah lapang yang siap menampung badan bus. Selamatlah seisi bus, tiada sesuatu pun yang celaka atau terluka. Begitupun, dari posisi tidurku yang seenaknya tadi itu, lantas mudah saja melempar tubuh ini, hingga terjongkrok ke bawah.

Setelah mulai tersadar. Kucari-cari novel yang tadi kubaca, terlempar entah kemana. Nah, pada saat novel handy itu mulai terlihat mataku berada di bawah jok kursi sebelah itu, akan kujangkau segera. Pada saat yang sama, selentik tangan meraih novel itu. Bertatapan mata kami sambil jongkok. Busyet! Bule cewek yang lucu. Baby face. Melalui sebulat coklat matanya itu, seolah ia berkata, “ini novelmu?”

Kuanggukkan kepalaku. Lalu kuterima novel itu dari sodoran tangannya. Ragu-ragu, aku kembali ke jok kursiku. Bus yang sudah berjalan lagi dengan tenang, mengenakkan duduk kami. Novel itu kubaca lagi. Dan, tapi .. mataku sudah mulai mencari-cari lagi.

Melongok ke samping. Kursi si bule baby face di sampingnya juga kosong. Wuiii … entahlah kejadiannya, singkat cerita, sosokku sudah terduduk di sampingnya. Dan ngobrollah kami berdua. Sekenanya. Sedapatnya. Mengalir saja. Asyik-asyik saja. Dari soal Indonesia moii. Gajah Mada. Mataram. Tanah air. Soekarno. Soeharto. NU. Muhammadiyah. Multipartai. Pemilu. Otonomi daerah.

“Novel yang bagus,” katanya, “apa itu royan?”

“Royan itu penyakit yang mewabah,” jawabku.

Royan Revolusi, begitulah judul novel itu. Novel bermuatan human satiris masa-masa selepas kemerdekaan Indonesia, karya Ramadhan KH.

“Indonesia negeri yang indah,” kata Michelle, “3 tahun ini saya jalan-jalan keliling AsiaTenggara.”

Lalu si bule santun ini menceritakan pengalaman hidupnya. Kekecewaannya terhadap keluarga, dan terspesial adalah kepada kaum laki-laki, dari pacar pertamanya, ayahnya, kakak lakinya dan kemudian dosennya yang pernah mengencaninya, menjadi alasan baginya meninggalkan sejenak Ausie untuk sekedar berusaha mencari hiburan batin. Dari Philipina, Singapura, hingga pada akhirnya tinggal di Bangkok, dan lalu menganut Budha. Semasa kuliah di salah satu universitas di Ausie, ia mengambil NU – Muhammadiyah sebagai obyek penelitiannya. Maka, tak heran bahasa Indonesianya bagus sekali. Dan, banyak nyambung saat pembicaraan menyangkut peta politik dan budaya nusantara. Menyenangkan sekali berdiskusi dengan si bule pinter ini. Apa saja kata-kataku bisa saja menjadi bahan tawanya. Entahlah, dataku yang kurang atau aku yang terlalu lugu, sehingga mudah ia tertawakan.

Tatkala bus Lorena ini berhenti di restoran Pasir Putih di bilangan Jawa Timur itu, menjadi hal yang sangat kuingat dan kukenang tentang sosok si Michelle ini. Setelah pintu bus dibuka, berebutan para penumpang ingin saling dulu turun dari bus. Belumlah kami sampai masuk ke restoran, seorang perempuan tua dalam keadaan memelas, memegang-megangi perutnya. Rintihnya iba. Entahlah, kenapa aku hanya diam melihat dan mendengar saja, tak juga berbuat apa-apa. Darimana datangnya, mendadak Michelle menghampirinya. Ia berkata kepada perempuan tua itu. Dan kemudian berteriak kepadaku, “bantu aku.”

Kami bertiga pun makan bersama. Disapa si perempuan tua itu oleh Michelle dengan banyak pertanyaan. Sesekali kutimpali, setiap si ibu tua itu menjawab. Dan berkelakarlah kami akhirnya bersama-sama. Dari cara Michelle bertanya dan tak sungkan menyentuh sosok si tua memelas ini, tak dapat kupungkiri, dia gadis menarik dan eksentrik. Punya empati yang bagus terhadap sosialisme.

Makanya, ketika bus mulai berjalan lagi melanjutkan rute ke Ketapang, diskusi kami pun lanjut ke topik sosialisme. Seru sekali. Saat kusinggung soal anarkisme sebagai sebuah sempalan cabang spesifik dari sosialisme, Michelle kelihatan seperti tidak senang.

“Tidak ada dimana pun manusia hidup tanpa aturan, kamu tahu itu,” sanggahnya sengit.

Ya, memang. Tapi catatan-catatan pendapat dari kecenderungan pemikiran Bakunin dan Matalesta, bahwa jika manusia mampu mandiri, berdiri sendiri, hidup tanpa ketergantungan yang lain, bersikap anarkisme, kenapa tidak?

Begitulah, ketika bus kami memasuki badan kapal penyeberangan menuju bandar Gilimanuk. Asyik saja, kami berdua, terlibat aksi-aksi menyenangkan. Rambut si bule ini pirang berkibar-kibar disisir angin. Serba sopan cara berpakaiannya, tak nampak seperti turis asing kebanyakan. Dan, ketika anak-anak pantai itu mulai beratraksi mengapung di lautan samping kapal yang berlabuh menunggu keberangkatan, mulailah mereka mendapatkan atensi dari para penumpang kapal. Aku dan Michelle tak ketinggalan. Koin ke koin telah habis dilempar dijadikan rebutan anak-anak itu. Sejenak hanyut bersama fragmen ini cukup menyenangkan kiranya.

Yah, sayangnya, sore cepat melaju, dan sampailah bus ini menyeberangi Selat Jawa. Menyusuri jalan meliuk-liuk Pulau Bali. Petang pun tiba, sampailah bus tumpangan kami di Terminal Ubung. Waktunya turun dan menuju tujuan. Begitupun, saat yang tidak enak, sebab harus berpisah dengan Michelle.

“Nanti aku cari kamu. Kita ketemu di Legian, ya,” begitu kata Michelle.

Cukup melegakan. Bahwa, kami tidak benar-benar akan berpisah. Nomor telepon rumah temanku itu kutulis di secarik kertas dan kuberikan kepadanya. Begitulah, tiga hari kemudian, kamipun ketemu lagi di Pantai Legian. Jarak yang tidak jauh dari tempatku tinggal yaitu di Double Six, Legian Kaja. Cukup niat dilakukan oleh Michelle. Karena jarak Bedugul dan Legian cukup jauh kiranya. Begitulah, seperti turis layaknya, kami pun menikmati hidup merdeka menyusuri sepanjang Legian yang berpasir halus. Hingga matahari terbenam, yaitu saat-saat yang paling ditunggu banyak turis karena daya magisnya, masih saja kami asyik terlibat diskusi ngalor ngidul.

Dari siang sampai petang. Bukan waktu yang lama barangkali. Betapa singkat.

“Saya ingin sekali melanjutkan lagi S2 saya di Jogja,” katanya, “kamu senang?”

Yeah, kata-kata Michelle ini. Begitulah, lalu kusahuti, “menarik!”

Sebelum taksi itu membawa pergi sosok si bule mungil. “Aku ingin kau simpan ini.”

Sebungkus paket kecil itu diserahkan kepadaku.

“Semua alamatmu kucatat. Pasti akan berguna nanti. Tunggu kabarku, ya,” begitu katanya lagi.

Itulah saat-saat terakhir yang bisa kuceritakan tentang Michelle, si bule Ausie yang menyenangkan. Sebulan. Satu semester. Setahun. Dua tahun. Tidak ada yang perlu ditunggu lagi. Sebab aktifitas di ibukota yang seru dengan demo mahasiswa menggempur tirani, dengan sendirinya telah mampu mengubur kenangan itu.

Dan, saputangan merah itu. Kenangan itu. Hanya kenangan saja. Entahlah nasib si pemilik asalnya dulu. Setidaknya aku telah berusaha melakukan pesan kata-kata terakhirnya. Saputangan, hmmm … Betul belaka, kata ibuku. Sejak itu, aku seperti mendapatkan pelajaran dan didikan untuk tidak menghiraukan arti kebenaran kata-kata firasat naluri Jawa yang dianggap kuno.

Dwi Klik Santosa

Pondokaren

25 Juli 2009 :21.4o

[]

Mikhail Bakunin 1814-1876 (Photo: Wikipedia)

Iklan

Cerita Ngos-Ngosan Di Bandara

Oleh Very Barus

Ceritanya begini:
Jam 7 .00 pagi, gue dan sobat gue berangkat ke Bandara Soetta. Tujuannya terminal 3, karena kami naek Mandala Airlines menuju Denpasar Bali. Lo tau sendiri terminal 3 itu terminal baru dan masih anget-angetnya sebagai terminal “CONTOH” untuk terminal lama yang sudah butut! Dan pantas untuk dimusnahkan dari muka bumi ini. Terminal di Soetta harus dirubah menjadi terminal 3 yang berkelas internasional (kok jadi cerita terminal sehhh!!!).

Sebenarnya pesawat kami berangkat pukul 09.05 WIB. Nah, lo sudah bisa ngebayangin gimana terburu-burunya kami. Tapi karena bawa mobil sendiri, kami pikir gampang lahngebut dengan kecepatan setan pasti bisa deh 30 menit nyampe bandara. Boarding Pass 30 menit dan sisa waktu masih ada 1 jam…(itu teoriiiiiii dari otak kami. Tapi…prakteknya…??? Simak aja…!!!).

Nyampe di bandara ternyata waktu itu terminal 3 akan diresmikan bapak SBY. Jadi lo tau kan protokoler acara ke-presiden-an sangat ribet dan berbelit-belit. Acaranya sih singkat tapi prosesi menjelang acara peresmiannya yang bikin emosi jiwa menjadi sakit jiwa.
Semua area terminal 3 harus disterilisasi oleh bapak-bapak berseragam kopi susu alias polisi and the gank (senyum dikit nape pak..??? Galak-galak amatt…!!!).

Rute ke terminal 3 yang seharusnya bisa kami lalui dengan mudah, eh..ditutup dan disuruh muter melalui terminal HAJI. Waduuuhhh…waktu sudah kejepit malah disuruh muter lagi… terpaksa kita ngikutis arus aja dah. Trus, melintasi jalur HAJI tetep aja banyak polisi-polisi berwajah garang mengasih aba-aba yang sumpah gue sudah katam cara mereka memberi aba-aba… Muter sana muter sini…dengan minus ekspresi senyum.. huhhhh…!! Biasa aja kaleee pakkk…!

Akhirnya dengan waktu yang semakin kejepit, gue dan sobat berbagi tugas. Gue diturunkan di tempat perhentian mobil (gue harus naek shuttle bus lagi!!), sementara teman gue pergi ke tempat parkir mobil untuk mobil nginap).

Dengan sisa-sisa nafas gue yang teramat NGOS-NGOSAN (ingat! Nafas NGOS-NGOSAN membuat kita boros bernafas dampaknya bisa GEMPORRR…!!!)
Gue naek shuttle bus yang jaraknya hanya 200 meter (kok musti pake shuttle sih…) kayaknya langkah kaki gue bisa lebih cepat nyampe ketimbang naek shuttle bus.

Buru-buru gue keluar dan langsung masuk ke terminal 3 dan masuk ke bagian pemeriksaan yang mesin detector-nya bolak-balik berbunyi. Padahal semua benda yang berbahan logam ato mengundang bunyi-bunyian sudah gue lepaskan…eh ternyata masih bunyi juga… (setelah diselidiki ternyata penyebab bunyi itu adalah bersumber dari “tititgue karena kegedean hahahhahaha….porno lo Ver..!!!)

Trus, lanjut ke bagian boarding…diperiksa-periksa sama bagian ticketing BERESSS… Lega—lega—lega… Giliran gue nunggu teman gue

Pukul 8:10, belum nongol juga…

Pukul 8:15, belom juga nongol

Gue SMS; Dimana lo…??? Buruannn…!!!
Sobat; Bentar…sudah di shuttle bus

Pukul 8:30, aba-aba (pengumuman) dari MANDALA airlines; “Penumpang Mandala dengan nomer penerbangan bla…bla…bla…jurusan Denpasar dipersilahkan masuk ke dalam pesawat…”

MAMPUS..!!!

Itu kan pengumuman pesawat yang gue naekin…? Mana sobat gue belom nongol-nongol lagi… Makin panik lah gue si MR.PANIC (dalam kondisi terjepit gue suka panikan cuy…!! Makanya gue dikenal sebagai Mr.Panic).

Bolak balik gue telpon…tetep aja jawabannya masih di shuttle busKok gak nyampe-nyampe, sementara gue naek shuttle aja cuma 2 menit doang nyampe.

8:40 WIB, aba-aba dari Mandala Airlines berkumandang lagi…

8:50 WIB, “Perhatian..!! kepada penumpang bernama…” (NAMA GUE BO…!! dan NAMA SOBAT GUE diumumkan di pengeras suara—Speaker).

HAAA…??? Nama gue dipanggil pake pengeras suara…(lo bisa bayangin keringat gue sudah bukan kayak jagung lagi, tapi kayak keringat kedondong yang gede-gede jatoh dari jidat gue).

Sementara petugas Mandala yang ada di sekitar gue sudah berteriak-teriak memanggil nama gue dan nama sobat gue. Tapi gue pura-pura BEGO aja. Gue langsung telpon sobat gue
CEPAATTTT BODAAAAAATTTTTTT……!!!!!”

9:00 WIB, sobat gue muncul dan kami pun berlari-lari menuju perut pesawat. Tapi kendalanya cukup banyak… Karena di pintu pemeriksaan berikutnya kami harus ikutan ngantri.
Dengan sok HERO gue langsung memotong antrian dan langsung berdiri di posisi paling DEPAN….
”Pak…pesawat kami sudah mau berangkat…jadi tolong kami diduluin…(siapa el…mungkin begitu kata hati si petugas…), tapi akhirnya kami diperbolehkan masuk. Dan saat pemeriksaan di ct-Scane…untung deh TITIT gue nggak bunyi-bunyi lagi…bisa ribet urusannya…

9:10 WIB
Gue dan sobat gue nyampe di perut pesawat dengan nafas yang SUMPAH tinggal satu satu…(mau nafas aja susah…karena harus rebut-rebutan nafas sama sobat gue…). Tapi mata para penumpang laennya sudah kayak SEKUMPULAN MACAN KELAPARAN yang siap menerkam gue dan sobat gue… Dengan sisa-sisa senyum PEPSODENT, gue langsung bilang…

”TENANG…TENANG…PESAWAT TIDAK DELAY KOK…!!!!”

Dan kami pun langsung mencari tempat duduk, langsung menghempaskan pantat kami yang sudah begitu letih berlari-lari…
SUMPAH..!!!
Baru kali ini gue mengalami keterlambatan naek pesawat. TERNYATA TIDAK ENAK…!!!!

Setelah pesawat take offgue pun terlelap….zzz….zzzz…zzz…zzz. Bangun tidur…eh…sudah nyampe Bali…lega dehhh…!!!! []


%d blogger menyukai ini: