Tag Archives: tanah

Dari Lembaran Biru Diariku

Oleh Dwi Klik Santosa

 

“Lupakan aku!”

Ah, pastilah, engkau mengerti perasaan itu terbuat dari apa

Sedang di hadapanku kini

di segundukan tanah ini

Kata-katamu itu tak benar

pernah bisa kulakukan sebaik-baiknya

[]

Jogjakarta

di tahun 1997

Iklan

Cinta Bercabang

Oleh Syaiful Alim

Kaudatang membawa sampan

lalu kita mengarungi lautan

dengan tangan sebagai dayung

kaukenalkan aku ikan duyung

juga kerang yang mengerang

oleh gores bebatu karang.

Kita berpeluk ketika ombak mengamuk

“Cinta tak kan remuk walau sampan lapuk.

cinta tak kan rebah meski badai menjarah.”

Kauberkata seraya menatap mataku

dan aku makin lahap mendekapmu.

“Simpanlah sampanku di hatimu”

Kaudatang menawari hujan

ketika sawah ladangku diterjang desah gersang

tanah hatiku retak oleh koyak kuku matahari yang jalang.

Hujanmulah yang membasahi tanah, menumbuhkan kembang

sehingga aku bisa lagi melihat kembang dirayu kumbang.

“Cinta itu menghidupkan” kauberkata sambil merangkul leherku

dan aku mengambil senyum mungil dari pipimu.

“Hujanku selalu ada di dekatmu, kemarau tak mampu menjeratmu”

Kaudatang menghidangkan terang rembulan

ketika mataku dihadang gelap gulita.

Rembulanmulah yang menemaniku menata kata jadi puisi dan cerita

“Cinta itu cahaya” kauberkata seraya membelai rambutku dengan lembut

dan aku membalut tubuhmu dengan hangat yang tersulut.

“Percayalah, rembulanku selalu menggantung di malammu”

Kalian hadir membawa butir-butir waktu

bagi hidupku yang sering tergelincir licin lereng tebing kehidupan.

Aku katakan sekali lagi, bahwa aku cuma debu

yang terombang-ombing angin.

Mauku pada satu

muara jiwaku cuma bisa menerima satu resah

datang dan singgahlah di gubuk sajakku

lalu beranjak meninggalkan seribu tujah.

Maafkanlah aku,

biarkan aku terkapar ditampar gamang dan ragu.

Aku tak tahu kepada siapa menuju

pintu rumahku telah kuborgol

dan kuberlari menggapai sebotol sepi

di puncak rindu yang mengapi.

Khartoum, Sudan, 2010.

[]


Saputangan Merah

Oleh Dwi Klik Santosa

Baru kali ini aku diberikan kenang-kenangan aneh. Sehelai saputangan berwarna merah. Terbuat dari kain berbulu halus dan lembut. Betapa sesuatu yang indah dan sangat mengenangkan. Sesuatu yang lucu, mungkin. Dan entahlah, saat mengingat lagi masa-masa dulu itu.

Dulu sekali, ibuku pernah bercerita padaku. “Pemberian sebagai tanda kasih dari seseorang berupa saputangan, biasanya memberi isyarat tidak bagus bagi hubungan itu di kemudian hari.”

Ibuku orang kuno. Orang Jawa dan terlahir dari kampung. Tentu saja, kata-katanya ini kuanggap usang saja. Kebanyakan orang Jawa kan begitu, sedikit-sedikit gejala dan sebagainya selalu dihubung-hubungkan dengan hal-hal yang sifatnya gaib dan mistik. Dan, bagi pencernaan pemikiranku yang sedang tumbuh girang-girangnya ngilmiah, kadang-kadang kuartikan seperti hanya untuk menakut-nakuti saja. Ah, ibu.

Bagaimana pun saputangan merah itu, bagiku adalah hal yang istimewa. Apalagi, benda itu diberikan oleh seorang bule cantik bernama Michelle. Ya, Michelle Young, begitu pada awal bertemu dulu ia mengenalkan namanya. Dari sepintas lewat pengetahuanku tentang sosok dan pribadi seorang bule, terlalu banyak kuasumsikan konotatif. Entahlah, aku ini barangkali orang Indonesia yang berjenis tradisional dan konservatif.

Tapi, ketika berkenalan secara dekat dan intens dengan Michelle. Semua hal yang konotasi itu seperti hilang seketika. Bahkan, sungguh aneh bagiku. Jika dari suku asalku, penampilan seorang perempuan agung itu disebutkan serba halus, menunjukkan karakter ibaratnya seorang putri kedaton. Namun, si bule berambut pirang ini seperti tak kalah memanifestasi sebutan estetika ningrat itu.

Entahlah, serba kebetulan dan beruntung saja sepertinya pada waktu tempo dulu itu, dimana pada saat yang tak terduga, dapat berkenalan dan bahkan berhubungan dekat dengan seorang mojang asing yang brilian tapi santun.

“Kamu lucu,” selalu begitu komentarnya. Seusai aku menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

“Aku bukan badut,” kilahku.

Dan, senyum yang pipit di kedua pipinya itu, sungguh memberi panorama istimewa; si bule pirang yang kejawa-jawaan.

“Engkau tidak boleh bersendawa seperti itu,” katanya lagi, “itu tidak sopan.”

Waduh. “Iya, habis, saya tidak terbiasa minum minuman bersoda,” kilahku lagi.

Dan, selalu saja setiap aku berkilah, disikapinya dengan senyum, bahkan derai tawa yang lepas.

Perjalanan bus antar kota, Jakarta – Denpasar waktu itu memang melelahkan. Tapi, tidaklah demikian seolah-olah. Justru, biar saja, semakin lama semakin bagus. Haha.

Tatkala bus Lorena executive itu melaju tenang meninggalkan ibukota, AC bus yang adem serasa sihir saja yang cepat menilapkan semua penumpangnya. Begitupun aku. Novel yang baru saja beberapa lembar kusantap, tanggal pula dari tatapku. Tidak penuh memang kursi bus itu diisi penumpang. Kursi berinterior super deluxe yang berjajar dua-dua itu, di sisiku kosong. Tanpa diduga dan mendadak saja, bus ini tergoncang. Berderit keras dan panjang. Seisi bus pun pada goyah.

Rupanya Pak Sopir yang cekatan, berusaha menghindari penyeberang jalan yang sembrono, dengan membantingkan badan bus keluar ruas jalan. Untungnya ada tanah lapang yang siap menampung badan bus. Selamatlah seisi bus, tiada sesuatu pun yang celaka atau terluka. Begitupun, dari posisi tidurku yang seenaknya tadi itu, lantas mudah saja melempar tubuh ini, hingga terjongkrok ke bawah.

Setelah mulai tersadar. Kucari-cari novel yang tadi kubaca, terlempar entah kemana. Nah, pada saat novel handy itu mulai terlihat mataku berada di bawah jok kursi sebelah itu, akan kujangkau segera. Pada saat yang sama, selentik tangan meraih novel itu. Bertatapan mata kami sambil jongkok. Busyet! Bule cewek yang lucu. Baby face. Melalui sebulat coklat matanya itu, seolah ia berkata, “ini novelmu?”

Kuanggukkan kepalaku. Lalu kuterima novel itu dari sodoran tangannya. Ragu-ragu, aku kembali ke jok kursiku. Bus yang sudah berjalan lagi dengan tenang, mengenakkan duduk kami. Novel itu kubaca lagi. Dan, tapi .. mataku sudah mulai mencari-cari lagi.

Melongok ke samping. Kursi si bule baby face di sampingnya juga kosong. Wuiii … entahlah kejadiannya, singkat cerita, sosokku sudah terduduk di sampingnya. Dan ngobrollah kami berdua. Sekenanya. Sedapatnya. Mengalir saja. Asyik-asyik saja. Dari soal Indonesia moii. Gajah Mada. Mataram. Tanah air. Soekarno. Soeharto. NU. Muhammadiyah. Multipartai. Pemilu. Otonomi daerah.

“Novel yang bagus,” katanya, “apa itu royan?”

“Royan itu penyakit yang mewabah,” jawabku.

Royan Revolusi, begitulah judul novel itu. Novel bermuatan human satiris masa-masa selepas kemerdekaan Indonesia, karya Ramadhan KH.

“Indonesia negeri yang indah,” kata Michelle, “3 tahun ini saya jalan-jalan keliling AsiaTenggara.”

Lalu si bule santun ini menceritakan pengalaman hidupnya. Kekecewaannya terhadap keluarga, dan terspesial adalah kepada kaum laki-laki, dari pacar pertamanya, ayahnya, kakak lakinya dan kemudian dosennya yang pernah mengencaninya, menjadi alasan baginya meninggalkan sejenak Ausie untuk sekedar berusaha mencari hiburan batin. Dari Philipina, Singapura, hingga pada akhirnya tinggal di Bangkok, dan lalu menganut Budha. Semasa kuliah di salah satu universitas di Ausie, ia mengambil NU – Muhammadiyah sebagai obyek penelitiannya. Maka, tak heran bahasa Indonesianya bagus sekali. Dan, banyak nyambung saat pembicaraan menyangkut peta politik dan budaya nusantara. Menyenangkan sekali berdiskusi dengan si bule pinter ini. Apa saja kata-kataku bisa saja menjadi bahan tawanya. Entahlah, dataku yang kurang atau aku yang terlalu lugu, sehingga mudah ia tertawakan.

Tatkala bus Lorena ini berhenti di restoran Pasir Putih di bilangan Jawa Timur itu, menjadi hal yang sangat kuingat dan kukenang tentang sosok si Michelle ini. Setelah pintu bus dibuka, berebutan para penumpang ingin saling dulu turun dari bus. Belumlah kami sampai masuk ke restoran, seorang perempuan tua dalam keadaan memelas, memegang-megangi perutnya. Rintihnya iba. Entahlah, kenapa aku hanya diam melihat dan mendengar saja, tak juga berbuat apa-apa. Darimana datangnya, mendadak Michelle menghampirinya. Ia berkata kepada perempuan tua itu. Dan kemudian berteriak kepadaku, “bantu aku.”

Kami bertiga pun makan bersama. Disapa si perempuan tua itu oleh Michelle dengan banyak pertanyaan. Sesekali kutimpali, setiap si ibu tua itu menjawab. Dan berkelakarlah kami akhirnya bersama-sama. Dari cara Michelle bertanya dan tak sungkan menyentuh sosok si tua memelas ini, tak dapat kupungkiri, dia gadis menarik dan eksentrik. Punya empati yang bagus terhadap sosialisme.

Makanya, ketika bus mulai berjalan lagi melanjutkan rute ke Ketapang, diskusi kami pun lanjut ke topik sosialisme. Seru sekali. Saat kusinggung soal anarkisme sebagai sebuah sempalan cabang spesifik dari sosialisme, Michelle kelihatan seperti tidak senang.

“Tidak ada dimana pun manusia hidup tanpa aturan, kamu tahu itu,” sanggahnya sengit.

Ya, memang. Tapi catatan-catatan pendapat dari kecenderungan pemikiran Bakunin dan Matalesta, bahwa jika manusia mampu mandiri, berdiri sendiri, hidup tanpa ketergantungan yang lain, bersikap anarkisme, kenapa tidak?

Begitulah, ketika bus kami memasuki badan kapal penyeberangan menuju bandar Gilimanuk. Asyik saja, kami berdua, terlibat aksi-aksi menyenangkan. Rambut si bule ini pirang berkibar-kibar disisir angin. Serba sopan cara berpakaiannya, tak nampak seperti turis asing kebanyakan. Dan, ketika anak-anak pantai itu mulai beratraksi mengapung di lautan samping kapal yang berlabuh menunggu keberangkatan, mulailah mereka mendapatkan atensi dari para penumpang kapal. Aku dan Michelle tak ketinggalan. Koin ke koin telah habis dilempar dijadikan rebutan anak-anak itu. Sejenak hanyut bersama fragmen ini cukup menyenangkan kiranya.

Yah, sayangnya, sore cepat melaju, dan sampailah bus ini menyeberangi Selat Jawa. Menyusuri jalan meliuk-liuk Pulau Bali. Petang pun tiba, sampailah bus tumpangan kami di Terminal Ubung. Waktunya turun dan menuju tujuan. Begitupun, saat yang tidak enak, sebab harus berpisah dengan Michelle.

“Nanti aku cari kamu. Kita ketemu di Legian, ya,” begitu kata Michelle.

Cukup melegakan. Bahwa, kami tidak benar-benar akan berpisah. Nomor telepon rumah temanku itu kutulis di secarik kertas dan kuberikan kepadanya. Begitulah, tiga hari kemudian, kamipun ketemu lagi di Pantai Legian. Jarak yang tidak jauh dari tempatku tinggal yaitu di Double Six, Legian Kaja. Cukup niat dilakukan oleh Michelle. Karena jarak Bedugul dan Legian cukup jauh kiranya. Begitulah, seperti turis layaknya, kami pun menikmati hidup merdeka menyusuri sepanjang Legian yang berpasir halus. Hingga matahari terbenam, yaitu saat-saat yang paling ditunggu banyak turis karena daya magisnya, masih saja kami asyik terlibat diskusi ngalor ngidul.

Dari siang sampai petang. Bukan waktu yang lama barangkali. Betapa singkat.

“Saya ingin sekali melanjutkan lagi S2 saya di Jogja,” katanya, “kamu senang?”

Yeah, kata-kata Michelle ini. Begitulah, lalu kusahuti, “menarik!”

Sebelum taksi itu membawa pergi sosok si bule mungil. “Aku ingin kau simpan ini.”

Sebungkus paket kecil itu diserahkan kepadaku.

“Semua alamatmu kucatat. Pasti akan berguna nanti. Tunggu kabarku, ya,” begitu katanya lagi.

Itulah saat-saat terakhir yang bisa kuceritakan tentang Michelle, si bule Ausie yang menyenangkan. Sebulan. Satu semester. Setahun. Dua tahun. Tidak ada yang perlu ditunggu lagi. Sebab aktifitas di ibukota yang seru dengan demo mahasiswa menggempur tirani, dengan sendirinya telah mampu mengubur kenangan itu.

Dan, saputangan merah itu. Kenangan itu. Hanya kenangan saja. Entahlah nasib si pemilik asalnya dulu. Setidaknya aku telah berusaha melakukan pesan kata-kata terakhirnya. Saputangan, hmmm … Betul belaka, kata ibuku. Sejak itu, aku seperti mendapatkan pelajaran dan didikan untuk tidak menghiraukan arti kebenaran kata-kata firasat naluri Jawa yang dianggap kuno.

Dwi Klik Santosa

Pondokaren

25 Juli 2009 :21.4o

[]

Mikhail Bakunin 1814-1876 (Photo: Wikipedia)


Diproteksi: Sebunyi Sunyi Sembunyi Sepi [16]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


Diproteksi: Sebunyi Sunyi Sembunyi Sepi [15]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


Diproteksi: Sebunyi Sunyi Sembunyi Sepi [12]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


Tungku

Oleh Adhy Rical

hutan menghujan di pondidaha
ada api dalam mulutnya
dan perempuan menyiapkan tungku
dalam gaun, menjadi tanah liat
: akulah anak rotan dan sagu

kau boleh tancapkan batang-batang pisang
setelah perawan tak lagi kesumba
seperti ayam mengepak pasang
yang memburumu berlomba-lomba

kau boleh datang berkaca
dengan perkasa dan perjaka
akan kutanak candu
agar mautmu dingin dalam tungku

Pondidaha, 2010
[]


Tiga Untukmu

Oleh Adhy Rical

kau punya buku?
berikan satu
jadi bantal
biar mimpi
dapat sekolah sepertimu

kau pernah bermimpi?
datangkan ke mari
dengan sajakmu
agar menyair, sepertimu

kau punya janji?
tak perlu bawa
asal jangan ambil tanahku

Kendari, 2010
[]


Tiga Puisi Kecil # 3

Oleh Adhy Rical

Lelaki Air

lelaki air itu perahu
bergerak cepat menuju hulu
sebuah lorong air tenang
ada pisau dapur dan sajak tetua
yang disimpan semalaman

lelaki air itu perahu
bergerak cepat masuk tanah
sebuah kayu gelondongan sekadarnya
ada pisau dapur dan gigi buaya
yang ditanam
di sebelah makam ibunya

[]

Lalindu 2

dari tepi sungai
membuncit rumah-rumah panggung tak rata
jendela yang setengah terbuka
seperti payudara terbelah
lalu perahu menemu lorong-lorong air

dari tepi jendela
ikan-ikan bermain gelombang
sungai yang setengah beriak
seperti pelukan terengah
lalu kita tenggelam menemu tuhan

[]

Perahu

akan kubuat perahu sepagian
di bawah rumahmu. agar dapat kulihat
gaunmu tersingkap
sebelum maut menemuiku
sore itu

Kendari, 2010
[]

dibuang sayang


Tentang Sajak Cinta

Oleh Adhy Rical

: Nanang Suryadi

“sebuah tembikar dari tanah liat yang likat.
ditoreh kata. tentang asal mula kata: cinta…”

ada beras merah dari moyangku
yang diendapkan dalam tanah
seusia perawan menikah nanti
: minuman tembikar* untuk sanggama pertama

ada sajak cinta tentangku
yang kau tulis dari ranjang pengantin
seusia muasal kekal istrimu
: tembikar likat yang melilin

doa-doa purba semalam
tentang asal mula manusia: pertemuan…

Kendari, 2010

ar
——
*minuman tembikar: suku Tolaki menyebutnya pongasi tinano, minuman khas yang terbuat dari beras merah yang diendapkan dalam tanah. Minuman yang disiapkan sejak perempuan lahir dan akan disuguhkan jika ia menikah nanti. Beberapa catatan menyebutkan, minuman itu pengaruh dari Yunan Selatan.


%d blogger menyukai ini: