Tag Archives: soekarno

Melongok Sedikit “Isi Perut” Novel Garis Merah di Rijswijk

Di buku kesatu dari trilogi Rijswijk ini, kita akan membaca beberapa hal dalam setting Batavia (Betawi), Kwik Tang Kiam, seperti apa jam malam di Passer Senen, Passer Baroe, Kramat Raya. Pelarian Tan Sjahrir di subuh buta, menghindari Marrechaussée Belanda, dan akhirnya berlindung di salah satu rumah warga Betawi di Menteng.

Ada kejadian lucu di Kedai Kopi Acim, di depan Gang Sebelas, saat seorang tentara pelajar dari Kompi IV Komando Gerilya Kota wilayah Kebon Sirih menjemput Makhzam dari persembunyian di Cikini. Juga pertemuan pertama kali Makhzam dengan Sri Yanti.

Aksi-aksi sabotase Malaka dan Makhzam di Solo dan Semarang terhadap tangsi Belanda, saat Komando Pasukan Hijrah bergerak ke Bandung. Menyergap pos-pos dan tangsi logistik Belanda di sekitar kota Cina, Semarang dan merampok kereta api uap DD ALCO yang membawa logistik ke Jogja, membuat Mook, petinggi intelijen militer Belanda, naik pitam dan marah-marah pada Gubernur Jendral Stachouwer.

Malaka dan Makzham dimarahi Gatot Subroto karena mempermainkan Kapten Sanyoto dan menjadikannya lelucon di antara pasukan tentara pelajar, hanya karena lebih cekatan daripada Peleton Intai Tempur milik Sanyoto.

Lalu, percakapan Tan Malaka soal gerak ideologis Marx, dan apa maunya Soekarno pada penyatuan tiga aliran penting pemikiran yang dicampurnya, dan tentang posisi Tjipto dan Douwes Dekker—di sebuah kamar kecil di Jogja. Lalu, sejauh mana peran utusan-utusan Celebes dan Borneo sebelum pertemuan di Des Indes. Ada Rohana yang jago masak dan menjahit, tapi pandai menulis di surat kabar Perempoean Bergerak.

Bagaimana silang pendapat Sjahrir dan Malaka soal okupasi Nippon, dan seperti apa Hatta menengahi pertentangan itu. Pembicaraan dan siasat rahasia yang dibangun Mook, dan rencana Jonkheer Stachouwer membendung arus kepentingan di dalam Casteel Rijswijk. Posisi Amir Sjarifuddin di antara NEFIS dan kaum Calvinis di Kramat 106. Seperti apa permulaan siasat yang di bangun dan ditelusupkan Grand Mason-Zion, yang membonceng dalam setiap upaya Mook dan NEFIS.

Seperti apa nota aliansi sekutu yang diterima NEFIS, soal penimbunan kekuatan armada Nippon di Pasifik Barat Daya membayangi ancaman pada gugus Pulau Savo, Kepulauan Solomon, Kepulauan Santa Cruz, Semenanjung Huon, dan Kepulauan Admiralty. Lalu, pada gugus Guadalcanal, di mana bertebaran area-area yang ditandai bendera kecil berpita merah—Pulau Savo, Solomon Timur, Tanjung Esperance, Kepulauan Santa Cruz, dan Tassafaronga. Dan bendera-bendera kecil berpita biru, di gugus Solomon—Teluk Kula, Kolombangara, Teluk Vella, kawasan laut Vella Lavella, Teluk Kaisar Augusta, dan Tanjung Saint George.

Apa maksud pasukan Nippon pada bendera kecil berpita oranye berstrip kuning, yang ada di area dalam Gugus Guinea Baru: Laut Karang, Kokoda, Buna-Gona, Laut Bismarck, Teluk Nassau, Salamaua-Lae, Semenanjung Huon, Britania Baru, Kepulauan Admiralty, Aitape-Wewak. Dan, area berbendera kecil hijau di wilayah terluar Hindia: Biak, Noemfoor, dan Morotai.

Bagaimana siasat sekutu mengantisipasi pertahanan di wilayah ujung Filipina, Bataan, Selat Badung, Laut Java, Selat Sunda, Pulau Timor, Teluk Leyte, Borneo dan Celebes, yang masuk dalam peta perang Pasifik. Bagaimana kepanikan pemerintah Hindia tentang rencana serbuan Nippon selepas Operasi Selatan—dan mulai memasuki Andalas lewat samudera Hindia.

Lalu, kita ke Benkoelen (Bengkulu), menyimak kisah Soekarno dan Haji Hasan Din. Seperti apa posisi Benkoelen dalam kepentingan dan nafsu penguasaan oleh EIC dan VOC yang masif di sana. **

 

Judul: GARIS MERAH DI RIJSWIJK

(buku kesatu dari Trilogi Rijswijk)

Penulis: Li Loh

Penerbit: Republika, Juni 2012.

ISBN: 978-602-759-504-0

Harga : Rp. 57.500,-

 

Dapatkan di Toko Buku Gramedia

atau Hub. Penerbit Republika (Rida) di: 021-7803747 (ext. 103)

Novel ini ditulis dengan teknik Gonzo-Story

Iklan

Saputangan Merah

Oleh Dwi Klik Santosa

Baru kali ini aku diberikan kenang-kenangan aneh. Sehelai saputangan berwarna merah. Terbuat dari kain berbulu halus dan lembut. Betapa sesuatu yang indah dan sangat mengenangkan. Sesuatu yang lucu, mungkin. Dan entahlah, saat mengingat lagi masa-masa dulu itu.

Dulu sekali, ibuku pernah bercerita padaku. “Pemberian sebagai tanda kasih dari seseorang berupa saputangan, biasanya memberi isyarat tidak bagus bagi hubungan itu di kemudian hari.”

Ibuku orang kuno. Orang Jawa dan terlahir dari kampung. Tentu saja, kata-katanya ini kuanggap usang saja. Kebanyakan orang Jawa kan begitu, sedikit-sedikit gejala dan sebagainya selalu dihubung-hubungkan dengan hal-hal yang sifatnya gaib dan mistik. Dan, bagi pencernaan pemikiranku yang sedang tumbuh girang-girangnya ngilmiah, kadang-kadang kuartikan seperti hanya untuk menakut-nakuti saja. Ah, ibu.

Bagaimana pun saputangan merah itu, bagiku adalah hal yang istimewa. Apalagi, benda itu diberikan oleh seorang bule cantik bernama Michelle. Ya, Michelle Young, begitu pada awal bertemu dulu ia mengenalkan namanya. Dari sepintas lewat pengetahuanku tentang sosok dan pribadi seorang bule, terlalu banyak kuasumsikan konotatif. Entahlah, aku ini barangkali orang Indonesia yang berjenis tradisional dan konservatif.

Tapi, ketika berkenalan secara dekat dan intens dengan Michelle. Semua hal yang konotasi itu seperti hilang seketika. Bahkan, sungguh aneh bagiku. Jika dari suku asalku, penampilan seorang perempuan agung itu disebutkan serba halus, menunjukkan karakter ibaratnya seorang putri kedaton. Namun, si bule berambut pirang ini seperti tak kalah memanifestasi sebutan estetika ningrat itu.

Entahlah, serba kebetulan dan beruntung saja sepertinya pada waktu tempo dulu itu, dimana pada saat yang tak terduga, dapat berkenalan dan bahkan berhubungan dekat dengan seorang mojang asing yang brilian tapi santun.

“Kamu lucu,” selalu begitu komentarnya. Seusai aku menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

“Aku bukan badut,” kilahku.

Dan, senyum yang pipit di kedua pipinya itu, sungguh memberi panorama istimewa; si bule pirang yang kejawa-jawaan.

“Engkau tidak boleh bersendawa seperti itu,” katanya lagi, “itu tidak sopan.”

Waduh. “Iya, habis, saya tidak terbiasa minum minuman bersoda,” kilahku lagi.

Dan, selalu saja setiap aku berkilah, disikapinya dengan senyum, bahkan derai tawa yang lepas.

Perjalanan bus antar kota, Jakarta – Denpasar waktu itu memang melelahkan. Tapi, tidaklah demikian seolah-olah. Justru, biar saja, semakin lama semakin bagus. Haha.

Tatkala bus Lorena executive itu melaju tenang meninggalkan ibukota, AC bus yang adem serasa sihir saja yang cepat menilapkan semua penumpangnya. Begitupun aku. Novel yang baru saja beberapa lembar kusantap, tanggal pula dari tatapku. Tidak penuh memang kursi bus itu diisi penumpang. Kursi berinterior super deluxe yang berjajar dua-dua itu, di sisiku kosong. Tanpa diduga dan mendadak saja, bus ini tergoncang. Berderit keras dan panjang. Seisi bus pun pada goyah.

Rupanya Pak Sopir yang cekatan, berusaha menghindari penyeberang jalan yang sembrono, dengan membantingkan badan bus keluar ruas jalan. Untungnya ada tanah lapang yang siap menampung badan bus. Selamatlah seisi bus, tiada sesuatu pun yang celaka atau terluka. Begitupun, dari posisi tidurku yang seenaknya tadi itu, lantas mudah saja melempar tubuh ini, hingga terjongkrok ke bawah.

Setelah mulai tersadar. Kucari-cari novel yang tadi kubaca, terlempar entah kemana. Nah, pada saat novel handy itu mulai terlihat mataku berada di bawah jok kursi sebelah itu, akan kujangkau segera. Pada saat yang sama, selentik tangan meraih novel itu. Bertatapan mata kami sambil jongkok. Busyet! Bule cewek yang lucu. Baby face. Melalui sebulat coklat matanya itu, seolah ia berkata, “ini novelmu?”

Kuanggukkan kepalaku. Lalu kuterima novel itu dari sodoran tangannya. Ragu-ragu, aku kembali ke jok kursiku. Bus yang sudah berjalan lagi dengan tenang, mengenakkan duduk kami. Novel itu kubaca lagi. Dan, tapi .. mataku sudah mulai mencari-cari lagi.

Melongok ke samping. Kursi si bule baby face di sampingnya juga kosong. Wuiii … entahlah kejadiannya, singkat cerita, sosokku sudah terduduk di sampingnya. Dan ngobrollah kami berdua. Sekenanya. Sedapatnya. Mengalir saja. Asyik-asyik saja. Dari soal Indonesia moii. Gajah Mada. Mataram. Tanah air. Soekarno. Soeharto. NU. Muhammadiyah. Multipartai. Pemilu. Otonomi daerah.

“Novel yang bagus,” katanya, “apa itu royan?”

“Royan itu penyakit yang mewabah,” jawabku.

Royan Revolusi, begitulah judul novel itu. Novel bermuatan human satiris masa-masa selepas kemerdekaan Indonesia, karya Ramadhan KH.

“Indonesia negeri yang indah,” kata Michelle, “3 tahun ini saya jalan-jalan keliling AsiaTenggara.”

Lalu si bule santun ini menceritakan pengalaman hidupnya. Kekecewaannya terhadap keluarga, dan terspesial adalah kepada kaum laki-laki, dari pacar pertamanya, ayahnya, kakak lakinya dan kemudian dosennya yang pernah mengencaninya, menjadi alasan baginya meninggalkan sejenak Ausie untuk sekedar berusaha mencari hiburan batin. Dari Philipina, Singapura, hingga pada akhirnya tinggal di Bangkok, dan lalu menganut Budha. Semasa kuliah di salah satu universitas di Ausie, ia mengambil NU – Muhammadiyah sebagai obyek penelitiannya. Maka, tak heran bahasa Indonesianya bagus sekali. Dan, banyak nyambung saat pembicaraan menyangkut peta politik dan budaya nusantara. Menyenangkan sekali berdiskusi dengan si bule pinter ini. Apa saja kata-kataku bisa saja menjadi bahan tawanya. Entahlah, dataku yang kurang atau aku yang terlalu lugu, sehingga mudah ia tertawakan.

Tatkala bus Lorena ini berhenti di restoran Pasir Putih di bilangan Jawa Timur itu, menjadi hal yang sangat kuingat dan kukenang tentang sosok si Michelle ini. Setelah pintu bus dibuka, berebutan para penumpang ingin saling dulu turun dari bus. Belumlah kami sampai masuk ke restoran, seorang perempuan tua dalam keadaan memelas, memegang-megangi perutnya. Rintihnya iba. Entahlah, kenapa aku hanya diam melihat dan mendengar saja, tak juga berbuat apa-apa. Darimana datangnya, mendadak Michelle menghampirinya. Ia berkata kepada perempuan tua itu. Dan kemudian berteriak kepadaku, “bantu aku.”

Kami bertiga pun makan bersama. Disapa si perempuan tua itu oleh Michelle dengan banyak pertanyaan. Sesekali kutimpali, setiap si ibu tua itu menjawab. Dan berkelakarlah kami akhirnya bersama-sama. Dari cara Michelle bertanya dan tak sungkan menyentuh sosok si tua memelas ini, tak dapat kupungkiri, dia gadis menarik dan eksentrik. Punya empati yang bagus terhadap sosialisme.

Makanya, ketika bus mulai berjalan lagi melanjutkan rute ke Ketapang, diskusi kami pun lanjut ke topik sosialisme. Seru sekali. Saat kusinggung soal anarkisme sebagai sebuah sempalan cabang spesifik dari sosialisme, Michelle kelihatan seperti tidak senang.

“Tidak ada dimana pun manusia hidup tanpa aturan, kamu tahu itu,” sanggahnya sengit.

Ya, memang. Tapi catatan-catatan pendapat dari kecenderungan pemikiran Bakunin dan Matalesta, bahwa jika manusia mampu mandiri, berdiri sendiri, hidup tanpa ketergantungan yang lain, bersikap anarkisme, kenapa tidak?

Begitulah, ketika bus kami memasuki badan kapal penyeberangan menuju bandar Gilimanuk. Asyik saja, kami berdua, terlibat aksi-aksi menyenangkan. Rambut si bule ini pirang berkibar-kibar disisir angin. Serba sopan cara berpakaiannya, tak nampak seperti turis asing kebanyakan. Dan, ketika anak-anak pantai itu mulai beratraksi mengapung di lautan samping kapal yang berlabuh menunggu keberangkatan, mulailah mereka mendapatkan atensi dari para penumpang kapal. Aku dan Michelle tak ketinggalan. Koin ke koin telah habis dilempar dijadikan rebutan anak-anak itu. Sejenak hanyut bersama fragmen ini cukup menyenangkan kiranya.

Yah, sayangnya, sore cepat melaju, dan sampailah bus ini menyeberangi Selat Jawa. Menyusuri jalan meliuk-liuk Pulau Bali. Petang pun tiba, sampailah bus tumpangan kami di Terminal Ubung. Waktunya turun dan menuju tujuan. Begitupun, saat yang tidak enak, sebab harus berpisah dengan Michelle.

“Nanti aku cari kamu. Kita ketemu di Legian, ya,” begitu kata Michelle.

Cukup melegakan. Bahwa, kami tidak benar-benar akan berpisah. Nomor telepon rumah temanku itu kutulis di secarik kertas dan kuberikan kepadanya. Begitulah, tiga hari kemudian, kamipun ketemu lagi di Pantai Legian. Jarak yang tidak jauh dari tempatku tinggal yaitu di Double Six, Legian Kaja. Cukup niat dilakukan oleh Michelle. Karena jarak Bedugul dan Legian cukup jauh kiranya. Begitulah, seperti turis layaknya, kami pun menikmati hidup merdeka menyusuri sepanjang Legian yang berpasir halus. Hingga matahari terbenam, yaitu saat-saat yang paling ditunggu banyak turis karena daya magisnya, masih saja kami asyik terlibat diskusi ngalor ngidul.

Dari siang sampai petang. Bukan waktu yang lama barangkali. Betapa singkat.

“Saya ingin sekali melanjutkan lagi S2 saya di Jogja,” katanya, “kamu senang?”

Yeah, kata-kata Michelle ini. Begitulah, lalu kusahuti, “menarik!”

Sebelum taksi itu membawa pergi sosok si bule mungil. “Aku ingin kau simpan ini.”

Sebungkus paket kecil itu diserahkan kepadaku.

“Semua alamatmu kucatat. Pasti akan berguna nanti. Tunggu kabarku, ya,” begitu katanya lagi.

Itulah saat-saat terakhir yang bisa kuceritakan tentang Michelle, si bule Ausie yang menyenangkan. Sebulan. Satu semester. Setahun. Dua tahun. Tidak ada yang perlu ditunggu lagi. Sebab aktifitas di ibukota yang seru dengan demo mahasiswa menggempur tirani, dengan sendirinya telah mampu mengubur kenangan itu.

Dan, saputangan merah itu. Kenangan itu. Hanya kenangan saja. Entahlah nasib si pemilik asalnya dulu. Setidaknya aku telah berusaha melakukan pesan kata-kata terakhirnya. Saputangan, hmmm … Betul belaka, kata ibuku. Sejak itu, aku seperti mendapatkan pelajaran dan didikan untuk tidak menghiraukan arti kebenaran kata-kata firasat naluri Jawa yang dianggap kuno.

Dwi Klik Santosa

Pondokaren

25 Juli 2009 :21.4o

[]

Mikhail Bakunin 1814-1876 (Photo: Wikipedia)


Nama Buat Buah Hati, Apalah Artinya

Oleh Mappajarungi Manan

APALAH arti sebuah nama.” Itu kata-kata Shakespeare, salah satu pujangga dari Inggris. Nama baginya, mungkin tak berarti. Tetapi, bagaimana bila manusia-manusia yang ada di muka bumi ini tak punya nama? Bagaimana menyebut atau memanggil manusia itu? Kacau jadinya!

Bagi Shakespeare, dia tidak memikirkan arti nama. Tapi nama juga memiliki arti. Karena nama itu melekat pada sifat manusia itu sendiri. Misalkan, dengan arti nama saya yang melekat yakni; pelaksana awal atau membawa misi. Kadang berarti dalam kehidupan sehari-hari. Coba anda renungkan apa yang anda lakukan dalam setahun dan maknai dengan nama anda? Anda akan menemukan makna atau arti nama anda.

Nama, dalam agama Islam merupakan sebutan yang sangat penting. Hadist Nabi Muhammad, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari; nama yang melekat pada diri manusia itu adalah doa, sehingga kelak menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negaranya, juga berbakti kepada kedua orang tuanya. Maka berilah nama pada bayi dengan nama yang cukup indah dan Islami.

Jangankan nama, angka saja cukup memiliki makna. Misalnya angka 13 yang hampir semua penghuni muka bumi ini menyatakan itu angka sial. Bagi orang Bugis/Makassar, angka yang cukup membawa rezeki adalah angka nomor 7 (tujuh). Sementara untuk orang China angka qiu atau membawa rezeki adalah 8 (delapan) atau sembilan.

Dalam mencari nama, juga membingungkan. Setelah mendapatkan nama, lalu diskusi ama istri, tapi, setelah melakukan surfing di internet ternyata nama itu ada. Misalnya, nama yang berkesan bagiku adalah Maipa Deapati. Namun pati aku ganti menjadi Ciptasari.

Kenapa, karena Ma = Mappajarungi, Ipa = Ita Puspitasasari, DeA = Dengan Akal men-Cipta-kan Sari, Sari artinya inti. Jadi intinya menciptakan buah perkawinan. Tapi tokoh Maipa  adalah istri Datu Museng yang diutus untuk menjaga wilayah Kerajaan Gowa di bagian Selatan (Sumbawa). Maipa merupakan wanita cantik dan sangat setia.

Kemudian, sejak bulan Juni lalu, aku menemukan nama yang bagiku juga cukup berkesan, karena istri dari Jawa Timur, maka aku menemukan nama dari zaman Kerajaan Majapahit, yakni Tunggadewi. Nama Tunggadewi memang cukup berkesan dan cocok buat calon bayiku kelak.

Namun, saat usai operasi Caesar Annisa Pohan, keluarganya memberi nama anak mereka Almaira Tunggadewi. Gagal lagi nama itu buat calon bayiku yang menurut  perkiraan dokter bakal lahir tanggal 22 September 2008. Ah…kalau begitu bisa juga Shakespeare bener!? Apalah arti sebuah nama. Kalau kata Gus Dur, “Gitu aja kok repot” Hehehe…

Akupun teringat ketika masih di Kendari, banyak nama-nama orang asal diberikan saja. Misalnya La Radio, La Domino, La Sakali. Pokoknya, asal memberi  nama. Mungkin orang tuanya tak mau repot memutar otak untuk memberi nama buat anaknya. Sama dengan sebagian orang tua zaman sekarang, asal comot saja nama tokoh-tokoh terkenal, seperti Saddam Husaen, Ahmadinejad, Saladin, Abu bakar dll…

Memberi nama anak bagi orang Zimbabwe, kedengarannya begitu mudah. Misalnya dia lahir hari Jum’at, langsung aja diberi nama Friday. Atau orang tuanya merasa tak berdosa, maka anaknya diberi nama Innocent…tinggal diberi marga di belakang. Apakah dia dari marga Gajah, maka diberi sebutan Ndlovu, kalau monyet; Hundu, buaya; Morimo jadi misalnya Friday Morimo.

Di Zimbabawe yang dikuasai oleh dua suku besar, yakni Shona dan Ndebele, mereka memberi nama dari klan-klan yang mengambil nama dari binatang-binatang, mulai burung hingga binatang yang besar. Jadi dari marga mereka bisa ketahuan klannya. Sama dengan di Indonesia.

Di Indonesia, etnik yang memakai marga di Sulawesi Utara, seperti Waworuntu, Kandou, Wullur, Sondakh dll. Yang menarik, adalah marga-marga di Sumatera Utara, jadi sama-sama Utara, sama-sama banyak marganya.

Marga orang Sumatera Utara, memang menarik. Misalkan, Perangin-angin, Siregar, Panjaitan, Pohan, Tobing, Pasaribu, Manik, Simajuntak, Simatupang, Ginting, Situmorang Panggabean, Hutapea, Hutabarat.

Dalam etnik saya, untung saja tidak memakai marga. Mungkin karena budaya dendam yang ada pada zaman itu, sehingga penentu kebijakan bagi keluarga besar, tidak memberi marga. Seandainya dalam suku saya ada marga, mungkin saja, aku akan bertemu dengan margaku di berbagai belahan bumi ini, seperti Pareire, marga Portugis yang bertebaran di berbagai belahan dunia. Jadi memang kesulitan juga mencari nama hehehe…

Dalam memberi nama anak, aku juga salut kepada Ir Soekarno. Seperti Guntur akronim dari Gunakan Tenagamu Untuk Rakyat. Megawati akronim Memang Gagah Wanita Indonesia. Karena menggunakan kata gagah, maka Megawati tidak cantik… Iya kan? Itulah arti dari nama.

Kini, mendekati kelahiran baby-ku pada sekitar bulan September 2008 ini, akupun menemukan nama yang sangat cocok buatku, kendatipun semula aku tidak setuju dengan nama berbau Arab, tapi itu adalah nama perpaduan antara Arab, Makassar dan Jawa.  Jadi nama buat buah hatiku, bermakna dalam hidup dan kehidupannya. Siapa bakal nama baby-ku? []

re-posting from date 27-08-08


Sketsa : Obrigado Tanah Air Beta

Oleh Iwan Piliang

Obrigado untuk Alenia Pictures yang memproduksi film Tanah Air Beta, di tengah isu persoalan kehidupan masyarakat seakan tergiring secorak-sekonten: di urusan Ariel, Luna Maya dan Cut Tari, Tanah Air Beta mencuri-pandang visual mancaragam persoalan kehidupan; mengurusi pengungsi, keluarga bercerabut akar budaya, berpisahan dari sanak keluarga. Di tengah bertanya akan apresiasi seni, budaya aparat, pejabat, kini, bisa jadi antara bumi dan langit dibandingkan era Soekarno-Hatta: seni mengasah kehalusan budi, menabalkan kebudayaan; para pejabat dan calon pejabat acap tampil berpidato kebudayaan di saat butuh public relation untuk kekuasaan?

KAMIS, 24 Juni Pukul 10, Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Di lantai 8 Plaza Barat itulah deretan bioskop Blitzmegaplex berada. Sejak dibukanya deretan bioskop yang menayangkan film dengan perangkat digital itu, beberapa kali saya pernah menonton di sana. Saya suka, grand lobby-nya luas memandang ke hamparan dinding kaca lebar ke luar ke gedung-gedung menjulang, menutup pandang pemukiman padat ke arah Kebun Kacang, Jakarta, di mana berderet pemukiman padat, got mampet sepanjang tahun, gubuk-gubuk semrawut kusut.

Bioskop digital akan membuat hilangnya pekerjaan pengantar magazin film. Bioskop digital kelak juga dapat di-remote pemutarannya dari genggaman gadget di tangan.

Berada di area di mana langit-langit bangunan tinggi, bernuansa luas, membuat hati lapang, pikiran terang. Rasa lebih benderang, saya jumpai ketika setiap berada di terminal 3 Changi, Airport, Singapura. Ruangan terbuka, grand, bangunan dominan kaca, material alucubon, steel, baja nirkarat, post modern. Tetapi belakangan, nuansa lega di Changi 3 itu telah hampa di sanubari saya.

Syahdan sejak peristiwa “pembunuhan “ David Hartanto Wijaya, Mahasiswa cerdas Indonesia di Singapura. Kota itu bagi saya, hanyalah ruang dua kali lapangan basket, macam di pengadilan koroner-nya. Tidak lebih.

Yang ada di hati dan benak saya di area dua kali lapangan basket itu jawaban-jawaban Prof. Chan Kap Luk, sosok yang mengaku ditusuk David dan mensosialisasikannya lalu bunuh diri. Ia dominan tak ingat, tak tahu akan peristiwa di depan mata-hidungnya. Ia profesor waras. Sehari setelah keputusan pengadilan, profesor ini langsung mengajar memberi tugas riset baru ke mahasiswa.

Dari mana David datang?

“Tak ingat!”

Pisau dari atas atau bawah?

”Tak ingat!”

Dan lupa ingatan lainnya. Di Indonesia kisah lupa ingatan yang nyentriknya senada agak selanggam seirama di kasus Nunun, tersangka menyalurkan sogokan untuk anggota Komisi IX DPR, membawahi keuangan – – kini komisi XI – – indikasi bagi menyukseskan Miranda Goeltom jadi Deputi Gubernur Senior BI.

Di polisi forensik digital Singapura, mengatakan bahwa menemukan David mengunjungi 3 kali situs internet berkaitan dengan bunuh diri. Giliran ditanya tanggal, waktunya?

”Kami tidak menemukannya,” jawab polisi

Di ranah digital, mustahil data, waktu, tak ditemukan.

Karenanya se-grand apa pun fisik bangunan, konten yang melakat pekat di hati manusia. Semegah apapun sebuah bioskop, jika tayangan filmnya tidak bagus, kita tak ubahnya serasa tetap berada di bilik statik.

Demikian juga televisi, sebanyak apapun berkembang jumlahnya, jika diisi 67 program gosip sehari, diputar ulang lebih 100 stasiun teve lokal sehari, lebih 6.700 penayangan gosip dominan aib personal; perselingkuhan, perceraian, pertengkaran: Anda dapat menilai sendiri lalu meneruskan kalimat ini …

Bagi saya film adalah konten. Konten kehidupan. Dan dialog yang ada film, macam penggalangan omongan professor kupluk dan polisi yang layak dipertanyakan integritasnya di atas, telah menjadi bagian script film saya tentang David.

Film kehidupan.

Konten kehidupan.

SEBAGAIMANA menonton bersama pejabat dan undangan khusus, pukul 10 pagi itu, sebelum pertunjukan film diawali sambutan. Di ruang teater 9 itu, penonton beragam, dari anak-anak, hingga ibu-ibu PKK, undangan kehormatan Menteri Kesehatan, juga tampak isteri Mendagri Gamawan Fauzi.

Film, ini berkisah pahit getir era semasa usai referendum Timor-Timur, 1999 berpisah dengan Timur Barat ( Nusa Tanggara Timur). Timor-Timur jadi Timor Leste. Sebagian warga Indonesia kemudian mencapai 300 ribu mengungsi. Dalam keadaan inilah konflik beragam masalah timbul

Penulis naskah film ini, Armantono, tampaknya jeli. Ia fokus ke konflik terpisahnya ibu Tatiana (Alexandra Gottardo) berprofesi guru dengan puteranya, Maru. Eksplorasi rasa pilu ngilu ibu, janda pula. Pengalaman batin ini yang hendak dibangun film bergenre drama keluarga ini. Termasuk sosok adik perempuan Maoru ( Yahuda Rumbindi), yakni Merry (Griffit Patricia) yang saban hari bermimpi ingin sekali berjumpa abangnya.

Kemasan cerita lainnya adalah bumbu. Di dalam bumbu itu saya menyimak adonan jenaka, ringan, cerdas. Ada sosok Abu Bakar (Asrul Dahlan) mulai bisa membaca. Di pom bensin ia mengeja No Smoking.

”Apa artinya,” tanya Abu bakar.

”Dilarang merokok,” jawab petugas pom

”Mengapa berbahasa Inggris?”

”Bukankah ini Indonesia!”

Ringan.

Musik di sepanjang film dihiasi lagu Kasih Ibu dan Indonesia Tanah Air Beta, tentu bisa menggetarkan kalbu, jika enggan disebut mampu menggerakkan mata meneteskan air.

Adonan satir lain sebelum urusan No Smoking, bagaimana, lagi-lagi Abu Bakar, sewot ketika hendak membeli bensin di pom, dengan membawa jerigen tidak diperbolehkan. Pembeli hanya boleh mengisi tengki motor.

Para pengemudi motor yang umumnya pedagang bensin eceran mengumpat kecewa. Apalagi mereka lalu disuruh baca aturan yang ditempel di pom bensin. Kala itu Abu Bakar belum bisa baca. Kesalnya bukan main.

Abu tak kehilangan akal.

Ia mengganti tengki motornya dengan jerigen besar.

Bukankah banyak aturan di negeri banyak diakali untuk dilanggar?

Bahkan saya sejak lama mengkritisi bahwa UU penggelapan pajak saja dibuat DPR dengan sangat permisif: boleh diselesaikan dengan cara di luar pengadilan dengan denda maksimum 400% dari pajak yang digelapkan. Cuma satu-satunya di dunia?!

“Nah kau isi, cepat!” kata Abu ke petugas pom bensin.

Pertugas hanya melongo, spontan mengisi.

Lalu Abu dengan motor tuanya berkenalpot empat bergaya aksi, cengengeng.

Karenanya selain menyimak premisnya tentang sebuah masalah krusial pengungsi di Atambua, yang hingga kini belum tuntas di Nusa Tenggara Timur, soal peningkatan taraf kesehatan ibu dan anak, peradaban tepatnya. Film ini sekaligus menghibur. Untuk itulah kita menonton bukan?

Seorang kawan saya di sebuah rumah priduksi mengatakan visualnya kurang oke. Tetapi bagi saya, setidaknya Alenia Pictures, telah berusaha mengungkap tema berbeda.

Lebih jauh ada pula upaya untuk mengejawantahkan pembelajaran karya-karya film Majid Majidi, Iran, dengan Children of Heaven, di adegan pemeran utama anak Mauro dan Merry. Adegan berlari di alam gersang mirip-mirip panorama Iran di filmnya Majidi.

Ada upaya keras eksplorasi dari Nia dan Ari Sihasale, produser dan sutradara.

Namun tak bisa dipungkiri untuk membuat segalanya alami, dibutuhkan biaya tinggi. Hingga di sini kita dihadapkan ke realitas hidup, realita ekonomi.

Film ini disponsori Lifeboy, PT Unilever Indonesia. Untuk itu, ada agedan mencuci tangan dengan sabun. Saya tentu bertanya di dalam hati, di tengah situasi adegan pengungsian di lahan kering gersang di mana air saja langka, mahal, apatah pula sebatang sabun?

Untung Alenia Pictures tidak latah menerakan logo produk di layar putihnya. Itui sikap yang sangat saya hargai.

Saya justeru sangat terganggu bukan kepada adegan cuci tangan itu. Tetapi saya menyesalkan Menkes yang tak hadir, hanya diwakili oleh Dirjen Bimbingan Kesehatan Masyarakat, dr Budihardja. Ia setelah membacakan sambutan tertulis Menkes, meminta maaf atas ketidak hadiran Menkes, lalu pamit, sambil berbasa-basi ke Nia dan Ari Sihasale. Ia bilang akan menonton bersama keluarga di lain kesempatan.

Tabiat birokrat demikian, acap kita temui bukan di momen pemutaran Tanah Air Beta saja. Saya melihat ada masalah besar lain dalam apresiasi seni pejabat, kebudayaan umumnya.

Dulu Bung Karno sampai mencetak buku mewah kumpulan lukisan pelukis Maestro Indonesia, yang dikoratori oleh Lee Man Foong. Mencetaknya pun sampai ke Jepang. XDenmi sebuah apresiasi.

Kini di era mutu percetakan lokal sudah wah semisal karya Indonesia Printer, Jayakarta Offset, sekadar menyebut dua nama percetakan berkualitas, tak ada lagi negara mengumpulkan foto karya seni lukis unggulan untuk dicetak macam apa yang dilakukan Bung Karno, misalnya.

Di majalah kini, kita justeru menemui produk cetakan wah: untuk iklan rokok; di-laminating matt, ada bagian yang di-embosed, spot UV, bahkan dengan hot print silver, gold, patinum.

Maka, kini kalau di Mueum Luvre, Paris, Anda tidak lagi menemukan satupun karya pelukis Indonesia di sana, janganlah heran. Bahwa peradaban Indonesia yang digelar pemimpin kini – – bukan oleh rakyat, karena rakyat cerdas – – telah meninggalkan nilai-nilai esensi akan sebuah karya, akan sebuah kebudayaan, apalagi peradaban. Jika pemimpin bangsa sendiri tak menghargai secara nyata konten peradabannya, apatah pula bangsa dan negeri lain?

Atas menonton Tanah Air Beta plus menyimak senandung Kasih Ibu Kepada Beta, sepantasnyalah kita semua berkaca, tanpa terkecuali, apa sih yang kita perbuat bagi meningkatkan mutu peradaban?

Obrigado (terima kasih), Tanah Air Beta. Teruslah berkarya Alenia Pictures! []

Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com


%d blogger menyukai ini: