Tag Archives: salju

Kaji Puisi : Salju di Jemari Penyair Yeni Ratna; Sunyi yang Memberi Ruang

Oleh Syaiful Alim

 

 

Teks Sajak: Solitude

 

Biarkan aku menjadi seonggok salju

diujung puncak Jaya Wijaya

Sunyi, hening memberiku ruang

menerawang langit dan bumi

 

Jangan ayunkan aku ke langit

Ku takut mengasap hilang dibalik awan

Jangan lempar aku ke bumi

Ku takut meleleh menjadi air secawan

 

Ku tak ingin digerus deru angin

Ku tak mau diserap hawa bumi

Aku hanya ingin disini,

Menggenggam jiwaku sendiri;

 

Seperti sebongkah salju itu

Yang dinginnya tak rontokkan tulang

Yang serpihannya tak mambuatmu bergegas pulang

Yang cipratannya tak kotori baju dan sepatumu

 

Ku tak ingin menjadi salju

Yang surutkan langkah tuk beranjak hidup

Yang membawa riang sesaat bocah

Berjingkrak girang menatap boneka salju bermuka lucu

 

Ku hanya ingin menjadi seonggok salju

Di puncak Jaya Wijaya

Hening, sunyi memberiku ruang

menerawang langit dan bumi

 

Aku pergi esok hari

Menjadi seonggok salju dipuncak itu

Maafkan jika aku tinggalkan bercak di bajumu

Jejak sepatumu

Noda dirambutmu

Kutebus dengan ziarahku

ke puncak gunung itu

 

 

[]

 

 

Kaji Puisi: Salju di Jemari Penyair Yeni Ratna: Sunyi yang Memberi Ruang

 

 

I

 

Sajak terlahir dari kehendak sang penyair. Kehendak menjadi sesuatu atau seseorang. Sebuah kehendak adalah proses. Dikatakan proses karena bisa menjumpai dua kemungkinan; kemungkinan gagal dan kemungkinan berhasil dengan kehendaknya itu.

 

Takdir benda adalah diam. Nasib benda-benda akan berubah jika ada unsur atau tangan yang menggerakkannya. Seolah tangan itu meniupkan ruh ke tubuh benda-benda itu. Ketika benda diambil dari habitat muasalnya, maka ia mengalami perubahan, baik aktif maupun pasif. Pun ketika benda-benda itu diusung di alam imaji.

 

Takdir penyair adalah gerak, pemikir. Eksistensi atau kehadiran penyair diakui ketika ia berusaha mengasah hati atau mindanya, sebagai jembatan memaknai atau mengakrabi kehidupan. Daun yang luruh dari reranting bisa disunting penyair menjadi cermin. Cermin yang akan menampakkan hakikat kepemilikan atau benda-benda alam semesta. Seolah daun luruh itu menyampaikan pesan kepada kita bahwa tak ada yang abadi. yang berasal dari debu, kembali menyatu dengan debu, yang berasal dari tanah, kembali merebah di tanah, yang berasal dari api, kembali pergi ke api, yang berasal dari air, kembali mencair, yang berasal dari cahaya, kembali fana ke inti cahaya. Pohon yang awalmula tampak kuat nan kokoh, akhirnya juga roboh. Reranting yang liat bagai taring, akhirnya pun mengering. Dedauanan yang hijau, waktu demi waktu akan layu. Kulit yang putih mengkilat, lamat-lamat akan lumat oleh ulat waktu. Begitulah setiap ciptaan akan menemui takdir akhirnya.

 

Lalu apa medium penyair menyampaikan pesan daun luruh itu?

 

Saya coba menggarisbawahi bahwa antara penyair, puisi, bahasa, dan benda itu memiliki kaitan atau ikatan yang berporos pada saling ketergantungan. Bahasa dan benda akan mati jika tidak dimanfaatkan oleh jemari penyair. Begitu sebaliknya, penyair akan berakhir eksistensinya jika bahasa dan benda tidak ada dan mengada di alam semesta. Maka di sinilah letak peran puisi itu. Puisi adalah kembaran perasaan penyair. Dimana benda-benda yang dibalut bahasa tadi mengekpresikan gelap-remang-terang wajah-wajah yang dipotret penyair.

 

 

II

 

Kini benda itu diwujudkan oleh Penyair Yeni Ratna dengan ‘salju’. Salju itu telah diciduk sang Penyair untuk diletakkan di bangunan sajaknya. Pertanyaannya adalah apakah salju itu cuma sekadar tempelan belaka atau ada maksud tertentu yang hendak digelar oleh Penyair yang Pemikir ini?

 

Penyair Besar Chairil Anwar adalah salah satu contoh penyair terbaik dalam mengakrabi dunia benda-benda. Penyair ini begitu lihainya meletakkan benda-benda ke dalam bangunan sajaknya. Benda yang aktif. Dalam artian benda-benda itu seolah bergerak mengukuhkan ruh penyair yang menjadi kembaran jiwa atau perasaan penyair. Benda itu menjadi lambang atau dunia metapor. Mari kita renungi puisi malam di pegunungan:

 

“Aku berpikir: bulan inikah yang membikin dingin,

Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?

Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:

Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!”

 

Dari sajak di atas, kita bisa mengambil langkah cerdas seorang Penyair memainkan benda-benda alam itu untuk maksud atau kehendak tertentu-yang menjadi kembaran maya jiwa. Seolah imaji benda-benda itu dibelokkan ke arah lain. Sebuah arah yang bertabrakan dengan arah yang sewajarnya. Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!.

 

Betapa bahagia saya mendapati puisi Penyair Yeni Ratna, solitude. Saya menduga adalah sajak yang berhasil menyajikan kohesi dan koherensi yang dipayungi oleh sistem bahasa. Kohesi menunjuk pada keserasian dan kepaduan unsur-unsur bahasa secara sintaksis, sedangkan kohererensi menunjuk pada keserasian dan kepaduan ide, gagasan, ungkapan perasaan, citraan atau asosiasi secara semantik. Dengan demikian, maka kohesi dan koherensi bertujuan untuk memproduksi isi, pesan atau makna yang konstruktif. Atau untuk menghindari ambiguitas, ambivalensi dan polisemi. Tetapi bisa saja justru menyuburkan ambiguitas, ambivalensi dan polisemi, yang sembunyi ke dalam daging lambang dan metafora yang dibentang oleh sang Penyair.

 

Solitude judul puisi Penyair kandidat Doktor ini, Yeni Ratna. Bahasa indonesiakah judul itu? bukan. Lalu kenapa memakai bahasa inggris? Kenapa tidak pakai bahasa Indonesia? Hanya penyair yang mengerti kegaiban dengan pemilihan bahasa itu. Sebenarnya terobosan ini hal biasa, sudah dilakukan oleh penyair pendahulu. Tetapi yang menjadi keluarbiasaan atau kehebatan dengan pemakaian judul dengan bahasa asing adalah bagaimana sang penyair mendedahkan perasaan yang sejalan dengan judul itu. dan saya duga Penyair Yeni Ratna berhasil menerjemahkan judul puisinya yang berbahasa asing itu ke dalam bait dan larik-larik sajaknya.

 

Kalau tidak salah, solitude itu bermakna kesunyian, kesenyapan, kesepian dan makna-makna yang menjadi deviaratifnya.

 

seorang penyair atau entah apalah namanya membutuhkan suasana yang steril dan higienis dari kuman-kuman, polusi-polusi, tumpukan sampah busuk dan hiruk pikuk kebisingan kota. Kesemua itu dapat mencemari, meracuni bayi-bayi karya yang akan ditetaskan-dilahirkan. Bahkan dapat mudahnya terjangkiti penyakit hingga menjemput kematian. Kenapa para penyair mencintai keheningan dan menyetubuhi alam? Karena dalam hening alam itu urat, indra dan syaraf dapat mencecap, menyerap dan menyergap dengan cepat sabda alam; desau angin, luruh daun jatuh, ranting patah, kicau burung, gemericik air, kecipak ikan, cahaya yang berenang di pori-pori daun, dentuman ombak, geliat ulat tersengat matahari. Mungkin tersebab itu para Nabi dan rasul berkholwah (menjauh) dari manusia dalam proses semedi dan penyucian diri serta menerima ilham atau wahyu ilahi. Misalnya saja Nabi Muhammad saw. Beliau diasuh dan dibesarkan di daerah jauh dari hiruk pikuk kota, kampung Baduy.

 

“Biarkan aku menjadi seonggok salju

diujung puncak Jaya Wijaya

Sunyi, hening memberiku ruang

menerawang langit dan bumi”

 

Saya mohon maaf kepada Penyairku, Yeni Ratna, bagaimana jika bait pembuka ini sedikit saya rubah dengan penghilangan sebagian kalimat di situ:

 

“Biarkan aku menjadi seonggok salju

di puncak Jaya Wijaya

Sunyi, hening memberiku ruang

menerawang langit dan bumi”

 

Membaca bait pembuka puisi ini, imajiku langsung diseret ke puncak gunung bersalju itu. seolah saya adalah si aku lirik yang melakukan ziarah atau perjalanan ( ke puncak gunung itu ) untuk menebus segala yang pernah dilakukan terhadap orang-orang yang mengelilinginya.

 

Salah satu fenomena menarik saat musim dingin adalah salju. Menjadi unik karena kristal-kristal es yang lembut dan putih seperti kapas ini hanya hadir secara alami di negeri empat musim atau di tempat-tempat yang sangat tinggi seperti puncak gunung Jaya Wijaya di Papua.

 

Kristal salju memiliki struktur unik, tidak ada kristal salju yang memiliki bentuk yang sama di dunia ini. ini seperti sidik jari kita. Keunikan salju yang lainnya adalah warnanya yang putih. Kalau turun salju lebat, hamparan bumi menjadi putih, bersih, dan seakan-akan bercahaya. Ini disebabkan struktur kristal salju memungkinkan salju untuk memantulkan semua warna ke semua arah dalam jumlah yang sama, maka muncullah warna putih.

 

Selain itu, turunnya salju memberikan kehangatan. Ini bisa dipahami dari konsep temperatur efektif. Temperatur efektif adalah temperatur yang dirasakan oleh kulit kita, dipengaruhi oleh tiga besaran fisis: temperatur terukur (oleh termometer), kecepatan pergerakan udara, dan kelembaban udara. Pada saat salju turun lebat, kelembaban udara naik dan ini mempengaruhi temperatur efektif sehingga pada satu kondisi kita merasa hangat.

 

Kenapa si aku lirik terobsesi menjadi seonggok salju? Apa yang hendak digelar Penyair ini dengan benda alam itu, salju?

 

“Biarkan aku menjadi seonggok salju

di puncak Jaya Wijaya

Sunyi, hening memberiku ruang

menerawang langit dan bumi”

 

Dunia modern dan postmodern ini diliputi oleh berbagai warna-warni kesibukan yang menyesakkan dada. Manusia diburu waktu untuk bersaing atau berkompetisi dalam memperebutkan kursi-kursi penghidupan. Seolah tak ada waktu untuk berasyik masyuk dengan makhluk yang bernama sunyi. Seolah tak ada waktu lagi untuk khusuk memeluk kesunyian-kesunyian duri pada diri.

 

Seolah hipotesa Hobbes ‘homo homini lupus’ mendapat pembenarannya. Manusia adalah serigala bagi yang lainnya. Hidup adalah saling menerkam antara satu dengan yang lainnya. Hidup adalah saling menumbangkan. Ego yang dibungkus dengan kecemburuan, kedengkian telah melahirkan berbagai keretakan hubungan kemanusiaan. Kehangatan dan kedamaian teramat mahal harganya-tak terbeli.

 

Berpijak dari gejala dan gejolak di atas, maka kita dihentakkan oleh Penyair ini dengan baris-baris sajaknya yang manis dan mengiris:

 

“Biarkan aku menjadi seonggok salju

di puncak Jaya Wijaya

Sunyi, hening memberiku ruang

menerawang langit dan bumi”

 

Kita menangkap isyarat bahwa si aku lirik dalam sajak ini mencoba berlari atau melawan kebisingan hidup itu dengan kehendak menjadi seonggok salju di puncak gunung Jaya Wijaya itu. seonggok salju beku bening yang hening. Keheningan yang memberi atau menyediakan ruang untuk memahami kehadiran alam dan tentu sang Pencipta alam itu.

 

Dari bait ini juga saya mendapatkan jejak-jejak tapak sejarah masa silam. Muhammad saw menjauh dari kaumnya menuju gua hira-menyepi dan mengheningkan hati. Melarikan segala kegundahan dan keresahan kepada pencipta alam. Sehingga mendapatkan wayhu pertama. Begitu juga dengan Sidharta yang meninggalkan kemewahan dunia menuju keheningan alam. Dia bertapa di bawah pohon budhi. Sehingga mendapati buah pencerahan.

 

“Aku hanya ingin disini,

Menggenggam jiwaku sendiri;”

 

Saya diam dan termenung memandangi larik cantik ini. Betapa bercahaya kata-kata ini. Bagai salju itu di puncak gunung Jaya Wijaya itu. ternyata untuk menggenggam jiwa sendiri saja harus dengan bersusah payah berlelah letih naik ke puncak gunung dengan kehendak menjadi seonggok salju. Bagaiamana dengan menggenggam jiwa orang lain? Aduh betapa berpeluh.

 

Saya tergoda untuk menariknya ke dalam dunia kepemimpinan. Seorang atau calon pemimpin seharusnya mempersiapkan dirinya terlebih dahulu sebelum ia memimpin kelompok, kaum atau Negara yang menjadi ruang geraknya.

 

Aduh saya semakin ngelantur saja. Maklum sedang dikejar sakaratul maut kata-kata. Saya sudahi saja esai amatir ini. Daripada nanti kepanjangan. Jadi lama bacanya he he.

 

“Kutebus dengan ziarahku

ke puncak gunung itu”

 

[]

 

Syaiful alim

gembel bahasa

2010.

 

Iklan

%d blogger menyukai ini: