Tag Archives: ruang

Kaji Puisi : Salju di Jemari Penyair Yeni Ratna; Sunyi yang Memberi Ruang

Oleh Syaiful Alim

 

 

Teks Sajak: Solitude

 

Biarkan aku menjadi seonggok salju

diujung puncak Jaya Wijaya

Sunyi, hening memberiku ruang

menerawang langit dan bumi

 

Jangan ayunkan aku ke langit

Ku takut mengasap hilang dibalik awan

Jangan lempar aku ke bumi

Ku takut meleleh menjadi air secawan

 

Ku tak ingin digerus deru angin

Ku tak mau diserap hawa bumi

Aku hanya ingin disini,

Menggenggam jiwaku sendiri;

 

Seperti sebongkah salju itu

Yang dinginnya tak rontokkan tulang

Yang serpihannya tak mambuatmu bergegas pulang

Yang cipratannya tak kotori baju dan sepatumu

 

Ku tak ingin menjadi salju

Yang surutkan langkah tuk beranjak hidup

Yang membawa riang sesaat bocah

Berjingkrak girang menatap boneka salju bermuka lucu

 

Ku hanya ingin menjadi seonggok salju

Di puncak Jaya Wijaya

Hening, sunyi memberiku ruang

menerawang langit dan bumi

 

Aku pergi esok hari

Menjadi seonggok salju dipuncak itu

Maafkan jika aku tinggalkan bercak di bajumu

Jejak sepatumu

Noda dirambutmu

Kutebus dengan ziarahku

ke puncak gunung itu

 

 

[]

 

 

Kaji Puisi: Salju di Jemari Penyair Yeni Ratna: Sunyi yang Memberi Ruang

 

 

I

 

Sajak terlahir dari kehendak sang penyair. Kehendak menjadi sesuatu atau seseorang. Sebuah kehendak adalah proses. Dikatakan proses karena bisa menjumpai dua kemungkinan; kemungkinan gagal dan kemungkinan berhasil dengan kehendaknya itu.

 

Takdir benda adalah diam. Nasib benda-benda akan berubah jika ada unsur atau tangan yang menggerakkannya. Seolah tangan itu meniupkan ruh ke tubuh benda-benda itu. Ketika benda diambil dari habitat muasalnya, maka ia mengalami perubahan, baik aktif maupun pasif. Pun ketika benda-benda itu diusung di alam imaji.

 

Takdir penyair adalah gerak, pemikir. Eksistensi atau kehadiran penyair diakui ketika ia berusaha mengasah hati atau mindanya, sebagai jembatan memaknai atau mengakrabi kehidupan. Daun yang luruh dari reranting bisa disunting penyair menjadi cermin. Cermin yang akan menampakkan hakikat kepemilikan atau benda-benda alam semesta. Seolah daun luruh itu menyampaikan pesan kepada kita bahwa tak ada yang abadi. yang berasal dari debu, kembali menyatu dengan debu, yang berasal dari tanah, kembali merebah di tanah, yang berasal dari api, kembali pergi ke api, yang berasal dari air, kembali mencair, yang berasal dari cahaya, kembali fana ke inti cahaya. Pohon yang awalmula tampak kuat nan kokoh, akhirnya juga roboh. Reranting yang liat bagai taring, akhirnya pun mengering. Dedauanan yang hijau, waktu demi waktu akan layu. Kulit yang putih mengkilat, lamat-lamat akan lumat oleh ulat waktu. Begitulah setiap ciptaan akan menemui takdir akhirnya.

 

Lalu apa medium penyair menyampaikan pesan daun luruh itu?

 

Saya coba menggarisbawahi bahwa antara penyair, puisi, bahasa, dan benda itu memiliki kaitan atau ikatan yang berporos pada saling ketergantungan. Bahasa dan benda akan mati jika tidak dimanfaatkan oleh jemari penyair. Begitu sebaliknya, penyair akan berakhir eksistensinya jika bahasa dan benda tidak ada dan mengada di alam semesta. Maka di sinilah letak peran puisi itu. Puisi adalah kembaran perasaan penyair. Dimana benda-benda yang dibalut bahasa tadi mengekpresikan gelap-remang-terang wajah-wajah yang dipotret penyair.

 

 

II

 

Kini benda itu diwujudkan oleh Penyair Yeni Ratna dengan ‘salju’. Salju itu telah diciduk sang Penyair untuk diletakkan di bangunan sajaknya. Pertanyaannya adalah apakah salju itu cuma sekadar tempelan belaka atau ada maksud tertentu yang hendak digelar oleh Penyair yang Pemikir ini?

 

Penyair Besar Chairil Anwar adalah salah satu contoh penyair terbaik dalam mengakrabi dunia benda-benda. Penyair ini begitu lihainya meletakkan benda-benda ke dalam bangunan sajaknya. Benda yang aktif. Dalam artian benda-benda itu seolah bergerak mengukuhkan ruh penyair yang menjadi kembaran jiwa atau perasaan penyair. Benda itu menjadi lambang atau dunia metapor. Mari kita renungi puisi malam di pegunungan:

 

“Aku berpikir: bulan inikah yang membikin dingin,

Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?

Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:

Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!”

 

Dari sajak di atas, kita bisa mengambil langkah cerdas seorang Penyair memainkan benda-benda alam itu untuk maksud atau kehendak tertentu-yang menjadi kembaran maya jiwa. Seolah imaji benda-benda itu dibelokkan ke arah lain. Sebuah arah yang bertabrakan dengan arah yang sewajarnya. Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!.

 

Betapa bahagia saya mendapati puisi Penyair Yeni Ratna, solitude. Saya menduga adalah sajak yang berhasil menyajikan kohesi dan koherensi yang dipayungi oleh sistem bahasa. Kohesi menunjuk pada keserasian dan kepaduan unsur-unsur bahasa secara sintaksis, sedangkan kohererensi menunjuk pada keserasian dan kepaduan ide, gagasan, ungkapan perasaan, citraan atau asosiasi secara semantik. Dengan demikian, maka kohesi dan koherensi bertujuan untuk memproduksi isi, pesan atau makna yang konstruktif. Atau untuk menghindari ambiguitas, ambivalensi dan polisemi. Tetapi bisa saja justru menyuburkan ambiguitas, ambivalensi dan polisemi, yang sembunyi ke dalam daging lambang dan metafora yang dibentang oleh sang Penyair.

 

Solitude judul puisi Penyair kandidat Doktor ini, Yeni Ratna. Bahasa indonesiakah judul itu? bukan. Lalu kenapa memakai bahasa inggris? Kenapa tidak pakai bahasa Indonesia? Hanya penyair yang mengerti kegaiban dengan pemilihan bahasa itu. Sebenarnya terobosan ini hal biasa, sudah dilakukan oleh penyair pendahulu. Tetapi yang menjadi keluarbiasaan atau kehebatan dengan pemakaian judul dengan bahasa asing adalah bagaimana sang penyair mendedahkan perasaan yang sejalan dengan judul itu. dan saya duga Penyair Yeni Ratna berhasil menerjemahkan judul puisinya yang berbahasa asing itu ke dalam bait dan larik-larik sajaknya.

 

Kalau tidak salah, solitude itu bermakna kesunyian, kesenyapan, kesepian dan makna-makna yang menjadi deviaratifnya.

 

seorang penyair atau entah apalah namanya membutuhkan suasana yang steril dan higienis dari kuman-kuman, polusi-polusi, tumpukan sampah busuk dan hiruk pikuk kebisingan kota. Kesemua itu dapat mencemari, meracuni bayi-bayi karya yang akan ditetaskan-dilahirkan. Bahkan dapat mudahnya terjangkiti penyakit hingga menjemput kematian. Kenapa para penyair mencintai keheningan dan menyetubuhi alam? Karena dalam hening alam itu urat, indra dan syaraf dapat mencecap, menyerap dan menyergap dengan cepat sabda alam; desau angin, luruh daun jatuh, ranting patah, kicau burung, gemericik air, kecipak ikan, cahaya yang berenang di pori-pori daun, dentuman ombak, geliat ulat tersengat matahari. Mungkin tersebab itu para Nabi dan rasul berkholwah (menjauh) dari manusia dalam proses semedi dan penyucian diri serta menerima ilham atau wahyu ilahi. Misalnya saja Nabi Muhammad saw. Beliau diasuh dan dibesarkan di daerah jauh dari hiruk pikuk kota, kampung Baduy.

 

“Biarkan aku menjadi seonggok salju

diujung puncak Jaya Wijaya

Sunyi, hening memberiku ruang

menerawang langit dan bumi”

 

Saya mohon maaf kepada Penyairku, Yeni Ratna, bagaimana jika bait pembuka ini sedikit saya rubah dengan penghilangan sebagian kalimat di situ:

 

“Biarkan aku menjadi seonggok salju

di puncak Jaya Wijaya

Sunyi, hening memberiku ruang

menerawang langit dan bumi”

 

Membaca bait pembuka puisi ini, imajiku langsung diseret ke puncak gunung bersalju itu. seolah saya adalah si aku lirik yang melakukan ziarah atau perjalanan ( ke puncak gunung itu ) untuk menebus segala yang pernah dilakukan terhadap orang-orang yang mengelilinginya.

 

Salah satu fenomena menarik saat musim dingin adalah salju. Menjadi unik karena kristal-kristal es yang lembut dan putih seperti kapas ini hanya hadir secara alami di negeri empat musim atau di tempat-tempat yang sangat tinggi seperti puncak gunung Jaya Wijaya di Papua.

 

Kristal salju memiliki struktur unik, tidak ada kristal salju yang memiliki bentuk yang sama di dunia ini. ini seperti sidik jari kita. Keunikan salju yang lainnya adalah warnanya yang putih. Kalau turun salju lebat, hamparan bumi menjadi putih, bersih, dan seakan-akan bercahaya. Ini disebabkan struktur kristal salju memungkinkan salju untuk memantulkan semua warna ke semua arah dalam jumlah yang sama, maka muncullah warna putih.

 

Selain itu, turunnya salju memberikan kehangatan. Ini bisa dipahami dari konsep temperatur efektif. Temperatur efektif adalah temperatur yang dirasakan oleh kulit kita, dipengaruhi oleh tiga besaran fisis: temperatur terukur (oleh termometer), kecepatan pergerakan udara, dan kelembaban udara. Pada saat salju turun lebat, kelembaban udara naik dan ini mempengaruhi temperatur efektif sehingga pada satu kondisi kita merasa hangat.

 

Kenapa si aku lirik terobsesi menjadi seonggok salju? Apa yang hendak digelar Penyair ini dengan benda alam itu, salju?

 

“Biarkan aku menjadi seonggok salju

di puncak Jaya Wijaya

Sunyi, hening memberiku ruang

menerawang langit dan bumi”

 

Dunia modern dan postmodern ini diliputi oleh berbagai warna-warni kesibukan yang menyesakkan dada. Manusia diburu waktu untuk bersaing atau berkompetisi dalam memperebutkan kursi-kursi penghidupan. Seolah tak ada waktu untuk berasyik masyuk dengan makhluk yang bernama sunyi. Seolah tak ada waktu lagi untuk khusuk memeluk kesunyian-kesunyian duri pada diri.

 

Seolah hipotesa Hobbes ‘homo homini lupus’ mendapat pembenarannya. Manusia adalah serigala bagi yang lainnya. Hidup adalah saling menerkam antara satu dengan yang lainnya. Hidup adalah saling menumbangkan. Ego yang dibungkus dengan kecemburuan, kedengkian telah melahirkan berbagai keretakan hubungan kemanusiaan. Kehangatan dan kedamaian teramat mahal harganya-tak terbeli.

 

Berpijak dari gejala dan gejolak di atas, maka kita dihentakkan oleh Penyair ini dengan baris-baris sajaknya yang manis dan mengiris:

 

“Biarkan aku menjadi seonggok salju

di puncak Jaya Wijaya

Sunyi, hening memberiku ruang

menerawang langit dan bumi”

 

Kita menangkap isyarat bahwa si aku lirik dalam sajak ini mencoba berlari atau melawan kebisingan hidup itu dengan kehendak menjadi seonggok salju di puncak gunung Jaya Wijaya itu. seonggok salju beku bening yang hening. Keheningan yang memberi atau menyediakan ruang untuk memahami kehadiran alam dan tentu sang Pencipta alam itu.

 

Dari bait ini juga saya mendapatkan jejak-jejak tapak sejarah masa silam. Muhammad saw menjauh dari kaumnya menuju gua hira-menyepi dan mengheningkan hati. Melarikan segala kegundahan dan keresahan kepada pencipta alam. Sehingga mendapatkan wayhu pertama. Begitu juga dengan Sidharta yang meninggalkan kemewahan dunia menuju keheningan alam. Dia bertapa di bawah pohon budhi. Sehingga mendapati buah pencerahan.

 

“Aku hanya ingin disini,

Menggenggam jiwaku sendiri;”

 

Saya diam dan termenung memandangi larik cantik ini. Betapa bercahaya kata-kata ini. Bagai salju itu di puncak gunung Jaya Wijaya itu. ternyata untuk menggenggam jiwa sendiri saja harus dengan bersusah payah berlelah letih naik ke puncak gunung dengan kehendak menjadi seonggok salju. Bagaiamana dengan menggenggam jiwa orang lain? Aduh betapa berpeluh.

 

Saya tergoda untuk menariknya ke dalam dunia kepemimpinan. Seorang atau calon pemimpin seharusnya mempersiapkan dirinya terlebih dahulu sebelum ia memimpin kelompok, kaum atau Negara yang menjadi ruang geraknya.

 

Aduh saya semakin ngelantur saja. Maklum sedang dikejar sakaratul maut kata-kata. Saya sudahi saja esai amatir ini. Daripada nanti kepanjangan. Jadi lama bacanya he he.

 

“Kutebus dengan ziarahku

ke puncak gunung itu”

 

[]

 

Syaiful alim

gembel bahasa

2010.

 

Iklan

Allah “Maha Kangen”

Oleh Hera Hizboel

 

 

SUATU hari, saat melintas di jalan tol Jagorawi dari arah Jakarta menuju Bogor, saya membaca papan lalu lintas di sisi kiri jalan yang berisi informasi kecelakaan di jalan tol tersebut yang terjadi selama setahun terakhir. Jumlah korban tewas maupun luka-luka jumlahnya cukup fantastis. Angka itu jauh lebih besar dibandingkan angka kecelekaaan yang terjadi di jalan raya Bogor menuju Puncak. Hal itu membuat hati saya sibuk mengira-ngira penyebab hal itu. Selanjutnya, saya pun bercakap-cakap dengan diri sendiri, kenapa di jalan tol yang secara fisik lebih mulus, tidak berliku, dan lebih mudah dilalui justru lebih sering terjadi kecelakaan. Jangan-jangan penyebabnya justru tak hanya keterampilan mengemudi belaka. Jangan-jangan penyebabnya juga tak sekedar menyangkut fisik infrastruktur jalan raya saja. Barangkali ada hal-hal yang lebih bersifat kepribadian dan kejiwaan seorang pengemudi. Demikian saya sibuk menduga-duga.

 

Dalam hidup ini, orang yang senantiasa berkecukupan dan jauh dari segala kesulitan hampir dapat disamakan dengan seseorang yang berkendara dan mengemudi mobil di jalan tol. Jalan yang demikian lurus, mulus, dan bebas hambatan, cenderung melenakan. Berbeda misalnya dengan kalau kita mengemudi di jalan raya menuju Puncak Pass. Jalannya begitu berkelok-kelok, penuh tanjakan dan turunan, bahkan di salah satu sisi jalan terdapat jurang yang cukup dalam. Pada situasi sulit seperti itu justru membuat orang menjadi lebih waspada dan sangat hati-hati.

 

Demikian pula sikap manusia pada umumnya dalam menjalani kehidupan ini. Hidup yang berkecukupan, baik dari segi materi maupun kasih sayang, malah membuat manusia terbuai. Kesibukan menikmati segala kelebihan tersebut akan membuat manusia lupa pada Allah – Sang Pemberi Hidup. Padahal, Allah lah yang telah melimpahkan semua nikmat dan karunia tersebut. Kesibukan menikmati kekayaan, perhatian, dan cinta kasih berlimpah dari sekeliling, apakah dari keluarga, teman, sahabat, pacar, suami atau istri, membuat Allah tersisih dan tak lagi dikangeni.

 

Saya setuju dengan istilah budayawan Emha Ainun Nadjid yang mengatakan bahwa Allah itu pencemburu. Dia tak mau diduakan dan dibanding-bandingkan dengan apa pun. Bahkan, menurut saya, Allah itu juga “Maha Kangen.” Dia terus saja “menarik-narik” perhatian dan ingatan kita agar senantiasa tertuju kepada-Nya. Kita tak boleh mencintai apa pun di dunia ini melebihi cinta kita kepada-Nya. Kita tak boleh kangen pada apa pun di muka bumi ini melampaui kangen kita pada-Nya. Kita boleh cinta dan boleh kangen pada apa pun, asal orientasinya adalah minallah-ilallah-billah-lillah. Dari Allah-untuk Allah-dengan Allah-milik Allah.

 

Seorang teman yang dikhianati kekasihnya, menangis berhari-hari. Ada pula teman lain yang sedih berkepanjangan karena suami yang dicintainya pergi menghadap Allah. Dan di sebuah rumah mewah seorang laki-laki terkapar tak berdaya karena gagal terpilih kembali menjadi gubernur. Mereka sedih dan terluka oleh perasaan kehilangan yang amat sangat. Dalam kesedihan yang memuncak itulah mereka ingat Allah dan merintih menyebut-nyebut asma-Nya. Allah yang selama bertahun-tahun hanya sesekali muncul dalam lintasan pikiran. Allah yang tak pernah sempat diingat karena sibuk dengan berbagai kesenangan.

 

Karena Allah “Maha Kangen,” maka Ia selalu punya cara untuk membuat kita kangen pada-Nya. Dia juga selalu punya cara untuk membuat kita (lagi-lagi) jatuh cinta pada-Nya. Di antaranya adalah dengan cara seperti kasus di atas. Keterpisahan secara fisik maupun hati antara kita dengan orang yang kita kasihi, dan keterpisahan antara kita dengan pangkat dan jabatan yang pernah kita genggam, akan membuat kita merasa sangat nelangsa. Karena secara naluriah setiap orang memiliki sense of spiritualism, maka dalam situasi sangat sedih seperti itu sudah pasti akan “lari” dan mengadu pada Allah.

 

Saya teringat pada kisah masa lalu, saat menjalani hubungan percintaan yang sangat romantis dengan seseorang. Kisah cinta yang terjalin selama tiga belas tahun hancur berkeping-keping, dan saya sangat patah hati. Dalam puncak kesedihan, saya pun bersimpuh dengan air mata berderai-derai seraya memanjatkan doa yang saya kutip dari Munajat Cinta Rabbi’ah Al-Adawiyah:

 

“Tuhanku

Tenggelamkan diriku dalam samudera

Keikhlasan mencintai-Mu

Sehingga tak ada sesuatu yang menyibukkanku

Kecuali berzikir kepada-Mu.”

 

Sejak itu saya patah arang. Saya tak lagi bisa jatuh cinta secara romantis dan berbunga-bunga. Pada akhirnya, memang hanya cinta Allah yang tak berubah oleh ruang dan waktu. Hanya Allah yang kesetiaannya tak terhingga. Dan, hanya Allah yang punya kangen bergunung-gunung dan cinta tak berujung.

 

[]

 

hera-20/10/2010


Diproteksi: Sebunyi Sunyi Sembunyi Sepi [16]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


Diproteksi: Sebunyi Sunyi Sembunyi Sepi [11]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


Claustrophobia

Oleh Very Barus

Kemaren, teman gue curhat kalo dia tuh sangat Phobia sama ruangan sempit/tertutup ato istilah Claustrophobia.

Dia cerita suatu hari dia datang ke kos-an temannya. Sebelum masuk ke kamar kos temannya, dia harus melewati lorong/gang. Si teman gue ini langsung cepat2 melintasi lorong/gang tersebut karena dia langsung sesak nafas dan jantungnya berdetak kencang.

Rasanya lorong/gang tersebut cukup sempit dan seolah2 pengen menghimpitnya. Padahal sesungguhnya yang namanya lorong/gang ya tetep aja standar. Minimal ukurannya sekitar 1 ato 1.5 meter (gak sempit kan).

Trus, cerita mengalir lagi, dia pernah sesak nafas juga ketika berada di dalam kamar mandi. Waktu itu dia belom sadar dia berada di ruang sempit itu. Eh, saat dia sadar, si teman langsung mencoba membuka kamar mandi itu dengan paksa. Sangkin paniknya, engkol kuncinya rusak. Ditambah lagi pintunya rada2 ngadat… jadi deh dia dihinggapi rasa panic yang luar biasa…sampe menjerit gitu deh

Hmmm…

Kalo crita soal Phobia jelas beraneka ragam ya. Gue aja sejak masih imut sampe Amit begini sangat Phobia sama ketinggian dan juga Phobia sama laut. Kalo udah berada di ketinggian rasanya pengen lompat aja ke bawah. Benerrr!!!!!

Kalo di tengah laut langsung membayangkan seandainya gue hanyut dan langsung mati masuk ke dalam laut… Wuiihhhhh serem banget kan…????

APA SIH PHOBIA ITU…???

Sebenarnya secara umum, Phobia adalah rasa ketakutan kuat (berlebihan) terhadap suatu benda, situasi, atau kejadian, yang ditandai dengan keinginan untuk ngejauhin sesuatu yang ditakuti itu. Kalo udah parah, penderitanya bisa terserang panik saat ngeliat hal yang dia takutin. Sesak nafas, deg-degan, keringat dingin, gemetaran, bahkan sampe nggak bisa menggerakkan badannya.

Sama kayak jenisnya, ternyata penyebab Phobia juga macem-macem. Analisa yang pertama karena adanya faktor biologis di dalam tubuh, seperti meningkatnya aliran darah dan metabolisme di otak. Bisa juga karena ada sesuatu yang nggak normal di struktur otak. Tapi kebanyakan psikolog setuju, Phobia lebih sering disebabkan oleh kejadian traumatis.

Masih ada penyebab lainnya yang dianalisa oleh psikolog, yaitu Phobia juga bisa terjadi karena budaya. Seperti di Jepang, Cina dan Korea, masyarakatnya takut banget sama angka 4 (Tetraphobia) sedangkan di Italia takut sama angka 17 yang dianggapnya angka sial!

Memang nggak rasional, tapi bener-bener terjadi!

SELEBS YANG TERKENA PHOBIA

R. Kelly, Whoopi Goldberg dan Dalai Lama, termasuk kategori Selebrities with Aviophobia, yaitu Phobia terbang.

Kim Basinger, Rose McGowan dan si bintang Home Alone, Macaulay Culkin adalah penderita Agoraphobia, yaitu takut sama tempat umum dan keramaian. Aneh juga ya, ada seleb yang Phobia-nya kayak gitu?

Penyanyi dan pencipta lagu, John Meyer punya 14 track di albumnya “Room for Squares”. Padahal track ke 13 nggak ada suara apa-apa alias hening selama 0,2 detik dan nggak ada title-nya di cover album. Kemungkinan besar, John Meyer pengidap Triskaidekaphobia, takut sama angka 13!

Masih tentang Triskadeikaphobia. Adolf Hitler juga penderitanya. Pesawat tempur NAZI yang tadinya ber-nomer seri HE-112 diganti menjadi HE-100 untuk menghindari adanya seri HE-113. And, do you notice, nggak ada mobil yang ber-nomer 13 di arena Formula 1 (F1). Mobil nomer 13 dihilangkan setelah ada dua pembalap meninggal memakai nomer tersebut.

Woody Allen, aktor dan sutradara Hollywood yang juga ngisi suara di film animasi “Antz”, rela nyetir mobil bermil-mil lebih jauh untuk nyari jalan alternatif supaya nggak lewat terowongan. Masalahnya dia seorang Claustrophobic alias takut ruang sempit atau ruang tertutup. []


Bahasa – Kasus Puisi Penyair Adhy Rical dan Fitrah Anugerah

Oleh Hudan Hidayat

Kutang Pancara

kutunggu engkau di pancara
melewati sungai konaweha
perempuan pasir menyimpan pokea di kutangnya
jangan takut tenggelam
kita buka dengan kancing baju
agar keringatmu menderas

sudah lama mengail dakimu apung
tapi tak pernah tenggelam lelah
belum bisa mengeja titahmu tatih
padahal kau memanggilku lelaki air
setelah menyelam dalam tangis anakmu
apakah aku mirip perempuan batu menangis?

kutunggu engkau di pancara
menjadi bilalmu
dan dayung masa tuamu
apakah engkau akan datang kutangku?

kutang yang engkau titipkan padaku
sudah kupenuhi beras
kau tak perlu memelas
dua tiga lelaki mendayung tubuhmu

Laosu, 2010
Adhy Rical, 04, 02

pancara: rakit kayu
pokea: kerang sungai

***

Pada Celana Dalamku

Aku telah mendarat pada dermaga yang menyimpan celana dalammu. Aku melihat pada celana dalam itu sekumpulan ikan kecil tersangkut di ruas benangnya. Kupungut satu persatu. Kumasukkan pada tas kerja. Menjemur pada jalanan kota.

Aku pergi melaut setelah matahari menelannya. Inilah awalku merindukan bulan. Sebab bulan meminta sejumlah ikan kecil yang ditelan matahari. Aku akan memakai celana dalam dari mu di hadapan bulan. Lalu kugoyang-goyangkan perahu dengan tarian ombak.

Aku menjerit pada ganas tarian ombak. Aku menjebur. Tenggelam. Mengapung kaku menuju dermaga kembali. Pagi ini. Kau akan melihat di kaku tubuhku. Pada celana dalamku terkumpul ikan-ikan kecilmu kembali.

Bekasi, 02122009
Fitrah Anugerah

1

Oleh satu kenyataan bahwa kesadaran yang tak terlihat oleh indera itu, tanpa tubuh sebagai wadahnya, bahasa selalu tampil dengan unik yang misterius. Kita menyadari perasaan kita sendiri dan pikiran kita sendiri, tapi tanpa bahasa, bagaimana kita hendak menyebutkan pikiran dan kesadaran kita itu? Orang merasa hampa atau bahagia dengan hidupnya. Mungkin tergambar dalam pantulan fisiknya: ia tersenyum puas akan tingkat yang telah ia capai. Atau muram karena hanya semata hitam dalam pandangan. Tapi dikotomik itu tak bernama. Kita tahu pikiran dan perasaan itu, tapi tak ada namanya. Apakah namanya perasaan hati dan pilunya diri? Adalah entah. Maka entah itu adalah suatu eksistensi yang menutup pada dirinya sendiri, tak membuka keluar. Seperti batu keadaannya yang kita tak tahu: adakah ia gembira atau sedang sedih dalam diamnya.

Suatu hidup bernama dalam negara, yang warganya tak dapat mengekspresikan pikiran dan perasaannya, adalah suatu batu besar yang ada tapi tak hadir sebagai sebuah eksistensi. Ia hanya esensi. Pikiran dan perasaannya ia pendam sendiri. Dan hanya ia yang tahu apa gelora dan sedihnya dalam diamnya itu. Kita tak tahu. Kita dari penguasa negara yang kini bertanya tanya: hendak apakah orang banyak ini? Kalau aku tak tahu hendak apa, lalu apa yang menjadi dasar aku membawanya sebagai sang kuasa yang dititipi dalam rendezvous bersama ini?

Aku yang entah hendak ke mana dari satu negara, maka aku-wakil-orang-ramai yang tak tahu lagi ujung pangkalnya. Di sana telah terjadi chaos makna yang datang dari arah arah ke mana kaki hendak melangkah. Aku yang harus ditempatkan ke dalam bingkai aku-orang-ramai-dari-negara-lain. Akan dengan cepat menjadi aku bulan bulanan orang ramai dari negara lain. Bom waktu itu telah ditanam. Tapi tak ada negara yang mau menanam bom waktu pada dirinya sendiri: selalu, selalu aku di sana menggeliat mencari cari salurannya. Agar sang aku-batu tadi terdengar kicau suaranya.

Maka sebuah mekanisme tempat saluran hati, adalah niscaya dan adalah hendaknya terbuka dan mebuka terus. Mungkin arah motif sama, mungkin arah motif tak sama. Tapi suatu pepatah lama bisa diajukan: bukan soal rambut sama hitam tapi hati siapa yang tahu. Tapi adalah soal pemenuhan hajat kebutuhan orang ramai. Saat hajat terpenuhi maka motif boleh menjadi hiasan yang diberi pigura sendiri. Boleh dibawa ke tepi kenangan. Bahwa di sana: ada angan angan yang tersembunyikan. Bahwa di sana. Ada kenyataan individual yang tak diberi ruang tampil (karena itu ia dikurung dalam pigura itu).

Ideal semacam itu meniscayakan meja besar di mana orang bisa duduk bersama, dengan nyaman, untuk saling memperdengarkan bahasa masing-masing. Kalau meja besar tempat duduk bersama itu ditarik dari tempatnya, maka pada saat itu pula telah terjadi suatu bahasa yang bercakap sendiri. Di sana hati dan angan angan digelar sendiri, tanpa pendengar. Monolog bukan dialog.

Bahasa satu arah yang dengan cepat membawa warganya meluncur ke telinganya masing-masing. Di mana orang mulai bercakap sendiri sendiri di muka cermin. Lalu bahasa menghilang dari kosa kata orang ramai. Lalu orang ramai mulai mengambil praktis dari nilai bahasanya yang dia bayangkan. Negara memudar. Hidup bersama kini dipandu oleh “manasuka” dengan hasil “sesuka sukamulah”. Toh telinga kami ini bukan untuk kalian, seperti mulut kalian itu bukan untuk telinga kami ini.

Tapi dalam puisi rupa rupanya telinga dan mulut yang berucap itu tidaklah harus sama. Orang boleh punya telinganya sendiri atau mulutnya sendiri. Bahkan harus. Tak ada aras yang sama dari penampang bahasa sebagai medium. Unik lalu sama punya hak untuk tampil di sana. Tapi kepada telinga siapakah mulut sang penyair kalau dia sepenuhnya masuk ke dalam suaranya sendiri. Sedalam dalam ia mencari kata di kedalaman mulutnya, tapi lalu telinga siapakah yang kelak akan mendengarnya? Adakah mulut itu meniscayakan telinga untuk mendengar? Atau kita balik: benarkah telinga itu meniscayakan ada mulut yang membawa kata ke dalam lubangnya?

Maka kita sampai kepada hal yang klasik itu: bahasa objektif dalam puisi dan bahasa subjektif dalam puisi. Menciptakan dinamik dari ruang dan rentang. Realitas dibaca dan diolah di sana. Tapi realitas dibaca dan dimanipulir di sana. Sehingga bukan lagi realitas yang kita kenal secara objektif. Tapi realitas yang telah menjadi samar samar: seolah saya kenal ucapan penyair ini. Tapi tentang apa ya? Mulut saya seakan pernah mengucapkannya, tapi telinga saya serasa rasa asing mendengarnya.

Mungkin telinga kita asing mendengar, atau mulut kita belum mengenal dengan baik, apa yang telah dipelintir itu. Semua terbuka kemungkinan dalam bahasa. Tapi rasa asing itu, bukan sama sekali tak kita kenali. Ia hanya seakan jiwa purba kita yang begitu dalam terpendam, tak bernama (dan karena itu terasa asing). Saat sampai kepada kita, bahasa “aneh” itu memberikan sensasi dan kita mulai menimbang nimbang suatu struktur, suatu konvensi, akan sensasi itu.

Mulailah dimainkan kutub objektif dalam bahasa. Dan akhirnya kembali kepada kutub motif dalam diri manusia. Dia yang terbuka dan membuka diri akan menerima aneh dalam bahasa sebagai suatu kegembiraan. Sebagai satu rangsang dari tiap kemungkinan pengucapan. Tapi dia yang tertutup dan menutup diri, akan mengenakan pelabelan bahwa bahasa aneh ini adalah melawan realitas (yang ia kenali), dan karena itu janggal, atas mana ia lalu menolak satu bahasa kesenian dalam konteks yang baru.

Tak sebenarnya baru, atau lebih tepat: bahasa purba yang terpendam dalam dirinya sebagai pikiran dan perasaan yang melekat sebagai gen – karena tak diolah, tak disentuh, terus mengeram sebagai gen dalam bahasa yang tidur, nyaman dalam buaian ketidaktahuannya. Tenggelam di sana sebagai kemungkinan produktif manusia yang gagal sampai kepada mulut dan telinga manusia manapun.

Kita ingin membangkitkan daya daya bahasa yang paling jauh. Kita ingin membangunkan daya daya bahasa yang terpendam semacam itu. Menyambarkannya kepada mulut dan telinga manusia biasa. Mulut dan telinga sang penguasa. Agar rahasia rahasia hidup yang terpendam dalam diri, rahasia rahasia hidup yang terpendam dalam alam ini, menjadi rahasia rahasia yang telah terkuak misterinya. Dan karena itu menjadi kehadiran yang produktif untuk kemanusiaan. []


%d blogger menyukai ini: