Tag Archives: pulau

Menikmati Keunikan Tuktuk – Pulau Samosir

Baca juga kisah sebelumnya : Wisata Ke Air Terjun Sipiso Piso

Oleh Very Barus

USAI berwisata ke Air Terjun Sipiso-Piso, perjalanan kami lanjutkan ke Danau Toba lewat Tongging. Kaki ini rasanya sudah gatal pengen cepat2 nyampe di danau Toba dan pengen nyeburrrrr ke air danau. Apalagi dari ketinggian si Piso-Piso, kami sudah melihat indahnya pemandangan Danau yang dulunya adalah Gunung Toba. Mobil kami laju dengan kecepatan ‘nyantai’. Maklum, kami tidak mau melewatkan momen demi momen pemandangan indah. Tangan gue tidak pernah berhenti mengabadikan pemandangan itu lewat kamera digital Lumix DMC LX3.

Nggak nyampe 30 menit mobil sudah nyampe aja di Desa Tongging. Adem banget! Danau-nya tenang, penduduknya juga tenang. Di pinggir danau gue melihat beberapa warga sedang sibuk mengambil ikan Pora-Pora (pake jala). Konon katanya ikan Pora-Pora hanya berada di Danau Toba. Di Danau atau sungai lain tidak ada. Maka dengan penasaran yang membuncah, gue pun turun ke danau untuk melihat dan menangkap ikan Pora2 yang sangat lincah banget gerakannya.

Ikan Pora2 ukurannya kecil. Ya, mirip kayak anak ikan mujair gitu deh. Kalo menurut candaan warga setempat, ikan Pora2 adalah ikan KUTUKAN! Karena ukurannya nggak bisa besar. Hanya segitu2 saja sampai tua-nya. Ikan Pora2 juga sering dijadikan menu makanan. Ikannya bisa digoreng, di sambal, di arsik juga mantap. (sangkin penasaran, waktu makan di rumah makan, gue langsung pesan ikan Pora2 untuk mencicipin kelezatannya. Ternyata rasanya mirip kayak ikan teri Sibolga)

Puas bermain2 dengan ikan Pora2, perjalanan kami lanjutkan ke Tuktuk-Pulau Samosir. Gue pikir, tadi kami sudah nyampe di Danau Toba, berarti perjalanan berhenti sampai disitu saja. Eh, ternyata perjalanan masih sangat panjang dan melalui jalanan yang terjal dan berliku2. Desa Tongging yang kami singgahi hanyalah ujung dari bagian Danau Toba. Sementara Tuktuk atau Pulau Samosir masih jauh lagi. Letaknya juga di tengah Danau Toba..

Alamaaaakkkkk….!!!!

Mobil dilaju dengan kecepatan ‘nyantai lagi’. Kali ini bukan karena pengen mengabadikan pemandangan. Melainkan karena di kanan kiri jalan sangat membahayakan. Sebelah kiri jurang yang di bawahnya Danau Toba. Sedangkan di sebelah sisi kanan adalah tebing-tebing bebatuan yang rawan longsor. Kebayang saja kalau perjalanan yang kami tempuh disaat musim hujan. Selain jalanan licin, juga khawatir kalau bebatuan longsor dari atas tebing lalu menimpa mobil kami…oh, noooo..!!! (and thanks God semua berjalan lancarrrrr..!!)

Kami melintasi beberapa desa yang sejujurnya sulit gue hafal satu persatu. Yang pasti perjalanan kami tempuh dengan penuh kebingungan. Maklum, disepanjang mata memadang kami banyak menemukan kuburan-kuburan dengan bangunan yang menjulang tinggi. Konon kata si supir(org Batak), monumen kuburan  yang dibangun dengan megahnya melambangkan sebuah ‘kredibilitas’ pemilik kuburan. Bahkan banyak warga yang rela membangun kuburan dengan megahnya demi menghormati leluhur (orangtua) mereka yang meninggal. Meski kehidupan dan juga rumah mereka terlihat begitu memprihatinkan. Tapi mereka rela membangun kuburan megah untuk sebuah penghormatan pada orangtua yang meninggal…. Begitulah tradisi!

Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam, akhirnya kami pun nyampe di Tuktuk, Pulau Samosir. Hari sudah gelap, karena jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Kami langsung mencari penginapan (cottage) disekitar Tuktuk. Berhubung karena malam hari, kami tidak bisa melihat keindahan pemandangan lagi. Semua terlihat gelap dan menyeramkan….dibenak kami masih terbayang deretan kuburan-kuburan yang kami lewati sebelumnya. Ditambah lagi gue bisa melihat mahluk-mahluk di dunia lain….Argghh!!!!!

Perut lapar, kami cari makanan di kafe-kafe yang ada didekat hotel. Ya, kalo di Bali, kafe-kafe kecil tersebut banyak ditemukan dikawasan Poppies di Bali. Kami langsung pesan makanan yang panas dan pedas. Tapi sayang yang tersedia hanya INDOMIE REBUS dan SOTO AYAM saja! Minumnya teh manis panas dan beberapa minuman jus abal-abal (rasanya nggak nendang!)

Kalo dilihat dari jenis makanan yang kami makan, tentu harganya tidak akan melambung tinggi mahalnya. Tapi dasar orang daerah yg suka memanfaatin tamu yang datang, mereka langsung memasang tarif makanan yang cukup mahal. (sekitar 70 ribu saja!) meski, ngedumel, kami langsung bayar dan kembali ke Hotel langsung tidur!

Tuktuk atau Danau Toba dulu terkenal dengan udara yang cukup dingin. Tapi kemaren,  udara dingin itu sudah tidak terasa lagi. Malah gue kegerahan. Wajar kalau akhirnya gue membuka baju saat tidur….maaf kurang adem sih..!!!

Wes ewes ewes..Bamblas angine kemane….!!!!!

KEESOKAN PAGI HARINYA…

Kami langsung menuju resto untuk breakfast. Mohon maaf nih, breakfast-nya nggak layak direkomendasikan. Cuma nasi goreng, nasi putih dan soto. Standart bangetttttt…!!! rasanya juga nggak jelas! Hambar! Kayaknya lebih nendang masakan gue deh!. Nggak apa-apa deh, yang penting mengganjal perut dulu…. trus, kami lanjutkan jalan2 disekitar cottage yang bujubuneeee…indah banget! Kami terkagum-kagum dengan keindahannya. Suasana sangat tenang dan tidak ada gangguan kalo mau bersemedi, mau relax dan mau menenangkan diri. pemandangan disekitar cottage begitu memukau (foto2 sudah saya posting di facebook).

Tapi, bagi gue yang memiliki jiwa petualangan, tempat adem dan tenang seperti ini hanya bisa gue tempati nggak lebih dari 2 hari. Kalo lebih dua hari mungkin gue sudah mati gaya dan bisa Amnesia . maklum, berada di kawasan sepi seperti ini,nggak ada kafe dan tempat2 yang layak dikunjungi lagi membuat otak gue bisa mandeg untuk berkarya.

Puas memoto keindahan Tuktuk, kami lanjut ke kawasan lain. Ke kawasan menjual souvenir dan ada beberapa makam LELUHUR yang katanya sangat bersejarah dan kramat (bukan kramat Jati ato Kramat raya  ya…) ada juga aktraksi patung menari yang disebut SI GALE-GALE… ya, kayak patung orang jawa yang kepalanya goyang-goyang gitu. Tapi kalo patung si Gale-Gale patung yang tangannya menari2 (manortor-istilah Bataknya). Trus kalo kita mau menari bareng si patung juga boleh. Asal, usai nari kita ngasih uang sekedarnya sebagai wujud partisipasi… hmm… seru juga.

Hanya saja, sebelum masuk ke kawasan tersebut, gue sempat kesal sama seorang bapak yang ngaku2 sebagai GUIDE. Dengan senyum SOK RAMAH menyamperin kami, minta menjadi guide ke kawasan jual souvenir dan patung si Gale-gale. Dengan logat Batak sekental susuk cap ENAK! Si bapak bilang begini…

“mau di pandu nggak? Biayanya 50 ribu saja…”

Karena dulu (duluuuuuuu banget..waktu masih SMA ato SMP gue juga lupa), gue pernah ke Tuktuk dan ternyata daya ingat gue masih tajam setajam SILET!. Gue pikir, ngapain pake pemandu wong jaraknya Cuma satu pengkolan doang… buang2 uang saja 5o ribu ngasih ke si bapak itu..

Eh, bener saja.. nggak nyampe pada langkah ke 100, kami sudah nyampe ke kawasan jual SOUVENIR. Anehnya kawasan ini dari taon sebelum masehi sampe taon 2010 yang dijual itu dan itu saja. Nggak perubahan, perkebangan dan nggak ada inovasi baru. MONOTON!!!! Kreatif dong ITO..LAE….!!!!!

Karena yang dilihat nggak ada yang menarik (menurut gue ya…), akhirnya kami Cuma singgah sebentar, kemudian nyari tempat yang layak buat ngopi-ngopi sambil buka laptop. Pengennya sih update cerita perjalanan. Tapi apa daya, internetnya nggak connected!

Ada kisah seru juga sebelum meninggalkan TUKTUK.

Waktu mau ke warung kopi (catat! Warung kopi beneran bukan kafe), mobil kami parkir dengan manisnya. Tapi langsung dihadang opung (nenek) yang sedang asyik nyirih (makan sirih) dibawah pohon rindang. Gue kaget aja! Kirain si nenek patung orang2an. Eh nggak taunya masih punya nyawa. Dia bilang begini…(setelah diartikan dalam bahasa Indonesia..)

“ngapain mobil ditarok disitu?”

“Mau parkir inang…”

“ooo….”

Trus, nggak berapa lama kami pun masuk ke warung Kopi yang hanya bener2 jual KOPI saja. Tidak ada makanan lain yang dijual sebagai teman minum kopi. Parah banget bukan? Tidak kreatif!

Usai minum kopi, mobil yang kami parkir ditodong uang parkir sama si Opung! Dengan lantang dan mirip jagoan tahun 60-an (beda tipis dengan Leila Sari gitu deh gayanya) si Opung minta uang parkir sebesar rp.10.000.. busyettttt…!!! mengalahkan Grand Indonesia nih ongkos parkir..

Akhirnya supir kami ngotot pae bahasa Batak, yang artinya, si supir menanyakan surat parkir si opung. Dia nggak berkutik… edan…!!!! mental penduduk setempat perlu di reformasi deh!!!! Mental PREMAN semua..!!

Pukul 01:00 WIB

Kami meninggalkan TukTuk -Pulau Samosir, dengan naik Ferry menuju Parapat. Ya, penyeberangan dari Pulau samosir ke Parapat memakan waktu 45 menit. Nyampe Parapat, akmi langsung cari makan. Perut sudah kriuk-kriuk…lalu mobil kami laju meninggalkan DANAU TOBA menuju Pematang Sianta,Tebing Tinggi dan mendarat di Hotel JW.Marriot Medan…

Perjalanan yang cukup menarik bagi gue. Berada di Tuktuk dan Parapat membuat gue sadar, kalau masing-masing daerah yang gue kunjungi punya tradisi dan kebiasaan beda-beda. Kalau di Bali penduduknya sadar bahwa sumber mata pencarian mereka lebih dominan di dunia pariwisata, sehingga mereka selalu menghormati, melayani Turis yang datang ke Ranah mereka. bahkan mereka bisa membuat pengunjung betah berlama2 di Bali. Beda dengan kawasan Danau Toba, Pulau Samosir yang dimata gue masih bermental Preman! Belum menyadari kalau kawasan mereka adalah kawasan Wisata. Sehingga mereka sering memalak dan berlaku kasar terhadap tamu yang datang. Suka membuat harga yang dijual seenaknya tanpa kompromi. Sehingga pengunjung merasa selalu was-was jika sedang berada di tempat wisata itu…

HARUS ADA PERUBAHAN

Jika kawasan wisata itu ingin terus berkembang (tidak mati suri) dan semakin banyak dikunjungi para Turis. Bersikap ramah, sopan dan juga membuat harga yang masuk diakal agar informasi dari mulut ke mulut tentang keindahan dan keramahan penduduk setempat itu nyampe kemana-mana… jangan sampai ada kalimat yang berbunyi,” hati-hati kalau datang ke situ….suka memalak dan makanan suka buat harga asal-asalan..”

So, saatnya ada perubahan di kawasan indah itu..!! karena INDAH SAJA TIDAK CUKUP!!! JIKA TIDAK DIBARENGI DENGAN KERAMAHAN. KENYAMANAN DAN FEEL LIKE HOME jika sedang berada disitu….

[]

Iklan

Dimana Rumahku

Oleh Dwi Klik Santosa

foto : foto image.

Di seluas hamparan gurun kehidupan ini, dimana kutemukan rumah? Dari lembah ke lembah. Dari laut ke laut. Dari pulau ke pulau, lelah aku menghitung jarak. Ingin kucari dan kutemukan apa yang ingin kucari. Apa itu cita? Apa itu cinta?

Setiapkali aku terbang, angin rajin membisiki, “Hei disanalah terdapat rumah yang megah dan teduh.” Lekas aku pun terbang ke sana. Dan lalu kutemukan sepi. “Hei angin, kenapa hanya sepi?” .. “Kalau begitu pergilah ke situ.” .. Dan aku pun pergi kesitu. Dan lalu kutemukan sunyi. “Kenapa pula hanya sunyi, angin.” .. Seperti marah, angin menggulung-gulung, mendepak dan menghempasku keras-keras. Tubuhku yang sebatang saja melayang-layang tak tentu. Dan lalu terjatuhlah di sebuah tempat. Suatu yang ramai. Suatu yang seru. Suatu yang penuh pergulatan. Betapa manis-manisnya. Betapa asyik-asyiknya tempat bernama peradaban itu. Dan tapi, kenapa mereka saling sikut, saling tendang, saling adu binasa. “Ah, tempat apa ini!” Lekas kutinggalkan saja tempat itu. Senyap.

Di seluas hamparan gurun kehidupan ini, dimana kutemukan rumah? Dari lembah ke lembah. Dari laut ke laut. Dari pulau ke pulau, lelah aku menghitung jarak. Ingin kucari dan kutemukan apa yang ingin kucari. Apa itu cita? Apa itu cinta?

[]

Zentha
23 Oktober 2009 : 07.o2


Welcome To Sempu Island

Next Episode 5 – The Real Adventure

Baca kisah sebelumnya ( Next Episode 4 : The Real Adventure) : Tragedi di Dalam Mobil Menuju Puncak Bromo

Oleh Very Barus

LUPAKAN sejenak tentang “DUNIA LAIN” yang meski sebenarnya membuat perjalanan kami menjadi sangat berwarna. Mungkin kalo tidak ada kejadian bertemu dengan mahluk-mahluk ‘aneh’ dari Dunia Lain, mungkin kisah ini tidak semenarik seperti yang gue kisah kan sebelumnya… Jadi kami selalu mensyukuri apa yang telah dan pernah kami alami selama dalam perjalanan, meski itu sangat menyeramkan.

Satu hikmah yang kami petik dari kejadian-kejadian yang menyeramkan itu, adalah hubungan pertemanan selama traveling bener-bener sangat KUAT. Toleransi, saling tolong menolong dan juga rasa kekeluargaanya jauh dari yang kami bayangkan. Mungkin, saat mau berangkat Adventure, di hati kami masing-masing ada rasa belum ‘KLIK’ yang dalam. Wajar, karena persahabatan kami juga belum kental-kental banget (for Sari, Miki dan Irman). Tapi sejak MASUK dalam perut pesawat CITILINK hingga KELUAR dari PERUT AIRASIA, baru deh sangat terasa, kalo kami itu KLOP…!!!

Nggak ada yang merasa lebih hebat dari yang lain. Semua saling berbagi. Dan nggak ada yang ngerasa lebih dominan dan masa bodo dengan yang lain. NGGAK ADA…!!! Yang ada justru mulut kami sering KRAM gara-gara kebanyakan ketawa dan saling CELA (bukan saling HINA DINA NISTA…karena kami memang sudah NISTA…!!).

Dari kisah-kisah menyeramkan sebelumnya, nggak ada salahnya kan, gue berkisah tentang PERJALANAN BERAT kami menuju PULAU SEMPU…

Kalo ada istilah BERSAKIT-SAKIT DAHULU-BERSENANG-senang KEMUDIAN…kayaknya ke SEMPU deh cocoknya. Karena untuk mendapatkan keindahan PULAU SEMPU, elo harus gempor-gemporan deh menapakin hutan rimba yang cadas, mendaki, menurun dan banyak lubang-lubang yang bisa membuat nafas elo terlepas di tengah hutan…

Satu hal, kalo ke SEMPU jangan mikirin kostum elo harus branded deh. Misalkan, elo bingung mau pake sepatu merek PRADA ato GUCCI ato merek-merek yang gak penting untuk trecking ke SEMPU…nggak ada artinya! Pake aja sepatu butut elo yang hendak elo musnahkan dari muka bumi ini. Karena setelah pulang dari Sempu, pasti sepatu elo sudah MANGAP dan DEKIL of THE KUMAL…seperti sepatu gue waktu ke Sempu. Sebenarnya sepatu itu sudah lama hendak gue BUANG. Karena sudah UZUR (sudah 7 tahun lamanya). Tapi karena diingatkan sama teman-teman agar pake sepatu yang usang-usang saja, maka sepatu itulah yang gue pake…dan pulang dari Sempu, nasibnya sudah ALMARHUM karena sobek di kanan-kiri. Akhirnya sepatu itu gue KREMASI secepat mungkin!

Perjalanan ke pulau SEMPU sebenarnya lebih nikmat kalo sedang musim kemarau, ‘medan’ tempurnya tidak parah. Kalo sedang musim atau setelah hujan elo menapakin jalan nan terjal itu, alamat elo ngos-ngosan dan sering terpeleset deh…dan juga kaki elo akan penuh dengan lumpur juga akan lecet-lecet kena ranting-ranting pohon kering. Seperti yang kami alami saat ke Sempu. Emang sih, saat kami mulai mengarungi hutan belantara itu hujan sudah berhenti. Tapi sisa-sisa air hujan membuat jalanan sangat LICIN.

Gue, Lia, Mickie, Sari, Irman dan Deddy cukup kewalahan mengarunginya. Meski kami sudah pake pemandu.

(sebenarnya diwajibkan pake pemandu lho, untuk mengarungi hutan belantara menuju Sempu. Karena banyak kejadian-kejadian mistis yang terjadi saat berada di hutan. Misal, ada pengunjung yang HILANG di tengah hutan dan tiba-tiba sudah berada di atas bukit…nah, elo mau mengalami seperti itu..???).

Perjalanan yang sangat berliku-liku dan terjal serta mendaki-daki itu harus kamu hadapi selama kurang lebih 1.5 jam perjalanan. Kalo pun elo letih ya istirahat di tengah hutan. Seperti yang kami alami. Saat letih harus berhenti di hutan. Karena kondisi teman kami Deddy masih belum stabil, wajar kalo dia sering terasa letih dan istirahat. Dan kita pun sengaja menghibur dia dengan guyonan-guyonan NAKAL ala Mickie dan IRMAN.

Dua manusia ini sering berhayal menjadi tokoh jagoan di serial radio BRAHMA KUMBARA. Ada yang jadi MANTILI…ada yang jadi LASMINI. Dan entah nama-nama siapa lagi yang mereka sebutkan. Yang jelas, meski sudah letih berjalan, rasa letih semakin terasa karena kami harus tertawa terpingkal-pingkal…(ya iyalah…tertawakan buang energi yang cukup besar) tapi nggak apa-apa kok…kami very very happy

Parahnya lagi, saat kondisi mulai Drop, guyonan-guyonan iseng pun muncul…seperti, Mickie yang selalu menyebut-nyebut nama MAS BAMBANG… Gue bingung si BAMBANG itu siapa…? Bambang HALIMAH atau Bambang KURIR?

Sedangkan Irman, kalo sudah letih dia langsung bilang, ”Ntar pulangnya kita naik taksi aja ya…” Wakakakakaka…emang ada taksi di hutan…?

Sari si badan mungil juga sering menjadi bahan celaan Mickie dan Irman atau mereka sering TRIO beradegan jagoan silat itu. Lia yang harus rela ‘nyeker’ karena sendal gunungnya nggak kuasa menahan licin akibat lumpur yang nempel di sandalnya. Deddy dalam letihnya selalu nanya ke pak pemandu, ”masih jauh lagi pak…?” dan dengan tanpa dosanya bapak pemandu bilang begini, ”masih ada 3 tanjakan lagi…trus, ada 2 turunan dan setelah itu jalanan mulai rata…”

Mendengar keterangan si bapak Deddy langsung bengong, ”HA…??? MASIH JAUH..?”

Makanya jangan nanya Ded… Wakakkakaka…!!!

Sedangkan gue si model iklan KUKU BIMA SEMPU (wakakaka..ngareepp..!!), sibuk dengan kamera untuk mengabadikan keletihan mereka…jadi JANGAN SALAH YA… meski mereka letih dan lesu, kalo sudah urusan FOTO pasti langsung POSE…bener-bener SADAR KAMERA banget deh…!!!!

Satu hal lagi, kalo dalam perjalanan tiba-tiba semua mulai SENYAP…maka keluar lah JARGON yang menjadi Trademark kami. Kalo gue berteriak SO NICE (baca: so ni-ce). Maka Sari akan membalas dengan SO GOOD (baca: so go-od)…kemudian dengan nafas tersengal-sengal Irman membalas lagi dengan kalimat I TOLD YOU….!!!!! (SO NICE-SO GOOD-I TOLD YOU…!!!).

Satu hal lagi yang bikin kocak saat jiwa raga kami mulai gempor adalah… Ketika alarm HAPE Lia berbunyi dengan suara yang sangat mengganggu, maka dengan isengnya Irman atau Mickie berkata, ”FLEXI MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN…” (sambil diiringi suara Alarm hape Lia..).

Dan 5 menit kemudian alarm itu bunyi lagi, maka Irman pun berkata, ”FLEXI mengucapkan GO XI FAT CHOI…” dan greetings-greetings lainnya… dasar edannnnnn…!!! (Sumpah kocaaaaaakkkkk bangett..!!!).

HINGGA AKHIRNYA…KAMI MELIHAT PULAU SEMPU.

Setelah bersakit-sakit dengan jalan yang terjal, akhirnya kami melihat pulau SEMPU. Wow…so so so beautifulGue membayangkan kalo Sempu mirip dengan pulai PHI-PHI di Thailand (meski lebih bagus Phi-Phi) tapi gue bangga Indonesia punya pulau Sempu…

Saat kami tiba, cukup banyak anak muda campink di pulau itu. Ada juga beberapa bule yang mendirikan tenda. Jadi suasana cukup ramai banget. Sangat indah deh…!!!

Hanya saja, yang namanya pengunjung pulau SEMPU, masih bermental KAMPUNGAN!!!!!!! Karena suka buang sampah sembarangan. Buang botol-botol, kaleng-kaleng dan bekas air mineral dibuang sembarangan. Sehingga terlihat begitu jorok di bibir pantai…. Arrrrrhggghhh…!!!

Kenapa sih tidak ada kesadaran untuk menjaga dan merawat agar pulau nan Indah ini tetap dilestarikan keindahan dan kebersihannya…???????? Jadi itu adalah PR buat kita untuk sama-sama menjaga ke indahan pulau Sempu. Sayang kan kalo pulau yang masih sulit dijangkau ini jadi ditinggalkan pengunjung karena sudah tidak menarik lagi…

Session Foto-Foto

Setelah meletakkan barang-barang…sepatu dibuka (sepatu dekil-dekil banget), lalu terjadilah adegan foto-foto…berenang-berenang dan berpetualangan di sekitar pulau itu…semua terasa Indah. Tidak nyesal deh kalo elo menyediakan waktu elo untuk berkunjung ke Sempu sebelum elo Mati. Hanya saja, dibutuhkan stamina yang kuat dan harus kompak selama dalam perjalanan.

SEMPU BENER-BENER AMPUH MENGHILANGKAN KELETIHAN KAMI………..

WE LOVE THIS ISLAND…!!!!

[]


Bromo, Here I Come

Oleh Very Barus

Gunung Bromo

TANGGAL 23 Juli lalu, gue dan teman-teman mendaki puncak Gunung Bromo. Tawaran untuk turut serta mendaki Gunung Bromo merupakan sebuah tantangan bagi gue—sebenarnya bukan tawaran tapi menawarkan diri untuk ikut serta (huh! murahan banget kamu ver…!)

Dan kebetulan teman-teman setuju gue join with them.

Jadi total mahluk yang akan berangkat berpetualangan ada enam orang. Dua cewek…empat cowok… Kami akan menjelajahi Gunung Bromo dan satu kawasan lagi… pulau Sempu.

Konon katanya, pulau Sempu menjadi salah satu destinasi terbaru dan terbaik di Indonesia. Masuk dalam deretan must visit di salah satu majalah wisata. Wah, hebat juga tuh pulau di tengah pulau (katanya posisi pulau Sempu berada di tengah-tengah pulau juga) nggak tau juga sih… Soalnya gue juga baru kali pertama kesana…itu pun akan datang, bukan sudah datang!

Tapi bocoran dari teman-teman yang sudah pernah datang ke sana, ini pulau bener-bener bagus dan indah banget. Pantainya panjangggggggggg gitu deh. Trus, belom ada hotel dan fasilitas lainnya. Nah, lo…bingung kan???

Itu sebabnya, kenapa gue dan teman-teman tadinya berniat akan mendirikan kemah di pulau tersebut. Bahkan sudah mempersiapkan tenda dan tetek bengek lainnya. Hanya saja, setelah berembuk sampe gempor, akhirnya kita memutuskan kembali…tepatnya meralat hasil meeting pertama. Kalo kami tidak jadi berkemah melainkan akan tidur di rumah-rumah penduduk… Sound nice..!!

Disamping tidak memberat-beratkan bawaan backpack, juga menghindari hujan badai, gemuruh ombak dan topan puting beliung (ini terlalu lebayyyy…). Karena lo tau sendiri kondisi cuaca sangat tidak mematuhi akedahnya… Biasanya Januari sampe Agustus masuk musim kemarau dan September sampe Desember masuk musim hujan… tapi kayaknya rambu-rambu tersebut udah nggak kepake lagi… Sudah out of date katanya… Jadi musim sekarang suka-sukanya saja datang… Mirip kayak jelangkung saja… Datang nggak di undang pergi juga nggak bilang-bilang… Nggak sopan bukan…???

Intinya, dalam adventure nanti, kami akan ke Bromo dulu… Setelah itu ke pulau Sempu… Kedua lokasi itu bener-bener bikin kita berenam nafsu-banget pengen cepat-cepat nyampe ke sana. Rasanya kaki sudah gatal pengen melangkah (gatal bukan karena kudisan ya..!!) .

Sementara body sudah gatal pengen membasuh tubuh ini di pulau Sempu nan indah itu…  Apa persiapan gue untuk menapakin dua objek wisata tersohor itu…? Jawabannya adalah bingung!

Soalnya gue hanya mempersiapkan bekal pakaian dan juga perlengkapan obat-obatan… serta perlengkapan untuk mengabadikan objek wisata yang pemandangannya sadis indahnya… Kamera tentu jangan sampe lupa… Baterenya harus sudah pool…supaya setiap moment bisa diabadikan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (UUD 45 kaleee…)

Meski personal list yang sudah dikumandangkan lewat inbox facebook masing-masing peserta yang pergi…dikirim oleh teman yang faham akan ‘medan perang’ nanti. Namun, gue masih tetap pada kondisi bingung. Kok list-nya banyak banget…?????

Jadi gue minimalis aja deh bawaannya…yang penting bisa “dikordinasikan” dengan baik… Maksud lo…???

Terutama stamina…!!! Stamina gue harus benar-benar prima… Apakah gue membutuhkan suplimen-suplemen yang agak perkasa…? Misal Kuku BimaM150, Energizer (lha…ini kan batere) cap Lang…cap Cobra…cap Bango (ini mah kecap..!!).

Yang jelas gue harus membawa obat penghilang rasa sakit…maklum…gue punya back pain yang sudah meradang (sebel banget nih sama penyakit yang gak mau hijrah dari tulang ekor gue. Nggak sembuh-sembuh cuy!!). Supaya kalo ngangkat yang berat-berat tidak terasa sakit. Takut dikira manja oleh teman-teman…sementara gue kan sudah bubar dari grup manis manja grup (chuii..dangdut banget sih gue!!)… Jadi harus kuat dan kuat…!!!

Gue nulis ini…menjelang H minus 1…yang artinya besok akan berangkat… Jadi gue hanya exciting pengen mengisahkan pengalaman-pengalaman perjalanan gue bersama teman-teman… Kisah yang tentu penuh warna dan penuh gelora (gelora asmaraaa kaleee…) Yang pasti gue akan bertutur di depan laptop gue setelah kembali dari petualangan kami….

Ok, guys….wish me luck ..!!!!!

Pulau Sempu

[]


Tiga Puisi Kecil # 2

Oleh Adhy Rical

Menulis Tubuh

dengan canda kita di sini
menulis tubuh yang tak selesai
lima detik bibirmu lenguh
pecahkan gelas yang kita pakai
minum bersama dalam selimut

Kendari, 2010

[]

Penyetia

hanya malam gigil memanggil
dan dinding gua berbasahan
kaukah yang bertenang itu, penyetia?

Konawe, 2009

[]

Wasiat

jemput aku di pulau ini
dengan kertas dan pena
tujuh senapan membidik tubuhku
besok

Kendari, 2008

[]


Harga Tubuh

Oleh Adhy Rical

seorang perempuan telanjang di samping lelaki
dekat toko elektronik,
lelaki itu masih mengapit keramik
dari desa asaki
: kendari, ruko birahi

tadi malam,
lampu padam cukup lama
ada cerita silsilah keluarga,
petugas lapak, dan wangi tubuh
“kita berpelukan di bawah tenda yang sedikit terbuka”
agar garis tubuh dapat terlihat menghijau

lihatlah karapan kuda di pulau wuna
tak perlu pelana untuk kedua paha yang rona
dan ciuman telinga belakang
cukuplah tanda kian jenjang

mungkin nanti, keramik tak lagi antik dengan wajahmu
sebab peluru lebih desing dari teriakan
tubuh keduanya kaku
hanya lelaki yang gesit memakai celana dan baju
bukankah darah di kepala tak perlu merogoh saku?

[]
Kendari, 2010


Kabaena, Kerbau dan Nikel

Oleh Hary El Tampanovic

Kabaena, pulau eksotik dengan pemandangan indah, yang jarang terungkap, pulau ini unik. Panorama pulau dan desa di dalamnya sangat indah. Laut dangkal kehijauan dengan pasir putih mengkilap terserak mengitari pulau. Di beberapa tempat terdapat terumbu karang yang belum terjamah.

Kabaena atau Kobaena berarti memiliki beras dalam bahasa setempat. Luas pulau ini 86.769 hektar. Ia bisa di tempuh sekitar 4 jam dari kendari, ibu kota Sulawesi tenggara.
Tapi, sepertinya keindahan Kabaena tak akan lama. Serbuan perusahaan tambang yang mengeruk permukaan pulau telah mengancam keberlanjutan fungsi pulau ini. Kabaena merupakan pulau kecil bagian wilayah Kabupaten Bombana. Namun, pulau ini telah di kapling 19 blok konsesi Tambang, yang 16 diantaranya merupakan izin Kuasa Pertambangan, disingkat KP. Luasnya mencapai 200 hektar hingga 500 ha per-satu izin. Sementara sisanya adalah Kontrak Karya (KK), salah satunya milik PT. INCO Tbk.
Kini , terdapat tiga perusahaan yang telah mengantongi izin eksploitasi. Mereka adalah PT. Bily Indonesia, PT. Timah Eksplomin dan PT. Argomorini. Lokasi PT. Argomorini berada di Desa Wulu Kecamatan Talaga Raya dan Buton. Sementara luas lahan PT. Timah 300 ha berada di Keluraha Rahampu’u, Sikeli, Desa Baliara dan Baliara Selatan.

PT. Bily Indonesia telah menimbulkan masalah di sekitar Desa Dongkala, Lambale dan Tapuhaka—tempat pengerukannya. Warga disana mulai mengeluhkan kesulitan air, lahan pertanian mereka rusak dan gagal panen. Sementara warga pesisir mengeluhkan penurunan hasil tangkapan ikan dan tambak. Diantara warga juga timbul saling curiga kepada Kepala Desa karena mendapatkan fasilitas dari perusahaan.

Kekayaan Kabaena

Hingga 2007, Pulau Kabaena dihuni 24.180 jiwa. Sebagian besar suku moronene yang menggantungkan hidupnya sebagai petani, nelayan dan budidaya rumput laut. Pohon aren, Jambu mete, kelapa, coklat dan cengkeh adalah jenis tanaman yang tumbuh subur di pulau ini.

Moronene memang bukan penduduk asli kabaena, tapi ia penduduk tertua di Sulawesi Tenggara. Konon, kedatangan suku Tolaki dari hulu sungai Konawe-eha, membuat mereka bergeser ke selatan, lalu pada masa berikutnya menyebrang ke Pulau Kabaena.

Pulau Kabaena bagian dari kabupaten bombana, yang baru pisah dari Buton, sejak dulu terkenal sebagai penghasil gula merah(Aren), dan Jambu mete, produksinya ratusan ton per-tahun. Luas lahan jambu mete mencapai 9.128 ha, potensi gula aren berasal dari lahan seluas 1.678 ha. Total luas wilayah pertanian termasuk cengkeh, Kopi, Kakao, kelapa dan kemiri adalah 17.585 ha.

Hanya saja, hasil pertanian itu masih dikelola secara tradisional dan didagangkan sebatas Kabaena hingga pulau Buton. Biar begitu, hasil dari penjualan Aren saja, warga mampu membiayai hidupnya. Rata-rata penghasilan petani aren mencapai Rp. 3 juta hingga Rp. 4 juta per-bulan. Sementara di pesisir, petani rumput laut, mampu meraup penghasilan Rp. 6 juta tiap kali panen.

Kata Kabaena berasal dari bahasa Buton, Kobaena berarti pemilik beras. Di masa lalu, Kabaena terkenal produksi beras dan kerbaunya. Ia bahkan dikenal sebagai lumbung beras bagi kesultanan Buton. Setiap tahun, seribu Kabalu(sekitar 50.000 liter) beras disumbangkan untuk Kesultanan Buton.

Pulau ini juga mendapat sebutan Witangkarambau, dalam bahasa Moronene berarti “tanah kerbau” dulunya, banyak kerbau yang hidup di pulau ini. Sampai-sampai kerbau menjadi mahar dalam perkawinan. Pada zaman dahulu, mahar seorang anak gadis sebanyak 12 ekor dan janda 8 ekor kerbau.

Tapi cerita tentang kerbau untuk mahar hanya tinggal satu cerita adat saja, kini bisa diganti sapi atau kambing karena sekarang kerbau sulit di dapat, kecuali kerbau tidak bertuan atau biasa disebut kerbau hutan. Sekarang, cerita kerbau digantikan hiruk pikuk tambang nikel.

Memang, hampir semua wilayah Kabaena mengandung potensi tambang, mulai dari marmer, batu giok, cromit, tembaga dan yang memiliki cadangan cukup besar di perkirakan mencapi 0,23 miliar m3 adalah nikel.

Tak mengherankan kalau pulau Kabaena kini penuh sesak konsesi tambang. Tak kurang 19 perusahan tambang telah meliki izin. Sembilan belas perusahaan itu adalah; PT. INCO Tbk, PT. Bily Indonesia, PT. Multi Sejahtera, PT. Orextend Indonesia, PT. Lentera Dinamika, PT. Timah, PT. Intan Mining Jaya, PT. Margo Karya Mandiri, PT. Tekonindo, PT. Bahana Multi Energi, CV. Bumi Sejahtera, PT. Gerbang Multi Sejahtera, PT. Darma Pahala Mulia, PT. Integra Mining Nusantara, PT. Makmur Lestari Pratama, PT. Lumbini Raya, PT. Arga Morini Indah, PT. Bukit Anugerah Abadi dan PT. Konawe Inti Utama.

Pembicaraan seputar perusahaan-perusahaan itu kini mendominasi pembicaraan disetiap kampung. Mereka membicarakan kesempatan mendapat pekerjaan bagi penduduk lokal, mendapat uang banyak dari ganti rugi lahan, dampak yang sudah dirasakan dan kemungkinan bencana yang akan ditimbulkan. Di media massa lokal, hampir tiap bulan ada pemberitaan tentang tambang Kabaena.

Nikel di Kabaena

Tiga dari Sembilan belas perusahaan pemegang izin KP telah memiliki izin operasi, PT. Bily Indonesia, PT. Timah, dan PT. Argo Morini Indah. Ketiga penambang nikel ini, baru PT. Billy Indonesia (PT. BI) yang telah berproduksi dan melahirkan banyak masalah dengan lingkungan maupun masyarakat.

Pemerintah daerah melalui camat Kabaena Timur sangat mendukung PT. BI, khususnya dalam pembebasan lahan. Camat membuat surat penunjukan No. 641.644/53/2007 tanggal 26 juni 2007 tentang penentuan lokasi jalan menuju pertambangan. Surat ini menunjik 18 orang terdiri dari pegawai kantor camat, Koramil, Polsek, aparat desa dan kelurahan serta tokoh masyarakat dan tokoh adapt untuk menjadi tim pembebasab lahan tersebut. Padahal, Pemda tak pernah memberitahkan warga perihal perijinan KP ini.

PT. BI beroperasi berdasarkan SK Bupati Bombana, Nomor 89 Tahun 2006, Izin KPnya mencakup wilayah 1.300 hektar di kecamatan Kabaena Timur. Cadangan biji nikelnya 2,3 juta ton. Perusahaan ini beralamat di jalan Muara Karang Blok Z 8 Utara No. 16 Jakarta. Rencananya perusahaan memproduksi mulai dari 200 ribu ton ditahun pertama, lalu 300 ribu ton di tahun berikutnya atau rata-rata peningkatan produksinya 100 ribu ton per-tahun hingga cadangan habis dikeruk.

PT. BI benar-benar beroperasi tahun 2007, dengan wilayah kerukan 194 ha, meliputi Desa Dongkala, Lambale dan Tapuhaka. Wilayah konsesinya juga berada di kawasan hutan lindung Gunung Sabampolulu, kawasan resapan air bagi aliran sungai (DAS) Lakambula.

Lain halnya PT. Timah, yang seluruh kawasannya ada di perkebunan warga Kelurahan Rahampu’u, Sikeli, Baliara dan Baliara Selatan. Meskipun sudah mengantongi KP eksploitasi dari bupati Bombana (No. 571 tahun 2007, tanggal 29 November 2007), sampai hari ini perusahaan tersebut belum berproduksi. Perusahaan masih melakukan negosiasi pembebasan lahan untuk areal produksi dan jalan serta ganti rugi tanaman warga.

Warga mengeluhkan PT. BI, proses ganti rugi yang lebih banyak merugikan mereka. Tanah warga hanya dihargai Rp. 1000/ meter, pohon jambu mete dihargai Rp. 100 ribu hingga Rp. 200 ribu . Padahal 1 pohon jambu mete mampu menghasilkan Rp. 160 ribu per-tahunnya. Jika dihitung umur tambang selama 5 tahun, sementara umur jambu mete sejak tanam hingga berbuah adalah 6 tahun, harusnya di bayarkan Rp. 1,76 juta. Sementara ganti rugi tanaman ubi kayu seluas 15x 15 meter hanya dihargai Rp. 400 ribu. Ini semua belum menghitung waktu mengembalikan kesuburan tanah seperti semula.

Yang menyedihkan, sebenarnya bahan galian tambang nikel di pulau ini tak diperlakukan sebagai bahan strategis seperti tercantum dalam UU No. 11 tahun 1967 tentang pertambangan umum. Bijih nikel Kabaena, di gali dan di kapalkan begitu saja untuk diekspor.

Kekayaan tambang ini benar-benar dikelola dengan cara paling primitif, Gali dan jual, bagaikan pengerukan bahan galian C, tak ada pengolahan, tak ada barang semi-jadi, apalagi jadi. Tak ada nilai tambah selain menjual tanah Kabaena.

Penghancuran Kabaena

Bahan galian Nikel di Kabaena, umumnya berada di kawasan hutan. Artinya kawasan hutan kabaena yang selama ini telah rusak, bertambah susut bersama datangnya industri pengerukan ini. Sebelumnya kerusakan hutan disebabkan oleh pengusaha kayu. Pada 1984, konsesi penebangan yang diberikan sekitar 75.050 hektar atau 86% luas daratan Kabaena. Empat belas tahun kemudian, luas hutan tersisa 53. 400 hektar. Setiap tahunnya, ada 1.546, 42 hektar ata 2% hutan Pulau Kabaena rusak.

Tambang lebih parah, ia tak hanya merusak daratan tapi juga kawasan pesisir. Sejak melakukan pengerukan, PT. BI telah merugikan warga pesisir, khususnya kelurahan Lambale dan Desa Dongkala. Mereka kehilangan mata pencaharian sebagai petani rumput laut dan nelayan. Itu terjadi karena pencemaran air yang berasal dari rembesan tanah galian PT. BI. Rembesan tanah galian itu turun dari perbukitan mengalir ke muara salah satu sungai dan menuju laut.

Lumpur berwarna merah di pinggir laut akibat sedimentasi dari bukit, telah menyebabkan rusaknya ratusan hektar budidaya rumput laut di kelurahan Lambale dan Desa Tapuhaka. Banyak petani yang gulung tikar karena menanggung rugi sejak itu. Sementara 20 petani rumput laut di Dusun Bungintowea, Desa Tapuhaka Kabaena Timur menghadapi masalah sejak adanya pelabuhan pengapalan nikel PT. BI, disekitar budidaya rumput laut mereka, penduduk Lambale, Dongkala, Tapuhaka juga sulit mendapatkan ikan kebutuhan setiap hari akibat berkurangnya hasil tangkapan nelayan bubu, jaring, pukat dan alat tangkap lainya.

Sejak PT. BI membuka bukit Bumbuntuwele untuk dikeruk, masyarakat Lambale mulai kekurangan air bersih. Warga terpaksa menggali sumur untuk mendapatkan air bersih. Sebelumnya, mereka mengkonsumsi air sungai Lambale yang berasal dari bukit—yang kini dikeruk PT. BI. Tapi kini, debit sungai Lambale nyaris tak dapat dimanfaatkan lagi. “Airnya berkurang, bahkan kalau hujan, banyak lumpur merah di sungai itu,” kata Amir, petani Lambale.

Masalah lainnya, kondisi kesehatan keluarga menurun. Di Kabaena Timur, gejala ISPA mulai muncul. “selama beberapa bulan ini, Penderita ISPA cenderung meningkat, flu, iritasi mata, batuk-batuk dan penyakit kulit lainya,” kata Al Kasar Mubarak, seorang petugas Puskesmas Kabaena Timur. Hal ini dirasakan sejak kegiatan tambang dimulai dan hilir mudik kendaraan berat yang menimbulkan debu. Tak hanya itu, warga mengeluh debu juga menyebabkan gagal panen, khususnya jambu mete. Pohon terkena debu yang menempel dan menebal dari waktu ke waktu berakibat pohon tidak akan normal.

Sejak perusahaan masuk, saling curiga antar waga juga terjadi, antara keluarga yang bekerja di perusahaan, dengan yang tidak diterima kerja. Konflik juga antara aparat kelurahan dan desa. Kepala desa atau kelurahan dituduh tidak adil karena mendapat fasilitas dari perusahaan. Aparat desa atau kelurahan memanfaatkan jabatannya dengan memberikan Kartu Tanda Penduduk (KTP) kepada warga pendatang yang mencari kerja ke PT. BI. Tak hanya itu, para pencari kerja ini biasanya berhadapan dengan calo-calo pencari kerja. Calo- calo ini biasanya meminta uang pelican sebesar Rp. 150 ribu hingga Rp. 200 ribu untuk pekerjaan yang ditawarkan. Akibat pencaloan ini, warga setempat yang mendapat jatah kerja terpaksa harus gigit jari karena jatahnya diambil oleh calo.

PT. Timah Eksplomin

Sampai saat ini, PT. Timah belum melakukan kegiatan. Menurut beberapa warga PT. Timah sudah memberikan kuasa pengelolaan nikelnya kepada perusahaan lain. Yang ada saat ini, kesibukan Kepala Desa, Camat dan beberapa orang warga yang membujuk warga lainnya mau menjual tanahnya. Mereka menjanjikan akan menerima mereka menjadi karyawan, jika pertambangan dibuka kelak.

PT. Tekonindo

PT. Tekonindo juga belum melakukan penggalian. Ia dikabarkan masih tahapan eksplorasi dan baru mengajukan surat permohonan Kuasa Pertambangan eksploitasi. Bulan September, ada lubang-lubang galian sedalam 6 hingga 14 meter dengan lebar satu meter persegi di areal perkebunan jambu mete milik warga Desa Pongkalaero. Banyak warga memiliki kebun kelapa dan jambu di atas areal konsesi tambang. Perusahaan akan membangun pelabuhan pengapalan di lokasi yang saat ini merupakan jalur transportasi petani dan nelayan.

Pulau Kabaena adalah pulau kecil yang sangat beresiko apabila Tambang beroperasi. Kabaena memiliki proporsi spesies endemik (spesies asli) yang tinggi bila dibandingkan pulau utama. Mempunyai tangkapan air yang relatif kecil, sehingga kebanyakan air dan sedimen hilang. Dari segi budaya, masyarakat yang mendiami pulau ini mempunyai budaya yang berbeda dengan pulau utama. Adanya masukan sosial, ekonomi dan teknologi di pulau ini akan mengganggu kelestarian budaya mereka. Resiko yang paling parah adalah hilang atau tenggelamnya pulau akibat rusaknya daratan dengan lubang-lubang tambang yang ditinggalkan.

Demo Menolak Tambang

Pengerukan nikel PT. BI belum lama berlangsung, namun telah mendatangkan masalah terhadap lingkungan dan masyarakat. Inilah yang membuat warga sekitar tidak tahan, mereka angkat suara melakukan aksi.

Berkali-kali aksi dilakukan. Pada aksi kelima, 24 juli 2008, ratusan warga dari dua kelurahan dan desa di Kabaena Timur mendatangi PT. BI. Mereka kembali mengajukan tuntutan, aksi-aksi sebelumnya tak pernah digubris perusahaan apalagi pemerintah. Dalam tiap aksinya, mereka menuntut pemerintah Bombana tidak lagi memberikan izin pertambangan dalam bentuk apapun. Sebelum ada persetujuan dengan masyarakat.

Menurut mereka, pemerintah Bombana dan Camat Kabena Timur harus bertanggung jawab terhadap munculnya keresahan warga di kecamatan ini akibat kegiatan pertambangan di daerah tersebut. Pada aksi yang kelima itu terdapat kesepakatan untuk pertemuan multi pihak dan tuntutan antara pihak perusahaan, Camat dan Aliansi Masyarakat Kabaena Bersatu (AMKB). Dimana kesepakatan tuntutan ini harus dipenuhi dalam waktu 2×24 jam.

Mereka meminta PT. Bily Indonesia menjamin keselamatan warga Kabaena Timur dengan jalan menghentikan kegiatan penambangan di sekitar bukit Bumbuntuwele tanpa kompromi. Bukit tersebut merupakan kawasan resapan air Kelurahan Lambale dan juga mereklamasi lahan yang sudah dikeruk. Usai waktu yang ditentukan, AMKB menuju PT. BI hendak meminta jawaban atas kesepakatan tuntutan. Setibanya dilokasi, AMKB mendapati pagar betis satuan Dalmas Polres Bombana.

Warga pun bersitegang untuk masuk ke jalan PT. BI karena dilarang oleh Polisi. Pada kesempatan ini Kapolsek, Danramil serta pihak Kecamatan menyatakan bahwa warga tidak berhak menghentikan perusahaan karena telah mendapatkan izin resmi dari pemerintah. Keberpihakan aparat Polisi terhadap perusahaan terlihat jelas. Di dalam kesempatan Ibadah Sholat Jum’at, Kapolsek selaku penceramah menyampaikan pentingnya dan keuntungan bagi warga jika tambang masuk.

Tak cuma PT Bily Indonesia yang ditolak, bersama mahasiswa, warga juga menuntut PT. Timah Eksplomin meninggalkan Kabaena. Aksi mereka tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Kabaena, sudah dua kali aksi penolakan PT. Timah mengeruk wilayah mereka. Hingga tahun 2008, aksi penolakan terus berlangsung.

Sedihnya, pemerintah dan wakil rakyat yang bisu tuli di Bombana, membuat tuntutan-tuntutan dan aksi warga tak terdengar. Seluruh perangkat Negara mulai dari pemerintah daerah hingga DPRD Bombana, seolah-olah tak melihat ada persoalan akibat tambang PT. Bily Indonesia.

Bayangkan, jika pulau Kabaena menjadi kawasan penggalian, dengan sedikitnya 19 perusahaan tambang di sana yang sudah berizin. Apalagi Kabaena belum memiliki tata ruang yang detail dan melindungi masyarakat dan layanan alamnya. MAKA, TENGGELAMNYA KABAENA TINGGAL MENUNGGU WAKTU

Semoga bermanfaat!

Tulisan ini juga dimuat dalam buku “KABAR DARI PULAU”
Sebuah buku terbitan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), yang memuat tulisan-tulisan tentang daya rusak industri Tambang
dari berbagai daerah di Indonesia (Sumatera hingga Papua) …


Karamba

Oleh Adhy Rical

Tak ada lumba-lumba dalam perahu yang kita kunjungi setiap pagi. Hanya jaring kenangan mengail dan sisa kecupan asin nanar. Aku membenci senja sebab kau pasti pulang meski tidak menemuinya. “Lelakiku menunggu di pulau Binongko*. Ada angin kupetik agar pandai besi membuat karamba.”

Kita berjanji bertemu di karamba. “Lelaki hujan, jika angin membenang petang datang, itulah amarah.” Lalu laut meninggi dan ikan-ikan berloncatan. “Baiklah. Aku akan membuat dayung dari sirip-sirip ikan kemudian melaut di tubuhmu.”

Pertemuan itu sulit hanya ingatan yang membuatnya mudah. Mungkin nanti ada laut tawar turun dari matamu lalu hujan begitu jujur menumpahkan kisah yang lain.

Kendari, 2010

* pulau pandai besi di kecamatan wakatobi, dikenal juga dengan nama kepulauan tukang besi.



Mentari Tanak Di Ujung Sagori

Oleh H. Dawat Hitam

Pulang…

Hmm…sampai hari terakhir keberadaanku di sini aku masih sangsi hendak melakukannya. Terus terang, niat ini bukan hendak surut, tetapi lihatlah aku saat ini…mentari telah membawa terang di permukaan tanah, dan aku…masih meregang-regang tak mau bangun.

Pentoa huu..montoe mo oleo di’e..!

Asitagana…perempuan itu sudah berteriak-teriak lagi. Seingatku, nyaris tiap pagi, selama seminggu ini, pekiknya membangunkan seisi rumah. Ayam jago merah yang delapan hari lalu masih kudengar kokoknya membunuh pagi, ternyata tahu diri. Ayam ini sudah pergi, entah sekarang di pekarangan rumah mana. Ayam ini, rupanya tahu, pekerjaan hariannya membangunkan orang diambilalih bibi Saripah.

Saripah, nama perempuan itu. Saudara ayahku, jadi masih dapat kupanggil Tinaate.

Hari ini, sejatinya adalah jadwalku untuk pulang. Aku sudah nyaris sebulan disini. Paket liburan ini seharusnya akan berakhir tiga hari lagi. Jika hari ini aku pergi, maka aku ada waktu sehari untuk membenahi rumah, dan sehari lagi untuk menyusun rencana kerja. Tapi, lihatlah, aku masih saja di sini.

Ini adalah kehadiranku kedua kalinya di pulau ini. Seharusnya, aku sudah bisa menyebut tempat ini kampungku. Jejak darahku berawal dari sini. Ibu pernah cerita padaku tentang darimana dan siapa mbue-mbue-ku. Baik, kakek dan nenek dari ibu dan kakek-nenek dari ayah, semuanya asli pulau ini.

Di kota yang kutinggali sekarang, ayah bertemu ibu. Itu kota rantau ayah, dan disinilah beliau bertemu ibu saat ibu menyelesaikan kuliahnya. Aku yakin ayah tahu persis darimana ibu berasal, maka itu ayah bersikeras harus mendapatkan ibu. Namun, ibu, setahuku adalah orang yang sekeras kakek, jadi aku bisa mengira, pastilah upaya Ayah mendapatkan ibu, bagai hendak mengangkat gunung Sambapolulo. Ah, ibarat yang kugunakan terlalu berlebihan.

Maka dari itu, kata “pulang” menyesatkan pikiranku. Kata itu telah membuat cabang baru di seutas syaraf dikepalaku. Pulang, kemana? Bukankah pulau ini juga rumahku, kampungku. Sayangnya, walau bau darahku beraroma pulau ini, aku pun tidak lahir di sini, tapi di tempat rantau orangtuaku. Jadi hendak pulang kemana aku?

Lihatlah, aku masih disini. Ada yang menahanku, dan aku tahu itu apa…atau tepatnya siapa…

***

“Maaf…tolong aku. Tas ini berat sekali.”

Suara itu seperti berbisik. Tapi, sungguh, aku mendengarnya dengan jelas. Gadis manis itu terlihat lucu saat berusaha menarik travel bag biru lepas dari bibir kapal. Undakan kayu pada geladak, membuat bibir kapal menjadi sangat curam. Perlu tenaga untuk mengayun barang tertentu melaluinya. Dan, gadis disampingku, rupanya tak punya tenaga sebesar dugaanku, untuk sekadar meloloskan travel bag-nya ke atas dermaga.

Lucu, karena tas itu juga tak seberapa besar. Sekali angkat saja, tas itu sudah pindah tempat ke atas dermaga. “Terima kasih. Sekalian yang itu ya…?” Pintanya tulus, tapi membuatku melotot.

Telunjuk mungilnya menunjuk-nunjuk setumpuk tas lainnya yang tersusun rapi di dekat tangga kapal yang mengakses lantai dua. Gila, kenapa gadis ini bepergian dengan barang bawaan sebanyak ini? Apa dia lari dari rumah?

“Itu bawaan kamu semua?” tanyaku, mengkonfirmasi.

Tapi, dijawab dengan anggukan tegas, dan senyum kecil. Bahunya terangkat sedikit, menambah keyakinanku bahwa konfirmasiku benar. Kuturunkan backpack dari pundakku, kugeser travel bag bawaanku menepi, agar tak disenggol orang. Dengan isyarat telunjuk dan keningku, kusampaikan padanya agar menjaga bawaanku sementara aku menolongnya. “Beres,” katanya singkat.

Beranjak aku membantunya menurunkan, sekitar lima tas besar dan dua doz karton, dari geladak kapal ke dermaga. Sigap pula aku mengaturnya, hingga membentuk susunan rapi di atas papan kayu ulin dermaga Sikeli ini. Tetapi orang terlalu banyak lalu-lalang. Landasan dermaga ini terlalu sempit untuk orang sebanyak ini. Tapi, biarlah. Setelah semua bawaannya kuturunkan, selanjutnya adalah urusan gadis ini.

Slayer hitam kuraih dari saku belakangku. Kuseka semua bulir keringat di dahi dan sekitar leher. Barang bawaan gadis itu tidak seberapa berat memang…tapi banyak. Kutepuk-tepuk telapakku, menerbangkan debu dipermukaannya. Lalu, kurasakan, sesuatu yang lunak mampir dipinggangku. Gadis itu sedang menusuk-nusukkan telunjuk mungilnya di bagian itu.

“Ojek tuh. Cepetan…ntar kehabisan.” Gadis itu memintaku dengan nada kalimat seperti telah lama mengenalku. Aku takjub, bengong. Tapi aku segera mengerti.

Tanpa bicara, aku menepuk keras, mengirim isyarat ke beberapa pemuda penyedia jasa ojek motor. Kukibaskan tanganku, memanggil mereka. Empat orang memburu kearahku. Begitu mereka menghampiri kami, tanpa bicara, kutunjukkan tumpukan rapi sejumlah tas, kemudian telunjuk jariku beralih gadis itu. Para pengojek motor itu segera paham, mereka harus bernegosiasi dengan gadis itu untuk tumpukan barang bawaan yang kuperlihatkan.

Kuraih backpack milikku, berikut travel bag, dan bergegas menuju pelataran pelabuhan. Disana mataku menangkap sosok yang aku kenal, Aldy. Dia sepupuku, anak adik ayahku. Sigap sekali anak itu meraih travel bag bawaanku, menaikkannya ke bagian depan motor, lalu mempersilahkan aku duduk dibelakangnya.

Udara sore pemukul wajahku, segar dan…asin. Udara kering seperti ini cocok buat sakit asma ibuku. Beliau harus di sini untuk menyembuhkan sakit bengek yang dideritanya 4 tahun terakhir.

Selepas gerbang, jalan langsung membelah menjadi tiga. Motor Aldy tidak ke kiri, atau ke kanan, tapi lurus menuju ruas jalan yang sisanya tidak rata. Masih kulihat sisa aspal mencabik di beberapa bagian, seketika aku tahu jika dulunya jalan ini juga beraspal. Aku enggan bertanya pada Aldy. Anak ini sedang “gila” merangsek jalan tak rata itu dengan kecepatan lumayan tinggi. Pernah, kepala anak ini kuketok dari belakang saat dia “lupa” merendahkan gas motornya. Dia hanya tertawa, tahu berhasil mengerjaiku.

Setelah Aldy menghajar sejumlah gundukan dan tikungan yang berbatu, memaksa motor tua itu mendaki tanjakan Po’awu, tidak sampai 25 menit, sampailah kami di depan rumah Aldy. Adik ayahku, bibi Saripah menyambutku dengan senyumnya. Garis bibirnya mirip garis bibir ayah. Begitu juga rambutnya. Perempuan paruh baya itu merangkulku, menangis haru, lalu menciumi kedua pipi dan dahiku. Air matanya menempeli mukaku yang berdebu. Tapi dia tak hirau.

Dia begitu sayang padaku. Terakhir dia melihatku, saat aku kelas 5 sekolah dasar. Itu 14 tahun silam. Kunjungannya ke rumah kami tidak pernah lama, seingatku. Dua tahun setelah terakhir kali aku melihatnya, kudengar kabar dia disunting saudara jauh ayah. Mereka menikah dalam suasana sederhana. Ayahku pergi menikahkan mereka, sebab kakek sudah tiada ketika itu. Aku tidak dapat menyertai ayah dan ibu ke pernikahan bibi Saripah, sebab saat itu sekolah tidak sedang libur.

Ayah begitu menyayangi bibi Saripah. Mungkin dikarenakan bibi Saripah satu-satunya adik ayah yang perempuan, dan yang paling dekat dengannya. Sekitar tiga menit bibi Saripah menumpahkan rindunya, bercampur petatah-petitih dalam bahasa Moronene-Tokotua yang kukenali dengan baik. Dahulu, aku tidak tahu sama sekali bahasa ibu orang Moronene ini. Tapi, karena ayah dan ibu kerap menggunakannya sehari-hari, bahasa itu lalu melekat di kepalaku.

Bibi Saripah meminta Aldy merapikah kamar yang hendak kutempati. Rumah bibi ini besar sekali, ada sekitar lima kamar tidur didalamnya. Ruang tengahnya cukup luas, dan ruang tamunya lumayan apik. Semua bahannya kayu, maklum rumah ini berbentuk panggung. Hari beranjak mahgrib saat Aldy kelar membereskan kamarku. Dia berjanji untuk ngobrol denganku selepas lelah dari tubuhku. Anak itu lalu menghilang kekamarnya. Aku harus mandi.

***

Selesai membereskan tubuhku, rasanya segar betul. Kuakui airnya dingin sekali. Kuhampiri bibi Saripah yang sedang menggoreng pisang, lalu kutanyakan dimana paman Syamsuddin.

“Pamanmu, sudah dua hari ke Kabaena Utara. Dia membantu mengurusi tanah kebun adiknya yang diambil orang tambang. Marah sekali pamanmu, saat tahu masalahnya sudah sejauh itu. Dari awal dia kan tidak setuju orang tambang datang kesana,” cerita bibi Saripah.

Kasihan paman. Ini akan jadi perhatianku. “Lalu, kapan rencana paman kembali kesini?”

Bibi Saripah mendorong sepiring pisang goreng kearahku. Segelas kopi lalu diletakkannya pula. Kusesap kopi panas itu, sedikit. “Bibi belum tahu. Bibi hanya berharap urusan itu segera selesai. Jangan berlarut-larut. Biarlah, besok bibi minta Aldy menjenguk ayahnya.”

Jelas bisa kusimak nada sedih dalam suara bibi. Kasihan pula perempuan ini. Sebenarnya, aku tahu, kehidupan paman Syamsuddin sekeluarga lebih dari cukup. Kakek meninggalkan pada bibi sejumlah lahan perkebunan yang subur. Bahkan, ayah mempercayakan pengelolaan lahan kebun miliknya pada mereka. Karenanya mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka ke perguruan tinggi yang bermutu baik. Anak paman dan bibi hanya dua orang. Selain Aldy, yang kini kuliah jurusan perikanan, ada Diana yang juga berkuliah. Mereka berdua kuliah di perguruan tinggi yang sama di Makassar, namun beda jurusan, dan tentunya beda angkatan.

Perhatianku teralih pada suara Aldy dari ruang tengah. Tawa anak itu keras sekali. Sesuatu yang lucu di televisi membuatnya seperti itu. Ku angkat piring dan kopi milikku, bergabung dengan Aldy. Bibi meneruskan memasak. Aku masih harus duduk bicara lagi dengannya, mungkin besok, atau lusa. Dia ingin mendengar aku bercerita tentang kabar ayah dan ibuku.

Beberapa waktu duduk menemani Aldy nonton televisi aku dihampiri bosan. Anak itu begitu menikmati tontonannya, hingga tak hirau pisang gorengnya kuhabiskan. Rumah ini menghadap jalan, tetapi sisi rumah juga memotong sebuah jalan setapak yang menuju mesjid. Dari tempatku duduk, di sisi jendela, dengan jelas kusaksikan mesjid masih ramai orang usai sholat isya. Beberapa anak berlarian sambil tertawa-tawa. Pada bagian kanan mesjid yang bertanah sedikit curam, terlihat jalan menurun disisinya. Sederet rumah berdiri rapi di sisi kanan dan kiri jalan. Jalan-jalan di kampung ini sudah dikerasi, cukup baik dilalui pada musim kemarau, namun cukup merepotkan pada musim hujan.

Perhatianku teralih oleh sebuah seruan yang tipis. Agak keras, namun lirih. Kutelengkan kepala ke sumber suara, ah… gadis di dermaga sore tadi. Kenapa dia ada disini?

“Hei…kenapa pergi begitu saja. Kau tidak sudi menerima terima kasihku,” katanya ketus.

Wah, gadis ini sedang marah rupanya. Aku pura-pura tidak dapat mendengarnya. Telapak tanganku kubuat serupa corong di telingaku, pertanda aku tidak dapat mendengar kata-katanya. Dia mendekat, lalu mengulangi kalimatnya.

“Oh, ya… Maaf, tadi sudah menjelang sore, jadi aku segera kemari,” kataku, berusaha mengelak dari kemarahannya.

“Huh…kenapa bisa sih, membiarkanku berurusan dengan para pengojek itu. Tahu tidak? Susah payah aku berdebat dengan mereka soal upah jasa ojek. Walau kami sama-sama tak puas, mereka tetap mengantarkan aku kemari…huh. Ini semua gara-gara kau!”

Lho, kok… Ini lucu. “Kenapa aku yang salah?”

“Lha iyalah… Jika saja kau membantuku bicara soal upah jasa ojek, tentu tak ada yang harus merasa tidak enak, bukan?” Gadis ini tetap galak.

“Tunggu..tunggu..tunggu dulu..” Aku kini membalik tubuh lalu menopang tanganku di bibir jendela, kepalaku keluar sedikit. “Aku harus jelas dulu… Tapi kan kamu sudah disini. Lalu apanya yang salah?”

“Tetap saja kamu yang salah!” Keras hati benar gadis manis ini. Usai berkata demikian, dia lalu pergi begitu saja. Wah..tidak bisa begini. Enak betul, tiba-tiba datang menghardikku, lalu pergi begitu saja, batinku.

“Hei..tunggu.” Aku bergegas ke pintu, dan siap-siap menuruni tangga. Tapi, ternyata aku hanya berdiri diambang pintu saja. Gadis itu hanya menoleh sedikit, melipat bibir bawahnya, lalu berjalan pergi sambil menghentak kaki ke tanah. Lucu, aku melihatnya begitu. “Tunggu…kataku!”

Gadis itu sesaat berhenti, membalik badan.

“Di.. ma..na.. ru..mah…mu?” tanyaku dengan teriak tertahan, sambil membantu pertanyaanku dengan gerakan tangan.

Yang dijawab oleh gadis itu dengan ancungan tinju mungilnya ke arahku. Lalu pergi. Kulihat punggungnya sampai menghilang. Aduh…sialan, namanya…aku lupa tanya namanya.

Maka, sejak malam itulah, di hari-hari awal keberadaanku di kampung ini, aku berusaha mencari tahu siapa gadis itu. Siapa dia? Dimana rumahnya? Hanya lewat atau memang dia tinggal disini juga? Kenapa dia marah seperti itu…?

Wow…ini akan menarik nantinya, batinku, sambil tersenyum.

***

Hari ketujuh keberadaanku di sini.

Beberapa hari sebelumnya, tak banyak yang menarik untuk dikisahkan. Tapi, aku mulai tertarik dengan rutinitas…ke kebun. Menarik, mungkin itu kata yang lebih tepat, barangkali. Sesuatu yang bahkan tidak pernah kualami dalam 25 tahun perjalanan hidupku. Ke kebun…ohoi..sebutlah aku jenis anak yang dibesarkan dalam tradisi perkotaan..hahahaha.

Walau begitu, mataku tetap awas. Mengamati tiap jengkal kampung, tiap sudutnya, tiap rumahnya, setiap anak gadis yang melintas…kalau-kalau mataku dapat menemukan sosok yang kucari. Gadis itu.

Hari ini, bibi Saripah, berencana menyiangi gulma di sela-sela tanaman sayur. Aku dan Aldy punya rencana lain, membersihkan tumpukan daun kering di sela-sela pohon jambu mete, menumpuknya di satu tempat, lalu membakarnya, memunguti buah metenya. Aldy berencana menimbang hasilnya sepulang kami dari kebun.

Berkebun mete adalah salah satu aktifitas masyarakat disini. Ratusan ton bisa dihasilkan dari kebun-kebun masyarakat setiap pekannya. Para pengumpul jambu benar-benar menguasai jalur distribusi hasil pertanian satu ini, hingga kadang masyarakat pekebun tak bisa memilih dan menerima saja harga yang tiba pada mereka. Ini rentan, menurutku. Seperti biasanya praktek ijon, petani produsenlah yang berada di posisi terbawah dalam rantai distribusi. Marjinal, ya… itu tepatnya.

Satu mata produksi lagi yang juga dikuasai rantai ijon, yakni gula merah. Setahuku, tidak ada gula merah yang segurih gula merah dari pulau ini. Di beberapa wilayah lain di Indonesia, aku tahu, juga memproduksi gula merah, tapi yang memproduksinya dari nira aren, hanya Ternate dan pulau Kabaena. Pandai benar petani di pulau ini meramu nira enau menjadi gula merah. Kendati gurih dan cukup lezat, karena rantai distribusinya juga dikuasai ijon, jadilah harganya rendah sekali.

Aldy tak pandai meramu enau, juga paman Syamsuddin. Maka jadilah, aku tidak tahu bagaimana memproduksi nira enau menjadi bongkahan gula merah. Tapi ini bukan soal, sebab aku bisa mengetahuinya dari para kerabat lain di kampung ini yang mengusahakannya.

Aldy dan aku berhasil mengumpulkan mete dalam dua zak kantong tepung. Aku perkirakan beratnya mendekati 35 kilogram. Sekarang bukan soal berapa hasilnya jika dijual, yang aku pikirkan, bagaimana membawanya ke kampung dari lokasi kebun yang cukup jauh ini. Tentulah bebannya akan sangat berat. Punggungku tak biasa menahan beban yang bergerak. Jika bebannya statis, seberat satu zak kantong tepung, bukan soal yang sukar bagiku. Dahulu aku biasa menggendong carrier, sejenis backpack berukuran besar untuk para pendaki. Yah, aku mantan “gunung-hutan” di kelompok pecinta alam kampus. Jangan tanya sudah berapa ekspedisi yang aku lakukan bersama teman-teman. Tapi, tetap saja, soal berkebun aku tak pandai.

Hampir jam 11 siang, kami sudah selesai. Dengan susah payah, aku dan Aldy akhirnya mencapai kampung dengan punggung diberati zak berisi jambu. Bibi Saripah sudah lebih dulu pulang, dan sekarang dia sedang memasak.

Aldy mengajakku langsung menuju pengumpul. Sementara dia menimbang hasil pungutan jambu tadi, aku menadah angin di beranda rumah si pengumpul. Dengan peluh yang membasahi wajahku, angin yang mampir terasa sejuk, menyegarkan. Slayer kusekakan ke muka dan leher. Peluh seperti ini terakhir membasahiku delapan tahun silam, saat aku dan teman-teman berhasil mencapai pos empat, puncak Cartens di Papua.

Lamat-lamat kudengar Aldy menyebut angka 36 kilogram lebih sedikit. Itu hasil timbangan jambu kami. Jika dikalikan harga per kilonya, 7.000 rupiah, maka Aldy akan mengantongi 252.000 rupiah. Jumlah yang lumayan untuk hari ini. Kulihat Aldy begitu gembira menerima uang itu.

Saat itulah, sudut mataku, menangkap sosok yang kucari-cari enam hari belakangan ini. Gadis itu.

Gadis itu sedang menggandeng ranggi besar dipinggangnya. Berat sekali tampaknya. Beberapa potong ujung sayur menyembul dari wadah itu.

“Hei…kamu!” sergahku. Dia kaget dikejutkan seperti itu. Wajahnya memerah. Wah..dia marah lagi. Aku tersenyum.

“Ada apa?!” Timpalnya galak. Dia berhenti, dan memandangiku tak senang.

“Aku belum tahu namamu.” Kataku.

“Buat apa? Tidak penting.” Masih galak kudengar.

“Tak baik kita sudah bercakap, tapi tak tahu nama. Boleh dong aku tahu namamu.”

“Ah…tak perlu.”

“Hei…aku sudah membantumu. Paling tidak aku harus tahu namamu kan?” Kataku tersenyum, menggodanya.

“Wah…ada pamrih rupanya. Mau kubayar pakai apa, hah?”

“Cukuplah dengan memberitahukan namamu.” Kataku datar saja.

Sebenarnya, untuk sekadar tahu namanya, gampang saja buatku. Tinggal kutanyakan pada Aldy, dan dia pasti memberitahukanku. Itu tak akan kulakukan, biar penasaran saja. Lagi pula nanti Aldy tahu aku menaruh perhatian pada gadis di kampung ini.

“Baiklah kalau itu bisa melunaskan pamrihmu. Aku Aisyah. Puas kau sekarang?” Kini suaranya sudah sedikit rendah, tapi masih galak menurutku.

“Kau tinggal dimana?” Jawabannya kugubris dengan pertanyaan lain.

Gadis itu menjulurkan lidahnya, mengolokku. Sejenak dia angkat dagunya, dengan langkah sedikit disentak, dia hendak berlalu. Aku melompat turun dari undakan tengah tangga. Begitu kujejaki tanah, aku lalu berlari menghampirinya, mensejajarkan langkahku dengan langkahnya.

Gadis itu bergeming sedikit, agak menjauh. Hah, ini bukan saatnya menyerah, bukan?

“Jangan marah ya? Aku kan cuma bertanya. Lagi pula kan baik sekali kamu telah memberitahukannya, bukan begitu Aisyah?” Kataku sambil senyum ramah. “Aku Taufiq.”

“Memangnya aku perlu tahu?” Ketus suaranya.

“Tidak juga. Tapi tak sopan aku tak memperkenalkan diri,” kataku. Lalu aku coba menawarkan bantuan.

Kutarik wadah sayur digandengannnya, lalu kunaikkan ke atas kepalaku. Aisyah sigap sekali hendak protes. Tapi tiap kali tangannya hendak menjangkau wadah itu, sigap pula kuangkat tinggi-tinggi. Beberapa kali berusaha, capek dia. Tak payah berusaha, sebuah cubitan mendarat telak di daging rusukku, memilinnya sedikit. Tentu saja sakitnya bukan main, aku mengaduh, tapi keranjang tetap kuangkat tinggi-tinggi. Tangannya lalu ditarik, dan Aisyah berjalan tenang disisiku, menolak bicara. Mukanya saja yang masih masam.

“Kuantar sampai rumahmu ya?” Pintaku. “Ini karena aku telah membuatmu marah. Aku minta maaf sekali lagi.” Pungkasku.

Gadis itu membuang mukanya, tapi masih sempat kutangkap segaris senyum menarik sudut bibirnya. Dia menyembunyikan senyumnya dariku.

Selebihnya, aku yang lebih banyak “mengoceh”. Aku menemaninya menyusuri jalanan kampung, walau matahari begitu teriknya. Sesekali ocehanku membuatnya tersenyum, sembunyi-sembunyi. Kepalanya lebih banyak tertunduk, menatapi langkah kakinya sendiri. Sesekali kutangkap dehem kecil darinya, menyetujui beberapa topik ocehanku.

Agak lama kemudian, kami sampai disebuah rumah yang apik. Kayu rumahnya tak dicat dibeberapa bagian, sengaja dibiarkan seperti itu. Aku mengikutinya memutar kesamping rumah panggung itu. Ada beranda kecil yang dihubungkan dengan tangga. Aisyah lalu naik, dijenjang ketiga anak tangga dia berhenti, memutar sedikit tubuhnya, lalu menyorongkan tangannya. Dia meminta keranjang yang kubawakan untuknya. Aku memberikannya. Semuanya tanpa bicara sama sekali. Hanya senyum dan deheman. Ini lucu sekali, pikirku.

“Aku pamit dulu ya?” Kataku memecah kebisuan. Sengaja langkahku kupelankan, menunggu reaksi dari kalimatku barusan.

Aku tahu Aisyah berdiri diambang pintu belakang, tak masuk. Dia memperhatikanku, menanti sampai aku meninggalkan pekarangan rumahnya. Aku berjalan mundur, pelan. Sesekali tanganku kulambaikan padanya. Tingkah yang kikuk itu mengundang senyumnya. Dia ingin tertawa. Hemm…manis sekali dia.

“Boleh aku datang lagi?” Kataku sebelum menutup pintu pagar pekarangannya. Spekulatif saja, mudah-mudahan diizinkan.

“Pergilah…” Katanya. Tapi…hei, suaranya kini datar, tidak ketus dan hambar seperti tadi.

Aku lalu menyergahnya, “…tapi aku boleh kesini lagi kan?”

Dia tersenyum, lalu dianggukkan kepalanya keras-keras, tegas. Mukanya memerah, lalu dia masuk. Cepat sekali.

Uhui…! Aku nyaris melompat tinggi karena senang. Begitu girang aku dalam hati. Aku pikir ini baik sekali. Aku bisa lebih mengenal gadis ini beberapa hari ke depan. Pertemuan yang tidak disengaja, membawa aku dalam suasana yang berbeda.

Bukankah, sudah aku katakan, bahwa aku mungkin akan lama di kampung ini?

***

Rembulan bulat penuh, memerah, seperti baru tanak oleh api.

Purnama ini pertanda pertengahan bulan. Itu sama artinya telah sepuluh hari aku di kampung ini. Sehari sebelumnya, seperti yang kami perjanjikan, aku dan Aisyah bertemu, dalam suasana lain, untuk yang pertama kali. Pertemuan yang membangun kesadaran diantara kami berdua, bahwa ada sesuatu yang memang harus diungkapkan, disatukan. Sesungguhnya, kami lebih banyak menghabiskan waktu dengan bercakap pelan dan mencoba menyimpul sulur-sulur yang mulai menjalar-jalar. Berlomba mencari tautan yang pantas. Dipenghabisan waktu, kami berdua, mungkin, telah menyadari bahwa beberapa sulur telah bertaut, tetapi sulur lainnya masih menjalar-jalar liar, mencari-cari.

Kami masih hati-hati. Masih berjaga-jaga, untuk tidak teriris sembilu yang menyambar-nyambar. Ini permulaan. Biasanya, sembilu akan lebih siaga, siap menyambar perasaan, siap menyambar kalbu, jika siapapun tidak hati-hati.

Tentu saja, aku tak mau gadis ini terluka karena ucapanku. Lihatlah dia beberapa hari lalu. Ganasnya tidak alang kepalang, hanya karena aku buru-buru pulang. Aku dihardiknya, aku diberinya tinju ke udara. Tapi kini, aku tahu bahwa dia baru saja menyimpul bunga-bunga yang bermekaran dari atma terdalam, dalam sebuah ikatan yang keras.

Sungguh, tak ada dari kami yang menduga akan terkisah seperti ini. Kedewasaan memberi faham yang begitu berarti yang begitu mudah ditangkap dari tingkah dan kata-kata. Siapapun dalam masa ini, dalam usia ini, harus menangguk romantisme yang terang, membuncah. Jika cinta dapat  kau fahami seperti semudah melihat bunga rumput bermekaran di pagi hari, maka keindahan dapat kau yakini disepanjang hari itu, dan keteduhan dapat kau rangkum di senja hari sisanya. Malam bagimu hanya akan menjelmakan halimun yang memayungi wajah-wajah yang riang dan teduh. Semudah itu. Cukup begitu saja.

Malam ini, kami duduk berdua, bersampingan berdua-dua, di talud pantai Sikeli. Sebelumnya pantai ini, bagiku hanya garis panjang yang curam, tidak landai dan tidak berpasir, yang akan asyik dipakai buat berjalan diatasnya menenangkan urat kaki. Tapi tak apa-apa, karena aku tahu di beberapa tempat lain di pulau ini, ada beberapa pantai lain yang jauh lebih indah.

Tapi jika malam seperti ini, bau angin laut, begitu tajam mencucuk hidung. Angin laut ini membawa dingin yang cukup membuat urat lututku kaku. Tapi, Aisyah disisiku saat ini. Bersama membagi bahagia di bawah rembulan yang makin tanak.

“Ini aneh…” Katanya tiba-tiba, hening yang berangin ini pecah oleh suaranya yang lembut.

“Apanya?” Sambutku. Ini agar aku tenang saja. Kata-katanya barusan, seperti tombak yang mengancam.

“Kejadian ini. Aku bukan gadis yang romantis, kak. Aku tak pandai membangun kepercayaan. Hubunganku sebelumnya hancur karena aku tak bisa berdiri pada keyakinan kami. Aku takut…” Kalimatnya putus. Mendadak aku resah.

“Tapi kisah ini milik kita.” Kataku.

“Aku cuma risau, khawatir…”

Aku bergeser sedikit. Kini tubuhku menyisi sudut tubuhnya. Kupegang pundak gadis itu.

“Tapi aku tidak, Aisyah… Aku tidak khawatir, walau kisahmu akan membayangi kita. Aku justru tidak memikirkan itu. Kepercayaan yang aku bangun bersamamu, bukanlah lukisan di atas pasir. Aku sudah menduga akan mendengar ini, tetapi aku juga yakin kamu akan memberi aku alasan, bahwa batasan yang kita hendak bangun dalam kepercayaan itu akan sekeras baja. Kita inginkan banyak hal, yang aku harap akan jadi warna cerah dalam kisah kita. Aku percaya pada arti sebuah pendirian yang kemudian berubah seiring berjalannya waktu. Tapi kepercayaanku tidak akan kuletakkan di atas dasar labil seperti itu, aku tak mau itu berubah. Karenanya, aku ingin, waktu hanya jadi penonton. Biar dia kecewa, karena kita tidak memberinya peluang, tidak memberinya ruang…” Kugantung kalimatku sejenak, lalu kulanjutkan, “…Aisyah, aku faham…sangat faham. Aku hanya berharap kamu bisa erat menggenggam kepercayaan begitu aku memberikannya.”

“Itulah soalnya, kak… Aku tak pernah becus menjaganya.”

Aku menghela nafas. Kukembalikan posisi tubuhku menghadap ke laut. Bayangan bulan tampak jelas di riak air yang ringan. “Seharusnya kamu akan yakin, begitu aku menyakininya, Aisyah. Aku tidak berusaha memberimu pandangan baru tentang perasaan. Aku juga pernah menarik nurani yang jauh hanya sekadar agar aku punya pandangan yang lain. Tapi tidak berhasil. Aroma cinta itu begitu kuat, uapnya bisa membutakanku, maka aku memilih. Hanya memilih jalan satu-satunya. Cinta itu memberi banyak bayangan semu yang bertebaran di sekeliling bentuk aslinya. Aku menolak memilih bayangannya, Aisyah.”

Gadis itu terdiam. Diamnya itu, aku artikan bahwa dia mulai faham apa yang aku maksudkan. Tidak ada niat sedikitpun untuk mendesakkan keinginanku terhadap perasaannya. Aku benar-benar memberinya ruang yang leluasa untuknya bergerak. Aku tidak hendak egois.

Bagiku, kepercayaan akan memupuk cinta, kejujuran akan menyuburkan cinta, tanggungjawab akan mengikat cinta, penghargaan dan penghormatan akan memperindah cinta. Tetapi, penghianatan akan meracuni cinta, dan kebencian akan membunuh cinta. Cukup itu.

Gadis itu tersenyum diam-diam. Dia menoleh padaku, memandangi wajahku, seperti mencari-cari sesuatu di sana. Merasa telah menemukan yang dicarinya, wajahnya ditundukkannya lagi, tetapi wajahnya masih berhias senyum yang tadi. Senyum keyakinan kah?

Dimiringkannya tubuhnya, lalu pundakku disenggolnya dengan pundaknya. Aku menoleh, dia pun demikian. Pandangan kami bertemu, senyum kami beradu. Mata masing-masing dari kami kini seolah terbersit cahaya kepercayaan yang terang benderang.

Karena Aisyah tidak berkata-kata lagi, aku pun menarik keyakinan atas bahasa tubuhnya. Aku tidak ingin mengecewakan diriku dengan berfikir yang tidak-tidak terhadap prilakunya. Aku senang bahwa dia mengerti.

Jauh berkerlip di laut sana, bagang nelayan. Seperti cahaya kunang-kunang yang mendarat di air. Suasana indah ini karena langit begitu jernih.

Aku mengantarnya pulang. Perjalanan pulang  yang begitu berkesan. Gadis itu merapatkan tubuhnya dibelakangku, dan mengeratkan pelukan tangannya di pinggangku, saat motor yang kami tumpangi aku geber kuat-kuat. Angin yang menyisir di kiri-kanan kami begitu berat.

Sebelum Aisyah naik ke rumahnya, dibawah bayangan pohon, kukecup keningnya. Dibalasnya dengan memelukku sebentar. Bulan begitu terang malam itu, dan aku tidak ingin mengambil resiko, terlihat ayah gadis itu, saat anaknya kukecup.

Malam ini adalah malam awal dari hari-hari berikutnya yang penuh kisah indah, romantis dan berjiwa. Belum pernah aku melalui waktu yang dipenuhi aroma wewangian yang merebak dari sela-sela perasaan kami. Tiada canda yang terlewat, tiada tawa yang terbuai, tiada rasa yang terbius, dan tiada kisah yang tak diceritakan. Semuanya…semuanya menyatu dalam ritme yang teratur.

***

Itulah alasan, mengapa aku enggan bangun pagi ini, dan di pagi-pagi sebelumnya. Aku enggan untuk pulang, walau masa liburanku hampir pungkas. Aku lebih memilih bertahan mendengar gerutuan dan teriakan bibi Saripah di pagi hari, dari pada hendak meninggalkan kampung ini, pulau ini, selekas yang seharusnya.

Aku jadi mengundi banyak hal. Aku makin pias akan pengertian kata ‘pulang’. Kata ini, hilang makna karena terbungkus perasaan yang mengharu-biru. Bodoh tampaknya, jika membuang logika dengan memperturutkan suasana ini.

Tapi tunggu dulu. Ada alasan mengapa aku tidak harus bergegas pulang hari ini. Aku masih ada masa dua hari lagi, dan sungguh…sungguh aku akan gunakan sebaik-baiknya. Kami telah berjanji akan mengulang kisah yang semalam.

Berjanji akan mengarungi bahagia itu bersama. Waktuku sangat pendek, dan aku pasti masih akan menunggu lebih lama untuk kembali melihat wajahnya, tawanya yang renyah, caranya menyembunyikan senyum.

Kami akan ke Sagori hari ini, kami akan menunggu sore di ujung pulau itu. Dan, kami sungguh-sungguh melakukannya.

Saat ini, aku dan Aisyah sedang menanti mentari mundur perlahan-lahan dari tahtanya sedari siang. Perlahan-lahan, mentari turun, membenam di ufuk. Merah sekali. Mentari benar-benar tanak di garis horison.

Kami duduk berdua. Kepala Aisyah menumpangi bahu kananku. Lengan kirinya melingkari tangan kananku. Kami sudah berjanji. Kami menepatinya, bersama, disini, menanak Mentari di ujung Sagori. []

——————————-

Glosarium

Tinaate: bahasa moronene berarti bibi, tante

Mbue: bahasa moronene berarti nenek, eyang

Gunung Sambapolulo: nama sebuah gunung di pulau Kabaena

Travel Bag: semacam tas berbentuk kotak, koper dengan beragam ukuran

Backpack: semacam tas bertali lengan yang kerap disandang dibelakang tubuh

Doz: dozen, ukuran 40 buah, biasanya dari kertas tebal

Slayer: sejenis sapu tangan besar segi tiga/segi empat yang biasanya untuk membebat leher

Bengong: takjub

Bengek: nama penyakit sejenis asma

Po’awu: nama sebuah tanjakan dengan kemiringan ektrim di sekitar kaki gunung Batu Sangia, akses menuju tiga buah kampung

Moronene-Tokotua: nama suku tertua di Sulawesi Tenggara

Zak: kantong berukuran besar; biasanya terbuat dari serat goni, plastik, atau kertas

Carrier: semacam tas besar dalam ukuran liter, biasa digunakan para pendaki gunung

Ranggi: wadah besar berlubang; biasanya terbuat dari bambu, rotan, atau plastik

Tanak: masak

Bagang: rumah bambu atau kayu yang menjulang di tengah laut, tempat nelayan memerangkap ikan

Geber: laju, pacu

Sagori: nama sebuah pulau kecil di mulut selat Spellman, tepat di depan pulau Kabaena; pulau indah berpasir putih

Horison: ufuk, kaki langit, semacam batas antara bumi dan langit


%d blogger menyukai ini: