Tag Archives: penulis

[Buku Baru] Garis Merah di Rijswijk

Garis Merah di Rijswijk, #1

Novel: Garis Merah di Rijswijk (Trilogy #1)

Novel Unggulan Lomba Novel Republika 2012.

GARIS MERAH DI RIJSWIJK

(buku kesatu dari Trilogi Rijswijk)

Penulis: Li Loh

Penerbit: Republika, Juni 2012.

ISBN: 978-602-759-504-0

Harga : Rp. 57.500,-

Dapatkan di Toko Buku Gramedia

atau Hub. Penerbit Republika (Rida) di: 021-7803747 (ext. 103)

Iklan

Pengalaman Menulis Pertama Seorang Penulis: Awy Ameer Qolawun

Catatan dari Diaryku (80) : Pengalaman Pertama Takkan Terlupa

Oleh Awy Ameer Qolawun

Sebenarnya, menjadi seorang penulis itu sama sekali bukan bayangan dan cita-citaku. Memang aku suka membaca sejak kecil, tapi untuk menjadi penulis? Tak sekalipun terlintas.

Awal aku mengambil keputusan untuk total belajar agama (usai lulus SMP) pikiran itu sama sekali tidak ada. Aku masih tetap sebagai penikmat buku saja.

Hingga datang sepucuk surat, oh, bukan surat, tetapi secarik notes lebih tepat, dari pamanku, Syifa’ (adik kandung umiku) yang saat itu berada di Makkah.

Dalam surat itu Khol Syifa’ (aku biasa memanggil paman-paman dan bibi-bibiku dengan panggilan “Khol/Kholah”) menuliskan : “Wy, coba kamu buat coret-coretan dari hasil ngajimu, terus kirimkan ke majalah Al-Mu’tashim”. Hanya itu saja.

Aku hanya memandang notes itu dengan bengong sambil bergumam dalam hati, “apa ya bisa?” selalu itu saja kalimatku setiap melihat hal yang seolah “wah”.

Namun, sejak kecilku, surat-surat dari Khol-ku selalu menjadi motivasi dan inspirasi tersendiri bagiku. Bagiku surat-surat beliau seperti baterei energizer yang dibelasakkan ke punggung boneka kelinci robot.

Akhirnya, iseng saja aku mencoba menulis. Emm.. Mulai dari mana ya? Kata khol-ku di surat, dari ngajimu. Waktu itu aku lagi semangat-semangatnya mengkaji sebuah buku yang sangat inspiring, “Idzotun Nasyi-in” (petuah bagi remaja) karya Syaikh Mustofa Al-Gholayini.

Aku terjemah saja salah satu artikel di buku yang tiap malam sabtu itu dikaji oleh Babaku bersama kami. Aku tulis tangan di selembar kertas buku tulis. Mencoba untuk pertama kali menyusun kata. Iseng saja, kan disuruh nyoba.

Lalu aku salin lagi dengan tulisan tangan yang lebih bagus, masih-masih di kertas buku tulis. Dan aku kirimkan ke Redaksi majalah “Al-Mu’tashim”. Sebuah majalah dakwah terbitan Malang yang bertiras lumayan besar waktu itu, 5000 eksemplar setiap terbit.

Itu adalah tulisan pertamaku, setelah mengirimkannya melalui pos, aku lupa. Sampai 3 bulan berikutnya aku terbengong saat ada sebuah paket berisi kaos bertuliskan “al-mu’tashim” dan menerima majalah dari redaksi.

Tak ada pikiran apapun saat aku membolak-balik halaman majalah itu. Membaca isinya pun tak tertarik, karena itu majalah dewasa, dakwah lagi. Saat itu mah aku masih lebih suka baca majalah Mentari dan Bobo.

Aku lihat-lihat saja judul dan gambarnya, sampai punggungku terasa penat dan aku menyandar pada kursi tepat saat aku membalik halaman terakhir. Saat itulah aku melonjak terbelalak kaget.

Sebuah judul besar, dengan nama tak asing, membuatku menganga tak percaya. “Sabar, bukti orang berakal” oleh Alawy Muhammad Aly.

Hah? Yang bener? Masak tulisanku dimuat? Pertama kali menulis langsung dimuat? Benar-benar tak menyangka. Gembira, bengong, tak yakin, seolah mimpi, dada membesar, kuduk meremang, mata berbinar, nafas naik turun. Itu sensasi yang pertama kali aku rasakan.

Padahal aku sendiri sudah lupa jika pernah menulis dan mengirim tulisanku. Sejak itu, aku mulai terobsesi untuk menulis. Aku coba lagi mengirim ke “Al-Mu’tashim” dan dimuat lagi. Lalu aku mencoba tantangan dengan membidik majalah bertiras nasional, SANTRI, dan tulisanku dimuat lagi.

Sampai-sampai redakturnya jauh-jauh datang dari Jakarta ke Lamongan untuk mencariku dan mewawancarai babaku. Gara-gara tulisan yang menyengat, “mempertanyakan eksistensi pesantren di abad 21”. Padahal saat menulis artikel itu, aku hanya iseng dan tanpa riset apapun.

Namun, setelah itu aku tak lagi mengirim tulisan ke media, sebab di pesantren Babaku kami mendirikan Mading addhiya’. Konsentrasiku pun tercurah semuanya untuk Dhiya’.

Sempat aku mendapat secarik surat dari Khol-ku lagi, “Coba kamu tulis kejadian-kejadian politik di Tanah air, kamu resume dan kirimkan ke Khol”. Tapi kali ini surat itu hanya masuk agendaku, sebab pikiranku telah tersita oleh Addhiya’. Di mading inilah tulisanku terbit berkala, dan kemampuan menulisku terasah (ya jelas lah, wong aku redpel-nya, ya pasti terbit tulisan-tulisannya)

[]

Saat Workshop FLP Saudi Arabia di Makkah pada 2 Desember lalu, Mbak Helvy Tiana Rosa mengajarkan pada kami, bahwa menulis itu sama dengan melihat kungfu, heee..

Maksudnya? Apa hubungannya menulis dengan kungfu? Kita tak akan bisa menulis, begitu pula tak akan bisa kungfu jika hanya melihatnya saja tanpa berlatih dan mencoba. Ingin menjadi penulis tapi tak sekalipun mencoba menulis, maka sama halnya mimpi di siang bolong.

Setidaknya, ada 7 kiat praktis yang diajarkan Mbak Helvy pada kami untuk menjadi penulis :

1. Suka Membaca

2. Mencintai Bahasa

3. Menulis catatan harian

4. Terbiasa surat menyurat

5. Latihan deskripsi dan imajinasi

6. Hobi meneliti, menelaaah, dan berdiskusi.

7. Berani mempublikasi dan memposting tulisan kita.

Ketakutan tulisan kita dikatakan jelek adalah sebuah kesalahan tersendiri. Itu urusan belakang. Justru dari sini kita bisa tahu kelemahan tulisan kita melalui komentar teman-teman kita. Saat ini, salah satu media yang tepat untuk mempublish tulisan cakar ayam kita, ya notes di FB ini.

[]

Adapun tentang hubungan antara membaca dan menulis, tentu saja sangat erat sekali. Karena untuk bisa menulis, dibutuhkan wawasan tersendiri, dan itu tak bisa diperoleh kecuali dengan membaca. Seperti halnya arahan khol-ku padaku “coba tulis hasil ngajimu”.

Oh ya, perlu diingat satu hal, bahwa membaca itu tidak harus dari buku, tetapi juga dari kejadian di sekitar kita, pengalaman kehidupan, masyarakat, dan semesta. Seperti yang kerap aku bilangkan pada sahabat semua.

Namun, terkadang juga kita terbentur dengan kata “bakat”, sehingga membuat kita ragu menulis. Tak perlu resah dengan kata “bakat”, itu nasehat mbak Helvy, sebab kita bisa menjadi penulis hebat, asal punya tekad dan terus latihan serta selalu mengembangkan imajinasi untuk mencari inspirasi.

Hanya diperlukan 10% bakat (atau tidak sama sekali) dan 90% tekad serta latihan untuk menjadi penulis yang sukses, itu kata Pak Muchtar Loebis.

Kalau Kuntowijoyo lain lagi. Kata beliau, ada tiga langkah untuk menjadi penulis. Pertama, menulis. Kedua, menulis. Ketiga, juga menulis.

Jadi menulislah terus, setidaknya, keberanian, itu yang aku dapat dari pengalaman pertamaku menjadi penulis pemula yang tulisan perdana dalam hidup langsung dimuat.

Dan, menempatkan diri sebagai penulis, adalah sama halnya dengan menempatkan namamu dalam keabadian… Immortality .

[]


Pengalaman Menulis Pertama Seorang Penulis: Awy Ameer Qolawun

Catatan dari Diaryku (80) : Pengalaman Pertama Takkan Terlupa

 

Oleh Awy Ameer Qolawun

 

 

Sebenarnya, menjadi seorang penulis itu sama sekali bukan bayangan dan cita-citaku. Memang aku suka membaca sejak kecil, tapi untuk menjadi penulis? Tak sekalipun terlintas.

 

Awal aku mengambil keputusan untuk total belajar agama (usai lulus SMP) pikiran itu sama sekali tidak ada. Aku masih tetap sebagai penikmat buku saja.

 

Hingga datang sepucuk surat, oh, bukan surat, tetapi secarik notes lebih tepat, dari pamanku, Syifa’ (adik kandung umiku) yang saat itu berada di Makkah.

 

Dalam surat itu Khol Syifa’ (aku biasa memanggil paman-paman dan bibi-bibiku dengan panggilan “Khol/Kholah”) menuliskan : “Wy, coba kamu buat coret-coretan dari hasil ngajimu, terus kirimkan ke majalah Al-Mu’tashim”. Hanya itu saja.

 

Aku hanya memandang notes itu dengan bengong sambil bergumam dalam hati, “apa ya bisa?” selalu itu saja kalimatku setiap melihat hal yang seolah “wah”.

 

Namun, sejak kecilku, surat-surat dari Khol-ku selalu menjadi motivasi dan inspirasi tersendiri bagiku. Bagiku surat-surat beliau seperti baterei energizer yang dibelasakkan ke punggung boneka kelinci robot.

 

Akhirnya, iseng saja aku mencoba menulis. Emm.. Mulai dari mana ya? Kata khol-ku di surat, dari ngajimu. Waktu itu aku lagi semangat-semangatnya mengkaji sebuah buku yang sangat inspiring, “Idzotun Nasyi-in” (petuah bagi remaja) karya Syaikh Mustofa Al-Gholayini.

 

Aku terjemah saja salah satu artikel di buku yang tiap malam sabtu itu dikaji oleh Babaku bersama kami. Aku tulis tangan di selembar kertas buku tulis. Mencoba untuk pertama kali menyusun kata. Iseng saja, kan disuruh nyoba.

 

Lalu aku salin lagi dengan tulisan tangan yang lebih bagus, masih-masih di kertas buku tulis. Dan aku kirimkan ke Redaksi majalah “Al-Mu’tashim”. Sebuah majalah dakwah terbitan Malang yang bertiras lumayan besar waktu itu, 5000 eksemplar setiap terbit.

 

Itu adalah tulisan pertamaku, setelah mengirimkannya melalui pos, aku lupa. Sampai 3 bulan berikutnya aku terbengong saat ada sebuah paket berisi kaos bertuliskan “al-mu’tashim” dan menerima majalah dari redaksi.

 

Tak ada pikiran apapun saat aku membolak-balik halaman majalah itu. Membaca isinya pun tak tertarik, karena itu majalah dewasa, dakwah lagi. Saat itu mah aku masih lebih suka baca majalah Mentari dan Bobo.

 

Aku lihat-lihat saja judul dan gambarnya, sampai punggungku terasa penat dan aku menyandar pada kursi tepat saat aku membalik halaman terakhir. Saat itulah aku melonjak terbelalak kaget.

 

Sebuah judul besar, dengan nama tak asing, membuatku menganga tak percaya. “Sabar, bukti orang berakal” oleh Alawy Muhammad Aly.

 

Hah? Yang bener? Masak tulisanku dimuat? Pertama kali menulis langsung dimuat? Benar-benar tak menyangka. Gembira, bengong, tak yakin, seolah mimpi, dada membesar, kuduk meremang, mata berbinar, nafas naik turun. Itu sensasi yang pertama kali aku rasakan.

 

Padahal aku sendiri sudah lupa jika pernah menulis dan mengirim tulisanku. Sejak itu, aku mulai terobsesi untuk menulis. Aku coba lagi mengirim ke “Al-Mu’tashim” dan dimuat lagi. Lalu aku mencoba tantangan dengan membidik majalah bertiras nasional, SANTRI, dan tulisanku dimuat lagi.

 

Sampai-sampai redakturnya jauh-jauh datang dari Jakarta ke Lamongan untuk mencariku dan mewawancarai babaku. Gara-gara tulisan yang menyengat, “mempertanyakan eksistensi pesantren di abad 21”. Padahal saat menulis artikel itu, aku hanya iseng dan tanpa riset apapun.

 

Namun, setelah itu aku tak lagi mengirim tulisan ke media, sebab di pesantren Babaku kami mendirikan Mading addhiya’. Konsentrasiku pun tercurah semuanya untuk Dhiya’.

 

Sempat aku mendapat secarik surat dari Khol-ku lagi, “Coba kamu tulis kejadian-kejadian politik di Tanah air, kamu resume dan kirimkan ke Khol”. Tapi kali ini surat itu hanya masuk agendaku, sebab pikiranku telah tersita oleh Addhiya’. Di mading inilah tulisanku terbit berkala, dan kemampuan menulisku terasah (ya jelas lah, wong aku redpel-nya, ya pasti terbit tulisan-tulisannya)

 

[]

 

Saat Workshop FLP Saudi Arabia di Makkah pada 2 Desember lalu, Mbak Helvy Tiana Rosa mengajarkan pada kami, bahwa menulis itu sama dengan melihat kungfu, heee..

 

Maksudnya? Apa hubungannya menulis dengan kungfu? Kita tak akan bisa menulis, begitu pula tak akan bisa kungfu jika hanya melihatnya saja tanpa berlatih dan mencoba. Ingin menjadi penulis tapi tak sekalipun mencoba menulis, maka sama halnya mimpi di siang bolong.

 

Setidaknya, ada 7 kiat praktis yang diajarkan Mbak Helvy pada kami untuk menjadi penulis :

 

1. Suka Membaca

2. Mencintai Bahasa

3. Menulis catatan harian

4. Terbiasa surat menyurat

5. Latihan deskripsi dan imajinasi

6. Hobi meneliti, menelaaah, dan berdiskusi.

7. Berani mempublikasi dan memposting tulisan kita.

 

Ketakutan tulisan kita dikatakan jelek adalah sebuah kesalahan tersendiri. Itu urusan belakang. Justru dari sini kita bisa tahu kelemahan tulisan kita melalui komentar teman-teman kita. Saat ini, salah satu media yang tepat untuk mempublish tulisan cakar ayam kita, ya notes di FB ini.

 

[]

 

Adapun tentang hubungan antara membaca dan menulis, tentu saja sangat erat sekali. Karena untuk bisa menulis, dibutuhkan wawasan tersendiri, dan itu tak bisa diperoleh kecuali dengan membaca. Seperti halnya arahan khol-ku padaku “coba tulis hasil ngajimu”.

 

Oh ya, perlu diingat satu hal, bahwa membaca itu tidak harus dari buku, tetapi juga dari kejadian di sekitar kita, pengalaman kehidupan, masyarakat, dan semesta. Seperti yang kerap aku bilangkan pada sahabat semua.

 

Namun, terkadang juga kita terbentur dengan kata “bakat”, sehingga membuat kita ragu menulis. Tak perlu resah dengan kata “bakat”, itu nasehat mbak Helvy, sebab kita bisa menjadi penulis hebat, asal punya tekad dan terus latihan serta selalu mengembangkan imajinasi untuk mencari inspirasi.

 

Hanya diperlukan 10% bakat (atau tidak sama sekali) dan 90% tekad serta latihan untuk menjadi penulis yang sukses, itu kata Pak Muchtar Loebis.

 

Kalau Kuntowijoyo lain lagi. Kata beliau, ada tiga langkah untuk menjadi penulis. Pertama, menulis. Kedua, menulis. Ketiga, juga menulis.

 

Jadi menulislah terus, setidaknya, keberanian, itu yang aku dapat dari pengalaman pertamaku menjadi penulis pemula yang tulisan perdana dalam hidup langsung dimuat.

 

Dan, menempatkan diri sebagai penulis, adalah sama halnya dengan menempatkan namamu dalam keabadian… Immortality .

 

[]


Penulis Itu: Pengkhayal Dasyat!

Oleh Ade Anita

Penulis itu pengkhayal dasyat. Ini benar sekali. Dia punya kebebasan untuk menyampaikan sesuatu pada orang lain dan meski yang dia sampaikan itu merupakan sebuah sindiran atau hinaan, dengan khayalannya, ajaibnya, orang yang dihina atau disindir tetap bersedia membaca tulisannya (perkara orang itu marah atau tersinggung, tentu saja kembali pada sifat dan karakter yang berbeda-beda pada tiap-tiap orang). Salah satu media menuangkan khayalan dalam bentuk tulisan yang bisa digunakan adalah tulisan yang berbentuk satire.

Satire adalah gaya bahasa yang berbentuk sindiran terhadap keadaan atau seseorang. Bentuknya bisa berupa ironi, sarkasme dan parodi. Penjelasannya (saya kutip dari wikipedia): Ironi adalah salah satu majas yang berupa sindiran halus. Sedangkan sarkasme adalah majas yang digunakan untuk menyindir atau menyinggung seseorang atau sesuatu (biasanya berupa penghinaan karena rasa kesal atau marah). Sedangkan parodi adalah suatu hasil karya yang dipergunakan untuk memplesetkan, memberikan komentar atas karya asli, judulnya ataupun tentang pengarangnya dengan cara yang lucu atau dengan bahasa satire.

Jika membaca definisi di atas, mungkin bingung ya…? Jadi, berikut ini saya sajikan tiga buah tulisan dari tiga orang teman saya di facebook yang merupakan penulis-penulis hebat untuk urusan menulis satire. Silahkan memilah sendiri mana yang ironi, mana yang sarkasme dan mana yang parodi. Tapi, saya sendiri, daripada berpikir untuk memilah pengelompokan tersebut, saya lebih senang melihat cara para penulis ini dalam memilih kalimat, menulis khayalan mereka dan menuangkannya dalam tulisan. Ada efek yang langsung terasa ketika kita selesai membaca tulisan mereka. Mungkin teringat dengan kenyataan dalam masyarakat dan lalu merasa miris sendiri, tapi bisa juga justru langsung kesal, “Berani banget sih!”…

Apapun, cobalah untuk memperhatikan ketelitian mereka dalam mencari kata yang tepat untuk menuangkan ide tulisannya. Untuk saya pribadi, yang masih penulis pemula, belajar banyak bahwa variasi penempatan kata itu amat penting agar pembaca tetap merasa nyaman meski membaca sebuah satire. Jadi, meski ide yang disampaikan sama untuk beberapa kalimat, tapi penempatan kata yang berbeda membuat sebuah kalimat muncul sebagai kalimat baru. Artinya, jika mau membuat pembaca nyaman dengan tulisan kita, cobalah untuk terus memperkaya kosa kata yang kita miliki agar variasi kalimat kita bisa terasa indah dan renyah dibaca.

Ah…sudahlah. Silahkan baca sajian satire berikut ini (mohon maaf jika ada beberapa hal yang kurang berkenan ya. Yah, namanya juga satire, khayalan dari pemikiran seorang penulis).

Satire ala Denny Herdi :

Seekor Asu yang Jatuh Cinta Kepada Monyet

“Guk…Guk…Guk…”

“Gong…Gong…Gong…”

“Jing…Jing…Jing…”

Dasar Anjing…..!!!!

“Kesepiankah kau, Jing?”

“Ah, tidak, kenapa harus kesepian, Nyet? Asu punya majikan yang baik dan penyayang. Jadi, kenapa harus kesepian.”

“Ah, jangan boong, Jing. Tiap malam kau melolong tidak menggonggong. Melolong berarti sepi, dong.”

“Sotoy lw, Nyet. Tak cium bibirmu yang manyun itu”

“Ih, najis mugoladoh kalo aku dicium kau. Cium ajah majikanmu. Kan dia juga mirip monyet, bedanya, monyet suka mencuri pisang di kebun orang, kalo majikanmu mencuri uang di kebun para monyet.”

“Lah, wong majikanku itu orang ko, masa disama-samain sama primata, wong edan nih, Nyet.”

“Ye, oneng kau, Jing. Tuh monyet liat di koran pagi, terpampang jelas wajah majikanmu berada di headline. Katanya ia ketangkap basah membabat uang di kebun para monyet. Wajahnya pun tak ubah seperti monyet. Mungkin majikanmu di kutuk Sugriwa, mungkin juga dikutuk Hanoman.”

“Alah, wong majikanku bilang, dia lagi jalan-jalan liat pertandingan sepakbola di Amsterdam ko, katanya pengen liat Liga Champion, Madrid ngelawan Ajax.”

“Boong banget lw, Jing, lah, orang majikanmu itu di arak sama orang-orang berbaju coklat ko”

“Au, ahhh, tak gonggongi nihh, tak gagahi, mau? Yang penting aku tresno kamu, sekali cintah, tetep cintah”

“Ih, ora sudi aku…kata manusia bilang tar cintahnya, cintah monyet, cuman cintah-cintahan…seumur jagung”

“Ya sutralah, kalo ndak percaya, toh anjing itu kata manusia adalah mahluk yang paling setia, manusia ajah suka bandingin manusia laen sama anjing, kamu malah gak percaya. Mending aku cintah sama majikanku ajah dehh”

“Ya udah tungguin ajah di luar sampe mampus”

Aumm…

[]

Jati Bening, 24 November 2010

———————-

Sekarang Satire ala Syaiful Alim :

Sajak Nasib Babu

Babu itu membolak-balik tubuhnya

di dipan tanpa kasur.

Ia tak kuasa tidur

padahal seharian dihajar kerjaan dapur.

Tuannya masuk tanpa ketuk.

Sempoyongan mabuk alkohol dan berahi.

Menyingkap selimut pembalut tubuh berisi.

Memeluk dan mematuki tengkuk.

Sekujur tubuh babu gemetar. Juga gentar.

Seperti ada ular menjalari darahnya.

Mungkin kekuatan ghaib merasuk di kedua tangannya.

Ia menolak tubuh tuannya yang kekar.

“Salah kamar, tuan!”

Tak usah banyak petunjuk.

Ayo letakkan bra.

“Tuan Tuhan, bukan?”

Tak usah banyak pertanyaan.

Ayo buka celana.

“Tuan, saya datang bulan!”

Tak usah banyak alasan.

Ayo lebarkan paha.

Tubuh babu masuk di perut tuannya.

Sang babu menjerit takut

tapi tak ada yang menyahut.

Malaikat langit sibuk bergelut

dengan pulpen dan raport baik buruk.

Mencatat siapa detik ini yang sujud yang rukuk.

Bagai nabi Yunus yang ditelan ikan paus.

Babu itu lalu didamparkan di pinggir laut.

Dengan kerongkongan haus.

Babu itu mengadu kepada pemilik denyut.

“Tuhan, saya diperkosa!”

Jangan mengadu.

Itu sudah nasibmu.

Seperti tertindih.

Ia melangkah letih.

Darah di selangkangannya

meleleh pedih perih.

Menorehkan kata-kata di jejak tapak.

“Tuan dan Tuhan sama saja, ternyata!”

Pemerkosa!

[]

——————-

Terakhir, satire ala Ilham Q Moehiddin :

PENGADILAN ZAMBONI

ANGIN pagi di bulan November memecah cahaya mentari yang lembut. Sekumpulan besar orang telah bekerja sejak semalam, menyiapkan sesuatu di lapangan itu. Luas lapangan itu seperempat luas kota Vastivia.

Orang orang yang bekerja sejak semalam itu seperti tak kenal lelah. Ketika subuh beranjak menjemput pagi, diantara mereka ada yang masih setia melubangi tanah, ada yang mendirikan tiang, dan ada yang sabar menggosok alas pualam sebuah altar.

Apakah gerangan yang membuat semua orang ini begitu tergesa mempersiapkan ini semua? Tentu saja ada sesuatu yang mendesak mereka. Ada sebuah peristiwa yang terjadi persis sepekan lalu. Begitu menyita perhatian, sehingga membuhul gunjingan di setiap sudut kota, di sekolah sekolah, di kantor pemerintah, di pasar pasar, dan di setiap pertemuan para perempuan di kelompok rajut.

Bergunjing dilarang di Vastivia. Tapi peristiwa mengejutkan sepekan lalu itu seperti tak kuasa mengunci mulut setiap orang untuk bergunjing…walau mereka melakukannya secara diam diam. Aku mengumpulkan catatan yang terserak dari jalinan peristiwa itu, sehingga kini aku menuliskannya untuk kalian. Sekadar untuk kalian tahu saja, pada apa yang telah terjadi…tepat sepekan dari sekarang.

#

“Tangkap dia! Sekarang…!” Teriak Hakim Jalu. Kedua tangannya tertolak di pinggang. Mukanya berusaha meredam amarah sehingga tampak merah.

Dua petugas pengadilan yang diteriakinya berlompatan…tergesa gesa melewati koridor yang langsung menuju pintu masuk di ruang lobby kantor Hakim Negeri Vastivia. Mereka berdua segera menghubungi satu regu banyaknya untuk melaksanakan perintah sang Hakim.

Tidak ada yang berani menentang perintah seorang hakim di Vastivia ini. Ya, sistem hukum yang digunakan Vastivia berbeda dari kebanyakan kota lainnya. Ada pengaruh sistem hukum khas Aglo-Saxon, namun dicampuri pula dengan sistem timur jauh, dan sedikit sistem buatan warga Vastivia. Entah apa nama sistem hukum model ini…yang jelas semua orang sangat menyukainya dan belum pernah ada keinginan untuk mengamandemennya lewat jasa parlemen.

Di Vastivia, hakim menempati posisi kedua orang yang paling berkuasa sejajar dengan walikota dan ketua parlemen. Sedangkan kekuasaan tertinggi berada pada kekuasaan kolektif di tangan warga Vastivia. Itulah mengapa ada alun alun besar di tengah kota Vastivia ini.

Itulah mengapa ada tribun berjenjang lima melingkar panjang mengelilingi alun alun. Ada pula sebuah panggung besar berisi tiga meja di sisi timur lapangan. Juga ada sebuah panggung kecil, dua kali dua meter luasnya, dan tiga meter tingginya di sisi berlawanan dari panggung besar, di bagian barat lapangan itu. Tak ada atap melungkupi panggang kecil tiga meteran itu…dan, hanya itu yang tidak diatapi. Rerimbunan pokok pokok Ara besar di belakang tribun melingkari semua sudut lapangan, sehingga jika angin laut yang kering berhembus…rasanya masih sejuk di kulit.

Lapangan itu sendiri dikepung empat jalan yang memisahkannya dari kumpulan gedung. Terasing jika terlihat dari udara. Jalan Viesneva memisahkan lapangan itu dari kumpulan kantor pemerintah di sebelah barat. Jalan Liesnabon memotong lapangan itu dari sarana ekonomi warga di sisi utara. Jalan Ulasijan mengiris lapangan itu dari pusat pembelajaran dan kepustakaan di sisi selatan. Dan, jalan Ainnestock meregresi lapangan itu dari kawasan industri di sisi timur.

Tempatnya begitu strategis, bukan? Posisi keempat jalan itu memudahkan warga menuju lapangan ini. Jika akhir pekan datang, ratusan keluarga berleha leha di rerumputan hijau lapangan ini. Mereka menanak kesenangan di sini, memuja keakraban di antara mereka, dan saling bersapaan, sekaligus membiarkan kanak kanak bermain di antara mereka sendiri.

Tak ada status sosial yang layak engkau banggakan begitu memasuki lapangan ini. Walau engkau walikota, hakim, polisi, legislator, bahkan warga biasa, derajatnya akan sama saat kaki mereka menjejaki lapangan ini. Semua setara…semua adalah warga kota Vastivia, yang sama tinggi dan sama rendah.

Dan…mataku saat ini melihat dengan saksama kesibukan yang segera akan usai itu. Kini di selatan lapangan telah tersedia sebuah lubang bergaris tengah setengah meter dan dua meter dalamnya. Lalu ada persis disampingnya sebuah tiang setinggi lima meter berbentuk huruf “L” terbalik, bertali buhul lingkar menjuntai diujungnya. Dan, disamping tiang itu, tampak juga sebuah altar marmer berceruk busur pada bagian atasnya, sebesar lingkar leher orang dewasa. Altar itu berkilat tersentuh cahaya lembut mentari pagi.

#

Seorang bernama Zamboni telah diarak paksa ke depan Hakim Jalu, sepekan yang lalu. Sebuah grup beranggota enam orang telah menyatroni ruang kerjanya pada siang hari, lalu membawanya menghadap sang hakim di lantai dua Kantor Hakim Vastivia. Jendela ruangan yang terbuka menebarkan angin hingga menyambar toga Hakim Jalu. Ujung jubah toganya berkibaran liar, menampar udara kosong.

Zamboni gemetar didepannya. Mata Hakim Jalu seperti benar-benar menelanjanginya saat ini. Malu dan takut, memenuhi hati dan fikirannya serupa prasangka yang menusuk. Air muka Zamboni dipenuhi bingung. Dia begitu gugup saat ini.

“Mengapa kau berani mengurangi jumlah perbendaharaan kota dari jumlahnya sejak kwartal lalu?” Tajam sekali Hakim Jalu melemparkan tuduhan langsung ke muka Zamboni.

Itu jelas sebuah pertanyaan. Tapi tak satu katapun yang keluar dari mulut Zamboni. Dimatanya, Hakim Jalu begitu mengerikan saat ini. Tidak ada orang yang begitu yakin bisa mengeluarkan perintah penangkapan langsung pada pejabat kota. Bahkan, saat dirinya ditangkap pun…dia sedang berada di ruang kerjanya. Sebuah grup tiba tiba mendobrak masuk dan menggelandanganya tanpa bertanya, tanpa bicara.

“Siapa saja yang membantumu me-receck ulang laporan perbendaharaan kota, sehingga auditor menemukan sejumlah keganjilan dalam laporan keuangan itu?” Suara pertanyaaannya masih tajam, namun ujung kalimatnya terdengar mendesis. Zamboni masih saja gagap. Mulutnya bagai terkunci.

“Ayo jawab!” Teriak Hakim Jalu. Membuat Zamboni jatuh terduduk karena takut.

“Aku tidak melakukannya, pak Hakim. Sungguh, aku tidak akan berani melakukannya.” Jawab takut Zamboni. Tergugu, jantungnya berdegup kencang. Dia berdiri kembali, namun kakinya tak pernah tegap sempurna karena gemetar.

“Lalu siapa yang melakukannya!? Hantu!?” Hakim Jalu memajukan kepalanya. Ujung hidungnya kini melampaui ujung terluar meja hakim. “Bukankah seharusnya setiap orang di Vastivia ini mengetahui…bahwa perbendaharaan kota adalah harta warga Vastivia, yang dikumpulkan dari setiap Hast yang disisihkan dari keuntungan perniagaan?”

Suara Hakim Jalu menjalar seperti api, lalu tajam ditatapnya mata Zamboni, sambil mendesis… “Dan, kau…kau telah berlaku culas dengan mengurangi jumlahnya…”

Zamboni makin tercekat. Dia tak mengerti mengapa semua kemalangan ini menimpanya. Tiba tiba dia jadi calon pesakitan di hadapan Hakim Jalu. Padahal karirnya sedang menanjak saat ini. Zamboni dahulu adalah pegawai rendahan di balaikota Vastivia. Tugas pokoknya adalah mengumpulkan dan merestorasi dokumen dokumen kota Vastivia, mengkadaskan, lalu ditata rapi di jejeran almari buku di ruang kepustakaan balaikota. Dia harus membuat dua rangkap untuk setiap dokumen yang dia kadas. Lalu salah satunya dia kirimkan ke gedung kepustakaan Vastivia untuk dibaca orang kebanyakan.

Setelah lima belas tahun bertugas di balaikota, Zamboni mendapat promosi untuk jabatan kepala biro perbendaharaan kota Vastivia. Sebulan setelah naik jabatan, Zamboni menikahi putri imam kuil Rastyan. Kawan kawannya memujinya karena mendapatkan gadis tercantik di Kastien, distrik kecil di bagian tenggara kota Vastivia. Barangkali, Zamboni terlihat sebagai orang jujur sehingga kemudahan dan keberuntungan begitu saja menghampirinya. Zamboni bahkan masih menganggap dirinya orang termujur sekota Vastivia, setelah delapan tahun di posisinya sekarang ini, dan dengan dua putera yang selalu disayanginya. Dalam anggapannya, dia masih orang termujur, sampai di suatu siang satu grup datang menggebahnya, dan menghadapkannya ke depan Hakim Jalu.

Kini, di hadapan Hakim Jalu, Zamboni basah kuyup oleh keringatnya sendiri. Baju dinas yang dipenuhi tanda tanda kehormatan kini lepek karena keringat yang membanjir. Ketiaknya lembab, dahinya panas. Matanya basah.

“Panggil panitera ke mari!” Sekali lagi Hakim Jalu meneriaki seorang petugas. Lehernya diangkat tinggi tinggi pada petugas itu…yang segera saja menuju sebuah interkom. Memencet empat tombol sebagai nomor ekstention di ruangan panitera. Tidak semenit kemudian, seorang tua datang menghadap, tergopoh gopoh, sambil kikuk membetulkan letak kacamatanya.

“Ada apa…Yang Mulia?” Begitu panitera ini bertanya saat di depan Hakim Jalu.

“Eh, ya…segera siapkan proses peradilan untuk orang ini!” Perintah Hakim Jalu. Zamboni tercekat ludahnya sendiri mendengar itu. “Secepatnya…jika bisa waktunya sepekan dari sekarang!”

“Baik, Yang Mulia.” Panitera menyanggupi perintah itu, berbalik dengan segera…meninggalkan ruangan.

Wajah Hakim Jalu berbalik cepat pada Zamboni. Matanya dipicing, seolah hendak menetak tajam pada wajah Zamboni. “Kau…kau akan segera mendapatkan perhitungan atas perbuatanmu. Kau harus bisa membuktikan bahwa dirimu tidak bersalah. Di pengadilan nanti…tak ada pembela yang akan membelamu. Akulah jaksa penuntut sekaligus pemeriksamu. Zamboni…kau harus hati hati menjelaskan perkara ini, harus cermat memilih setiap katamu. Akulah pemeriksamu. Engkau sepenuhnya bergantung padaku dalam pengadilan itu. Jika kau tidak hati hati menyusun kalimatmu…lihatlah, hukuman apa yang akan menimpamu.”

Maka, makin ketakutan Zamboni mendengar ancaman yang dibungkus Hakim Jalu pada nasehatnya itu. Ini persoalan nasibnya, nasib istri dan kedua puteranya. Dia akan menjawab dengan teratur dan tertata. Jangan ada kesalahan. Hidup Zamboni kini…benar benar tergantung dari hasil pemeriksaan Hakim Jalu.

Para petugas di sudut ruangan, yang tadi menggebah Zamboni, mengangguk keras. Mereka tahu sikap keras Hakim Jalu. Selain keras sikapnya, selama ini Hakim Jalu adalah hakim yang baik di mata mereka. Tak ada tugasnya yang luput, sehingga kota Vastivia selalu terjamin keamanannya. Selama 10 tahun terakhir, tak ada perkara yang begitu besar ditangani sang hakim, sampai perkara Zamboni ini mencuat.

Zamboni langsung dibawa ke sel tahanan. Dia seketika mendekam di sana selama sepekan, menunggu nasibnya. Bahkan Zamboni dilarang pulang menemui istri dan kedia puteranya. Alat komunikasinya disita…dia tak bisa menelepon.

#

Walikota Palyska berdebar dan menggerutu. Kabar perihal tergebahnya Zamboni sudah sampai di mejanya pagi esok harinya. Kabar itu dibawa sendiri oleh Petrova, seorang perempuan yang menjabat sebagai Sekretaris Kota Vastivia.

Dengan gugup Petrova berkisah soal pendadakan di ruang kerja Zamboni. Muka Petrova pucat bagai kertas. Dia terhenyak seusai bercerita pada Palyska, pias di sofa depan meja kerja sang walikota.

“Adakah yang kau dengar…Zamboni telah bicara apa pada Hakim Jalu yang pula telah didengar orang banyak?” Tanya Palyska dalam bingung. Petrova menggeleng pelan. “Tak ada yang dikatakannya…Zamboni mirip kucing basah terus menerus digertak Hakim Jalu, sehingga tak banyak bicara. Memang banyak orang di kantor hakim sore itu.”

Palyska mengusap keringat dingin yang tiba tiba membanjiri wajahnya. Hari masih pagi. Ruangan itu berpendingin udara pula, tapi gerah menyergap tubuh Palyska. Kabar pendadakan dan penangkapan atas Zamboni seperti palu yang menghantam kepalanya. Ini sebenarnya ide Patrova, dan mereka kemudian terperangkap pembicaraan yang panjang di bar Uljibeer sepulang rapat malam lima hari lalu. Ada Zamboni juga malam itu. Mereka bicara serius sekali, dan seperti tidak terjadi apapun esok paginya.

Petrova tahu akan datang seorang auditor independen setiap kwartal untuk memeriksa laporan perbendaharaan kota. Lalu Petrova mengabarkan pada Walikota Palyska soal laporan perbendaharaan kota yang cacat…banyak pengeluaran yang sukar ditelusuri, sehingga membuat laporan itu tampak sangat aneh.

Maka lahirlah ide untuk mengajak Zamboni. Lelaki itu sudah bertahun tahun menyerap jutaan lembar dokumen dari kantor balaikota, maka tentu saja Zamboni tahu celah yang aman untuk menukar data dan menjadikan laporan itu terlihat tanpa cacat.

Untuk upayanya Petrova memberi Zamboni uang jasa dalam nilai besar. Sepuluh juta Hast adalah nilai yang sangat besar. Tangan Zamboni bahkan gemetar saat menerima uang itu dari Petrova. Namun…perempuan itu memang pandai menenangkannya dalam rayuan. Tak hanya uang, Petrova bahkan menyerahkan tubuhnya dicumbui Zamboni di hotel paling mewah di kota itu.

“Aku yakin…Zamboni tak akan buka mulut. Dia telah menerima apapun yang memang pantas dia terima. Anda tenang saja, pak Walikota.” Kata Petrova dalam keluh. Ia mencoba menenangkan sang walikota. Dia terus membayangkan saat Zamboni melumat tubuhnya, menekan segala hal disitu, lalu satu jam kemudian…langit seperti terbelah di atas kepalanya. Zamboni memang puas, tapi Petrova tak menikmatinya sama sekali. Satu jam Zamboni menidurinya, tapi dua jam Petrova mandi sambil menangisinya.

Ada yang menjanjikan padanya, Zamboni tak akan leluasa buka mulut.

#

Pagi ini, usai kesibukan semalam yang melelahkan…para warga pekerja bergiliran pulang. Kehadiran mereka segera digantikan ratusan warga yang langsung memenuhi tribun di lapangan itu. Aku langsung berbaur bersama mereka, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Angin hilir membelai semua wajah di lapangan itu. Pada penantian yang merasuk itu, semua orang…setiap warga yang kini hadir di lapangan itu, mulai membuat persepsi masing masing. Mereka sama butanya dengan aku perihal perkara ini. Asumsi mereka bergantian mampir ke telingaku. Pada dasarnya mereka…kami semua sedang menduga duga.

Tiba tiba hening. Tiga orang berjubah toga berjalan masuk. Mereka itu adalah Hakim Jalu, wakil hakim, dan seorang panitera. Hakim Jalu berjalan terburu buru, mengamit ujung jubahnya agar tak kena tanah. Wakil hakim berjalan menyusul di belakangnya. Sedang sang panitera…tampak terlalu kikuk untuk hadir di lapangan ini. Berkali kali tumpukan berkas ditangannya jatuh, atau dia salah tingkah saat angin menerbangkan selebar-dua dokumen perkara di tangannya itu. Hendak mengejar, tapi tak jadi…berpaling sedikit dengan gugup, lalu kembali berniat hendak mengejar barkas yang terbang, tapi diurungkan kembali niatnya itu. Orang orang hanya tersenyum melihat lagaknya yang gugup macam itu.

Hakim Jalu mengambil tempat pada meja di tengah panggung besar. Wakil hakim berposisi di kirinya, dan panitera duduk di kanannya. Bau asin garam terbawa angin dari sisi timur lapangan.

Hakim Jalu menganggukkan kepalanya pada seorang petugas pengadilan. Petugas yang menerima anggukan segera mengerti, lalu berteriak sekeras mungkin. “Perhatian…! Hakim yang Mulia telah memanggil ke hadapan kalian seorang lelaki bernama Zamboni sehubungan perkara atas dugaan penggelapan laporan perbendaharaan kota Vastivia…!” Begitu keras petugas itu berteriak, sampai sampai semua orang harus menoleh padanya.

Di ujung teriakannya itu…dua petugas berpakaian sipir menggandeng di tengah seorang lelaki yang terus tertunduk. Wajahnya basah air mata, bibirnya gemetar keras…sekeras gigil serupa pada lututnya. Dia tak sanggup berjalan sendiri, sehingga harus dipapah macam itu.

Zamboni lalu dinaikkan pada panggung kecil diseberang panggung besar para hakim. Karena ketakutan yang besar, petugas nyaris hampir memukul punggungnya karena dia tak bisa berdiri tegak. “Berdirilah tegak di hadapan hakim!” Teriak petugas di kanan Zamboni. Pemukul sudah terangkat ke udara…buru burulah Zamboni memaksa lututnya tegak.

Kedua petugas lalu turun, dan menunggu di bawah panggung kecil. Zamboni terisak isak, saat melihat istri dan dua puteranya berdiri dalam sedih di sudut tribun paling utara.

“Baiklah…saudara Zamboni.” Hakim Jalu membuka pengadilan rakyat ini. Wajahnya terlihat berkilat dari tempatku duduk. “Anda harus membuktikan sendiri bahwa Anda tidak bersalah dalam dugaan ini. Saya harap pembelaan terhadap diri Anda akan membawa kami semua ini pada terbukanya kebenaran perkara ini.” Hakim Jalu mengeluarkan sapu tangan, menyeka mukanya yang berminyak.

Udara panas dan kering tiba tiba menyergap lapangan ini. Bukan hanya Hakim Jalu saja, hampir semua orang yang duduk di tribun saat ini sudah mengeluhkan hawa panas ini.

“Jabatanku adalah hakim kota, tapi kedudukanku dalam persidangan hanyalah pemeriksa belaka. Hakim tertinggi di pengadilan Vastivia adalah warga. Engkau harus membuktikan pada warga, bahwa bukan engkau pelaku penggelapan uang uang mereka. Jika engkau tak bisa membuktikan pada mereka…maka mereka pulalah yang akan menentukan hukuman padamu.” Terang dan jelas Hakim Jalu memberi taklimat awal.

Seketika warga bersuara riuh di penghujung kalimat Hakim Jalu. Para hakim pemeriksa menunggu dengan sabar sampai semua orang berhenti bersuara.

“Nah, Zamboni apa pembelaanmu atas tuduhan ini…?” Suara Hakim Jalu tajam menusuk.

Zamboni tergugu sesaat. Sebelum dia menjawab pertanyaan Hakim Jalu, matanya dilempar ke ujung paling utara tribun. Wajah istrinya basah, dan kedua puteranya menyembunyikan wajah mereka ke perut ibunya.

“Sungguh…bukan saya pelaku penggelapan itu.” Kata Zamboni dengan wajah memelas. Pandangannya diedar kesemua warga di tribun. Sebaliknya, semua orang mendelik padanya dengan benci kesumat.

“Aku tidak tahu bahwa laporan yang aku buat itu adalah laporan kwartal perbendaharaan kota. Aku hanya melihat angka angka yang telah ditandai, dan…” Zamboni berhenti sejenak, menyeka hidungnya, lalu melanjutkan, “…aku hanya diberi angka pengganti yang harus aku…”

“Zamboni…keraskan suaramu!” Teriak Hakim Jalu dari panggung besar. Wajahnya memerah, terbakar amarah.

Zamboni memandangnya dengan takut. Lalu dagunya diangkat, perutnya menghentak, mendesak udara pada kerongkongannya untuk mendorong suara yang akan dilontarkannya… “Aku hanya diberi angka pengganti yang harus aku tera dengan segera pada dokumen pengganti!” Suara Zamboni membahana ke seluruh penjuru lapangan.

Orang orang tercekat, lalu berbisik bisik kasar.

“Jika benar engkau diperintah melakukan itu…lalu siapa yang memerintahmu?!” Teriak seorang lelaki paruh-baya bertopi pet dari tribun bagian selatan.

Zamboni merutuk dirinya sendiri. Mukanya diangkat pelan pelan, memandang lelaki yang bertanya…lalu pandangannya dialihkan pada Hakim Jalu. Hakim mendelik padanya…dan seperti orang kaget Zamboni berdiri tegak. Mulutnya membuka, “Petrova. Sekretaris kota Vastivia.” Akhirnya nama perempuan itu meluncur dari mulut Zamboni.

Warga terdengar melenguh bersamaan. Seorang ibu muda memaki Zamboni dan melemparinya dengan gayung kayu…yang mendarat telak ke kening Zamboni dan memuncratkan darah.

“Bawa ke panggung Vastivia…seorang yang bernama Petrova!” Perintah Hakim Jalu.

Kembali, dua petugas segera menjemput nama yang disebutkan. Tak lama kemudian, kedua petugas sudah menggelandang seorang perempuan, dan segera dinaikkan ke panggung kecil itu…bersama, bersisian dengan Zamboni.

Pias sekali wajah Petrova. Dia begitu yakin Zamboni tak akan buka mulut…setelah semua diberikannya pada lelaki itu. Keringat membulir…mengaliri pelipisnya yang putih. Tapi wajah Hakim Jalu membuatnya tenang kembali

“Petrova…” Sapa Hakim Jalu, “apa pembelaanmu pada warga Vastivia, perihal tudingan Zamboni yang menyebutmu ikut terlibat?”

“Aku tidak melakukannya…”

Plak! Tangan Zamboni mendarat telak di pipi putih Petrova. Perempuan itu kaget setengah mati. “Kau berbohong, Petrova…kau berbohong!” Tangan Zamboni tepat menunjuk matanya.

“Bukankah kau menyogokku dengan uang sepuluh juta Hast…dan, agar aku tetap tak  buka mulut pada siapapun, engkau bahkan mau aku tiduri…!” Begitu keras lompatan pengakuan Zamboni. Semua orang terkejut.

Semuanya…termasuk seorang perempuan di sudut paling utara tribun. Istri Zamboni nyaris menjerit, lalu buru buru membekap mulutnya sendiri. Dia tak percaya pada ujung ucapan suaminya barusan.

Huuuuuuuuu…!!!

Warga Vastivia memberikan koor panjang ejekan mereka. Bersamaan dengan ejekan yang membuhul amarah, beberapa benda keras beterbangan ke arah panggung kecil tempat Zamboni dan Petrova berdiri. Beberapa benda keras itu luput, tapi beberapa lainnya tak pelak mampir dengan keras ke tubuh dan kepala keduanya. Giliran kini Petrova mengganjal hidungnya. Darah mengalir deras dari kedua lubangnya.

Tak ada peluang bagi kebohongannya, begitu Petrova membatin. Dengan suara sengau, diangkatnya terlunjuk ke udara dan langsung saja, “…Walikota Palyska juga terlibat dalam perkara ini!” Begitu Petrova menyahuti warga dengan keras.

Semua orang kembali tercekat. Tangan tangan terancung yang hendak melayangkan benda keras lainnya ke arah panggung kecil…tiba tiba berhenti. Mata mereka semua kini tertuju pada Hakim Jalu. Seolah olah mata mereka hendak berkata…ayo panggil Walikota Palyska.

“Jemput segera, dan bawa ke hadapan warga Vastivia…lelaki bernama Palyska!” Akhirnya perintah pun keluar. Dua petugas kembali bergegas pergi, lalu muncul tak lama bersama seorang lelaki. Digiring pula ke atas panggung kecil…bersisian bersama Zamboni dan Petrova.

“Palyska…Anda pun harus membela diri atas tudingan Petrova terhadapmu bahwa engkau terlibat pula dalam perkara ini!” Hakim Jalu memberi kesempatan pada Palyska.

Walikota Palyska memutar pandangannya pada ratusan warga Vastivia yang hadir. Ada anak perempuannya duduk diantara warga. Palyska menunduk sebelum memulai bicara.

“Aku tak akan membantah lagi. Rupanya perkara ini akhirnya terbuka juga. Tadinya aku tidak mengira akan secepat ini perkara ini terungkap.” Palyska mendelik pada Petrova di sisi kiri tubuhnya. Wanita itu masih sibuk mendekap hidungnya.

“Aku bertemu Petrova pada malam seusai jadwal perkantoran Balaikota Vastivia. Kami bertemu di Uljibeer dan bercakap biasa saja. Tapi tiba tiba kami masuk pada topik yang membuatku langsung panik. Petrova menyinggung persoalan laporan kwartal perbendaharaan kota…yang menurutnya ganjil. Ini harus diperbaiki, katanya. Dan aku setuju saja, sebab auditor akan datang memeriksa dua hari berselang.”

“Padaku…Petrova menyodor beberapa nama yang sedianya akan diminta mengubah laporan itu. Pada nama nama itu hanya Zamboni yang dianggap cocok, sebab selama 15 tahun bekerja di bagian restorasi dokumen. Maka, Petrova bersedia menemui Zamboni untuk membicarakan hal itu.”

Seorang pemuda berdiri…sehingga membuat Palyska berhenti barang sebentar. “Mengapa kalian tidak biarkan saja auditor memeriksa dan menemukan keanehan itu? Bukankah akan mudah merunut siapa dan dimana letaknya kesalahan itu?”

Palyska mendehem pelan. “Benar. Akan mudah dan lebih sederhana menempuh langkah itu. Tapi ini soal kredibilitas Balaikota. Saya tak mau dianggap tak becus akibat kehilangan perbendaharaan kota…maka itulah usul Petrova saya anggap tepat ketika itu.”

“Zamboni mengerjakan laporan itu dengan cepat. Aku kagum atas hasil kerjanya. Tapi…rupanya pekerjaannya tak cukup teliti dimata auditor. Aku mendapat laporan, bahwa auditor telah menemukan keganjilan pada laporan buatan Zamboni. Ada beberapa rujukan pengeluaran yang disusun tergesa gesa sehingga sejumlah angka mencuat secara aneh. Jika angka angka ini dijumlahkan, maka hasilnya cukup besar. Ada sejumlah jutaan Hast yang tak ada di laporan.”

Lelaki yang bertanya terakhir berteriak gusar. Telunjukkan menuding pada ketiga orang di panggung kecil itu. “Hukum mati mereka!”

Teriakan pemuda itu memicu teriakan serupa dari semua warga Vastivia yang hadir. Mereka seolah olah hendak bergerak menuju panggung kecil…menjemput ketiganya untuk dihukum mati.

Hakim Jalu bersiap hendak mengetuk palu vonis pada ketiganya.

Petrova seketika panik. Kondisi yang tak disangkanya sama sekali. Benar benar diluar dugaannya. Entah mengapa dia terbujuk melakukan itu, padahal dia sendiri tak menerima bagian yang utuh dari yang dijanjikan. Hanya 200 juta Hast yang jatuh ke tangannya, dan masih ada 200 juta Hast lagi yang belum diterimanya.

Petrova melompat turun dari panggung tiga meter itu. Dia tersungkur keras. Wajahnya mencium tanah. Kini cemong darah bercampur tanah memenuhi hidung, dan mulutnya. Petrova seperti kesetanan…langsung bangun dan lari menuju panggung besar. Tangannya mengancung batu yang siap dilemparkan ke Hakim Jalu…mencoba mencegah sang hakim mengetuk palu vonis mati pada mereka.

Jarak Petrova yang makin dekat, membuat Hakim Jalu panik. “Tembak dia…tembak!” Teriaknya panik.

Saat jarak petrova tinggal 20 meter, sesosok tubuh melayang dan menimpa Petrova. Rupanya…si panitera segera melompat dan menerkam Petrova sehingga keduanya jatuh bergulingan. Si panitera kini menduduki tubuh Petrova dan menekan kedua tangan perempuan itu ke tanah…batu besar di tangan Petrova pun lepas.

Dalam isakan tangis yang menjadi jadi…Petrova berujar memelas. “Hukum dia juga…” Telunjuknya menuding Hakim Jalu. “Dia yang menyuruhku… Dia yang menggunakan uang dari perbendaharaan kota untuk dipakainya sendiri. Dia menyuapku untuk membujuk walikota dan melibatkan Zamboni…”

Si panitera seketika gugup. Warga Vastivia diam tak bergerak. Perkataan Petrova bagai pecut yang menghantam anak telinga mereka. Tiba tiba saja…enam petugas sudah mengepung Hakim Jalu.

#

Asin dan kering angin laut berhembus dari sisi timur Vastivia. Kota itu baru saja mengakhiri hidup empat pelaku korupsi.

Angin yang asin dan kering meniup tubuh Zamboni yang mengayun pelan dari tiang gantungan. Manyapukan debu ke wajah Petrova yang dibenam sebatas kepala di liang galian dua meter. Mengirim bau anyir darah dari potongan kepala Palyska yang menggelinding dekat altar marmer.

Mengeringkan tubuh Hakim Jalu yang teronggok mati di sudut panggung besar. Di jubah toganya tercetak sebentuk liang menganga bekas belati salah seorang dari enam petugas yang mengepungnya.

[]

November 2010



Catatan:

Nama karakter dan nama tempat dalam kisah ini adalah fiktif belaka. Kota Vastivia adalah kota imajiner.


%d blogger menyukai ini: