Tag Archives: novel

[Buku Baru] Garis Merah di Rijswijk

Garis Merah di Rijswijk, #1

Novel: Garis Merah di Rijswijk (Trilogy #1)

Novel Unggulan Lomba Novel Republika 2012.

GARIS MERAH DI RIJSWIJK

(buku kesatu dari Trilogi Rijswijk)

Penulis: Li Loh

Penerbit: Republika, Juni 2012.

ISBN: 978-602-759-504-0

Harga : Rp. 57.500,-

Dapatkan di Toko Buku Gramedia

atau Hub. Penerbit Republika (Rida) di: 021-7803747 (ext. 103)

Iklan

[Buku Baru] Taman Api

Judul : TAMAN API

Pengarang : Yonathan Rahardjo

Penerbit: Pustaka Alvabet

Editor : Errena Ike Hendraini

Genre : Novel

Cetakan : I, Mei 2011

Ukuran : 13 x 20 cm

Tebal : 216 cm

ISBN : 978-602-9193-01-5

Harga : Rp. 42.500,-

***

SINOPSIS

Kaum waria mendapat stigma negatif nyaris di semua lingkungan masyarakat. Anggapan sebagai patologi sosial, perusak moral, pencemar kesehatan, dan menyalahi kodrat Tuhan membuat kaum waria terpinggirkan dan terisolasi. Walhasil, kehidupan mereka pun tak banyak diketahui khalayak.

Taman Api menggambarkan sisi-sisi tersembunyi kehidupan waria yang demikian kompleks. Dengan pendekatan kritis, novel ini tak hanya menyuguhkan “abnormalitas” kehidupan waria dari beragam segi, tapi juga menguak praktik-praktik picik dan ilegal yang menempatkan kaum waria sebagai obyek penderita: misi rahasia berkedok agama untuk melenyapkan waria melalui bisnis gelap bedah kelamin berikut segenap teknologi turutannya. Bagaimanakah praktik picik itu berlangsung dan siapakah pihak-pihak yang terlibat di dalamnya?

Dengan gaya penulisan yang khas dipadu pendekatan investigatif dan konspiratif, rahasia-rahasia yang menyembul dari novel ini ihwal sisi-sisi kabur kehidupan waria dengan segudang problematikanya akan membuat Anda terperangah tiada terkira.

***

ENDORSEMENT

“Novel ini penting untuk membongkar berbagai kemungkinan sisi patologis dari bentuk-bentuk kesalehan religius yang kerap naif, munafik dan berbahaya.” — Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto, Guru Besar Filsafat Universitas Parahyangan

“Dengan gaya filmis-jurnalistik, Yonathan … berhasil mengguncang kenyamanan pastoral pembaca, dengan menyuguhkan detail peristiwa operasi kelamin sebagai kekayaan sekaligus keunikan novel ini. Selamat!” — Arie MP Tamba, Sastrawan, Redaktur Budaya Jurnal Nasional

“… bisa menjadi pintu masuk untuk membuka ‘Kotak Pandora’ kisi-kisi hidup yang sering tertutup oleh tabir etika dan moral.” — Edy A. Effendi, Penyair dan Journalist

“… Sungguh suatu novel yang fantastis dan sangat menarik untuk diapresiasi lebih jauh.” — Mansur Ga’ga, M.A., Dosen Ilmu-Ilmu Sastra

“Novel ini mengangkat persoalan yang jarang disentuh dalam sastra Indonesia, yakni tentang dunia waria dan kaum dokter urban dengan segala konfliknya yang dikaitkan dengan fenomena pemaksaan klaim kebenaran oleh kelompok tertentu dengan menistakan kelompok lain. Percobaan yang berani dan sangat menarik.” — Anton Kurnia, Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010

“Kisah waria dengan berbagai problem sosialnya lebih sering dijadikan lelucon, jarang yang mengisahkan bagaimana sesungguhnya ’ketegangan’ perubahan orientasi seksual serta ’ketegangan’ perubahan tubuh dan fungsinya. Dalam novel ini, Yonathan menyuguhkan sebuah kisah yang mewakili keingintahuan publik tentang apa yang ada di balik kehidupan mereka….” — Cok Sawitri, Pemenang Anugerah Dharmawangsa 2010 untuk Prosa

“Novel yang patut disimak. Perpaduan problematika sosial dan kesehatan seperti HIV/AIDS dan kelainan genetik, diramu secara menarik dengan pendekatan seni dan ilmiah. Kritis sekaligus bermanfaat memberikan pendidikan bagi masyarakat.” — Dr. Hari Basuki Notobroto, dr., M.Kes., Departemen Biostatistika dan Kependudukan FKM Universitas Airlangga

“Imaginasi penulis buku ini saya pikir termasuk ajaib. Ia berbicara banyak hal, menceritakan banyak hal, yang sebenarnya bukan dunianya. Dan roh penulis masuk pada dunia yang tidak diakrabinya setiap hari. Tentang issue silikon, kekerasan pada Waria secara mental, operasi kelamin, sampai issue munculnya orang orang yang kontra dengan Waria dengan dalil agama. Saya harap buku ini menjadi satu dari sekian referensi dari penokohan Waria di beberapa tulisan sejenis …” — Merlyn Sopjan, Penulis buku Jangan Lihat Kelaminku dan Perempuan Tanpa V

“Dalam novel Taman Api kita yang waria atau kenal atau dekat dengan kawan-kawan waria akan mengenali dalam fiksi suatu dunia kehidupan yang sayangnya dalam kenyataannya pun masih penuh kekerasan dan diskriminasi hanya karena perbedaan ekspresi dan identitas gender. Kita sambut dengan besar hati terbitnya novel ini, yang merupakan satu lagi langkah maju menuju suatu dunia di mana perbedaan tidak akan lagi menjadi dasar kekerasan dan diskriminasi.” — Dédé Oetomo, Ketua Dewan Pengurus, GAYa NUSANTARA

“Lewat novel ini, kita makin dicelikkan up and down kisah galang gulung waria di negeri ini. Ada thriller, ada god’s spy yang bergemeretak hendak menujah keberadaan waria, sidik medik dan juga futuristik. Dengan alur tarik-ulur yang dentang debar, rasanya penulis berhasil memanggungkan teater kompleksitas rumpun “kelamin ketiga” ini.” — Soffa Ihsan, Penulis

“… Setelah novel “Lanang” meraih penghargaan di Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006, saya berharap penulis yang pernah mengenyam studi dokter hewan ini akan lebih jauh mengungkap berbagai ulah dan perilaku medis di Indonesia, bahkan di dunia. Bukan menyoal hal normatif, tapi berbicara tentang realitas sosial yang ada. Kali ini, Yonathan, lewat “Taman Api”, menyingkap fenomena kaum waria yang orang awam hanya paham di bagian permukaannya saja. Sebagaimana novel, setelah penulisnya menyibak, …” — Sihar Ramses Simatupang, Sastrawan, Pemenang Hadiah Sastra Metropoli D’Asia Khatulistiwa 2009

“Konspirasi dalam novel ini merupakan realita bisnis yang ada dalam kehidupan, penderitaan manusia diacak-acak dan dicari kelemahannya sehingga mau dibujuk untuk mengikuti keinginan para konspirator; kelainan fisik, psikis kekuatan ilmu ilmiah kedokteran-farmasi dibalut keuntungan mengesampingkan etika dan kepatutan digunakan sebagai tameng bahkan kepercayaan pun dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan itu; suatu hal yang menjijikkan yang perlu diketahui bersama!” — Drh. Suli Teruli Sitepu, Wakil Sekretaris Jenderal PB PDHI (Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia) periode 2006-2010

“… Taman Api menggedor-gedor kejujuran akal sehat dan hati sanubari publik pembaca, mungkinkah rezim berkuasa dan negara tidak berperan bahkan tidak tahu-menahu sindikat konspirasi mafia humanika itu? …” — Toga Tambunan, Penyair, Salah Seorang Pendiri Paguyuban Kebudayaan Rakyat Indonesia (PAKRI)

***

BIODATA PENULIS

Yonathan Rahardjo, lahir di Bojonegoro, adalah pengarang novel Lanang (2008), salah satu Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006. Ia merupakan satu dari 15 penulis Indonesia yang terpilih mengikuti UWRF (Ubud Writers & Readers Festival) 2009 di Bali. Karya-karyanya yang lain: Avian Influenza: Pencegahan dan Pengendaliannya (2004), Antologi Puisi: Jawaban Kekacauan (2004), Kedaulatan Pangan (2009). Sejak 1983, puisi, cerpen, esai, opini, dan tulisan jurnalistiknya diterbitkan di berbagai buku dan media massa. Dalam buku 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia (2010), namanya tercatat sebagai salah satu dari 100 Profil Dokter Hewan Berprestasi. Pada pasal Dokter Hewan Berprestasi di Bidang Lain, nama Drh. Yonathan Rahardjo tercatat setelah nama Drh. Taufiq Ismail (Penyair Angkatan 66), Drh. Asrul Sani (Seniman Pelopor Angkatan 45), dan Drh. Marah Rusli (Pengarang Novel Siti Nurbaya).

***

Dapat diperoleh di:

  • Toko Buku Gramedia (sudah beredar di Gramedia Jabotabek)
  • Penerbit Pustaka Alvabet, Jl. SMA 14 No. 10 RT/RW. 010/09, Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, 13610. Telp : 021 – 800 6458, Fax : 021 – 800 6458, www.alvabet.co.id
  • Toko Dewi Sri, Jl. Raya Plaosan 61 Babat, Lamongan 62271 Telp : 0322 457383, HP : 085852985854. Harga : Rp. 42.500,- + ongkos kirim
  • Atau Pesan lewat penulisnya: Yonathan Rahardjo, HP. 08159306584, Harga : Rp. 42.500,- + ongkos kirim

***


[Buku Baru] Bunga & Duri

Novel "Bunga & Duri" & Pengarangnya, Rida Fitria (Gambar Kanan)

Judul : Bunga & Duri
Penulis : Rida Fitria
Tebal : iv+224 hlm
ISBN : 978-602-9079-40-1
Harga : Rp 46.700,-

[]

Sinopsis :
Mini Ayuning, seorang dokter muda yang idealis dan kukuh, berjuang di jalan berliku kemanusiaan. Sosok yang selalu gelisah dan berani menggugat sisi gelap lembaga kesehatan yang tidak menjalankan fungsi sebagaimana mestinya, dengan membuat gerakan yang membuka peluang setara bagi rakyat miskin, setidaknya di kliniknya yang kecil. Sebagai pribadi, hidupnya tak pernah mudah; ibu kandung yang depresi klinis, ayah meninggal, kakak perempuan yang dilecehkan suaminya, dan kisah romansanya sendiri yang tragis. Di antara lingkaran persoalan itu, Mini tak pernah melupakan sesamanya.

Ps : Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via website www.leutikaprio.com, inbox Fb dengan subjek PESAN BUKU, atau SMS ke 0821 38 388 988. Untuk pembelian minimal Rp 90.000,- GRATIS ONGKIR seluruh Indonesia.

[]


EAT PRAY LOVE = Everyone Has A Problem…

Oleh Very Barus

 

 

TADI malam gue nonton EAT PRAY LOVE. Bukan..bukan karena film yg diadaptasi dari novel besutan Elizabeth Gilbert dengan judul yang sama ini mengambil salah satu lokasi syuting di Bali. Melainkan karena gue emang pengen nonton saja.

Tapi, sebelum nonton gue BBM-an dengan teman2 gue. Beberapa diantara mereka bilang filmnya MEMBOSANKAN! Bahkan yang lebih parah ada yang nyuruh gue membawa bantal dan guling… wow! Bikin gue semakin maju tak gentar untuk menonton.

8:30 Malam…

Gue sudah duduk manis beserta teman2 untuk memantengin acting mbak Julia dan tante Chritine Hakim ini. Tanpa popcorn dan soft drink. Karena sesungguhnya gue sangat terganggu kalo ada orang nonton sambil ngunyah2 popcorn atau sejenis snack lainnya. Paling MENYEBAL KAN lagi, kalo pedagang Popcorn sekarang sudah keranjingan masuk ke dalam bioskop menjajakan snck dan soft drink…. Sangat2 mengganggu!

10 Menit pertama..

Gue memantengin acting ibu dua anak ini yang memerankan tokoh Elzabeth atau Liz (si penulis novel) yang gundah gelisah akan nasib perkawinannya yang tidak bahagia. Meski sesungguhnya Liz punya suami Stephen (Billy Crudup) yang setia dan baik hati. Tapi hatinya kosong dan bimbang…maka jalan terbaik adalah BERCERAI. Sampai akhirnya Liz mencari kebahagiaan semu dengan bercinta dengan pria lain, David (James Franco), seorang actor panggung dan juga guru Yoga. Berharap bisa menentramkan hatinya. Namun, Liz tidak menemukan kebahagiaan itu di hati David. Maka hubungan tanpa status itu pun bubar. Namuna David member recomendasi agar bermeditasi ke India untuk mencari keseimbangan hidupnya.(sambil memberikan nama guru meditasi di India)

Tapi, ditengah kebimbangan hidup, Liz akhirnya memutuskan ingin berpetualang ke 3 negara yaitu ITALI-INDIA dan BALI. Orang bule selalu beranggapan kalau BALI salah satu Negara bukan pulau.meski sesungguhnya seharusnya ITALI- INDIA dan INDONESIA (BALI)

ITALI

Selain Negara yang romantic, menurut Liz, bahasa Itali juga seksi. Juga makanan2 di Itali juga menggugah selera makannya yang sudah lama sirna. Liz bisa makan sepuas2nya di Itali tanpa memikirkan melonjaknya berat badan. Pizza, Paggeti, pasta, ice cream dan semua makanan lezat masuk ke temboloknya. Dan Liz benar2 menyukai hidup di Itali. Apalagi ketika dia bertemu dengan teman barunya disana. Liz menemukan keharmonisan kekeluargaan yang kental di Itali.

Meski ada yang tidak singkron pada saat syuting di Itali. Terlihat keteledoran saat Liz menemani dua teman prianya sedang cukur jambang dan rambut. Ketidak telitian tersebut terlihat saat mereka selesai cukur jambang dan kumis, eh, saat adegan di jalan jambang dan kumis sahabat prianya masih terlihat lebat. Padahal mereka baru selesai cukuran dan potong rambut di barbershop!

INDIA

Meski banyak yang bilang saat adegan di india sangat membosankan, justru gue merasa aman-aman saja tuh mengikuti adegan demi adegan. Melihat kepanikan Liz saat tiba di india yang terkenal dengan HIRUK PIKUK-nya kehidupan di India. Juga saat kulitnya bentol2 karena digigit nyamuk. Juga saat Liz tertidur saat mengikuti meditasi…. Semua menggelikan.

Juga saat Liz mengikuti prosesi pernikahan sahabat barunya di India. Juga menggambarkan kalo ternyata bukan dia saja yang mengalami permasalahan dalam pernikahan…banyak!!! Teman meditasinya yang orang Amerika juga bermasalah dalam hidup dan pernikahannya.

Tradisi unik yang gue dapat di India adalah, kita tidak boleh meminum minuman botol langsung dari botolnya. Harus pakai sedotan. Karena katanya PAMALI..

Ada quote yang membekas di hati gue adalah saat Liz berinteraksi dengan sahabat meditasinya Richard dari Texas (Richard Jenski) :”Jika kamu tidak bisa menguasai dirimu, maka kamu akan selalu dalam masalah….”

BALI

I love BALI so much..!!!

Saat Liz hijrah ke Bali, gue sudah dimanjakan dengan pemandangan hijaunya tebing2 yang dipenuhi tanaman padi yang terbentang luas. Laut yang biru serta pemandangan2 lainnya yang sudah nggak usah malu2 bilang kalo BALI emang TOP BGT!

Liz kembali ke Bali untuk bertemu dengan Ketut Liyer(Hadi Subiyanto). Seorang dukun yang sudah uzur tapi polos dan kocak. Liz tertarik datang ke Bali, karena saat liburan sebelumnya, Liz bertemu Ketut dan meramal kalo kehidupannya akan bermasalah dalam 6 bulan kedepan.. dan menyuruh Liz datang lagi ke Bali untuk bertemu Ketut.(sambil menyerahkan lukisan gambar patung)

 

Lika liku kehidupan baru mulai dirasakan Liz di Bali. Kehidupan dugem yang dijabaninya sampe pagi. Bahkan liz bertemu dengan musisi dadakan saat di tempat clubbing. Sempat hampir bercinta di pantai. Namun Liz kabur… dan ada kata-kata menarik yang diucapkan pria yang kata sahabat Liz mirip STING itu adalah: “Semua orang harus punya ASMARA di BALI…” (gue suka kata2 itu. Karena bener2 terbukti hehehheheh)

 

Liz juga bertemu dengan Wayan (Christine Hakim), seorang tukang pijat yang juga bermasalah dengan perkawinanya. Wayan bercerai dengan suaminya tapi tidak mendapat warisan sedikit pun. Maka Wayan pun banting tulang untuk menghidupi anaknya.

Kata2 bijak dari Wayan yang gue suka adalah : ”Disini..Bercerai membuatmu sedih dan dikucilkan..”

Sampai akhirnya, Liz menemukan cintanya di Bali…. Dia bertemu dengan duda asal Brazil bernama Felipe (Javier Baderm). Sama-sama gagal dalam pernikahan dan akhirnya menemukan cintanya di Bali…

 

Kalo elo teliti dan cermat menonton film besutan RYAN MURPHY ini, sangat banyak makna dan filosofi yang kita dapat. Dan dari rangkuman semua kisah yang bisa gue petik adalah……

  1. Everyone has a problem… semua orang yang hidup pasti punya masalah. Jadi jangan pernah merasa kita seorang diri yang memiliki masalah hidup yang berat. No… everyone !!!
  2. Jangan pernah lari dari masalah.. hadapilah masalah seberat apapun itu. Karena setiap masalah ada solusinya. Meski Liz lari ke beberapa Negara, tapi hatinya tetap hampa. Karena masalah yang dihadapinya tetap menghantui hidupnya.
  3. Ketika kamu gagal dalam bercinta.. Jangan pernah takut untuk jatuh cinta lagi… karena sometimes if u loose balance in love, u will find balance in life…

Hingga menit terakhir film ini bergulir….. gue tidak tertidur tuh…!!!

OVER ALL..I LOVE THIS MOVIE…

 

[]



“Kidung Cinta Pohon Kurma” Novel Yang Bagus

Oleh Dwi Klik Santosa

Sedikit uneg-uneg saya

“Pohon Itu Mengajarkan Menemukan Cinta”

KIDUNG CINTA POHON KURMA karya Syaiful Alim. Talenta baru di kepenulisan lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, 6 Juli 1985. Kini menempuh pascasarjana Studi Keislaman di Universitas International University of Africa, Khartoum, Sudan. EDAN !

+++

Pertama sekali yang ingin saya kemukakan setelah membaca buku itu dan membaca sedikit tentang latar belakang atau biografi sang penulis ; pasti ia orang yang romantis. Setelah itu, pasti ia hobby baca, kutu buku dan pemerhati siaran TV.

Maka, bagai kamus umum pengetahuan saja, layaknya novel ini. Memberi pengetahuan apa saja yang dibutuhkan oleh pembaca menyoal hal-hal yang urgen dalam hidup, semisal; agama, keyakinan, idealisme, edukasi dan muara dari semua pencarian manusia yaitu kearifan.

Membaca dari awal sampai akhir, memang agak mengandung kelemahan jika itu dipahami dari sudut pandang cerita. Susunan dramaturgi atau ploting yang oleh sebagian para kreator suka dimaknai sebagai alur yang berpotensi mengharu biru atau memacu adrenalin kepenasaran pembaca dari klimaks ke anti-klimaks atau sebaliknya, seperti kurang mendapatkan atensi dari penulisnya.

Namun kiranya, dari halusnya bahasa yang tersusun. Baik dari setiap gejala persoalan yang menjadi tema atau dilema, dan kemudian untuk dipahamkan “bagaimana barangkali sebaiknya” cukup memberi gambaran bagi saya; penulis ini tak diragukan adalah seorang yang intelek. Penalaran dan logika filsafatnya kuat. Tidak melulu dari sudut Islam, bahkan Injil, Gandhi, Nietszhe… Bahwa CINTA itu sesuatu yang universal. Sesuatu yang bisa dipandang, ditelaah, dimengerti, dipahami, dijalani… dari berbagai sudut. Secara dialektis. Secara dinamis.

Barangkali oleh sebuah riset panjang (mudah-mudahan bukan dzu’udzon) lalu oleh mas penulis, perjalanan manusia untuk menemukan cinta itu, bisa saja mengambil guna dan manfaat yang sebesar-besarnya, yang sebaik-baiknya dari sari-sari filosofi POHON KURMA. Ada ketahanan. Suka menderma atau memberi. Begitu juga pergulatan yang ulet dan TANPA PAMRIH.

Kalau saja saya harus berjujur. Meski beliau ini masih berusia seperempat abad, relatif sangat muda dari usia saya, namun kiranya semuda ini banyak kelebihannya dibandingkan saya. Terbukti sekali dari terbitnya buku ini. Dan, Syahrul Ahimsa sebagaimana itu menjadi tokoh utama dalam novel ini, ingin saya curigai tidak sekedar dzu’udzon “jangan-jangan ia manifestasi dari penulisnya sendiri”. Maka, tak heran, jika sisi keromantisannya, keluasan wawasannya, kehalusan budinya banyak disukai cewek-cewek…hahaha…

Jadi sejujurnya saya sangat mengiri. Dan, makanya saya bersyukur bisa membeli buku ini. Supaya saya banyak belajar dari yang muda. Untuk banyak tahu dan mampu kemudian jadi sosok yang romantis dan teladan seperti Syahrul Ahimsa.

Salam.

Zentha

24 Agustus 2010

: 10.oo

[]


Telah Beredar : NOVEL Kidung Cinta Pohon Kurma

TELAH BEREDAR DAN BUKTIKAN KOMENTAR MEREKA.

NOVEL Kidung Cinta Pohon Kurma

PENGARANG
Syaiful Alim

EDITOR
Joko Pinurbo
Sitok Srengenge

PROOF READER
Farah Maulida

TATA LETAK
Cyprianus Jaya Napiun

DESAIN SAMPUL
Iksaka Banu

PENERBIT
KataKita
Pesona Khayangan Estate CM-4, Depok 16431
Telp. 021-77832078, 0815 9610 204

Hak cipta dilindungi undang-undang.

All rights reserved.

ISBN 978-979-3778-64-8

Cetakan Pertama: Agustus 2010

Endorsmen:

“Mengungguli para penulis yang menggarap tema sejenis, Syaiful Alim membuktikan bahwa mendaras masalah agama tak selalu menurunkan mutu karya menjadi dakwah
yang dangkal. Memadukan cinta dan agama, roman dan iman—dua topik klasik yang hingga kini masih menjadi perhatian utama manusia —novel Kidung Cinta Pohon
Kurma ini, berhasil menyentuh kesadaran kita bahwa keragaman adalah keniscayaan. Gaya tutur yang lugas menjadikan novel ini sebagai bacaan yang menghibur sekaligus mencerdaskan.”
( Sitok Srengenge, Penyair )

“Sebuah novel yang sungguh mencerahkan! Sarat dengan imajinasi religi, namun tetap kritis dan rasional. Keunikan novel ini terletak pada kemampuan penulisnya meramu latar belakang sosio-historis dan kultural ajaran Islam dengan realitas sosiologis umat Islam di berbagai wilayah, khususnya Indonesia dan Timur Tengah, sehingga terangkai sebuah cerita fiksi yang indah dan enak dibaca.” ( Musdah Mulia, dosen pascasarjana UIN Jakarta )

“Sebuah novel yang mengangkat tema serius namun dituturkan dengan cara yang menyenangkan. Membaca novel ini saya merasa pas karena kandungannya sesuai dengan selera dan “keyakinan” saya selama ini. Bagi saya beragama akan terasa nikmat jika dijalani dengan kegembiraan, bukan dengan ketegangan.” ( Acep Zamzam Noor, Penyair )

“Saya mendapat cerita baru dengan sudut pandang yang lain. Dengan bahasa yang lugas dan memikat, novel ini sangat menarik dan penting sekali untuk dibaca.” ( Zaskia Adya Mecca, aktris film )

“Apa yang terjadi jika agama terpenjara dalam kepicikan akal dan kegelapan hati manusia? Apa yang terjadi jika ayat-ayat suci dimanipulasi demi kepentingan politik dan kuasa? Novel yang sangat inspiratif ini mengajak kita untuk mencuci diri, menanggalkan berbagai kesalahkaprahan dan prasangka, demi terciptanya kehidupan yang diliputi cinta.“ ( Joko Pinurbo, Penyair )

“Kata-kata yang terangkai mampu membawa kita ke pengalaman batin tokoh yang terdalam. Gejolak jiwa, keimanan akan kebesaran Sang Khalik, cinta , juga harapan, melebur menjadi satu memberi makna dalam kehidupan ini dan kehidupan kekal nanti.” ( Nurman Hakim, sutradara film Tiga Doa Tiga Cinta )

“Bukan main! Lebih dari bacaan untuk remaja, novel ini merupakan salah satu karya yang tidak sekadar menyoal perkara cinta dalam artian “kata benda” melainkan juga menyentuh aspek KESADARAN MENCINTAI dan TANGGUNG JAWAB MENCINTAI dengan NUANSA RELIGIUS yang INDAH yang melingkupinya. Menginspirasi pembaca yang berakal sehat untuk TIDAK CENGENG, dan terutama untuk TIDAK PICIK SERTA FANATIK dalam menyikapi AGAMA SERTA SESAMA MANUSIA dan dalam menyikapi REALITAS MENCINTAI ATAU DICINTAI. Membaca novel ini bikin kita terlalu sayang untuk meninggalkannya. Walau sebentar. Mengasyikkan, menyentuh dan mencerdaskan.” ( Timur Sinar Suprabana, Penyair )

Miliki segera dengan pesan-beli via inbox saya. Harganya cuma Rp 60.000,- sudah termasuk ongkos kirim.

Atau, tuliskan pesanan Anda pada Dinding di Profil Facebook Syaiful Alim


Kado Yang Terindah

Oleh Dwi Klik Santosa

RONEO : Kenapa engkau merengut begitu?

JUMIAH : Huh… kenapa masih juga bertanya?

RONEO : Maaf,… aku sedang mengerjakan sesuatu…

JUMIAH : Tapi… mestikah tidak ingat lagi waktu. Dan… ah,…

RONEO : Ini sesuatu yang penting… sesuatu yang harus kuselesaikan secepatnya…

JUMIAH : Apakah aku tidak lebih penting dari sibukmu. Meski hanya untuk sebentar saja…

RONEO : Eh… iya… sebenarnya…  tapi aku…

JUMIAH : Akhir-akhir ini engkau seperti bukan engkau dulu yang kukenal dan… kukagumi

RONEO : …Aa… aku… iya… aku…

JUMIAH : Kenapa?… Kenapa engkau? Kenapa begitu?… Kamu jahat!… apakah kau sudah… sudah… ah, lebih baik aku pergi saja…

RONEO : Sudah apa?… Eh, tunggu sebentar… aku mohon jangan pergi…

JUMIAH : Untuk apa kau halangi aku. Aku tidak penting lagi, bukan?

RONEO : Bukan begitu… jangan begitu… kau dengarkan aku, ya. Jangan marah, ya. Aku sayang kamu!

JUMIAH : ………..???

RONEO : Sebulan ini aku memang egois. Aku pingin menyendiri. Dan tidak ada hal lain menggangguku. Nah, ini dia. Ini kuberikan kepadamu. Naskah novel ini akhirnya selesai juga kutulis. Dengan susah payah… kuberi judul KADO YANG TERINDAH. Aku tidak tahu bagaimana seharusnya mengungkapkan perasaan ini ke kamu… Kamu… kamu… cewek yang baik. Memang sedikit keras kepala dan bengal, tapi sebenarnya aku meyakini… hatimu lembut… Dan masihkah engkau mengingat… sesuatu yang penting… saat kita jumpa pertama dulu. Saat aku terluka… setelah mobil itu menabrakku… Kau tolong aku… Kau jagai aku. Seperti tak boleh semenit pun lepas dari rawatanmu. “Harus tetap semangat. Arjuna tidak boleh mati dan harus terus memanah.” Itu kata-katamu dan selalu begitu kau bilang kepadaku… Sejujurnya kukatakan padamu, aku sayang kamu. Bagiku, engkaulah perempuan yang terindah… engkaulah telah mengisi kekosonganku… Nah, jangan marah lagi, ya. Aku cinta kamu. Selamat ulang tahun, ya.

[]

Zentha

16 Agustus 2010

: 14.oo


Membaca “Jejak Guru Bangsa”

Oleh Dwi Klik Santosa

Humor itu serius. Ini yang terpetik dari sekian lembar dalam 179 halaman buku yang ditulis Mohamad Sobary : JEJAK GURU BANGSAMewarisi Kearifan Gus Dur. Sepanjang membaca buku ini, tak kurang seperti orang gila saya, senyum-senyum dan ngakak-ngakak sendiri. Wong edan! Gus Dur ki edan tenanedan bukan karena kahanan, tapi memang kahananlah yang ingin dilawannya.

Hal yang menarik perhatian saya dari sudut mengagumi Gus Dur, adalah ketika pada saat beliau masih sekolah di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Jogjakarta. Pada saat yang sama, beliau diminta sama ibunya untuk nyantri juga di Pesantren Al-Munawir, Krapyak, yang waktu itu dipimpin oleh Kyai Maksum. Banyak tanya jawab yang menggelitik antara santri Dur dan Pak Kyai. Dan topik yang dibicarakan cukup tajam, karena seusia itu santri Dur suka sekali membaca novel-novel pergerakan, yang rata-rata  semuanya berbahasa Inggris.

Dituliskan Kang Sobary, buku-buku yang dibaca Gus Dur itu antara lain : Das Capital (Karl Marx), Communist Manifesto (Karl Marx), The German Ideology (gabungan Karl Marx dan Engels), What to Be Done (Lenin). Novel-novel Tolstoy : War and Peace, dsb dsb. Ernest Hemingway : A Farewell to Arms, For Whom the Bell Tolls, The Old Man and The Sea. John Steinbeck : Travels with Charley, In Search of America. Cerpen-cerpen Chekov, Drama-drama Pushkin dan Nikolai Gogol dsb dsb.

Membaca buku ini: menyenangkan!

[]

Pondokaren, 15 Agustus 2010 : 16.1o


Welcome Hometown…

Tulisan sebelumnya : Medan-Lau Sidebuk Debuk-Berastagi

Oleh Very Barus

NAIK KERETA API BRAK…BRUK…BREK…

Kalo ditanya kenapa judulnya sadis banget? Ya, itulah ungkapan hati gue yang paling dalam saat naik kereta (api) eksekutif dari kota Medan menuju kota kelahiranku Rantauprapat. Jangan bayangkan ‘eksekutif’ itu berarti bener-bener eksekutif. Mungkin judulnya saja bergelar eksekutif tapi kalo dari segi wujud dan penampilan, nggak layak deh disebut kereta eksekutif. Ruangan eksekutifnya dekil bin kumal. Tempat duduknya juga banyak yang sudah sobek (kayak roti sobek). Handle tempat duduk juga banyak yang sudah tidak berfungsi…

Tadi pagi, tepatnya jam 7.30 teng…

Gue sudah berada di stasiun KA dengan tentengan tas backpack dan tas gede berisi pakaian dan perlengkapan perang gue selama di Sumatra. Langsung naik ke dalam kereta dan meletakkannya di atas tempat duduk (bagasi). Hmm…ternyata kereta eksekutif di sini nggak ada ubahnya dengan kereta ekonomi di Jakarta dan Bandung. Bahkan lebih bagus kereta di Bandung deh. Hanya menang suara deru AC yang brisik dan nggak ada alat kontrolnya. AC nyala dengan kedinginan abal-abal. Alias ANGIN CEPOY-CEPOY. Nggak tau deh, apakah ini AC kw-1, kw-2 ato kw-3. Soalnya dinginnya nggak nampol!!

Jam 8 teng…

Kereta bergerak…penumpang nggak penuh-penuh banget sih. Banyak bangku kosong. Hanya saja, ada penumpang yang duduknya di sebelah gue bener-bener nge-betein. Dengan bawa tas yang nggak kalah gede dari tas gue, langsung nyerobot masuk ke dalam (posisi tempat duduknya di dekat jendela). Trus dia ngangkat tuh tas yang segede gaban mau diletakin ke atas (bagasi…). Trus, seenak udelnya nyenggol-nyenggol gue yang sudah duduk manis kayak murid TK. Nggak ada kata sori dan nggak ada basa-basi langsung grasak-grusukpengen gue sruduk aja nih orang! Belum tau yang duduk disebelahnya BANTENG!

Kereta berjalan…

Tiba-tiba aroma tidak sedap mulai masuk ke panca penciuman gue. Bau nyengat yang nggak ada di jual di shoping mall. Karena ini murni bau pipis yang aromanya sangat pekat! Duh, bener-bener bau yang merusak alat penciuman gue deh. Kok bisa sih, kereta ini nggak membersihkan toilet-nya sebelum berangkat…???

Sangat beda kalo kita naek kereta eksekutif di Jakarta ke Bandung ato ke kota lainnya. Aroma yang tercium sangat beragam dan harum yang menusuk hidung. Aromanya membuat otak gue bekerja untuk menebak kira-kira merk apa tuh aroma parfum yang dipake si penumpang…sangkin sedapnya tuh aroma…

Usai bau pipis, kemudian muncul aroma baru. Kali ini dari ibu-ibu yang duduk persis di belakang gue. Aroma khas minyak gosok ‘kayu putih’. Duh…baru aja kereta berjalan kok sudah pada puyeng sih…??? Bener-bener mengganggu banget deh! Sudah AC-nya nggak nampol. Aroma yang muncul justru beraneka ragam. Arrrrrgggghhh…!!!

Gue mencoba menenangkan otak dengan menempelkan earphone ke telinga. Mulai deh mengalun lagu-lagu pilihan yang sengaja gue download ke BB gue. Mulai dari lagu The Little Things Give U Away (Linkin Park), Ya Sudahlah (Bondan feat Fade2Black), Crawl (Chris Brown), Fireflies (Owl City), dan deretan lagu-lagu yang nampol di telinga gue. Satu alasan kenapa pake earphone, biar nggak terjadi interaksi dengan orang yang duduk di sebelah gue. Karena kadung menyebalkan!

Trus, gue mulai ngeluarin novel karya Tony Parson (Man and Boy), yang jujur saja sudah berbulan-bulan dibeli tapi nggak tuntas-tuntas juga dibaca. Semua itu gara-gara BB…yang membuyarkan minat baca gue. Mata gue lebih doyan melototin layar Blackberry gue ketimbang baca novel lagi… Kadang-kadang BB ini najis banget deh…!!! Membuat nafsu membaca novel gue berubah jadi nafsu kegatelan melototin layar BBYa, buka FB, buka Twitter, MP, YM, Kompas.com, Detik.com dll…dooohhh…!!!!!

Mulai deh siap-siap baca Man and Boy yang masih tetap pada posisi bab 5. Nggak beranjak dari taon kapan…!! Tapi, dasar kereta eksekutif abal-abal…goyangannya sangat dahsyat banget! Lo bisa bayangin gimana dahsyatnya tuh goyang kereta. Pantat gue bisa terangkat dari tempat duduk hingga pada posisi kayak sulap ala Deddy Cobuszier. Untung saja tidak terangkat sampe ke langit-langit kereta…

Waduhgimana mau baca…saat mata masih berada pada barisan paling atas membaca kata demi kata novel tersebut. Tapi sangkin dahsyatnya guncangan kereta, tiba-tiba mata gue sudah berada pada barisan paling bawah tuh novel…busyet dah…!!! Alhasil…novel hanya bertahan gue baca selama 15 menit. Selebihnya kepala gue mulai puyeng. Maklum, gue emang nggak bisa membaca dalam kondisi penuh guncangan. Maksud hati mau menuntaskan ini novel malah ditutup dengan manisnya…

Sabar ya Tony Parson…karya elo pasti gue baca dengan tuntas kok! Tapi tidak di sini. Di dalam kereta butut ini! Ntar di rumah aja…!!

Dua jam pertama kereta berhenti di TEBING TINGGI…kota yang terkenal dengan LEMANG dan CAKAR AYAM-nya. Kereta berhenti, kemudian muncul deh pedagang yang menjajakan dagangannya. Dulu, waktu masih kuliah, setiap naik kereta, gue sering beli Pecal, Mie dan Sate Kerang yang dijajakan ibu-ibu. Sedap juga kok…!!! Tapi sekarang, niat untuk melahap jajanan si ibu-ibu tersebut sirna. Ada kesan jorok di benak gue. Jadi mending ditahan aja dulu…

Dua jam berikutnya berhenti lagi di kota lain… Sama seperti di TEBING TINGGI, para penjaja makanan mulai menjajakan dagangannya. Karena perut ini bimbang. Antara lapar dan tidak, alhasil gue beli RAMBUTAN yang bener-bener nendang banget manisnya…lebih higenis ketimbang Pecel dan Mie yang cara meraciknya, tangan si ibu menguyel-uyel itu Pecel dan Mie…jorok bukan…?!!

Usai kunyah mengunyah, gue mencoba merebahkan tubuh ini. Karena rasa kantuk mulai menyerang. Gue pasang kembali earphone menemani kantuk gue…hingga akhirnya mata gue bener-bener terpejam…(untung saja, tidak ada KEONG RACUN di playlist gue…kalo ada mungkin gue sudah lipsync sambil menari-nari kayak Shinta dan Jojo).

Akhirnya gue pun terpejam…gue ingat, lagu FIX YOU-nya Coldpaly masih mengalun hingga gue tertidur nyenyak…Zzzz…zzzzz…zzzzzzz…

Tanpa terasa, pukul 13.30 siang…

Kereta sudah touched-down di tanah leluhurku…disambut dengan terik matahari yang sangat menyengat! Puanaaaasssss bangethhh!!!!

But, no problema…!! I love my hometown…!!

I’m coming home…!!!

[]

Baca juga tulisan selanjutnya : Tentang Pernikahan Itu


Acara Bedah dan Peluncuran Novis : Abimanyu Anak Rembulan, karya Dwi Klik Santosa

Photos : Dokumentasi pribadi Dwi Klik Santosa, dan Abimanyu Anak Rembulan

Nivel Grafis Abimanyu Anak Rembulan

MEJENG BARENG : pak gregory churchill (pecinta wayang indonesia) dan aku

DISPLAY : buku dan harga

PANELIS : Dwi Klik Santosa, Sujiwo Tedjo, Veven SP Wardhana (MC), Henry Ismono, Isa Anshori

KENAPA ABIMANYU : saya menjelaskan kenapa novis ini Abimanyu Anak Rembulan

RUANG ATAS BENTARA BUDAYA : bedah buku dan diskusi novis Abimanyu Anak Rembulan

WAWANCARA : diwawancarai Media Indonesia

DISPLAY : Abimanyu Anak Rembulan di ruang pameran

PIDATO PELUNCURAN : sedikit menjelaskan tentang terbitnya novis Abimanyu Anak Rembulan

INTERAKSI RUANG DAN PANGGUNG : aku dan hadirin

KESAN DAN PESAN PUBLIK : mas Edi Haryono, direktur Burung Merak Press dan asisten Bengkel Teater Rendra memberikan cerita singkat tentang kesan dan perkenalannya dengan sosok saya dan kenapa Abimanyu Anak Rembulan

SIMBOL ESTAFET : penyerahan novis Abimanyu Anak Rembulan dan wayang Abimanyu secara simbolis kepada generasi penerus dilakukan oleh pakdhe Widodo (penerbit Jagad Pustaka)

PEMENTASAN WAYANG URBAN : ruang dan antusias penonton

MAS DALANG NANANG HAPE : dengan energik dan luwesnya, mas Nanang menceritakan perjalanan Abimanyu dalam kemasannya “wayang urban” kali ini

APRESIASI : mas Darma Setiawan (mantan dekan Teknologi Industri Universitas Jayabaya) mengapresiasi novis Abimanyu Anak Rembulan

RESEPSIONIS : mas Yanusa Nugroho mengisi buku tamu

23 JULI 2010 : diskusi dengan mas Sujiwo Tedjo

PARA SAHABAT : kang Kyai Khadziq Faisol dari Salatiga, aku dan mbak Pratiwi


%d blogger menyukai ini: