Tag Archives: majalah

Majalah Elektronik IFW Writer’s Digest Diluncurkan Hari Ini

IFW Writer’s Digest e-Magz resmi diluncurkan hari ini, Sabtu 30 Juni 2012. Berformat elektronik, majalah ini akan hadir sebulan sekali, dan dapat didownload secara gratis di site-blog resmi IFW.

Terbit dengan 50 halaman, majalah ini berisi 80 persen artikel sastra dan sisanya berbagai artikel mengait kepenulisan secara umum. Menurut rencana, majalah ini akan berangsur terbit berkala hingga upaya menerbitkannya seminggu sekali dapat tercapai.

Untuk membaca dan mendownload majalah ini, silakan klik gambar cover di sisi kanan atas halaman resmi IFW.

IFW Writer’s Digest, Edisi Perdana #1 Juli 2012

Iklan

Sketsa: Dua Belas Mei Dua Belas Tahun Sudah (lah!)

Oleh Iwan Piliang

Sebuah Sketsa Mei bicara peluang dan kreatif. Bukan darah. Sebuah premis kepada trias politika: sudah (lah). Mempertontonkan kelakuan beruk, hanya bikin negeri kian teruk. Sudah (lah), yang saya maksud mengajak mengembangkan beragam ceruk agar wajah bangsa tak kian buruk.

UNTUK bagian awal tulisan ini, seorang kawan mengirimkan bahan. Agaknya sosoknya ingin mengenang peristiwa 12 Mei 1998, dalam format lain: ingin menggugah mbok, ya, bangkit, Indonesia!

Entah kawan itu paham atau tidak, pada 12 Mei 1998, saya terjebak tak bisa pulang ke rumah, dan menginap di kantor di bilangan Pondok Indah Jakarta Selatan. Kala itu saya bekerja di perusahaan milik Singapura, yang melakukan usaha di jasa high end post production (rumah paska produksi film, video).

Nukilan cerita kawan itu:

JAKARTA di pagi cerah. Udara sudah terasa panas. Kami menjemput seorang relasi bisnis di bandara Soekarno Hatta. Sebagaimana biasa, bandara terlihat padat, pertanda lalu lintas penumpang bergerak kian sesak. Di sela-sela penumpang datang , kami melihat sosok pria 60-an tahun, sebut saja namanya Tjeng Hong.

Tjeng Hong pengusaha di Singapura. Logat bicaranya berlanggam nginglis melayu. Dalam perjalanan dari bandara yang macet, Thjeng Hong menceritakan pengalaman hidupnya. Singkatnya gambaran etos kerja keras yang pantang menyerah. Pujian pun lalu mengalir dari mulut Tjeng terhadap negeri ini.

“Your country is so rich!” ujarnya.

Acap dan biasa banget mendengar kata normatif itu. Kalimat itu kami tanggapi dingin.

“Indonesia doesn’t need the world, but the world needs Indonesia.”

“Everything can be found here in Indonesia, you don’t need the world.”

“Indonesia paru-paru dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia butuh Indonesia! Singapura is nothing, we can’t be rich without Indonesia.”

“Kalian tahu kan bagimana kalapnya Singapura, jika terjadi kebakaran hutan, asap membuat Singapura kalang-kabut.”

Thjeng lalu memaparkan data: 500.000 orang Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan. Ia mengajak kami mengkalkulasi pendapatan Singapura dari turis asal Indonesia.

“Apartemen-apartemen terbaru kami, yang beli orang-orang Indonesia,” tutur Thjeng pula, “Tak peduli harga selangit, laku keras. Lihatlah rumah sakit kami, hampir semua pasien orang Indonesia.”

“Kalian tau kan kalo Agustus kemarin dunia krisis beras. Termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras.”

Agustus yang dimaksud Thjeng adalah pada 2009 lalu.

“Liatlah negara kalian, air bersih di mana-mana. Lihatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari Malaysia.”

“Saya ke Kalimantan pun dalam rangka bisnis, karena pasirnya mengandung permata. Terlihat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3.000/kg ke pabrik China. Si pabrik jual kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya liat ini sebagai peluang,” tutur Thjeng.

Thjeng mengingatkan, “Kalian sadar tidak kalo negara-negara lain selalu takut meng-embargo Indonesia?!”

“Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya kalianlah yang meng-embargo diri kalian sendiri.”

“Belilah pangan dari petani-petani kita sendiri, belilah tekstil, garmen dari pabrik-pabrik sendiri. Tak perlu impor kalau nyata bisa produk sendiri. Jika kalian bisa mandiri, bisa meng-embargo diri sendiri, Indonesia will rules the world.”

Kami yang menemani Thjeng di mobil sejenak terdiam, mobil terhenti di perempatan lampu merah Tomang, Jakarta Barat, di kemacetan yang terasa kian panjang.

Kami lalu membayangkan bagaimana kereta api bawah tanah di Singapura yang menjadi moda angkutan massal, nyaman digunakan warga. Kini di Jakarta, setelah dua belas tahun Reformasi, Jakarta khususnya, kian tak jelas juga pembangunan moda transportasi masalnya, malahan yang mengemuka akan menerapkan pola pembayaran melalui jalur Sudirman –Thamrin, tanpa kita tahu entah kapan urusan angkutan masal publik nyaman dibuat?

SAYA lupa tepat tanggalnya. Tapi, pasti awal Mei 1998. Saya membaca sebuah majalah tentang film dan video di Video Headd Quarter (VHQ), tempat saya bekerja kala itu. Saya menyimak Media Development Authority (MDA) memberikan dukungan finansial ke anak negerinya, melalui venture ke para pengembang konten di Singapura.

Kala itu pula saya membaca di dua halaman majalah, rencana MDA membuat film layar lebar Sing to Down – – yang dua tahun lalu justeru penyelesaian film ini dengan judul berbeda, dibuat oleh animator Indonesia di Batam, Riau Kepulauan..

Kala itu saya bermimpi, akan ada badan sejenis MDA di Indonesia. Bahkan sejak Sembilan tahun sebelumnya, 1989, begitu melangkahkan kaki pindah dari jalur jurnalistik mencoba peruntungan ke usaha kreatif, saya telah bermimpi Indonesia dengan kekayaan konten budaya, mampu menghasilkan serial animasi merambah dunia internasional.

Mimpi itu bukan tanpa usaha, hingga 1995 saya bersama kawan-kawan di PT Potlot Nasional, mengasilkan 6 serial animasi wayang bertajuk Burisrawa dengan target produksi 52 episode. Apa hendak dinyana, dukungan pembiayaan amat sulit kala itu, terlebih ke usaha-usaha kreatif yang asset fisik berupa bangunan, tidak kami miliki.

Burbank Sydney, sebagai distributor, siap memasarkan ke global market. Hitungannya pun sederhana saja. Jika satu episode laku US $ 1.000 – – harga termurah di pasaran serial animasi global – – maka untuk 52 episode menjadi US $ 52.000. Biasa untuk mendapatkan pasar 1.000 stasiun teve di dunia, atau setara dengan US $ 52 juta, sesuatu yang mudah saja. Tiadanya dukungan perbankan, membuat usaha itu kemudian terhenti.

Jepang, yang di hari belakangan saya verifikasi, menghisap negeri ini dengan laku transfer paricing di pajak, secara lantang bilang ke seorang senior animator yang mengerjakan animasi Dora Emon dan produksi Jepang lainnya di Bali.

Sosok Jepang itu bilang tak akan pernah mau mendukung pengembangan industri animasi negeri lain.

Maka sebuah studio animasi kawan saya di Bali, hinggi kini hanya sebagai tukang untuk Jepang, kendati pun mereka mampu membuat film layar lebar dan serial animasi jepang yang menglobal: sekali tukang tetap tukang.

Begitulah Sidang Pembaca; kata akhir tulisan ini, kepada segenap unsur trias politika yang kini dominan dimainkan partai politik, untuk sesekali merenung lalu bicara ke diri sendiri: sudah (lah).

Mungkin ada baiknya mengukir kembali kalimat Thjeng Hong di atas, untuk saat ini juga mengubah kelakuan hati dan diri, bahwa ternyata, dua belas tahun waktu berlalu, belum mampu menjayakan Indonesia. Tadi malam di Metro TV, saya baca running teks: 8.637 balita kurang gizi di Banten. Dan di daerah lain bukan pula berkurang.

Kunci mensejahterakan balita, Indonesia keseluruhan, sederhana saja, di urusan hati, di perilaku dan pikir cemerlang, berbuat berlandaskan pemikiran bahwa bangsa ini kaya. Lain tidak. []

Iwan Piliang, blog-presstalk.com


%d blogger menyukai ini: