Tag Archives: lelaki

Ini Untukmu Ayah

Oleh Afrilia Utami

: ini untukmu Ayah ..

Ini tentangmu Ayah …
Malam ini rasa sepi menggila dibalik jeruji tihang-tihang menjulang
Malam bergenting atap yang menghilang
Rembulan sayup tak utuh terlihat sempurna melayang
Separuh tembang bintang mejagad di langit gusar ilalang
Kucoba mulai berhitung berapa banyakkah?
Kenangan yang kita berdua lewati ..
Antara malam-malam lainnya, mendekap hangat pelukmu
Menyanyikan haru serta canda bahagia

“Sayang, kelak jika kau dewasa. Takkan kau henti lapar dahaga tuk mengingat apa ‘tentang’ ketidaktahuan, hingga kautahu. Carilah … berlarilah usahlah kau genggam asa dan serah kuasa. Hingga dewasamu mendewasakan lainnya.”

Ini tentang bodohku, Ayah …
Maaf aku, tak bisa menjadi anakmu yang baik
Lewati malam pualam yang riuh berpesta temaram
Masih tanpamu, dekap genggam ranum senyummu
Bahkan lama tak merawat utuh sehatmu
Maaf aku, ayah …
Bahkan hari jadimu terlambat aku mengingat
Tak tahu aku melupa tentang apa yang terpaut dalam ingatan
Hingga luruh apa tentang inginku bahagiakanmu

“Sampai kapanpun, ayah takkan meminta kembali apa yang sudah ayah berikan tukmu. Bahagia ayah cukup melihat kau bahagia, itu sudah terlampau cukup bagi ayah.”

Ini tentang perpisahan, ayah ..
Hari ini adalah hari lahirmu hingga jadikanku ada
Terimakasih, Ayah ..
Takkah terlalu lama kau mengajarkanku arti ‘perpisahan’?
Rinduku sangat malam ini
hingga berbaringpun serasa mati rasa dalam asa

“ayah, tak suka dengan wanita yang acapkali bersua dengan air mata…”

Dalam letih gumamku selalu nasehatmu meneduh, menyita gundah-gulandah
Kelak, segera aku akan pulang ..
Menagih dekap hangatmu kembali
Membelai mesra degup suaramu
Aku yang haus akan bijak jua dewasamu ..
Hatimu bahligai beningnya Kasturi
Ucapmu bagai mutiara liontin
Tempat segala ketegasan, kebaikan, menghargai
Kepercayaan, jua pelajaran, bekal melaju hidup

“Ayah, anakmu kini sudah bisa berlari. Lincah piawai bercakap tanya. Berceloteh tentang bisu yang menuli, ataupun menjawab sesal curiga tak bersangka. “

Lelaki yang sangatku kucintai
Lelaki tempatku bercermin diri
Lelaki benar Hebat
Lelaki sungguh Lelaki
Itu adalah dirimu …
Engkaulah Ayahku …

“Selamat ulang tahun Ayah … Maaf dihari pentingmu tak bisa ada hadirku.. maafku Ayah ….
Akan ku sibak seluruh do’a-do’a yang terbaik untukmu selalu, bukan hanya hari ini. Tapi selama nafasku masih menyubur di gelembung Atmosfer, selama nadi waktu masih ku langkahi … selama itu pula harapku tuk membahagiakan dan membanggakanmu …”

Ini untukmu Ayah …

Juni 2010
: Afrilia Utami

[]

Iklan

Tiga Puisi Kecil # 3

Oleh Adhy Rical

Lelaki Air

lelaki air itu perahu
bergerak cepat menuju hulu
sebuah lorong air tenang
ada pisau dapur dan sajak tetua
yang disimpan semalaman

lelaki air itu perahu
bergerak cepat masuk tanah
sebuah kayu gelondongan sekadarnya
ada pisau dapur dan gigi buaya
yang ditanam
di sebelah makam ibunya

[]

Lalindu 2

dari tepi sungai
membuncit rumah-rumah panggung tak rata
jendela yang setengah terbuka
seperti payudara terbelah
lalu perahu menemu lorong-lorong air

dari tepi jendela
ikan-ikan bermain gelombang
sungai yang setengah beriak
seperti pelukan terengah
lalu kita tenggelam menemu tuhan

[]

Perahu

akan kubuat perahu sepagian
di bawah rumahmu. agar dapat kulihat
gaunmu tersingkap
sebelum maut menemuiku
sore itu

Kendari, 2010
[]

dibuang sayang


Tentang Perempuanmu

Oleh Adhy Rical

: Wilu Ningrat

“hidup adalah Bukan subuh Dan maghrib”

tiba-tiba doa melesat melebihi kedipan mata sesorean itu. tentang perempuan bergaun tidur yang wangi tubuhnya lekat di lehermu: kau lelakiku yang tak pernah henti kuciumi sejak telanjang.

datanglah jika rindu pulang sebab lelaki sebelummu telah menggamitku dalam pengantin. kemudian bertenang ramah dalam amarahmu.
: kamilah laron-laron nyala yang menghirup panas napasmu.

kepada perempuan yang menciumimu sejak telanjang, kukirim doa: amin, ya ibu.

[]

Kendari, 2010

dok: garasi, ar


Pesan

Oleh Adhy Rical
“maukah kau dimadu?
menikahlah denganku”
(kemarin, 30/5/2010 11:59:34 PM)


Harus kuterima. Bukankah ini tanyamu yang kesekian setelah hujan sore itu tak bersisa? Gelasmu kosong. Aku berdiam sebelum bayangmu hadir. Kau selalu begitu: meminta kedua tanganku rapat di punggungmu. Tapi bukan itu yang buatku terjaga sebab jantungmu lebih mudah kuhitung dengan detak jantungku. Bukankah kita menghitung tanpa harus tahu bilangan?

“Apa yang akan kau curi dariku?”

Itulah tanyamu yang tak pernah bisa kujawab. Ah, kau seperti lelaki saja. Senang tak menyukai diri. Mungkin kau perlu melihatku agar tahu rasanya berwajah perempuan. Setidaknya, gambarmu mengair dalam gelas lalu kata-kata tegak memanggil.

Apa yang tak dapat kumiliki darimu?
Pesanmu tak pernah sampai.

Kendari, 2010



Harga Tubuh

Oleh Adhy Rical

seorang perempuan telanjang di samping lelaki
dekat toko elektronik,
lelaki itu masih mengapit keramik
dari desa asaki
: kendari, ruko birahi

tadi malam,
lampu padam cukup lama
ada cerita silsilah keluarga,
petugas lapak, dan wangi tubuh
“kita berpelukan di bawah tenda yang sedikit terbuka”
agar garis tubuh dapat terlihat menghijau

lihatlah karapan kuda di pulau wuna
tak perlu pelana untuk kedua paha yang rona
dan ciuman telinga belakang
cukuplah tanda kian jenjang

mungkin nanti, keramik tak lagi antik dengan wajahmu
sebab peluru lebih desing dari teriakan
tubuh keduanya kaku
hanya lelaki yang gesit memakai celana dan baju
bukankah darah di kepala tak perlu merogoh saku?

[]
Kendari, 2010


Oheo

Oleh Adhy Rical
Entah bagaimana bermula, laki-laki yang dipanggil Oheo itu tiba-tiba diangkat menjadi kepala desa. Tak seorang pun mengenalnya. Keluarga pun, tak. Orang kampung Lapau memanggilnya: lelaki langit. Sebab ia ditemukan tak sadarkan diri di sebuah gunung Lapau. Ketika hujan deras dan rumah panggung dekat sungai, tenggelam.

Cuma empat bulan, warga seperti terhipnotis mendatangi Oheo agar bersedia menjadi kepala desa. Syarat Oheo sederhana sekali: sesisir pisang raja, segantang beras ketan, dan seikat selendang merah. Keahlian Oheo hanya membuat perahu. Itu cukup alasan orang kampung memintanya menjadi kepala desa. Bukankah Oheo berhasil menyelamatkan 2/3 orang Lapau dari bahaya banjir?

***

Setelah enam bulan menjadi kepala desa, warga mulai merasa ada yang kurang pada diri Oheo. Aneh rasanya, Oheo menjadi kepala desa tapi tak ada perempuan di sampingnya. Mereka butuh seseorang yang dipanggil: bu desa. Maka mulailah mereka mencari perawan cantik yang lebih muda dari Oheo.

Ada tujuh perempuan yang mereka bawa. Semua di bawah usia dua puluh tahun. “Ini perawan pilihan desa untuk Anda. Dijamin semua dada besar yang Anda lihat tak pakai pelindung busa. Asli!” Semangat warga kampung begitu menyala. “Mereka cantik. Usianya sepuluh tahun lebih muda dariku tapi mereka tidak membara,” batin Oheo.

“Nanti kucari sendiri!”

***

Tiga puluh hari mencari cinta. Akhirnya pernikahan dilangsungkan. Semua warga Lapau bahagia sekaligus kecewa. Bahagia sebab Oheo telah beristri. Itu berarti mereka memiliki kepala desa yang sempurna dan lelaki sejati. “Jangan sebut dirimu lelaki kalau belum beristri,” begitulah tradisi Lapau. Kecewa, sebab istri Oheo, dua kali lebih tua daripada Oheo sendiri.

“Saya mencintai orang yang kalian panggil mBue Runga. Restuilah sebagaimana nabi anda pernah begitu.”

***

Keesokan harinya, mBue Runga dengan secarik kertas di genggaman dan berpakaian setengah telanjang meraung-raung di tengah kampung. Meskipun suaranya serak dan lirih serta rambut awut-awutan, warga masih mengenalinya.

“Maaf, saya harus pergi. Runga bukan istriku dulu. Tak ada selendang merah di sesela selangkangannya.”

Pesan itu seperti guntur yang menggelegar di dada. Mata mereka bercahaya seperti kilat: lelaki langit. []

Kendari, 2010


Lumba-Lumba

Oleh Adhy Rical

: sr

lelaki hutan: getah pandan, kamera sampan
buku cerita dan kain bergambar
riak air mengukur detak jantungmu

di tanganmu, sebuah matahari meleleh
bekas jarum dan rambut lelakimu
menusuk peparu, serta mengikat rahim
kudengar kau memanggilku dalam botol plastik
selang yang mengurat raut keningmu
kau berbisik: karamba, lumba-lumba, dan keranda

ai na
matamu seperti kunang-kunang
yang keluar dari kuku moyangku
dan tak pernah habis kutarik dengan larik
bagai dua bocah main layangan di suaka:
menjadi serdadu, dan kulit dayak singkawang
keduanya tak pernah kau timang

keinginan itu peluru laras di leste, katamu
maka datanglah tanpa keranda
lumba-lumba bermain bola di karamba

Konawe, 2010


Laronanga

Oleh Adhy Rical

sungai menghampiriku dengan kerang
membacakan sisa usia dan muasal pasal:
ketajaman pedang tak dinilai di medan perang
tapi bekas keringat, ibu jari menebal

lalu sauh menjadi ciuman yang menjanjikan
padahal aku belum bisa mimpi basah
hanya celoteh lorong-lorong air dan sampan
dekat dermaga kecil, pelukan mendadak tumpah

laronanga,
aku hanya ingin menyusuri bibirmu
dan leher kelapa
yang lekuk. sambil membayangkan serdadu mongol
menguntit perempuan berambut kerang
bagai ribuan laron dedaun kenanga
pada garis pipimu, kampung menyipit di bawah belanga

kau menjebakku di unaaha
menimbun mantramantra sabana
tentang lelaki keris yang lahir delapan rebana
lalu menanak kepala perompak dalam bejana

kau boleh membunuhku
setelah melewati sungaimu
tapi sejarah tetap datang dari hulu

Laronanga, 2010


Konaweha

Oleh Adhy Rical

1

hanya perempuan pasir dan lelaki kerang
menuju muara
mereka tak pernah sampai laut
seperti hidup tak selesai

2

kutiris jejak di hati
lalu kusimpan dalam riak sungai
seperti waktu menemu
rindu memasir

3

sesorean
keringatmu berhenti
ketika lelakimu tak berenang lagi
di tubuhmu

4

izinkan
mengair di tubuhmu
agar dakimu tak lagi membatu
kita benamkan waktu
tak seorang tahu

Pohara, 2010


Caraku Mencintai…

(aku ingin– another version)

Oleh Hary El Tampanovic

Kata Sapardi,……
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
seperti kata yang tak sempat diucapkan…
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
seperti isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Kata Saut Situmorang,
Aku ingin mencintaimu dengan membabibuta
dengan sebotol racun yang diteguk romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya menjadi puisi
Aku ingin mencintaimu dengan membabibuta
dengan sebilah belati yang ditikamkan juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi

Kataku,
Aku tidak ingin mencintaimu dgn sederhana
Bukan seperti kayu dan awan tolol
Yang hanya sekedar berkata-kata atau menyampaikan isyarat saja tak bisa
Bukan seperti kisah Romeo dan Juliet yang berakhir tragis

Aku hanya ingin mencintaimu dengan hormon dewasa
Seperti takdir yang di titahkan pada DNA
Bahwa manusia mesti melanjut darah Adam dan Hawa

Kata perempuanku…
Dasar lelaki
Yang dipikir cuma birahi

Kataku lagi,
Bah, bukankah kamu yang selalu minta 3 kali sehari?


%d blogger menyukai ini: