Tag Archives: kereta

Melongok Sedikit “Isi Perut” Novel Garis Merah di Rijswijk

Di buku kesatu dari trilogi Rijswijk ini, kita akan membaca beberapa hal dalam setting Batavia (Betawi), Kwik Tang Kiam, seperti apa jam malam di Passer Senen, Passer Baroe, Kramat Raya. Pelarian Tan Sjahrir di subuh buta, menghindari Marrechaussée Belanda, dan akhirnya berlindung di salah satu rumah warga Betawi di Menteng.

Ada kejadian lucu di Kedai Kopi Acim, di depan Gang Sebelas, saat seorang tentara pelajar dari Kompi IV Komando Gerilya Kota wilayah Kebon Sirih menjemput Makhzam dari persembunyian di Cikini. Juga pertemuan pertama kali Makhzam dengan Sri Yanti.

Aksi-aksi sabotase Malaka dan Makhzam di Solo dan Semarang terhadap tangsi Belanda, saat Komando Pasukan Hijrah bergerak ke Bandung. Menyergap pos-pos dan tangsi logistik Belanda di sekitar kota Cina, Semarang dan merampok kereta api uap DD ALCO yang membawa logistik ke Jogja, membuat Mook, petinggi intelijen militer Belanda, naik pitam dan marah-marah pada Gubernur Jendral Stachouwer.

Malaka dan Makzham dimarahi Gatot Subroto karena mempermainkan Kapten Sanyoto dan menjadikannya lelucon di antara pasukan tentara pelajar, hanya karena lebih cekatan daripada Peleton Intai Tempur milik Sanyoto.

Lalu, percakapan Tan Malaka soal gerak ideologis Marx, dan apa maunya Soekarno pada penyatuan tiga aliran penting pemikiran yang dicampurnya, dan tentang posisi Tjipto dan Douwes Dekker—di sebuah kamar kecil di Jogja. Lalu, sejauh mana peran utusan-utusan Celebes dan Borneo sebelum pertemuan di Des Indes. Ada Rohana yang jago masak dan menjahit, tapi pandai menulis di surat kabar Perempoean Bergerak.

Bagaimana silang pendapat Sjahrir dan Malaka soal okupasi Nippon, dan seperti apa Hatta menengahi pertentangan itu. Pembicaraan dan siasat rahasia yang dibangun Mook, dan rencana Jonkheer Stachouwer membendung arus kepentingan di dalam Casteel Rijswijk. Posisi Amir Sjarifuddin di antara NEFIS dan kaum Calvinis di Kramat 106. Seperti apa permulaan siasat yang di bangun dan ditelusupkan Grand Mason-Zion, yang membonceng dalam setiap upaya Mook dan NEFIS.

Seperti apa nota aliansi sekutu yang diterima NEFIS, soal penimbunan kekuatan armada Nippon di Pasifik Barat Daya membayangi ancaman pada gugus Pulau Savo, Kepulauan Solomon, Kepulauan Santa Cruz, Semenanjung Huon, dan Kepulauan Admiralty. Lalu, pada gugus Guadalcanal, di mana bertebaran area-area yang ditandai bendera kecil berpita merah—Pulau Savo, Solomon Timur, Tanjung Esperance, Kepulauan Santa Cruz, dan Tassafaronga. Dan bendera-bendera kecil berpita biru, di gugus Solomon—Teluk Kula, Kolombangara, Teluk Vella, kawasan laut Vella Lavella, Teluk Kaisar Augusta, dan Tanjung Saint George.

Apa maksud pasukan Nippon pada bendera kecil berpita oranye berstrip kuning, yang ada di area dalam Gugus Guinea Baru: Laut Karang, Kokoda, Buna-Gona, Laut Bismarck, Teluk Nassau, Salamaua-Lae, Semenanjung Huon, Britania Baru, Kepulauan Admiralty, Aitape-Wewak. Dan, area berbendera kecil hijau di wilayah terluar Hindia: Biak, Noemfoor, dan Morotai.

Bagaimana siasat sekutu mengantisipasi pertahanan di wilayah ujung Filipina, Bataan, Selat Badung, Laut Java, Selat Sunda, Pulau Timor, Teluk Leyte, Borneo dan Celebes, yang masuk dalam peta perang Pasifik. Bagaimana kepanikan pemerintah Hindia tentang rencana serbuan Nippon selepas Operasi Selatan—dan mulai memasuki Andalas lewat samudera Hindia.

Lalu, kita ke Benkoelen (Bengkulu), menyimak kisah Soekarno dan Haji Hasan Din. Seperti apa posisi Benkoelen dalam kepentingan dan nafsu penguasaan oleh EIC dan VOC yang masif di sana. **

 

Judul: GARIS MERAH DI RIJSWIJK

(buku kesatu dari Trilogi Rijswijk)

Penulis: Li Loh

Penerbit: Republika, Juni 2012.

ISBN: 978-602-759-504-0

Harga : Rp. 57.500,-

 

Dapatkan di Toko Buku Gramedia

atau Hub. Penerbit Republika (Rida) di: 021-7803747 (ext. 103)

Novel ini ditulis dengan teknik Gonzo-Story

Iklan

Welcome Hometown…

Tulisan sebelumnya : Medan-Lau Sidebuk Debuk-Berastagi

Oleh Very Barus

NAIK KERETA API BRAK…BRUK…BREK…

Kalo ditanya kenapa judulnya sadis banget? Ya, itulah ungkapan hati gue yang paling dalam saat naik kereta (api) eksekutif dari kota Medan menuju kota kelahiranku Rantauprapat. Jangan bayangkan ‘eksekutif’ itu berarti bener-bener eksekutif. Mungkin judulnya saja bergelar eksekutif tapi kalo dari segi wujud dan penampilan, nggak layak deh disebut kereta eksekutif. Ruangan eksekutifnya dekil bin kumal. Tempat duduknya juga banyak yang sudah sobek (kayak roti sobek). Handle tempat duduk juga banyak yang sudah tidak berfungsi…

Tadi pagi, tepatnya jam 7.30 teng…

Gue sudah berada di stasiun KA dengan tentengan tas backpack dan tas gede berisi pakaian dan perlengkapan perang gue selama di Sumatra. Langsung naik ke dalam kereta dan meletakkannya di atas tempat duduk (bagasi). Hmm…ternyata kereta eksekutif di sini nggak ada ubahnya dengan kereta ekonomi di Jakarta dan Bandung. Bahkan lebih bagus kereta di Bandung deh. Hanya menang suara deru AC yang brisik dan nggak ada alat kontrolnya. AC nyala dengan kedinginan abal-abal. Alias ANGIN CEPOY-CEPOY. Nggak tau deh, apakah ini AC kw-1, kw-2 ato kw-3. Soalnya dinginnya nggak nampol!!

Jam 8 teng…

Kereta bergerak…penumpang nggak penuh-penuh banget sih. Banyak bangku kosong. Hanya saja, ada penumpang yang duduknya di sebelah gue bener-bener nge-betein. Dengan bawa tas yang nggak kalah gede dari tas gue, langsung nyerobot masuk ke dalam (posisi tempat duduknya di dekat jendela). Trus dia ngangkat tuh tas yang segede gaban mau diletakin ke atas (bagasi…). Trus, seenak udelnya nyenggol-nyenggol gue yang sudah duduk manis kayak murid TK. Nggak ada kata sori dan nggak ada basa-basi langsung grasak-grusukpengen gue sruduk aja nih orang! Belum tau yang duduk disebelahnya BANTENG!

Kereta berjalan…

Tiba-tiba aroma tidak sedap mulai masuk ke panca penciuman gue. Bau nyengat yang nggak ada di jual di shoping mall. Karena ini murni bau pipis yang aromanya sangat pekat! Duh, bener-bener bau yang merusak alat penciuman gue deh. Kok bisa sih, kereta ini nggak membersihkan toilet-nya sebelum berangkat…???

Sangat beda kalo kita naek kereta eksekutif di Jakarta ke Bandung ato ke kota lainnya. Aroma yang tercium sangat beragam dan harum yang menusuk hidung. Aromanya membuat otak gue bekerja untuk menebak kira-kira merk apa tuh aroma parfum yang dipake si penumpang…sangkin sedapnya tuh aroma…

Usai bau pipis, kemudian muncul aroma baru. Kali ini dari ibu-ibu yang duduk persis di belakang gue. Aroma khas minyak gosok ‘kayu putih’. Duh…baru aja kereta berjalan kok sudah pada puyeng sih…??? Bener-bener mengganggu banget deh! Sudah AC-nya nggak nampol. Aroma yang muncul justru beraneka ragam. Arrrrrgggghhh…!!!

Gue mencoba menenangkan otak dengan menempelkan earphone ke telinga. Mulai deh mengalun lagu-lagu pilihan yang sengaja gue download ke BB gue. Mulai dari lagu The Little Things Give U Away (Linkin Park), Ya Sudahlah (Bondan feat Fade2Black), Crawl (Chris Brown), Fireflies (Owl City), dan deretan lagu-lagu yang nampol di telinga gue. Satu alasan kenapa pake earphone, biar nggak terjadi interaksi dengan orang yang duduk di sebelah gue. Karena kadung menyebalkan!

Trus, gue mulai ngeluarin novel karya Tony Parson (Man and Boy), yang jujur saja sudah berbulan-bulan dibeli tapi nggak tuntas-tuntas juga dibaca. Semua itu gara-gara BB…yang membuyarkan minat baca gue. Mata gue lebih doyan melototin layar Blackberry gue ketimbang baca novel lagi… Kadang-kadang BB ini najis banget deh…!!! Membuat nafsu membaca novel gue berubah jadi nafsu kegatelan melototin layar BBYa, buka FB, buka Twitter, MP, YM, Kompas.com, Detik.com dll…dooohhh…!!!!!

Mulai deh siap-siap baca Man and Boy yang masih tetap pada posisi bab 5. Nggak beranjak dari taon kapan…!! Tapi, dasar kereta eksekutif abal-abal…goyangannya sangat dahsyat banget! Lo bisa bayangin gimana dahsyatnya tuh goyang kereta. Pantat gue bisa terangkat dari tempat duduk hingga pada posisi kayak sulap ala Deddy Cobuszier. Untung saja tidak terangkat sampe ke langit-langit kereta…

Waduhgimana mau baca…saat mata masih berada pada barisan paling atas membaca kata demi kata novel tersebut. Tapi sangkin dahsyatnya guncangan kereta, tiba-tiba mata gue sudah berada pada barisan paling bawah tuh novel…busyet dah…!!! Alhasil…novel hanya bertahan gue baca selama 15 menit. Selebihnya kepala gue mulai puyeng. Maklum, gue emang nggak bisa membaca dalam kondisi penuh guncangan. Maksud hati mau menuntaskan ini novel malah ditutup dengan manisnya…

Sabar ya Tony Parson…karya elo pasti gue baca dengan tuntas kok! Tapi tidak di sini. Di dalam kereta butut ini! Ntar di rumah aja…!!

Dua jam pertama kereta berhenti di TEBING TINGGI…kota yang terkenal dengan LEMANG dan CAKAR AYAM-nya. Kereta berhenti, kemudian muncul deh pedagang yang menjajakan dagangannya. Dulu, waktu masih kuliah, setiap naik kereta, gue sering beli Pecal, Mie dan Sate Kerang yang dijajakan ibu-ibu. Sedap juga kok…!!! Tapi sekarang, niat untuk melahap jajanan si ibu-ibu tersebut sirna. Ada kesan jorok di benak gue. Jadi mending ditahan aja dulu…

Dua jam berikutnya berhenti lagi di kota lain… Sama seperti di TEBING TINGGI, para penjaja makanan mulai menjajakan dagangannya. Karena perut ini bimbang. Antara lapar dan tidak, alhasil gue beli RAMBUTAN yang bener-bener nendang banget manisnya…lebih higenis ketimbang Pecel dan Mie yang cara meraciknya, tangan si ibu menguyel-uyel itu Pecel dan Mie…jorok bukan…?!!

Usai kunyah mengunyah, gue mencoba merebahkan tubuh ini. Karena rasa kantuk mulai menyerang. Gue pasang kembali earphone menemani kantuk gue…hingga akhirnya mata gue bener-bener terpejam…(untung saja, tidak ada KEONG RACUN di playlist gue…kalo ada mungkin gue sudah lipsync sambil menari-nari kayak Shinta dan Jojo).

Akhirnya gue pun terpejam…gue ingat, lagu FIX YOU-nya Coldpaly masih mengalun hingga gue tertidur nyenyak…Zzzz…zzzzz…zzzzzzz…

Tanpa terasa, pukul 13.30 siang…

Kereta sudah touched-down di tanah leluhurku…disambut dengan terik matahari yang sangat menyengat! Puanaaaasssss bangethhh!!!!

But, no problema…!! I love my hometown…!!

I’m coming home…!!!

[]

Baca juga tulisan selanjutnya : Tentang Pernikahan Itu


Sepertiga Laju Kereta

Oleh Afrilia Utami

Sepanjang jalan kumendengar lagu yang sama
Sepanjang jalan kupandangi jendela kereta ini
Bukit dan lahan yang laku bergetar
Kota asing terseret kemasa lampau
Dan semakin asing ketika aku memperlihatkannya

Kita tidak sedang bercinta lagi

Kereta mulai berjalan
Dan aku melihatmu menangis
Melambaikan tangan yang rapuh

Kita akan terbiasa dengan kesunyian
Kita akan begitu bahagia merenungkan semua yang terjadi ini
Berdiri dibawah hujan yang menyatukan airmata dan airlangit
Seperti katamu…

Kita akan bernyanyi tengah malam
Sejenak selepas kita mulai tertidur
Kita akan begitu bahagia merenungkan semua ini

Baru saja kita tiba disebuah kota
Dimana kita akan meninggalkannya
O, baru saja kita terlahir dalam tangisan bayi
Kita akan pergi kedalam gelapnya senyum dimasa tua
Hanya beberapa orang mengerti kita bahagia
Hanya beberapa saja apa yang membuat kita menangis
Maka tenanglah menjalani segala yang akan usai ini

Kereta terus berjalan
Dan tak henti kupandangi jendela yang bergetar itu

Kau tahu saat lambai jemarimu meraba tatapku
Melambaikan sebuah kesepian
Sebuah puisi yang hanya aku melihatnya
Dan dengarkanlah…
Hanya aku yang menyimpannya…

[]


Diproteksi: Sebunyi Sunyi Sembunyi Sepi [15]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


Naik Kereta Api Tut Tut Tut

Oleh Naimah Herawati Hizboel

CIREBON, pada pagi (19/5) itu menjadi “lain” karena aku mengunjunginya bersama lima orang teman FGD, yang kelima-limanya perempuan, dan naik kereta. Ya, kereta api Cirebon Ekspress atau populer disebut CiReks membawa kami berenam pada Kamis pagi itu menuju Kota Udang-Cirebon.

Meski sudah berangkat lebih awal, tak urung sesampainya di Gambir kami hanya tinggal punya waktu 10 menit untuk naik dan menemukan kursi sesuai tiket. Saking gaduhnya aku melewatkan momen puitis detik-detik menjelang kereta berangkat. Padahal, tiap kali mendengar suara panggilan dan tone yang mengiringi derap kereta ada debar aneh merayapi dinding hatiku.

Perjalanan hari itu tak kusangka bisa terwujud dengan mudah. Berawal dari obrolan di meja BAKERZIn, sebuah resto di Cilandak Town Square pada 10 Mei silam. Sepulang acara peluncuran novel Pendar Jingga di Langit Ka’bah (karyaku) di BONDIES Café n Lounge di Kemang, kami makan malam di sana untuk merayakan ulang tahun Mbak Angel yang jatuh sehari sebelumnya. Mbak Angel pulalah yang melempar ide pergi ke Cirebon, dan disetujui oleh kami semua.

Bahkan, tanggal 19 Mei (9 hari kemudian dari hari itu) yang di usulkanpun tak diprotes. Aku, yang biasanya cukup sulit memperoleh eksit permit, malam itu tak tega menodai kegembiraan teman-teman. Apalagi judul kepergian kami nanti sebagai perayaan setahun usia pertemanan kami. Kupikir, biarlah nasib membawaku. “Kalau Allah mengizinkan, pasti ada kemudahan.” Pikirku saat itu di sela keriuhan suara tawa dan alunan musik di BAKERZIn.

Alhamdulillah, semua berjalan mudah dan aku benar-benar akan piknik naik kereta api ke Cirebon bersama teman-teman. Sebenarnya kami semua bertujuh. Sayangnya, Yulia yang sekretaris senior di sebuah perusahaan, tak seleluasa kami untuk pergi-pergi. Maka, jadilah kami lebih sering jalan berenam. Beberapa hari sebelum hari H, Lely ditugasi membeli tiket, dan Didiet menghubungi toko batik di Cirebon yang punya fasilitas antar jemput buat kami dari dan ke stasiun Cirebon.

Jangan tanya seperti apa “hiruk pikuk” kami beberapa hari menjelang pergi. Topiknya seputar teknik berangkat ke Gambir, agenda perjalanan selama di Cirebon, hingga menu sarapan kami di kereta nanti. Tentang dresscode, baru sehari sebelum berangkat kami sepakati. Aku yang iseng mengusulkan “seragam” warna dusty-pink tak ditolak seorang pun. Hanya Mbak Ida yang sedikit panik mencari koleksi kerudung yang berwarna dusty pink polos. Akhirnya, kami sepakat berangkat dengan “seragam” dusty pink polos, dan pulangnya pakai selendang hasil buruan di Cirebon. Dengan kata lain, kami semua wajib beli selendang di sana!

Pukul 06.00 kami jreng ketemu di lobby Gambir. Seperti adegan film di Home Alone 2 yang rombongannya ter-gopoh-gopoh di bandara, maka begitulah rombongan kecil kami pagi itu. Setengah berlari kami menuju kereta dan naik ke gerbong satu. Leganya, ketika akhirnya kami menemukan nomor kursi kami masing-masing.

Ternyata, sewaktu kecil kami semua sangat gemar bepergian naik kereta api. Maka, perjalanan pagi itu pun ramai dengan cerita manis tentang pengalaman kecil naik kereta. Sembari makan pizza hangat bawaan Mbak Angel, kami berebut cerita, sehingga perjalanan selama 3 jam sama sekali tidak terasa. Tahu-tahu kami diingatkan bahwa sebentar lagi kereta api akan memasuki stasiun Cirebon. Dan, tepat pukul 09:10 kereta berhenti di peron 2 stasiun Cirebon. Kami beriring-iringan turun.

Baru tiga langkah meninggalkan kereta, semua mata mengarah pada tulisan C-I-R-E-B-O-N dengan huruf kapital berukuran besar di dinding. Kemudian, semua pun berhenti sejenak untuk berfoto dan langsung wuuss… disebar ke Facebook masing-masing. Sesampainya di luar, pak sopir dari Toko Batik Jaya Abadi sudah menanti kami. Tanpa buang waktu kami segera naik dan minta diantar ke Warung Nasi Jamblan Khas Cirebon – Mang Dul, yang berlokasi di dekat Grage Mall.

Meski di kereta kami sudah sarapan pizza, tapi lauk pauk yang terhampar di Warung Mang Dul sungguh menggoda iman. Kami semua yang sehari-hari ketat mengatur pola makan, saat itu tak ada lagi yang mengkhawatirkan bobot tubuh. Tumpukan nasi berbungkus daun jati, plus deretan lauk pauk dan sambal kami ambil satu persatu. Ada Pepes Jamur Rajungan, Semur Tahu, Ikan Tongkol Kecap, Oseng-Oseng Kerang, dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun, udara warung yang mulai panas membuat kami tak betah berlama-lama di sana. Didiet dan Lely menutup “sarapan” pagi jilid 2 itu dengan mengulum Es Loli. Lagi-lagi nostalgia kanak-kanak.

Pak Wardji, sopir yang membawa kami sempat menawari untuk singgah di Kraton, tapi kami memilih untuk langsung ke Toko Batik Jaya Abadi yang ada di kawasan Trusmi saja. Rencananya, sembari makan siang nanti baru kami akan ke Kraton. Tapi yang terjadi kemudian membuat semua rencana menjadi batal. Toko batik yang mirip rumah itu benar-benar “menyihir” keenam perempuan dari Jakarta itu. Koleksinya yang lengkap dengan corak dan pewarnaan bagus-bagus membuat kami tak berminat pindah toko, apalagi jalan-jalan ke tempat lain. Udara Cirebon yang semakin siang semakin panas menyengat menambah keengganan kami semua untuk keluar dari toko berhawa sejuk itu. Apalagi, tuan rumah kemudian mentraktir kami berbagai makanan khas Cirebon. Aah… rasanya memang kami tak perlu kemana-mana lagi!

Tahu Gejrot khas Cirebon menjadi menu pembuka kami sebelum kemudian menyantap Empal Gentong. Kami memilih Empal Gentong berkuah bening yang (kata tuan rumah) lebih segar rasanya ketimbang yang bersantan. Tanpa sadar, porsi Empal Gentong plus irisan lontong yang cukup besar, tandas dari mangkok masing-masing. Dessert-nya tak kalah enak. Es Dawet khas Cirebon dengan rasa manis dari kucuran gula aren. Tanpa sadar, ternyata kami semua menyantap makanan sambil tetap sibuk memilih kain dan selendang yang terhampar di lantai, dan terpajang di rak serta lemari dinding.

Yang menarik adalah mengamati gaya berbelanja keenam perempuan itu. Semua punya gaya yang berbeda dalam berbelanja. Aku, Didiet, dan Lely sama-sama heboh ketika menemukan kain atau selendang bagus, dan saling “mengompori.” Sementara, Mbak Ida dan Mbak Angel karakternya lain lagi. Mereka berdua adalah tipe “sedikit bicara banyak berbuat.” Tak terdengar suaranya tapi ternyata tumpukan kain yang dipilih sudah menggunung hanya dalam tempo dua jam. Tentu saja hal itu membuat aku dan Didiet tercengang dan tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Mbak Hasti juga punya gaya berbeda. Dia tidak terlalu heboh, meski sesekali terdengar bersuara. Tapi dia sangat percaya diri. Jarang terdengar dia minta pendapat pada kami.

Strategi jualannya pemilik toko batik Jaya Abadi boleh diacungi jempol. Setiap pelanggan yang berkunjung diberi kartu nama disertai penjelasan tentang fasilitas yang bisa dia berikan kepada setiap pelanggan. Mulai dari antar jemput dari dan ke stasiun, gratis mengunjungi tempat-tempat wisata, gratis diantar ke warung-warung makan maupun toko oleh-oleh, dan setiap tamu ditraktir makan dan minum apa saja.

Semua fasilitas itu membuat kami malas kemana-mana. Karena, toh berbagai makanan khas Cirebon bisa kami nikmati tanpa berpanas-panas, bahkan tanpa bayar. Deretan stoples berisi kerupuk dan keripik berjejer rapi di meja tamu. Sementara, di sudut berdiri dispenser bagus lengkap dengan kran panas dan dingin. Dan disebelahnya ada meja kecil yang diatasnya berisi deretan kopi sachet aneka merk dan teh celup merk terkenal. Setiap tamu bebas minum apa saja dan gratis. Kira-kira pukul 2 siang, pemilik toko menawari kami Siomay Ikan dan Rujak Serut khas Cirebon yang katanya sangat yummy, namun kami tolak karena perut benar-benar telah penuh.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Jadwal kereta kami pukul 18.15 berangkat dari Cirebon. Kami segera naik mobil jemputan dan singgah sebentar ke daerah Gombang untuk membeli Serabi. Serabinya gurih dan unik karena dimakan bersama Sambal Oncom dan daging cincang.

Agenda terakhir kami sebelum ke stasiun adalah singgah ke Grage Hotel untuk ngopi sore dan bersih-bersih diri. Ternyata, belum lagi pesanan kami datang, jam sudah menunjuk di angka 17.45. Semua kaget dan kalang kabut membantu membungkus pisang goreng keju yang kami pesan. Minumannya kami habiskan saat itu juga sembari mengurusi pembayaran di kasir. Untunglah pak Wardji punya inisiatif membawa kami lewat “jalan tikus” sehingga dalam tempo 10 menit kami sudah ada di halaman stasiun. Lampu-lampu yang mulai menyala memberi nuansa tersendiri pada sosok stasiun tua itu. Aku dan Didiet sempat tergoda ingin berfoto tepat di bawah lengkung bangunan, tapi karena waktunya benar-benar tidak cukup maka kami pun mengurungkan niat.

Apakah di kereta kami bisa tidur? Untuk Mbak Ida dan Mbak Angel jawabannya iya. Dua perempuan manis itu tidur lelap selama hampir dua jam. Mbak Hasti dan Lely terus ngobrol entah tentang apa. Sedangkan aku dan Didiet juga ngobrol tentang banyak hal. Baik yang serius maupun yang lucu yang membuat kami terbahak-bahak. Sesekali Lely tergoda ingin tahu, tapi aku dan Didiet sengaja membuat Lely makin penasaran. Tepat pukul 21.15 kami sampai di Gambir. Bulan sabit yang menggantung tepat di sisi Tugu monas dan malam yang basah oleh hujan, menyambut kedatangan kami. Sungguh, Jakarta malam itu sangat romantis. []

Jadi Turis di Cirebon
Jadi Turis di Cirebon

The Dusty Pink

The Dusty Pink

Coffee Time @ Grage Hotel

Coffee Time at Grage Hotel

Di Kepung Batik

Di Kepung Batik

Menetapkan Pilihan

Menetapkan Pilihan

Selendang Pilihan

Selendang Pilihan

Berpose dengan Hasil Buruan

Berpose dengan Hasil Buruan

Sarapan Jilid 2 at Nasi Mang Dul

Sarapan Jilid 2 at Nasi Mang Dul

Penantian

Penantian

Jakartaku yang (ternyata) Romantis

Jakartaku yang (ternyata) Romantis


%d blogger menyukai ini: