Tag Archives: desa

Menikmati Keunikan Tuktuk – Pulau Samosir

Baca juga kisah sebelumnya : Wisata Ke Air Terjun Sipiso Piso

Oleh Very Barus

USAI berwisata ke Air Terjun Sipiso-Piso, perjalanan kami lanjutkan ke Danau Toba lewat Tongging. Kaki ini rasanya sudah gatal pengen cepat2 nyampe di danau Toba dan pengen nyeburrrrr ke air danau. Apalagi dari ketinggian si Piso-Piso, kami sudah melihat indahnya pemandangan Danau yang dulunya adalah Gunung Toba. Mobil kami laju dengan kecepatan ‘nyantai’. Maklum, kami tidak mau melewatkan momen demi momen pemandangan indah. Tangan gue tidak pernah berhenti mengabadikan pemandangan itu lewat kamera digital Lumix DMC LX3.

Nggak nyampe 30 menit mobil sudah nyampe aja di Desa Tongging. Adem banget! Danau-nya tenang, penduduknya juga tenang. Di pinggir danau gue melihat beberapa warga sedang sibuk mengambil ikan Pora-Pora (pake jala). Konon katanya ikan Pora-Pora hanya berada di Danau Toba. Di Danau atau sungai lain tidak ada. Maka dengan penasaran yang membuncah, gue pun turun ke danau untuk melihat dan menangkap ikan Pora2 yang sangat lincah banget gerakannya.

Ikan Pora2 ukurannya kecil. Ya, mirip kayak anak ikan mujair gitu deh. Kalo menurut candaan warga setempat, ikan Pora2 adalah ikan KUTUKAN! Karena ukurannya nggak bisa besar. Hanya segitu2 saja sampai tua-nya. Ikan Pora2 juga sering dijadikan menu makanan. Ikannya bisa digoreng, di sambal, di arsik juga mantap. (sangkin penasaran, waktu makan di rumah makan, gue langsung pesan ikan Pora2 untuk mencicipin kelezatannya. Ternyata rasanya mirip kayak ikan teri Sibolga)

Puas bermain2 dengan ikan Pora2, perjalanan kami lanjutkan ke Tuktuk-Pulau Samosir. Gue pikir, tadi kami sudah nyampe di Danau Toba, berarti perjalanan berhenti sampai disitu saja. Eh, ternyata perjalanan masih sangat panjang dan melalui jalanan yang terjal dan berliku2. Desa Tongging yang kami singgahi hanyalah ujung dari bagian Danau Toba. Sementara Tuktuk atau Pulau Samosir masih jauh lagi. Letaknya juga di tengah Danau Toba..

Alamaaaakkkkk….!!!!

Mobil dilaju dengan kecepatan ‘nyantai lagi’. Kali ini bukan karena pengen mengabadikan pemandangan. Melainkan karena di kanan kiri jalan sangat membahayakan. Sebelah kiri jurang yang di bawahnya Danau Toba. Sedangkan di sebelah sisi kanan adalah tebing-tebing bebatuan yang rawan longsor. Kebayang saja kalau perjalanan yang kami tempuh disaat musim hujan. Selain jalanan licin, juga khawatir kalau bebatuan longsor dari atas tebing lalu menimpa mobil kami…oh, noooo..!!! (and thanks God semua berjalan lancarrrrr..!!)

Kami melintasi beberapa desa yang sejujurnya sulit gue hafal satu persatu. Yang pasti perjalanan kami tempuh dengan penuh kebingungan. Maklum, disepanjang mata memadang kami banyak menemukan kuburan-kuburan dengan bangunan yang menjulang tinggi. Konon kata si supir(org Batak), monumen kuburan  yang dibangun dengan megahnya melambangkan sebuah ‘kredibilitas’ pemilik kuburan. Bahkan banyak warga yang rela membangun kuburan dengan megahnya demi menghormati leluhur (orangtua) mereka yang meninggal. Meski kehidupan dan juga rumah mereka terlihat begitu memprihatinkan. Tapi mereka rela membangun kuburan megah untuk sebuah penghormatan pada orangtua yang meninggal…. Begitulah tradisi!

Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam, akhirnya kami pun nyampe di Tuktuk, Pulau Samosir. Hari sudah gelap, karena jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Kami langsung mencari penginapan (cottage) disekitar Tuktuk. Berhubung karena malam hari, kami tidak bisa melihat keindahan pemandangan lagi. Semua terlihat gelap dan menyeramkan….dibenak kami masih terbayang deretan kuburan-kuburan yang kami lewati sebelumnya. Ditambah lagi gue bisa melihat mahluk-mahluk di dunia lain….Argghh!!!!!

Perut lapar, kami cari makanan di kafe-kafe yang ada didekat hotel. Ya, kalo di Bali, kafe-kafe kecil tersebut banyak ditemukan dikawasan Poppies di Bali. Kami langsung pesan makanan yang panas dan pedas. Tapi sayang yang tersedia hanya INDOMIE REBUS dan SOTO AYAM saja! Minumnya teh manis panas dan beberapa minuman jus abal-abal (rasanya nggak nendang!)

Kalo dilihat dari jenis makanan yang kami makan, tentu harganya tidak akan melambung tinggi mahalnya. Tapi dasar orang daerah yg suka memanfaatin tamu yang datang, mereka langsung memasang tarif makanan yang cukup mahal. (sekitar 70 ribu saja!) meski, ngedumel, kami langsung bayar dan kembali ke Hotel langsung tidur!

Tuktuk atau Danau Toba dulu terkenal dengan udara yang cukup dingin. Tapi kemaren,  udara dingin itu sudah tidak terasa lagi. Malah gue kegerahan. Wajar kalau akhirnya gue membuka baju saat tidur….maaf kurang adem sih..!!!

Wes ewes ewes..Bamblas angine kemane….!!!!!

KEESOKAN PAGI HARINYA…

Kami langsung menuju resto untuk breakfast. Mohon maaf nih, breakfast-nya nggak layak direkomendasikan. Cuma nasi goreng, nasi putih dan soto. Standart bangetttttt…!!! rasanya juga nggak jelas! Hambar! Kayaknya lebih nendang masakan gue deh!. Nggak apa-apa deh, yang penting mengganjal perut dulu…. trus, kami lanjutkan jalan2 disekitar cottage yang bujubuneeee…indah banget! Kami terkagum-kagum dengan keindahannya. Suasana sangat tenang dan tidak ada gangguan kalo mau bersemedi, mau relax dan mau menenangkan diri. pemandangan disekitar cottage begitu memukau (foto2 sudah saya posting di facebook).

Tapi, bagi gue yang memiliki jiwa petualangan, tempat adem dan tenang seperti ini hanya bisa gue tempati nggak lebih dari 2 hari. Kalo lebih dua hari mungkin gue sudah mati gaya dan bisa Amnesia . maklum, berada di kawasan sepi seperti ini,nggak ada kafe dan tempat2 yang layak dikunjungi lagi membuat otak gue bisa mandeg untuk berkarya.

Puas memoto keindahan Tuktuk, kami lanjut ke kawasan lain. Ke kawasan menjual souvenir dan ada beberapa makam LELUHUR yang katanya sangat bersejarah dan kramat (bukan kramat Jati ato Kramat raya  ya…) ada juga aktraksi patung menari yang disebut SI GALE-GALE… ya, kayak patung orang jawa yang kepalanya goyang-goyang gitu. Tapi kalo patung si Gale-Gale patung yang tangannya menari2 (manortor-istilah Bataknya). Trus kalo kita mau menari bareng si patung juga boleh. Asal, usai nari kita ngasih uang sekedarnya sebagai wujud partisipasi… hmm… seru juga.

Hanya saja, sebelum masuk ke kawasan tersebut, gue sempat kesal sama seorang bapak yang ngaku2 sebagai GUIDE. Dengan senyum SOK RAMAH menyamperin kami, minta menjadi guide ke kawasan jual souvenir dan patung si Gale-gale. Dengan logat Batak sekental susuk cap ENAK! Si bapak bilang begini…

“mau di pandu nggak? Biayanya 50 ribu saja…”

Karena dulu (duluuuuuuu banget..waktu masih SMA ato SMP gue juga lupa), gue pernah ke Tuktuk dan ternyata daya ingat gue masih tajam setajam SILET!. Gue pikir, ngapain pake pemandu wong jaraknya Cuma satu pengkolan doang… buang2 uang saja 5o ribu ngasih ke si bapak itu..

Eh, bener saja.. nggak nyampe pada langkah ke 100, kami sudah nyampe ke kawasan jual SOUVENIR. Anehnya kawasan ini dari taon sebelum masehi sampe taon 2010 yang dijual itu dan itu saja. Nggak perubahan, perkebangan dan nggak ada inovasi baru. MONOTON!!!! Kreatif dong ITO..LAE….!!!!!

Karena yang dilihat nggak ada yang menarik (menurut gue ya…), akhirnya kami Cuma singgah sebentar, kemudian nyari tempat yang layak buat ngopi-ngopi sambil buka laptop. Pengennya sih update cerita perjalanan. Tapi apa daya, internetnya nggak connected!

Ada kisah seru juga sebelum meninggalkan TUKTUK.

Waktu mau ke warung kopi (catat! Warung kopi beneran bukan kafe), mobil kami parkir dengan manisnya. Tapi langsung dihadang opung (nenek) yang sedang asyik nyirih (makan sirih) dibawah pohon rindang. Gue kaget aja! Kirain si nenek patung orang2an. Eh nggak taunya masih punya nyawa. Dia bilang begini…(setelah diartikan dalam bahasa Indonesia..)

“ngapain mobil ditarok disitu?”

“Mau parkir inang…”

“ooo….”

Trus, nggak berapa lama kami pun masuk ke warung Kopi yang hanya bener2 jual KOPI saja. Tidak ada makanan lain yang dijual sebagai teman minum kopi. Parah banget bukan? Tidak kreatif!

Usai minum kopi, mobil yang kami parkir ditodong uang parkir sama si Opung! Dengan lantang dan mirip jagoan tahun 60-an (beda tipis dengan Leila Sari gitu deh gayanya) si Opung minta uang parkir sebesar rp.10.000.. busyettttt…!!! mengalahkan Grand Indonesia nih ongkos parkir..

Akhirnya supir kami ngotot pae bahasa Batak, yang artinya, si supir menanyakan surat parkir si opung. Dia nggak berkutik… edan…!!!! mental penduduk setempat perlu di reformasi deh!!!! Mental PREMAN semua..!!

Pukul 01:00 WIB

Kami meninggalkan TukTuk -Pulau Samosir, dengan naik Ferry menuju Parapat. Ya, penyeberangan dari Pulau samosir ke Parapat memakan waktu 45 menit. Nyampe Parapat, akmi langsung cari makan. Perut sudah kriuk-kriuk…lalu mobil kami laju meninggalkan DANAU TOBA menuju Pematang Sianta,Tebing Tinggi dan mendarat di Hotel JW.Marriot Medan…

Perjalanan yang cukup menarik bagi gue. Berada di Tuktuk dan Parapat membuat gue sadar, kalau masing-masing daerah yang gue kunjungi punya tradisi dan kebiasaan beda-beda. Kalau di Bali penduduknya sadar bahwa sumber mata pencarian mereka lebih dominan di dunia pariwisata, sehingga mereka selalu menghormati, melayani Turis yang datang ke Ranah mereka. bahkan mereka bisa membuat pengunjung betah berlama2 di Bali. Beda dengan kawasan Danau Toba, Pulau Samosir yang dimata gue masih bermental Preman! Belum menyadari kalau kawasan mereka adalah kawasan Wisata. Sehingga mereka sering memalak dan berlaku kasar terhadap tamu yang datang. Suka membuat harga yang dijual seenaknya tanpa kompromi. Sehingga pengunjung merasa selalu was-was jika sedang berada di tempat wisata itu…

HARUS ADA PERUBAHAN

Jika kawasan wisata itu ingin terus berkembang (tidak mati suri) dan semakin banyak dikunjungi para Turis. Bersikap ramah, sopan dan juga membuat harga yang masuk diakal agar informasi dari mulut ke mulut tentang keindahan dan keramahan penduduk setempat itu nyampe kemana-mana… jangan sampai ada kalimat yang berbunyi,” hati-hati kalau datang ke situ….suka memalak dan makanan suka buat harga asal-asalan..”

So, saatnya ada perubahan di kawasan indah itu..!! karena INDAH SAJA TIDAK CUKUP!!! JIKA TIDAK DIBARENGI DENGAN KERAMAHAN. KENYAMANAN DAN FEEL LIKE HOME jika sedang berada disitu….

[]

Iklan

Poelang Kampoeng ke Cinangneng

Oleh Hera Hizboel

PADA suatu siang yang terik (22/4) Dinda, putri kecilku pulang sekolah dengan wajah sumringah. Dia mencium tanganku dan kedua belah pipiku sembari sibuk bercerita tentang rencana sekolahnya yang akan menyelenggarakan piknik bersama ke Desa Wisata Cinangneng (Bogor) pada Kamis pekan depan. Ditunjukkannya surat dari sekolah yang berisi jadwal piknik dan formulir pendaftaran. Rupanya, karena event itu merupakan event jalan-jalan terakhir siswa TK B Sekolah PUTIK, maka sekolah mewajibkan keikutsertaan seluruh anak dan orangtua TK B.

Sepanjang hari itu Dinda terus membujuk aku untuk ikut menemaninya piknik nanti. Dalam hati, aku tidak terlalu antusias untuk pergi. Sebabnya tentu saja lututku yang masih (juga) nyeri kalau dipakai berjalan jauh apalagi kalau medannya naik turun seperti di daerah Cinangneng yang berada di kaki Gunung Salak itu. Tapi, hati ibu manakah yang tega mematahkan semangat putrinya yang memohon-mohon dengan mata berbinar seperti Dinda siang itu. Maka, kusanggupi juga permintaan putriku itu. Sembari tentu saja dalam hati aku berdoa semoga pada hari “H” nanti kakiku cukup sehat.

Sejak hari itu juga hingga sepekan ke depan Dinda tak henti meluapkan harapannya tentang acara yang akan diikutinya di Cinangneng nanti. Setiap ada kesempatan dia membacakan jadwal acara yang ada di lembar surat sekolah yang ditujukan untukku. Acara Kartinian di sekolahnya yang diadakan beberapa hari sebelum ke Cinangneng tidak cukup menarik minat Dinda. Ya, Dinda yang aktif tentu saja lebih tertarik dengan kegiatan outdoor macam bermain angklung, berlatih gamelan, dan memandikan kerbau di sungai ketimbang lenggang-lenggok jalan di catwalk sekolahnya. Maka, jadilah persiapan lomba kartinian dilakukan sekedarnya saja olehku. Baju Bodo dari Sulawesi Selatan yang kubeli untuk anakku tidak kulengkapi dengan accessories yang heboh, agar Dinda tetap nyaman ketika tampil membawakannya.

Poelang Kampoeng ke Cinangneng

Kamis pagi (29/4) langit Jakarta berwarna biru. Matahari bersinar cerah, secerah hati anak-anak TK PUTIK Cipayung yang berbaris rapi menuju dua bus besar bertuliskan White Horse yang parkir tepat di seberang sekolah. Aku dan Dinda plus asisten (pribadi) mendapat jatah kursi di bus nomor 2. Tentang asisten (pribadi) yang perlu-perlunya kuajak serta, tentu saja untuk menolong dan “mengawal” Dinda kalau harus berjalan jauh melalui pematang sawah untuk berkunjung ke rumah-rumah penduduk di sekitar Desa Wisata Cinangneng. Karena lututku juga, aku hanya akan menemani Dinda di acara-acara yang medannya aman-aman saja.

Bus mulai bergerak meninggalkan PUTIK tepat pukul 07.15 sebagaimana jadwal yang tertulis di surat sekolah. Zidane, salah seorang teman sekelas Dinda pada menit terakhir mengurungkan keberangkatannya, karena salah seorang pamannya sakit. Sekitar lima belas orang anak plus orang tua dan pengantar memenuhi bangku-bangku bus bagus itu. Bu Lisbet, bu Lia, dan seorang satpam sekolah mengawal anak-anak yang ada di bus 2. “Insiden” kecil yang terjadi sempat membuat bus mendadak menepi pada jarak lima puluh meter dari PUTIK. Penyebabnya adalah topi plus tas kecil milik Dinda yang tertinggal yang memaksa bus menepi. Semenit kemudian bus benar-benar berangkat.

Ketika bus mulai masuk ke jalan tol Jagorawi, dua bu guru cantik mulai beraksi. Bu Lisbet dan bu Lia “duet” memberikan tebak-tebakan pada anak-anak dan orang tua dengan hadiah menarik yang sudah disiapkan, dan mengajak bernyanyi di sela tebak-tebakan. Tentu saja kepiawaian dua guru itu membuat perjalanan menjadi riuh. Anak-anak dengan serius menyimak pertanyaan dan melonjak girang ketika tebakannya benar dan mendapat hadiah. Kecerdasan, keberanian, dan spontanitas anak-anak yang demikian mengagumkan tentu saja hasil dari pembelajaran dan pembiasaan mereka di sekolah. Tak ada yang menangis karena tidak kebagian hadiah, tak ada yang mengejek teman karena jawaban temannya salah, dan ikut bersorak senang ketika temannya mendapat hadiah, adalah deretan sikap positif semua anak yang patut diacungi jempol.

Keasyikan bernyanyi dan bermain tebak-tebakan membuat kami kesasar. Cinangneng terlewati hingga ratusan meter. Yang mencengangkan, ternyata sopir bus tidak tahu letak persis Desa Wisata Cinangneng dan para ibu guru pun belum pernah pergi ke sana. Yang melakukan survei lokasi dari pihak sekolah rupanya adalah orang dari administrasi yang saat itu justru tidak ikut. Hahahahaha….

Aku yang pernah ke Cinangneng bertahun lalu untuk menjenguk istri sopirku yang melahirkan, yang kebetulan berasal dari desa itu tentu saja tidak terlalu ingat jalan masuk ke lokasi. Aku baru sibuk mencari tahu lewat ponsel ketika melihat rambu ke arah Gunung Bunder sudah di depan mata. Seorang kerabat yang memiliki villa di Gunung Bunder pun segera kuhubungi dan kutanyakan letak persis jalan masuk ke Cinangneng. Akhirnya, bus segera mencari tempat aman untuk putar arah. Tak disangka ternyata bus nomor 1 pun ikut kesasar sebagaimana halnya kami. Seisi bus gaduh menertawakan kejadian itu. Bayangkan saja, dua bus besar dengan isi puluhan anak kecil sibuk berputar arah di jalan yang tidak terlalu lebar itu, dan tentu saja hal itu membuat banyak kendaraan lain harus berhenti memberi jalan.

Semua orang kemudian serius berkonsentrasi mencari papan penunjuk bertuliskan Desa Wisata Cinangneng. Yang menggelikan, kerabatku mengatakan bahwa papan petunjuk yang harus kami cari itu berwarna kuning, padahal ternyata berwarna merah! Meski “gaduh” tapi akhirnya semua bernapas lega ketika tak lama kemudian kami sampai di tempat yang dituju. Dengan sabar anak-anak turun dari bus satu persatu dan berjalan menuju sebuah kawasan bagus bertuliskan Desa Wisata Cinangneng yang terletak beberapa meter dari tempat parkir.

Cinangneng Village adalah kawasan wisata yang cukup luas. Beberapa bangunan permanen bergaya tropis yang ada di sekitar lokasi, di tata dengan apik. Meski berada di wilayah Jawa Barat tapi atmosfir yang diciptakan lebih terkesan Bali. Hester Basoeki sang pemilik rupanya memilih menegaskan unsur ke Sunda-an Cinangneng Village lewat menu paket wisata yang diramunya. Tak hanya rombongan anak sekolah yang bisa berkunjung ke sana. Rombongan keluarga dengan jumlah minimal 20 orang pun dilayani dengan paket harga yang sama dengan rombongan besar. Untuk dewasa dikenakan biaya Rp. 90.000,-/orang dan Rp. 195.000,-/anak.

Beragam Kegiatan di Kampoeng

Seluruh rombongan dikumpulkan di sebuah ruang terbuka dengan deretan bangku-bangku berwarna biru. Anak-anak menempati kursi biru itu dan orang tua duduk di kursi lenong kayu yang ada di pinggir arena. Mamang dan Teteh pemandu dari Desa Wisata Cinangneng satu persatu memperkenalkan diri sambil berdiri rapi berjejer di samping spanduk persegi berisi notasi lagu sunda di depan anak-anak. Tapi, acara tidak bisa segera dimulai karena rombongan bus nomor 3 dari PUTIK Pondok Kopi belum tiba. Salah seorang murid yang ada di bus itu ternyata adalah artis cilik bernama Cinta (anak perempuan dari artis Uya Kuya), yang siang itu diliput kegiatannya oleh stasiun televisi SCTV. Semua anak diminta bersabar beberapa menit lagi. Bu guru segera mengambil alih kendali. Anak-anak diajak bernyanyi-nyanyi agar tidak jenuh.

Setengah jam kemudian rombongan baru tiba. Acara pertama segera dimulai setelah sebelumnya bu Lisbet menjelaskan dan meminta izin liputan untuk SCTV. Anak-anak segera tersedot perhatiannya ke depan. Setiap anak dibagikan alat musik tradisional Sunda-Angklung. Salah seorang mamang pemandu berdiri sembari menunjuk not-not yang ada di spanduk dan mengajak anak-anak membunyikan angklungnya sesuai not masing-masing. Maka, disiang yang terik itu mengalunlah lagu “Burung Kakak Tua” lewat alat musik bambu yang dipegang anak-anak kecil, meningkahi kicau burung dan semilir angin kiriman dari Gunung Salak. Usai lagu pertama, mengalun lagu ke dua. Kali ini sebuah lagu Sunda. Liukan notasi khas Tanah Pasundan pun membelai telinga dan hatiku.

Setelah belajar angklung, anak-anak dibagi perkelompok untuk bergiliran mengikuti acara demi acara. Hal itu dilakukan agar semua anak kebagian berkegiatan sesuai durasi yang disediakan. Acara melukis di atas caping (topi khas yang dikenakan oleh Pak Tani di sawah) disambut gembira. Anak-anak dibagi caping dan alat lukis satu-satu. Teteh pemandu membolehkan anak-anak menggambar apa saja sesuai keinginan mereka dan diminta menuliskan namanya. Ya, setelah dilukis caping-caping itu akan dijemur dan akan dibagikan ke setiap anak sesuai namanya, sebelum pulang.

Selanjutnya anak-anak digiring ke sebuah meja di tepi kolam renang. Mereka merubung meja yang sudah berisi perlengkapan membuat kue Bugis (kue khas dari Sunda). Dengan serius anak-anak menyimak penjelasan para teteh dan mencoba membuatnya satu persatu. Setelah semua adonan selesai dibentuk selanjutnya dikukus dan akan dibagikan juga satu-satu bersama caping nanti.

Usai membuat kue Bugis, anak-anak diajari caranya membuat Jahe Bubuk untuk membuat minuman menyehatkan “Wedang Jahe”. Kali ini tak hanya anak-anak yang serius, para ibu dan bapak-bapak pun tampak menyimak baik-baik. Termasuk aku yang dengan sungguh hati akan mempraktekkannya nanti di rumah.

Berikutnya anak-anak dikumpulkan di sebuah ruang terbuka mirip panggung pertunjukan yang masih berada di sekitar kolam renang. Rupanya anak-anak akan diajari caranya menari Jaipong-tarian khas Sunda yang terkenal itu. Setelah semua anak menyampirkan selendang jumputan yang dibagikan di leher masing-masing, kemudian diberi contoh beberapa gerakan tari. Tak lama kemudian, mengalunlah musik dinamis berirama Sunda dari tape recorder yang menjadi pengiring tarian anak-anak. Hebatnya, meski tak lebih dari lima menit diberi instruksi, tapi semua anak bisa menari sesuai yang dicontohkan teteh pemandu di depan mereka. Sangat menakjubkan.

Seperti tak kenal lelah, anak-anak kemudian diajari cara membuat tahu dan bermain gamelan. Ketika memperhatikan cara membuat tahu, ekspresi mereka tak seantusias ketika berhadapan dengan seperangkat gamelan. Bagaimanapun musik memang memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi anak-anak. Nang ning neng nongNang ning neng nong… demikian bunyi yang terdengar.

Dimenit-menit awal belum ada harmoni yang terdengar. Tapi beberapa menit kemudian setelah dijelaskan cara memainkan dan cara bekerja sama yang benar dalam bermusik, terdengarlah sebuah komposisi sederhana yang cukup merdu di telinga dan hati. Meski anak-anak masih senang dengan alat musiknya masing-masing, tapi mereka sudah harus mengikuti acara selanjutnya yakni membuat wayang golek dari pelepah daun singkong.

Entah karena durasi yang terbatas atau aku yang lamban tiba di meja praktek membuat wayang, Dinda tidak berhasil menyelesaikan wayangnya. Lututku yang nyeri sudah tak sanggup lagi berdiri lama-lama. Letak tempat acara demi acara yang cukup jauh dengan medan naik turun, tentu saja cukup membebani lututku. Padahal setiap anak harus didampingi ibunya untuk bisa menyelesaikan wayangnya. Dalam hati aku agak iri melihat Wulan ibunda Naila menenteng karyanya ketika menuju bus menjelang pulang. Tapi, tentu saja aku harus terima nasib. Hiks hiks hiks

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.10. Waktunya makan siang untuk semua. Karena keterbatasan waktu, kami harus menyelesaikan makan siang dengan menu sayur asam dan ayam goreng plus sambal itu dengan segera agar semua acara bisa selesai tepat pada waktunya.

Setelah makan siang, aku tidak lagi bisa mendampingi Dinda mengikuti kunjungan ke rumah-rumah penduduk dan memandikan kerbau di sungai, karena medan yang harus dilalui sungguh tidak memungkinkan bagi lututku. Kendali mendampingi Dinda pun kuserahkan pada Ninik-pengasuhnya, dan kamera video kutitipkan pada Sisca (ibunda Deniss). Aku minta tolong Sisca untuk merekam gambar anakku memandikan kerbau di sungai. Pasti menarik, pikirku.

Aku kemudian beristirahat di sebuah pendopo terbuka sembari ngobrol dengan Wulan dan menikmati sepoi angin. Kami punya alasan sendiri-sendiri mengapa tidak mendampingi anak-anak kami saat itu. Aku dengan lututku yang bermasalah, dan Wulan yang kecapekan dan merasa sudah pernah mengikuti kegiatan serupa di tempat yang sama beberapa waktu lalu.

Di tengah keasyikan kami mengobrol, udara yang sepanjang pagi dan siang itu terasa panas tiba-tiba terasa dingin. Kulihat langit mulai gelap dan awan tebal tampak berarak. Wulan segera beranjak menuju tepi sungai untuk menjemput Naila dan memandikannya, sedangkan aku sendiri mencoba menyusul pelan-pelan di belakangnya. Kuminta Wulan bergegas saja khawatir didahului hujan, karena aku tidak terlalu berambisi bisa mencapai tepi sungai yang letaknya sangat-sangat curam itu.

Benar saja, beberapa menit kemudian hujan turun dengan deras seolah ditumpahkan dari langit. Aku segera balik arah menuju pendopo menunggu Dinda dan Ninik datang. Hanya hitungan menit mereka sudah ada di depanku dan segera kuminta Ninik memandikan Dinda dan menggantikan bajunya. Selanjutnya, seluruh rombongan berkumpul kembali di ruang tempat anak-anak bermain angklung tadi dan mengantri untuk menerima hasil karya masing-masing anak hari itu. Ada caping lukis dan ada kue Bugis. Sebelum pulang, anak-anak menerima sertifikat tanda keikutsertaan mereka pada “Program Poelang Kampoeng Cinangneng dari Mamang pemandu”. Setelah itu semua menuju bus masing-masing untuk kembali pulang.

Baru beberapa meter melangkah, kami dipanggil untuk kembali ke ruang pertemuan karena rupanya ada sesi pemotretan dengan mamang dan teteh pemandu,untuk kenang-kenangan. Dinda yang sudah capek dan saat itu tengah terkagum-kagum pada angklung di tangannya, menolak ajakan itu. Alat musik bambu seharga 20 ribu yang kubeli di tempat penjualan souvenir itu rupanya cukup membius Dinda, sehingga dia tidak berminat foto-foto. Aku dan beberapa orang lain yang juga enggan berfoto, beriringan menaiki bus. Hujan yang sempat berhenti sejenak segera turun kembali dengan derasnya begitu bus mulai bergerak meninggalkan halaman parkir Cinangneng Village.

Aku yang sudah kecapekan langsung terlelap begitu bus membelah jalan raya. Ayunan bus dan suara hujan di luar memabukkanku. Tak sampai 15 menit aku terlelap, aku terbangun oleh suara riuh rendah anak-anak. Stamina bu guru dan anak-anak sungguh mengagumkan. Semua segar bugar dan tetap gaduh bercengkerama. Sekali-sekali Sisca mondar-mandir memotret kegaduhan itu. Meski sambil duduk, aku ikut-ikutan mengabadikan dengan kamera saku dan kamera video yang ada ditanganku.

Alhamdulillah semua berjalan lancar dan menyenangkan. Kami sampai di PUTIK pukul 15.25 dengan selamat. Hujan masih turun dengan derasnya. Satpam sekolah menyambut kami dengan sigap dengan payung di tangan dan mengantar setiap anak masuk ke mobil jemputan masing-masing. Suamiku dengan manis sudah menunggu. Mobilnya ada dibarisan terdepan para penjemput, sehingga bisa langsung melesat begitu aku dan Dinda masuk ke mobil. Karena hujan pula aku abai pamit pada bu guru dan teman-teman para orang tua. Semoga semua maklum. Tentu saja terima kasih sepenuh hati atas kesabaran dan kebaikan hati bu Lisbet dan bu Lia. Sungguh, sebuah akhir perjalanan (wisata) yang menyenangkan, yang tentu saja akan menjadi catatan indah di benak anak-anak yang sebentar lagi akan melangkah ke bangku sekolah dasar.

[]

Menang Kuis di Bis

Dinda dan Bunda

Dinda dan Naila

Dinda dan Rani

Main Angklung

Belajar Gamelan

Melukis Caping

Caping Lukis Itu

Membuat Kue Bugis

OTW to Jakarta


Sagule

Oleh Adhy Rical
Enam perempuan muda malam itu serentak menyebut Sagule, dukun desa Rangkaya sebagai sang Dewi atau Anawai Ngguluri. Padahal Sagule hanya berhasil menggugurkan kandungan mereka: mengusap perut dengan air ludah dan sedikit mantra. Biaya murah dan terjangkau.

***

Hanya tiga bulan, Desa Rangkaya menjadi ramai. Bukan saja perempuan yang hendak membuang bayinya datang dari desa tetangga tapi justru dari kota. Sagule makin terkenal sebab air ludahnya bisa membuat perempuan kembali perawan. Orang boleh tidak percaya tapi kedewian Sagule tak bisa terbendung lagi. Pun tak ada perempuan yang keberatan kalau Sagule meludahi kemaluan mereka. Selain ludah bercampur sirih dan asam mangga, sisa kretek tak mau kalah, masuk pula.

“Yang penting perawan”, begitulah alasannya.

***

Desa Rangkaya berubah total. Setiap rumah sudah dipasangi stiker: jadual sang Dewi, lengkap dengan tarif yang telah ditandatangi kepala desa. Bahkan, sebuah papan nama di rumah kepala desa tertulis: Menerima Aborsi.

Sagule menjadi dukun terkenal sekaligus selebritis Rangkaya. Apakah ada dukun yang bisa menyamai prestasi Sagule? Dukun yang tak pernah gagal menggugurkan kandungan. Hanya dalam tiga bulan, ia berhasil menggugurkan kandungan 351 orang. Tak ada rasa sakit apalagi darah yang menetes jika Sagule sudah membuang ludah ke lubang kelamin pasiennya.

***

Tujuh hari setelah prestasi yang wah itu, Sagule berhenti menjadi tukang ludah. Bukan karena beberapa petugas kota mulai mencarinya. Bukan karena bayaran yang tak pantas. Mungkin ada yang berpikir, Sagule patut memperoleh bayaran lebih mahal dari biasanya. Bukan!

Ia hanya ingin agar semua janin dalam perut perempuan diambil lalu dipelihara layaknya anak sendiri. Cuma itu syaratnya. “Kalau kau bersedia, temui saya di gunung Tawuna Ula!”

***

Tiga pekan setelah kepergian Sagule. Desa Rangkaya gempar. Kepala desa pun raib. Warga memberanikan diri ke gunung. Mereka hanya tertegun setelah tiba di sebuah rumah bambu sederhana. Mereka mencium bau kretek yang sangat menyengat. Sagule terbaring dengan tubuh telanjang. Kepala desa yang mereka cari terkapar di atas tubuh Sagule. Keduanya telanjang dengan tubuh penuh ulat dan lalat. Sepertinya, kedua kelamin mereka bertemu. Mungkin tak pakai ludah.

[]
Kendari, 2010



Harga Tubuh

Oleh Adhy Rical

seorang perempuan telanjang di samping lelaki
dekat toko elektronik,
lelaki itu masih mengapit keramik
dari desa asaki
: kendari, ruko birahi

tadi malam,
lampu padam cukup lama
ada cerita silsilah keluarga,
petugas lapak, dan wangi tubuh
“kita berpelukan di bawah tenda yang sedikit terbuka”
agar garis tubuh dapat terlihat menghijau

lihatlah karapan kuda di pulau wuna
tak perlu pelana untuk kedua paha yang rona
dan ciuman telinga belakang
cukuplah tanda kian jenjang

mungkin nanti, keramik tak lagi antik dengan wajahmu
sebab peluru lebih desing dari teriakan
tubuh keduanya kaku
hanya lelaki yang gesit memakai celana dan baju
bukankah darah di kepala tak perlu merogoh saku?

[]
Kendari, 2010


Oheo

Oleh Adhy Rical
Entah bagaimana bermula, laki-laki yang dipanggil Oheo itu tiba-tiba diangkat menjadi kepala desa. Tak seorang pun mengenalnya. Keluarga pun, tak. Orang kampung Lapau memanggilnya: lelaki langit. Sebab ia ditemukan tak sadarkan diri di sebuah gunung Lapau. Ketika hujan deras dan rumah panggung dekat sungai, tenggelam.

Cuma empat bulan, warga seperti terhipnotis mendatangi Oheo agar bersedia menjadi kepala desa. Syarat Oheo sederhana sekali: sesisir pisang raja, segantang beras ketan, dan seikat selendang merah. Keahlian Oheo hanya membuat perahu. Itu cukup alasan orang kampung memintanya menjadi kepala desa. Bukankah Oheo berhasil menyelamatkan 2/3 orang Lapau dari bahaya banjir?

***

Setelah enam bulan menjadi kepala desa, warga mulai merasa ada yang kurang pada diri Oheo. Aneh rasanya, Oheo menjadi kepala desa tapi tak ada perempuan di sampingnya. Mereka butuh seseorang yang dipanggil: bu desa. Maka mulailah mereka mencari perawan cantik yang lebih muda dari Oheo.

Ada tujuh perempuan yang mereka bawa. Semua di bawah usia dua puluh tahun. “Ini perawan pilihan desa untuk Anda. Dijamin semua dada besar yang Anda lihat tak pakai pelindung busa. Asli!” Semangat warga kampung begitu menyala. “Mereka cantik. Usianya sepuluh tahun lebih muda dariku tapi mereka tidak membara,” batin Oheo.

“Nanti kucari sendiri!”

***

Tiga puluh hari mencari cinta. Akhirnya pernikahan dilangsungkan. Semua warga Lapau bahagia sekaligus kecewa. Bahagia sebab Oheo telah beristri. Itu berarti mereka memiliki kepala desa yang sempurna dan lelaki sejati. “Jangan sebut dirimu lelaki kalau belum beristri,” begitulah tradisi Lapau. Kecewa, sebab istri Oheo, dua kali lebih tua daripada Oheo sendiri.

“Saya mencintai orang yang kalian panggil mBue Runga. Restuilah sebagaimana nabi anda pernah begitu.”

***

Keesokan harinya, mBue Runga dengan secarik kertas di genggaman dan berpakaian setengah telanjang meraung-raung di tengah kampung. Meskipun suaranya serak dan lirih serta rambut awut-awutan, warga masih mengenalinya.

“Maaf, saya harus pergi. Runga bukan istriku dulu. Tak ada selendang merah di sesela selangkangannya.”

Pesan itu seperti guntur yang menggelegar di dada. Mata mereka bercahaya seperti kilat: lelaki langit. []

Kendari, 2010


Bukan Penyair ( bukan puisi )

Oleh Syaiful Alim

Aku bukan penyair, Tamara. Aku cuma sebutir debu menggebu ingin nempel di sandal dan sepatu. Merantau dari risau ke risau. Dan jadi pengganti wudhu ketika kemarau meranjau.

Aku bukan penyair, Tamara. Aku cuma cacing tanah yang menyetubuhi dedauan luruh dari reranting terpelanting denting angin. Ingin lahirkan pupuk untuk menyuburkan tanah lapuk. Kau tahu manusia sering lupa menjaga alam. Manusia kerap jadi perusak. Hutan-hutan ditebang dengan kapak keserakahan. Pabrik-pabrik ditegakkan tanpa sistem manajemen lingkungan.

Aku bukan penyair, Tamara. Aku cuma arang yang jadi pulpen atau kapur tulis bocah-bocah desa yang tak terjangkau pembangunan. Kemakmuran hanya dimiliki orang kota. Sumber daya alam desa diangkut orang-orang kota. Kita saksikan sebuah desa melimpah sumber daya alam, tapi penduduk desa itu miskin dan tak berdaya. Kekayaan alamnya dieksploitasi tiada sisa.

Aku cuma arang, Tamara. Bahagia melihat bocah-bocah itu menulis sambil menitiskan air mata. Dengar getar suara mereka mengeja alif ba ta dan angka satu tua tiga. Lihat gurat-gurat huruf mereka di papan, selembar kertas usang, dan dada kulit nangka.

Tamara, kita sudah paham kenapa pendidikan hanya milik orang berpunya. Orang miskin dilarang sekolah dilarang pandai. Apalagi kini banyak lembaga pendidikan yang bertujuan bisnis. Orang miskin pasti menangis. Lembaga-lembaga pendidikan berlomba menawarkan fasilitas mewah yang menjadikan jurang pemisah antara si miskin dan kaya.

Tamara, banyak anak kere yang pintar, tapi ia tak kuasa melanjutkan belajar karena terbentur biaya pendidikan paling dasar. Akhirnya mereka hanya bisa membantu Ayah-Ibu di pasar atau bekerja di pabrik dengan gaji tak mampu mengganjal perut lapar.

Tamara, aku bangga dengan Ibumu; beliau membantu anak-anak kurang mampu secara ekonomi dalam menikmati pendidikan. Semoga kita bisa mencontoh beliau dalam gerak merekatkan jiwa-jiwa retak oleh kapak nasib atau takdir. Mari kita sisihkan rizki demi hak orang lain. Mari memberi sesuai kemampuan.

Aku bukan penyair, Tamara. Aku cuma parit. Menampung sisa-sisa air mata. Dan menghanyutkannya ke sungai laut samudera.

Aku bukan penyair, Tamara. Aku cuma muallaf bahasa. Belajar rangkai kata jadi sebingkai asa. Manusia kerap putus asa dan redup di hadapan hidup penuh degup. Mungkin sebab itu, penyair hadir di bumi. Memberi arti atau makna pada segala keterluntaan dan keasingan.

Tamara, banyak penulis sajak gagal jadi penyair. Banyak penyair tak menyajak tak bersajak. Ah, kenapa gemar mencemari gelar. Ah, kenapa ribut tentang atribut. Bagiku, aku akan terus menulis sajak dengan julukan penyair atau tak.

Aku bukan penyair, Tamara!

[] Khartoum, Sudan, 2010.


Munjungan, Tradisi Nyekar Ala Desa Tambi

Oleh Hera Ibrahim

INDRAMAYU — Pada masyarakat Jawa, dikenal istilah ”Nyadran” atau ”Nyekar”. Sebuah istilah yang mengandung arti mengunjungi makam keluarga yang telah meninggal. Kegiatan Nyadran atau Nyekar marak dilakukan pada bulan-bulan menjelang bulan suci Ramadhan. Pada saat itu, biasanya peziarah menabur bunga di atas makam, sambil membaca doa bersama-sama. Kegiatan hampir serupa, namun berbeda dalam ritual, dilakukan di desa kecil bernama Tambi, bagian dari Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Nyandran atau Nyekar di desa ini dikenal dengan nama Munjungan. Keunikan Munjungan ini terletak pada tata ritualnya. Para peziarah makan bersama di kompleks makam sang leluhur, sambil menyaksikan pentas berbagai kesenian, macam wayang kulit, tari topeng, tarling, hingga dangdut. Yang mementaskan adalah para keluarga, anak dan cucu almarhum.

Usai Panen, Almarhum Ki Wisad, yang makamnya terletak di salah satu sudut desa Tambi, dulu adalah seorang dalang wayang kulit, dalang topeng, sekaligus seorang pelawak topeng. Maka, tidak mengherankan bila kemudian banyak anak-cucu keturunannya yang menjadi seniman. Yang membedakan lagi Munjungan dan Nyekar adalah waktu pelaksanaannya. Jika Nyekar hanya dilakukan menjelang bulan Ramadhan, Munjungan tidak terbatas waktu. Kapan saja bisa. Namun, yang paling sering dilakukan pada bulan Jumadilakir dalam penanggalan Jawa.

Menurut Pak Taham, yang merupakan keturunan kelima belas almarhum Ki Wasad dan Nyi Nasilem, yang dijumpai di sela-sela acara Munjungan, 3 September 2001, bulan Jumadilakhir adalah bulan di saat panen kedua usai setiap tahun. Sehingga kegiatan Munjungan tersebut dapat berjalan lancar. Hal ini terkait juga dengan biaya yang ditanggung bersama oleh seluruh keluarga.

Selain makam Ki Wisad, terdapat juga makam Buyut Tambi, yang merupakan cikal bakal penduduk desa Tambi. Seperti Ki Wisad, Buyut Tambi pun adalah seorang dalang wayang kulit. Asal-muasal Buyut Tambi tak pernah diketahui secara pasti. Namun, dialah yang kemudian membuka lahan pemukiman yang saat itu masih kosong. Maka, sejak saat itu, berkembang anak-cucu Buyut Tambi di desa itu. Untuk menghormati almarhum Buyut Tambi, dinamakanlah desa itu sebagai Desa Tambi.

Meski sebagian besar penduduk desa ini bermata pencaharian sebagai buruh tani, darah seni yang dimiliki Buyut Tambi ternyata tetap mengalir kuat. Maka, tidak heran bila di balik penampilan mereka yang sederhana, tersimpan kemahiran menari, menyanyi, memainkan berbagai alat musik, memahat, hingga mendalang. Ada kesepakatan tak tertulis, namun dipatuhi bersama di desa tersebut, yakni kegiatan Munjungan di makam-makam lain baru boleh diadakan, bila telah dilakukan Munjungan besar di makam Buyut Tambi, yang merupakan punden atau cikal bakal dari penduduk desa Tambi. Tidak terkecuali Munjungan di makam almarhum Ki Wisad dan Nyi Nasilem, dan Munjungan di desa-desa kecil sekitarnya.

Reuni Keluarga

Pada hari pelaksanaan Munjungan, biasanya seluruh keluarga besar, baik yang berada di wilayah Indramayu sendiri, maupun yang telah tersebar di lain tempat, akan berdatangan sejak beberapa hari sebelumnya, untuk mengadakan persiapan. Yang dilakukan adalah pembagian tugas, persiapan panggung, sampai urutan acara dan siapa saja yang akan unjuk kebolehan pada hari itu.

Maka pada hari yang telah ditentukan, sejak pagi para keluarga mulai datang berduyun-duyun membawa makanan khas, seperti tumpeng, ayam panggang, sampai urap (campuran beberapa macam sayuran rebus yang dibumbui cabai dan parutan kelapa).

Uniknya juga, tiap makanan yang dibawa, sebelumnya dilaporkan kepada salah seorang wakil keluarga yang berada tepat di sisi makam, untuk diambil sedikit dan ditaruh di atas daun pisang dan diletakkan di dekat makam yang telah harum karena aroma kemenyan yang dibakar. Makanan itu kemudian dibawa ke depan panggung, tempat para sanak keluarga telah berkumpul dengan bawaan masing-masing. Tanpa dikomando lagi, acara demi acara berjalan dengan lancar. Semua ambil bagian untuk unjuk kebolehan sesuai urutan yang telah disepakati sebelumnya.

Berbagai kesenian ditampilkan, mulai dari nyanyi, tari, lawak, wayang, dangdut, dan lain-lain. Munjungan di makam Ki Wisad dan Nyi Nasilem tahun ini tampak istimewa dengan hadirnya penari topeng terkenal yang telah berusia 72 tahun, yakni Mimi Rasinah, asal desa Pekandangan, Kabupaten Indramayu.

Penari topeng yang telah malang-melintang selama puluhan tahun, dan sampai saat ini masih kerap manggung di luar negeri ini, menarikan dua macam tari topeng, yaitu Topeng Pamindo dan Topeng Kelana. Lengannya masih tampak liat dan gerakannya masih lincah ketika membawakan tarian dinamis ini.

Tepat pukul 12.00 WIB semua kegiatan dihentikan sejenak untuk memulai acara makan siang bersama. Maka berlangsunglah acara tukar-menukar lauk-pauk sembari diseling guyon di sana sini. Usai makan siang, acara pun dilanjutkan hingga malam hari, atau bahkan keesokan harinya, bila kesenian yang ditampilkan sangat banyak.

Semua orang bersuka-cita pada acara itu, tidak ada isak tangis dan air mata meski kegiatan dilakukan di komplek makam. Bahkan, masih menurut Pak Taham, Munjungan selain bermakna sebagai wujud terima kasih kepada almarhum leluhur, juga sekaligus menjadi ajang reuni keluarga besar yang telah tersebar di segala penjuru. []

(Tulisan ini pernah di muat di: Sinar Harapan, Kamis, 29 November 2001)

Sumber: http://www.facebook.com/hera.ibrahim


%d blogger menyukai ini: