Tag Archives: babu

Penulis Itu: Pengkhayal Dasyat!

Oleh Ade Anita

Penulis itu pengkhayal dasyat. Ini benar sekali. Dia punya kebebasan untuk menyampaikan sesuatu pada orang lain dan meski yang dia sampaikan itu merupakan sebuah sindiran atau hinaan, dengan khayalannya, ajaibnya, orang yang dihina atau disindir tetap bersedia membaca tulisannya (perkara orang itu marah atau tersinggung, tentu saja kembali pada sifat dan karakter yang berbeda-beda pada tiap-tiap orang). Salah satu media menuangkan khayalan dalam bentuk tulisan yang bisa digunakan adalah tulisan yang berbentuk satire.

Satire adalah gaya bahasa yang berbentuk sindiran terhadap keadaan atau seseorang. Bentuknya bisa berupa ironi, sarkasme dan parodi. Penjelasannya (saya kutip dari wikipedia): Ironi adalah salah satu majas yang berupa sindiran halus. Sedangkan sarkasme adalah majas yang digunakan untuk menyindir atau menyinggung seseorang atau sesuatu (biasanya berupa penghinaan karena rasa kesal atau marah). Sedangkan parodi adalah suatu hasil karya yang dipergunakan untuk memplesetkan, memberikan komentar atas karya asli, judulnya ataupun tentang pengarangnya dengan cara yang lucu atau dengan bahasa satire.

Jika membaca definisi di atas, mungkin bingung ya…? Jadi, berikut ini saya sajikan tiga buah tulisan dari tiga orang teman saya di facebook yang merupakan penulis-penulis hebat untuk urusan menulis satire. Silahkan memilah sendiri mana yang ironi, mana yang sarkasme dan mana yang parodi. Tapi, saya sendiri, daripada berpikir untuk memilah pengelompokan tersebut, saya lebih senang melihat cara para penulis ini dalam memilih kalimat, menulis khayalan mereka dan menuangkannya dalam tulisan. Ada efek yang langsung terasa ketika kita selesai membaca tulisan mereka. Mungkin teringat dengan kenyataan dalam masyarakat dan lalu merasa miris sendiri, tapi bisa juga justru langsung kesal, “Berani banget sih!”…

Apapun, cobalah untuk memperhatikan ketelitian mereka dalam mencari kata yang tepat untuk menuangkan ide tulisannya. Untuk saya pribadi, yang masih penulis pemula, belajar banyak bahwa variasi penempatan kata itu amat penting agar pembaca tetap merasa nyaman meski membaca sebuah satire. Jadi, meski ide yang disampaikan sama untuk beberapa kalimat, tapi penempatan kata yang berbeda membuat sebuah kalimat muncul sebagai kalimat baru. Artinya, jika mau membuat pembaca nyaman dengan tulisan kita, cobalah untuk terus memperkaya kosa kata yang kita miliki agar variasi kalimat kita bisa terasa indah dan renyah dibaca.

Ah…sudahlah. Silahkan baca sajian satire berikut ini (mohon maaf jika ada beberapa hal yang kurang berkenan ya. Yah, namanya juga satire, khayalan dari pemikiran seorang penulis).

Satire ala Denny Herdi :

Seekor Asu yang Jatuh Cinta Kepada Monyet

“Guk…Guk…Guk…”

“Gong…Gong…Gong…”

“Jing…Jing…Jing…”

Dasar Anjing…..!!!!

“Kesepiankah kau, Jing?”

“Ah, tidak, kenapa harus kesepian, Nyet? Asu punya majikan yang baik dan penyayang. Jadi, kenapa harus kesepian.”

“Ah, jangan boong, Jing. Tiap malam kau melolong tidak menggonggong. Melolong berarti sepi, dong.”

“Sotoy lw, Nyet. Tak cium bibirmu yang manyun itu”

“Ih, najis mugoladoh kalo aku dicium kau. Cium ajah majikanmu. Kan dia juga mirip monyet, bedanya, monyet suka mencuri pisang di kebun orang, kalo majikanmu mencuri uang di kebun para monyet.”

“Lah, wong majikanku itu orang ko, masa disama-samain sama primata, wong edan nih, Nyet.”

“Ye, oneng kau, Jing. Tuh monyet liat di koran pagi, terpampang jelas wajah majikanmu berada di headline. Katanya ia ketangkap basah membabat uang di kebun para monyet. Wajahnya pun tak ubah seperti monyet. Mungkin majikanmu di kutuk Sugriwa, mungkin juga dikutuk Hanoman.”

“Alah, wong majikanku bilang, dia lagi jalan-jalan liat pertandingan sepakbola di Amsterdam ko, katanya pengen liat Liga Champion, Madrid ngelawan Ajax.”

“Boong banget lw, Jing, lah, orang majikanmu itu di arak sama orang-orang berbaju coklat ko”

“Au, ahhh, tak gonggongi nihh, tak gagahi, mau? Yang penting aku tresno kamu, sekali cintah, tetep cintah”

“Ih, ora sudi aku…kata manusia bilang tar cintahnya, cintah monyet, cuman cintah-cintahan…seumur jagung”

“Ya sutralah, kalo ndak percaya, toh anjing itu kata manusia adalah mahluk yang paling setia, manusia ajah suka bandingin manusia laen sama anjing, kamu malah gak percaya. Mending aku cintah sama majikanku ajah dehh”

“Ya udah tungguin ajah di luar sampe mampus”

Aumm…

[]

Jati Bening, 24 November 2010

———————-

Sekarang Satire ala Syaiful Alim :

Sajak Nasib Babu

Babu itu membolak-balik tubuhnya

di dipan tanpa kasur.

Ia tak kuasa tidur

padahal seharian dihajar kerjaan dapur.

Tuannya masuk tanpa ketuk.

Sempoyongan mabuk alkohol dan berahi.

Menyingkap selimut pembalut tubuh berisi.

Memeluk dan mematuki tengkuk.

Sekujur tubuh babu gemetar. Juga gentar.

Seperti ada ular menjalari darahnya.

Mungkin kekuatan ghaib merasuk di kedua tangannya.

Ia menolak tubuh tuannya yang kekar.

“Salah kamar, tuan!”

Tak usah banyak petunjuk.

Ayo letakkan bra.

“Tuan Tuhan, bukan?”

Tak usah banyak pertanyaan.

Ayo buka celana.

“Tuan, saya datang bulan!”

Tak usah banyak alasan.

Ayo lebarkan paha.

Tubuh babu masuk di perut tuannya.

Sang babu menjerit takut

tapi tak ada yang menyahut.

Malaikat langit sibuk bergelut

dengan pulpen dan raport baik buruk.

Mencatat siapa detik ini yang sujud yang rukuk.

Bagai nabi Yunus yang ditelan ikan paus.

Babu itu lalu didamparkan di pinggir laut.

Dengan kerongkongan haus.

Babu itu mengadu kepada pemilik denyut.

“Tuhan, saya diperkosa!”

Jangan mengadu.

Itu sudah nasibmu.

Seperti tertindih.

Ia melangkah letih.

Darah di selangkangannya

meleleh pedih perih.

Menorehkan kata-kata di jejak tapak.

“Tuan dan Tuhan sama saja, ternyata!”

Pemerkosa!

[]

——————-

Terakhir, satire ala Ilham Q Moehiddin :

PENGADILAN ZAMBONI

ANGIN pagi di bulan November memecah cahaya mentari yang lembut. Sekumpulan besar orang telah bekerja sejak semalam, menyiapkan sesuatu di lapangan itu. Luas lapangan itu seperempat luas kota Vastivia.

Orang orang yang bekerja sejak semalam itu seperti tak kenal lelah. Ketika subuh beranjak menjemput pagi, diantara mereka ada yang masih setia melubangi tanah, ada yang mendirikan tiang, dan ada yang sabar menggosok alas pualam sebuah altar.

Apakah gerangan yang membuat semua orang ini begitu tergesa mempersiapkan ini semua? Tentu saja ada sesuatu yang mendesak mereka. Ada sebuah peristiwa yang terjadi persis sepekan lalu. Begitu menyita perhatian, sehingga membuhul gunjingan di setiap sudut kota, di sekolah sekolah, di kantor pemerintah, di pasar pasar, dan di setiap pertemuan para perempuan di kelompok rajut.

Bergunjing dilarang di Vastivia. Tapi peristiwa mengejutkan sepekan lalu itu seperti tak kuasa mengunci mulut setiap orang untuk bergunjing…walau mereka melakukannya secara diam diam. Aku mengumpulkan catatan yang terserak dari jalinan peristiwa itu, sehingga kini aku menuliskannya untuk kalian. Sekadar untuk kalian tahu saja, pada apa yang telah terjadi…tepat sepekan dari sekarang.

#

“Tangkap dia! Sekarang…!” Teriak Hakim Jalu. Kedua tangannya tertolak di pinggang. Mukanya berusaha meredam amarah sehingga tampak merah.

Dua petugas pengadilan yang diteriakinya berlompatan…tergesa gesa melewati koridor yang langsung menuju pintu masuk di ruang lobby kantor Hakim Negeri Vastivia. Mereka berdua segera menghubungi satu regu banyaknya untuk melaksanakan perintah sang Hakim.

Tidak ada yang berani menentang perintah seorang hakim di Vastivia ini. Ya, sistem hukum yang digunakan Vastivia berbeda dari kebanyakan kota lainnya. Ada pengaruh sistem hukum khas Aglo-Saxon, namun dicampuri pula dengan sistem timur jauh, dan sedikit sistem buatan warga Vastivia. Entah apa nama sistem hukum model ini…yang jelas semua orang sangat menyukainya dan belum pernah ada keinginan untuk mengamandemennya lewat jasa parlemen.

Di Vastivia, hakim menempati posisi kedua orang yang paling berkuasa sejajar dengan walikota dan ketua parlemen. Sedangkan kekuasaan tertinggi berada pada kekuasaan kolektif di tangan warga Vastivia. Itulah mengapa ada alun alun besar di tengah kota Vastivia ini.

Itulah mengapa ada tribun berjenjang lima melingkar panjang mengelilingi alun alun. Ada pula sebuah panggung besar berisi tiga meja di sisi timur lapangan. Juga ada sebuah panggung kecil, dua kali dua meter luasnya, dan tiga meter tingginya di sisi berlawanan dari panggung besar, di bagian barat lapangan itu. Tak ada atap melungkupi panggang kecil tiga meteran itu…dan, hanya itu yang tidak diatapi. Rerimbunan pokok pokok Ara besar di belakang tribun melingkari semua sudut lapangan, sehingga jika angin laut yang kering berhembus…rasanya masih sejuk di kulit.

Lapangan itu sendiri dikepung empat jalan yang memisahkannya dari kumpulan gedung. Terasing jika terlihat dari udara. Jalan Viesneva memisahkan lapangan itu dari kumpulan kantor pemerintah di sebelah barat. Jalan Liesnabon memotong lapangan itu dari sarana ekonomi warga di sisi utara. Jalan Ulasijan mengiris lapangan itu dari pusat pembelajaran dan kepustakaan di sisi selatan. Dan, jalan Ainnestock meregresi lapangan itu dari kawasan industri di sisi timur.

Tempatnya begitu strategis, bukan? Posisi keempat jalan itu memudahkan warga menuju lapangan ini. Jika akhir pekan datang, ratusan keluarga berleha leha di rerumputan hijau lapangan ini. Mereka menanak kesenangan di sini, memuja keakraban di antara mereka, dan saling bersapaan, sekaligus membiarkan kanak kanak bermain di antara mereka sendiri.

Tak ada status sosial yang layak engkau banggakan begitu memasuki lapangan ini. Walau engkau walikota, hakim, polisi, legislator, bahkan warga biasa, derajatnya akan sama saat kaki mereka menjejaki lapangan ini. Semua setara…semua adalah warga kota Vastivia, yang sama tinggi dan sama rendah.

Dan…mataku saat ini melihat dengan saksama kesibukan yang segera akan usai itu. Kini di selatan lapangan telah tersedia sebuah lubang bergaris tengah setengah meter dan dua meter dalamnya. Lalu ada persis disampingnya sebuah tiang setinggi lima meter berbentuk huruf “L” terbalik, bertali buhul lingkar menjuntai diujungnya. Dan, disamping tiang itu, tampak juga sebuah altar marmer berceruk busur pada bagian atasnya, sebesar lingkar leher orang dewasa. Altar itu berkilat tersentuh cahaya lembut mentari pagi.

#

Seorang bernama Zamboni telah diarak paksa ke depan Hakim Jalu, sepekan yang lalu. Sebuah grup beranggota enam orang telah menyatroni ruang kerjanya pada siang hari, lalu membawanya menghadap sang hakim di lantai dua Kantor Hakim Vastivia. Jendela ruangan yang terbuka menebarkan angin hingga menyambar toga Hakim Jalu. Ujung jubah toganya berkibaran liar, menampar udara kosong.

Zamboni gemetar didepannya. Mata Hakim Jalu seperti benar-benar menelanjanginya saat ini. Malu dan takut, memenuhi hati dan fikirannya serupa prasangka yang menusuk. Air muka Zamboni dipenuhi bingung. Dia begitu gugup saat ini.

“Mengapa kau berani mengurangi jumlah perbendaharaan kota dari jumlahnya sejak kwartal lalu?” Tajam sekali Hakim Jalu melemparkan tuduhan langsung ke muka Zamboni.

Itu jelas sebuah pertanyaan. Tapi tak satu katapun yang keluar dari mulut Zamboni. Dimatanya, Hakim Jalu begitu mengerikan saat ini. Tidak ada orang yang begitu yakin bisa mengeluarkan perintah penangkapan langsung pada pejabat kota. Bahkan, saat dirinya ditangkap pun…dia sedang berada di ruang kerjanya. Sebuah grup tiba tiba mendobrak masuk dan menggelandanganya tanpa bertanya, tanpa bicara.

“Siapa saja yang membantumu me-receck ulang laporan perbendaharaan kota, sehingga auditor menemukan sejumlah keganjilan dalam laporan keuangan itu?” Suara pertanyaaannya masih tajam, namun ujung kalimatnya terdengar mendesis. Zamboni masih saja gagap. Mulutnya bagai terkunci.

“Ayo jawab!” Teriak Hakim Jalu. Membuat Zamboni jatuh terduduk karena takut.

“Aku tidak melakukannya, pak Hakim. Sungguh, aku tidak akan berani melakukannya.” Jawab takut Zamboni. Tergugu, jantungnya berdegup kencang. Dia berdiri kembali, namun kakinya tak pernah tegap sempurna karena gemetar.

“Lalu siapa yang melakukannya!? Hantu!?” Hakim Jalu memajukan kepalanya. Ujung hidungnya kini melampaui ujung terluar meja hakim. “Bukankah seharusnya setiap orang di Vastivia ini mengetahui…bahwa perbendaharaan kota adalah harta warga Vastivia, yang dikumpulkan dari setiap Hast yang disisihkan dari keuntungan perniagaan?”

Suara Hakim Jalu menjalar seperti api, lalu tajam ditatapnya mata Zamboni, sambil mendesis… “Dan, kau…kau telah berlaku culas dengan mengurangi jumlahnya…”

Zamboni makin tercekat. Dia tak mengerti mengapa semua kemalangan ini menimpanya. Tiba tiba dia jadi calon pesakitan di hadapan Hakim Jalu. Padahal karirnya sedang menanjak saat ini. Zamboni dahulu adalah pegawai rendahan di balaikota Vastivia. Tugas pokoknya adalah mengumpulkan dan merestorasi dokumen dokumen kota Vastivia, mengkadaskan, lalu ditata rapi di jejeran almari buku di ruang kepustakaan balaikota. Dia harus membuat dua rangkap untuk setiap dokumen yang dia kadas. Lalu salah satunya dia kirimkan ke gedung kepustakaan Vastivia untuk dibaca orang kebanyakan.

Setelah lima belas tahun bertugas di balaikota, Zamboni mendapat promosi untuk jabatan kepala biro perbendaharaan kota Vastivia. Sebulan setelah naik jabatan, Zamboni menikahi putri imam kuil Rastyan. Kawan kawannya memujinya karena mendapatkan gadis tercantik di Kastien, distrik kecil di bagian tenggara kota Vastivia. Barangkali, Zamboni terlihat sebagai orang jujur sehingga kemudahan dan keberuntungan begitu saja menghampirinya. Zamboni bahkan masih menganggap dirinya orang termujur sekota Vastivia, setelah delapan tahun di posisinya sekarang ini, dan dengan dua putera yang selalu disayanginya. Dalam anggapannya, dia masih orang termujur, sampai di suatu siang satu grup datang menggebahnya, dan menghadapkannya ke depan Hakim Jalu.

Kini, di hadapan Hakim Jalu, Zamboni basah kuyup oleh keringatnya sendiri. Baju dinas yang dipenuhi tanda tanda kehormatan kini lepek karena keringat yang membanjir. Ketiaknya lembab, dahinya panas. Matanya basah.

“Panggil panitera ke mari!” Sekali lagi Hakim Jalu meneriaki seorang petugas. Lehernya diangkat tinggi tinggi pada petugas itu…yang segera saja menuju sebuah interkom. Memencet empat tombol sebagai nomor ekstention di ruangan panitera. Tidak semenit kemudian, seorang tua datang menghadap, tergopoh gopoh, sambil kikuk membetulkan letak kacamatanya.

“Ada apa…Yang Mulia?” Begitu panitera ini bertanya saat di depan Hakim Jalu.

“Eh, ya…segera siapkan proses peradilan untuk orang ini!” Perintah Hakim Jalu. Zamboni tercekat ludahnya sendiri mendengar itu. “Secepatnya…jika bisa waktunya sepekan dari sekarang!”

“Baik, Yang Mulia.” Panitera menyanggupi perintah itu, berbalik dengan segera…meninggalkan ruangan.

Wajah Hakim Jalu berbalik cepat pada Zamboni. Matanya dipicing, seolah hendak menetak tajam pada wajah Zamboni. “Kau…kau akan segera mendapatkan perhitungan atas perbuatanmu. Kau harus bisa membuktikan bahwa dirimu tidak bersalah. Di pengadilan nanti…tak ada pembela yang akan membelamu. Akulah jaksa penuntut sekaligus pemeriksamu. Zamboni…kau harus hati hati menjelaskan perkara ini, harus cermat memilih setiap katamu. Akulah pemeriksamu. Engkau sepenuhnya bergantung padaku dalam pengadilan itu. Jika kau tidak hati hati menyusun kalimatmu…lihatlah, hukuman apa yang akan menimpamu.”

Maka, makin ketakutan Zamboni mendengar ancaman yang dibungkus Hakim Jalu pada nasehatnya itu. Ini persoalan nasibnya, nasib istri dan kedua puteranya. Dia akan menjawab dengan teratur dan tertata. Jangan ada kesalahan. Hidup Zamboni kini…benar benar tergantung dari hasil pemeriksaan Hakim Jalu.

Para petugas di sudut ruangan, yang tadi menggebah Zamboni, mengangguk keras. Mereka tahu sikap keras Hakim Jalu. Selain keras sikapnya, selama ini Hakim Jalu adalah hakim yang baik di mata mereka. Tak ada tugasnya yang luput, sehingga kota Vastivia selalu terjamin keamanannya. Selama 10 tahun terakhir, tak ada perkara yang begitu besar ditangani sang hakim, sampai perkara Zamboni ini mencuat.

Zamboni langsung dibawa ke sel tahanan. Dia seketika mendekam di sana selama sepekan, menunggu nasibnya. Bahkan Zamboni dilarang pulang menemui istri dan kedia puteranya. Alat komunikasinya disita…dia tak bisa menelepon.

#

Walikota Palyska berdebar dan menggerutu. Kabar perihal tergebahnya Zamboni sudah sampai di mejanya pagi esok harinya. Kabar itu dibawa sendiri oleh Petrova, seorang perempuan yang menjabat sebagai Sekretaris Kota Vastivia.

Dengan gugup Petrova berkisah soal pendadakan di ruang kerja Zamboni. Muka Petrova pucat bagai kertas. Dia terhenyak seusai bercerita pada Palyska, pias di sofa depan meja kerja sang walikota.

“Adakah yang kau dengar…Zamboni telah bicara apa pada Hakim Jalu yang pula telah didengar orang banyak?” Tanya Palyska dalam bingung. Petrova menggeleng pelan. “Tak ada yang dikatakannya…Zamboni mirip kucing basah terus menerus digertak Hakim Jalu, sehingga tak banyak bicara. Memang banyak orang di kantor hakim sore itu.”

Palyska mengusap keringat dingin yang tiba tiba membanjiri wajahnya. Hari masih pagi. Ruangan itu berpendingin udara pula, tapi gerah menyergap tubuh Palyska. Kabar pendadakan dan penangkapan atas Zamboni seperti palu yang menghantam kepalanya. Ini sebenarnya ide Patrova, dan mereka kemudian terperangkap pembicaraan yang panjang di bar Uljibeer sepulang rapat malam lima hari lalu. Ada Zamboni juga malam itu. Mereka bicara serius sekali, dan seperti tidak terjadi apapun esok paginya.

Petrova tahu akan datang seorang auditor independen setiap kwartal untuk memeriksa laporan perbendaharaan kota. Lalu Petrova mengabarkan pada Walikota Palyska soal laporan perbendaharaan kota yang cacat…banyak pengeluaran yang sukar ditelusuri, sehingga membuat laporan itu tampak sangat aneh.

Maka lahirlah ide untuk mengajak Zamboni. Lelaki itu sudah bertahun tahun menyerap jutaan lembar dokumen dari kantor balaikota, maka tentu saja Zamboni tahu celah yang aman untuk menukar data dan menjadikan laporan itu terlihat tanpa cacat.

Untuk upayanya Petrova memberi Zamboni uang jasa dalam nilai besar. Sepuluh juta Hast adalah nilai yang sangat besar. Tangan Zamboni bahkan gemetar saat menerima uang itu dari Petrova. Namun…perempuan itu memang pandai menenangkannya dalam rayuan. Tak hanya uang, Petrova bahkan menyerahkan tubuhnya dicumbui Zamboni di hotel paling mewah di kota itu.

“Aku yakin…Zamboni tak akan buka mulut. Dia telah menerima apapun yang memang pantas dia terima. Anda tenang saja, pak Walikota.” Kata Petrova dalam keluh. Ia mencoba menenangkan sang walikota. Dia terus membayangkan saat Zamboni melumat tubuhnya, menekan segala hal disitu, lalu satu jam kemudian…langit seperti terbelah di atas kepalanya. Zamboni memang puas, tapi Petrova tak menikmatinya sama sekali. Satu jam Zamboni menidurinya, tapi dua jam Petrova mandi sambil menangisinya.

Ada yang menjanjikan padanya, Zamboni tak akan leluasa buka mulut.

#

Pagi ini, usai kesibukan semalam yang melelahkan…para warga pekerja bergiliran pulang. Kehadiran mereka segera digantikan ratusan warga yang langsung memenuhi tribun di lapangan itu. Aku langsung berbaur bersama mereka, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Angin hilir membelai semua wajah di lapangan itu. Pada penantian yang merasuk itu, semua orang…setiap warga yang kini hadir di lapangan itu, mulai membuat persepsi masing masing. Mereka sama butanya dengan aku perihal perkara ini. Asumsi mereka bergantian mampir ke telingaku. Pada dasarnya mereka…kami semua sedang menduga duga.

Tiba tiba hening. Tiga orang berjubah toga berjalan masuk. Mereka itu adalah Hakim Jalu, wakil hakim, dan seorang panitera. Hakim Jalu berjalan terburu buru, mengamit ujung jubahnya agar tak kena tanah. Wakil hakim berjalan menyusul di belakangnya. Sedang sang panitera…tampak terlalu kikuk untuk hadir di lapangan ini. Berkali kali tumpukan berkas ditangannya jatuh, atau dia salah tingkah saat angin menerbangkan selebar-dua dokumen perkara di tangannya itu. Hendak mengejar, tapi tak jadi…berpaling sedikit dengan gugup, lalu kembali berniat hendak mengejar barkas yang terbang, tapi diurungkan kembali niatnya itu. Orang orang hanya tersenyum melihat lagaknya yang gugup macam itu.

Hakim Jalu mengambil tempat pada meja di tengah panggung besar. Wakil hakim berposisi di kirinya, dan panitera duduk di kanannya. Bau asin garam terbawa angin dari sisi timur lapangan.

Hakim Jalu menganggukkan kepalanya pada seorang petugas pengadilan. Petugas yang menerima anggukan segera mengerti, lalu berteriak sekeras mungkin. “Perhatian…! Hakim yang Mulia telah memanggil ke hadapan kalian seorang lelaki bernama Zamboni sehubungan perkara atas dugaan penggelapan laporan perbendaharaan kota Vastivia…!” Begitu keras petugas itu berteriak, sampai sampai semua orang harus menoleh padanya.

Di ujung teriakannya itu…dua petugas berpakaian sipir menggandeng di tengah seorang lelaki yang terus tertunduk. Wajahnya basah air mata, bibirnya gemetar keras…sekeras gigil serupa pada lututnya. Dia tak sanggup berjalan sendiri, sehingga harus dipapah macam itu.

Zamboni lalu dinaikkan pada panggung kecil diseberang panggung besar para hakim. Karena ketakutan yang besar, petugas nyaris hampir memukul punggungnya karena dia tak bisa berdiri tegak. “Berdirilah tegak di hadapan hakim!” Teriak petugas di kanan Zamboni. Pemukul sudah terangkat ke udara…buru burulah Zamboni memaksa lututnya tegak.

Kedua petugas lalu turun, dan menunggu di bawah panggung kecil. Zamboni terisak isak, saat melihat istri dan dua puteranya berdiri dalam sedih di sudut tribun paling utara.

“Baiklah…saudara Zamboni.” Hakim Jalu membuka pengadilan rakyat ini. Wajahnya terlihat berkilat dari tempatku duduk. “Anda harus membuktikan sendiri bahwa Anda tidak bersalah dalam dugaan ini. Saya harap pembelaan terhadap diri Anda akan membawa kami semua ini pada terbukanya kebenaran perkara ini.” Hakim Jalu mengeluarkan sapu tangan, menyeka mukanya yang berminyak.

Udara panas dan kering tiba tiba menyergap lapangan ini. Bukan hanya Hakim Jalu saja, hampir semua orang yang duduk di tribun saat ini sudah mengeluhkan hawa panas ini.

“Jabatanku adalah hakim kota, tapi kedudukanku dalam persidangan hanyalah pemeriksa belaka. Hakim tertinggi di pengadilan Vastivia adalah warga. Engkau harus membuktikan pada warga, bahwa bukan engkau pelaku penggelapan uang uang mereka. Jika engkau tak bisa membuktikan pada mereka…maka mereka pulalah yang akan menentukan hukuman padamu.” Terang dan jelas Hakim Jalu memberi taklimat awal.

Seketika warga bersuara riuh di penghujung kalimat Hakim Jalu. Para hakim pemeriksa menunggu dengan sabar sampai semua orang berhenti bersuara.

“Nah, Zamboni apa pembelaanmu atas tuduhan ini…?” Suara Hakim Jalu tajam menusuk.

Zamboni tergugu sesaat. Sebelum dia menjawab pertanyaan Hakim Jalu, matanya dilempar ke ujung paling utara tribun. Wajah istrinya basah, dan kedua puteranya menyembunyikan wajah mereka ke perut ibunya.

“Sungguh…bukan saya pelaku penggelapan itu.” Kata Zamboni dengan wajah memelas. Pandangannya diedar kesemua warga di tribun. Sebaliknya, semua orang mendelik padanya dengan benci kesumat.

“Aku tidak tahu bahwa laporan yang aku buat itu adalah laporan kwartal perbendaharaan kota. Aku hanya melihat angka angka yang telah ditandai, dan…” Zamboni berhenti sejenak, menyeka hidungnya, lalu melanjutkan, “…aku hanya diberi angka pengganti yang harus aku…”

“Zamboni…keraskan suaramu!” Teriak Hakim Jalu dari panggung besar. Wajahnya memerah, terbakar amarah.

Zamboni memandangnya dengan takut. Lalu dagunya diangkat, perutnya menghentak, mendesak udara pada kerongkongannya untuk mendorong suara yang akan dilontarkannya… “Aku hanya diberi angka pengganti yang harus aku tera dengan segera pada dokumen pengganti!” Suara Zamboni membahana ke seluruh penjuru lapangan.

Orang orang tercekat, lalu berbisik bisik kasar.

“Jika benar engkau diperintah melakukan itu…lalu siapa yang memerintahmu?!” Teriak seorang lelaki paruh-baya bertopi pet dari tribun bagian selatan.

Zamboni merutuk dirinya sendiri. Mukanya diangkat pelan pelan, memandang lelaki yang bertanya…lalu pandangannya dialihkan pada Hakim Jalu. Hakim mendelik padanya…dan seperti orang kaget Zamboni berdiri tegak. Mulutnya membuka, “Petrova. Sekretaris kota Vastivia.” Akhirnya nama perempuan itu meluncur dari mulut Zamboni.

Warga terdengar melenguh bersamaan. Seorang ibu muda memaki Zamboni dan melemparinya dengan gayung kayu…yang mendarat telak ke kening Zamboni dan memuncratkan darah.

“Bawa ke panggung Vastivia…seorang yang bernama Petrova!” Perintah Hakim Jalu.

Kembali, dua petugas segera menjemput nama yang disebutkan. Tak lama kemudian, kedua petugas sudah menggelandang seorang perempuan, dan segera dinaikkan ke panggung kecil itu…bersama, bersisian dengan Zamboni.

Pias sekali wajah Petrova. Dia begitu yakin Zamboni tak akan buka mulut…setelah semua diberikannya pada lelaki itu. Keringat membulir…mengaliri pelipisnya yang putih. Tapi wajah Hakim Jalu membuatnya tenang kembali

“Petrova…” Sapa Hakim Jalu, “apa pembelaanmu pada warga Vastivia, perihal tudingan Zamboni yang menyebutmu ikut terlibat?”

“Aku tidak melakukannya…”

Plak! Tangan Zamboni mendarat telak di pipi putih Petrova. Perempuan itu kaget setengah mati. “Kau berbohong, Petrova…kau berbohong!” Tangan Zamboni tepat menunjuk matanya.

“Bukankah kau menyogokku dengan uang sepuluh juta Hast…dan, agar aku tetap tak  buka mulut pada siapapun, engkau bahkan mau aku tiduri…!” Begitu keras lompatan pengakuan Zamboni. Semua orang terkejut.

Semuanya…termasuk seorang perempuan di sudut paling utara tribun. Istri Zamboni nyaris menjerit, lalu buru buru membekap mulutnya sendiri. Dia tak percaya pada ujung ucapan suaminya barusan.

Huuuuuuuuu…!!!

Warga Vastivia memberikan koor panjang ejekan mereka. Bersamaan dengan ejekan yang membuhul amarah, beberapa benda keras beterbangan ke arah panggung kecil tempat Zamboni dan Petrova berdiri. Beberapa benda keras itu luput, tapi beberapa lainnya tak pelak mampir dengan keras ke tubuh dan kepala keduanya. Giliran kini Petrova mengganjal hidungnya. Darah mengalir deras dari kedua lubangnya.

Tak ada peluang bagi kebohongannya, begitu Petrova membatin. Dengan suara sengau, diangkatnya terlunjuk ke udara dan langsung saja, “…Walikota Palyska juga terlibat dalam perkara ini!” Begitu Petrova menyahuti warga dengan keras.

Semua orang kembali tercekat. Tangan tangan terancung yang hendak melayangkan benda keras lainnya ke arah panggung kecil…tiba tiba berhenti. Mata mereka semua kini tertuju pada Hakim Jalu. Seolah olah mata mereka hendak berkata…ayo panggil Walikota Palyska.

“Jemput segera, dan bawa ke hadapan warga Vastivia…lelaki bernama Palyska!” Akhirnya perintah pun keluar. Dua petugas kembali bergegas pergi, lalu muncul tak lama bersama seorang lelaki. Digiring pula ke atas panggung kecil…bersisian bersama Zamboni dan Petrova.

“Palyska…Anda pun harus membela diri atas tudingan Petrova terhadapmu bahwa engkau terlibat pula dalam perkara ini!” Hakim Jalu memberi kesempatan pada Palyska.

Walikota Palyska memutar pandangannya pada ratusan warga Vastivia yang hadir. Ada anak perempuannya duduk diantara warga. Palyska menunduk sebelum memulai bicara.

“Aku tak akan membantah lagi. Rupanya perkara ini akhirnya terbuka juga. Tadinya aku tidak mengira akan secepat ini perkara ini terungkap.” Palyska mendelik pada Petrova di sisi kiri tubuhnya. Wanita itu masih sibuk mendekap hidungnya.

“Aku bertemu Petrova pada malam seusai jadwal perkantoran Balaikota Vastivia. Kami bertemu di Uljibeer dan bercakap biasa saja. Tapi tiba tiba kami masuk pada topik yang membuatku langsung panik. Petrova menyinggung persoalan laporan kwartal perbendaharaan kota…yang menurutnya ganjil. Ini harus diperbaiki, katanya. Dan aku setuju saja, sebab auditor akan datang memeriksa dua hari berselang.”

“Padaku…Petrova menyodor beberapa nama yang sedianya akan diminta mengubah laporan itu. Pada nama nama itu hanya Zamboni yang dianggap cocok, sebab selama 15 tahun bekerja di bagian restorasi dokumen. Maka, Petrova bersedia menemui Zamboni untuk membicarakan hal itu.”

Seorang pemuda berdiri…sehingga membuat Palyska berhenti barang sebentar. “Mengapa kalian tidak biarkan saja auditor memeriksa dan menemukan keanehan itu? Bukankah akan mudah merunut siapa dan dimana letaknya kesalahan itu?”

Palyska mendehem pelan. “Benar. Akan mudah dan lebih sederhana menempuh langkah itu. Tapi ini soal kredibilitas Balaikota. Saya tak mau dianggap tak becus akibat kehilangan perbendaharaan kota…maka itulah usul Petrova saya anggap tepat ketika itu.”

“Zamboni mengerjakan laporan itu dengan cepat. Aku kagum atas hasil kerjanya. Tapi…rupanya pekerjaannya tak cukup teliti dimata auditor. Aku mendapat laporan, bahwa auditor telah menemukan keganjilan pada laporan buatan Zamboni. Ada beberapa rujukan pengeluaran yang disusun tergesa gesa sehingga sejumlah angka mencuat secara aneh. Jika angka angka ini dijumlahkan, maka hasilnya cukup besar. Ada sejumlah jutaan Hast yang tak ada di laporan.”

Lelaki yang bertanya terakhir berteriak gusar. Telunjukkan menuding pada ketiga orang di panggung kecil itu. “Hukum mati mereka!”

Teriakan pemuda itu memicu teriakan serupa dari semua warga Vastivia yang hadir. Mereka seolah olah hendak bergerak menuju panggung kecil…menjemput ketiganya untuk dihukum mati.

Hakim Jalu bersiap hendak mengetuk palu vonis pada ketiganya.

Petrova seketika panik. Kondisi yang tak disangkanya sama sekali. Benar benar diluar dugaannya. Entah mengapa dia terbujuk melakukan itu, padahal dia sendiri tak menerima bagian yang utuh dari yang dijanjikan. Hanya 200 juta Hast yang jatuh ke tangannya, dan masih ada 200 juta Hast lagi yang belum diterimanya.

Petrova melompat turun dari panggung tiga meter itu. Dia tersungkur keras. Wajahnya mencium tanah. Kini cemong darah bercampur tanah memenuhi hidung, dan mulutnya. Petrova seperti kesetanan…langsung bangun dan lari menuju panggung besar. Tangannya mengancung batu yang siap dilemparkan ke Hakim Jalu…mencoba mencegah sang hakim mengetuk palu vonis mati pada mereka.

Jarak Petrova yang makin dekat, membuat Hakim Jalu panik. “Tembak dia…tembak!” Teriaknya panik.

Saat jarak petrova tinggal 20 meter, sesosok tubuh melayang dan menimpa Petrova. Rupanya…si panitera segera melompat dan menerkam Petrova sehingga keduanya jatuh bergulingan. Si panitera kini menduduki tubuh Petrova dan menekan kedua tangan perempuan itu ke tanah…batu besar di tangan Petrova pun lepas.

Dalam isakan tangis yang menjadi jadi…Petrova berujar memelas. “Hukum dia juga…” Telunjuknya menuding Hakim Jalu. “Dia yang menyuruhku… Dia yang menggunakan uang dari perbendaharaan kota untuk dipakainya sendiri. Dia menyuapku untuk membujuk walikota dan melibatkan Zamboni…”

Si panitera seketika gugup. Warga Vastivia diam tak bergerak. Perkataan Petrova bagai pecut yang menghantam anak telinga mereka. Tiba tiba saja…enam petugas sudah mengepung Hakim Jalu.

#

Asin dan kering angin laut berhembus dari sisi timur Vastivia. Kota itu baru saja mengakhiri hidup empat pelaku korupsi.

Angin yang asin dan kering meniup tubuh Zamboni yang mengayun pelan dari tiang gantungan. Manyapukan debu ke wajah Petrova yang dibenam sebatas kepala di liang galian dua meter. Mengirim bau anyir darah dari potongan kepala Palyska yang menggelinding dekat altar marmer.

Mengeringkan tubuh Hakim Jalu yang teronggok mati di sudut panggung besar. Di jubah toganya tercetak sebentuk liang menganga bekas belati salah seorang dari enam petugas yang mengepungnya.

[]

November 2010



Catatan:

Nama karakter dan nama tempat dalam kisah ini adalah fiktif belaka. Kota Vastivia adalah kota imajiner.

Iklan

20 Sajak Untuk Fordisastra

Oleh Syaiful Alim

Sajak Kesatu: Buka Kain Tubuhku dengan Cinta

Buka kain tubuhku dengan cinta
jemari bergetar
mawar di luar kamar
cemburu, memburu cahaya.

Kain kian landai
lantai iri, mari ke sini
biar lancar kau gapai
wangi pandan petani.

Lepas
tubuhku selembut kapas
juga sekeras cadas.

Kupaslah, ah kau terpukau
jangan lekas, ah aku pulau
simpan madu kata yang kau rindu.

Awas, pisau mengintai
ia sembunyi di daging sunyi
ia hanya kenal satu nama:
darah kental atau cair serupa air gangga.

Dakilah utuhku, dengan tangga atau tanpa
dagingku kuning mangga
kunyahlah, renyah tak kau duga.
Hisaplah, puasi dahaga
puisiku bening telaga.

Ah, basah.

Hening, kecup keningku
dan aku ucap cinta kau.

[]

Sajak Kedua: Perawan

Aku perawan Kata.
Aku tetap perawan walau seribu Penyair menggilirku
lahir bayi-bayi makna di ranjangmu.

Aku perawan Kata.
Menjebak Penyair dengan lirik mata
dan cantik payudara
kau menebak letak pada retak udara.

Seorang penyair memendam berahi
mendekatiku, bertanya seraya menggenggam jemari:

“Aku boleh menorehkan darah di tubuhmu?”

Boleh, asal asah dulu Pisau itu di resah batu
dan jangan ada sesal jika tak kau temui darah kental
juga kesal pada tubuhku yang tak lagi sintal.

Karena aku tahu, kau pemuja rupa lahir
dari pada batinku yang mencintai lahar getir.

Karena aku tahu, kau pengeja alpa
daripada mensyukuri segala.

Aku perawan Kata.
Kau bisa memasuki melalui pintu dan jendela
tapi aku bukan Pelacur
bisa kau paksa kala sepi menghambur.

Ingat! Aku perawan Kata!
hangat memelukmu
sangat sengat menusukmu.

[]

Sajak Ketiga: Kerinduan Pisau

Kerinduanku padamu
bagai sebilah pisau
yang baru selesai diasah
haus segar darah.

Sudah berapa basah darah
yang melumuri tubuh pisau itu?
Setiap lidahnya menjulur tergiur
darahku mengucur.
Setiap hidungnya mendengus
urat nadiku memutus.

Jangan kau basuh. Aku masih harap ratap aduh.

Darah ngalir-wajahmu hadir.

Diam-diam aku mengagumi bisikan amis pisau itu, sebelum mengiris,
“Manis, jangan menangis, aku bukan iblis”

Diam-diam aku menikmati kejam tajam tikaman pisau itu di daging rinduku,
yang membikinku tak kunjung padam.

Diam-diam aku ketagihan raung eranganku sendiri, di ruang terang atau remang.
Pintaku, lagikan tikamanmu, wahai pisau.

Diam-diam aku menikmati ketidakberdayaanku,
menggelepar-gelepar di kekar rengkuh pisau itu.

Dan diam-diam aku mulai jatuh hati pada kukuh birahi pisau itu.
Terkadang jatuh hati bermula dari benci. Benci yang menanti tuju.

Aku begitu cemburu ketika mata pisau bermain lirik mata
dengan apel merah di sebuah meja makan, meja kita, kangen kata.

Hatiku terik. Kutarik pisau itu. Kucabik-cabikkan di hatiku.
Darah netes. Lapar belum beres. Kugores-gores wajahku.
Wajahku wajahmu sejenak ketemu: lalu pisah di persimpangan waktu.

Lupakanku, kulupakanmu, bujukmu.

Kelak, jika berjumpa lagi di gubuk sajak, akan kutujahkan pisau ini di detak jantungmu.

[]

Sajak Keempat: Seorang Anak Mencuri Ibunya : Mitologi Sangkuriang dan Dayang Sumbi

Dosa terlalu indah untuk tidak dijamah.
Cinta begitu gula untuk tidak digila.

: Aku pecinta buta!

Hatiku bagai daun rapuh
luruh diteluh angin teduh.

Cintaku mendarah, ditujah lidah kekasih, “kau putraku!”
Rinduku mengapi, dikelabui sepi birahi, “aku ibumu!”

Langit terasa sempit.
bumi bergerak, menghimpit.
Seregu burung pipit bercericit,
tapi hatiku murung, dibelit dendam menjangkit.

: Aku mencurimu, ibu.

Gua yang hampa, bercahaya mata sangkuriang; terang yang pedang.
Dayang sumbi yang kilau bagai bintang, meradang.

“Kenapa kau mencuriku, wahai sangkuriang?”

Pertama: kau perempuan pemalas. Kau tak mau mengambil gulungan benang jatuh
dekat kakimu yang utuh.

Kedua: kau perempuan jahat. Kau tersenyum manis melihat para raja bergulat dan bergelut memperebutkanmu dengan tetesan tangis dan senjata bengis.

Ketiga: kau perempuan tamak. Kau bertapa dan minum obat awet molek.
Apakah kecantikanmu belum cukup membuat lelaki merengek?

Keempat: kau perempuan licik. Kenapa kau tidak bilang bahwa si tumang suamimu, bapakku?

Kelima: kau perempuan jahat. Kau menetak kepalaku hingga retak.

Keenam: kau perempuan tanpa hati. Telah kupahat kayu jadi perahu
dan telah kubendung sungai jadi telaga, namun kau menganggapnya tiada.

“Ah, apa peduliku dengan sebab lembab itu: aku tetap mencintaimu!”

“Cinta kita terlarang, sayang!”

Akan kugapai kau sampai dewa pun tumbang!

[]

Sajak Kelima: Malam Pertama

“Eva, surga apa yang harus kutuang di liang telanjangmu
supaya ikan-ikan di sungai berahiku berenang, senang melumat lumut di mulutmu?”

“Adam, aku juga tak tahu apa yang harus kuperbuat
tuhan dan malaikat juga tak menurunkan maklumat”

“Ha ha kenapa kita jadi lucu
sedangkan ular sanca di pohon khuldi itu begitu cemburu”

“Sudahlah, sayang, memulai sesuatu memang sulit
lihatlah, dingin menggigit tulang, di angin itu bukit terbelit”

Lalu luka
lalu suka
tak sempat diberi nama
entah sempit ruang jerit itu atau raung jerat dari mana
semua semu berlalu begitu saja
begitu saja!

“Eva, kenapa kata-kata yang kusimpan di bibir bubar ketika akan kuucap cinta?”

“Adam, mungkin tak semua butuh kata, cukup kecup di kuncup mata”

“Ah, alangkah hidup, alangkah sirup, alangkah sayap purnama”

[]

Sajak Keenam: Bulan Madu di Madu Bulan

“Eva, surga sudah tak layak lagi jadi ranjang malam-malam pengantin.
cinta ini makin membesar, membentuk balon raksasa.”

“Adam, lalu ke mana dan di mana kita menghabiskan manis bulan madu
mungkin ada surga lain yang lebih licin dan lilin?”

“Bagaimana jika kita menuju madu bulan
muda ruang, riang raung, gaung lebah agung?”

“Sayang, lalu bagaimana dengan surga, pohon khuldi, ular, iblis,
malaikat, dan tuhan? apakah kita biarkan mereka menangis?”

“Sayang, mari kita terbang dari sini,
kita sebentar lagi juga dibuang ke bumi”

[]

Sajak Ketujuh: Rindu dan Kulkas

Rindu ini, cintaku, kusimpan dalam kulkas
supaya tetap awet dan bernafas.

Sehabis mengiris alis manismu
aku didera derita insomnia
dililit derit jerit memanggil-manggil namamu
dalam gigil yang menggila.

Rindu ini, cintaku, kusimpan dalam kulkas
agar tetap segar dan membekas.

Selepas mengupas kulit hijaumu
aku dihempas ampas-ampas senyummu
yang menancap di pipi dan tubuhku
dan kini tumbuh luka baru yang biru.

Rindu ini, cintaku, kusimpan dalam kulkas
supaya kau tak lepas dari diriku yang ganas.

Seusai meneguk danau mungil di liang telanjangmu
aku dicumbu kerikil-kerikil perjalanan menuju rumahmu.
Jejakmu tak terlacak, bercak darahmu membeku
aku retak ditetak sajak-sajak baku.

Cintaku, kulkas itu tak kuat menampung gelombang rinduku.
Entah bagaimana caranya aku bisa menumbangkanmu
supaya darahmu menggenang di jantungku.

[]

Sajak Kedelapan: Perempuan Bermata Puisi

: Fidyatul Mila Siregar

Terang rembulan dan matahari bersarang di matamu
satu tatap meratap seribu pengap
seribu ratap merangkap sejuta harap
sejuta harap menangkap ngilu derap.

Mungkinkah matamu dicipta jemari pujangga
ketika cahaya melayari tirai jendela.

Di matamu tali temali kata merupa jaring laba-laba
menjerat siapa yang memuja.

“Aku mau meminjam matamu” pintaku

Kau diam, kau batu.

“Supaya aku mampu mengurai misterimu
puisi-puisi berloncatan bagai ikan dari bola matamu”

Kau menunduk, aku takluk.

“Agar sinar kata-kataku tetap binar
meski jemariku kelak pendar”

Kau mengerling, hatiku terguling.

“Hidup itu cuma sehirup sirup
puisi mengisi ruang redup”

Aduhai kau mengucap, suaramu desau angin
yang mengabarkan hujan.

Akulah kemarau, merindu hujanmu
berwindu-windu kucari setetes basah
sampai menetas darah, menggetas pasrah.

Perempuan bermata puisi
mari kugamit tanganmu
berjalan-jalan di pinggir pantai
panti asuhan ikan-ikan berenang
mengukir namamu di karang.

Perkenankan aku mengalirkan butir rindu di matamu.

[]

Sajak Kesembilan: Cinta Bercabang

Kau datang membawa sampan
lalu kita mengarungi lautan
dengan tangan sebagai dayung.
Kau kenalkan aku pada ikan duyung
juga kerang mengerang
oleh gores bebatu karang.
Kita berpeluk ketika ombak mengamuk
“Cinta tak kan remuk walau sampan lapuk.
Cinta tak kan rebah meski badai menjarah.”
Kau berkata seraya menatap mataku
dan aku makin lahap mendekapmu.

“Simpanlah sampanku di hatimu”

Kau datang menawari hujan
ketika sawah ladangku diterjang desah gersang
tanah hatiku retak oleh koyak kuku matahari jalang.
Hujanmulah yang membasahi tanah, tumbuhkan kembang
sehingga aku kuasa kembali melihat kembang dirayu kumbang.
“Cinta itu menghidupkan” kau berkata sambil merangkul leherku
dan aku mengambil senyum mungil dari pipimu.

“Hujanku selalu ada di dekatmu, kemarau tak mampu menjeratmu”

Kau datang menghidangkan terang rembulan
ketika mataku dihadang gelap gulita.
Rembulanmulah yang menemaniku menata kata jadi puisi dan cerita
“Cinta itu cahaya” kau berkata seraya membelai rambutku dengan lembut
dan aku membalut tubuhmu dengan hangat yang tersulut.

“Percayalah, rembulanku selalu menggantung di malammu”

Kalian hadir membawa butir-butir waktu
bagi hidupku yang sering tergelincir licin lereng tebing kehidupan.
Aku katakan sekali lagi, bahwa aku cuma debu
yang terombang-ombing angin.

Mauku pada satu
muara jiwaku cuma bisa menerima satu resah
datang dan singgahlah di gubuk sajakku
lalu beranjak meninggalkan seribu tujah.

Maafkanlah aku,
biarkan aku terkapar ditampar ragu.
Aku tak tahu kepada siapa menuju
pintu rumahku telah kuborgol
dan kuberlari gapai sebotol sepi
di puncak rindu yang api.

[]

Sajak Kesepuluh: Sajak – Sajak Kecil

1

Selingkuh

Bulan mencumbu batu

2

Tahun Baru

Tuhan mati
di tepi waktu

3

Perjalanan

Langkah seribu menuju dermaga
resah ibu merekah abu jelaga

4

Rindu

Mencari bayangmu di terang cermin
aku remang dicuri cahaya lilin

5

Ibu

Iba tiba
dibasuh air susu

6

Nasehat Ayah Kepada Anak Lelakinya

Jadilah ibu di kemarau danau
jadilah ayah di hijau sawah

7

Kenangan

Seonggok jejak di pojok kamar
tengok sajak di pokok mawar

8

Kepada Matamu

Pinjamkan aku kacamatamu
supaya aku tak berkaca-kaca bertemu mata kacamu.

9

Sajak Patah Hati

Akan aku rekatkan dengan pekat sunyi
lalu kupanggil burung-burung kecil terbang bersama
seusai kembali aku telah bersayap dua.

10

Ketika Kita, Ketika Kata

Ketika kita jatuh cinta
kata tiba menawari mawar
duri sembunyi mengintai jemari.

Ketika kata jatuh cinta
kita tiba mengakar lapar
diri memaki puisi tak kunjung jerami.

11

Kerudung Seksi

“Kerudungmu tampak seksi. Coba aku lihat lagi” kataku.
“Hai laki-laki, jangan macam-macam!” bentak perempuan berkurudung itu.
“Aku Cuma minta satu macam. Memandang kerudungmu sekali lagi” godaku.
Wajahnya tiba-tiba mendung. Kerudungnya mengepakkan sayap.
Mengajakku bermain kejar-kejaran di atas awan. Lenyap.

12

Elegi Natal

Bom itu meledak di gerejamu
aku punguti puing-puing air mata dari kering matamu.

Kelak, kutegakkan gereja di masjid sajakku.

[]

Sajak Kesebelas: Zaitun

: Palestina

Ketika kuncup-kuncup embun belum memekar
penduduk Zaitun itu tertunduk gegar.
Sisa-sisa kantuk tertumbuk pucuk-pucuk peluru.
Subuh lapuk, sembahyang berpeluk mesiu.

Embun pun pecah
ranting-ranting zaitun patah
Baitul Maqdis menangis
kering sudah senyum manggis bocah-bocah manis.

Di mana lagi tadarus dedaun
“Demi buah Tin, demi buah Zaitun
demi gunung Sinai
demi negeri damai ini”

Siapakah yang menyuruh butir-butir peluru itu
membunuh kuncup-kuncup zaitunku
siapakah yang mengayuh kupu-kupu bersayap besi itu
luruhkan darah dan meleleh nanah di dadaku.

Di mana kujumpa lagi negeri Zaitun berbuah embun
beningnya mengheningkan doa.
Di mana kujumpa lagi negeri Zaitun berkerudung bulan
terangnya mengeringkan duka.

Aku di sini memunguti jerit kata-kata
merakitnya jadi puisi
seraya sakit melantunkan doa-doa
jauh dari mati.

[]

Sajak Keduabelas: Perempuan Perdamaian

Jilbab hitam membalut rambut
serta dada gadis palestin itu begitu berlumut
lembab oleh darah dan dendam tersulut
namun keelokan wajahnya tak nampak surut.

Ia mencungkili kerikil di sisa rumah runtuh
untuk mencicil membangun gubuk kedamaian penuh
di kecamuk perang, perang yang selalu tumbuh.

Ia mendengar gemuruh pilu
jilbab disingsingkan, berlari menuju bising peluru
menemui anak-anak di kemah-kemah pengungsi
mengajak mereka membaca sajak dan bernyanyi.

Larik-larik sajak yang tergeletak di pecahan peluru.
Lirik-lirik lagu yang dicetak dari derap sepatu serdadu.

Dalam hujaman tembak mereka bersajak.
Dalam kejam amunisi mereka bernyanyi.

Aduhai, siapalah yang terkoyak dengan lembut sajak.
Aduhai, siapalah yang terkulai dengan merdu lagu.

Dengarlah. Dengarlah. Sajak itu makin mengombak.
Dengarlah. Dengarlah. Nyanyi itu makin nyeri.

“Kami sabar menanti kuncup perdamaian mekar
Seperti kami sabar menggauli lapar.”

“Kami kumpulkan kuntum-kuntum zaitun selagi bisa
Kami pikul harum harapan yang masih sisa.”

“Kami menangis tanpa air mata
Kami mengemis mata air di langit tak bernama.”

“Kami merdeka dari segala penjajah
Kami hidup dan mati di bumi sejarah.”

“Kembalikan Ayah-Ibu kami
Kembalikan darah-rindu kami”

Lihat. Lihatlah. Langit koyak oleh nyaring nyayi itu.
Lihat. Lihatlah. Bumi retak oleh runcing sajak itu.

Tapi tetap saja pedang berdenting
perang berdesing
beribu kuncup zaitun jatuh pecah berkeping
berjuta tubuh terbaring kering.

Beri kami roti gandum
sudah lama kami mati oleh leleh dentum.
Beri kami zaitun sekuntum
sudah lama kami tak mencium harum.

Tapi siapa yang memberi, jika tangan-tangan putus berserakan di lantai rumah ibadah
jika kapal-kapal sembako terjungkal di lautan darah
jika toko-toko hancur roboh berterbangan tak tentu arah.

Siapa? Siapa? Siapa?

Jawab! Jawab! Jawab!

Sesungguhnya apa yang kita ributkan?
Apa yang kita perebutkan?

Apa? Apa? Apa?

Jawab! Jawab! Jawab!

Perempuan perdamaian terus bersajak dan bernyanyi
sepi makin rinai
api amunisi makin ramai.

[]

Sajak Ketigabelas: Burung

Aku burung
murung terkurung sangkarmu
kicauku kau anggap pengacau tidurmu.

Sangkarmu gelap pengap
cahayaku kau bekap kain lap
tak ada dedahan atau reranting untuk hinggap.

Aku burung
namun kau duga aku barang yang membuat berang
ada embun di terang pagiku, jauhkan pedang dan kata perang.

Aku mau membawamu terbang ke langit biru
namun kau patahkan sayapku
ketika hidupmu senyap, kau labuhkan pisau di tubuhku.

Aku mati
lalu kau mencariku di celana dalammu.

[]

Sajak Keempatbelas: Imigrasi Ikan-Ikan

Sungai tinggal gumpal-gumpal lumpur
denyut laut tanggal oleh gempal dada kemarau yang lacur
tiang-tiang kapal bau basin
air hilang asin.

Entah siapa mengirim kain kafan
mungkin angin taufan
batu nisan dikulum bagai es krim di jembatan
mungkin tangisan mengharu manisan.

“Dulu aku sering mendengar bangkai radio dan televisi
menyiarkan kecipak ikan-ikan yang menggetarkan seisi
bumi, tapi kini, ah tak terdengar kecipak ikan lagi, cuma kepak elang basi”

“Aku tahu, sudah lama ikan-ikan jadi imigran
migrain imigrasi ke kolam-kolam orang kota,
akuarium, botol-botol minuman,
juga kalam-kalam penyair penyulam kata.”

“Sungguh?”

“Aduh!”

[]

Sajak Kelimabelas: Sajak Nasib Babu

Babu itu membolak-balik tubuhnya
di dipan tanpa kasur.
Ia tak kuasa tidur
padahal seharian dihajar kerjaan dapur.

Tuannya masuk tanpa ketuk
sempoyongan mabuk alkohol dan berahi.
Menyingkap selimut pembalut tubuh berisi
memeluk dan mematuki tengkuk.

Sekujur tubuh babu gemetar. Juga gentar.
Seperti ada ular menjalari darahnya.
Mungkin kekuatan ghaib merasuk di kedua tangannya.
Ia menolak tubuh tuannya yang kekar.

“Salah kamar, tuan!”

Tak usah banyak petunjuk
ayo letakkan bra.

“Tuan Tuhan, bukan?”

Tak usah banyak pertanyaan
ayo buka celana.

“Tuan, saya datang bulan!”

Tak usah banyak alasan
ayo lebarkan paha.

Tubuh babu masuk di perut tuannya.
Sang babu menjerit takut
tapi tak ada yang menyahut.
Malaikat langit sibuk bergelut
dengan pulpen dan raport baik buruk
mencatat siapa detik ini yang sujud yang rukuk.

Bagai nabi Yunus yang ditelan ikan paus
babu itu lalu didamparkan di pinggir laut
dengan kerongkongan haus
ia mengadu kepada pemilik denyut.

“Tuhan, saya diperkosa!”

Jangan mengadu
itu sudah nasibmu.

Seperti tertindih
ia melangkah letih
darah di selangkangan
meleleh jadi genangan.

“Tuan dan Tuhan sama saja, ternyata

Pemerkosa!”

[]

Sajak Keenambelas: Pelacur Kitab Suci

Tiada pelacur paling neraka kecuali pelacur kitab suci!

Daging-daging Tuhan dikurung dalam karung
dierami dalam sarung
ditawarkan ke warung-warung.

Kau pelacur kitab suci
aku pelacur puisi.

Kau giling daging-daging Tuhan
jadi berkeping-keping Surga
lalu kau tukarkan dengan dinar, dolar, dan sepiring kuasa.

Aku suling air mata
jadi sebening mata
lalu kuberikan kepada jiwa buta.

Kau kutuk pelacur-pelacur busuk di gubuk-gubuk lapuk
kau tusuk para pendosa dengan ayat-ayat neraka
kau tumpuk mayat-mayat atas nama malaikat.

: Kau juga mabuk peluk bidadari
yang kau rindu dalam khusuk rukuk.

Tiada pelacur paling keji kecuali pelacur kitab suci!

[]

Sajak Ketujuhbelas: Perahu Berlayar, Rindu Tak Kunjung Buyar

Aku akan menujumu
dengan perahu.
Angan lalu, ingin lalui
badai landai melanda dada ini.

Tengah malam, lengah mata memejam
aku berlayar, memutar detak geram jam.
Enyah segala goyah, menakar diam
menukar setikar gentar dengan getar asin garam.

Wahai angin dari segala penjuru
jadilah juru gerakku.
Wahai bintang-bintang bernyala biru
jadilah guru sajak bagi hari haru dan huru hara jejakku.

Kutantang kau, Ombak
telah kusiapkan tombak.
Lelah hidup punya wangi semerbak
kalah dan menang adalah takdir yang susah ditebak.

Gelombang O gelombang
ajariku membaca lambang
maut yang berpaut di ambang bimbang
denyut dan kalut dimuat tembang.

Perahu berlayar mengejar pijar
diburu cemburu, dirundung mendung menjalar.
Aku melagu lapar, berabad terdampar
di buih-buih berbuah perih, menggelepar.

Tangan badai melambai-lambai
ingin membelai pantai.
Hai badai, bela aku kalau lalai
tak lihai-lihai membingkai lunglai.

Biar! Biar kubelajar sabar merawat luka sungai
atau aku karam di laut paling dalam paling dasar.
Biar! Biar kusabar belajar mengurai derai dera derita musim masai
atau aku disambar nasar, membayar rindu tak kunjung buyar.

Rinduku adalah rengekan anak-anak sungai
ingin menyusu di dada laut.
Kau adalah dendam dan damai
yang saling bertaut.

Wahai, Laut
Datangkan riak ombak gelombang badai
di sekujur tubuh perahu
akan kuukur risau dengan tabuhan kasidah dedahan bakau
yang meragu jatuh dan tumbuh di utuh kambuh luka-luka kemarau
tersadai andai hujan mengguyur bumi
tumbuhkan butir-butir zikir rumi.

Wahai!
Adakah pelayaran yang tak sampai cium muara dan dermaga
jika lapar dan dahaga jadi niaga
juga tidur dan jaga terbentur langit berjelaga?

Wahai!
Mari berlaga seolah bermain catur sambil minum anggur
di musim gugur.

Wahai!
Masam masa silam, padam asa salam
terpendam dalam kubur umur, makam sembunyi di sunyi sekam.

Telah kusiapkan ranjang
dari kulit kerang dan batu karang
mengeranglah
aku tak kan kalah.

Perahu berlayar
rindu tak kunjung buyar
sebelum cium dan kulum
beranjak terinjak khianat kalam.

Wahai! Kau kekasih!

[]

Sajak Kedelapanbelas: Tahajud Mawar

Tubuhku wangi, tabah hati didesah duri
ini malam meredam dendam, menabuh peluh berdentam
bulan memancar, tenggelam di kolam kalam, lampu rindu bergetar
mengais tangis, menepis tipis pada kelam, melukis gerimis gumam.

O, malam-malam geram terlantar
ke mana kau mengumbar rerumput liar.
O, sekam-sekam makam terhampar
di mana kau simpan sampan menjemput debar.

Akulah mawar, bunga penawar ngaga luka
sujud di mekarmu, tahajud, membalut duka.

Akulah mawar, kembang pengusir bimbang
sembahyang, menembang zikir, menimbang fakir.

Bagaimana lebur dalam ranum wujudmu
jika kikir hilir mudik di kuntum-kuntum harumku
dada cabik, ada rindu tertampik, tak kuasa melirik sajak selarik.

O, gembur tanah, guyur debur tak sudah
adakah silsilah silat lidah yang tak mengucur nanah.
O, lumpur resah, menyembur di sembarang arah
aku pelacur, menukar setakar ayat dengan sebentang sajadah.

Runduk hamba, menimba rukuk dalam tindak tunduk
biarlah kubujuk bidak-bidak busuk sejarah
agar jadi budakmu, teriakkan retak-retak istirah.

Ah, berapa depa lagi jarak kulangkah
hingga kuncup bibirmu kukecup darah.
Ah, berapa waktu lagi kujejak
sampai semampai tubuhmu jadi utuh sajak.

Alangkah hidup mengemas cemas
Alangkah kuyup mengucap gemas.

Marilah bergegas menjemput tunas
sebelum segala meranggas.
Marilah lekas menjumput deras seutas
sebelum segara segera bekas.

O, Inilah simpuh paling rapuh
hendak berlayar, mengail secuil sinar
O, lumpuh aku dalam gigil peluh
kelak mengakar, mencungkil ingkar.

Tahajud mawar
tersungkur memar.

Tahajud mawar
menari kepak sayap burung-burung attar.

[]

Sajak Kesembilanbelas: Sujud Laut

Aku sadar cuaca suka bercadar
hingga tak kuasa aku bedakan
sinar yang jadi radar
dan jelaga penghalang jalan.

Sudah ribuan nelayan kugulung dengan ombak
anak istri mereka teriak karena tungku dapur retak
dari riak-riak air mata tegakkan tambak
menabur kecipak-kecipak ikan dengan mata kampak.

: mereka takut melaut, Tuan

Tapi kubiarkan kapal-kapal dagang berlayar
sesak barang selundupan dan orang-orang yang diperdagangkan
dijual di negeri-negeri minyak, dolar, dan dinar.

O gelombang yang berderap tegap
apakah kau telah kalah oleh suap
tuan-tuan berperut hiu
bermulut mesiu?

O gelombang
kenapa kau karamkan perahu-perahu nelayan
yang berangkat sejak petang
mengikat nasib di sela-sela jala kehidupan?

O aku alpa dan lupa mengejar cahaya terang
yang berpijar memayungi langit para petualang
getar-getar rindu mulai lunglai gersang
lalai melumat lelumut di sekujur karang.

O hidup tergadai badai
santai mengintai pantai
redup dirantai risau
merantau di degup bakau.

Sebelum kau jemput jumput alum waktuku
perkenankan kubersujud di wujud denyutmu
melabuhkan cium peluk
dalam aum amuk rukuk bikin tubuh dingin remuk.

Sujud adalah menggoyang perahu, berlayar raih rindu putih
sujud adalah memberi ikan para nelayan
sujud adalah menyiapkan asin garam pada santap malam
sujud adalah melenyapkan bajak laut dengan ombak yang sulut.

Maafkan, sujudku pasang surut.

[]

Sajak Keduapuluh: Menyambut Laut, Menyumbat Maut

Aku yakin padamu
sejak kau sajakkan kepak sayap burung dan kelopak kembang
di dadaku. Aku selalu mencintaimu
walau kapak nasib menyalibku tanpa upacara dan tembang.

Laut. laut yang kau sebut di denyut jantungku
berdetak ombak, mengoyak pundakku, surut terkatung-katung
menggapai gunung, murung terjebak gelombang pasang sampai ujung.

Nuh, datanglah, aku anakmu.

Menyambut laut, menyumbat maut.

Akulah perahu tak kunjung mencium bibir dermaga
bergoyang aku, tersandung gelembung-gelembung getir takdir.
Akulah pasir berdesir merampungkan bebutir zikir mega
berguncang aku, tersanjung kidung getar takbir.

Aku menyambutmu, laut, menyumbat maut
dengan mukim musim berkabut, angin yang tak hendak berpaut di latar layar
siapa menyulut api dan terbakar. Bolehkah aku menawar sejumput kalut
dan menakar debar.

Wahai nyiur yang melambai pantai petang
kabarkan elang yang tergiur ikan-ikan
burung-burung kenyang pulang ke sarang.
Dermaga. Dermaga tempatku menambatkan penat berlipat
tali-tali kapal merangkul tiang, jemari-jemari mengepal menunjuk gumpal awan
aku sudah pulang, sayang, lihat dadaku penuh sayat
muak amuk kerinduan, kecamuk peluk tak tertawan.

Dermaga. Dermaga pertemuan dan perpisahan bersahutan
ada air mata menetes, ada mata air merembes
dinding-dinding hening tergores, kepadamu denting darah kularutkan.

Aduhai bakau yang memangku segala baka kacau risau
kau atau aku yang mencabut pisau
berebut menikam kelam, pukauku dalam genggam
menari, menanti seraut wajah pada langgam.

Laut, laut, laut,
laut, laut,
laut!
l
a
u
t
Hanyut aku menyebut
menjemput denyut
menyumbat maut.

[] Khartoum, Sudan, 2010
—————————–

Novel Kidung Cinta Pohon Kurma adalah buku pertamanya. Akan segera disusul dengan novel kedua Bidadari Pencari Matahari dan kumpulan sajak Bulan Madu di Madu Bulan serta buku kumpulan cerita pendek Perempuan Pengunyah Rembulan.



%d blogger menyukai ini: