Tag Archives: api

Melongok Sedikit “Isi Perut” Novel Garis Merah di Rijswijk

Di buku kesatu dari trilogi Rijswijk ini, kita akan membaca beberapa hal dalam setting Batavia (Betawi), Kwik Tang Kiam, seperti apa jam malam di Passer Senen, Passer Baroe, Kramat Raya. Pelarian Tan Sjahrir di subuh buta, menghindari Marrechaussée Belanda, dan akhirnya berlindung di salah satu rumah warga Betawi di Menteng.

Ada kejadian lucu di Kedai Kopi Acim, di depan Gang Sebelas, saat seorang tentara pelajar dari Kompi IV Komando Gerilya Kota wilayah Kebon Sirih menjemput Makhzam dari persembunyian di Cikini. Juga pertemuan pertama kali Makhzam dengan Sri Yanti.

Aksi-aksi sabotase Malaka dan Makhzam di Solo dan Semarang terhadap tangsi Belanda, saat Komando Pasukan Hijrah bergerak ke Bandung. Menyergap pos-pos dan tangsi logistik Belanda di sekitar kota Cina, Semarang dan merampok kereta api uap DD ALCO yang membawa logistik ke Jogja, membuat Mook, petinggi intelijen militer Belanda, naik pitam dan marah-marah pada Gubernur Jendral Stachouwer.

Malaka dan Makzham dimarahi Gatot Subroto karena mempermainkan Kapten Sanyoto dan menjadikannya lelucon di antara pasukan tentara pelajar, hanya karena lebih cekatan daripada Peleton Intai Tempur milik Sanyoto.

Lalu, percakapan Tan Malaka soal gerak ideologis Marx, dan apa maunya Soekarno pada penyatuan tiga aliran penting pemikiran yang dicampurnya, dan tentang posisi Tjipto dan Douwes Dekker—di sebuah kamar kecil di Jogja. Lalu, sejauh mana peran utusan-utusan Celebes dan Borneo sebelum pertemuan di Des Indes. Ada Rohana yang jago masak dan menjahit, tapi pandai menulis di surat kabar Perempoean Bergerak.

Bagaimana silang pendapat Sjahrir dan Malaka soal okupasi Nippon, dan seperti apa Hatta menengahi pertentangan itu. Pembicaraan dan siasat rahasia yang dibangun Mook, dan rencana Jonkheer Stachouwer membendung arus kepentingan di dalam Casteel Rijswijk. Posisi Amir Sjarifuddin di antara NEFIS dan kaum Calvinis di Kramat 106. Seperti apa permulaan siasat yang di bangun dan ditelusupkan Grand Mason-Zion, yang membonceng dalam setiap upaya Mook dan NEFIS.

Seperti apa nota aliansi sekutu yang diterima NEFIS, soal penimbunan kekuatan armada Nippon di Pasifik Barat Daya membayangi ancaman pada gugus Pulau Savo, Kepulauan Solomon, Kepulauan Santa Cruz, Semenanjung Huon, dan Kepulauan Admiralty. Lalu, pada gugus Guadalcanal, di mana bertebaran area-area yang ditandai bendera kecil berpita merah—Pulau Savo, Solomon Timur, Tanjung Esperance, Kepulauan Santa Cruz, dan Tassafaronga. Dan bendera-bendera kecil berpita biru, di gugus Solomon—Teluk Kula, Kolombangara, Teluk Vella, kawasan laut Vella Lavella, Teluk Kaisar Augusta, dan Tanjung Saint George.

Apa maksud pasukan Nippon pada bendera kecil berpita oranye berstrip kuning, yang ada di area dalam Gugus Guinea Baru: Laut Karang, Kokoda, Buna-Gona, Laut Bismarck, Teluk Nassau, Salamaua-Lae, Semenanjung Huon, Britania Baru, Kepulauan Admiralty, Aitape-Wewak. Dan, area berbendera kecil hijau di wilayah terluar Hindia: Biak, Noemfoor, dan Morotai.

Bagaimana siasat sekutu mengantisipasi pertahanan di wilayah ujung Filipina, Bataan, Selat Badung, Laut Java, Selat Sunda, Pulau Timor, Teluk Leyte, Borneo dan Celebes, yang masuk dalam peta perang Pasifik. Bagaimana kepanikan pemerintah Hindia tentang rencana serbuan Nippon selepas Operasi Selatan—dan mulai memasuki Andalas lewat samudera Hindia.

Lalu, kita ke Benkoelen (Bengkulu), menyimak kisah Soekarno dan Haji Hasan Din. Seperti apa posisi Benkoelen dalam kepentingan dan nafsu penguasaan oleh EIC dan VOC yang masif di sana. **

 

Judul: GARIS MERAH DI RIJSWIJK

(buku kesatu dari Trilogi Rijswijk)

Penulis: Li Loh

Penerbit: Republika, Juni 2012.

ISBN: 978-602-759-504-0

Harga : Rp. 57.500,-

 

Dapatkan di Toko Buku Gramedia

atau Hub. Penerbit Republika (Rida) di: 021-7803747 (ext. 103)

Novel ini ditulis dengan teknik Gonzo-Story

Iklan

[Buku Baru] Taman Api

Judul : TAMAN API

Pengarang : Yonathan Rahardjo

Penerbit: Pustaka Alvabet

Editor : Errena Ike Hendraini

Genre : Novel

Cetakan : I, Mei 2011

Ukuran : 13 x 20 cm

Tebal : 216 cm

ISBN : 978-602-9193-01-5

Harga : Rp. 42.500,-

***

SINOPSIS

Kaum waria mendapat stigma negatif nyaris di semua lingkungan masyarakat. Anggapan sebagai patologi sosial, perusak moral, pencemar kesehatan, dan menyalahi kodrat Tuhan membuat kaum waria terpinggirkan dan terisolasi. Walhasil, kehidupan mereka pun tak banyak diketahui khalayak.

Taman Api menggambarkan sisi-sisi tersembunyi kehidupan waria yang demikian kompleks. Dengan pendekatan kritis, novel ini tak hanya menyuguhkan “abnormalitas” kehidupan waria dari beragam segi, tapi juga menguak praktik-praktik picik dan ilegal yang menempatkan kaum waria sebagai obyek penderita: misi rahasia berkedok agama untuk melenyapkan waria melalui bisnis gelap bedah kelamin berikut segenap teknologi turutannya. Bagaimanakah praktik picik itu berlangsung dan siapakah pihak-pihak yang terlibat di dalamnya?

Dengan gaya penulisan yang khas dipadu pendekatan investigatif dan konspiratif, rahasia-rahasia yang menyembul dari novel ini ihwal sisi-sisi kabur kehidupan waria dengan segudang problematikanya akan membuat Anda terperangah tiada terkira.

***

ENDORSEMENT

“Novel ini penting untuk membongkar berbagai kemungkinan sisi patologis dari bentuk-bentuk kesalehan religius yang kerap naif, munafik dan berbahaya.” — Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto, Guru Besar Filsafat Universitas Parahyangan

“Dengan gaya filmis-jurnalistik, Yonathan … berhasil mengguncang kenyamanan pastoral pembaca, dengan menyuguhkan detail peristiwa operasi kelamin sebagai kekayaan sekaligus keunikan novel ini. Selamat!” — Arie MP Tamba, Sastrawan, Redaktur Budaya Jurnal Nasional

“… bisa menjadi pintu masuk untuk membuka ‘Kotak Pandora’ kisi-kisi hidup yang sering tertutup oleh tabir etika dan moral.” — Edy A. Effendi, Penyair dan Journalist

“… Sungguh suatu novel yang fantastis dan sangat menarik untuk diapresiasi lebih jauh.” — Mansur Ga’ga, M.A., Dosen Ilmu-Ilmu Sastra

“Novel ini mengangkat persoalan yang jarang disentuh dalam sastra Indonesia, yakni tentang dunia waria dan kaum dokter urban dengan segala konfliknya yang dikaitkan dengan fenomena pemaksaan klaim kebenaran oleh kelompok tertentu dengan menistakan kelompok lain. Percobaan yang berani dan sangat menarik.” — Anton Kurnia, Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010

“Kisah waria dengan berbagai problem sosialnya lebih sering dijadikan lelucon, jarang yang mengisahkan bagaimana sesungguhnya ’ketegangan’ perubahan orientasi seksual serta ’ketegangan’ perubahan tubuh dan fungsinya. Dalam novel ini, Yonathan menyuguhkan sebuah kisah yang mewakili keingintahuan publik tentang apa yang ada di balik kehidupan mereka….” — Cok Sawitri, Pemenang Anugerah Dharmawangsa 2010 untuk Prosa

“Novel yang patut disimak. Perpaduan problematika sosial dan kesehatan seperti HIV/AIDS dan kelainan genetik, diramu secara menarik dengan pendekatan seni dan ilmiah. Kritis sekaligus bermanfaat memberikan pendidikan bagi masyarakat.” — Dr. Hari Basuki Notobroto, dr., M.Kes., Departemen Biostatistika dan Kependudukan FKM Universitas Airlangga

“Imaginasi penulis buku ini saya pikir termasuk ajaib. Ia berbicara banyak hal, menceritakan banyak hal, yang sebenarnya bukan dunianya. Dan roh penulis masuk pada dunia yang tidak diakrabinya setiap hari. Tentang issue silikon, kekerasan pada Waria secara mental, operasi kelamin, sampai issue munculnya orang orang yang kontra dengan Waria dengan dalil agama. Saya harap buku ini menjadi satu dari sekian referensi dari penokohan Waria di beberapa tulisan sejenis …” — Merlyn Sopjan, Penulis buku Jangan Lihat Kelaminku dan Perempuan Tanpa V

“Dalam novel Taman Api kita yang waria atau kenal atau dekat dengan kawan-kawan waria akan mengenali dalam fiksi suatu dunia kehidupan yang sayangnya dalam kenyataannya pun masih penuh kekerasan dan diskriminasi hanya karena perbedaan ekspresi dan identitas gender. Kita sambut dengan besar hati terbitnya novel ini, yang merupakan satu lagi langkah maju menuju suatu dunia di mana perbedaan tidak akan lagi menjadi dasar kekerasan dan diskriminasi.” — Dédé Oetomo, Ketua Dewan Pengurus, GAYa NUSANTARA

“Lewat novel ini, kita makin dicelikkan up and down kisah galang gulung waria di negeri ini. Ada thriller, ada god’s spy yang bergemeretak hendak menujah keberadaan waria, sidik medik dan juga futuristik. Dengan alur tarik-ulur yang dentang debar, rasanya penulis berhasil memanggungkan teater kompleksitas rumpun “kelamin ketiga” ini.” — Soffa Ihsan, Penulis

“… Setelah novel “Lanang” meraih penghargaan di Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006, saya berharap penulis yang pernah mengenyam studi dokter hewan ini akan lebih jauh mengungkap berbagai ulah dan perilaku medis di Indonesia, bahkan di dunia. Bukan menyoal hal normatif, tapi berbicara tentang realitas sosial yang ada. Kali ini, Yonathan, lewat “Taman Api”, menyingkap fenomena kaum waria yang orang awam hanya paham di bagian permukaannya saja. Sebagaimana novel, setelah penulisnya menyibak, …” — Sihar Ramses Simatupang, Sastrawan, Pemenang Hadiah Sastra Metropoli D’Asia Khatulistiwa 2009

“Konspirasi dalam novel ini merupakan realita bisnis yang ada dalam kehidupan, penderitaan manusia diacak-acak dan dicari kelemahannya sehingga mau dibujuk untuk mengikuti keinginan para konspirator; kelainan fisik, psikis kekuatan ilmu ilmiah kedokteran-farmasi dibalut keuntungan mengesampingkan etika dan kepatutan digunakan sebagai tameng bahkan kepercayaan pun dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan itu; suatu hal yang menjijikkan yang perlu diketahui bersama!” — Drh. Suli Teruli Sitepu, Wakil Sekretaris Jenderal PB PDHI (Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia) periode 2006-2010

“… Taman Api menggedor-gedor kejujuran akal sehat dan hati sanubari publik pembaca, mungkinkah rezim berkuasa dan negara tidak berperan bahkan tidak tahu-menahu sindikat konspirasi mafia humanika itu? …” — Toga Tambunan, Penyair, Salah Seorang Pendiri Paguyuban Kebudayaan Rakyat Indonesia (PAKRI)

***

BIODATA PENULIS

Yonathan Rahardjo, lahir di Bojonegoro, adalah pengarang novel Lanang (2008), salah satu Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006. Ia merupakan satu dari 15 penulis Indonesia yang terpilih mengikuti UWRF (Ubud Writers & Readers Festival) 2009 di Bali. Karya-karyanya yang lain: Avian Influenza: Pencegahan dan Pengendaliannya (2004), Antologi Puisi: Jawaban Kekacauan (2004), Kedaulatan Pangan (2009). Sejak 1983, puisi, cerpen, esai, opini, dan tulisan jurnalistiknya diterbitkan di berbagai buku dan media massa. Dalam buku 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia (2010), namanya tercatat sebagai salah satu dari 100 Profil Dokter Hewan Berprestasi. Pada pasal Dokter Hewan Berprestasi di Bidang Lain, nama Drh. Yonathan Rahardjo tercatat setelah nama Drh. Taufiq Ismail (Penyair Angkatan 66), Drh. Asrul Sani (Seniman Pelopor Angkatan 45), dan Drh. Marah Rusli (Pengarang Novel Siti Nurbaya).

***

Dapat diperoleh di:

  • Toko Buku Gramedia (sudah beredar di Gramedia Jabotabek)
  • Penerbit Pustaka Alvabet, Jl. SMA 14 No. 10 RT/RW. 010/09, Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, 13610. Telp : 021 – 800 6458, Fax : 021 – 800 6458, www.alvabet.co.id
  • Toko Dewi Sri, Jl. Raya Plaosan 61 Babat, Lamongan 62271 Telp : 0322 457383, HP : 085852985854. Harga : Rp. 42.500,- + ongkos kirim
  • Atau Pesan lewat penulisnya: Yonathan Rahardjo, HP. 08159306584, Harga : Rp. 42.500,- + ongkos kirim

***


Jawabmu Yang Entah…

Oleh Afrilia Utami

/1/

Apaapa yang kauhasratkan

Hanyalah menjadi syahwat jelmaan

Dalam tungku ruas jejadi bebatu

Bertulis  di atas profan Sang Empu

pembuat waktu

/2/

Mengapaapa kau tanyakan awal

Yang sudah tak pernah bermulai

Mati dalam keabadian. hidup menuai

Hidup di sangkar kematian tak kenal amal

/3/

Kapanmengapa kau anggap Tuhanmu ada

Sementara yang kaupuja hanyakeinginan semata

Duniawi kaugenggam dengan api yang menyala

Sementara Tuhanmu kau biar terlupa

/4/

Siapakapan mulutmu pandai berubah raut

Seolah dua,empat rupa butuh ari pembalut

Kau terlalu senang menantang maut-maut

Dengan kerdilnya selaput akal dan nafsu berturut

/5/

Dimanasiapa gua-gua saling menungging guling

Di Lorong-lorong dinding-dinding mendaging

:: Kuning gading !

[]

19 September 2010


Kalau Saja

Oleh Dwi Klik Santosa

Kalau saja aku Arjuna

Akan kupanah jantung kananmu

Agar tak ada kematian

Dan hanya menyisakan hidup yang penuh cinta

menggebu rindu di sepanjang waktu

Kalau saja aku Gatotkaca

Akan kubawa engkau terbang

Kemana pun engkau suka

Meneliti, menyusuri segenap nuansa

sepenuh cakrawala

Kalau saja aku Bargawa

Akan kubacakan selalu kepadamu

Syair-syair kepedihan

Tentang apa itu cinta yang menyala seperti api

Tentang apa itu cita yang mengalir seperti air

Kalau saja aku Abimanyu

Akan kuajak engkau

Untuk selalu terjaga melihat nganga lukaku

“Ksatria juga punya kilaf

Cobalah kau maklumkan seribu panah ini

Melesak menancapi dadaku.”

Pondokaren

18 Agustus 2010

: 05.36

[]


Welcome Hometown…

Tulisan sebelumnya : Medan-Lau Sidebuk Debuk-Berastagi

Oleh Very Barus

NAIK KERETA API BRAK…BRUK…BREK…

Kalo ditanya kenapa judulnya sadis banget? Ya, itulah ungkapan hati gue yang paling dalam saat naik kereta (api) eksekutif dari kota Medan menuju kota kelahiranku Rantauprapat. Jangan bayangkan ‘eksekutif’ itu berarti bener-bener eksekutif. Mungkin judulnya saja bergelar eksekutif tapi kalo dari segi wujud dan penampilan, nggak layak deh disebut kereta eksekutif. Ruangan eksekutifnya dekil bin kumal. Tempat duduknya juga banyak yang sudah sobek (kayak roti sobek). Handle tempat duduk juga banyak yang sudah tidak berfungsi…

Tadi pagi, tepatnya jam 7.30 teng…

Gue sudah berada di stasiun KA dengan tentengan tas backpack dan tas gede berisi pakaian dan perlengkapan perang gue selama di Sumatra. Langsung naik ke dalam kereta dan meletakkannya di atas tempat duduk (bagasi). Hmm…ternyata kereta eksekutif di sini nggak ada ubahnya dengan kereta ekonomi di Jakarta dan Bandung. Bahkan lebih bagus kereta di Bandung deh. Hanya menang suara deru AC yang brisik dan nggak ada alat kontrolnya. AC nyala dengan kedinginan abal-abal. Alias ANGIN CEPOY-CEPOY. Nggak tau deh, apakah ini AC kw-1, kw-2 ato kw-3. Soalnya dinginnya nggak nampol!!

Jam 8 teng…

Kereta bergerak…penumpang nggak penuh-penuh banget sih. Banyak bangku kosong. Hanya saja, ada penumpang yang duduknya di sebelah gue bener-bener nge-betein. Dengan bawa tas yang nggak kalah gede dari tas gue, langsung nyerobot masuk ke dalam (posisi tempat duduknya di dekat jendela). Trus dia ngangkat tuh tas yang segede gaban mau diletakin ke atas (bagasi…). Trus, seenak udelnya nyenggol-nyenggol gue yang sudah duduk manis kayak murid TK. Nggak ada kata sori dan nggak ada basa-basi langsung grasak-grusukpengen gue sruduk aja nih orang! Belum tau yang duduk disebelahnya BANTENG!

Kereta berjalan…

Tiba-tiba aroma tidak sedap mulai masuk ke panca penciuman gue. Bau nyengat yang nggak ada di jual di shoping mall. Karena ini murni bau pipis yang aromanya sangat pekat! Duh, bener-bener bau yang merusak alat penciuman gue deh. Kok bisa sih, kereta ini nggak membersihkan toilet-nya sebelum berangkat…???

Sangat beda kalo kita naek kereta eksekutif di Jakarta ke Bandung ato ke kota lainnya. Aroma yang tercium sangat beragam dan harum yang menusuk hidung. Aromanya membuat otak gue bekerja untuk menebak kira-kira merk apa tuh aroma parfum yang dipake si penumpang…sangkin sedapnya tuh aroma…

Usai bau pipis, kemudian muncul aroma baru. Kali ini dari ibu-ibu yang duduk persis di belakang gue. Aroma khas minyak gosok ‘kayu putih’. Duh…baru aja kereta berjalan kok sudah pada puyeng sih…??? Bener-bener mengganggu banget deh! Sudah AC-nya nggak nampol. Aroma yang muncul justru beraneka ragam. Arrrrrgggghhh…!!!

Gue mencoba menenangkan otak dengan menempelkan earphone ke telinga. Mulai deh mengalun lagu-lagu pilihan yang sengaja gue download ke BB gue. Mulai dari lagu The Little Things Give U Away (Linkin Park), Ya Sudahlah (Bondan feat Fade2Black), Crawl (Chris Brown), Fireflies (Owl City), dan deretan lagu-lagu yang nampol di telinga gue. Satu alasan kenapa pake earphone, biar nggak terjadi interaksi dengan orang yang duduk di sebelah gue. Karena kadung menyebalkan!

Trus, gue mulai ngeluarin novel karya Tony Parson (Man and Boy), yang jujur saja sudah berbulan-bulan dibeli tapi nggak tuntas-tuntas juga dibaca. Semua itu gara-gara BB…yang membuyarkan minat baca gue. Mata gue lebih doyan melototin layar Blackberry gue ketimbang baca novel lagi… Kadang-kadang BB ini najis banget deh…!!! Membuat nafsu membaca novel gue berubah jadi nafsu kegatelan melototin layar BBYa, buka FB, buka Twitter, MP, YM, Kompas.com, Detik.com dll…dooohhh…!!!!!

Mulai deh siap-siap baca Man and Boy yang masih tetap pada posisi bab 5. Nggak beranjak dari taon kapan…!! Tapi, dasar kereta eksekutif abal-abal…goyangannya sangat dahsyat banget! Lo bisa bayangin gimana dahsyatnya tuh goyang kereta. Pantat gue bisa terangkat dari tempat duduk hingga pada posisi kayak sulap ala Deddy Cobuszier. Untung saja tidak terangkat sampe ke langit-langit kereta…

Waduhgimana mau baca…saat mata masih berada pada barisan paling atas membaca kata demi kata novel tersebut. Tapi sangkin dahsyatnya guncangan kereta, tiba-tiba mata gue sudah berada pada barisan paling bawah tuh novel…busyet dah…!!! Alhasil…novel hanya bertahan gue baca selama 15 menit. Selebihnya kepala gue mulai puyeng. Maklum, gue emang nggak bisa membaca dalam kondisi penuh guncangan. Maksud hati mau menuntaskan ini novel malah ditutup dengan manisnya…

Sabar ya Tony Parson…karya elo pasti gue baca dengan tuntas kok! Tapi tidak di sini. Di dalam kereta butut ini! Ntar di rumah aja…!!

Dua jam pertama kereta berhenti di TEBING TINGGI…kota yang terkenal dengan LEMANG dan CAKAR AYAM-nya. Kereta berhenti, kemudian muncul deh pedagang yang menjajakan dagangannya. Dulu, waktu masih kuliah, setiap naik kereta, gue sering beli Pecal, Mie dan Sate Kerang yang dijajakan ibu-ibu. Sedap juga kok…!!! Tapi sekarang, niat untuk melahap jajanan si ibu-ibu tersebut sirna. Ada kesan jorok di benak gue. Jadi mending ditahan aja dulu…

Dua jam berikutnya berhenti lagi di kota lain… Sama seperti di TEBING TINGGI, para penjaja makanan mulai menjajakan dagangannya. Karena perut ini bimbang. Antara lapar dan tidak, alhasil gue beli RAMBUTAN yang bener-bener nendang banget manisnya…lebih higenis ketimbang Pecel dan Mie yang cara meraciknya, tangan si ibu menguyel-uyel itu Pecel dan Mie…jorok bukan…?!!

Usai kunyah mengunyah, gue mencoba merebahkan tubuh ini. Karena rasa kantuk mulai menyerang. Gue pasang kembali earphone menemani kantuk gue…hingga akhirnya mata gue bener-bener terpejam…(untung saja, tidak ada KEONG RACUN di playlist gue…kalo ada mungkin gue sudah lipsync sambil menari-nari kayak Shinta dan Jojo).

Akhirnya gue pun terpejam…gue ingat, lagu FIX YOU-nya Coldpaly masih mengalun hingga gue tertidur nyenyak…Zzzz…zzzzz…zzzzzzz…

Tanpa terasa, pukul 13.30 siang…

Kereta sudah touched-down di tanah leluhurku…disambut dengan terik matahari yang sangat menyengat! Puanaaaasssss bangethhh!!!!

But, no problema…!! I love my hometown…!!

I’m coming home…!!!

[]

Baca juga tulisan selanjutnya : Tentang Pernikahan Itu


Coretan edisi 26 Juni 2010

Oleh Afrilia Utami

/1/

Seribu hari aku membingkai
Gundah Gulana yang kerap lalai
Mengambang pada detik ketiak
yang Kental dan hambar serupa dahak-dahak

/2/

3726 Menit melumat danau bibir
Bibir-bibir tiada tepi hulu arus mengalir
diantara Bianglala riang memutar liar
Basahan merenung di sudut sokong kamar

/3/

Sembilan Bulan wanita itu mengandung
Nurani yang berasal dari dalamnya nafsu menyelendang
Sayang, Terbunuh oleh api yang melengking
Hingga jasad ronta kelana mengering

/4/

Dua Ribu Sepuluh langkah meratap hilang
Dua Ribu Sepuluh genggam hanya menoreh bayang
Dua Ribu Sepuluh Tatap menjari melukis siluet mati melayang
Dua Ribu Sepuluh Sentuh panas membakar dingin baraArang

RuangCoret, 26 Juni 2010
: 15.35 WIB

[]


Diproteksi: Sebunyi Sunyi Sembunyi Sepi [15]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


Tungku

Oleh Adhy Rical

hutan menghujan di pondidaha
ada api dalam mulutnya
dan perempuan menyiapkan tungku
dalam gaun, menjadi tanah liat
: akulah anak rotan dan sagu

kau boleh tancapkan batang-batang pisang
setelah perawan tak lagi kesumba
seperti ayam mengepak pasang
yang memburumu berlomba-lomba

kau boleh datang berkaca
dengan perkasa dan perjaka
akan kutanak candu
agar mautmu dingin dalam tungku

Pondidaha, 2010
[]


Seperti Air Mengalir

Oleh Adhy Rical

: Dwi Klik Santosa

seperti air mengalir
menemuimu di ujung muara
ada buku bergambar: burung merak dan kebun jagung
dari sisa usia yang menyusu

kau tak butuh api tapi tanah yang hangat
menanak kisah leluhur atau mimpi remaja
yang tak pernah mengibu dalam arisan
atau pertemuan ayah yang padat

seperti air mengalir
yang keluar dari mata ibuku
menjadi kunang-kunang dalam kelambu
: mimpilah agar gairah selalu lahir

[]
Kendari, 2010

ar


Tumbuh Batu Di Tubuhku

Oleh Syaiful Alim

: Adhy Rical

peluh yang luruh dari tubuhmu
menumbuh batu di tubuhku.

hujan dari hutan itu
mengirimkan lumut dan denyut rindu, padamu.

aku melihatmu memahat batu-batu aksara
seraya mencicil doa kecil lima belas ayat lima jari
jadi puisi pisau menujuMu.

perkenankan aku merawat batu ini
semoga semayam diam yang api.

Khartoum, Sudan, 05 Januari 2010


%d blogger menyukai ini: