Tag Archives: air

[Prosa] Lewat Kesunyian

Oleh Afrilia Utami

 

Hujan bagai sang harimau jantan

yang mencari di mana betina berada

Pakaian-pakaianmu selalu terlihat basah, dari jam dinding yang mengantarkanmu pulang ke ruang ini. Aku hanya ingin pergi, begitu yang dikatakan. Tapi mengapa tidak saja kau mengajakku pergi, mungkin bersamamu? Sementara berkali-kali kita lupa mengatakan ingin dan pergi. Yang bersentuhan dengan pengantar jauh.

Dinding-dinding yang berlumut. Karena menjauhkan sentuhan. Mungkin langit telah kusam. Itulah yang mengepulkan awan-awan gelap itu jatuh-jatuh di ruang kepala ini. Tiba-tiba petir menangkap gerutuan sang pemangkul waktu. Sampai kapan kita akan menyusuri jurang dan juram? Liriklah para rumput liar di halaman itu, menari-nari di bawah sinar bulan, yang belum tentu esok akan ada.

Cinta itu berlari-lari di ujung aliran airmata, dari tangan yang mendadak membuka telapaknya. Melimpahkan apa yang ingin dibicarakan, kepada pemangkul hujan. Tidak mengapa, sepanjang ini. Kita larungkan tentang tubuh kesunyian.

Kadang dari pikiran. Aku menyaksikan badai itu, memporak-porandakan bayangan. Kau mengunci hal-hal yang ingin kutidurkan di sampingmu. Tidak ada seorang pun yang tahu, dari balik kaca aku mengeluarkan kedua bola mataku. Untuk menelusuri apa itu senja, saat hujan kembali menggenggamkan seonggok nyanyian desa, di sebuah bukit hijau dengan sedikit manusia. Hanya ada sepasang harimau yang lapar.

Tiba-tiba aku teringat senyummu. Menjajahkan, belenggu yang telah larut, dan berulang kali mengkristalkan diri. Mungkin, ia memilih untuk hidup kembali. Tapi tali langit tak pernah putus, dan kita tak dapat membisikkan hal yang sama bahwa kita dapat melihat tali-tali itu.

“Aku hanya ingin pergi. Dan kau harus di sini. Menjaga ini, kisah kita. Agar kelak kita tahu. Mengapa aku, mengapa kamu. Lebih sering menikmati cinta dengan kesiap sunyi. Aku bukanlah awan gelap itu, dan jangan tanya mengapa, pakaianku selalu basah.” Kau pun mulai melangkah, di malam yang tua itu. Hingga senja kembali merapihkan hujan-hujan baru, meski membakar. Aku tetap mengantarkanmu.

karena,

kita selalu resah

mengapa hujan

tak kunjung reda

di hati kita.

Iklan

Aku Pilihmu, Kekasih.

Oleh Syaiful Alim

 

 

Aku pilihmu, Kekasih.

Pisauku pahat kayu

jadi perahu

hanyutkan pedih.

 

Betapa air mata!

Kawah sedih mendidih

ronta, renta, rentan

asap-asap doa maraton merotan

mewujud kursi dan dipan

seorang kakek duduk, batuk

memandang langit gelap: Kutuk?

 

Gempur lumpur.

Ratap merapi.

Epidemi stunami.

Gempa longsor wasior.

 

Bagaimana aku zikirkan namamu dengan bibir cibir?

Bagaimana aku ukir namamu dengan jemari nyeri?

Bagaimana aku endapkan namamu dengan dada duda?

 

Lihat. Lihatlah kaum pejabat kami

Memakai baju safari pelesir ke luar negeri

Sementara rakyat sekarat memanggul keranda mayat

Oh, terus sayat dada kami. Dada kami. Dada kami.

Dada kami. Dada kami. Dada kami.

Dada kami. Dada kami.

Dada kami.

Dada.

Kami.

 

Cuma kau kupilih, Kekasih

dari ribuan kekasih.

Pulihkan lukaku. Lukamu juga, bukan?

Jangan. Jangan biarkan aku mati

tanpa dalih.

Aku tahu suka luka silih berganti

tapi betapa berat aku meniti.

 

Kekasih, bagaimana aku mencintaimu seutuh hati?

 

[]

Saudi Arabiya, 02 11 10.

 


Ini Apa Sih?

Oleh Ade Anita

Ada yang mendesak…dan tiba-tiba menyeruak dengan cara memaksa menyelusup seperti penyusup di dalam dadaku. Sesak. Resah. Lalu tiba-tiba air mataku mengalir tanpa direncanakan…tanpa diundang tapi kian mendominasi hingga menimbulkan isak yang hebat. Sekelebat bayangmu hadir. Hanya sekejap tapi langsung menguasai seluruh raga. Ini apa? Aku tidak mengerti ini apa? Yang aku tahu diriku telah dikuasai olehnya.

Semua bermula karena semalam aku tidak bisa tidur. Ada sebuah awan hitam yang terus menggelayuti kepalaku. Lalu aku bertanya kepada langit malam yang hitam dan tiada berbintang.

“Ayah, jika ayah masih hidup, apa yang akan ayah lakukan?”

Ayahku meninggal tahun 2009 lalu. Tanah kuburan di makamnya tidak lagi berwarna merah, tapi tanah kuburan di hatiku masih terus terasa basah. Ayah pergi sambil membawa separuh jiwa. Dulu ayahlah yang selalu datang pertama kali menawarkan bantuan jika aku sedang dirundung masalah. Ayah juga yang selalu tidak dapat tidur nyenyak jika ada anak-anaknya yang bertemu dengan dinding tembok yang tiada berhenti di akhir sebuah perjalanan hidup. Dan ayah yang akan kehilangan senyum ketika mendapati anak-anaknya bertemu dengan sebuah jurang yang terbentang di tengah perjalanan yang sedang dititi anak-anaknya.

“Jangan pernah berhenti nak. Bahkan jika ada jurang di hadapanmu sekalipun, jangan berpikir untuk berhenti berusaha. Karena jurang yang terjal dan dalam bisa dilalui dengan cara terbang. Jadi, jangan ragu untuk mengembangkan sayapmu untuk melaluinya.”

Mungkin karena ayahku sudah tua kulit keriputnya terasa menggantung memenuhi seluruh tangannya. Aku bisa merasakan kulit itu mulai terpisah dari raganya ketika mengangkat kulit itu ke atas. Keriputnya juga mulai banyak hingga lipatan di kelopak matanya kian menutupi seluruh matanya jika dia sedang tertawa terkekeh. Tapi ayah selalu menawarkan jawaban sederhana untuk semua persoalan yang diajukan. Bahkan ketika tidak ada jawaban yang pasti, dia tetap akan datang dengan sekotak martabak manis. Bahkan ketika tidak ada uang untuk sekotak martabak manis pun, dia tetap akan datang menghibur dengan sepiring kue manis buatannya sendiri yang terbuat dari tepung, air, telur dan gula yang digoreng kering.

“Hidup cuma sekali, kenapa tidak mencari yang manisnya saja dari hidup ini? Ayo, kita makan yang manis agar pahitnya hidup bisa segera berakhir.”

Ayah…Ade kangen…banget!

I Miss You So Much…

Rindu ini benar-benar sudah tak terbendung. Ingin menyelusupkan kepala di dalam relung pelukan tangan tuanya. Ingin melihat senyum khasnya

Lalu sesuatu yang terasa mendesak di dalam dada kini mulai terasa lagi. Ditambah dengan sebuah genangan yang memenuhi pelupuk mata datang bak air bah.

Allahumma…sayangilah kedua orang tuaku, jauh lebih melampaui seperti sayang mereka kepada diriku sejak aku masih kecil hingga aku dewasa.”

—————

(setelah terbangun karena bertemu dengan ayah tersayang di dalam mimpi.)

[]

Jakarta, 7 Juli 2010



Saputangan Merah

Oleh Dwi Klik Santosa

Baru kali ini aku diberikan kenang-kenangan aneh. Sehelai saputangan berwarna merah. Terbuat dari kain berbulu halus dan lembut. Betapa sesuatu yang indah dan sangat mengenangkan. Sesuatu yang lucu, mungkin. Dan entahlah, saat mengingat lagi masa-masa dulu itu.

Dulu sekali, ibuku pernah bercerita padaku. “Pemberian sebagai tanda kasih dari seseorang berupa saputangan, biasanya memberi isyarat tidak bagus bagi hubungan itu di kemudian hari.”

Ibuku orang kuno. Orang Jawa dan terlahir dari kampung. Tentu saja, kata-katanya ini kuanggap usang saja. Kebanyakan orang Jawa kan begitu, sedikit-sedikit gejala dan sebagainya selalu dihubung-hubungkan dengan hal-hal yang sifatnya gaib dan mistik. Dan, bagi pencernaan pemikiranku yang sedang tumbuh girang-girangnya ngilmiah, kadang-kadang kuartikan seperti hanya untuk menakut-nakuti saja. Ah, ibu.

Bagaimana pun saputangan merah itu, bagiku adalah hal yang istimewa. Apalagi, benda itu diberikan oleh seorang bule cantik bernama Michelle. Ya, Michelle Young, begitu pada awal bertemu dulu ia mengenalkan namanya. Dari sepintas lewat pengetahuanku tentang sosok dan pribadi seorang bule, terlalu banyak kuasumsikan konotatif. Entahlah, aku ini barangkali orang Indonesia yang berjenis tradisional dan konservatif.

Tapi, ketika berkenalan secara dekat dan intens dengan Michelle. Semua hal yang konotasi itu seperti hilang seketika. Bahkan, sungguh aneh bagiku. Jika dari suku asalku, penampilan seorang perempuan agung itu disebutkan serba halus, menunjukkan karakter ibaratnya seorang putri kedaton. Namun, si bule berambut pirang ini seperti tak kalah memanifestasi sebutan estetika ningrat itu.

Entahlah, serba kebetulan dan beruntung saja sepertinya pada waktu tempo dulu itu, dimana pada saat yang tak terduga, dapat berkenalan dan bahkan berhubungan dekat dengan seorang mojang asing yang brilian tapi santun.

“Kamu lucu,” selalu begitu komentarnya. Seusai aku menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

“Aku bukan badut,” kilahku.

Dan, senyum yang pipit di kedua pipinya itu, sungguh memberi panorama istimewa; si bule pirang yang kejawa-jawaan.

“Engkau tidak boleh bersendawa seperti itu,” katanya lagi, “itu tidak sopan.”

Waduh. “Iya, habis, saya tidak terbiasa minum minuman bersoda,” kilahku lagi.

Dan, selalu saja setiap aku berkilah, disikapinya dengan senyum, bahkan derai tawa yang lepas.

Perjalanan bus antar kota, Jakarta – Denpasar waktu itu memang melelahkan. Tapi, tidaklah demikian seolah-olah. Justru, biar saja, semakin lama semakin bagus. Haha.

Tatkala bus Lorena executive itu melaju tenang meninggalkan ibukota, AC bus yang adem serasa sihir saja yang cepat menilapkan semua penumpangnya. Begitupun aku. Novel yang baru saja beberapa lembar kusantap, tanggal pula dari tatapku. Tidak penuh memang kursi bus itu diisi penumpang. Kursi berinterior super deluxe yang berjajar dua-dua itu, di sisiku kosong. Tanpa diduga dan mendadak saja, bus ini tergoncang. Berderit keras dan panjang. Seisi bus pun pada goyah.

Rupanya Pak Sopir yang cekatan, berusaha menghindari penyeberang jalan yang sembrono, dengan membantingkan badan bus keluar ruas jalan. Untungnya ada tanah lapang yang siap menampung badan bus. Selamatlah seisi bus, tiada sesuatu pun yang celaka atau terluka. Begitupun, dari posisi tidurku yang seenaknya tadi itu, lantas mudah saja melempar tubuh ini, hingga terjongkrok ke bawah.

Setelah mulai tersadar. Kucari-cari novel yang tadi kubaca, terlempar entah kemana. Nah, pada saat novel handy itu mulai terlihat mataku berada di bawah jok kursi sebelah itu, akan kujangkau segera. Pada saat yang sama, selentik tangan meraih novel itu. Bertatapan mata kami sambil jongkok. Busyet! Bule cewek yang lucu. Baby face. Melalui sebulat coklat matanya itu, seolah ia berkata, “ini novelmu?”

Kuanggukkan kepalaku. Lalu kuterima novel itu dari sodoran tangannya. Ragu-ragu, aku kembali ke jok kursiku. Bus yang sudah berjalan lagi dengan tenang, mengenakkan duduk kami. Novel itu kubaca lagi. Dan, tapi .. mataku sudah mulai mencari-cari lagi.

Melongok ke samping. Kursi si bule baby face di sampingnya juga kosong. Wuiii … entahlah kejadiannya, singkat cerita, sosokku sudah terduduk di sampingnya. Dan ngobrollah kami berdua. Sekenanya. Sedapatnya. Mengalir saja. Asyik-asyik saja. Dari soal Indonesia moii. Gajah Mada. Mataram. Tanah air. Soekarno. Soeharto. NU. Muhammadiyah. Multipartai. Pemilu. Otonomi daerah.

“Novel yang bagus,” katanya, “apa itu royan?”

“Royan itu penyakit yang mewabah,” jawabku.

Royan Revolusi, begitulah judul novel itu. Novel bermuatan human satiris masa-masa selepas kemerdekaan Indonesia, karya Ramadhan KH.

“Indonesia negeri yang indah,” kata Michelle, “3 tahun ini saya jalan-jalan keliling AsiaTenggara.”

Lalu si bule santun ini menceritakan pengalaman hidupnya. Kekecewaannya terhadap keluarga, dan terspesial adalah kepada kaum laki-laki, dari pacar pertamanya, ayahnya, kakak lakinya dan kemudian dosennya yang pernah mengencaninya, menjadi alasan baginya meninggalkan sejenak Ausie untuk sekedar berusaha mencari hiburan batin. Dari Philipina, Singapura, hingga pada akhirnya tinggal di Bangkok, dan lalu menganut Budha. Semasa kuliah di salah satu universitas di Ausie, ia mengambil NU – Muhammadiyah sebagai obyek penelitiannya. Maka, tak heran bahasa Indonesianya bagus sekali. Dan, banyak nyambung saat pembicaraan menyangkut peta politik dan budaya nusantara. Menyenangkan sekali berdiskusi dengan si bule pinter ini. Apa saja kata-kataku bisa saja menjadi bahan tawanya. Entahlah, dataku yang kurang atau aku yang terlalu lugu, sehingga mudah ia tertawakan.

Tatkala bus Lorena ini berhenti di restoran Pasir Putih di bilangan Jawa Timur itu, menjadi hal yang sangat kuingat dan kukenang tentang sosok si Michelle ini. Setelah pintu bus dibuka, berebutan para penumpang ingin saling dulu turun dari bus. Belumlah kami sampai masuk ke restoran, seorang perempuan tua dalam keadaan memelas, memegang-megangi perutnya. Rintihnya iba. Entahlah, kenapa aku hanya diam melihat dan mendengar saja, tak juga berbuat apa-apa. Darimana datangnya, mendadak Michelle menghampirinya. Ia berkata kepada perempuan tua itu. Dan kemudian berteriak kepadaku, “bantu aku.”

Kami bertiga pun makan bersama. Disapa si perempuan tua itu oleh Michelle dengan banyak pertanyaan. Sesekali kutimpali, setiap si ibu tua itu menjawab. Dan berkelakarlah kami akhirnya bersama-sama. Dari cara Michelle bertanya dan tak sungkan menyentuh sosok si tua memelas ini, tak dapat kupungkiri, dia gadis menarik dan eksentrik. Punya empati yang bagus terhadap sosialisme.

Makanya, ketika bus mulai berjalan lagi melanjutkan rute ke Ketapang, diskusi kami pun lanjut ke topik sosialisme. Seru sekali. Saat kusinggung soal anarkisme sebagai sebuah sempalan cabang spesifik dari sosialisme, Michelle kelihatan seperti tidak senang.

“Tidak ada dimana pun manusia hidup tanpa aturan, kamu tahu itu,” sanggahnya sengit.

Ya, memang. Tapi catatan-catatan pendapat dari kecenderungan pemikiran Bakunin dan Matalesta, bahwa jika manusia mampu mandiri, berdiri sendiri, hidup tanpa ketergantungan yang lain, bersikap anarkisme, kenapa tidak?

Begitulah, ketika bus kami memasuki badan kapal penyeberangan menuju bandar Gilimanuk. Asyik saja, kami berdua, terlibat aksi-aksi menyenangkan. Rambut si bule ini pirang berkibar-kibar disisir angin. Serba sopan cara berpakaiannya, tak nampak seperti turis asing kebanyakan. Dan, ketika anak-anak pantai itu mulai beratraksi mengapung di lautan samping kapal yang berlabuh menunggu keberangkatan, mulailah mereka mendapatkan atensi dari para penumpang kapal. Aku dan Michelle tak ketinggalan. Koin ke koin telah habis dilempar dijadikan rebutan anak-anak itu. Sejenak hanyut bersama fragmen ini cukup menyenangkan kiranya.

Yah, sayangnya, sore cepat melaju, dan sampailah bus ini menyeberangi Selat Jawa. Menyusuri jalan meliuk-liuk Pulau Bali. Petang pun tiba, sampailah bus tumpangan kami di Terminal Ubung. Waktunya turun dan menuju tujuan. Begitupun, saat yang tidak enak, sebab harus berpisah dengan Michelle.

“Nanti aku cari kamu. Kita ketemu di Legian, ya,” begitu kata Michelle.

Cukup melegakan. Bahwa, kami tidak benar-benar akan berpisah. Nomor telepon rumah temanku itu kutulis di secarik kertas dan kuberikan kepadanya. Begitulah, tiga hari kemudian, kamipun ketemu lagi di Pantai Legian. Jarak yang tidak jauh dari tempatku tinggal yaitu di Double Six, Legian Kaja. Cukup niat dilakukan oleh Michelle. Karena jarak Bedugul dan Legian cukup jauh kiranya. Begitulah, seperti turis layaknya, kami pun menikmati hidup merdeka menyusuri sepanjang Legian yang berpasir halus. Hingga matahari terbenam, yaitu saat-saat yang paling ditunggu banyak turis karena daya magisnya, masih saja kami asyik terlibat diskusi ngalor ngidul.

Dari siang sampai petang. Bukan waktu yang lama barangkali. Betapa singkat.

“Saya ingin sekali melanjutkan lagi S2 saya di Jogja,” katanya, “kamu senang?”

Yeah, kata-kata Michelle ini. Begitulah, lalu kusahuti, “menarik!”

Sebelum taksi itu membawa pergi sosok si bule mungil. “Aku ingin kau simpan ini.”

Sebungkus paket kecil itu diserahkan kepadaku.

“Semua alamatmu kucatat. Pasti akan berguna nanti. Tunggu kabarku, ya,” begitu katanya lagi.

Itulah saat-saat terakhir yang bisa kuceritakan tentang Michelle, si bule Ausie yang menyenangkan. Sebulan. Satu semester. Setahun. Dua tahun. Tidak ada yang perlu ditunggu lagi. Sebab aktifitas di ibukota yang seru dengan demo mahasiswa menggempur tirani, dengan sendirinya telah mampu mengubur kenangan itu.

Dan, saputangan merah itu. Kenangan itu. Hanya kenangan saja. Entahlah nasib si pemilik asalnya dulu. Setidaknya aku telah berusaha melakukan pesan kata-kata terakhirnya. Saputangan, hmmm … Betul belaka, kata ibuku. Sejak itu, aku seperti mendapatkan pelajaran dan didikan untuk tidak menghiraukan arti kebenaran kata-kata firasat naluri Jawa yang dianggap kuno.

Dwi Klik Santosa

Pondokaren

25 Juli 2009 :21.4o

[]

Mikhail Bakunin 1814-1876 (Photo: Wikipedia)


Euforia Masa Lalu

Oleh Enny Asrinawati

Air itu mengalir perlahan, seperti gerimis
Seperti waktu yang membawaku sampai di sini
Hingga aku tak sanggup menoleh lagi ke belakang
Melihat jejakku yang samar

Mungkin sakit dalam otakku
Menjadikanku bebal berkepanjangan
Mengabaikan suara-suara bising yang menuntun jalanku
Oh…, Aku hanya mendengar suaraMu Tuhan
Yang Kau bisikkan dalam naluriku
Kata hati, orang bilang
Tapi salahkah

Aku tenggelam dalam ego,
Mendengarku bicara sendiri saja
Menulikan diriku dari kata-kata orang yang sok tahu
Yang benar seharusnya
Yang membukakan jalanku seharusnya
Aku tenggelam dalam ego
Mendengarkanku bicara sendiri saja
Menyakiti mereka yang mencintaiku
Mengabaikan waktu

Aku hanya tidak ingin pergi dari mimpi mimpi
Mimpi-mimpi masa kecil ku
Mimpi yang kubangun dengan teman sepermainanku
Mimpi yang usang dimakan usiaku
Aku hanya ingin kembali
Bermimpi mengharap uang jatuh dari langit
Dari pesawat terbang yang melintas di atas kepala-kepala kami yang lugu
Mimpi menjadi pemain film dengan penuh bedak dan eyeshadaw yang tebal
Mimpi menjadi guru dalam permainan guru dan murid
Bahkan mimpi menjadi ibu seperti permainan ibu-ibuan
Yang seharusnya saat ini sudah tanpa bermimpi lagi aku pun menjadi ibu
Tapi mimpi itu yang aku rindu

Aku tak ingin kehilangan mimpi-mimpi
Tak ingin berhenti bermimpi meski mati pun
Namun dunia sudah tak mau tau itu
Waktu pun tak lagi berpihak pada usiaku

Tuhan, haruskah memang begitu
Usiaku tlah memakan mimpi-mimpi masa kecilku …

Surabaya, 020910

[]


Menikmati Keunikan Tuktuk – Pulau Samosir

Baca juga kisah sebelumnya : Wisata Ke Air Terjun Sipiso Piso

Oleh Very Barus

USAI berwisata ke Air Terjun Sipiso-Piso, perjalanan kami lanjutkan ke Danau Toba lewat Tongging. Kaki ini rasanya sudah gatal pengen cepat2 nyampe di danau Toba dan pengen nyeburrrrr ke air danau. Apalagi dari ketinggian si Piso-Piso, kami sudah melihat indahnya pemandangan Danau yang dulunya adalah Gunung Toba. Mobil kami laju dengan kecepatan ‘nyantai’. Maklum, kami tidak mau melewatkan momen demi momen pemandangan indah. Tangan gue tidak pernah berhenti mengabadikan pemandangan itu lewat kamera digital Lumix DMC LX3.

Nggak nyampe 30 menit mobil sudah nyampe aja di Desa Tongging. Adem banget! Danau-nya tenang, penduduknya juga tenang. Di pinggir danau gue melihat beberapa warga sedang sibuk mengambil ikan Pora-Pora (pake jala). Konon katanya ikan Pora-Pora hanya berada di Danau Toba. Di Danau atau sungai lain tidak ada. Maka dengan penasaran yang membuncah, gue pun turun ke danau untuk melihat dan menangkap ikan Pora2 yang sangat lincah banget gerakannya.

Ikan Pora2 ukurannya kecil. Ya, mirip kayak anak ikan mujair gitu deh. Kalo menurut candaan warga setempat, ikan Pora2 adalah ikan KUTUKAN! Karena ukurannya nggak bisa besar. Hanya segitu2 saja sampai tua-nya. Ikan Pora2 juga sering dijadikan menu makanan. Ikannya bisa digoreng, di sambal, di arsik juga mantap. (sangkin penasaran, waktu makan di rumah makan, gue langsung pesan ikan Pora2 untuk mencicipin kelezatannya. Ternyata rasanya mirip kayak ikan teri Sibolga)

Puas bermain2 dengan ikan Pora2, perjalanan kami lanjutkan ke Tuktuk-Pulau Samosir. Gue pikir, tadi kami sudah nyampe di Danau Toba, berarti perjalanan berhenti sampai disitu saja. Eh, ternyata perjalanan masih sangat panjang dan melalui jalanan yang terjal dan berliku2. Desa Tongging yang kami singgahi hanyalah ujung dari bagian Danau Toba. Sementara Tuktuk atau Pulau Samosir masih jauh lagi. Letaknya juga di tengah Danau Toba..

Alamaaaakkkkk….!!!!

Mobil dilaju dengan kecepatan ‘nyantai lagi’. Kali ini bukan karena pengen mengabadikan pemandangan. Melainkan karena di kanan kiri jalan sangat membahayakan. Sebelah kiri jurang yang di bawahnya Danau Toba. Sedangkan di sebelah sisi kanan adalah tebing-tebing bebatuan yang rawan longsor. Kebayang saja kalau perjalanan yang kami tempuh disaat musim hujan. Selain jalanan licin, juga khawatir kalau bebatuan longsor dari atas tebing lalu menimpa mobil kami…oh, noooo..!!! (and thanks God semua berjalan lancarrrrr..!!)

Kami melintasi beberapa desa yang sejujurnya sulit gue hafal satu persatu. Yang pasti perjalanan kami tempuh dengan penuh kebingungan. Maklum, disepanjang mata memadang kami banyak menemukan kuburan-kuburan dengan bangunan yang menjulang tinggi. Konon kata si supir(org Batak), monumen kuburan  yang dibangun dengan megahnya melambangkan sebuah ‘kredibilitas’ pemilik kuburan. Bahkan banyak warga yang rela membangun kuburan dengan megahnya demi menghormati leluhur (orangtua) mereka yang meninggal. Meski kehidupan dan juga rumah mereka terlihat begitu memprihatinkan. Tapi mereka rela membangun kuburan megah untuk sebuah penghormatan pada orangtua yang meninggal…. Begitulah tradisi!

Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam, akhirnya kami pun nyampe di Tuktuk, Pulau Samosir. Hari sudah gelap, karena jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Kami langsung mencari penginapan (cottage) disekitar Tuktuk. Berhubung karena malam hari, kami tidak bisa melihat keindahan pemandangan lagi. Semua terlihat gelap dan menyeramkan….dibenak kami masih terbayang deretan kuburan-kuburan yang kami lewati sebelumnya. Ditambah lagi gue bisa melihat mahluk-mahluk di dunia lain….Argghh!!!!!

Perut lapar, kami cari makanan di kafe-kafe yang ada didekat hotel. Ya, kalo di Bali, kafe-kafe kecil tersebut banyak ditemukan dikawasan Poppies di Bali. Kami langsung pesan makanan yang panas dan pedas. Tapi sayang yang tersedia hanya INDOMIE REBUS dan SOTO AYAM saja! Minumnya teh manis panas dan beberapa minuman jus abal-abal (rasanya nggak nendang!)

Kalo dilihat dari jenis makanan yang kami makan, tentu harganya tidak akan melambung tinggi mahalnya. Tapi dasar orang daerah yg suka memanfaatin tamu yang datang, mereka langsung memasang tarif makanan yang cukup mahal. (sekitar 70 ribu saja!) meski, ngedumel, kami langsung bayar dan kembali ke Hotel langsung tidur!

Tuktuk atau Danau Toba dulu terkenal dengan udara yang cukup dingin. Tapi kemaren,  udara dingin itu sudah tidak terasa lagi. Malah gue kegerahan. Wajar kalau akhirnya gue membuka baju saat tidur….maaf kurang adem sih..!!!

Wes ewes ewes..Bamblas angine kemane….!!!!!

KEESOKAN PAGI HARINYA…

Kami langsung menuju resto untuk breakfast. Mohon maaf nih, breakfast-nya nggak layak direkomendasikan. Cuma nasi goreng, nasi putih dan soto. Standart bangetttttt…!!! rasanya juga nggak jelas! Hambar! Kayaknya lebih nendang masakan gue deh!. Nggak apa-apa deh, yang penting mengganjal perut dulu…. trus, kami lanjutkan jalan2 disekitar cottage yang bujubuneeee…indah banget! Kami terkagum-kagum dengan keindahannya. Suasana sangat tenang dan tidak ada gangguan kalo mau bersemedi, mau relax dan mau menenangkan diri. pemandangan disekitar cottage begitu memukau (foto2 sudah saya posting di facebook).

Tapi, bagi gue yang memiliki jiwa petualangan, tempat adem dan tenang seperti ini hanya bisa gue tempati nggak lebih dari 2 hari. Kalo lebih dua hari mungkin gue sudah mati gaya dan bisa Amnesia . maklum, berada di kawasan sepi seperti ini,nggak ada kafe dan tempat2 yang layak dikunjungi lagi membuat otak gue bisa mandeg untuk berkarya.

Puas memoto keindahan Tuktuk, kami lanjut ke kawasan lain. Ke kawasan menjual souvenir dan ada beberapa makam LELUHUR yang katanya sangat bersejarah dan kramat (bukan kramat Jati ato Kramat raya  ya…) ada juga aktraksi patung menari yang disebut SI GALE-GALE… ya, kayak patung orang jawa yang kepalanya goyang-goyang gitu. Tapi kalo patung si Gale-Gale patung yang tangannya menari2 (manortor-istilah Bataknya). Trus kalo kita mau menari bareng si patung juga boleh. Asal, usai nari kita ngasih uang sekedarnya sebagai wujud partisipasi… hmm… seru juga.

Hanya saja, sebelum masuk ke kawasan tersebut, gue sempat kesal sama seorang bapak yang ngaku2 sebagai GUIDE. Dengan senyum SOK RAMAH menyamperin kami, minta menjadi guide ke kawasan jual souvenir dan patung si Gale-gale. Dengan logat Batak sekental susuk cap ENAK! Si bapak bilang begini…

“mau di pandu nggak? Biayanya 50 ribu saja…”

Karena dulu (duluuuuuuu banget..waktu masih SMA ato SMP gue juga lupa), gue pernah ke Tuktuk dan ternyata daya ingat gue masih tajam setajam SILET!. Gue pikir, ngapain pake pemandu wong jaraknya Cuma satu pengkolan doang… buang2 uang saja 5o ribu ngasih ke si bapak itu..

Eh, bener saja.. nggak nyampe pada langkah ke 100, kami sudah nyampe ke kawasan jual SOUVENIR. Anehnya kawasan ini dari taon sebelum masehi sampe taon 2010 yang dijual itu dan itu saja. Nggak perubahan, perkebangan dan nggak ada inovasi baru. MONOTON!!!! Kreatif dong ITO..LAE….!!!!!

Karena yang dilihat nggak ada yang menarik (menurut gue ya…), akhirnya kami Cuma singgah sebentar, kemudian nyari tempat yang layak buat ngopi-ngopi sambil buka laptop. Pengennya sih update cerita perjalanan. Tapi apa daya, internetnya nggak connected!

Ada kisah seru juga sebelum meninggalkan TUKTUK.

Waktu mau ke warung kopi (catat! Warung kopi beneran bukan kafe), mobil kami parkir dengan manisnya. Tapi langsung dihadang opung (nenek) yang sedang asyik nyirih (makan sirih) dibawah pohon rindang. Gue kaget aja! Kirain si nenek patung orang2an. Eh nggak taunya masih punya nyawa. Dia bilang begini…(setelah diartikan dalam bahasa Indonesia..)

“ngapain mobil ditarok disitu?”

“Mau parkir inang…”

“ooo….”

Trus, nggak berapa lama kami pun masuk ke warung Kopi yang hanya bener2 jual KOPI saja. Tidak ada makanan lain yang dijual sebagai teman minum kopi. Parah banget bukan? Tidak kreatif!

Usai minum kopi, mobil yang kami parkir ditodong uang parkir sama si Opung! Dengan lantang dan mirip jagoan tahun 60-an (beda tipis dengan Leila Sari gitu deh gayanya) si Opung minta uang parkir sebesar rp.10.000.. busyettttt…!!! mengalahkan Grand Indonesia nih ongkos parkir..

Akhirnya supir kami ngotot pae bahasa Batak, yang artinya, si supir menanyakan surat parkir si opung. Dia nggak berkutik… edan…!!!! mental penduduk setempat perlu di reformasi deh!!!! Mental PREMAN semua..!!

Pukul 01:00 WIB

Kami meninggalkan TukTuk -Pulau Samosir, dengan naik Ferry menuju Parapat. Ya, penyeberangan dari Pulau samosir ke Parapat memakan waktu 45 menit. Nyampe Parapat, akmi langsung cari makan. Perut sudah kriuk-kriuk…lalu mobil kami laju meninggalkan DANAU TOBA menuju Pematang Sianta,Tebing Tinggi dan mendarat di Hotel JW.Marriot Medan…

Perjalanan yang cukup menarik bagi gue. Berada di Tuktuk dan Parapat membuat gue sadar, kalau masing-masing daerah yang gue kunjungi punya tradisi dan kebiasaan beda-beda. Kalau di Bali penduduknya sadar bahwa sumber mata pencarian mereka lebih dominan di dunia pariwisata, sehingga mereka selalu menghormati, melayani Turis yang datang ke Ranah mereka. bahkan mereka bisa membuat pengunjung betah berlama2 di Bali. Beda dengan kawasan Danau Toba, Pulau Samosir yang dimata gue masih bermental Preman! Belum menyadari kalau kawasan mereka adalah kawasan Wisata. Sehingga mereka sering memalak dan berlaku kasar terhadap tamu yang datang. Suka membuat harga yang dijual seenaknya tanpa kompromi. Sehingga pengunjung merasa selalu was-was jika sedang berada di tempat wisata itu…

HARUS ADA PERUBAHAN

Jika kawasan wisata itu ingin terus berkembang (tidak mati suri) dan semakin banyak dikunjungi para Turis. Bersikap ramah, sopan dan juga membuat harga yang masuk diakal agar informasi dari mulut ke mulut tentang keindahan dan keramahan penduduk setempat itu nyampe kemana-mana… jangan sampai ada kalimat yang berbunyi,” hati-hati kalau datang ke situ….suka memalak dan makanan suka buat harga asal-asalan..”

So, saatnya ada perubahan di kawasan indah itu..!! karena INDAH SAJA TIDAK CUKUP!!! JIKA TIDAK DIBARENGI DENGAN KERAMAHAN. KENYAMANAN DAN FEEL LIKE HOME jika sedang berada disitu….

[]


Wisata Ke Air Terjun Sipiso Piso

Baca juga kisah sebelumnya : Tentang Anjing

Oleh Very Barus

SABTU kemaren (21/8), gue dan teman-teman melanjutkan perjalanan wisata ke air terjun SIPISO PISO. Salah satu objek wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi di kawasan Tanah Karo. Letaknya tidak jauh dari pemukiman masyarakat Desa Tongging, Kecamatan Merek (bukan Perek!), Kabupaten Karo.

Sejujurnya, air Terjun Sipiso-Piso bukan objek wisata baru dimata gue. Karena pada waktu kuliah dulu, gue pernah  KKN dan dicampakkan ke desa MEREK (Tanah Karo) . jadi setiap minggu, gue dan teman2 akan berwisata ke Sipiso Piso dengan jalan kaki. Nggak jauh2 banget sih… meski kalo dipikir2 tetep aja jauh. Karena jalan kakinya berkelok-kelok dan naik turun. Jadi ngebayangnya capek! (wakakakaka..!!! prinsi hidup yang plin plan!)

Kebetulan gue sedang berada di Medan, gue tidak menyia2kan kesempatan untuk bersilaturahmi ke Sipiso Piso. Maklum, sejak hijrah ke Jakarta, nyaris gue nggak pernah melihat Sipiso-Piso lagi. Jadi rasa penasaran yang mengkristal di benak gue harus dipecahkan. Ibarat orang ngidam, keinginan yang tidak diwujudkan bisa membuat si bayi cacat. Kalo gue kira2 apa ya..???

Eniwei…

Akhirnya gue dan dua teman yang juga datang dari Jakarta pun melakukan Trip ke Sipiso-Piso, dengan mengendarai Avanza. Perjalanan dimulai dari siang hari menuju Berastagi. Meski sudah menginjakkan kaki ke Berastagi (sebelumnya). Tapi tidak ada salahnya gue menjadi good guide bagi teman-teman gue yang belum pernah ke kawasan Tanah Karo itu. Setelah puas mengelilingi kota Berastagi yang sangat kecil itu (dalam hitungan menit saja sudah terkelilingi)

Perjalanan pun kami lanjutkan ke Kabanjahe untuk melihat keindahan air terjun Sipiso Piso. Rasa pensaran dan kangen dengan cipratan air terjun dengan ketinggian 360 kali itu, mobil pun kami pacu dengan kecepatan ala pembalap Formula 1. Tapi sangat disayangkan, memasuki kota Kabanjahe, hampir semua ruas jalan RUSAK PARAH. Edan..!!! semua jalan dihiasi dengan lubang-lubang yang lumayan mengganggu kelancaran berlalu lintas. Aneh bukan??? Apa penduduk atau pemerintah setempat tidak menyadari semua itu…?? bok ya diperbaikin dooongg!!!

Bahkan ada lubang yang sudah menyerupai kolam ikan lele. Digenangi air berwarna coklat disertai tumbuhan air menghiasai lubang ditengah jalan itu. Gue bisa membayangkan sudah berapa banyak korban yang terjatuh di kubangan ikan lele itu ya..??? HEBAT..HEBAT..!! (maksud gue hebat kebodohannya) Sepanjang jalan menuju tempat wisata Air Terjun Sipiso Piso gue dan teman2 dibuat geleng2 kepala dengan jalanan yang sangat tidak mulus itu.

Satu jam perjalanan dari Berastagi, akhirnya kami nyampe deh di Sipiso Piso. Sebelum masuk ke kawasan tersebut, kami dijegat sama petugas untuk membayar distribusi sebesar 7.500 untuk tiga orang. (murah banget ya…ongkos masuknya). Mobil kami parkirkan dan langsung mengeluarkan kamera untuk mengabadikan ke Indahan air terjun itu. Dari kejauhan airterjun tersebut sangat mempersona. Meski air yang terlihat tampak keruh alias tidak bening (maklum, Medan dan sekitarnya sedang diserang musim hujan). Jadi berpengaruh dengan air terjun itu. Terlihat tidak bening tapi sedikit kecoklatan…. tapi pemandangan itu tetap indah kok…

Tidak puas menatap dari atas, kami pun mencoba turun kebawah yang jaraknya sekitar satu kilometer. Kalau masa kuliah dulu, mau turun kebawah suka khawatir karena jalannya masih licin. Tapi sekarang sudah dibuat anak tangga jadi kita nggak perlu khawatir terpeleset. Hanya saja dibutuhkan stamina yang kuat untuk bisa mencapai ke bawah dan juga harus bisa naik ke atas juga… kalo elo perokok berat, siap-siap aja gempor dan ngos-ngossan…

Kami pun mulai menuruni anak tangga. Tapi dipertengahan perjalanan, pemandangan tidak sedap mulai terlihat. Pagar-pagar besi yang menjadi pembatas disisi sebelah kiri (jurang) mulai bergundulan. Alias pagar2 besi tersebut dirusak dan dicopot oleh tangan2 jahil. Sehingga anak tangganya terlihat tidak berseni. Gue yakin pagar besi tersebut dijual oleh orang2 yang berotak maling dan tidak mengerti arti keindahan… (pengennya si dipenjarakan saja!!)

Hingga ke dasar, kami juga melihat banyaknya sampah berserakan. Sampah bekas bungkusan makanan dan minuman ringan yang pasti dari para pengunjung. Rendahnya tingkat kesadaran untuk kebersihan disini terlihat jelas. Tidak ada tempat sampah…sehingga banyak sampah bertebaran dimana2…rasanya pengen teriak aja melihat kotornya tempat wisata itu.

Meski puas melihat indahnya pemandangan air terjun dan juga pemandangan danau Toba yang terlihat dari arah tongging, namun rasa kesal masih belum terobati dengan tingkah vandalisme orang2 yang doyan merusak cagar alam itu…

Come on guys!!!

Mari sama2 kita jaga keindahan dan kebersihan lingkungan. Terutama di tempat wisata Dimana pun itu!!!!

[]

Kisah selanjutnya di : Menikmati Keunikan Tuktuk – Pulau Samosir


Percintaan Absurd

Oleh Hera Naimahh

ada benderang membawa kabar

yang harus kubaca dengan sabar

hingga segenap kata dan titik koma di sana

tak salah baca

tak salah makna

air mata pun menetes di hari ke sembilan puluh lima perjalanan kisah kasih kita

malam itu

hatiku membiru

hatiku cemburu

air mata itu

atas nama sedih

atas nama pedih

atas nama cinta

atas nama asmara kita

aku terus berpikir. aku terus berzikir. aku pun menyerah pada takdir dan kubiarkan segenap doa terus mengalir

kekasih purnamaku

akan kubaca sekali lagi

masih perlukah aku di sini

masih mampukah aku berdiri

melanjutkan kisah ini

atau, kusudahi saja percintaan rumit ini

hidup memang senantiasa menyimpan kebahagiaan dan kesedihan  tak terduga

***

hera

23 Agustus 2010

[]


Kalau Saja

Oleh Dwi Klik Santosa

Kalau saja aku Arjuna

Akan kupanah jantung kananmu

Agar tak ada kematian

Dan hanya menyisakan hidup yang penuh cinta

menggebu rindu di sepanjang waktu

Kalau saja aku Gatotkaca

Akan kubawa engkau terbang

Kemana pun engkau suka

Meneliti, menyusuri segenap nuansa

sepenuh cakrawala

Kalau saja aku Bargawa

Akan kubacakan selalu kepadamu

Syair-syair kepedihan

Tentang apa itu cinta yang menyala seperti api

Tentang apa itu cita yang mengalir seperti air

Kalau saja aku Abimanyu

Akan kuajak engkau

Untuk selalu terjaga melihat nganga lukaku

“Ksatria juga punya kilaf

Cobalah kau maklumkan seribu panah ini

Melesak menancapi dadaku.”

Pondokaren

18 Agustus 2010

: 05.36

[]


Balumpa

Oleh Adhy Rical

telah kudendangkan balumpa

sebelum kau menjahit punggungku

petang di bawah tangga

kita berdepan:

bawalah mataku, katamu

sebab ayam hijau tak punya tiang penyangga

yang mengajakmu bernyanyi

bahwa keluh hanyalah asap dapur sesorean

jejakmu di mana, sayang?

begitu sulit meminum air mata sendiri

tak ada kampung lengang

kalau bukan karena lenggang

jangan ucapkan waliakomo

kita bernyanyi saja seperti rindu sudah

kabanti, kabanti kamba-kamba wolio

o, haluoleo

bukanlah bilangan di bawah jemari

tentang pertemuan yang belum

Batumarupa, 2010

[]

Catatan:

balumpa: perjuangan orang Wakatobi melawan penjajah dan penyebaran agama Islam yang divisualkan melalui tarian dan nyanyian (kabanti). Diperkirakan balumpa bermula pada pertengahan abad ke-14.

halu oleo: delapan hari (Tolaki). Rentang waktu untuk menemukan seseorang (lelaki) yang kelak menjadi raja di Konawe dengan nama Haluoleo.

kabanti kamba-kamba wolio: sastra lisan percintaan Butuni.

waliakomo: pulang/balik/selamat tinggal (Tomia), sering diucapkan dalam kabanti.



foto: arif relano


%d blogger menyukai ini: