Tag Archives: abimanyu

RBM Bagi Saya

Oleh Dwi Klik Santosa

Rachmat Budi Muliawan : sohib, kakak dan bapak.

Sejujurnya, saya kurang ngeh kenapa dengan RBM DAY?

Tapi karena teman-teman banyak mengirimkan tulisan-tulisan yang mengharukan tentang RBM, iya deh. Meski saya belum paham juga apa yang sedang terjadi. Saya nulis juga deh tentang RBM.

Saya putuskan juga akhirnya saya pun harus mengganti gambar saya sewaktu mblangkon. Supaya agak terlihat mirip dengan kerabat atau nyanak atau setidaknya sedikit lebih nge-RBM <menurut ala saya>.

Saya lupa, kapan pertama kali kenal RBM. Entah juga siapa yang tadinya memulai kenalan. Tapi seingat saya, begitu beliau masuk ke daftar teman saya di layar pesbuk ini, sosoknya seperti menjadi rupa-rupa sosok wayang yang saya kenal. Seperti Gunawan Wibisono. Kadang menyerupai Sadewa. Dan kadang-kadang, bisa muncul sebagaimana Puntadewa.

RBM selama masuk dalam kancah pertemanan saya, adalah pendengar yang baik … hahaha … ya, begitulah. Ketiga wayang yang saya sebutkan tadi itu karakternya pendengar yang baik. Tapi soal kearifan … wuaaahhh …  Sayalah yang terlalu cerewet selama ini. Atau tepatnya, agak sok pinter, gitulah kira-kira. Maklum, saya ini mewakili orang muda yang sedang bergelora menulis. Jadi apa saja saya tulis. Dan ketika RBM saya tag, komentarnya selalu mbombong ati saya. Tidak sedikit pun ada komentar berbau sinis, skeptis apalagi pesimis. Selalu membesarkan hati saya.

Dan begitupun, ketika sesekali beliau menge-tag tulisan ke saya. Malah kadang-kadang saya komentari yang aneh-aneh. Seolah-olah saya ini lebih pandai dari beliau … waduuuhh … saya sadar, kalau mungkin itu bukan pada tempatnya. Tapi ya, yang namanya RBM .. waduuuh … selalu menanggapi komentar-komentar saya dengan kalimat-kalimat yang positif. Dan selalu saja: MEMBESARKAN HATI SAYA.

Begitupun, saat saya meluncurkan buku saya : Abimanyu Anak Rembulan, di Bentara Budaya Jakarta, 24 Juli lalu itu. Saya selalu mendapat dukungan yang hangat. Meski beliau tidak hadir, tapi saya sempat terdiam untuk beberapa saat ketika membaca SMS beliau. “Maafkan, saya tidak bisa hadir, Mas Dwi. Tapi dari Jogja, saya ingin mengucap salam saya, semoga acaranya lancar dan sukses.”

Bagi saya, berteman dengan beliau adalah peristiwa yang langka. Dimana kami sebenarnya belum saling tatap muka. Tapi seperti sudah sedekat itu. Saya pernah membuat riset tentang apa hakekat MAYA itu. Dan pernah saya hipotesakan. Bahwa 99, 999999% yang berkait dengan maya itu bohong belaka. Sedangkan, … dan mungkin masih ada 0,000001% kebenaran itu.

Tapi saya rasa, kajian terhadap kebenaran hipotesa itu bisa jadi salah. Ternyata banyak teman-teman yang sejatinya lucu, memang lucu beneran. Lugu memang lugu beneran. Baik dan memang baik beneran. SAYA CINTA HIDUP YANG RUKUN. Jadi sejujurnya saya mencintai RBM. Saya menyayangi teman-teman semuanya yang juga mencintai RBM.

Selamat Hari RBM. Hore Kerukunan Indonesia.

Bravo!

[]

zentha

27 Agustus 2010

: 13.5o

Iklan

Kalau Saja

Oleh Dwi Klik Santosa

Kalau saja aku Arjuna

Akan kupanah jantung kananmu

Agar tak ada kematian

Dan hanya menyisakan hidup yang penuh cinta

menggebu rindu di sepanjang waktu

Kalau saja aku Gatotkaca

Akan kubawa engkau terbang

Kemana pun engkau suka

Meneliti, menyusuri segenap nuansa

sepenuh cakrawala

Kalau saja aku Bargawa

Akan kubacakan selalu kepadamu

Syair-syair kepedihan

Tentang apa itu cinta yang menyala seperti api

Tentang apa itu cita yang mengalir seperti air

Kalau saja aku Abimanyu

Akan kuajak engkau

Untuk selalu terjaga melihat nganga lukaku

“Ksatria juga punya kilaf

Cobalah kau maklumkan seribu panah ini

Melesak menancapi dadaku.”

Pondokaren

18 Agustus 2010

: 05.36

[]


Acara Bedah dan Peluncuran Novis : Abimanyu Anak Rembulan, karya Dwi Klik Santosa

Photos : Dokumentasi pribadi Dwi Klik Santosa, dan Abimanyu Anak Rembulan

Nivel Grafis Abimanyu Anak Rembulan

MEJENG BARENG : pak gregory churchill (pecinta wayang indonesia) dan aku

DISPLAY : buku dan harga

PANELIS : Dwi Klik Santosa, Sujiwo Tedjo, Veven SP Wardhana (MC), Henry Ismono, Isa Anshori

KENAPA ABIMANYU : saya menjelaskan kenapa novis ini Abimanyu Anak Rembulan

RUANG ATAS BENTARA BUDAYA : bedah buku dan diskusi novis Abimanyu Anak Rembulan

WAWANCARA : diwawancarai Media Indonesia

DISPLAY : Abimanyu Anak Rembulan di ruang pameran

PIDATO PELUNCURAN : sedikit menjelaskan tentang terbitnya novis Abimanyu Anak Rembulan

INTERAKSI RUANG DAN PANGGUNG : aku dan hadirin

KESAN DAN PESAN PUBLIK : mas Edi Haryono, direktur Burung Merak Press dan asisten Bengkel Teater Rendra memberikan cerita singkat tentang kesan dan perkenalannya dengan sosok saya dan kenapa Abimanyu Anak Rembulan

SIMBOL ESTAFET : penyerahan novis Abimanyu Anak Rembulan dan wayang Abimanyu secara simbolis kepada generasi penerus dilakukan oleh pakdhe Widodo (penerbit Jagad Pustaka)

PEMENTASAN WAYANG URBAN : ruang dan antusias penonton

MAS DALANG NANANG HAPE : dengan energik dan luwesnya, mas Nanang menceritakan perjalanan Abimanyu dalam kemasannya “wayang urban” kali ini

APRESIASI : mas Darma Setiawan (mantan dekan Teknologi Industri Universitas Jayabaya) mengapresiasi novis Abimanyu Anak Rembulan

RESEPSIONIS : mas Yanusa Nugroho mengisi buku tamu

23 JULI 2010 : diskusi dengan mas Sujiwo Tedjo

PARA SAHABAT : kang Kyai Khadziq Faisol dari Salatiga, aku dan mbak Pratiwi


24 Juli Dalam Semangat

BENTARA BUDAYA JAKARTA, 24 Juli 2010.

BEDAH NOVIS, jam 15.oo – 17.oo
MC : Veven SP Wardhana
Panelis : Sujiwo Tedjo, Yenny Wahid, Sukmadewi Djakse, Henry Ismono

PELUNCURAN NOVIS

“Abimanyu Anak Rembulan”

karya Dwi Klik Santosa
Jam 19.3o – Selesai

Dimeriahkan :

WAYANG URBAN – Mas Dalang Nanang Hape dkk, TENOR “VITTORIA MIO CORE” Maz Inung Nugroho.

Wayang purwa adalah materi dongeng yang kaya akan pengetahuan dan dinamis pada setiap periode perkembangannya sejak mencuatnya inovasi-inovasi semenjak abad ke-9 pada zaman pemerintahan Kerajaan Kediri. Tidak ada, barangkali, yang baku atau pakem dari segala sesuatunya. Setiap zaman membutuhkan gaya, pola dan medianya sendiri yang berbeda-beda. Selalu ada kelebihan dan kelemahan dari setiap produk kreatif yang muncul. Semoga karya kecil ini dapat diterima dan mampu menambah warna.

Krisis ksatria. Entahlah, barangkali ini hanya prasangka saya. Dan Abimanyu adalah sosok dalam ranah pakeliran wayang purwa yang lalu mengisi ruang perenungan saya. Hingga kemudian menginspirasi saya untuk menuliskan secara padat lakon Abimanyu Anak Rembulan.

Dihiasi dengan gambar-gambar full colour yang mengilustrasi adegan-adegan fenomenal dari plot atau jalan cerita dalam novel ini, semoga mampu membantu pencernaan pembaca untuk mudah mengenali karakter-karakter tokoh, serta kemudian menimbulkan keasyikan untuk menikmati materi buku.

Abimanyu Anak Rembulan sendiri bercerita tentang kelahiran dan perjalanan bocah Abimanyu putra Arjuna. Sejak kelahirannya yang mengandung drama dan lalu perjalanannya yang penuh bakti kepada ayah dan bundanya. Hingga karena doa Wara Sembadra, sang ibunda, Abimanyu tumbuh sebagai sosok laki-laki yang penuh asih dan pahlawan.

“Selalu berbuatlah baik kepada semua orang, Nak. Doa ibu sepanjang jalan.” Begitu doa Wara Sembadra. Dan menjadilah Abimanyu pribadi yang lembut dan gagah berani dalam meyakini kebenaran.

Salam.

[]

pondokaren
22 juli 2010
13.23


Sahabat Abimanyu Anak Rembulan

Oleh Dwi Klik Santosa

maz inung nugroho_photo dwi klik santosa

MAZ INUNG NUGROHO.  foto: dok. dwi klik santosa

Lahir di Magelang, 8 September 1958. Proses pendidikan dan pelatihan penting yang pernah dijalani : Universitas Colombia, New York, USA/ Summer class: journalism, Politic & Social Development (1973), SBS Australia Training/ Broadcasting (1997), AWA Australia Training/ Social Rehabilitation & Disabled (1998),  Alison Star NY, USA, Vocallise (1993), Lorna Ibbotson Canada, Opera Singing (1996), USTA Texas USA, Tennis (1997), dan Lyn Music AUS, Italian Aria (1990).

Pekerjaan sekaligus hobinya kini : malang melintas sebagai wartawan SBS Australia dan seorang direktur dari Maz Inung Event Organizer. Data-data kegiatan, prestasi dan aktivitasnya, seabreg untuk dituliskan. Termasuk ketika pada rentang 2006-2007, berperan habis-habisan menggugat RUU APP, tapi malah menjebloskan nasibnya sebagai napi di jail Surakarta.

Penyanyi Tenor pernah dijalaninya di panggung-panggung yang tak terduga. Di ultah Rendra (1995), di undangan-undangan khusus para sahabat, dan pentas-pentas tertentu. Sebagai dedikasi dan penghormatannya kepada sahabat. Bahkan ketika Pavaroti mentas di New York, 1995, Maz Inung sempat menemuinya. Beliau menyanyi di depan pendekar aria dari Italia itu dengan suaranya yang gahar dan menggelegar. Lalu Luciano mengomentarinya, “kamu seperti kuda hitam dari Asia.”

Mas Dalang Nanang Hape. foto : dok. nanang hape

Lahir di Ponorogo, 15 Agustus 1975. Lulus dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Surakarta tahun 2001. Sejak 2002 hijrah ke Jakarta. Sejak 1997 – 2003 aktif mementaskan Wayang Padat, Wayang Layar Panjang, Wayang Sandosa di kota-kota di Jawa. Mementaskan “Mahabharata” Jagad Jeroning Pasemon dalam rangka Festival Jak Art 2003, 18 hari berturut-turut di Senayan Square Jakarta (2003). Berkolaborasi dengan Ari Sutedja dan Miwako Fukushi dalam The Sleeping Beauty, Four Hands Piano Concerts in Collaboration with Javanese Classic Shadow Puppet di Jakarta (2003). Berkolaborasi dengan Jose Laurenco dkk (Portugal) dalam “A Luz de Java” menammpilkan tiga cerita : Menina Cascais, Lisbon (2004). Tour 20 lokasi Jawa dan Bali bersama Luluk Purwanto dan The Helsdingen Trio dalam Mahabarata Jazz and Wayang on the Bus (2003). Mementaskan Wayang Sandosa (Wayang Bahasa Indonesai dengan layar raksasa) secara kolosal di 6 kampus besar Jawa: Undip, UNS, UKSW, Univ. Muhammadiyah Magelang, UGM, Unsoed (27 September – 4 Oktober).

Sejak tahun 2004 malang melintang di pengembangan kreatifitas wayang dengan berbagai corak. YANGTER, istilah ini pernah digagasnya dengan penggabungan unsur-unsur pementasan wayang dan teater. Konsep ini dipentaskan di beberapa tempat : TVRI, Wappres Bulungan, Taman Budaya Solo, dan sebagainya. Tidak saja mandeg berkarya untuk namanya sendiri. Mas Dalang yang superaktif dan kaya ide ini, kerap mendukung pementasan-pementasan penting dari Mas Sujiwo Tedjo sewaktu masih aktif dengan garapan-garapan fenomenal Eksotika Karmawibangga. Juga tak jarang, mas Nanang menjadi kreator, khususnya aransemen musik, terhadap pentas-pentas penting TEATER TETAS.

[]


Apa dan Siapa Ksatria?

Oleh Dwi Klik Santosa

Setelah mengenakan baju zirah, sebagai ksatria perang, mulailah Abimanyu bercakap dengan para prajurit Dwarawati.

“Mari kita kuatkan tekad kita di dalam merebut kemenangan. Dalam hati yang teguh, dan sikap batin yang kokoh hendak menyirnakan angkara, tiada sesuatu pun tidak hancur karenanya,” kata Abimanyu tegas.

Kata-kata itu bagai menyengat telinga dan batin para prajurit Dwarawati. Tak lebih Setyaki si Banteng Garbaruci yang selama ini menjadi panglima perang Dwarawati, mendadak loncat dari tempatnya. Sakit yang dideritanya seperti sembuh seketika. Ia pun dengan gagah telah menggenggam erat-erat Gada Wesi Kuning, senjata andalannya.

Segenap prajurit Dwarawati siap lagi berperang. Munculnya Abimanyu yang masih muda memimpin mereka, menambah kepercayaan akan ada kemenangan lagi di pihak mereka.

[]

“Bangun dulu jiwamu, sebelum membangun sesuatu.” Ini kata-kata almarhum Romo Mangunwijaya. foto: infoarsitekjahat.wordpress.com

“Ksatria itu adalah sebutan bagi yang asih dalam memberi dan gagah berani memperjuangkan kehidupan tanpa pamrih. Laki-laki dan perempuan sama saja.” Begitu kata-kata almarhum Rendra. foto: burungmerakpress dok.

……………………………..

Yth. teman-teman,

Berikut saya kabarkan tentang terbitnya buku karya saya Novel Grafis ABIMANYU ANAK REMBULAN, yang akan dibedah dan diluncurkan di Bentara Budaya Jakarta, 24 Juli 2010.

Semoga berkenan hadir. Dan kiranya membeli bukunya. Semoga menambah dan menjadikan manfaat.

Salam,
Dwi Klik Santosa.

[]


Peluncuran Novel Grafis “Abimanyu Anak Rembulan” Karya Dwi Klik Santosa

Abimanyu-Anak Rembulan_Dwi Klik Santoso

Launching / Peluncuran Perdana Novis (Novel Grafis)


ABIMANYU Anak Rembulan

karya Dwi Klik Santosa

Bertempat di:

Bentara Budaya Jakarta

Sabtu, 24 Juli 2010

Jam : 19.30 WITA sampai Selesai.

Dimeriahkan pula dengan, pementasan ;

  • Tenor “VITTORIA MIO CORE”

  • Inug Nugroho

  • “WAYANG URBAN” oleh Dalang Nanang Hape Dkk.


Bedah buku / Novis oleh panelis :

Sujiwo Tejo

Yeni Wahid

Henry Ismono

Ni G A Sukmadewi Dj

[]

Fragmen Novis Abimanyu Anak Rembulan (1)

naskah : dwi klik santosa
gambar : isa ansori
penerbit : jagad pustaka
terbit : juli 2010

“Kresna kakakku. Sudah saatnya kini engkau memercayai anakku,” kata Bima, “biarlah Abimanyu saja mewakiliku menumpas kejahatan raja sombong itu.”

[]

Fragmen Novis Abimanyu Anak Rembulan (2)

naskah : dwi klik santosa
gambar : isa ansori
penerbit : jagad pustaka
terbit : juli 2010

“Apalah Dwarawati itu, biar pun diperintah oleh seorang Kresna yang diibaratkan titisan dewa. Atau di dalamnya ada Setyaki si panglima perkasa atau siapa pun. Aku, Jaya Murcita, tidak takut! ” kata Prabu Jaya Murcita jumawa.

[]

Fragmen Novis Abimanyu Anak Rembulan (3)

naskah : dwi klik santosa
gambar : isa ansori
penerbit : jagad pustaka
terbit : juli 2010

……………………

“Tapi yang pasti, saya sangat gembira menyaksikan cucuku Abimanyu yang penuh semangat begitupun ringan tangan berkorban untuk orang lain.”

“Bukankah ia sangat pantas menjadi muridmu, sohib?”

“Hanya saja kalau Abimanyu menerimanya dengan senang hati,” kata Begawan Abiyasa sekali lagi mengerling kepada Semar.

“Saya bersedia, kek,” sahut Abimanyu, “perjalanan jauh menuju kemari memanglah tujuan saya ingin belajar kepada kakek.”

Mendengar kata-kata Abimanyu yang polos, Begawan Abiyasa tersenyum lepas. Sekalipun telah renta, aura orang tua ini menampakkan wibawa yang besar.

“Selamat datang di Padepokan Wukir Retawu, cucuku,” kata Begawan Abiyasa, “dari polos hatimu dan kuat tekadmu, niscaya tiada pengetahuan yang tiada berbuah manfaat. Semoga engkau berjodoh.”

……………..

[]

Fragmen Novis Abimanyu Anak Rembulan (4)

naskah : dwi klik santosa
gambar : isa ansori
penerbit : jagad pustaka
terbit : juli 2010

Alunan seruling bambu yang menyayat seperti menadakan irama rindu yang kesepian. Saat suara melankoli itu lenyap sama sekali ditilapkan hening Hutan Gajahoya yang wingit, mengalunlah kemudian sebuah kidung :

satu purnama lewat
tak juga kutemukan sosokmu
lewat bisikan angin dan pantulan rembulan
di atas permukaan telaga yang tenang
kutemukan keyakinanku
engkau tidak jauh dariku
tidak jauh dariku
sampai sepuluh atau seratus purnama sekalipun
akan sabar kutunggu, sampai kutemukan dirimu
sampai kutemukan dirimu ….

[]


Kyai Anusakti

Oleh Dwi Klik Santosa

1.
Akulah Begawan Anusakti. Sang kyai ngilmuwan dari negeri angin balada. Mataku awas, ucapku bertulah. Si serba tahu, begitulah julukanku. Jangankan menebak apa bentuk dan warna di sebalik busana orang … hehehe … menebak isi hati dan nasibnya saja, ehem … hmm … begitulah ….

2.
“Hei … sang Begawan! Musykil matamu buta. Mustahil sejarah tak ingat kau cerna. Bukankah, adik-adikku Pandawa itu mutiara, bajik karena luhur budinya. Engkau aniaya, engkau penjarakan kini sebagai arca ..” seru Baladewa. ..”Heh, raja lancang. Mulutmu lugas, matamu awas, tapi ababmu bau busuknya tanah!” … jadilah seketika Baladewa cacing yang menggelepar. Begitupun, Gatotkaca, Antareja, Irawan, dan Abimanyu. Para putra Pandawa yang gagah dan sakti, lunak saja, ampang, terkutuk bak sisa-sisa menjadi binatang-binatang murba yang menjijikkan.

3. “Heh .. heh .. heh … Ini lagi bocah tua tengik, lagaknya ck.. ck ..ck … seperti anjing!” …”Hmm .. hmm .. Begawan kok kayak preman pasar. Ngucap sedapat njeplak,” ujar Semar. “Hayoh, kalau nyata kamu waskita, tebak apa warna celana dalamku. ..”Merah! ..”Pret! …“Hitam!” … “Prek!” …”Biru! …”Prekethek!” …”Lha opo?” kata sang Begawan jengah. ..”Hei, Sang Begawan dari negeri angin busuk, buka matamu lebar-lebar. Kalau perlu melototlah. Ini kubuka celanaku …” .. dan begitulah, Semar, sang Bathara Ismaya, juga dikenal bernama Mas Kyai Beja Nanangnunung, segera melorotkan kolornya. Manebah cahya terang. Panas dan membakar sekujur wujud sang Begawan.

4.
“Heh, Bathara Guru! .. tak sudah-sudah. Tak jera-jera, kau ini bikin ulah,” hardik Semar. ..”Iya, kakang Ismaya. Maafkan saya. Semua ini saya lakukan, hanya sekedar ingin menguji kepekaan para Pandawa. Lihatlah mereka. Betapa sebagai pembesar negara yang membawahi perintah dan kebijakan atas kese-perikehidupan rakyat, betapa keropos ketetapan hati mereka. Jika hidupnya hanya demi untuk mengabdi dan manembah kepada sang Pencipta. Tapi kenapa mudah mereka terpedaya oleh tipu daya? Gebyar duniawi telah terlalu jauh membutakan mata hati bahkan harkat nurani…” …”Hmm … hmm … ya, ya.” Airmata Semar berlinang-linang.

Pondokaren

15 Agustus 2009

: 12.58



%d blogger menyukai ini: