[Puisi] Kelebat Rautmu Hinggap di Tiangtiang Nadiku

Oleh RBE Pramono

kelebat rautmu hinggap di tiangtiang nadiku
memberi geriap pada bulirbulir darah
berkejaran di rimba rasa
alun biola membawa segenap fikirku
pada masa kita berbaku asmara di tepi awan
kau kepakkan sayapmu dan tertebar kilau perca
runtuh bertabur
di tiapnya tlah kau ukir katakata rindu
karena penantian yang tak mengenal waktu

di tiapnya ingin pula kugambar rindu
karna rentang yang tak juga mengenal waktu
tapi jemariku gemetar oleh denging harpa
mematuki tiaptiap pori kulitku dan membangunkan
tiaptiap bulu tubuh yang tak pernah mengenal pagi

denting piano mengajakku kelana pada tiap gurat
rautmu, menyelip di antara relungnya dan melenakan
butirbutir perih seperti sajak senja
menimang anakanak burung di sarangnya

kekasih, alunkan kembali simfoni jiwa yang merindu
agar tertuntun langkahku menuju tempat berlabuh

Kaki Merapi, 4 Nopember 2011.

 


[Prosa] Lewat Kesunyian

Oleh Afrilia Utami

 

Hujan bagai sang harimau jantan

yang mencari di mana betina berada

Pakaian-pakaianmu selalu terlihat basah, dari jam dinding yang mengantarkanmu pulang ke ruang ini. Aku hanya ingin pergi, begitu yang dikatakan. Tapi mengapa tidak saja kau mengajakku pergi, mungkin bersamamu? Sementara berkali-kali kita lupa mengatakan ingin dan pergi. Yang bersentuhan dengan pengantar jauh.

Dinding-dinding yang berlumut. Karena menjauhkan sentuhan. Mungkin langit telah kusam. Itulah yang mengepulkan awan-awan gelap itu jatuh-jatuh di ruang kepala ini. Tiba-tiba petir menangkap gerutuan sang pemangkul waktu. Sampai kapan kita akan menyusuri jurang dan juram? Liriklah para rumput liar di halaman itu, menari-nari di bawah sinar bulan, yang belum tentu esok akan ada.

Cinta itu berlari-lari di ujung aliran airmata, dari tangan yang mendadak membuka telapaknya. Melimpahkan apa yang ingin dibicarakan, kepada pemangkul hujan. Tidak mengapa, sepanjang ini. Kita larungkan tentang tubuh kesunyian.

Kadang dari pikiran. Aku menyaksikan badai itu, memporak-porandakan bayangan. Kau mengunci hal-hal yang ingin kutidurkan di sampingmu. Tidak ada seorang pun yang tahu, dari balik kaca aku mengeluarkan kedua bola mataku. Untuk menelusuri apa itu senja, saat hujan kembali menggenggamkan seonggok nyanyian desa, di sebuah bukit hijau dengan sedikit manusia. Hanya ada sepasang harimau yang lapar.

Tiba-tiba aku teringat senyummu. Menjajahkan, belenggu yang telah larut, dan berulang kali mengkristalkan diri. Mungkin, ia memilih untuk hidup kembali. Tapi tali langit tak pernah putus, dan kita tak dapat membisikkan hal yang sama bahwa kita dapat melihat tali-tali itu.

“Aku hanya ingin pergi. Dan kau harus di sini. Menjaga ini, kisah kita. Agar kelak kita tahu. Mengapa aku, mengapa kamu. Lebih sering menikmati cinta dengan kesiap sunyi. Aku bukanlah awan gelap itu, dan jangan tanya mengapa, pakaianku selalu basah.” Kau pun mulai melangkah, di malam yang tua itu. Hingga senja kembali merapihkan hujan-hujan baru, meski membakar. Aku tetap mengantarkanmu.

karena,

kita selalu resah

mengapa hujan

tak kunjung reda

di hati kita.


[Cerpen] Duniaku

Oleh Fanny J. Poyk

 

Duniaku adalah bayang semu yang tercipta dalam wujud imajinasi dan harapan. Aku berharap ada sebait puisi indah muncul dari sesosok mahluk yang bisa mencintaiku tanpa menoleh ke belakang, tanpa meneliti dengan cermat segala hal dalam lekuk tubuhku, dalam benak akal sehatku, dalam hati dan perasaanku.

… Aku adalah aku, mahluk Tuhan yang patut dicintai dan mencintai. Aku tetaplah aku meski semua fatamorgana telah tercipta untukku. Aku akan selalu menghapus air mata yang mengambang lemah di kedua pipiku. Aku akan selalu berkata, oh derita…pergi…pergilah kau dari sisiku.

Itulah aku. Dan aku tetap seperti aku apa adanya. Aku menerima cibiran dan pandang sinis dengan senyum getir. Karena sesungguhnya aku adalah sosok yang terus berjalan dalam kegetiran itu sendiri. Aku menerima semuanya dengan pasrah, sepasrah wujudku yang dirongrong beragam virus ganas yang perlahan-lahan melemahkan seluruh sendi dan sel-sel di tubuhku. Aku sadar sakratul maut berjalan perlahan mengikis hari-hari yang setia menemaniku. Aku sadar, aku mengutuk dan menyesali diriku, mengapa…mengapa semua ini menimpaku. Virus-virus itu kini entah telah menyebar kemana, karena sebelum aku tahu dia bersemayam di tubuhku, aku telah mengencani banyak lelaki.

Aku tahu dosaku terus menumpuk dan menumpuk. Akan tetapi…aku tak kuasa untuk merintanginya. Dan ketika lelaki bernama Pram itu datang dengan cintanya yang tulus, aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak membuatnya menderita. Dia adalah lelaki terkasih yang membuatku berharga sebagai perempuan, sebagai manusia, sebagai mahluk Tuhan yang ingin mencintai dan dicintai. Pram…mengenang nama itu, air mata membasahi pipiku. Dia datang dengan setumpuk cinta untukku.

“Aku tidak peduli siapa dirimu, cinta telah menggiringku kepadamu…” katanya jujur sekaligus naif.

Aku meradang. Ingin kutolak semua keindahan yang telah ia berikan. Namun aku tak kuasa. Tatkala ia melamar dan memintaku untuk menemui orangtuanya, batinku menangis.

“Apa yang membuatmu yakin sehingga kau begitu ingin menjadikanku isterimu, Pram?” tanyaku.

“Kamu cantik, kamu mencintaiku, dan…kamu baik,” katanya tulus.

Aku terdiam. Kucari makna di balik kalimat pujiannya. Apakah lelaki ini bodoh? Pikirku. Matanya yang polos tidak menyiratkan beragam dusta, cibiran atau jebakan. Aku mulai menyukai apa yang ada pada dirinya. Aku merasa menjadi manusia seutuhnya, manusia yang benar-benar manusiawi. Dia berbeda dengan puluhan laki-laki yang pernah kukencani.

“Aku sungguh mencintaimu. Kita akan hidup bahagia,” katanya meyakinkan.

Aku tertawa getir. Pram… Aku tidak berani berjanji. Aku hanya berani menikmati saat-saat indah yang kauberikan, meski hanya untuk sesaat saja. Aku tahu kau meradang tatkala kutolak lamaranmu, kau berlalu bagai singa yang terluka. Kenyataan itu memang membuatku merintih pilu.

Di kamarku, aku merenungi takdirku. Kulihat diriku di depan kaca. Inikah aku? Dalam wajah cantikku tersembul sosok asing yang selalu kubenci. Aku selalu berusaha memusnahkan sosok tersebut dalam bentuk apapun. Namun, beratus bahkan beribu kali kulakukan, dia tetap kembali dan kembali lagi.

Aku adalah aku, wajahku cantik. Hidungku bangir. Bibirku seksi. Mataku indah, rambutku hitam, lebat dan panjang bergelombang. Lekuk tubuhku sempurna. Semuanya indah, seindah sosok wanita yang bersemayam di jiwa dan imajinasiku. Aku adalah aku, aku tak pernah minta dilahirkan seperti adanya aku saat ini. Aku tak ingin memanipulasi raga seperti yang kulakukan saat ini.

***

Malam ini, aku kembali melanglangbuana. Melenggang di antara remangnya Jakarta. Kupamerkan lekuk indah moleknya tubuhku pada mobil-mobil mewah yang lewat. Aku tertawa, aku melirik genit menunggu lelaki hidung belang turun dari mobilnya dan membawaku pergi. Kucari mangsa baru dalam hiruk-pikuk dan pekatnya udara malam Jakarta. Kubasuh dukaku untuk sejenak membaur dalam hingar bingarnya euforia sesaat yang kini kurasa.

“Selamat malam, sayang. Siapa namamu?” tanya seorang lelaki dari balik kaca mobil mewahnya.

“Namaku Mona.”

“Ayo masuk!”

Kubuka pintu mobil sedan mewah itu dengan elegan. Perjalanan panjang seperti yang sudah pernah kulakukan kembali kulalui.

“Benar namamu, Mona?” tanya lelaki itu.

“Tergantung!”

“Besok namamu apa?”

“Belum bisa kukatakan sekarang.”

Tangan lelaki itu mulai bergentayangan. Kutepis perlahan jemarinya yang kasar. Namun, semakin aku menolak, ia semakin beringas.

“Sudahlah, jangan sok suci. Kamu sama seperti yang lainnya.” Katanya sambil menarik bahuku kasar.

Aku diam, kubiarkan ia berbuat sesukanya. Malam jahanam seperti malam-malam yang telah berlalu kembali kujalani. Kini aku menjadi Mona, esok entah aku akan menjadi siapa lagi aku tak tahu, karena aku belum merancangnya. Di kamarku yang kumuh, kubuka kembali diaryku. Kutulis dengan jelas apa yang kurasakan. Aku kembali menangis. Di sana, di balik kata-kata indah aku sadar, aku bukanlah aku.

Kujalani hari-hariku dengan beragam kejadian, dengan predikat baru yang mengukuhkan diriku menjadi seperti yang kuinginkan. Remangnya malam adalah kehidupanku. Saat seorang pria kaya bersedia memeliharaku dengan imbalan gajih bulanan, aku menerimanya dengan senang hati. Saat virus penyakit mematikan itu datang menghampiriku, aku kembali berteriak dan bertanya pada siapa saja yang mendengarkan, mengapa…mengapa ini menimpaku?

Hidupku terus bergulir mengikuti berlalunya waktu. Kadang aku ingin mengubah anomali itu, menjadi manusia normal, bekerja dengan aman di sebuah perusahaan yang biasa-biasa saja, menikah dan memiliki anak, memiliki cucu yang bisa kuajak berkeliling kota, namun semuanya hanya mengendap dalam keinginan sesaat. Aku kembali berhadapan dengan jeritan jiwa yang terus meletup-letup dan terus meradang mempertanyakan, mengapa… mengapa… aku seperti ini?

Tuhan, aku berdiri menatapMu di antara linangan air mataku. Seandainya saja aku bisa meminta, aku ingin merubah waktu, aku ingin dilahirkan seperti manusia pada umumnya. Itu adalah keinginanku yang terdalam. Tapi aku tetaplah aku, aku selalu meronta dan mempertanyakan ketidakadilan ini.

Kadang aku bernyanyi dari satu bis kota ke bisa kota yang lain. Kadang, aku terjerembab dalam pelukan lelaki ke lelaki lain. Meski hampa, semua kujalani dengan ihklas. Aku tahu ini salah, tapi aku tetap manusia, manusia yang butuh cinta. Aku kerap menertawai diriku. Pada cermin aku bertanya, mengapa…mengapa pada raga ini tersimpan status yang berbeda?

“Terimalah dirimu seperti kau apa adanya,” seolah cermin itu menjawab kegundahanku.

“Harusnya bukan aku yang berada di dalam raga ini!” bentakku kesal.

“Kalau begitu, lakukanlah apa yang hendak kau lakukan!”

“Percuma. Aku telah melakukan semuanya. Tapi semua orang menganggapku aneh!”

Aku yang berada di dalam cermin, menatap wajahku sendiri dengan bingung.

Kucoba untuk kembali ke wujud asal sebagaimana aku dilahirkan. Aku bertekad untuk memusnahkan semua kenangan masa kecilku. Di dalam nama itu aku telah menjalani hari-hari kelamku yang tak pernah berwarna putih cerah. Di dalam nama itu hidupku abu-abu.

Di dalam nama itu sosok wanita tersembul bagai dewi malam yang selalu menebar pesona, mencari mangsa dalam remangnya Jakarta. Di dalam nama itu aku berusaha mengejawantah menjadi wanita jelita yang berhak memperoleh cinta. Di dalam itu pula terletak alasan mengapa aku menolak pinangan beberapa lelaki yang mabuk kepayang padaku. Di dalam nama itu kini bersemayam penyakit HIV yang kuperoleh dari beragam lelaki yang mengencaniku. Di dalam nama itu aku telah berbuat banyak kesalahan. Dengan nama itu pula kelak aku dimakamkan.

Inilah aku. Di balik jeruji besi ini kuterima takdirku dengan diam. Aku tak mau membela atau dibela. Aku tetaplah aku, manusia yang terus meradang, yang penuh dosa, yang selalu menangis dan memohon perlindungan pada siapa saja yang mau sejenak diam tak mencela atau menertawakan, pada siapa saja yang mau mendengarkan kisahku. Di dalam nama asliku, di sanalah bersemayam jiwa kewanitaanku, di dalam nama itu telah kukuburkan beberapa lelaki yang pernah menjadi pacar-pacarku. Maka sebelum nyawaku melayang menuju awan gemawan, perkenalkan, namaku Ryantono! ***

Depok, Maret 2009


[Buku Baru] Selendang Berenda Jingga

SELENDANG BERENDA JINGGA

Penulis: Zulkarnain Siregar

Penerbit: Jejak Publishing, Yogyakarta

Harga: Rp.65.000,-

Ukuran: 14,7 x 21 cm

Halaman: 180 hal, Softbookpaper Classic

Pemesanan: 0852-6035-0448

***

Irwansyah Hasibuan

Penyair tersungkur di hadapan ego yang melambung, terhenyak oleh realitas tak ramah dalam pencarian katarsis yang ia dambakan. Dunia kebendaan yang membelenggunya (insani) seakan ia campakkan untuk bisa menelanjangi gemerlap rasionalitas modernis yang ia telusuri. Sepanjang lorong-lorong yang gelap dan menyesakkan itu, batinnya dijarah dengki yang dilahirkan satu pemikiran ke pemikiran lainnya. Satu kehendak yang tak sampai, kepada kehendak lain yang mungkin majenun. Dirampok dendam! Adakah kebaikan yang tersisa? Pemberontakan terhadap diri sendiri bisa jadi buah persaksian penyair terhadap berbagai realita yang ia lampaui, rasakan, dan alami.

***

Antilan Purba

Zulkarnain dalam antologi puisi ini menggunakan pembendaharaan bahasa yang dimilikinya untuk mengomunikasikan perasaan, pemikiran, dan perngalaman hidup dan kehidupannya dalam bentuk puisi. Zulkarnain menyeleksi kata, frasa, dan kalimat dengan amat hati-hati dan seksama. Bahasa puisi Zulkarnain ditata dengan konvensi puisi sastra yang berkekuatan metafora aliterasi, asonansi, konsonansi (pengulangan bunyi), sajak, rima, dan pencitraan. Semua piranti puisi sastra telah dipoles, dimanipulasi menjadi asing dan tidak abstrak sebagai pembalikan harafiah sehari-hari menjadi makna puitik. Makna puisi bukan apa yang dikatakan, melainkan ada apa di baliknya.

***

MJA Nashir

“Di sekolah tempat saya mengabdi kini bagi saya seperti miniatur Indonesia, dengan masalah-masalah sosial kultural yang kurang lebih sama,” begitu ujarnya malam itu. Ia bercerita panjang tentang problem kota, semrawutnya tatakelola perparkiran, persoalan keberagaman, dan pendidikan yang terkait dengan ekonomi keluarga dan birokrasi yang sering dikotori oleh kepentingan pribadi hingga hingga ke persoalan-persoalan psikologis. Saya bayangkan semua itu menumpuk di kepalanya, dan makin menajamkan bathinnya. Dan sastra atau puisi pada akhirnya menjadi media yang terbuka untuk menampung tumpahan-tumpahannya secara ‘legowo’ setelah segala yang masuk dari semua penjuru lingkungannya ia olah baik secara langsung atau tak langsung di kedalaman dunia bathinnya.


Opini: Memapas Koruptor Atas Bawah dengan Gergaji Angin

Oleh Iwan Piliang


Tumpuan memberantas korpsi kini berpulang kepada gerakan masif publik bila ingin keluar dari lakon gergaji angin.

***

JAUH sebelum heboh kasus Nazaruddin, saya pernah mengundang Fuad Bawazir, mantan Menteri Keuangan, pernah dua periode menjabat Dirjen Pajak, hadir ke acara Presstalk saya di QTV —kini Beritasatu— tayang di kanal Firstmedia, teve kabel.

Pada satu kesempatan, saya tanyakan ihwal dana Upah Pungut (UP), yang dilakukan oleh badan urusan pajak bumi dan bangunan sebelum bergabung ke Direktorat Pajak dulu. Konon dana UP jumlah juga triliunan, itu ada di rekening Bank Bumi Daya pusat atas nama pribadi  Fuad Bawazir.

Fuad membantah. Ia bilang, “Soal rekening liar itu saya yang buka ke Gus Dur agar diselidiki.”

Dalam verifikasi saya, hingga hari ini lebih 3.000 uang negara rekeningnya atas nama pribadi pejabat, terutama di Departemen Keuangan. Majalah Wartaekonomi, bila saya tak keliru, awal 2010 pernah mengupas ihwal ini. Mereka mengindikasikan masih mencapai 2.000 rekening liar atas nama pribadi pejabat.

Dari rekening liar merangkak ke rekening gendut.

Majalah TEMPO, salah satu media getol menuliskan soal rekening gendut di kepolisian. Lalu kasus ini seakan mendem di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Setidaknya ada dua kasus besar ditulis TEMPO, rekening gendut dan kasus impor BBM berl;abel ZATAPI, menguap bak BBM dalam drum tanpa tutup, menguap bersama angin.

Kembali ke urusan pajak, sudah lama pula saya verifikasi sepak terjang mantan Dirjen pajak Hadi Purnomo. Di dalam catatan saya, ada dua hal yang layak terus diverifikasi. Pertama soal pembangunan gedung Direktorat Pajak dan kedua soal IT mereka.

Di urusan gedung itu, Anda agaknya kaget, kalau saya lagi-lagi menyebut nama Mahfud Suroso.

Mahfud adalah nama yang duduk bersama Anas dan Nazaruddin dalam perusahaan mereka di PT Anugerah Nusantara. Dalam keterangan Nazar, Mahfud-lah yang mengalokasikan Rp 50 miliar pertama, dari proyek Hambalang senilai Rp 1,2 triliun. Uang Rp 50 miliar itu terindikasi dipakai untruk Anas maju jadi Ketua Partai Demokrat. Anda tentu paham di Hambalang yang dimenangkan PT Adhi Karya

Di mana ada PT Adhi Karya, di mana terindikasi tajam ada Mahfud di belakangnya.

Di pembangunan gedung Direktorat Pajak, perusahan Mahfud yang mendapatkan pekerjaan manajemen proyek dan Mechanincal Engineering (M&E). Sosok ini pula yg terindikasi mulai menjalin hubungan dekat dengan Anas Urbaningrum sejak mendapatkan proyek pembuatan kotak suara di KPU. Dan dari Mahfud pula, alokasi uang untuk pejabat tak terkecuali terindikasi untuk Hadi Purnomo mengalir.

Makanya saya tak henti-henti himbau, KPK mengejar sosok Mahfud.

Kita semua paham, sosok seperti Hadi Purnomo kemudian didukung oleh hamper semua partai duduk sebagai Ketua Badan pemeriksa Keuangan (BPK).

Dan yang mengherankan saya sosok yang saya kenal sperti Nurlif, pernah duduk sebagai anggota Komisis IX di DPR era sebelum ini, malah duduk pula sebagai wakil BPK. Nurlif terindikasi bermasalah, ikutan menerima uang sogokan Gubernur BI, di mana Hamka Yandhu, Dudhie Makmun Murod, sdh terpidana duluan, sementara Nurlif menjadi Wakil Ketua BPK. Ketiga sosok ini sama-sama dengan saya dilantik menjadi angghota HIPMI, ketika saya sempat berbisnis pada 1989-1998.

Singkatnya jika sosok-sosok bermasalah dari atas sampai bawah bermasalah, bahkan ada di berbagai lembaga yang seharusnya kredibel maka apapun lading penebas, akhirnya hanya menghasilkan kesia-siaaan, saya mengistilahkan sebagai upaya menggergaji angin saja.

Bagaimana tidak, setelah berjumpa Komite Etik KPK Jumat, 9 September lalu, saya seakan mendapatkan pencerahan, bahwa mulai dari Presiden hingga lini terbawah bermasalah. Di level Presiden, terindikasi laporan dana kampanyenya ada yang dari Hamba Allah, lalu Hamba Allah 1, 2, 3 dan seterusnya dan minta dituliskan demikian oleh KPK, apa tidak bermasalah namanya?

Nah sampai di sini tingga;ah tugas media menuliskan, terlebih berharap banyak kepada media social, plus gerakan plontos nasional diteruskan.

Berhgarap ke lembaga formal, seperti KPK kendati pun secara angka prestasinya ada, pada akhirnya hanyalah pekerjaan menggergaji angin.

Di tangan rakyat kebanyakanlah kini pemberantasan korupsi bisa digelandang. Bila tidak kita hanya hari-hari ribut dan rusuh di media bikin kuping pengang. ***

Iwan Piliang, aktifis media sosial.


(Di) Hari Kematian Kita

Oleh Afrilia Utami

 

aku pernah bersandar di kota ini, bersamamu. merencanakan untuk panen, dengan para petani penjual tomat, wortel, bayam, kubis, mentimun, dan nama sayuran yang dulunya rajin ditanam di syurga tanah kita. namun, tiba-tiba langit sepi mengirimkan pelangi-pelangi yang sepotong. dimasa sebelum itu, ruangan ini kedap, mulanya. aku dapat membayangkan bebas apapun dari sini, mungkin aku tahu diluar sedang hujan, tiba-tiba musim kemarau, enam detik sebelumnya adalah musim dingin, itu terserahku, di sini aku yang mengatur dan di ruang ini aku  mengemudikan tubuhku untuk menyeberang menuju jempatan itu. sebuah kota baru terlihat. aku senang, aku menemukan kota, diruangan yang senyap ini. kemudian, aku melihatmu, sebagai elang yang baru turun dari langit. tatapanmu selalu sama. tajam dan membekas. kemudian, kau mengajakku untuk mengerti mengapa semua ini begitu rumit, karena kita harus bahagia. karena kita tahu, hidup ini hanyalah sekali. dan tinggalah sementara bersama waktu, membeli pakan-pakan kehidupan dari yang mati kemarin.

aku pernah bersandar di kota yang sama. melipatkan sunyi-sunyi kecil di dalam saku bajuku, dan sisa dari topimu yang selalu terlihat hangus ketika topi itu tersimpan di atas kursi yang menghadap jendela yang tertutup itu. aku tidak suka dengan penyair, kataku. tapi aku bukan penyair, katanya. tapi mengapa hanya sempat untuk merapihkan syair-syair di kamar mandi, dan lupa mencuci bagaimana senja itu tenggelam di kamar kecil para semut, dan tihang-tihang yang melindungi padi milik belalang, dan ruang tempat aku menghidupkanmu, tanyaku. kamu mengerti, aku tidak mau hidup semudah itu, dan mati secepat itu, apalagi meninggalkan sepi ini denganmu. aku ingin membuat semua menjadi abadi, aku meninggalkan ini untukmu, karena hanya dengan ini aku dapat melihat matamu membaca keberadaanku, begitu katanya.

aku pernah mengenakan baju yang sama. dihari kematian kita.

“coba liriklah sebentar, aku selalu bahagia. karena kau telah mengajarkan arti sepi. hingga begitu berarti. kini, kitalah yang kemudian mengakrabi sepi. bahkan di sini, aku telah terbiasa membaca sepi itu di matamu. di waktu yang seperti kayu dengan api, katamu. aku harus terus membaca. bahkan dari dalam sini. dihari kematian kita”

aku pernah mengenakan baju yang sama. dihari kematian kita. ***


C – IP – 0 – K4 – N

Oleh Ade Anita

 

Pagi-pagi jika menulis sesuatu yang rada-rada “dewasa” nggak apa-apa ya… hitung-hitung buat menghangatkan pagi.

Dulu, waktu saya masih kuliah (baru tahun kedua kalau nggak salah), saya punya teman orang bule. Dengan bermodalkan wajah saya yang kata orang innocent (tanpa dosa dan polos), saya bertanya pada teman bule saya itu, yang kebetulan seorang pria yang usianya lebih tua dari saya beberapa tahun. Ketika itu, kami sedang menunggu kereta api yang datang terlambat seperti biasa di sebuah stasiun kereta api menuju Depok.

“Kamu… sudah pernah melakukan hubungan seks belum?”

(kalau dipikir sekarang, gila banget ya saya bertanya hal seperti ini padanya, Kurang kerjaan banget).  Teman bule saya itu kaget, dan dengan alis mata yang saling bertautan dia menatap saya bingung. Saya hanya cengar-cengir dan mengatakan:

“Just want to know.”

“Kamu sendiri? Sudah pernah belum?”

Saya menggeleng, masih dengan cengar-cengir yang culun abis.

“Di Indonesia, hal-hal seperti itu tidak boleh dilakukan sebelum terjadinya sebuah pernikahan.”

Teman bule saya mengangguk-angguk.

“Tapi, itu kan pilihan. Saya bertemu dengan beberapa orang dan mereka ternyata tidak seperti yang kamu katakan tadi, mereka sudah melakukannya meski mereka belum menikah.”

“Well, kebetulan saya termasuk orang yang memilih untuk tidak melakukannya sebelum terjadinya sebuah pernikahan.”

“And Are you happy with that?”

Saya mengangguk. Lalu kami berbincang panjang tentang perkara seks ini seperti halnya sedang membicarakan masalah politik saja, atau seperti membicarakan tentang gosip para selebritis. Saya memang senang ngobrol dari dulu, tapi selalu berusaha untuk membuat obrolan senetral mungkin. Tidak senang menggiring obrolan ke arah lain yang berpotensi yang bukan-bukan.

“Jadi, usia berapa kamu melakukan hubungan seks pertama kali? What is your virgin story?”

Teman bule saya mengangkat telunjuknya ke depan hidung saya.

“Ya, maksud saya kamu. Usia berapa?”

Saya kembali bertanya. Teman bule saya tersenyum.

“Iya, saya bukan sedang mengangkat telunjuk. Tapi saya ingin memberitahumu, saya melakukannya ketika saya berusia sebelas tahun.”

WHAT!!!!

Gila dasar bule ini. Tapi, ternyata pengetahuan baru ini berguna bagi saya untuk memahami sebuah pernikahan dini yang gonjang-ganjingnya sempat ramai beberapa tahun yang lalu di Indonesia.

Kebetulan, saya mengasuk rubrik Uneg-uneg di kafemuslimah.com. Sebuah surat curhat datang ke email saya bertanya tentang pernikahan dini tersebut. Sebut saja Mr X yang ingin menikahkan anaknya yang baru berusia 13 tahun dengan seorang yang menurutnya cocok untuk jadi pendamping hidup anaknya. Tapi, dia mendapat kesulitan secara administrasi karena terbentur dengan undang-undang perkawinan yang mengharuskan calon pengantin wanita berusia 16 tahun minimal. Dia merasa terzolimi dengan keberadaan undang-undang perkawinan tersebut.

Akhirnya, saya memaparkan kepada Mr X itu, bahwa memang dalam Islam, hasil kesepakatan ulama mengatakan bahwa seorang perempuan yang siap menikah itu adalah ketika si perempuan sudah siap untuk melakukan hubungan seksual dengan suaminya. Dan itu artinya, usianya bisa amat dini, lebih dini dari usia yang digaris-bawahin oleh UNdang-undang perkawinan kita yang 16 tahun itu (masih ingat kan, cerita tentang teman bule saya yang melakukan hubungan seksual dengan teman sekolahnya di usia 11 tahun di atas?).

Tapi, perkawinan itu tidak melulu berisi tentang hubungan seksual saja. Ada rentetan kejadian berikutnya, seperti mengandung, melahirkan, mengasuh anak (dan ketiga kejadian ini tidak boleh terlepas dari bentuk fisik seseorang. Jika tubuh si anak masih terlalu kecil, tentu dia harus kepayahan dalam melakukan ketiga kejadian ini). Kecuali…. jika disepakati untuk merencanakan kesiapan suami istri terlebih dahulu dengan cara menunda memiliki momongan. Dengan demikian, si anak bisa terus melanjutkan sekolahnya, karena tidak bisa dipungkirin bahwa pendidikan itu amat berguna bagi pembekalan seseorang dalam menapak kehidupan rumah tangganya. Bukankah tidak selamanya keberuntungan ada di pihak kita? Kita harus siap jika terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki dan ilmu adalah bekal yang tidak akan kadaluarsa. Ada banyak keluarga yang terselamatkan oleh kepandaian yang dimiliki oleh sang istri ketika sang suami tersungkur karena cobaan hidup yang beragam.  Jadi, pendidikan danketerampilan untuk seorang anak perempuan itu adalah sesuatu yang tidak merugi. Akhirnya, si bapak bisa mengerti.

Fiuh.Case Closed.

Kembali ke teman bule saya itu.

Ternyata, gejolak kebutuhan seks pada beberapa orang itu sudah terasa sejak usia remaja. Adalah sistem nilai sosial budaya kita dan juga tata aturan agama-lah yang paling berjasa membentengi agar para remaja kita tidak sampai melakukan hubungan seks bebas. Untuk itu, tentu peran orang tua amat besar adanya.

Eh… mana dia cerita tentang teman bule saya itu? Kok malah nulis pernyataan resmi? hehehe… kita lupakan si teman bule saya itu. Ceritanya menarik memang, apalagi ketika saya mendengar penuturannya, saya masih benar-benar “hijau dan culun”… Saya ingat dulu, beberapa kali teman bule saya itu harus kesulitan memilih kata-kata untuk bercerita karena tahu saya tidak mengerti apa-apa dan dia berusaha keras untuk menjaga agar saya tidak berubah karena ceritanya. Ketika itu, saya benar-benar berada dalam posisi “saya tahu tapi saya tidak tahu apa-apa”.

Usaha teman bule saya ini amat saya hargai. Kesulitan untuk menjelaskan sesuatu yang “biasa” bagi dirinya pada orang yang “belum biasa” seperti saya bukan sebuah perkara mudah. Saya mengalaminya kemarin. Ketika bersama anak bungsu saya, Hawna (5 tahun 10 bulan), berdua menyaksikan tayangan film remaja bule yang berjudul “10 think I hate about You” di HBO Family.

Saya suka jalinan ceritanya, tapi, amat kepayahan menyensor adegan berciuman yang bertaburan di film tersebut. Mau pindah remote suka kelamaan pindah jadi begitu pindah ke film itu lagi ternyata ketinggalan beberapa scenenya. Nggak pindah ada Hawna di samping saya. Jadi terpaksa deh, tangan saya mampir ke depan matanya, menutup matanya rapat-rapat.

“Eh… Hawna, tutup matanya.”

Hawna cengar-cengir ketawa.

“Sudah ibu, aku sudah nutup mataku. Nanti kalau sudah selesai bilang ya, aku cape nutup mata terus.”

Lalu saya menonton terus sambil makan nasi bungkus padang.

“Oke… sekarang sudah boleh dibuka.”

Lalu adegan demi adegan dalam film itu terus berlangsung hingga tiba-tiba, ada adegan dewasa lagi yang hadir tiba-tiba. Spontan saya berteriak panik karena tangan saya penuh belepotan nasi padang yang padat berkuah.

“Eh… Hawna, tutup hidungnya!.. Eh.. mulutnya… eh.. matanya…!!!”

Hawna sebenarnya sudah langsung memalingkan wajahnya ketika dua kepala dalam film itu sudah mulai berdekatan. Tapi, dia spontan tertawa melihat saya yang panik hingga salah bicara beberapa kali dan dia sudah menutup matanya l jauh sebelum saya berteriak sebenarnya.

Saya ikut tertawa melihat ketololan dan kepanikan saya. Huh! Setelah adegan itu lewat, akhirnya, saya bisa terus makan sambil cukup memerintahkan satu kata saja, “Hawna” dan dia langsung menutup matanya. Hingga akhirnya, dia yang masih menutup matanya tiba-tiba bertanya pada saya,

“Kenapa sih bu, aku nggak boleh lihat orang ciuman?”

Eh… loh? Hmm….

“Darimana kamu tahu kalau itu orang lagi ciuman?”

“Ya tahulah. ya… tahu ajah.”

Huff… tarik napas panjang.

“Karena, adegan itu memang belum waktunya dilihat sama kamu.”

“Kalau sama mbak Arna boleh?”

“Belum boleh juga.”

“Kalau sama mas Ibam?”

Huff lagi….

“Nggak semua hal boleh kamu lihat sayang. Apalagi kalau kamu masih kecil. Kadang, ada hal-hal yang kalau kita lihat malah bikin kita bahaya. Seperti kalau orang lihat rahasia negara misalnya, orang itu bisa dibunuh sama polisi. DOR… DOR….”

Loh, kenapa jadi membicarakan tentang masalah terorisme  segala??

“Jadi, kalau aku lihat orang ciuman aku bisa kenapa?”

Oke, Ade, saatnya untuk ngobrak-ngabrik perpustakaan memori di otakmu… pikir…pikir…pikir… ayo, ade pikir…

“Nggak tahu. Tapi, yang pasti kamu akan lebih beruntung kalau kamu melihat itu ketika kamu sudah besar nanti saja. Jangan sekecil ini.”

“Kalau aku sudah sebesar Mbak Arna?”

“Lebih besar lagi.”

“Kayak Mas Ibam?”

Aku melihat ke arah anakku yang berbicara sedari tadi dengan mata tertutup. Aku cium kedua kelopak matanya yang tertutup itu.

“Nanti, saatnya akan datang. Ibu nggak tahu kapan, tapi nggak sekarang yang pasti dan sekarang kamu bisa buka matamu.”

Dia membuka matanya dan melirik film.

“Filmnya sudah habis ya bu?”

“Iya, sudah habis.”

“Ngomong-ngomong, kamu suka nggak nonton film horor?”

“Ihhh… nggak. Aku nggak suka. Serem. Suka ada setannya.”

Saya tertawa melihat reaksi ngeri yang ditampilkan Hawna.

“Tahu nggak, sebenarnya, vampir itu kan kelelawar, tapi sebenarnya, kelelawar itu nggak bahaya sih. Tapi karena kita lihat kelelawar di film horor seram, kita jadi takut sama kelelawar.”

“Iya… aku takut sama kelelawar vampir.”

“Sebenarnya, kelelawar vampr itu nggak ada sayang.”

“Terus.. kenapa di film ada?”

“Ya itulah. Namanya juga film. Dia suka bikin sesuatu yang nggak ada, jadi ada. Atau bikin sesuatu yang nggak boleh dilakuin, jadi boleh dilakuin. Kayak membunuh orang, ngisep darahnya…. brrr…”

Hawna menatapku dengan kedua alis bertaut. Pasti dia bingung.

“Nah, begitu juga dengan orang ciuman. Sebenarnya, buat kita, orang islam dan orang Indonesia, ciuman, pelukan itu cuma boleh dilakukan nanti, kalau sudah nikah. Kayak ibu sama ayah tuh. Tapi, kalau belum nikah nggak boleh. Cuma, karena di film suka lebay, makanya ditampilin orang yang suka ngelakuin itu. Itu sebabnya ibu ngelarang kamu melihatnya.”

“Ooo…. ngerti aku … ngerti.”

(jujur, saya masih bertanya-tanya sebenarnya, dia ngerti beneran nggak sih?)

“Tapi kalau kita lagi liburan ke luar negeri, aku suka lihat orang ciuman?”

“Iya itu tadi… dia orang luar negeri. Mungkin bukan orang Islam kali. Jadi, mending nggak usah dilihat juga.”

Saya meneruskan makan nasi bungkus padang yang tinggal sedikit lagi. Tapi jujur, dalam hati ternyata bertambah lagi pekerjaan rumah saya sebagai seorang ibu.

Lalu, apa hubungannya dengan cerita tentang teman bule saya itu? hehehehe….. ya nggak tahu, namanya juga dia cuma pemanis saja kok di tulisan ini. Saya kebetulan saja inget si bule itu, inget dengan posisi sulitnya ketika saya mengajaknya membicarakan sesuatu dengan posisi saya sebagai seorang yang “tahu tapi sebenarnya tidak tahu apa-apa”. Sulit jeeeh buat njelasinnya.

Begh… sepertinya kena hukum karma. ***


Behind the Story #1: Setangkai Anggrek Bulan

Oleh Ade Anita

 

Di buku kedua saya yang terbit tahun 2005, “Selamat Malam Kabutku Sayang” (penerbit: Gema Insani Press), ada sebuah cerita yang amat sangat saya suka. JUdulnya Setangkai Anggrek Bulan.  Mungkin waktu itu gaya menulis saya tidak begitu bagus (sampai sekarang sih sebenarnya..hehehe, maaf deh…) tapi saya amat suka ceritanya. Hampir seluruh isi cerita pendek dalam buku-buku saya diambil dari kisah nyata. Baik yang saya alami sendiri maupun yang saya dengar sendiri dari penuturan pelakunya sendiri. Kebetulan, saya termasuk orang yang suka usil mau tahu masalah orang lain.

Cerita ini diangkat dari cerita ibu saya almarhumah dahulu. Suatu hari dia menelepon saya meminta agar saya datang ke rumah beliau.

“De, datang ke rumah ya. Ibu lagi sedih banget nih.”

Suara ibu bergetar menahan tangis. Ibu tidak ingin menjawab pertanyaan saya ada apa gerangan. Akhirnya saya segera meluncur ke rumahnya (hehehe… kesannya euy). Di rumah, ibu belum salin baju. Beliau masih mengenakan pakaian pergi lengkap dengan sisa make up yang masih tersisa di wajahnya yang lelah. Sisa? Ya… saya tahu semula di wajah ibu pasti ada taburan bedak dan lipstick tapi semuanya terlihat tinggal borehan tak teratur di wajahnya. Terhapus begitu saja karena ibu baru saja menangis.

Ternyata, ibu saya baru saja pulang dari menjenguk sahabatnya. Sahabat ketika masih sekolah dahulu sedang  sakit keras. Harapan hidupnya kata dokter tinggal lima puluh persen. Kanker stadium empat. Di sisa harapan kesembuhan sahabatnya  itulah ibu saya bercerita tentang kisah persahabatan dia dengan sahabatnya itu ketika masih sekolah dahulu.

Akhirnya saya pun duduk mendengar ibu bercerita. Sebenarnya lucu juga sih.  Pada semua manusia, rasanya ada sebuah ritme yang hampir serupa pada tiap-tiap diri mereka. Yaitu, bahwa  kita baru menyadari sesuatu itu amat sangat berharga ketika sudah diberitahu bahwa ada batas waktu memilikinya dan batas waktunya itu akan segera berakhir. Alias deadline.

Saya sering bermain-main dengan deadline sebuah event tulisan. Rasanya semua andrenalin imajinasi langsung pop up keluar dari kepala ketika deadline sudah di depan mata. Tapi ini kan deadline sebuah proyek pekerjaan. Berbeda kondisinya dengan deadline sebuah kehidupan…. Hmm.. semula saya pikir yang namanya deadline itu aromanya disini akan berbeda. Tapi ternyata sama saja.

Seseorang yang diberitahu bahwa deadline kehidupannya sudah dekat, akan langsung tersadar bahwa ternyata  ada banyak sekali ide di kepalanya yang belum dia laksanakan. Ada 1001 rencana yang akan diwujudkan.

Sedangkah pada orang-orang yang mengetahui bahwa orang yang dikenalnya akan bertemu dengan batas akhir tidak lama lagi, baru menyadari betapa berharganya kebersamaan mereka yang selama ini bahkan mungkin tidak terpikirkan berharga. Ingatan kita memutar kembali kejadian-kejadian lama ketika bersama dengannya. Biasanya, kenangan yang muncul adalah kenangan indah. Hingga bertambahlah rasa sayang kita dan kian sedihlah mengingat perpisahan yang sebentar lagi akan berakhir. Dan itulah yang terjadi pada ingatan ibu akan sahabatnya yang sedang sakit keras tersebut.

Akhirnya, selang setahun kemudian setelah ibu bercerita tentanga nostalgia indah bersama sahabatnya tersebut, sahabat ibu tersebut meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi rajiun. Hanya saja, ada sebuah kisah yang menurut saya amat sangat mengharukan. Ini terkait dengan kesetiaan suami sahabat ibu tersebut ketika sedang menunggui istrinya yang sedang sakit.

Dengan sabar dan amat sangat telaten, suami sahabat ibu saya itu merawat istrinya yang sedang sakit. Pagi-pagi, dia sudah berangkat ke rumah sakit karena ingin segera membersihkan tubuh istrinya yang terbaring sakit. Ingin menyuapinya lalu mengajak istrinya berbincang-bincang dengan tema apa saja agar istrinya tersebut bersemangat untuk sembuh. Bahkan ketika akhirnya istrinya mengalami kebutaan karena penyakit yang kian ganas; suaminya dengan sabar menuntun istrinya untuk merabai semua hal yang biasa mereka temui setiap waktu.

“Lihat sayang; temanmu membawakanmu apel. Coba pegang ini, ini apelnya.”

Dengan sabar tangan tua bapak itu menuntun tangan tua istrinya untuk menjamah sebutir buah apel. Lalu pelan-pelan meraba buah apel itu dan mengajak istrinya membayangkan buah itu dengan mata hatinya.

“Apel ini ranum sekali. Lihat, kulitnya halus, dagingnya juga empuk. Kamu bisa merasakan tidak kesegarannya sayang? Kita coba ya? Buka mulutmu sayang.. biar aku suapi kamu.”

Ah. Hati siapa yang tidak dapat menahan haru melihat adegan kemesraan dan kesabaran serta kesetiaan seperti ini?

Setiap hari, setiap pagi,  suami teman ibu itu berangkat ke rumah sakit dengan kendaraan umum tanpa kenal lelah. Ketika sore hari, dia selalu meninggalkan istrinya di rumah sakit dengan langkah berat. Seakan tidak ingin berpisah walau sekejap. Tapi anak-anaknya mengharuskan dia untuk pulang ke rumah agar dia juga bisa istirahat. Di rumah, si bapak ini juga tidak tenang istirahatnya. Separuh jiwanya sedang terbaring di rumah sakit, lalu bagaimana mungkin jiwa yang tertinggal bisa tidur nyenyak? Hingga suatu hari…. Si bapak ini terpeleset di kamar mandi. Usia tuanya segera menghantarkannya pada kematian.

Ah. Hidup memang sering tidak adil ya.  Saya berkali-kali bertanya dalam hati ketika mendengar kematian suami teman ibu saya ini. Mengapa Tuhan tidak mencabut saja nyawa para lelaki yang sedang berselingkuh di ranjang-ranjang temaram wanita nakal? Mengapa Tuhan harus mencabut nyawa laki-laki yang penuh kesetiaan dan kesabaran lelaki yang mulia tersebut? Mengapa Tuhan harus mengambil lelaki paling berharga bagi seorang perempuan buta yang sedang sekarat?

Dalam kondisi perasaan yang tercabik-cabik dengan emosi dan pertanyaan akan keadilan Tuhan inilah saya lalu menulis cerita Setangkai Anggrek Bulan. Ibu dulu bercerita, ketika masih gadis dahulu, dia dan sahabatnya itu sering menyanyikan lagu ini dengan diiringi gitar di asramanya di Bandung sana. Itu sebabnya saya menangis ketika mendengar lagu Setangkai Anggrek Bulan; dan lahirlah cerita tersebut. ***

Catatan penulis: tulisan ini dibuat awal tahun 2011, ketika saya sedang berniatt untuk menawarkan kembali buku lama saya yang terbit di awal ketika saya ingin menjadi penulis. Penerbit memberi tahu bahwa masih tersisa sekitar 1500 eksemplar lagi dari 6000 eksemplar semula. Ini bukan promosi loh… tapi cuma pingin nulis aja. Sudah terlalu lama saya tidak menulis; anggap ini usaha saya untuk olah jemari. Dan saya ingin memulainya dengan menulis kisah di balik pembuatan tulisan-tulisan saya. Karena kebanyakan tulisan saya memang dibuat berdasarkan kisah nyata semua. Tapi kalau ada yang mau beli.. waah…. boleh banget.

 

Buku SELAMAT MALAM KABUTKU SAYANG

Penulis: I.R. Adi dan Ade Anita Penyunting: Arif Anggoro Perwajahan Isi: Imam Sobar Penata Letak: Abu Rifqi Desain Sampul: Malia Hartati Penerbit: Gema Insani Jakarta: Jl. Kalibata Utara II No.84 Jakarta 12740 Telp. (021) 7984391, 7984392, 7988593. Fax. (021) 7984388. Depok: Jl. Ir H. Juanda, Depok 16418 Telp. (021) 7708891, 7708892, 7708893. Fax. (021) 7708894 http://www.gemainsani.co.id/ e-mail: gipnet@indosat.net.id


Batas Kesabaran

Oleh Ade Anita

 

Catatan: notes ini terinspirasi dari status temanku Saptari semalam. Aku copas status ini ke statusku di menit berikutnya.

Saptari Kurniawati

Lita Dimpudus wrote: At 3 years ”Mommy I love you.”At 10 years ”Mom whatever.”At 16 years “My mom is so annoying.”At 18 years “I’m leaving this house.”At 25 years ”Mom, you were right”……….At 30 years ”I want to go to Mom’s house.”At 50 years ”I don’t want to lose my mom.”At 70 years “I would give up everything to have my mom here with me.”WE only have one MOM. Post this on your wall if you appreciate …

14 hours ago via BlackBerry · Like ·

“Ini deja vu. Pasti deja vu.”

Beberapa kali keningku berkerut melihat pasien di sebelah tempat tidurku. Subhanallah, aku sudah bermimpi bertemu dengannya satu bulan yang lalu. Bahwa dia menderita tumor otak, bahwa dia sakit parah, aku sudah diberitahu dalam mimpiku. Tapi tetap saja hatiku berdetak ketika pertama kali melihatnya berbaring untuk pertama kalinya. Wajah itu amat sangat kuingat. Kucoba untuk mengantarkan sebuah senyuman padanya, meski tidak dibalasnya, tapi aku begitu terharu dengan pertemuan dengan dirinya.

Pasien di sebelah tempat tidurku adalah seorang perempuan berusia 49 tahun yang menderita tumor otak. Sekilas kondisinya seperti tidak menderita sakit. Tubuhnya masih subur, kulitnya tidak pucat, dan dia masih bisa terpingkal-pingkal tertawa menonton acara televisi yang lucu di kamar kami di rumah sakit. Dan sementara aku terheran-heran dengan peristiwa deja vu yang aku alami, aku terus berpikir, apa sebenarnya yang ingin diperlihatkan oleh Allah dari peristiwa deja vu ini? Apa sebenarnya yang Allah ingin aku petik hikmahnya dari jatuh sakitnya diriku kali ini?

Sesungguhnya, memang tidak pernah ada yang sia-sia dalam penciptaan Allah atas segala sesuatu di langit dan bumi. Semuanya senantiasa diiringi oleh hikmah. Itu sebabnya aku senantiasa merenung atas segala sesuatu yang aku temui dalam keseharian. Dan kali ini aku terus merenung dalam kesendirian di kamar perawatanku. Segelintir suara percakapan dari tempat tidur di sebelahku terdengar.

“Ibu, aku tidak suka acara ini. Ganti dong!”

Sebuah suara bentakan terdengar dari pasien di sebelah tempat tidurku. Lalu muncullah sosok perempuan tua yang renta ke depan televisi yang digantung di atas langit-langit kamar. Jemari renta yang sedikit gemetaran itu terlihat memencet tombol televisi untuk mengganti acara.

“Aku tidak mau ini. Ganti!”

Kembali terdengar bentakan. Lalu diulang dengan permintaan lain, lagi dan lagi. Hingga akhirnya perempuan renta dengan jemari gemetar itu menunduk dalam sambil tangannya masih terus memencet tombol untuk mengganti channel televisi.

“Duh, ibu cape nak. Masa belum ketemu juga apa yang kamu suka?”

Aku gemas sendiri. Ingin rasanya menolong perempuan tua itu mencari channel yang disukai anaknya tapi kakiku belum bisa digerakkan. Masih amat lemah dan pusing di kepala juga mulai mengganggu. Akhirnya hanya bisa menatap penuh iba pada perempuan renta itu.

Pada sebuah percakapan berikutnya dengan perempuan renta itu, barulah aku ketahui. Anaknya yang sakit sudah berusia 49 tahun. Seorang perempuan tanpa anak yang memiliki karir cerah karena menduduki posisi amat strategis di sebuah perusahaan. Sedangkan si ibu, adalah perempuan berusia 79 tahun yang sudah ditinggal mati oleh suaminya beberapa tahun yang lalu.

“Anak saya menderita tumor otak. Sudah satu bulan penuh dia di rumah sakit ini.”

“Oh, dan ibu menjaganya berganti-gantiankah dengan anak ibu yang lain?”

“Tidak. Sama seperti dia, ibu pun sudah satu bulan penuh tidak pernah pulang ke rumah. Ibu sendirilah yang menjaga dia di rumah sakit.”

“Oh… suaminya?”

“Suaminya sibuk bekerja. Dia juga tidak punya anak. Anak-anak ibu yang lain juga bekerja semua. Ibu sudah tidak punya suami, anak-anak sudah besar jadi biarlah ibu yang menjaganya.”

“Subhanallah.. ibu luar biasa sekali.”

“Ah, anak ini suka berlebihan. Semua ibu mungkin akan melakukan hal yang sama pada anak mereka.”

Perempuan renta itu tersenyum penuh kelembutan padaku. Kakiku yang ngilu dipijitnya ringan. Pembicaraan kami terputus karena anaknya berteriak.

“Ibuuuu… aku mau minum!”

“Iya, sabar ya, ibu jalan dulu.”

Lalu dengan langkah tertatih perempuan renta itu berjalan menuju botol minuman yang ada di samping lemari.

Mungkin keberadaan tumor di otak pasien di sebelahkulah yang menyebabkan pasien di sebelahku terlihat amat egois dan manja layaknya anak kecil. Sementara dia terpingkal-pingkal melihat  komedi di televisi, ibunya mencuci pakaian dalamnya di kamar mandi, memanaskan makanan dan minumannya di dapur rumah sakit, membelikannya pampers, bahkan juga menyediakan diri sebagai tempat untuk si anak menumpahkan kekesalannya karena dimarahi oleh dokter spesialis yang menegur si pasien karena membandel dari saran dokter.

“Enak saja dokter itu menyuruhku aku jalan. Dia sih enak tidak sakit, tapi aku kan sakit. Ibu sih diem saja, coba kalau ibu merasakan sakitku, bagaimana?”

“Aku bosan makan daging terus-menerus. Ibu dengar sendiri kan, kata dokter gula darahku bisa naik jika aku begini terus. Ibu usaha dong, carikan aku buah kek! Sayur kek! Jadi aku sehat, apa ibu senang lihat aku sakit?”

“Sabar nak. Kata dokter, guladarahmu bisa naik jika kamu tidak berlatih untuk berjalan dan bangun dari tempat tidurmu. Ayo sayang, kita bangun dari tempat tidur ya? Ibu takut ancamana dokter bahwa tulangmu bisa keropos jika kamu tidak berusaha bangun dari tempat tidur akan terjadi sayang.”

“Sakit bu! Aku sakit! Ibu lihat sendiri kan, aku kan bukan enak-enakan disini.”

Akhirnya aku mencoba untuk menutup telinga dan mataku. Tidak tega mendengar percakapan kedua anak beranak ini. Hingga akhirnya ketika aku telah sehat dan diperbolehkan untuk pulang, aku mencoba untuk mampir ke tempat tidur pasien di sebelahku.

Ibunya yang berwajah teduh dan sabar, langsung meyalamiku dan mengirimiku doa-doa agar penyakitku tidak lagi kambuh. Aku terharu, begitu terharu melihat kesabarannya. Maka setelah bersalaman dengan sang ibu, aku mengalihkan pandanganku kepada si anak.

“Mbak… kamu amat sangat beruntung memiliki ibu yang amat sabar seperti ibumu ini. Dia sudah tua, tapi rasa sayang dan sabarnya tidak berkurang sedikitpun untuk merawatmu. Subhanallah… baru dua hari aku sekamar denganmu, tapi aku terus menerus mengucapkan kalimat subhanallah karena takjub dengan kesabaran ibumu. Kamu amat beruntung. Beruntung sekali. Ibumu selalu benar untuk satu hal, bahwa untuk sembuh memang kita harus berusaha untuk melawan rasa malas dan rasa sakit. Semangat ya mbak.. semoga mbak cepat sembuh.”

Lalu aku memandang si ibu yang berdiri dengan tangan mengatup takzim ke arahku. Rasanya aku ingin memeluk perempuan renta yang luar biasa ini.

Ya.. aku baru menyadari satu  hikmah apa yang bisa dipetik dari sakitnya aku kali ini. Bahwa kesabaran itu sifatnya tidak terbatas, tidak mengenal batas usia dan tidak lekang oleh waktu. ***

Catatan penulis: ketika sakitnya ade anita, 10 agustus 2011. RS Premier Jatinegara. Kenangan selesai kateterisasi jantung di tanggal 9 agustus 2011.


Episode Garing #1: Main Tebak-tebakan, Yuk

Oleh Ade Anita

 

Putri bungsuku belum  berusia 6 tahun memang meski dia sudah duduk di kelas 1 SD. Tapi, dia sudah merasakan duduk di bangku TK cukup lama, 2 tahun, bosan juga jika harus TK lagi. Itu persangkaan awalku ketika akhirnya memutuskan memasukkan dia ke Sekolah Dasar. Untuk sekolah dasar negeri, jelas saja tidak diterima karena sekarang SD menghendaki anak didik harus sudah berusia 6 tahun di tanggal juli. Hanya sekolah dasar negeri Standard Nasional yang sedikit longgar, jadi kurang dari 6 tahun boleh masuk SD. Batasnya di bulan desember akhir tahun dia masuk itu, usianya sudah 5 tahun 8 bulan. Sayangnya kelonggaran inipun putriku tidak lolos karena dia lahir di bulan Januari. Akhirnya masuklah dia ke SD swasta.

Belakangan, baru aku menyadari satu hal. Ternyata, untuk usia seperti putriku ini, untuk duduk serius sebagai anak SD memang sulit. Hal ini dikarenakan pemikirannya yang masih dilingkupi dengan kegiatan main-main saja. Segala sesuatu dalam kacamata Putriku adalah tempat bermain yang luas. Jadilah aku harus mengimbangi pemikirannya. Seperti mengajarinya untuk memahami pelajaran dengan cara membuat seolah-olah pelajaran tersebut adalah salah satu bentuk permainan misalnya.

“Nak, kita main tebak-tebakan yuk.”

“Ayo.”

“Ibu yang mulai dulu ya. Coba tebak, bagian dari tubuh kita nih, bentuknya bulat, warnanya ada dua, bisa digunakan untuk melihat. Tebak apa?”

Walhasil, putriku ini jadi seorang penggemar tebak-tebakan. Hanya saja mungkin bagi orang lain tebak-tebakannya rada-rada garing kali ya. Karena sebenarnya tanpa dia sadari versi tebak-tebakannya adalah baju lain dari cara memahami materi pelajaran di sekolah. Tapi sudah. Sstt…, nggak usah dikasi tahu ke dia ya fakta yang satu ini.

Saking gemarnya main tebak-tebakan, jika ada waktu luang dimana saja, maka hal yang satu ini akan dikejarnya. Jika sedang antri di kasir,

“Bu, main tebak-tebakan yuk. Ibu yang kasi pertanyaan, aku yang jawab.”

Atau ketika sedang berada di dalam kendaraan dan  terjebak macet di jalanan,

“Bu, main tebak-tebakan yuk, aku jawab ibu yang kasi pertanyaan.”

Jika formasi dia sedang komplit dengan kakak-kakaknya, tak jarang kakak-kakaknya ikut permainan kami. Hanya saja pertanyaannya mungkin  agak sedikit advance.

“Tebak, bentuknya pasti – ada bijinya – ada rambutnya -basah? Ayo apa?”

Putri bungsuku melongo. Apa?

“Rambutan kesiram air.”

“Ban apa yang bisa dipakai di kepala?”

Putri bungsuku protes.

“Mana ada ban yang yang bisa dipakai di kepala. Pusing dong nanti orangnya.”

“Ada yee. Ban-do.”

Akhirnya, main tebak-tebakan sekarang jadi benar-benari garing kriuk..kriuk 100% asli. Hingga tanpa sadar, putriku mulai terbiasa dengan pertanyaan konyol dan… HUPLA… Dia pun mulai bisa ikut memberi pertanyaan. Dia jadi pandai main plesetan kata, suka bercanda, kadang suka rada-rada sok tua (tebak: mana yang lebih dulu, jadi tua karena banyak gaul sama orang tua; atau jadi orang tua karena emang sudah tua?… hehe, nggak ada hubungannya dengan notes ini, jadi nggak usah dipikirin jawabannya).

Hingga dengan bangga kami sekeluarga layak memberinya ucapan selamat : “Welcome to Garing’s Family.”

Adapun kisah main tebak-tebakan di keluarga kecilku, masih story continue. Apalagi jika sedang terjebak  di tengah kemacetan Jakarta yang luar biasa, di pertengahan bulan Ramadhan. Mana panas,  haus….

“Ayoo… Bentuknya besar, ada belalainya.”

“Gajah.”

“Gajah apa yang suka bawa gada?”

“Gajah mada.”

“Kalo Gajah yang nyebelin?”

……

“Gajah yang dimasukin ke dalam mobil kita pas lagi macet gini. Ih, nyebelin banget kan. Menuh-menuhin aja.”

“Iya, itu emang nyebelin. Nah sekarang, gajah apa yang super duper nyebelin.”

…..

“Gajah yang begitu sampai rumah, dia turun duluan dari mobil ini terus langsung masuk ke kamar, nyalain AC dan tidur di sana. Sampe kita nggak kebagian tempat. Waaaa…. Nyebelin banget.”

“Iya… Asli nyebelin. Enaknya langsung ditembak saja tuh gajah.”

“Makanya, jangan mau ditebengin gajah. Ngomong-ngomong, emang ada joki gajah di jalur 3 in 1?” ***

Catatan penulis: Ade Anita, intermezzo dikit ah… gerah nih, haus lagi.


%d blogger menyukai ini: