[Buku Baru] Selendang Berenda Jingga

SELENDANG BERENDA JINGGA

Penulis: Zulkarnain Siregar

Penerbit: Jejak Publishing, Yogyakarta

Harga: Rp.65.000,-

Ukuran: 14,7 x 21 cm

Halaman: 180 hal, Softbookpaper Classic

Pemesanan: 0852-6035-0448

***

Irwansyah Hasibuan

Penyair tersungkur di hadapan ego yang melambung, terhenyak oleh realitas tak ramah dalam pencarian katarsis yang ia dambakan. Dunia kebendaan yang membelenggunya (insani) seakan ia campakkan untuk bisa menelanjangi gemerlap rasionalitas modernis yang ia telusuri. Sepanjang lorong-lorong yang gelap dan menyesakkan itu, batinnya dijarah dengki yang dilahirkan satu pemikiran ke pemikiran lainnya. Satu kehendak yang tak sampai, kepada kehendak lain yang mungkin majenun. Dirampok dendam! Adakah kebaikan yang tersisa? Pemberontakan terhadap diri sendiri bisa jadi buah persaksian penyair terhadap berbagai realita yang ia lampaui, rasakan, dan alami.

***

Antilan Purba

Zulkarnain dalam antologi puisi ini menggunakan pembendaharaan bahasa yang dimilikinya untuk mengomunikasikan perasaan, pemikiran, dan perngalaman hidup dan kehidupannya dalam bentuk puisi. Zulkarnain menyeleksi kata, frasa, dan kalimat dengan amat hati-hati dan seksama. Bahasa puisi Zulkarnain ditata dengan konvensi puisi sastra yang berkekuatan metafora aliterasi, asonansi, konsonansi (pengulangan bunyi), sajak, rima, dan pencitraan. Semua piranti puisi sastra telah dipoles, dimanipulasi menjadi asing dan tidak abstrak sebagai pembalikan harafiah sehari-hari menjadi makna puitik. Makna puisi bukan apa yang dikatakan, melainkan ada apa di baliknya.

***

MJA Nashir

“Di sekolah tempat saya mengabdi kini bagi saya seperti miniatur Indonesia, dengan masalah-masalah sosial kultural yang kurang lebih sama,” begitu ujarnya malam itu. Ia bercerita panjang tentang problem kota, semrawutnya tatakelola perparkiran, persoalan keberagaman, dan pendidikan yang terkait dengan ekonomi keluarga dan birokrasi yang sering dikotori oleh kepentingan pribadi hingga hingga ke persoalan-persoalan psikologis. Saya bayangkan semua itu menumpuk di kepalanya, dan makin menajamkan bathinnya. Dan sastra atau puisi pada akhirnya menjadi media yang terbuka untuk menampung tumpahan-tumpahannya secara ‘legowo’ setelah segala yang masuk dari semua penjuru lingkungannya ia olah baik secara langsung atau tak langsung di kedalaman dunia bathinnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: