Jika Sudah Cinta, Mau Dikata Apa?

Oleh Ade Anita

 

“Dia manja.”

Aku berkata ragu dan menyentuh kelopak bunga yang berwarna pink di hadapanku.  Tapi tidak ada reaksi apapun yang aku terima dari ucapanku ini. Perlahan, aku mengalihkan pandanganku pada lelaki yang berdiri di sebelahku. Mata itu, itu tatapan mata yang sedang jatuh cinta. Berbinar-binar dan tiada berkedip dengan raut wajah sumringah penuh kebahagiaan.

“Iya benar bu, dia manja. Ah, mungkin lebih tepatnya, selalu minta diperhatikan.”

“Nah.. tuh.. gimana?”

Si pemilik bola mata jatuh cinta menampik keberatan pertama.

“Tidak mengapa. Karena itu artinya kita akan belajar untuk bersabar.”

Huff. Begini ini jika bertemu dengan orang yang sedang jatuh cinta. Apapun yang kita bicarakan, akan selalu ditangkap olehnya sebagai sebuah penerimaan. Bahkan meski itu sebenaarnya adalah sinyal-sinyal penolakan sekalipun, maka entah bagaimana caranya penolakan itu akan terbaca sebagai penerimaan yang tertunda.

“Lalu bagaimana jika dia tidak bisa beradaptasi? Lalu mulai menyusahkan dirimu? Atau aku?”

Si pemilik bola mata jatuh cinta menatapku dengan pandanga berkerjap.

“Itu sebabnya aku meminta keikhlasanmu. Mau kan kita berbagi waktu menjaganya?”

Huff lagi. Semula, aku selalu menyangka bahwa yang paling sulit itu adalah menghadapi orang yang sedang jatuh cinta. Serasa sedang berbicara dengan tembok saja. Karena yang ada di pikiran dan benaknya hanyalah sosok yang membuatnya jatuh cinta. TIada yang lain. Tapi, seiring dengan waktu, ternyata ada yang lebih sulit lagi. Yaitu, berhadapan dengan diri sendiri yang mabuk kebayang pada orang yang sdang jatuh cinta pada selain diri kita.

Jika cinta disambut dengan hangat, maka yang terjadi adalah kebahagiaan. Jika cinta bertepuk sebelah tangan, maka diharuskan untuk segera melupakan. Tapi bagaimana jika mabuk kepayang dan ternyata bertepuk sebelah tangan? Dan inilah yang aku alami saat ini. Aku benar-benar mabuk kepayang pada lelaki pemilik bola mata yang sedang jatuh cinta di sebelahku. Dan kini, dia sedang jatuh cinta pada yang lain.

Sudah hampir satu jam kami bicara dan selalu yang aku bicarakan sesungguhnya adalah keberatan-keberatanku unutk menerima sosok yang membuatnya jatuh cinta. Tapi, tampaknya tak satu pun ucapanku dia dengar. HIngga sekarang, aku harus segera mengubah diriku agar bisa belajar cepat mencintai apa yang dia cintai juga saat ini.

Bukankah ini hakekat cinta sejati yang selama ini aku pelajari?  Menerima dia apa adanya, lalu belajar untuk mencintai apa yang dia cintai. Intinya adalah ikhlas. Dan ikhlas biasanya disisipi dengan kata berbagi.

Duhai pemilik hati, kenapa berat ya untuk berkorban?

“Kalau aku lalai bagaimana?”

“Nanti aku akan ingatkan.”

Lelaki yang aku cintai setengah mati itu menjentik hidungku. Membuatku tersipu-sipu malu dan ingin segera mendaratkan kecupanku di pipinya.

‘Eh.. sst…. banyak orang. Jadi, setuju kan kalau aku beli bunga ini? Jangan bertingkah yang tidak-tidak, ditungguin tuh jawabannya sama penjual tanaman hias.”

“Ohh…”

Aku kepincut malu. Salah tingkah dan kembali menatap bunga dengan kelopak warna pink ini.

“Ya sudah deh, beli saja. Tapi bener ya, yang merawatnya kita berdua, bukan cuma aku saja.”

“Iya…”

Dia terkekeh dan merogoh dompet. Lalu, tanaman bunga berwarna pink ini pun menghuni rumah kami. Kami membelinya di Lembang sana. Salah satu daerah di Jawa Barat yang berhawa sejuk. Penjual tanaman hias sudah memberi peringatan bahwa bunga ini senang dengan udara yang sejuk, yang mungkin amat sukar didapat di Jakarta yang selalu terik.

“Tapi nggak papah sih, rajin saja disiram dan diperhatikan. Jangan sampai kena matahari langsung.”

Benar-benar bunga yang manja. Baru beberapa hari di bawa ke Jakarta, bunganya rontok dan daunnya layu. Benar juga, dia sulit beradaptasi, apalagi Jakarta sedang mengalami musim kemarau seperti sekarang. Terik matahari bukan main terasa hingga memantul dari permukaan tanah rasanya. Kami benar-benar sudah hampir pasrah, tapi… ternyata setelah dua bulan, bunga ini mulai mekar. SUbhanallha, dia hidup dan bertahan. Lalu memancarkan kecantikannya yang luar biasa. Hingga ketika pagi ini aku memotret bunga ini dalam hati aku berdoa, “semoga cinta yang aku miliki bersama suamiku, bisa sekuat keinginan bunga ini untuk terus bertahan, meski ujian yang datang amat berat sekalipun. Ammiin.”

Nih.. bagus kan bunganya. ***

Catatan penulis: 26 September 2011. Dia yang mekar di hari ulang tahunku. Terima kasih Allah untuk pelajaran tentang cinta yang Engkau berikan lewat perantara bunga ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: