[Cerpen] Mencuri Perahu

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

“Ama (bapak), benarkah aku anak ikan?”

“Siapa yang mengatai kau macam itu!” Meradang Ama Bandi mendengar pertanyaan Ripah, anak perempuan lima belas tahun itu. Buku-buku jemarinya mengeras. Sepertinya, hendak lekas saja dia meninju seseorang.

“Orang-orang di pasar membiarkan anak mereka mengejekku,” jelas Ripah. Mukanya pucat melihat Amanya dipenuhi amarah.

Bandi melompat dari kursi, sigap melepas sarung, dan menurunkan sebilah Taa (parang pendek) dari gantungannya.

“Tak usahlah Ama melayani mereka. Aku tak apa-apa.” Sergah Ripah pada tingkah ayahnya.

Suara datar Ripah membuat Bandi menghentikan gerakannya. Mukanya heran, amarahnya tiba-tiba surut. “Mengapa Ripah…?”

Bandi berjongkok, meletakkan bilah Taa itu di lantai, lalu menatap anak perempuannya itu, “Ama akan membelamu jika ada orang yang mengejekmu serupa itu.”

“Tak perlu. Tindakan Ama hanya akan membuat mereka kian menjadi-jadi. Makin malu aku dibuatnya nanti,” ujar Ripah sambil mengusap air matanya.

Bandi terunduk. Dihelanya napas perlahan.

“Ripah… kau tak perlu mendengar bualan mereka. Mana ada anak ikan itu. Manusia tentu beranak manusia.”

Ama Bandi mencoba mengajak anak perempuannya bicara baik-baik.

Ripah langsung berdiri. Mendelik pada ayahnya, lalu berjalan masuk dapur. Bandi bangkit dari jongkoknya, menggantung kembali Taa pada sangkutannya dan berjalan ke bibir jendela. Matanya menyapu pinggiran pantai Talaga Besar yang sedang dihadang angin barat.

Sudah sepekan dia tak melaut. Pun sama dengan kebanyakan nelayan lainnya. Banyak di antara mereka tak ada yang berani turun melaut jika musim angin barat. Tetapi, untuk alasan tertentu, sesekali ada juga yang memberanikan diri menyabung nyawa di lautan.

Tapi, Bandi tak mau ambil risiko seperti itu. Anaknya hanya Ripah dan belum menikah pula. Istrinya sudah lama wafat ketika melahirkan Ripah.

***

 

Ketika Ripah masih bayi, imannya nyaris tak kuat jika mendengar gunjing orang banyak perihal istrinya. Entah setan apa yang merasuk ke hati dan pikiran Salamah, istrinya itu, hingga dia berbuat nekat begitu.

Setelah persalinan, bahkan ari-ari bayi belum sempat diputuskan, Salamah tiba-tiba bangkit dari pembaringan dan melompat keluar rumah, berlari menuju pantai. Gerak cepat Salamah, tak disangka Bandi. Tak dapat dikejar istrinya itu sehingga terlambat baginya menghalau Salamah menceburkan diri ke laut. Tubuh salamah langsung hilang ditelan ombak besar. Kejadiannya juga persis saat musim angin barat.

Bandi menduga, istrinya itu jadi gila memikirkan ekonomi keluarga mereka. Musim angin barat yang panjang membuat kedua orang suami-istri itu resah. Bandi harus punya uang untuk persalinan Salamah, tapi istrinya itu justru mencegahnya melaut.

Maju tak mungkin, apalagi mundur. Mereka berdua benar-benar terjepit keadaan. Maka, itulah sebabnya barangkali Salamah berpikiran pendek. Bunuh diri dengan cara gila macam itu.

Semalaman semua lelaki di kampung nelayan itu mencari tubuh Salamah, termasuk Bandi. Si bayi dititipkan pada bidan desa yang membantu Salamah melahirkan. Hingga pagi menjelang, mereka tak menemukan tubuh Salamah. Bukan jasad perempuan itu yang mereka dapati di sekitar pantai, justru seekor ikan duyung (pesut) yang bertingkah aneh.

Ikan duyung itu berenang ke sana-kemari mengitari pantai. Sesekali menyembulkan separuh tubuhnya ke permukaan air, lalu berbunyi sesekali. Orang-orang yang sedang sibuk mencari jasad Salamah mencoba mengusirnya, tapi ikan duyung itu tak juga mau pergi. Entah dari mana datangnya ikan itu.

Bandi tidak mempersoalkan kehadiran ikan itu. Bukan hal itu yang membuat dia risau, melainkan gunjingan orang setelah tiga hari kemudian. Semua penduduk lelaki memang tak berhenti mencari selama sepekan, tapi mulut perempuan-perempuan kampung pun tak juga berhenti bergunjing.

Mereka mulai menanggapi kehadiran ikan duyung itu sebagai jelmaan Salamah. Lama kelamaan pergunjingan itu bertambah liar dan nama Bandi mulai pula disangkutpautkan.

“Pantas saja hidupnya susah, si Bandi itu mengawini ikan duyung rupanya.” Demikian gunjing seorang perempuan.

“Eh, ikan duyung kan bawa sial pada nelayan. Ikan itu harus diusir jika mendekati kapal. Si Bandi itu malah mengawininya ya?” sambar perempuan lainnya. Lalu, ramai di antara mereka membincangkan satu masalah itu saja.

Mereka bahkan mulai menyebut-nyebut bayi Salamah yang bahkan belum diberi nama itu. Mereka mulai melarang siapa saja datang menjenguk bayi Salamah. Takut kena sial, kata mereka. Jika bertemu Bandi sedang menggendong bayinya di depan rumah, mereka buru-buru berlalu tanpa menyapa. Bahkan, menoleh pun tidak.

Keadaan inilah yang selalu dikhawatirkan Bandi. Sejak duhulu, dia sudah menduga akan datang saat-saat seperti ini. Ripah akhirnya harus menghadapi situasi dan sikap kolot masyarakat di sekitar mereka. Dahulu Bandi pun masih suka percaya takhayul macam itu, tapi semenjak dia bisa membaca lewat program paket B, perlahan-lahan banyak takhayul yang tak masuk akal harus dia buangnya.

Tetapi, Ripah, apalah daya gadis remaja seusia dia menghadapi cemooh dan gunjingan orang sekampung. Kejadian di pasar barusan itu membuat Bandi makin khawatir.

***

 

“Ripah!” Panggil Bandi dari ruang tamu.

Tak ada sahutan dari kamar putrinya itu. Waktu Maghrib baru saja berlalu. Bandi menuju dapur. Perutnya minta diisi. Aroma harum kuah santan dari arah dapur begitu menggugah seleranya. Tapi, Ripah tak ada di dapur. Ah, barangkali anak itu sedang mengambil air, mengisi bak di belakang rumah.

Bandi memutuskan makan lebih dulu. Jika dibiarkan dingin, sayur kuah santan itu tak akan lezat lagi.

Baru saja separuh piringnya tandas, Bandi terkejut bukan main. Darahnya mengalir cepat. Dia melompat dari kursi, meninggalkan makanannya begitu saja. Tak menjejak anak tangga lagi, Bandi melompat seraya berteriak pada adiknya yang kebetulan berumah persis di sebelah rumahnya.

“Bakri…keluar kau! Keluar Bakri…!!”

Bakri tampak menjulurkan kepalanya dari jendela. “Ada apa?! Mengapa berteriak malam-malam begini?”

“Turun kau…! Bantu aku cari kemenakanmu. Cari Ripah! Dayungku hilang. Perahuku dicuri!” Balas Bandi berteriak.

Wajah Bakri pun pucat. Tanpa menghiraukan istrinya, Bakri ikut melompat turun dari rumahnya dan mengejar Bandi yang sudah lebih dulu berlari ke arah pantai. Entah kesulitan apa yang sekarang dihadapi kemenakannya itu.

Orang-orang yang mendengar teriakan Bandi pun ikut keluar rumah. Mereka menghadang Bakri dan bertanya, “Ada apa dengan kalian?”

“Dayung Bandi hilang!” teriak Bakri pendek, sambil berlari mengejar kakaknya.

Orang-orang lelaki itu pun ikut pucat. Mereka tak membuang waktu, ikut berlari menyusul Bakri dan Bandi.

Hanya kaum lelaki di kampung itu yang menaruh simpati pada keluarga Bandi. Mereka mengabaikan permintaan istri mereka untuk tidak bergaul dengan Bandi.

Setibanya di pantai, Bandi langsung menuju tempat tambatan perahu. Bakri bersama dua lelaki lainnya mengumpulkan pelapah kelapa kering, memilinnya hingga erat, melipat ujungnya menjadi dua. Mereka membuat obor. Dibaginya semua obor itu pada setiap orang lelaki yang datang membantu. Setelah dinyalakan, mulailah mereka menyusuri pantai sambil meneriakkan nama Ripah berulang-ulang.

Suara mereka beradu dengan kerasnya hempasan ombak.

Bandi mendapati Bakri. “Perahuku tak ada ditambatannya,” kata Bandi gugup. Wajahnya berkeringat dan matanya menjadi liar. “Ini bagaimana?” Tanyanya panik.

“Lepaskan beberapa perahu dan siapkan petromaks. Kita harus temukan Ripah malam ini juga!” perintah Bakri.

Bandi bergegas melaksanakan permintaan adiknya itu. Dia sukar berpikir saat ini. Untung saja adiknya bisa lebih tenang darinya.

Saat sedang makan tadi, jantung Bandi hampir berhenti saat melihat dayungnya tak ada digantungannya. Jika nelayan tak melaut, dayung digantungkan di tempatnya. Apalagi sekarang ini musim angin barat. Pada musim macam ini, perahu akan ditambatkan agak jauh dari bibir pantai sebab kadangkala jika air naik, perahu yang tak diikat pada tambatan akan diseret air ke tengah laut. Jika diikat pun dan air mencapainya, air akan membenturkan satu perahu dengan lainnya.

Saat Bandi menyadari dayungnya sudah tak ada ditempatnya, tak ada sangkaan lain jika Ripahlah yang telah mengambilnya. Dayung harus satu dengan perahunya. Jika dayung disangkutan hilang, itulah pertanda bahwa perahu telah hilang dicuri.

Ripah seorang diri mendorong perahu dan menuju laut di saat ombak sedang tinggi-tingginya saat ini. Gadis remaja itu tak tahu bahaya apa yang sedang dihalaunya.

Orang-orang sekampung sudah berkumpul di tepi pantai. Mereka masing-masing membawa lampu penerang sehingga pantai itu kini benderang dibuatnya. Sebagian besar wajah perempuan-perempuan itu menyimpan cemas melihat suami dan anak lelaki dewasa mereka bahu-membahu membantu Bandi dan Bakri menyusul Ripah ke tengah laut.

Ombak sesekali menghempas keras pinggiran pantai. Membuat mereka sedikit kewalahan melarungkan perahu. Mati-matian mereka menahan perahu agar tetap mengapung dan tak kemasukan air laut yang datang menghantam silih berganti.

Mereka diberangkatkan dalam kelompok-kelompok kecil, setiap tiga perahu. Setiap perahu berisi dua orang. Bandi sudah mendahului mereka dan kini sudah agak ke tengah. Lalu, satu kelompok lagi dilarungkan. Bakri masuk di kelompok ketiga. Kemudian, menyusul kelompok keempat dan kelima. Satu perahu dari kelompok keempat nyaris tak bisa menyusul setelah terbalik dihantam ombak dari arah samping.

Lima belas lampu kini berkelap-kelip di tengah laut. Suara-suara panggilan mereka berlomba hendak mengalahkan hebatnya suara debur ombak. Setibanya mereka di titik pertemuan, masing-masing perahu kemudian menyebar dalam radius yang perlahan-lahan makin luas. Lampu-lampu mereka kini bagai kunang-kunang yang menyebar di atas air.

Bakri telah memberi tahu, jika bertemu perahu Ripah, segeralah memberi isyarat lampu pada lainnya. Bukan saja besarnya ombak yang mereka khawatirkan, melainkan lusinan karang di bagian utara pulau dan tentunya Ripah yang tidak berpengalaman sama sekali.

Hampir dua jam lebih semua perahu itu menyebar saat sebuah isyarat terlihat dari kejauhan. Tampaknya sebuah perahu baru saja menemukan sesuatu. Semoga bukan jasad Ripah atau pecahan perahunya.

Begitu melihat isyarat itu, semua perahu bergerak perlahan saling mendekat. Bandi ada dijarak terdekat dari perahu itu dan dia tiba lebih dulu. Hampir pecah tangis lelaki itu tatkala melihat anak gadisnya dalam keadaan selamat. Perahunya nyaris penuh dengan air dan dayungnya tidak ada.

Salah seorang telah mengikatkan perahu Ripah ke perahu lainnya dan airnya sedang dikuras.

“Ripah…! Ada apa denganmu, Nak? Mengapa berbuat seperti ini?!” Teriak Bandi berusaha melawan debur ombak saat menanyai Ripah.

Ripah hanya sekilas melihat ayahnya, lalu kembali matanya menyusuri permukaan air. Sepertinya gadis itu tak hirau lagi dengan sekelilingnya.

“Ikan besar itu mengambil dayung Ama,” kata Ripah pendek.

“Ikan apa? Mengapa kau melakukan ini, hah?” Tanya Bandi lagi.

“Aku hendak mencari Ina (ibu). Inaku tadi muncul di sini, di dekat perahu, lalu dayung Ama disambarnya, dibawanya pergi.”

“Apa yang kau bicarakan ini?” Bandi jadi hilang kesabaran. Tubuh Ripah diguncangkan agar sadar.

Ripah diam lagi. Matanya terus berputar awas berusaha menembus kegelapan malam di laut itu. Sekarang, semua perahu sudah saling merapat. Bakri melompat ke perahu di mana Bandi dan Ripah berada. Tangannya lalu meraih anak itu.

“Ripah, apa yang kau lakukan?” Tanyanya dengan wajah lembut.

Ripah memandangi wajah pamannya itu. Air matanya tiba-tiba jatuh.

Dalam tangisnya, Ripah masih berusaha memandang ke arah laut. “Ripah hendak mencari Ina. Sebab orang-orang di pasar bilang, Inaku adalah ikan duyung dan aku anak ikan yang bawa sial.”

Bakri tertunduk. Bandi justru jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya. Lelaki itu menangis untuk pertama kalinya. Bahkan, dia tak melakukan itu saat istrinya hilang 15 tahun silam.

“Mengapa kau dengarkan kata-kata orang. Paman sudah berulang kali bilang, dengarkan Amamu saja. Amamu lebih paham tentang ini semua daripada orang-orang itu.” Bakri sedang mencoba membujuk Ripah.

Ripah menggeleng kuat-kuat. “Tidak. Orang-orang itulah yang benar. Tadi Ina menghampiriku, berenang di sisi perahuku. Ina mendorong perahuku ke tempat ini, tapi lalu menyambar dayung dan membawanya pergi.”

“Tidak, Ripah. Inamu bukan ikan. Tak ada ikan beranak manusia.”

Ripah tiba-tiba menolak tubuh pamannya. Mimiknya tak suka pada ucapan pamannya itu. Ripah lalu bergerak ke bibir perahu. Sambil memegangi bibir perahu, matanya kini nyalang mengawasi permukaan air.

Bakri menghela napas dengan berat. Dia bangkit dan memutar tangannya di udara. Itu isyarat untuk kembali ke pantai. Malam ini sudah cukup berat bagi semuanya. Masalah Ripah nanti mereka selesaikan di darat saja.

Rombongan perahu itu pun pelan-pelan memisah dan satu per satu menuju pantai. Ripah kini bersama ayahnya di perahu milik mereka. Ayahnya mendapat pinjaman dayung dan perahunya diikat di belakang perahu Bakri.

Sekitar 200 meter dari pantai, entah dari mana datangnya, seekor ikan duyung tiba-tiba muncul berenang di sisi kanan perahu Bandi. Sesekali ikan itu menyelam lalu muncul lagi di sisi satunya. Ripah yang menyadari itu lebih dulu, dan tanpa tercegah lagi, gadis itu membuang dirinya ke laut, seolah hendak menyusul ikan itu.

Bandi yang sedikit lengah ikut melompat ke air. Namun, gelombang yang datang dari belakang perahu menabrak tubuhnya, menggulingkannya, hingga dia harus segera meraih cadik perahu agar bisa mengapung. Tapi, tubuh Ripah tak dilihatnya. Bandi berteriak pada Bakri, “Ripah terjun ke laut!” Serunya.

Bandi menyelam lagi. Bakri menyusulnya melompat dari perahu. Kedua kakak-beradik itu berulang-ulang menyelam mencari tubuh Ripah. Dua orang di perahu Bakri ikut pula melompat berusaha membantu Bandi dan Bakri. Beberapa menit mereka mencari Ripah sambil berjuang melawan hantaman ombak, akhirnya Bakri menyerah.

Bakri menarik tubuh Bandi, berusaha mengapung di atas ombak yang mendorong keduanya, dan dua orang lainnya menuju pantai. Bandi kini pasrah. Dia biarkan tubuhnya diseret Bakri menuju pantai. Dia atas pasir, kemudian lelaki itu menangis.

***

 

Selama empat hari selanjutnya, orang-orang melakukan pencarian atas Ripah. Tapi, sama seperti ibunya dahulu, Ripah tak pernah ditemukan lagi.

Semenjak hari itu, Bandi kerap menghabiskan sorenya di tepi pantai, duduk di atas perahunya yang ditambat. Matanya terus-menerus menyapu permukaan air. Seperti berusaha mencari jejak kedua buah hatinya itu. Jika adiknya atau orang-orang mengajaknya pulang, Bandi hanya menyahuti mereka tanpa ekspresi.

“Aku sedang menjaga perahu agar tidak dicuri para ikan,” ujarnya pendek. ***

(Republika, 1 Mei 2011)

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: