Sketsa: Putu Rudana Perjalanan Memuliakan Ketulusan

Oleh Iwan Piliang (Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com)

 

Pulang menonton pertandingan sepak bola Timnas dengan TKI bersama Bung Anas Urbaningrum, di Bukit Jalil, Kualalumpur, Malaysia, 27 Desember 2010, kami transit di Batam. Di bis saya duduk di sebelah sosok muda asal Bali. Saya pernah membaca dirinya tampil di banyak majalah seperti Tatler. Di Autocar ia pernah “memparadekan” aneka Mercedes Benz miliknya, di halaman museum seni yang didirikan ayahnya. Di antara deretan mobil mahal itu, sosok 37 tahun ini sengaja meletakkan sebuah lukisan Srihadi Soedarsono, di pelataran Museum Rudana dan Rudana Fine Art Gallery. Dialah Putu Supadma Rudana, putera pertama Nyoman Rudana, pendiri usaha seni adi karya ber-intangible asset, nyata adanya.

***

Putu Supadma Rudana (foto: Narliswandi Piliang)

SIANG di Batam, Kepulauan Riau, Putu  melihat ke luar jendela bis. Tampak banyak bangunan, terutama ruko baru. Arsitektur bangunan seakan tanpa sentuhan khas daerah, apalagi berlandaskan seni budaya lokal. Termasuk dominan alpa disesuaikan bagi daerah tropis.

“Lihat atap bangunan itu, biru?” tanya Putu.

Bangunannya masif beton bertingkat rapat.

Putu  geleng-geleng.

Saya mencoba menjabarkan pikiran membuncah di benak Putu. Dari sudut subjektif saya, bangunan-bangunan yang dikomentari Putu, berdiri hanya sesuai selera pemilik. Urusan taste, ya, tergantung pemilik uang. Di tengah kepeng petenteng, pemahaman akan pentingnya sentuhan seni, perlu tidaknya menonjolkan budaya lokal, bisa jadi tidak trendy.

Sebab sudut pandang kehebatan, dapat dilihat dari suatu fisik tampak kokoh, besar, material asal mahal.

Saya katakan kepada Putu: Sulitlah mengharapkan daerah lain seperti Bali.

Kami lalu tertawa, lalu terlibat dalam dialog singkat. Untuk Batam berakar budaya Melayu, sejatinya memiliki arsitektur rumah panggung.

“Sepantasnya akar seni budaya mewarnai setiap daerah. Bukankah akar seni budaya kita adiluhung sejak berabad lalu, jauh dari sebelum Indonesia merdeka,” tutur Putu.

Saya amini kalimatnya.

Pembicaraan tadi bisa jadi belum tentu diterima banyak pihak, toh relatif ihwal selera. Bisa benar menurut pihak tertentu, dapat salah bagi pihak lain. Sebelum berpisah dengannya, Putu berkata, “Obrolan kita belum tuntas, ayuk kapan ada waktu kita ke Bali bersama, kita ngobrol lagi?”

BANDARA Soekarno-Hatta terminal 3, 7 Januari 2011. Pagi.

Sepuluh menit lagi menjelang pukul 7.

Mengenakan celana jeans, kemeja bergaris-garis biru, Putu Supadma Rudana menyapa saya, menjabat tangan erat. Senyumnya lebar. Ia tampak hanya membawa badan dengan tas tangan disampirkan ke bahu. “Ayuk kita ke dalam terminal, Ini  bandara baru, pengunjung umum boleh masuk, biar tak punya tiket penerbangan,” ujarnya.

Sebagai orang tinggal di Jakarta, kuper sekali saya. Baru tahu bahwa terminal bandara berarsitektur post-modern, berkontruksi baja, berbahan metal dominan, beratap melengkung, berpilar bulat-bulat, itu dapat dikunjungi publik, tanpa harus mara ke mana-mana.

Dengan kata lain, jika Anda sekadar ingin mengajak anak-anak berwisata bandara, terminal 3 bisa menjadi pilihan. Lantai satu dan dua sudah seperti mall. Makanan, cafe di kiri kanan melimpah. Anda tinggal sebut, mulai dari Starbucks, hingga Bakmie GM ada.

Sembari menunggu take off, kami kembali berbincang. Obrolan kembali ke urusan intangible asset; nilai-nilai tinggi seharusnya menjadi patron pembangunan.

CAFE dan Restoran Kopi Bali di bilangan By Pass, Bali. Di luar dugaan saya, Putu mengundang koleganya sosok Warih Wisatsana, sastrawan dan sosok muda Ni Made Purnamasari. Keduanya adalah editor buku Putu  berjudul Menuju Visi Sempurna, sub judul; Seni Budaya Sebagai Jiwa Bangsa.

Berempat siang itu kami makan siang dan berbincang hangat ihwal beragam hal bermuara ke penulisan, seni dan budaya. Suasana kian hangat dengan kehadiran Alvin Palar, desainer grafis.

Siang itu barulah lengkap pemahaman saya akan bisnis Putu. Sebagai putera tertua Nyoman Rudana, sosok lulusan MBA dari Webster University, AS ini dipercaya mengelola kelompok usaha keluarga melanjutkan segala bisnis dirintis ayahnya. Ada museum, ada galeri seni adikarya, lima jaringan pom bensin di Bali, jaringan resort hotel kelompok Waka, dan ada ritel.

“Namun kini, manajemen sudah saya serahkan sehari-harinya kepada tim profesional, umumnya mereka muda-muda, “ ujar Putu. Ia mengaku saat ini ringan melangkahkan kaki karena telah memberikan kepercayaan penuh ke tim manajemen.

“Sehingga saya dapat berkonsentrasi berupaya mewujudkan tag line: Bali the Heart of Asia and the Heart of the World.” Artinya Bali dicintai. Menurut Putu, kalau sudah bilang cinta, Bali mau di bom kek, diapain kek, orang akan tetap akan datang.

“Indonesia sudah memiliki kekuatan untuk dicintai di seluruh dunia, karena akar budaya  kuat.”

“Akar budaya kuat itu sudah ada berabad-abad, jauh sebelum Indonesia merdeka.”

“Tugas kita sesungguhnya, kembali mengangkat dan mensosialisasikan kehebatan kekuatan mendasar yang telah lama eksis itu.”

Tidak lama kemudian, Putu segera mengajak menuju markas bisnis seni tingginya di Ubud. Semula saya membayangkan akan menaiki mobil Mercedes Benz paling gress, yang fotonya  pernah dipajang di majalah. Ternyata dugaan saya keliru. Ia menyetir sendiri SUV Ford Escape.

“Mobil-mobil mahal itu sudah saya jual. Makanya di majalah, terakhir saya pajang, tetapi sengaja saya sisipkan lukisan Pak Srihadi Soedarsono.”

“Saya ingin menunjukkan bahwa mobil-mobil mahal itu bisa dibeli, tetapi sesebuah lukisan belum tentu dapat kita miliki.”

Tak terasa jalan menuju Ubud menjadi singkat. Sebuah Candi Bentar telah menyambut kami. Masuk ke halaman, di sebuah pendopo dua kali lapangan basket tampak lelaki tua. Putu menyapanya Pak Muka. Ia menjelaskan hal ihwal bangunan Museum, mulai dari fisik bangunan, yang arahnya dibuat keseluruhan  mengagungkan karya, mengagungkan menuju ke kebesaran Sang Pencipta.

“Seni untuk kemulian, seni agung bagi Sang Pencipta,” tutur Pak Muka.

Di bangunan-bangunan kecil  di luar bangunan utama Museum, di dalam komplek itu juga dipajang beragam lukisan. Anda tinggal sebut nama pelukis tersohor Indonesia, hampir semua karya masterpiece-nya ada.

Di salah satu bangunan, sebagian ruangan dijadikan tempat kerja. Kala itu saya melihat tim yang dikelola Putu sedang menyiapkan dummy buku Bali Inspires, berisi lukisan pelukis Bali tersohor, termasuk karya Lempad, seniman lukis Bali yang terkenal dengan skets yang rinci dengan guratan anatomi kuat khas Bali.

Tak lama kemudian muncul Nyoman Rudana. Sosok mantan anggota Dewan Pertimbangan Daerah (DPD) 2005-2009 itu datang bersahaja. Ia mengenakan baju putih dan mengajak naik ke bangunan utama museum. Di pintu masuk Museum Rudana mengalungkan sal putih yang dibordir logo museum. Saya merasa mendapatkan kehormatan besar.

Sebelum bertemu Nyoman Rudana, ketika dalam perjalanan ke Ubud, Linda Djalil, mantan wartawan Tempo menitipkan pesan di Facebook saya. “Salam untuk Pak Rudana. Saya kagum akan sosok mantan supir taksi gigih sukses luar biasa itu.”

Rupanya saya telah diterima oleh keluarga hebat. Di dalam museum, seakan saling silang;  Putu, Pak Muka, juga Rudana menjelaskan segala macam koleksinya. Saya sempat tertegun akan sebuah jendela kaca yang didesain bak pigura besar. Begitu mata melihat ke luar tampak hamparan sawah luas, pemandangan alam nyata tersaji bak lukisan.

Ada dua pintu kaca seperti itu.

Satu lagi di bagian kanan menghadap ke hamparan rumput di mana terlihat deretan patung gajah yang dibuat dengan lekukan kulit seakan bak gajah asli.

Dari semua koleksi yang hebat-hebat, Putu memperlihatkan lukisan bertajuk joged Karya seniman muda Bali, Ida Bagus Indra. Nyoman Rudana, menimpali, “Ida Bagus Indra berpeluang karyanya menjadi ‘Picasso’ Indonesia ke depan.”

Waktu seakan kurang menyimak mancaragam lukisan. Menjelang gelap malam datang, keluarga ini masih sempat mengajak keliling di bagian belakang Museum. Hari seakan belum juga berhenti. Dan jamuan untuk saya belum juga berakhir. Makan malam bersama menjadi agenda berikutnya.

Nyoman Rudana bersama isteri memilihkan sebuah restoran bertajuk Leka-Leke, berarti berliku. Artinya dicapai melalui jalan berliku. Dan di gelap malam di jalan berliku itu, saya menangkap kesan mendalam bagaimana Ubud kini memang telah menjadi desa wisata; pemukiman penduduk sebelah-menyebelah dengan restoran dengan arsitektur Bali, sebelah menyebelah dengan hotel-hotel kecil, satu dua pasang bule berjalan di kegelapan, tanpa setetes kuatir berjalan-jalan.

Pak Muka yang dituakan keluarga ini mengatakan, beginilah Bali. Saya ulang kalimatnya bahwa akar budaya memberikan keabadian akan keberadaan suku bangsa. Tampaknya paduan pengalaman, supervisi kebajikan melalui sosok yang dituakan seperti Pak Muka, telah mengasuh dan mengasah budi Putu Rudana, yang kini menjadi sosok muda yang boleh dibilang cemerlang.

Maka ketika saya tahu bahwa Putu menjabat Ketua Departemen Kebudayan dan Pariwisata di DPP Partai Demokrat kini, saya katakan saya mendukungnya. Saya yakinkan Putu bahwa anak-anak muda yang “wangi-wangi” kini harus masuk partai politik. Bila tidak politik hanya akan diisi oleh idiom busuk yang selama ini tersosialisasikan dan berwujud nyata.

“Iya kita coba mengisi politik dengan akar seni dan budaya, siapa tahu memang dapat mengubah keadaan menjadi Indonesia hebat, toh sejarah sudah membuktikan akar seni budaya kita memang tinggi,” ujar Putu.

Ketika sarapan pagi pada 8 Januari 2011 di Hotel Waka Namya, milik kelompok usaha Putu dan keluarga besarnya, saya mengkonfirmasi kepada Alvin Palar.

Apakah benar Pak Nyoman Rudana dulu supir taksi?

“Ayah saya dulu ikut mengerjakan interior hotel Hyyatt. Kala itu kalau ayah hendak ke luar, sudah menunggu di pagar hotel Pak Rudana dengan taksinya,” ujar Alvin. Uniknya, Alvin putera Runi Palar, desainer perhiasan, kini bekerja pula untuk Putu, sebuah hubungan sejarah panjang tampaknya.

“Kami menganggap semuanya keluarga. Termasuk supir dan pembantu adalah keluarga,” ujar Putu.

Cerita seakan belum akan habis menulis ihwal keluarga besarnya.

Keesokan hari setelah saya di Jakarta, saya meng-add Facebook sang ayah, Nyoman Rudana. Di luar dugaan. Kesan pesan yang saya tuliskan terhadap Musuem Rudana telah dijadikan status olehnya. Hingga saya mengakhiri tulisan ini kalimat saya masih menjadi statusnya di Facebook: Di Museum Rudana intangible asset, diberi wadah mulia dan dimuliakan. Sesuatu yang intangible memiliki nilai tak terhingga dan manca-ragam makna, menunjukkan kebesaran manusia, kebesaran Sang Pencipta.

Beruntung Putu Supadma Rudana memiliki akar budaya, memiliki tauladan orang tua menempatkan nilai, value, di atas segala yang  tertakar dan terukur di awal. Jika kini banyak anak-anak muda seperti Putu tampil ke gelanggang ranah sosial kemasyarakatan, bisa jadi Indonesia Unggul yang kita cita-citakan bukan lagi utopi basi. ***

(ditulis pada 14 Januari 2011)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: