Sketsa: Majikan Sumiati Bebas dan Koin Gugat Perdata

Oleh Iwan Piliang *)

 

Dugaan saya bahwa majikan Sumiati —TKW kita disiksa majikan dengan cara-cara biadab, bibir digunting— akan bebas di pengadilan pidana Arab Saudi, bukan isapan jempol. Bak gempa menghantam asa, begitulah membaca berita bebas murni 3 tahun penjara untuk si majikan “drakula”. Tenggang hukuman 3 tahun saja terasa tak menusiawi, apatah pula bebas-blas. Sejak awal Januari 2011, saya membuat link di Facebook, koin menggugat perdata majikan Sumiati, sebagai solusi. Sayangnya, tiada orang berduit negeri ini berempati; bukan pula anggota DPR dan DPD di baris depan; pemerintah berotoritas berbuat, justeru bocah SD, di sebuah desa di Pati, Jawa Tengah, berkeliling kampung mengumpulkan koin bahkan di tengah hujan angin. Sebuah cerminan pro kemanusiaan ngeri negeri. Bandingkan dengan  biaya ulang tahun anak artis dan pengusaha di Hotel Sultan, mencapai Rp 1 miliar, angkanya tak sampai sejumlah itu dapat membela Sumiati, perempuan tumpah darah Indonesia. Uang membela Sumiati tak ada apa-apanya dibanding 30 tas Hermes di rentang harga Rp 600 juta hingga Rp 1,5 miliar, yg dimiliki oleh sosok yang mengaku pikun ke KPK. Mereka yang saya sebut terakhir boleh berkilah, mereka bukan negara. Inilah Ibu Pertiwi hari ini!

***

SENIN, 4 April 2011. Jarum jam menunjukkan pukul 00.08. Saya baru saja menggulung sarung usai menunaikan shalat Isya. Saya anak dan isteri sudah nyenyak sekali. Sebelum melangkah ke peraduan saya membuka detik.com di internet. Ada berita berjudul: Pengadilan Madinah Akhirnya Bebaskan Majikan Sumiati.

Sontak jantung saya berdegup. Jantung seakan ingin melawan kendati baru merasakan tumbukan benda tumpul dan keras.

Kawan-kawan di Facebook, tiga bulan ini tentulah menemukan fakta. Foto status saya tidak berganti dari Koin Menggugat Perdata Majikan Sumiati, sebuah link, bagi publik Facebook, Indonesia, melakukan gerakan mengumpulkan koin bagi menggugat perdata sang majikan.

Mengapa perdata?

“Hanya melalui jalur perdata kita bisa menuntut keadilan. Bukti kejahatan ada. Jadi tinggal bayar lawyer yang kompeten,“ ujar Amin Appa, staf KBRI di Abu Dhabi.

Amin beristerikan wanita Bosnia. Ia fasih berbahasa Arab, pernah saya temui ketika memulangkan sosok Ziad Salim Zimah, yang tak dapat balik ke Indonesia selama 8 tahun di Abu Dhabi, awal 2010. Di kasus Ziad  itu, rentang 8 tahun negara juga seakan terhadang karena dugaan kasus pidana pada diri Ziad. Dobrakan secara independen, membuahkan cairnya permasalahan. Ziad berhasil  pulang bersua dengan ibundanya, menangis darah dalam arti riil, rindu menahun pada anaknya.

Maka atas obrolan chatting di online awal 2011 itu bersama Amin, saya pun sangat yakin bahwa peluang mencari keadilan bagi Sumiati satu-satunya melalui jalur yang disebutkan Amin: pengadilan perdata!

Lantas kendalanya?

Masalah klasik, tidak tersedianya anggaran membayar  pengacara.

Lalu apa akal? Jika ranah negara bekerja berdasar pagu anggaran, menanti upaya itu bisa saja bak menunggu godot. Maka ketika memiliki porto folio turut serta memotivasi publik mengumpulkan koin untuk Prita Mulyasari, sosok ibu menyusui yang dipenjara karena jeretan UU ITE  pasal 27 ayat 3, lalu saya pun membuat link di Facebook itu: Koin Menggugat Perdata (Pengadilan Jinaiyyah) Majikan Sumiati

Wajah Sumiati (foto: AP/news.asiantown.net)

“Hukuman tiga tahun untuk sang majikan rasa keadilan terasa diinjak-injak,” ujar Irwan Suhanto, dari lembaga riset Etos Indonesia.

“Apalagi kini dibebaskan sama sekali. Hal ini menghina akal sehat hukum seakan sudah mati.”

Kalimat Irwan itu bagi saya masih terasa santun diucapkan. Saya lebih cenderung memakai  lema biadab, kendati subjektif saya pribadi.

Di menjelang fajar menyingsing, mata saya enggan terlelap. Bagi kebanyakan warga Indonesia yang sedang tidur neyenyak, seperti tiga anak lelaki saya yang sedang tidur, agaknya Sumiati tak ada hubungan apa-apa dengan kehidupan mereka.

Entoh, Pancasila kini sudah banyak pula anak SD yang tidak hafal lagi, apalagi untuk sosok yang di atasnya, tahu mengucapkan tak pandai lagi mewujudkan isinya. Sebaliknya saya sangat bangga kepada anak SD di Pati, Jawa Tengah, yang tergugah mengumpulkan koin untuk mengugat perdata majikan Sumiati. Kepada mereka tampaknya bangsa ini bisa berharap.

SATU bulan yang lalu, di Bakoel Coffie, di bilangan Cikini Jakarta Pusat. Saya berjanji untuk bertemu dengan seorang kawan di sana. Tak terduga, tepat menghadap jendela kaca  menatap ke arah luar duduk sendiri dengan laptop suami Prita Mulyasari, yang kini sudah bebas itu.

Saya bertanya, kegiatan sosial apa saja yang dilakukan dengan uang dukungan karena kasus isterinya tempo hari. Seingat saya koin lebih Rp 600 juta, dana cash lebih dari Rp 200 juta. Ia jawab, memberi bantuan langsung kepada gempa Jogja, antara lain. Lalu saya pun menyampaikan bahwa saya sedang mengumpukan koin untuk menggugat perdata majikan Sumiati, barangkali berminat membantu dari dana itu.

Sang suami Prita, menjawab oh ya, dan hingga hari ini tidak ada kabar berita. Saya memang berharap bahwa di dalam hidup kita memang harus saling membantu. Namun saya juga seakan diingatkan, adalah hak seseorang menggunakan uangnya untuk apapun, termasuk membeli tas Hermes berpuluh-puluh, pesta mewah ulang tahun anak, dan seterusnya.

Untuk melengkapi Sketsa kali ini, saya sajikan kembali Opini yang saya tulis pada 13 Januari 2011 lalu:Opini: Onde Mandeh Majikan Sumiati 3 Tahun! ***

(ditulis 04 April 2011)

*) Narliswandi (Iwan) Piliang, blogger literair, mencalonkan diri  Gubernur DKI 2012-2017, Calon Independen. MODAL: rangkaian Sketsa DKI dalam 5 tahun terakhir, bertanya ke publik, masih sangat sedikit berbuat bagi kemanusiaan, asset utama kejernihan hati; semoga  42% warga DKI yang tidak memilih pada 2007, tergugah mendukung, bagi perbaikan ibukota nyata.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: