Sketsa ke-2 Aries: Sia-Sianya Nyawa Aries?!

Oleh Iwan Piliang (Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com)

 

Tepat 4 Januari 2010, saya merilis Sketsa soal Aries Jasuwito. Sosok 25 tahun  itu terpisah dari keluarganya di Rafles City Mall, Singapura, penghujung Oktober 2009; 23 hari kemudian polisi mengabarkan Aries tewas. Lebam di punggung, indikasi pukulan benda tumpul. Tidak ada rahang dan gigi rusak, kepala utuh, menepis sangkaan Aries bunuh diri dari ketinggian. Maka, ketika saya menulis Sketsa ini, baru ngeh, saya bertemu sang ayah, Jasuwito di Bali, 4 Januari 2011, tepat setahun, di saat petang kala hendak menuju bandara pulang. Pengadilan koronernya di Singapura, 5 hari berturut di September 2010, tidak satupun media Indonesia meliput, termasuk saya yang memberi perhatian ke kasus ini.

 ***

MENJELANG petang di saat pertokoan mulai sepi pengunjung, Denpasar, Bali, 4 Januari 2011. Di sebuah ruko menyediakan peralatan kain pintu, gorden, tampak duduk sosok pria. Rambut depannya mulai dikikis umur. Tekanan waktu, membuat lekukan kulit tebal di bagian bawah matanya. Kenyataan fisik demikian, menambah sendu wajah Jasuwito, ayah almarhum  Aries. Puteranya, Aries terindikasi kuat dibunuh di Singapura, Oktober 2009 lalu.

Sosok anak muda di sampingnya, Joko, kakak Aries, tampak tenang. Ia pertama buka suara setelah saya menyalami keluarga ini. Mereka menuturkan kemuakannya terhadap polisi Singapura, pengadilan Singapura, yang menggampangkan segala urusan berkaitan dengan nyawa orang.

Di dalam hati saya bertanya, bukankah bangsa ini juga demikian adanya?

Padahal peningkatan peradaban, sejatinya, bagaimana memuliakan insan.

Dari balik kaca tokonya, Joko Jasuwito memperagakan bagaimana mereka hanya melihat jasad Aries dari balik kaca.

“Seperti ini nih,” tangan Joko memperagakan ke saya bak rekonstruksi di kejadian perkara.

Saya dari balik kaca di balik tirai pajangan dagangan keluarga ini mencoba membayangkan.

“Saya ngotot untuk dapat melihat jasad anak saya.”

“Apalagi saya baru tahu kalau otopsi sudah dilakukan, tanpa kami keluarga memberikan persetujuan,” ujar Jasuwito.

Ayah almarhum Aries baru dapat melihat jasad anaknya ketika sudah dirapikan, sebelum  dikremasi.

“Itu pun ketika saya masuk ruangan, setelah menunggu hampir dua jam, di dalam sudah berdiri dua orang body guard?” kata Jasuwito pula, “mungkin dikira saya akan mengamuk sehingga perlu body gurd!”

Jasuwito, ayah Aries,. 4 Januari 2011 (foto: Narliswandi Piliang)

Bagi saya sosok pendek, kurus, sudah lebih setengah baya, berwajah sendu, tentulah tak perlu ditakuti. Tiada guna dua tukang pukul berbadan besar. Kendati demikian begitulah yang dihadapi Jasuwito hanya untuk sekadar tahu keadaan jasad anaknya.

“Saya lihat di dada anak saya sampai atas kemaluannya bekas jahitan. Segenap badan di dada sesak seperti disumpel benda tak jelas.”

Panjang kata melanjutkan Sketsa ini, karena saya menulis di media sosial, blog, Facebook, milis —lebih banyak terlewatkan oleh pembaca umum— maka saya akan melanjutkan Sketsa ketiga soal Aries ini esok.

Agar sekadar mengikuti kasus ini, Anda dapat membaca Sketsa pertamanya, sebagaimana di bawah ini:

MEDIO JUNI 2009. Begitu keluar dari stasiun kereta api bawah tanah di area Stasiun MRT Rafles, Singapura, itu saya menatap langit cerah seakan dipagari monumen jangkung. Gedung-gedung di seputar tinggi. Taman di antara gedung menjadi oase publik untuk sekadar duduk sambil menenggak secangkir kopi hangat.

Burung-burang gagak hitam, berkelompok hinggap di lantai semen. Mereka turut berjalan tak terganggu langkah kaki cepat manusia di kesibukan kota besar di udara cerah siang itu.

“Kami salah satu polisi terbaik di dunia”

Kalimat itu terngiang di benak saya berulang-ulang.  Saya duduk di selasar taman, sembari terus dihantui urusan kata:  salah satu polisi terbaik di dunia. Omongan yang membuat gemas karena kemudian terbukti tidak seirama dengan laku, khususnya di kasus David Hartanto Wijaya, kini bertemu pula di kasus terbunuhnya Aries Jasuwito.

Kalimat polisi Singapura itu dituturkan kepada Hartono Wijaya dan isteri Tjhai Lie Kiun, di saat mereka menanyakan soal penyelidikan kasus meninggal anaknya, 2 Maret 2009. Ketika mereka bersua penyidik di Kepolisian Jurong, Singapura, saya diminta menunggu di luar pagar di jalanan. Saya bukan keluarga David.

Hampir dua jam saya menunggu di terik panas, dengan ubun-ubun sakit disengat matahari. Setelah mengaku terbaik, “menyiksa” tamu laku lain polisi Singapura. Namun sengatan matahari itu tak begitu menganggu dibanding kalimat congkak tadi.

Oleh kampusnya, NTU, David dikatakan menusuk Prof Chan Kap Luk, dosen pembimbing ditugas akhir. Setelah menusuk, David lalu melukai diri sendiri dan lompat bunuh diri. Rilis sempat berubah-ubah dikeluarkan oleh rektor NTU, Su Guaning; Tempat kejadian perkara  langsung bersih dalam hitungan sejam; membuat kecurigaan mendalam: ada sesuatu yang tak beres dalam kematian David.

Di persidangan koroner soal David, polisi terang-terangan menemukan tiga hal yang berkait ke data digital. Pertama, ketika surat David, di Laptopnya, mengatakan bahwa ia berminat bunuh diri. Kedua, dua kunjungan ke situs berkait ke suicide. Celakanya di persidangan polisi tidak bisa menampilkan bukti digital, hashing data, atau digital finger print.

Akibatnya setelah vonis jatuh, sesuai indikasi skenario mereka di persidangan, bahwa David dinyatakan bunuh diri, maka orang tua David berikut ahli forensik digital Indonesia minta sekalian laptop David dikembalikan berikut digital konten. Polisi Singapura mangkir hingga saya menuliskan ini. Jika tak ada apa-apa di laptop itu, mengapa polisi Singapura yang mengaku salah satu terbaik di dunia itu, takut mengembalikan?

“Sebelum sidang koroner, polisi berjanji mengembalikan Laptop David,” ujar Hartono Wijaya.

Begitulah, sidang usai, bahkan hingga hari ini, janji tinggal janji. Inilah laku  polisi yang mengaku salah satu terbaik di dunia.

(Catatan: saya sudah menulis Sketsa XIX : David, Pengembalian Laptop dan Pembuktian Kebohongan, di mana laptop sudah dikembalikan dan kini sedang diforensik digital ulang oleh Ruby Alamsyuah)

PADA 26 Oktober 2009, siang. Keluarga Jasuwito, asal Bali, memanfaatkan liburan Galungan ke Singapura: Erna, anak tertua yang kebetulan sudah kost menetap di Singapura, Joko, nomor dua, dan Aries putra ketiga, bersama ibunya, Linda Dewi Jasuwito, menikmati kawasan mall Rafles City, lokasi di salah satu gedung di mana saya beberapa kali rehat ketika di Singapura dalam memverifikasi kasus David.

Lantas, di saat berjalan-jalan di mall, Aries Jasuwito, terpisah dari rombongan keluarga. Kakak dan ibunya masih melihat Aries di eskalator. “Keluarga berpikir ia mungkin pergi ke toilet,” ujar Jasuwito, ayah Aries.

Setelah ditunggu Aries tak kunjung kembali.

Keluarga panik.

Mereka melapor ke polisi. Foto Aries pun dicetak. Pamflet dibuat. Keluarga menyampaikan berita anak hilang ke radio dan koran Singapura.

Anehnya: baru 23 hari kemudian polisi mengabarkan penemuan Aries.

Pada 18 November 2009, Polisi menelepon, “Silakan datang melihat kemungkinan ditemukannya Aries, silakan mengenali sosoknya.”

“Saya yang tiga hari sebelum Aries hilang sudah duluan pulang ke Bali, diberi tahu oleh isteri dengan senang, Aries ditemukan. Semula keluarga tidak diberitahu tahu bahwa Aries sudah meninggal,” tutur Jasuwito.

Jasuwito tentu senang. Namun keceriaan segera lenyap, setelah keluarga ke rumah sakit bersama polisi, hanya menemukan jasad Aries sudah membeku.

“Saya langsung ke Singapura. Saya melihat sendiri anak saya yang rupanya sudah diotopsi duluan tanpa pemberitahuan keluarga,” ujar Jasuwito.

Itu artinya, polisi Singapura yang mengaku salah satu terbaik di dunia ini, telah melanggar ketentuan baku secara universal bahwa mengotopsi jenazah tanpa sepengetahuan keluarga, wali, orangtua.

“Di jasad Aries dari bagian leher hingga kemaluan tampak bekas jahitan.”

“Yang menyakitkan kami, di bagian punggung Aries, saya lihat ada lebam-lebam semacam bekas pukulan benda tumpul.”

“Bagian lengan kiri Aries, ada dugaan kami, semacam dipelintir akibat menangkis sesuatu.”

Polisi mengatakan kepada keluarga, bahwa Aries melompat  dari ketinggian gedung di daerah Simei. Membandingkan jarak bilangan area Simei ke lokasi mall Rafles City, ibarat di Jakarta, dari Grand Indonesia di Jl. Thamrin, Jakarta Pusat, hinga ke Pondok Indah Mall, jaraknya nun di ujung selatan.

“Kala itu saya sudah curiga, anak saya dibunuh,” ujar Jasuwito.

“Apalagi hand phone-nya kata polisi tak ditemukan, termasuk KTP-nya. Sama sekali tanpa identitas.”

SEBAGAIMANA Almarhum David Hartanto, jasad Aries pun oleh polisi Singapura “dipaksa” dikremasi di Singapura. Bedanya, jika David, kremasi diurus oleh kampus NTU, termasuk segenap biaya hingga ke Mandai Crematorium.

“Sementara urusan kremasi anak kami, dilakukan oleh satu perusahaan jasa yang diminta polisi. Ongkosnya mencapai sepuluh ribu dolar Singapura. Dan kami pula harus bayar,” tutur Jasuwito lagi,

“Kami tak mampu membayarnya.”

Jasuwito lalu meminta polisi menyelesaikan urusan pembayaran.

“Kami sudah berduka, kehilangan anak kami, yang masih kami ragukan penyebab kematiannya, mohon pengertian untuk tidak dibebani biaya yang tak dapat kami pikul.”

Sebagai seorang pengusaha UKM di dagang kain gorden, dan keperluan interior di Denpasar, Bali, angka S$ 10 ribu memberatkan.

“Dan lebih menyesakkan dada, hingga kini kami tak dapat foto di mana Aries jatuh, atau ditemukan, sama sekali tak ada. Sama sekali tak ada keterangan.”

Dalam keadaan demikian, sebagai WNI di negeri orang, keberadaan Kedutaan Besar RI di Singapura, seharusnya dapat dijadikan andalan tempat mengadu dan berlindung. Namun faktanya KBRI memang tidak proaktif berbuat. Kenyatan ini kian membuat perasaan  “sendiri” di negeri orang kian kental. Hal itu juga dirasakan oleh keluarga David, sebagai mana saya tangkap kesan ketika memverikasi kasus David Hartanto Wijaya.

Kepada Detik.com, 31 Desember 2009 Teguh Wardoyo, Direktur Perlindungan Warga, Deplu, mengatakan meraka sudah mempertanyakan ihwal kematian Aries ini ke pemerintah Singapura. Saya mencoba menghubungi Teguh via SMS mobile phone-nya, pada 31 Desember 2009 itu juga. Namun hingga tulisan ini saya turunkan belum ada konfirmasinya.

Di saat ajalnya, Aries sudah kembali menetap di Bali, memperfasih belajar bahasa Inggris. Liburan ke Singapura bersama keluarga adalah atas permintaannya kepada orang tua. Sebelumnya selama empat tahun sebelum kembali menetap bersama orangtua di Bali, Aries belajar bahasa Mandarin di Xin Ya College, di bilangan Pasar Pagi, Kota, Jakarta Utara.

Dan Aries, jika tak ada hubungan kekerabatan dengan Anda, tentu bukan siapa-siapa. Namun di balik kematiannya, menyisakan misteri, sudah seharusnya verifikasi mendalam layak dilakukan, demi mencari kebenaran.

Kendati kasus David belum tuntas saya verifikasi, semoga selalu ada energi untuk melakukan hal yang sama di kematian Aries Jasuwito. ***

(ditulis pada 10 Januari 2011)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: