Sketsa: Bila Sekilo Cabai = Seperempat Gram Emas

Oleh Iwan Piliang (Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com)

Di saat cuaca belakangan sulit ditebak, hujan mendadak tumpah, di tengah terik, ada daerah ketiban butiran es. Tanaman pangan mulai merasakan pahit-getir kehidupan. Dalam keadaan demikian, cabai, salah satu terkena musibah sulit berbuah. Di tengah permintaan tinggi, hukum pasar berlaku. Di saat harga cabai Rp 90 ribu/kg, saya tak sengaja saat transit di Balikpapan, Kaltim, 4 Januari 2011, bertemu seorang  staf Agrobank. Sosok staf bank ini mengaku kasihan kepada nasabah yang datang mengajukan kredit untuk tanaman pangan. Banyak hal potensi ekonomi negeri ini seakan berlalu tidak bankable! Tidak pernah bankable awal muasal musibah tanaman pangan.

***

PESAWAT yang saya tumpangi dari Tarakan, Kaltim, siang 4 Januari 2011, baru saja mendarat di Balikpapan. Tidak ada petunjuk bagi penumpang trasit dan hendak turun di bandara. Hampir semua penumpang satu pesawat dengan saya menuju arah pintu masuk transit. Akibatnya bisa diduga, mereka yang akan pulang ke Balikpapan kebingungan lalu memutar ke luar kembali menuju bangunan kanan ke pintu kedatangan. Dibiarkan linglung, seakan sendiri, agaknya macam itu pulalah nasib petani tanaman pangan di negeri ini.

Setelah mengantri tanda trasit, sebuah kedai kopi di bagian pinggir dinding terminal saya datangi. Secangkir teh manis hangat relatif murah, Rp 7.000 saya bayar tunai. Semua meja terisi. Ada seorang setengah baya duduk sendiri. Saya meminta ijin duduk di kursi kosong di depannya. Sosok pria itu sebut saja Benyamin, mempersilakan ramah. Ia hendak ke Jakarta bersama pesawat yang saya tumpangi. Waktu terbang masih sejam lagi.

Di lengan baju Benyamin saya lihat ada logo Agrobank.

Wah, Anda dari Agrobank?

“Iya Mas?”

Bank Anda pernah berjasa kepada saya.

“Berjasa gimana Mas?”

Ketika saya membuka usaha jasa Merketing Communications, pada 1989, Agrobank adalah salah satu klien besar saya. Saya menangani grand lanching-nya.

“Wah begitu ya?”

Iya saya masih ingat bagaimana ketika memaparkan ide iklan ke direksi. Saya mengalahkan kreatif biro iklan besar hanya dengan tagline: Memahami Potensi Negeri Sendiri. Di era sawit dengan CPO-nya belum seberkibar seperti hari ini, saya mengapit kalimat tagline tadi dengan grafis daun sawit menjuntai di kiri dan kanan atas.

Sayangnya bank yang seharusnya bisa memahami potensi bangsa itu, tidak memiliki kekhususan. Ia harus bertanding dengan bank umum lainnya. Perbankan tanpa terkecuali, misalnya harus manut ketentuan BI; dalam ketersediaan modal, batas pemberian kredit (Legal Landing Limit), dan seterusnya. BI juga harus mengacu kepada bank sentral dunia.

Langgam sistem perbankan demikian; “prestasi” nyata bangsa kita kini: dari 9,2 juta hektar lahan sawit saat ini, 50%-nya sudah milik asing. Saya katakan kepada Benyamin saya pernah berjumpa dengan mantan Menteri Keuangan Malaysia di London, Inggris. Ia bisa beli-beli  pesawat jet, di antaranya Gulftream-5, uang dari hasil buah sawit yang ditanam di Indonesia.

Analogi terjualnya lahan sawit ke asing, kepada Benyamin saya ibaratkan, bak sebuah pulau yang tanahnya subur, bisa ditanam sawit, masyarakatnya hidup belum mengenal uang. Lalu datanglah seseorang yang membawa mesin cetak dan kertas. Ia mencetak alat tukar yang disebut uang. Ia perkenalkan alat tukar, uang, maka akhirnya kekayaan alam berpindah ke sang pendatang bermodal mesin cetak dan kertas tadi.

Analogi tadi diamini Benyamin.

“Iya Mas, kami juga kadang sedih tidak bisa berbuat kepada nasabah. Tak ada ketentuan khusus bagi pembiayaan sektor pertanian. Terlebih tanaman pangan,” ujarnya.

Saya katakan, Anda sangat jujur. Biasanya jarang orang yang bekerja di perbankan mengakui hal ini.

“Mas juga harus tahu, apalagi kini perbankan swasta sudah banyak yang dimiliki asing. Sulit mengaharapkan bank kembali sebagai agent of development,” ujarnya.

Saya katakan, karena kebutuhan tanaman pangan itu memiliki pasar, seharusnya ada skema khsus untuk itu.

“Kini tak dimungkinkan lagi, Mas!”

Jadi, makin panjang deretan “kemelaratan” karena alasan ketidak-bankable-an usaha. Apalagi bank yang dimiliki asing kini semua orientasi kreditnya, umumnya, ke sektor consumer bukan kepada suatu produksi?

“Benar sekali,” kata Benyamin.

Era di 1980-an di mana ada keberpihakan kepada pengusaha baru, banyak nama-nama pengusaha muda tumbuh. Sosok Aburizal Bakrie, anggota HIPMI, Kadin Indonesia, sempat mengenyam kemudahan loan. Era itu bank yang datang menawarkan kredit, bunga bahkan bisa ditawar. Sebagian mereka yang mendapatkan kemudahan itu, memang ada bermasalah.  Tetapi sebagian lagi tumbuh menjadi pengusaha besar. Dan seharusnya dalam skala berbangsa dan bernegara, harus dilihat persentase yang berhasil.

“Anda benar sekali Mas, era itu kini tinggal mimpi.”

Saya bercerita lagi kepada Benyamin bagaimana ayah saya yang sudah tua, kini 81 tahun. Ia masih bersemangat mencoba memotivasi petani kedelai di Sukabumi,Jawa Barat, menanam bibit kedelai asal Kanada. Menurut penduduk lokal Sukabumi, tidak akan tumbuh. Tetapi karena keyakinan ayah, dengan memberi tambahan kapur, setelah menguji PH tanah, kedelai itu tumbuh, kualitasnya prima.

Entah mengapa kita masih mengimpor jutaan ton kedelai tiap tahun?

Benyamin di hadapan saya menyeruput habis kopinya. Ia kemudian banyak nyengir.

HARI-HARI ini  bangsa ini disesakkan dada dengan naiknya harga cabai tak berkira. Kini satu kilogram sudah setara seperempat gram emas. Itu artinya jika saya membuat rendang  daging 3 kg, maka sudah menghabiskan setengah gram emas.

Jika melihat ke diri saya yang beristerikan orang berdarah Solo, lalu acap sakit perut bila kebanyakan makan sambal, cabai bagi saya bukan lagi kebutuhan utama. Saya bahkan di warung bakso, dari pada memilih sambal botol —dominan agar pedas diberi gilingan bubuk merica— cenderung memilih saos tomat. Sehingga saya tak akan terpengaruh urusan cabai biar harga sekilonya sama dengan segram emas?!

pohon cabai (foto: buahku.wordpress.com)

Namun bagi kita berbangsa dan bernegara, terasa betul pandirnya. Seakan dari tahun ke tahun tak pernah bisa berbuat menyelesaikan masalah-masalah kebutuhan pangan dengan semangat  “damai” selamat dan sentausa.

Damai yang saya maksudkan, jika skema pembiayaan ada, jika tenologi paska panen didukung, cabai kering dengan pengeringan tepat, dapat diolah, kendati sudah dibotolkan lebih setahun pun, sang cabai tetap enak dan tetap pedas. Namun itu semua tak pernah menjadi industri, tiada dukungan pembiayaan.

Petani seumur-umur bertahan dalam siklus kehidupan alami, bahkan sebagian tak beranjak dari cekikan rentenir. Di era perbankan modern hari ini, sebuah bank swasta yang dimiliki asing kini, mengembangkan pelayanan mikro hingga ke lapak pasar tradisonal, memberikan bunga kredit tak ubahnya laksana rentenir, tapi berdasi. Dan perihal layanan mikro itu,  menjadi salah satu prestasi di dalam laporan keuangannya.

Begitulah obrolan singkat yang menjadi bahan sketsa kali ini.

Panggilan bahwa pesawat kami boarding membuat Benyamin bergegas membayar kopinya ke kasir. Setelah mengemaskan barang bawan, saya mengikutinya melangkah. Saya tak memperhatikan kalimatnya bertutur.

Ketika memasukkan ransel ke X-ray, saya tanya kepada Benyamin, apakah Anda membayarkan lagi teh saya?

“Iya Mas. Sudah saya bayarkan.”

Saya bilang; terima kasih banyak lho. Tetapi sekadar Anda tahu, saya sudah membayar di awal meminta teh tadi. Saya tunjukkan uang kembaliannya.

Panggilan boarding sudah berulang. Apalah artinya membayar dobel secangkir teh Rp 7.000. Tetapi di balik kasus teh dua kali bayar itu, begitulah ranah kehidupan kita memberi nilai kepada sisi kejujuran, kisi integritas, ranah ingtangible asset, urusan riil tapi kadang tak bernilai bank!

Jadi mau apalagi? Kalau hari ke depan cabai akan sama sekilonya dengan segram emas, saya bukan dalam kapasitas berkemampuan menggelontorkan pembiayaan ke tanaman pangan.

Paling, maaf ya, dengan gaya sok tahu, saya hanya bisa menyarankan kepada Anda:  contohlah saya. Biar Padang, tapi sudah kelas jauh petang, bersubsidi pula lidahnya: tiada cabai, lidah saya tetap bergoyang: Rendang minus cabai pun oke punya. Coba deh!

(ditulis pada 06 Januari 2011)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: