Opini: Onde Mandeh Majikan Sumiati 3 Tahun!

Oleh Iwan Piliang (Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com)

 

Dari pengalaman langka memverifikasi kasus pembunuhan David Hartanto Wijaya, belakangan pembunuhan Aries Jasuwito di Singapura, juga verifikasi  “memulangkan” Ziad Salim Zimah setelah tertahan 8 tahun di Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab, dua hal melekat di benak saya; KBRI seakan bukan bangsa sendiri dan KBRI berpihak.

***

PADA dua lokasi kasus yang saya paparkan di taiching (pemikat) tulisan ini, memang terdapat dua benang merah berbeda. Di Singapura pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), dalam berhadapan dengan negara di mana ia ada, tampak jelas mengalir begitu saja. Seakan menikmati sajian proses hukum yang ada di negara jiran itu.

Jika telinga dapat bertukar jadi mulut, ia akan berkata ‘mak muaknya mendengar: Kami ini hanya staf KBRI. Kami harus menghormati hukum negara di mana ada. Kami dibatasi oleh hubungan bilateral antar kedua negara. Ada ketentuan diplomatik kami patuhi.

Walaupun sosok yang berkata itu secara personal juga gemas menghadapi sajian yang ada di depan hidungnya, ia akan mengulang-ulang kalimat sama. Ia menabalkan pakem abadi, bak bicara ke sebatang tiang baja, nir karat pula. Mereka lupa bahwa di dalam hidup ada kata wisdom, kebijakan.

Maka ketika saya mencoba bertanya ke sumber intelijen, mengapa KBRI demikian? Sosok itu secara terang-terangan mengatakan dari semua KBRI kita di dunia, ia mengindikasikan  bahwa KBRI Singapura itu, sudah lebih Singapura. Anda dapat menterjemahkan sendiri kalimat sumber anonim saya ini. Dan ingat, kali ini saya menulis Opini, bukan Sketsa, sebagaimana biasa.

Sedangkan pada kasus Ziad yang tertunda-tunda pulang, oknum KBRI berpihak dalam mengurai permasalahan. Rutinitas staf dengan beban kerja melimpah sehari-hari, membuat kegigihan mengurus, menjadi kesempatan langka.

Sehingga ketika saya ke sana, untuk menemui seorang hakim, lalu mengantri bak sales obat di antara pasien dokter, bahkan hingga pukul 01.00 dini hari, tetap mengantri, termasuk rela duduk di barisan tahanan berseragam hijau dengan kaki berantai.

Di sebelah merekalah saya duduk —tentu ditemani staf KBRI— demi mendapat jawaban dari seorang hakim. Kegigihan itu menjadi penentu keberhasilan memecah kasus seakan membeku delapan tahun. Di kasus itu, sebelumnya Ziad hanya berhadapan dengan tembok kamar, takut ke luar rumah, tak bisa pulang ke Indonesia.

Kegigihan, kegigihan dan kegigihan, membuat Ziad, akhirnya bisa bertemu dengan sosok rindu ibunya yang pernah menangais darah meminta bantuan agar memulangkan Ziad sebelum ajal.

KETIKA Menteri Urusan Perempuan dan Anak, mengunjungi Sumiati yang mendapat perlakuan amat keji oleh majikannya, termasuk mulutnya digunting, Ibu Menteri tidak diperbolehkan berfoto lagi dengan Sumiati. Saya tak paham mengapa sang menteri mengamini saja. Apakah logika sama dengan pejabat KBRI Siungapura. Tentu jika saya ada di sana, saya akan “meminta”, jika perlu saya tunggu siang malam dan mogok enggan pergi dari sana. Laku Norak memang, tetapi begitulah, kemanusiaan memang harus diperjuangkan.

Wajah Sumiati (foto: news.asiantown.net)

Jauh sebelum rombongan menteri menjenguk Sumiati, kepada seorang kawan memiliki akses kekuasaan ada dua hal saya ajukan.

Pertama bisakah negara mengongkosi saya mencoba mencari solusi independen, sebagai wakil rakyat kebanyakan untuk kasus kelebihan masa tinggal (Over Stayer) di Arab Saudi, yang harus berarak bak gagak-gagak lusuh kehujanan di bawah kolong-kolong jembatan layang di Arab Saudi? Jumlah mereka mencapai 20 ribu orang.

Persoalan sehari-hari yang meraka hadapi total football beragam kepahitan kehidupan: mulai  diperkosa, mengais sampah untuk makan siang?

Kedua bisakah saya diberi kesempatan memverifikasi kasus Sumaiti dan memverifikasi tuntas, termasuk “mengawal” kasus hukumnya?

Atas dua keingin terhadap itu, kawan tadi dengan tringan bilang, “Kita lihatlah dulu hasilnya, Presiden sudah menungaskan pembantunya.”

Maka ketika di kasus Sumiati terasa menyembilu bak pisau menusuk jantung, bahkan luka di dada ini seakan ditetesi air limau purut, dan lalu: keputusan pengadilan hanya menghukum 3 tahun saja majikan Sumiati?!

Saya kembali bertanya di mana negara?

Di mana KBRI?

Mungkin dari dua pengalaman saya, yang boleh dikata tak bernilai apa-apa bagi bangsa ini, saya ingin menegaskan: Saya mencoba tulus melihat permasalahan. Dari situ menabalkan keyakinan bahwa derajat dan harkat manusia itu mulia. Sehingga segenap jiwa raga saya tumpahkan termasuk tanpa peduli akan nyawa sendiri demi memberi penghargaan ke sisi kemanusiaan.

Perhatian ke harkat kemanusiaan menunjukkan beradab tidaknya sebuah bangsa.

Maka ketika pengadilan Arab Saudi hanya mengganjar 3 tahun saja untuk majikan Sumiati —kendati pintu banding masih terbuka— hal itu terjadi hakkul yakin saya karena tata cara kita menangani kasus ini tekena dua penyakit kronis yang saya paparkan di atas: Pertama, terlalu taat kaedah dengan pakem baku diplomatik. Kedua tidak memiliki kegigihan mengurus dan mengurai kasus!

Dua hal itu saja sesungguhnya.

Begitu jernihnya.

Sehingga jika ditanyakan kepada saya solusinya: harus ada sosok-sosok inpenden wakil publik, yang dengan kebersihan hati, kegigihan total memecah dua kebekuan menghantui ranah diplomasi kita di hampir semua KBRI di dunia kini. ***

(ditulis pada 13 Januari 2011)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: