[Cerpen] Kehendakmu-lah yang Jadi, Bukan Kehendakku

Oleh : Alex Putra Siosar

Paint: Mothers Love by Kolongi

SIANG itu, ibu menghampiriku di teras. Lalu, ibu menyodorkan sebuah amplop besar berwarna coklat. Saya membuka amplop itu. Isinya sebuah foto usus ibu. Hasil foto  dari Rumah Sakit Umum Adam Malik Medan. Saya terkejut. Mengapa tidak. Rumah sakit itu menvonis ibu terkena penyakit kanker. Kanker usus. Dan dalam amplop itu ada sepucuk surat rujukan kepada Rumah Sakit Umum Cipto Jakarta. Menerima isi amplop itu, betapa hancurnya hati kami. Saya menatap wajah ibu. Ia terlihat pucat. Bibirnya terkatup rapat. Dan ibu terlihat takut.

Sepulang dari Rumah Sakit Cipto Jakarta, resmilah ibu menjadi penghuni Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan. Ada selang waktu ibu berganti rumah sakit. Kadang opname di Rumah Sakit Umum Adam Malik dan pindah lagi ke Pirngadi Medan. Hal ini, karena kelengkapan medis rumah sakit tersebut. Di kamar VIP Rumah Sakit Umum Pirngadi, ibu menjalani hari-harinya dengan berbaring. Infus, menggari tangannya. Terapi kemo, membuatnya gemetar. Dan obat-obatan membuat lidahnya semakin pahit. Belum lagi, dengan selang kantongan yang menembus ususnya untuk pembuangan air besar. Selang kantongan itu membuat jantung ibu terdengar bagaikan gendang bertabuh bertalu-talu. Genderang perang. Perang melawan kanker. Begitu juga dengan air mata ibu yang selalu membasahi bantal tempat kepalanya terkulai.

Di kamar itu, tak ada orang sakit selain ibu. Bapak memilih kamar VIP ini, karena ia tak mau mengganggu orang sakit yang lain. Kanker stadium IV yang diderita ibu, tak jarang membuatnya meronta-ronta menahan sakit. Bila ditilik dari biaya, sangat mahal. Biaya dokter, obat-obatan dan kamar, setiap harinya seputaran enam ratus ribu rupiah. Jumlah ini bagi kami sangatlah besar. Tapi, bapak tidak pernah menyerah. Kami rela bapak menjual perlahan-lahan tanahnya. Dan bapak tidak pernah mengemis kepada kedua abangku yang tinggal di Amerika maupun Palembang.

Saya sering merasa pilu melihat ibu. Keluhnya, tangisnya dan jeritannya yang meronta-ronta menembus dinding serta langit-langit kamar itu. Obat bius tak ampuh lagi bagi ibu. Dokterpun hampir mati akal meredam pemberontakan ibu terhadap penyakitnya. Apalagi perawat, sering menahan perasaan melihat amukan ibu. Mengapa tidak. Ibu selalu marah-marah pada perawat-perawat itu dan menyuruh mereka, supaya membuang saja semua obatnya. Ibu berpeluh, obat-obat itu hanya membuat perutnya mual dan gembung.

“Sudahlah. Saya tak kuat lagi. Akhiri saja hidupku ini,” kata ibu.

Delapan bulan berjalan, ibuku menginap di rumah sakit. Selama ini saya dan adikku tak pernah jenuh menemani ibu. Kami tak merasa sungkan lagi, ketika ibu meminta pispot, mengganti baju dan sarungnya. Memang perawat di rumah sakit ini baik-baik dan sangat cekatan. Tapi, kami merasa lebih cepat dari mereka. Seperti kecepatan ibu, ketika merawat kami semasa kecil.

Ibu opname di rumah sakit, membuatku harus cuti kuliah. Saya tak bisa konsentrasi di kampus. Pikiranku selalu bercabang. Mengingat ibu selalu menahan sakitnya, membayangkan bapak yang sudah 65 tahun dan anakku yang masih berumur 6 bulan. Saya juga harus mencari nafkah untuk keluarga. Sementara, istriku belum kuat dan harus merawat anak kami yang masih mungil. Dengan keadaan ini, sering membuatku depresi. Dada ini terasa sesak. Dan kecemasan tak jarang menghantuiku. Oleh karena ini, istriku, Ribka, sering membujukku untuk berdoa dan ke gereja.

***

Hari Jumat, sekitar Pukul 13.00 Wib, saya pamit pada ibu. Ribka, istriku, menggantikan saya menjaga ibu. Dimana tadi, ia menitipkan anak kami, Angelia, pada Bu Aminah. Ibu ini adalah tetangga kami yang sangat baik. Ketika Tahun Baru, ibu selalu menghantarkan aneka roti, rendang lembu, sayuran dan nasi pada Ibu Aminah. Begitu juga pada saat Hari Raya Idul Fitri, Bu Aminah menghantarkan aneka masakan pada kami.  Ibuku dan Bu Aminah sudah bersahabat sejak gadis. Mereka sama-sama sekolah di Sekolah Pendidikan Guru Medan.

“Ibu, saya pamit dulu, ya…..” kataku sambil membelai rambutnya. Ibu seolah ingin berbicara. Tapi, lidahnya tak kuat bergerak. Hanya matanya menatapku. Dan sesekali berkedip lemah.

“Nanti saya bawakan jeruk untuk ibu,” kataku lagi sambil mencium keningnya.

Dengan berat hati, kutinggalkan ibu dan Ribka di kamar itu. Sudah seminggu ini, kondisi ibu terlihat semakin buruk. Jeritannya menahan sakit tak terdengar lagi. Hanya gerakan bola matanya menunjukkan rasa sakitnya. Dan denyutan urat di lehernya yang begitu kencang, seolah menunjukkan pemberontakannya terhadap kanker.

“Hati-hati di jalan ya, Bang. Sepertinya hari mau hujan. Langit gelap sekali,” kata istriku.

“Iya. Jaga ibu kita, ya…” sahutku.

Hari ini, saya ada janji dengan Pak Thomas. Ia adalah seorang pendeta di gereja protestan. Pak Thomas saya kenal, ketika saya membeli obat di apotik. Dan ia juga membeli obat untuk istrinya yang sedang bersalin. Pendeta muda ini tampaknya sangat bersahabat. Gaul. Enak sekali berbicara dengannya. Tak diduga, ia mengundangku untuk datang ke rumahnya. Sebenarnya saya ragu memenuhi undangan Pak Thomas. Karena saya merasa tak layak berkunjung ke rumah seorang pendeta. Apalagi, rumahnya di samping gereja. Tapi, entah mengapa, ada sesuatu yang menggerakkan hatiku untuk memenuhi undangannya. Mungkin, karena kami cepat akrab.

Niatku bertemu dengan pendeta itu, terhalang. Hujan turun dengan deras. Awan yang sudah beberapa waktu lalu bergerombol hitam bersama kilat, mencekam Kota Medan. Dan suara petir terdengar meledak-ledak. Di jalan depan rumahku, sudah mulai terlihat air meluap. Sayapun jadi terkurung di dalam rumah bersama bapak.

Saya masuk ke dalam kamar. Entah mengapa, saya mengambil alkitab di meja. Ada tiga puluh menit saya membacanya. Setelah itu, saya ingin berdoa. Ada kerinduan untuk berdoa kepada Tuhan. Seiring dengan itu, sayapun jadi teringat dengan doa ibu, ketika adikku, Antonius, sakit. Antonius sakit demam tinggi, sampai empat puluh satu derajat celcius. Seminggu ia terkapar di rumah sakit. Sampai matanya mendelik-delik. Bola matanya terus naik ke atas. Dan doa ibuku saat itu, doa penyerahan diri.

“Tuhan…. Jadilah kehendakMU dan bukan kehendakku.” Akhir doa ibu saat itu. Dan sampai saat ini, Antonius tumbuh dewasa. Ia selamat dari maut.

Saya kagum mendengar doa ibu. Rupanya Tuhan itu tidak jauh. Tidak seperti yang saya bayangkan selama ini, yaitu DIA di atas langit. Pikirku, Tuhan hanya sejauh doa. Mengapa saya tidak berdoa ?

Akhirnya, keinginanku tadi hanya sekedar berdoa menjadi sebuah tekad. Saya duduk di tepi tempat tidur. Saya melipat tangan. Kepala tertunduk. Dan kututup kedua mataku. Lalu, saya berdoa.

“Terimakasih Tuhan,

Engkaulah yang membawaku dalam doa ini.

Dengan kerendahan hati,

Saya datang ke hadapanMU.

Dan, ampunilah kesalahan serta dosa-dosaku

ya, Bapa.

Tuhan, ibuku sakit

Ia sangat menderita.

KehendakMUlah yang jadi, bukan kehendakku.

Dalam nama Bapa di Sorga, Yesus Kristus, saya telah berdoa

Amin.”

 

Selesai berdoa, saya kembali meraih Alkitab. Mungkin keinginan ini, karena rinduku masa kecil. Ketika ibu membawaku ke gereja untuk mengikuti kebaktian anak-anak dan remaja (KA/KR).  Di sana ramai sekali anak-anak dan remaja. Kami bernyanyi, berdoa, membaca firman Tuhan dan mendengarkan cerita rohani dari guru KA/KR. Indah dan damai sekali. Namun, sejalan dengan pertumbuhanku, sejak duduk di bangku SMA saya jarang sekali mengikuti kebaktian rohani. Ibu sering menegurku. Tapi, saya tak mengubrisnya.

Di ruang tamu, telepon berdering. Saya segera menghampirinya. Tapi, kalah cepat dengan bapak. Rupanya bapak dari tadi sudah duduk di kursi tamu.

“Hallo….,” sahut bapak. Hanya satu menit bapak mengangkat telepon itu. Dan dengan lunglai ia meletakkan gagang telepon itu.

“Ibu sudah meninggal,” kata bapak.

Mendengar itu, tiba-tiba saja hentakan yang begitu keras dan cepat seperti kilat menghantam jantungku. Rasanya, baru saja suara petir mengoyak gendang telingaku. Hujan yang deras, seolah menghanyutkan harapanku. Tidak. Tidak ! Saya tidak menerima ini, batinku memberontak.

Segera kuraih telepon. Seakan tak tak percaya, saya menelopon Ribka, istriku.

“Keadaan ibu bagaimana ?” kataku. Ku dengar hanya isak tangisnya.

“Ibu bagaimana ?” kataku lagi.

“Ibu sudah meninggal, bang…” sahut istriku dengan terbata-bata dan isaknya.

Mendengar jawaban itu, saya terdiam. Bisu. Rasanya sepi sekali. Seakan saya berada dalam lorong yang gelap dan hanya suara kalelawar-kalelawar berdesit. Sarang laba-laba mengurung langkahku.

Dan saya kembali memencet nomor-nomor di telepon.

“Hallo…,” Kudengar suara menyahut dari seberang sana.

“Pak pendeta, ibu sudah meninggal,” kataku.

Ia tak menjawab.

“Pak. Pak pendeta, baru saja saya berdoa. Saya katakan pada Tuhan, kehendakMU-lah yang jadi, bukan kehendakku.”

Lalu, dari telepon itu menjawab.

“Kehidupan dan kematian ialah rahasia Tuhan. Penyerahan diri ialah muzizat.” kata pendeta itu yang membuatku tak mengerti.

“Andre, saya turut berduka cita atas meninggalnya ibu. Jangan larut dalam kekecewaan dan kesedihan, ya. Saya adalah sahabatmu,” kata pak pendeta.

Saya ingat lagi doa ibu, ketika adikku sakit. Dalam doaku dengan ibu sama, yaitu kehendakMU-lah yang jadi, bukan kehendakku. Tapi, mengapa dengan doaku ? Mengapa Tuhan mengambil nyawa ibuku ? Apakah salah doaku ? Pikiranku terus berkecambuk, antara perasaan dan logika.

“Andre…,” kata bapak memecah keterpakuan.

“Hati bapak begitu hancur dengan kepergian ibu. Ibumu adalah istri yang sangat baik bagi bapak. Rasanya bapak tidak menerima keputusan ini yang diberikan Tuhan pada keluarga kita. Dan bapak tahu, kamu sangat kecewa. Kamupun tidak menerima semuanya ini,” kata bapakku.

Saya diam. Saya duduk dengan lemah di kursi.

“Mungkin Tuhan punya rencana untuk keluarga kita dengan kepergian ibu,” kata bapak sambil memelukku.

“Bapak rela, anakku,” kata bapak lagi.

“Tidak, Pak…Saya ingin ibu melihatku diwisuda.”

“Ibu sudah terlampau menderita dengan sakit kankernya. Bapak melihat dan merasakan, jiwa kita sudah mulai rapuh menghadapi penderitaan ibu. Sudahlah, nak. Mungkin ini rencana Tuhan yang terbaik untuk ibu dan keluarga kita,” kata bapakku lagi.

“Tuhan, mengapa KAU tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk menyelesaikan kuliah, agar ibu melihat saya di wisuda ? Dan apakah kelak, anakku juga doanya sama dengan doaku saat ini ? Tuhan, saya takut. Takut, saya juga akan mengalami penderitaan yang sama dengan ibu.” Riak batinku sambil menatap tajam pada salib dan patung Yesus yang tergantung di dinding ruang tamu.

Tiba-tiba, mataku terasa gelap. Saya terkulai di kursi. Dan sekejap, saya merasakan sunyi sekali. Lalu, tak merasakan apa-apa lagi. Entah berapa lama, saya merasakan ini. Sampai saya terbangun dan tergeletak di tempat tidur. Dan saya melihat anakku Angelia tertidur pulas di sampingku.

Rumah bapakpun tidak sesepi tadi. Kini, saya mendengar suara tangis orang-orang di ruang tamu. Saya segera ke sana. Dan saya melihat ibu tertidur di kasur beralaskan tikar.

“Ibu….! Ibu…..!” tangisku sambil memeluk tubuhnya yang terbujur kaku.

Air mataku, tak diusapnya. ***

Medan, 2 Juli 2011

 

Catatan :

Cerpen ini tergerak dari cuplikan Film Surat Kecil Untuk Tuhan. Sebenarnya saya tidak ingin menulis dan mempublikasikannya, tapi saya prihatin dengan kanker. Penyakit yang perlahan-lahan mematikan. Membuat orang-orang yang mengalaminya sangat menderita. Apalagi, kanker bisa menurunkannya pada gen si penderita. Nama dan tokoh dalam cerpen ini adalah fiktif.

Alex Putra Siosar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: