Surat Panjang untuk Suami Tercinta, Demi Anak Perempuan Kita

Oleh : Julia Napitupulu

 

 

Suamiku, suatu saat kamu akan berterimakasih aku pernah tempelkan surat ini di kulkas kita (p.s.: ga usah pula kamu tanya kenapa aku nempelnya di kulkas ya). Peristiwa tadi sebetulnya ga perlu terjadi, kalau saja kamu bisa pegang beberapa nasihatku…ini mengenai bagaimana memahami (atau istilahmu: menangani) Putri kita:

Yang Pertama, jangan pernah lupa bahwa anak perempuan kita seorang Wanita, seperti Aku. Mungkin ukuran dada kami berbeda tapi dia tetap W A N I T A, terima dan pahamilah fakta ini.

Kedua, mengenai koleksi bonekanya. Tak usah kamu coba untuk bernalar berapa banyak boneka yang harus ia miliki, dan mengapa pula semuanya harus dalam warna pink), karena aku juga ga bisa menjelaskan kepada buku kas belanjaku, kenapa aku harus beli lipstik lagi, padahal yang tiga terakhir, setahun juga ga bakal abis.

Ketiga, mengenai frekuensi nonton Barbie. Meskipun dia sudah nonton film 129 kali, so what kalo dia masih pengen? Temenin aja kenapa sih? Ga usah terlalu takut dia bakal ke-Barbie-berbie-an. Aku tadinya juga anti Barbie kok, sampai aku pelajari kalau Barbie jaman modern udah beda. Kenapa memang kalau Putri kita Cantik, sekaligus Seksi, sekaligus Pintar, plus Berbakat, plus Berani dan Berhati Mulia?? Sudah tak berlaku lagi tuh filosofi konyol: “Daripada Cantik tapi Bodoh, mending Jelek tapi Pintar”.

Sehubungan dengan masalah Barbie, nanti kamu tinggal ajari dia bagaimana memilih Pria Terbaik dari sepeleton Pria Keren yang tersandung jatuh karena cinta pandangan pertama sama dia. Pesonanya emang udah begitu, udah bawaan orok.

Aku merasa kamu agak enggan untuk main rumah-rumahan sama dia. Padahal dunia sudah membuktikan bahwa Pria Straight juga bisa menjadi ratu di dunia persalonan, perkulineran, musik, dan dunia otak kanan lainnya? Jadi ga usah merasa jadi wadam kalau kamu menemani anakmu main rumah-rumahan, sisir-sisiran, dan juga ga usah repot mikir mengenai aturan main, siapa menang, siapa kalah. Itu hanya cara untuk meng-enjoy sebuah hubungan. Just be natural & go flowing with her…(jangan lupa ajak anak laki-laki kita juga).

Keenam, bisa ga kalau dia lagi main masak-masakan dan kamarnya seperti kapal pecah, kamu turut merasa happy dengan excitement-nya? Dan bukannya komplain dengan kamarnya yang berantakan? Suasana kapal pecah itu salah satu cara dia mencintai kehidupan, sama seperti dapurku yang kayak abis perang padahal cuman masak teri sambel pakek pete.

Yang ketujuh ini penting-ting banget..(p.s.: aku sampai gemeter terharu tau ga sih nulis ini). Lain kali, saat dia mendatangimu dengan berurai air mata, dan mulut tertarik ke bawah, apa pun yang sedang kamu lakukan, listen to me: a p a p u n, letakkan itu dan simak dia baik-baik. Itu moment of trust yang bisa kamu bangun atau kamu hancurkan, saat itu juga.

Kedelapan. Ini juga maha penting: jangan langsung percaya kalau dia berkata: ‘aku happy, Papa’. Kami, para wanita, punya 5 lapisan rasa…simak yang tersirat di belakang kata.

Kesembilan. Ini sebenarnya nyambung dengan yang pertama. Hanya karena Kamu Papanya dan dia putrimu, bukan berarti kamu bukan Pria dan dia bukan wanita. Oleh karena itu sadarilah bahwa ada masanya kamu memang tak berdaya luluh lantak kalah hanya oleh sorot matanya, tetap bukan alasan kamu harus menguras kantongmu untuk memborong seluruh isi mall untuknya. Belajar mengendalikan dia dari aku. Ijazah-ku udah delapan dalam hal begitu-begitu.

Terakhir nih. Suamiku. Aku tau kamu lelah utk menafkahi kita, dan menata kerajaan ini agar aman lohjinawi sepeninggalmu kelak…tapi pernah-kah kamu berpikir, bisa saja aku yang meninggal duluan kan?? Karena aku merasa dia sudah cukup belajar mendengar, menari, beres-beres, bergaul dan melatih kepekaannya. Tapi kurasa dia masih perlu belajar untuk menerobos waktu 10 tahun ke depan, berkuda di jalur terdepan, bangkit untuk yang ke-100 kali setelah 99 kali jatuh, juga menantang derita fisik demi kebenaran dan kejujuran. Itu TUGAS MU, Suamikuga semuanya bisa ku-handle meski aku nyaris superwoman. Karena itu, jangan terlalu serius untuk mengamankan kerajaan dari badai dan topan, tapi hiruplah juga sarinya. Puaskan lah matamu saat melihat putrimu sedang kasak kusuk cekakak cekikik dengan ibunya, itu momen terindah, yang membuat tubuh lelahmu bisa segar lhoh, dengan seketika…Betapa waktu seperti Pencuri, Sayang…

Aku udah nangis setengah jam…ketahuilah, tulisan cakar ayam ini puncak kelelahanku dan juga bukti sayangku. Semoga terbaca oleh mata hatimu ya…

Tertanda,

Lady of the House & Penguasa dapur kerajaanmu

[]

 

(p.s.: yang masi tetep keren meski udah brojol beberapa kali…)

 

 

Julia Napitupulu

Lahir di Jakarta, 8 April 1974. Ibu dari Willi (putra, 7 tahun), dan Abel (putri, 6 tahun). Misi terbesarnya adalah menjadi pengajar. Setelah resign sebagai pelatih (psychology) di HR Consultant, Julia kini aktif bekerja sebagai pelatih di bidang Soft Competence dan Assessor Recruiting & Assesment karyawan, serta Konselor tes minat-bakat anak. Julia juga punya bejubel aktivitas, yakni Singing Pianist, Presenter Radio, MC. Menulis baginya adalah bentuk theraphy baginya untuk bisa melihat lebih jernih, dunia di luar dan dalam dirinya. Sebagai trainer, Julia kerap menggunakan metode menulis dalam proses kepelatihan; dalam bentuk studi kasus, kuis, skrip roleplay.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: