Merekam Kedamaian

(untuk Sebuah Rumah Angan)

Oleh Julia Napitupulu

 

Rupanya begini rasanya dipeluk oleh alam, aku membatin: “Mungkin ayahku belajar memeluk dari sang alam”

Bukan pelukan yang menghanyutkan, apalagi memabukkan…bukan…sama sekali bukan pelukan yang mengambil sebagian kesadaranmu, karena rasa nyeri itu terasa nyata, di sekujurku…

Pelukan alam membalurku dengan ‘makna perlindungan’,  mengingatkanku saat pertama kali berada aman di pelukan ayahku dulu…

Hanya alam yang mampu membujuk sang waktu untuk sejenak beristirahat,

mengerti ku untuk memberi cukup waktu..untuk merekam ‘kepulanganku’

Hanya alam yang bisa melembutkan hatiku, untuk membuka pori-poriku..pasrah membiarkan simfoninya menembus luka-lukaku yang basah,  dengan kuat sekaligus lembut..dan melebur luka ini menjadi luka kami bersama..

Hanya alam yang ini…

Inilah alam yang membingkai rumah buatan angan..yang sudah mengenali kami, bahkan sebelum saat pertama mata bertemu mata..

Inilah alam yang melekat satu dengan rumah hati kami..yang sedari dulu sudah membaui kami, bahkan sebelum kami saling membaui sejuta kesamaan yang terasa mustahil.

Baru aku paham betapa bisikan jiwa mampu menembus ruang dan waktu…

Ataukah mungkin…alam ini yang selalu menyambungkan jiwa yang terbelah?  Dengan merentangkan dirinya bak tali yang menembus batas ruang waktu? Dan menambatkan kedua ujungnya di kaitan jiwa ini?

Cuma alam yang ini, yang tak pernah luput mengikuti geliat dua pasang kaki,  dalam satu jiwa yang selalu bergerak resah sepi..dan bergemuruh dalam hening..

Selain Ibuku, hanya alam yang  mampu menunjukkan kasihnya saat ia sedang murka..

Ia juga sewajah dengan Ayahku, membuatku terlindungi saat ia sedang marah..

Karena aku kenal dengan murkanya.. akrab dengan marahnya..dan bisa meresapi kasih sejati di baliknya..

Baru aku paham makna dari kalimat “Alam yang jadi Saksi..dan sekaligus menjadi Bingkai perjalanan kasih..”, saat kasih itu merebak dalam damai…“a perfect picture painting of loving in peace”

Hanya alam yang ini, alam rumah kami..yang mampu meluruhkan dendam kami pada sang waktu..bukan hanya karena ia mampu menembus perbedaan ruang dan waktu..tapi juga karena ia memilih waktu-waktu terindah untuk berbicara kepada kami..

Dan kini, kami tak hanya memiliki alam ini, kami juga memiliki waktu-waktu kami, meski tidak semua waktu…hanya waktu-waktu terindah,  dimana kedamaian terekam abadi.. di jiwa..

 

Jakarta, 1 September 2010, 01.45 Wib

[]

From the memoir of “back to home journey”,

-di alam ini, semua mengalir dengan indah & sempurna-

 

 

Julia Napitupulu

Lahir di Jakarta, 8 April 1974. Ibu dari Willi (putra, 7 tahun), dan Abel (putri, 6 tahun). Misi terbesarnya adalah menjadi pengajar. Setelah resign sebagai pelatih (psychology) di HR Consultant, Julia kini aktif bekerja sebagai pelatih di bidang Soft Competence dan Assessor Recruiting & Assesment karyawan, serta Konselor tes minat-bakat anak. Julia juga punya bejubel aktivitas, yakni Singing Pianist, Presenter Radio, MC. Menulis baginya adalah bentuk theraphy baginya untuk bisa melihat lebih jernih, dunia di luar dan dalam dirinya. Sebagai trainer, Julia kerap menggunakan metode menulis dalam proses kepelatihan; dalam bentuk studi kasus, kuis, skrip roleplay.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: