Menemukan Tulisan-tulisan Rendra Tahun 1960-an

Oleh : Dwi Klik Santosa

PADA suatu kesempatan, Bela Studio, sanggar tempat kami berkegiatan, punya hajat besar. Yaitu riset mencari bahan dan data apa saja berbau Rendra dan Bengkel Teater Rendra untuk keperluan penyusunan sebuah buku dan pusat data website. Riset di Jogja, jauh hari setelah mendengar kabar ini, tak dapat saya sembunyikan rasa senang. Antusias dan ingin segera saya lakukan.

Tidak ada alasan menolak jadwal tersebut, sekalipun diberikan target yang cukup berat dalam tenggang waktu yang sangat singkat. Menyapu semua data; foto dan tulisan tentang Rendra dari kemunculannya sejak remaja, tahun 1950-an, hingga sekarang. Tajuk kegiatan yang menyenangkan dan menantang.

Sebagaimana riset-riset yang telah saya lakukan beberapa tahun lalu, dari perpus ke perpus, pusat dokumentasi ke pusat dokumentasi, senantiasa terjadi ketegangan yang luar biasa. Mungkin ketegangan lebih disebabkan karena perasaan yang ‘tertekan’, sebab dalam waktu 2 minggu itu, saya diandalkan untuk mendapatkan bahan-bahan yang cukup signifikan, menambah isi buku yang kurang.

Hari pertama dan kedua, nihil data. Sejumlah tempat saya jajagi dan datangi. Kegiatan mencari foto-foto; proses dan pementasan Rendra saya utamakan. 3 tempat, yakni redaksi Kedaulatan Rakyat, yang berita budayanya diasuh oleh harian khusus Minggu Ini, redaksi Basis, majalah kebudayaan, dan redaksi Bernas saya hubungi. Melalui telepon, saya hubungi pemred-pemred. Agak mengecewakan, karena nyaris dijawab sama; bahwa pusat dokumentasi mereka, tidak cukup baik untuk menyimpan sejumlah foto-foto yang ada. Seperti yang diakui sendiri oleh Pak Hadjid Hamsyah, pemred Minggu Ini, foto-foto momen dari periode dekade tahun 1990-an saja sudah sulit ditemukan, apalagi foto-foto periode di bawahnya.

Begitupun hal yang sama dikatakan oleh Pak B. Rahmanto, redaktur senior Majalah Basis, juga mengatakan hal yang sama. Dan kurang lebih, kabar dari Bernas pun yang pindah-pindah alamat kantor, juga mendapatkan jawaban serupa.

Begitupun 3 tempat lainnya, yakni Perpustakaan Hatta di Jalan Solo, Perpustakaan UGM di Bulak Sumur, dan Pusat Kliping di Shoping Center. Nyaris tidak saya dapatkan data yang menghibur. Hanya dari Perpustakaan Hatta, masih saya dapatkan 3 tulisan Rendra yang berasal dari copy-an bendel Majalah Prisma, tahun 1980-an. Dari ketiga tempat, pusat data legendaris kota Jogja ini, semua koleksi data yang ada adalah yang terbaru. Mencari data dari tahun 1980-an ke bawah, sudah tidak ditemukan lagi di rak-rak dan lemari penyimpanannya.

Baru pada hari ketiga dan keempat, agak sedikit lega. Dua hari mendatangi Perpustakaan Daerah di Jalan Malioboro, setelah membuka-buka bendelan koran dan majalah kuno, beberapa data penting, mulai saya dapatkan. Mengobati kekecewaan karena sebuah prediksi; nampaknya tidak akan berhasil saya memenuhi target mendapatkan foto-foto, antusias saya telusuri semua data (koran dan majalah) yang tersimpan di perpustakaan kuno itu. Tulisan-tulisan tentang karya tulis, resensi pementasan puisi dan teater Rendra dari era 1950 – 1990, satu per satu saya dapatkan. Meski pun, didera jengkel dan marah yang tertahan, karena mendapatkan dilema yang mengenaskan. Banyak tulisan dari koran dan majalah yang rusak serta hilang, karena disilet dan digunting dengan paksa dan kasar. Sangat yakin saya, jika lembar-lembar yang tersilet tersebut adalah data-data yang saya cari. Sebab sebelum berangkat, dari Bela Studio, saya cukup seksama dibekali panduan, berupa list atau daftar urut-urutan jadwal pementasan Rendra dari tahun ke tahun.

”Kami tidak dapat mencegah perusakan itu, sebab kami tidak selalu dapat mengawasi pengunjung setiap waktu,” begitu kata Pak Bowo, kenalan baik yang telah puluhan tahun bertugas jadi penjaga perpustakaan di situ.
Begitupun, kemudian pada hari-hari berikutnya, dengan kerja ekstra keras, dari Perpustakaan Daerah di Jalan Malioboro, Perpustakaan di Taman Kebudayaan Yogyakarta di samping belakang Pasar Bringharjo, Perpustakaan Kolsani di Jalan Abu Bakar Ali, Pusat Dokumentasi Kata Ketik di Sinduardjo, Dari Koleksi pribadi; Ibu Dina Yurida (penjaga perpustakaan UGM), dan Bang Azwar A.N., mantan senior Bengkel Teater Rendra, sekian data, baik kliping koran dan majalah, maupun foto asli, selama 2 minggu berhasil saya dapatkan dan bisa saya bawa pulang ke Jakarta dengan hati gembira.

Setelah sampai di BelaSel, kost sementara Bela Studio yang juga markas penerbit Burungmerak Press di perumahan sudut Jalan Salemba Tengah, segera saya tumpahkan apa-apa yang saya dapat dari Jogja kepada Mas Edi Haryono.

“Temuanmu kali ini lumayan,” puji Mas Edi.

Beberapa hari kemudian, setelah meneliti secara seksama, bahan dan data yang saya dapat, Mas Edi memanggil saya untuk diskusi.

“Selamat ya, kamu hebat. Tulisan-tulisan Rendra di Starweekly ini sangat memenuhi syarat untuk dibukukan. Anda siap menjadi editornya?” ujar ketua Bela Studio itu.

Jauh dari yang saya duga sebelumnya, tidak menyangka, jika kembali saya diberi amanat yang langka dan menantang ini. Menjadi editor buku tulisan-tulisan asli Rendra. Wah, betapa ini suatu ‘kesempatan yang dimanjakan’.

Lembar demi lembar yang berisi 18 tulisan itu, setelah dipilah-pilah Mas Edi, lalu saya baca kembali. Saya timbang-timbang dan diskusikan dengan Mas Edi. Saya ceritakan perasaan saya, tentang prosesi mendapatkan tulisan itu. Di depan komputer, dengan dahi yang berlipat, Mas Edi Haryono setia sekali mendengarkan cerita saya. Selalu begitu. Ketua bagi sejumlah anggota Bela Studio, yang notabene juga adalah organisator dan dokumentator Rendra ini, senantiasa hangat mendengarkan laporan-laporan saya; baik laporan yang baik maupun yang berupa keluh-kesah.

Setelah menyalin ke-18 tulisan Rendra ini, mengoreksi dan mengeditnya, ruang pikiran saya dipenuhi kunang-kunang. Dari yang semula agresif, mendadak saya jadi lebih pendiam. 18 tulisan yang mengesankan. Tidak sekedar membaca, mengoreksi dan ingin menjadikannya buku, rupanya saya telah terseret dan terbawa jauh, disebabkan terpengaruh karisma isi tulisan yang hebat ini.

Rendra Muda yang ‘Berisi’

Delapan belas tulisan Catatan-catatan Rendra Tahun 60-an. Bagi saya, merupakan tulisan padat dan sangat kuat. Tidak ‘bombastis’ dan ‘menggurui’. Sekalipun memang terkesan menuju ke arah itu. Menurut saya, tulisan-tulisan Rendra dalam kumpulan buku ini, adalah proses yang jujur dari sebuah pengamatan yang dilakukan oleh orang yang sadar akan diri, ruang dan waktu. Dimana, di dalam memberikan pernyataan dan pandangan, terlebih dahulu, pastilah ia telah mempunyai ‘isi’, baik pengalaman secara empiris, maupun data yang dicapainya dari berbagai referensi, yang berupa catatan-catatan dan teori-teori.

Fantastis! Keseluruhan tulisan ini, adalah uraian visi seorang Rendra, yang dalam usia semuda itu mampu menghadirkan, dan bahkan mengurai misi yang sedemikian ‘akurat’ dan ‘hidup’. Subtil-subtil kehidupan yang diterawang jauh melewati apa-apa yang sudah kita baca dan yakini selama ini dari teori-teori yang ada. Lebih spesifik lagi, pemahaman-pemahaman tentang seni dan kesenian yang merupakan penjabaran esensi dari sebuah kebudayaan. Yaitu, hasil budi dan daya manusia yang menempati sejengkal ruang dan lingkup kehidupannya.

Bagaimana mungkin, Rendra yang pada saat tulisan-tulisan (sebagian besar) ini dibuat dan dimuat (tahun 1959 – 1961) berumur 24 menjelang 30 tahun. Dan kategori yang baru menuju dewasa itu, betapa ia mampu dengan berani dan gamblang melontarkan statement-statement yang gawat tapi lugas. Tentulah (jika saja tidak munafik), siapa pun; cendekiawan, seniman, budayawan, birokrat, akademisi dan lainnya yang hidup di ranah intelektual akan terkaget-kaget. Apalagi pada zaman itu, adalah masa-masa orde baru, yang amat rentan bagi pikiran-pikiran kritis untuk dilontarkan.

Begitupun dengan saya. Saking kagetnya, saya jadi banyak introspeksi. Sebelum saya kenal dan mengagumi Rendra, saya adalah pengagum Bung Karno. Dari sekian buku yang saya baca, buku-buku tentang Soekarno selepas SMA sudah menjadi bacaan favorit. Dari buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid 1 dan 2 yang tebal dan merupakan kumpulan tulisan Soekarno yang pernah dimuat di berbagai media surat kabar itu, setidaknya telah membakar elan pemikiran saya tentang banyak hal. Tidak saja mengenai esensi nasionalisme, sosialisme dan freedomisme. Tapi juga termaktub di dalamnya, tentang kedudukan seni bagi sebuah bangsa. Oleh beberapa sikap Soekarno yang menjunjung tinggi nilai seni, yang ditunjukkan dengan kegemarannya mengoleksi benda-benda seni tingkat tinggi dan menggelar pembangunan sekian benda dan “tempat” kesenian di beberapa tempat, nyaris dikatakan, Soekarnolah berjasa membentuk selera kebudayaan di Indonesia. Dan tentang asumsi itu mari simak komentar Rendra :

Faktor intimitas jarak antara penonton dan panggung sangat sering dilupakan oleh orang Indonesia dalam membangun gedung-gedung teater. …. kedua balkon samping di Teater Tertutup itu sangat menghina penonton fungsinya, sebab sebagai tempat menonton ia lebih menyiksa daripada mengenakkan. Sedangkan Bali Room di Hotel Indonesia mencerminkan selera picisan dan rupanya dibangun dengan prasangka bahwa semua penonton itu mempunyai teropong. Banyak lagi, terutama di zaman pemerintahan Soekarno, dibangun oleh orang-orang gedung-gedung pertunjukan yang bombastis, ialah sesuai dengan selera rendah Soekarno dalam kesenian, yang hanya sesuai untuk rapat- rapat saja.
Penjajahan Belanda yang memperkenalkan kita pada gedung-gedung tonil dan gedung-gedung komidi. Lalu Soekarno yang sangat gampang terpengaruh oleh hal-hal yang bombastis dari kebudayaan Barat itu seperti orang Barat yang kolot berpaling pada model-model ampiteater atau kolusiumnya Nero. Meniru-niru Barat tanpa tahu persoalan yang sebenarnya, itulah ciri khas kebudayaan dari Soekarno. Lihatlah saja Patung Selamat Datang yang bersifat menjiplak itu, dan koleksi lukisan-lukisan realismenya, dan lalu seleranya akan dekorasi dan pesta, yang semuanya mencerminkan selera Barat yang bersifat rendah, bukan dari jenis yang tinggi.

Memahami dengan bening dan menelusuri logika yang ada pada pengamatan Rendra dalam tulisan ini, saya jadi teringat kata-kata almarhum YB. Mangunwijaya, “sebelum mencipta sesuatu, bangun dulu jiwamu.” Dan lalu saya teringat dengan salah satu buku beliau yang berjudul Wastucitra. Bahwa sebuah gedung atau bangunan itu didirikan, hendaknya dipikirkan secara matang berdasarkan; wastu yang berarti roh yang menopang ornamen atau bagan, dan citra yang berarti fungsi untuk membangun keindahan. Tidak ada bangunan, rumah atau gedung yang baik atau indah, jika tidak dibangun berdasarkan roh atau bagan yang baik sebagaimana menurutkan fungsinya.

Rendra muda memang bergelora. Tidak seperti kebanyakan anak muda lain, yang pada umumnya mencari kebanggaan dengan berburu prestasi, sensasi dan sebagainya, demi hanya untuk mendapatkan ‘pengakuan’ atas nama status diri. Ambisi untuk ingin selalu menjadi pemenang, juara, dan seterusnya. Dalam sepak terjangnya, sebagaimana dapat kita baca kembali dari autobiografi maupun biografi menurut berbagai versi yang ada, Rendra seakan tidak memperhitungkan itu. Jika ada data yang menyebutkan, bahwa suatu ketika, ia dinobatkan menang pada sebuah sayembara tertentu, itu bukan berarti, dia tertarik dan ambisius mengikuti kejuaraan-kejuaraan tersebut. Tapi buah pikir yang brilian dan keberaniannya yang menembus batas itulah bahan penilaian yang mutlak, yang ‘terpaksa’ harus memenangkannya. Sehingga akhirnya dia berpredikat juara dan mendapatkan penghargaan.

Rendra tidak saja jagoan dengan karya-karyanya (baik esai, cerpen, puisi, drama), tetapi dengan kematangan berlogika dan melontarkan pendapat-pendapatnya itu, ia telah menjadi pendekar kelas wahid, yang selalu ingin memenangkan setiap pertarungan. Kenapa ia jagoan? Sebab, sebagaimana kita tahu, bahwa kewajaran dan keniscayaan hidup di negeri kita ini, dari waktu ke waktu, orde ke orde, melulu seolah-olah milik mereka para birokrat, teknokrat dan ‘tuan-tuan’ yang berlagak big boss, dimana mereka-mereka itulah yang dalam perpindahan periode era di negeri kita ini, melulu pula memegang ‘decision maker’, alias yang merasa lebih berhak memutuskan segala hal.

Jika Rendra tidak jagoan, dalam hal ini, maka menurut saya, tidak akan menariklah sejarah pergerakan dinamisasi di Indonesia. Tidak menjadi seru, karena tidak muncul “Robinhood”, “William Wallace” dan “Lancelot”, –tiga “petualang, pembela rakyat sejati” legendaris kebanggaan negeri Britania– yang nyata-nyata nakal, binal, sekaligus romantis dan heroik, hadir di tengah kehidupan kita yang kaya akan dongeng ini. Maka kurang sreg rasanya, hidup sebagai manusia Indonesia, pada zaman gila globalisasi ini, jika tidak hadir sesosok teladan yang mampu membukakan aura kita, supaya terus berani menggenggam pedang, dan tidak takut mencium anyir bau darah. Agar kesadaran diri menggayuh ‘cita-cita’ akan terus sebagai matahari, kesabaran yang sebagai bumi, keberanian yang menjadi cakrawala, dan perjuangan yang menjadi pelaksanaan dari kata-kata, sebagaimana katanya. Agar kewajaran tetap dan akan terus terbela dengan baik, sebagaimana berlaku sesuai fungsi, guna dan manfaatnya.

Membandingkan visi Rendra dengan visi saya pribadi, begitupun, manusia rata-rata seumur saya, betapa hanya bisa terantuk-antuk suntuk mengelus dada, sejujurnya dan setulusnya, mengakui kekerdilan kita sebagai orang muda. Apa yang sudah saya dan Anda miliki serta lakukan, terhadap diri sendiri, sesama dan kehidupan, dalam usia-usia yang semestinya dinamis dan bergelora ini? Lalu juga simak, salah satu nukilan Rendra dalam buku kumpulan esai-nya Memberi Makna pada Hidup yang Fana, “Saya muak pada seniman-seniman muda yang tidak mempunyai tenaga, tidak mempunyai kegagahan jiwa, tidak mempunyai kelurusan pikiran dan pengendapan pengalaman”.

Yang Muda yang Berkarya, yang Muda yang Bercinta, rupanya bukan saja parodi dari sebuah judul film yang pernah dibintangi Rendra. Lebih daripada itu, konon semenjak umur 10 tahun, Rendra tidak saja sudah beranjak untuk menghabiskan bacaan-bacaan tentang Socrates, Aristoteles, Plato dan lain-lain, tapi lebih dari itu ia sudah menghebohkan lewat puisi dan cerpennya. Maka tidaklah heran, jika lantas kemudian ia menjadi bahan gunjingan yang tak habis-habis. Dan makinlah ia menjadi-jadi. Pada usia 17 tahun, mengasuh acara sastra dunia di sebuah radio, dengan gamblang menceritakan siapa itu Boris Paternak, Ranggawarsita, John Steinbeck, Albert Camus dan sebagainya. Hingga menginjak usia 20 tahun, tak urung, Rendra terpaksa harus berhadapan dengan Iwan Simatupang dan Sitor Situmorang, untuk adu debat dan uji argumentasi. Begitupun, tak ayal, Umar Kayam, Subagyo Sastrowardoyo dan Soedjatmoko, pernah juga terhenyak dari kursinya, untuk terlibat sitegang kata dengannya. Dan seperti terlansir oleh berbagai sumber, para senior, legendaris sastra dan budaya Indonesia itu, pada akhirnya seolah mengiyakan apa-apa saja yang diargumentasikan pemuda Rendra.

Yang muda yang bergelora. Tidak naif kiranya, jika sejak umur remaja, Rendra sudah banyak mengenal cinta. Betapa indah, dunia hidup Rendra. Lalu bagaimana halnya dengan kita? []

Salemba, 2005

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: