Karena Kamulah yang Tersayang

Oleh Ade Anita

Ruangan yang besar dan megah tampak di hadapanku. Belum ada kursi atau apapun di dalam ruangan yang besar dan megah itu. Tidak heran jika suara paduan suara yang masih belum bisa dikatakan rapi terdengar bergema ke seluruh pelosok ruangan. Tapi ketika kepalaku menjulur menyeruak masuk melalui pintu utama ruang pertemuan tersebut, sebuah suara isak tangis terdengar secara tiba-tiba.

“Nah, ini loh Jeng, ruangan tempat perpisahan sekolah besok. Besar banget kan?”

Suara ketua komite sekolah terdengar ikut bergema, seiring dengan detak suara sepatu dan ditimpali oleh gema suara paduan suara yang belum bisa dibilang rapi.Tapi telingaku sudah tidak lagi memperhatikan suara-suara yang berseliwetan tersebut. Perhatianku langsung tertuju pada suara isak tangis yang begitu lirih yang menyembul di antara gema suara-suara yang berseliweran.

Suara lirih isak tangis itu berasal dari salah satu barisan anak-anak paduan suara. Suara lirih isak tangis itu berasal dari anak bungsuku, Hawna.

“Weleh, anaknya malah nangis pas ngeliat dirimu Jeng.”

Sebuah suara meledek terdengar. Tapi tidak aku pedulikan, karena di sana, di atas panggung, anakku tampak terisak menangis. Ya. Ledekan itu benar. Isak itu muncul justru karena melihat kehadiranku yang tiba-tiba. Lalu, perlahan sebuah rasa sedih tumbuh.

Aduh, sayangku. Kenapa kamu menangis melihat ibu datang menjenguk?

Akhirnya, ketika kelompok paduan suara itu selesai latihan, tubuh mungil yang masih menyisakan aliran air mata di pipinya itu aku raih. Aku dekap, aku gendong dan aku peluk. Perlahan aku bertanya padanya, “eh, tadi kenapa tiba-tiba nangis pas ibu datang?”

Gadis mungilku hanya menunduk. Tidak menjawab, tapi kedua tangan mungilnya terulur untuk melingkari leherku lalu menyembunyikan wajahnya di antara leherku.

“Kamu malu ya ibu menontonmu?” Sebuah gelengan aku rasakan.

“Lalu?” Tidak ada jawaban. Tapi aku tidak menuntut jawaban. Aku amat mencintai tubuh mungil dalam pelukanku ini.

Tapi, seberapa besarpun rasa cinta yang kita miliki pada seseorang, tetap tidak dapat membuat kita berkuasa untuk menentukan bahwa dia akan senantiasa memberikan rasa cinta yang sama pada kita. Perih memang kenyataan ini.

Dulu, ketika gadis mungilku ini lahir di muka bumi ini lima setengah tahun yang lalu, dengan perih dan sedih  aku harus merelakan membuang semua susu yang kuperah dari dadaku karena gadis mungilku dahulu lahir dalam kondisi bayi yang sedang keracunan air ketubannya sendiri. Kondisi yang membuatnya harus berpuasa meski tubuh mungilnya (yang amat sangat mungil)  baru saja lahir ke muka bumi. Padahal, semua ibu tentu mendambakan bisa menyusui sendiri bayi yang amat mereka sayangi.

“Nggak ibu. Aku bukannya nggak mau ibu nonton.”

Akhirnya sebuah suara lirih terdengar tepat di samping telingaku. Sudah tidak ada isak meski rengkuhan tangan mungilnya masih terasa kencang di leherku.

“Oh… lalu, kenapa tadi kamu menangis pas ibu masuk dan melihat kamu menyanyi?”

Kepala mungil gadis mungilku terasa kembali tersemat di leherku. Aku mengelus kepala mungilnya.

“Aku nggak hapal lagunya bu. Aku malu karena aku nggak bisa.”

Lalu pelukanku mengerat merengkuh tubuh mungilnya.

“Ya Allah, nggak apa-apa nak. Ibu nggak apa-apa kok kalau Hawna emang nggak hapal atau nggak bisa. Hawna nggak bisa apa-apa pun Ibu tetap sayang banget sama Hawna. Ayah juga gitu. Yang penting Hawna terus berusaha. Hawna sudah usaha kan?”

Kepala yang tersemat di leherku itu terasa terangkat dan kini tampak memandangku.

Wajah mungil yang memandangku ini tampak begitu polos. Wajah ini adalah wajah yang selalu aku rindukan ketika aku sedang berada jauh darinya. Satu pekan sebelumnya, dia berhasil diterima di sekolah dasar swasta yang kami incar untuk dapat dia masuki sebagai jenjang pendidikan lanjutannya. Ada rangkaian test yang harus dia ikuti untuk dapat masuk ke sekolah dasar tersebut. Dan itu sudah cukup membuatku sedikit berdebar meski aku berusaha untuk tampil biasa-biasa saja di hadapan semua orang.

“Deg-degan ya bu?” Seorang temanku tampak melemparkan seulas senyum padaku. Kami berdua sedang menunggu anak-anak kami masing-masing yang sedang mengikuti rangkaian test masuk sekolah dasar. Ada test membaca, menulis, menggambar, berhitung dan hapalan doa atau surat pendek yang harus anak-anak kami ikuti.

“Iya, deg-degan.” Jujur aku menjawab sapaan temanku.

“Tenang bu, yang tidak diterima itu adalah anak-anak yang belum mandiri. Semua rangkaian test itu sepertinya cuma formalitas saja deh.”

“Oh ya?” Tapi tetap rasa penasaran di dalam hatiku membuat dadaku tidak berhenti berdebar-debar. Di salah satu jendela dalam ruang kelas yang tertutup, aku melihat ada sebuah celah untuk mengintip. Perlahan, aku mencoba untuk mengintip ke dalam ruangan tempat test sedang dilakukan. Di sana, ternyata Hawna sedang menghibur seorang temannya yang sedang menangis. Aku tersenyum melihatnya.

Waktu pertama kali sekolah TK dahulu, Hawna juga suka menangis di kelasnya. Usianya memang masih muda, dan selama ini dia juga jarang sekali bermain dengan teman-teman sebayanya di sekitar rumah. Mungkin rasa canggung berada di tempat baru telah membuatnya gampang menangis. Tapi, beberapa orang temannya yang sudah lebih lama di sekolah barunya, datang menghiburnya. Mengiriminya kalimat-kalimat yang menenangkan hingga membuatnya merasa nyaman dan tidak lagi canggung. Pemandangan inilah yang aku lihat di ruang test saat ini. Hanya saja, kini Hawnalah yang berada di posisi sebagai seorang teman yang menghibur temannya yang sedang merasa canggung dan ragu.

Ah. Aku senang melihatnya kesigapannya membantu teman yang sedang kesulitan dan itu membuat rasa berdebarku menanti hasil test hilang dalam sekejap. Aku sudah tidak lagi peduli pada hasil test tersebut. Aku yakin dengan kemampuan Hawna. Tapi melihatnya perhatian pada orang lain yang kesulitan, membuatku merasa bangga dengan apapun yang dia peroleh dari test itu kelak.

“Jadi, gimana?”

Kita kembali pada suasana ketika kepala mungil yang baru selesai menangis sedang menatap wajahku.

“Apa ibu dan ayah masih  boleh menonton kamu menari dan menyanyi besok sayang?”

Kepala mungil di hadapanku itu mengangguk.

“Tapi aku nggak bisa, nggak apa-apa kan?”

“Nggak apa-apa. Pokoknya, selama Hawna senang dan ceria dan sudah berusaha, ibu sama ayah tetap sayang banget sama Hawna. Rasa sayangnya nggak akan berubah.”

Sebuah senyum menghiasi wajah yang ragu tersebut. Dan di hari wisuda Taman Kanak-Kanak Anak Bangsa kemarin, Hawna pun tampil penuh percaya diri. Entah bagaimana pendapat orang tua yang lain, tapi bagiku, Hawna sudah memberikan penampilan terbaiknya. Dan tanggal 25 Juni lalu, dia juga sudah dinyatakan lulus dalam test penerimaan murid kelas satu sekolah dasar. Tentu dengan hasil yang tidak mengecewakan. Membuatku ingin selalu menghujaninya dengan ciuman penuh rasa sayang. []

Catatan penulis: kenang-kenangan test masuk sekolah dasar Hawna, Juni 2011. Buat Hawna: I love You.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: