Serial Sobarudin: Akrab

Oleh: Fahrie Sadah

 

Di SMU Antariksa, banyak peraturan tidak tertulis yg harus ditaati oleh setiap guru. Siapa yg membuatnya? Lingkungan! Siapa yg akan menghukum pelanggarnya?

Lingkungan!

Peraturan nomor satu : Jangan terlalu akrab dengan siswa!!

Sobarudin guru yg murah senyum, ramah, suka bercanda di sekolah maupun di luar. Jadi wajar ia disenangi oleh mayoritas anak didiknya. “Bila siswa bisa dikuasai di luar kelas, maka penguasaan kelas saat Proses Belajar Mengajar sangat mudah dilakukan” dalihnya.

Hari ini sobarudin dipanggil kepala sekolah. Ia mendapat teguran karena alasan terlalu akrab dengan siswa. Menurut Pak Teguh sang kepsek, ulahnya itu menyebabkan para siswa tidak lagi menaruh hormat pada para guru. Tidak patuh, bahkan bersikap seperti pada temannya sendiri..

“Ini pasti laporan dari si lingkungan!” batin sobar. Ia sama sekali tidak membantah Pak Teguh. Walaupun ia merasa sikap para siswa padanya maupun guru-guru yang lain wajar wajar saja, tidak ada yang berubah.

“Percuma saja berurusan dengan si lingkungan! Gk akan ada ujungnya.” Batinnya lagi.

***

Bireuen, kabupaten di Aceh yang dikenal dengan julukan ‘Kota Juang’ ini jauh lebih panas siang itu. jalanan berkilauan di terpa matahari tanpa ampun, suara lalu lalang kendaraan di simpang tugu makin membuat gerah suasana siang itu. Deretan pertokoan tak beraturan, saling tindih saling rebut saling sikut, memang kota ini tidak pernah sepi.

Maimun, Si tukang parkir spesialis simpang tugu terlihat mondar-mandir dengan kemeja putihnya yang menguning karena terlalu lama direndam keringat. Tepat dibawah lampu merah, seorang nenek tua yang lusuh tersenyum manis telika seorang remaja menyelipkan selembar uang ke tangannya dan menutupnya rapat-rapat, “Pulanglah Nek, bahaya duduk disini..Ini buat bekal dirumah ya..” kata remaja itu diikuti anggukan kepala Nek Ti. dan remaja itupun membimbing Nek Ti naik becak menuju kediamannya.

“Coba lihat Nek Ti berapa dikasi sama anak itu?” Goda Apa Man si tukang becak. Urat2 keriput di wajah Nek Ti mengisyaratkan kebahagiaan tak terkira setelah genggaman itu terbuka, ada foto Ngurah Rai disana. Sudah puluhan tahun ia tidak menggenggam uang sebanyak itu. Ia cuma bisa nyengir menjawab pertanyaan Apa Man.

Di meja paling pojok dalam warkop ‘lampu merah’, sobarudin sedang menyeruput kopi weng yang baru dipesannya. “Memang nikmat sekali kopi weng bila sedang lelah begini,” batinnya. Maklum jarak tempuh perjalanan dari tempat tinggalnya di desa Antariksa ke Bireuen memakan waktu sekitar satu jam setengah. Sobar bisa dikatakan sering nongkrong disini kongkow dengan teman-temannya atau cuma untuk menikmati segelas kopi weng ‘lampu merah’. Selain itu, Sobar merasa lebih ekspresif karena disini tidak ada yang tahu dia seorang guru.

“Mun, tolong panggil anak itu kesini!” Seru Sobar. Maimun yang masih terlihat bolak balik itu memang kebetulan sedang berada di dekat remaja tadi. “Hai dek, di panggil Bang Sobar tuh” katanya sambil menunjuk ke arah sobar.

Remaja itu pun menoleh dan menjawab lambaian sobar, “Sudah lama Pak?” tegurnya seraya mengambil kursi buat duduk.

“Cukup lama untuk memperhatikan perbuatan mulia kamu tadi, mau pesan apa? Roni Si remaja tadi tersipu, menarik-narik jambulnya yang minggu lalu di gunting oleh sobar.

“Santai aja Ron, ternyata kamu itu anak baik. Bapak heran kenapa kamu di sekolah bisa di cap murid paling bandel..”

“Ah, bapak bisa aja..” Jawabnya sambil diam diam menarik rokok yang dari tadi nangkring di telinganya dan membuangnya ke bawah.

“Ngapain kamu buang?” Roni menarik-narik jambulnya lagi..

“Well, karena bapak juga merokok jadi kamu tidak bapak larang! Disini berlaku peraturan bapak, tapi di sekolah yg berlaku peraturan sekolah! Kalau bapak lihat kamu merokok di sekolah kamu bapak cincang!!” kata sobar waktu itu.

“Siap Pak!” jawabnya dengan sikap hormat bendera.

Sobar sadar apa yang dilakukannya sangat riskan, duduk dengan murid sambil merokok bersama. citranya sebagai guru di masyarakat bisa tercoreng.

“Ron, bapak beri kamu kepercayaan. Bapak lihat kamu cukup berpengaruh di kelas. Bisa tidak kamu menjamin teman-teman kamu tidak gaduh saat belajar??”

“Bisa Pak!” sahut Roni tegas.

“Ok, habiskan kopimu, kita pulang sekarang!” Sobar tidak mau berlama-lama.

Walau ia telah memilih warkop yang jauh dari tempat tinggalnya, tetap saja ia takut ada yang mengenalnya. Apa kata masyarakat bila tau seorang guru kongkow dengan murid SMA nya sambil merokok bersama? Dan ternyata seorang miss lingkungan melihat semuanya..

***

Sobarudin, seorang guru SMA di pedesaan. Yang mayoritas masyarakatnya adalah nelayan. Pagi itu mengajar dengan semangat di kelas III-5. Kelas yang menjadi momok para guru, kelas yang dihuni anak-anak pesisir liar, yang mayoritar berkulit legam, dengan rambut pirang alami dan bersuara lengking. beberapa di antaranya pernah tinggal kelas dua tahun berturut-turut.

Namun hari ini kelas ini senyap..diam..patuh..teratur dan sopan… Sobar berdiri tenang sambil mengelus jenggot tipisnya lalu menyapu pandangan ke seluruh penjuru galaxy. Di bangku paling belakang, seorang bintang bernama Roni Munji mengedipkan mata padanya. Sobar hanya membalas dengan anggukan kepala.

“Hmm…ternyata anak-anak pantai ini hanya butuh sebuah kepercayaan…” Gumannya dalam hati.. ***

Lihat episode sebelumnya : Serial Sobarudin: SMU Antariksa

Biography :
Nama : Fakhrie Sadah
Lahir : Aceh, 28 April 1984
Aktifitas: Kuliah di KIFAL (Khartoum Institut For Arabic Language) Sudan


4 responses to “Serial Sobarudin: Akrab

  • iqbalx8x

    Bentar Fahri, Itu judulnya blognya Freedom writer, apa itu buku dari Miss Gruwell ya, kalau iya saya juga suka banget tuh buku

    • theindonesianwriters

      Iqbal🙂
      Mohon informasi, apabila tulisan tersebut berasal dari buku lain (karya lain).
      Sebab jika benar demikian maka IFW akan mencabut tulisan ini.
      Kebijakan IFW, salah satunya, adalah menentang plagiasi

      Salam🙂

  • Fahrie Sadah

    Maksud Mas Iqbal Judul Blog ini mirip dengan bukunya ERIN GRUWELL “The Freedom Writers Diary”. Saya juga suka bukunya Miss Gruwell Mas, saya juga gak tau apa blog ini ada hubungannya dengan yayasan The Freedom Writers foundation milik Miss Gruwell atau tidak🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: