Pengalaman Menulis Pertama Seorang Penulis: Awy Ameer Qolawun

Catatan dari Diaryku (80) : Pengalaman Pertama Takkan Terlupa

 

Oleh Awy Ameer Qolawun

 

 

Sebenarnya, menjadi seorang penulis itu sama sekali bukan bayangan dan cita-citaku. Memang aku suka membaca sejak kecil, tapi untuk menjadi penulis? Tak sekalipun terlintas.

 

Awal aku mengambil keputusan untuk total belajar agama (usai lulus SMP) pikiran itu sama sekali tidak ada. Aku masih tetap sebagai penikmat buku saja.

 

Hingga datang sepucuk surat, oh, bukan surat, tetapi secarik notes lebih tepat, dari pamanku, Syifa’ (adik kandung umiku) yang saat itu berada di Makkah.

 

Dalam surat itu Khol Syifa’ (aku biasa memanggil paman-paman dan bibi-bibiku dengan panggilan “Khol/Kholah”) menuliskan : “Wy, coba kamu buat coret-coretan dari hasil ngajimu, terus kirimkan ke majalah Al-Mu’tashim”. Hanya itu saja.

 

Aku hanya memandang notes itu dengan bengong sambil bergumam dalam hati, “apa ya bisa?” selalu itu saja kalimatku setiap melihat hal yang seolah “wah”.

 

Namun, sejak kecilku, surat-surat dari Khol-ku selalu menjadi motivasi dan inspirasi tersendiri bagiku. Bagiku surat-surat beliau seperti baterei energizer yang dibelasakkan ke punggung boneka kelinci robot.

 

Akhirnya, iseng saja aku mencoba menulis. Emm.. Mulai dari mana ya? Kata khol-ku di surat, dari ngajimu. Waktu itu aku lagi semangat-semangatnya mengkaji sebuah buku yang sangat inspiring, “Idzotun Nasyi-in” (petuah bagi remaja) karya Syaikh Mustofa Al-Gholayini.

 

Aku terjemah saja salah satu artikel di buku yang tiap malam sabtu itu dikaji oleh Babaku bersama kami. Aku tulis tangan di selembar kertas buku tulis. Mencoba untuk pertama kali menyusun kata. Iseng saja, kan disuruh nyoba.

 

Lalu aku salin lagi dengan tulisan tangan yang lebih bagus, masih-masih di kertas buku tulis. Dan aku kirimkan ke Redaksi majalah “Al-Mu’tashim”. Sebuah majalah dakwah terbitan Malang yang bertiras lumayan besar waktu itu, 5000 eksemplar setiap terbit.

 

Itu adalah tulisan pertamaku, setelah mengirimkannya melalui pos, aku lupa. Sampai 3 bulan berikutnya aku terbengong saat ada sebuah paket berisi kaos bertuliskan “al-mu’tashim” dan menerima majalah dari redaksi.

 

Tak ada pikiran apapun saat aku membolak-balik halaman majalah itu. Membaca isinya pun tak tertarik, karena itu majalah dewasa, dakwah lagi. Saat itu mah aku masih lebih suka baca majalah Mentari dan Bobo.

 

Aku lihat-lihat saja judul dan gambarnya, sampai punggungku terasa penat dan aku menyandar pada kursi tepat saat aku membalik halaman terakhir. Saat itulah aku melonjak terbelalak kaget.

 

Sebuah judul besar, dengan nama tak asing, membuatku menganga tak percaya. “Sabar, bukti orang berakal” oleh Alawy Muhammad Aly.

 

Hah? Yang bener? Masak tulisanku dimuat? Pertama kali menulis langsung dimuat? Benar-benar tak menyangka. Gembira, bengong, tak yakin, seolah mimpi, dada membesar, kuduk meremang, mata berbinar, nafas naik turun. Itu sensasi yang pertama kali aku rasakan.

 

Padahal aku sendiri sudah lupa jika pernah menulis dan mengirim tulisanku. Sejak itu, aku mulai terobsesi untuk menulis. Aku coba lagi mengirim ke “Al-Mu’tashim” dan dimuat lagi. Lalu aku mencoba tantangan dengan membidik majalah bertiras nasional, SANTRI, dan tulisanku dimuat lagi.

 

Sampai-sampai redakturnya jauh-jauh datang dari Jakarta ke Lamongan untuk mencariku dan mewawancarai babaku. Gara-gara tulisan yang menyengat, “mempertanyakan eksistensi pesantren di abad 21”. Padahal saat menulis artikel itu, aku hanya iseng dan tanpa riset apapun.

 

Namun, setelah itu aku tak lagi mengirim tulisan ke media, sebab di pesantren Babaku kami mendirikan Mading addhiya’. Konsentrasiku pun tercurah semuanya untuk Dhiya’.

 

Sempat aku mendapat secarik surat dari Khol-ku lagi, “Coba kamu tulis kejadian-kejadian politik di Tanah air, kamu resume dan kirimkan ke Khol”. Tapi kali ini surat itu hanya masuk agendaku, sebab pikiranku telah tersita oleh Addhiya’. Di mading inilah tulisanku terbit berkala, dan kemampuan menulisku terasah (ya jelas lah, wong aku redpel-nya, ya pasti terbit tulisan-tulisannya)

 

[]

 

Saat Workshop FLP Saudi Arabia di Makkah pada 2 Desember lalu, Mbak Helvy Tiana Rosa mengajarkan pada kami, bahwa menulis itu sama dengan melihat kungfu, heee..

 

Maksudnya? Apa hubungannya menulis dengan kungfu? Kita tak akan bisa menulis, begitu pula tak akan bisa kungfu jika hanya melihatnya saja tanpa berlatih dan mencoba. Ingin menjadi penulis tapi tak sekalipun mencoba menulis, maka sama halnya mimpi di siang bolong.

 

Setidaknya, ada 7 kiat praktis yang diajarkan Mbak Helvy pada kami untuk menjadi penulis :

 

1. Suka Membaca

2. Mencintai Bahasa

3. Menulis catatan harian

4. Terbiasa surat menyurat

5. Latihan deskripsi dan imajinasi

6. Hobi meneliti, menelaaah, dan berdiskusi.

7. Berani mempublikasi dan memposting tulisan kita.

 

Ketakutan tulisan kita dikatakan jelek adalah sebuah kesalahan tersendiri. Itu urusan belakang. Justru dari sini kita bisa tahu kelemahan tulisan kita melalui komentar teman-teman kita. Saat ini, salah satu media yang tepat untuk mempublish tulisan cakar ayam kita, ya notes di FB ini.

 

[]

 

Adapun tentang hubungan antara membaca dan menulis, tentu saja sangat erat sekali. Karena untuk bisa menulis, dibutuhkan wawasan tersendiri, dan itu tak bisa diperoleh kecuali dengan membaca. Seperti halnya arahan khol-ku padaku “coba tulis hasil ngajimu”.

 

Oh ya, perlu diingat satu hal, bahwa membaca itu tidak harus dari buku, tetapi juga dari kejadian di sekitar kita, pengalaman kehidupan, masyarakat, dan semesta. Seperti yang kerap aku bilangkan pada sahabat semua.

 

Namun, terkadang juga kita terbentur dengan kata “bakat”, sehingga membuat kita ragu menulis. Tak perlu resah dengan kata “bakat”, itu nasehat mbak Helvy, sebab kita bisa menjadi penulis hebat, asal punya tekad dan terus latihan serta selalu mengembangkan imajinasi untuk mencari inspirasi.

 

Hanya diperlukan 10% bakat (atau tidak sama sekali) dan 90% tekad serta latihan untuk menjadi penulis yang sukses, itu kata Pak Muchtar Loebis.

 

Kalau Kuntowijoyo lain lagi. Kata beliau, ada tiga langkah untuk menjadi penulis. Pertama, menulis. Kedua, menulis. Ketiga, juga menulis.

 

Jadi menulislah terus, setidaknya, keberanian, itu yang aku dapat dari pengalaman pertamaku menjadi penulis pemula yang tulisan perdana dalam hidup langsung dimuat.

 

Dan, menempatkan diri sebagai penulis, adalah sama halnya dengan menempatkan namamu dalam keabadian… Immortality .

 

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: