Sok Tahu Soal Bencana

Oleh Dwi Klik Santosa

 

Pernah dituliskan dalam sejarah

Kota Pompeii yang maju dan adiluhung

Terkubur sebagai peradaban yang hilang

Kerna Vesuvius yang muntah berak

 

Dikisahkan pula konon sebuah riwayat

Pernah terkubur Borobudur yang megah dan masyur

Ditumpuki abu padat mengkristal

Kerna Merapi yang batuk-batuk berdahak

 

“Merapi sedang membangun”

Begitu kalimat ini pernah dilontarkan

Mas Penewu Surakso Hargo almarhum

 

Apakah gunung-gunung perkasa itu punya nyawa

Atau jangan-jangan ia semacam kerajaan atau perusahaan

 

Kalau ia sosok yang sedang lungkrah

Apa sakitnya

Bagaimana menyembuhkan

 

Kalau ini semacam kerajaan

Siapa rajanya. Apa tujuannya

 

Kalau itu semacam perusahaan

Apa nama usahanya. Apa produknya

 

“Lahar dan lava yang mendingin dan mengering

Akan menjadikan abu yang berkualitas untuk perkebunan

Pun pasir, kerikil dan bebatuan

akan sangat berguna bagi pembangunan.”

Begitu sebuah pendapat memberikan komentar

Tapi panas dan racun ganas itu

Apakah seperti limbah saja

sebagaimana amoniak selepas hajat ekskresi

menyengat dayanya menghentikan ajal nafas

 

“Ini murka Tuhan

Sebagai peringatan bagi manusia

Yang keblangsak. Yang keblinger”

Tandas, lugas. Ada pula yang mengatai demikian

Apa ya kira-kira kesalahan manusia

Bagaimana dan darimana ia tahu

kalau hal ini sebuah klausul peringatan

 

Betapa mudah, betapa ringan

Sebuah rumusan, sebuah pendapat, sebuah komentar

Aneka ragam dimunculkan, dilebihkan, dibesarkan

Terkadang justru melindas cara berpikir

“Ada Tuhan di Merapi. Ada Tuhan di Mentawai

Ada Tuhan di Wasior. Ada Tuhan di segerak langkah kita

Mari datangi dengan gembira

Segenap bisa. Sepagu mampu

Tidak ada lagi Pompeii dan Borobudur yang terkubur

Abu, kerikil dan batu itu harus ditata

Ini peradaban religius

Bukan agung dari fasih lafal dikata

atau kalimat-kalimat indah gagah, ramai riuh dicipta

Yang tiada, kita semayamkan dan lafaskan doa

Yang sakit kita rawat. Yang rusak kita benahi dan bangun kembali

Dengan ringan langkah. Dengan sepenuh hati”

 

Wahai, bencana dan musibah

sama dekat dengan harapan dan kemuliaan

 

[]

 

Pondokaren

30 Oktober 2010

: 10.50

Teman-teman, kita jadi mentas dan ngumpul di Museum Nasional, Sabtu, 6 November 2010, jam 09.oo – 13.oo, ya.

Kita sinergikan saja ya, temanya. MENCINTAI NUSANTARA DAN PEDULI BENCANA. Jadi silakan saja nanti bagi yang ingin berekspresi. Mohon kabarkan lagi ke teman-teman lainnya. Mari semarakkan dan ramaikan kegiatan ini. Semoga pula, akan terkumpul atensi dan syukur-syukur mampu mendapatkan jumlah sumbangan yang berarti.

Bagi, yang berminat mengisi acara, mohon menghubungi saya dengan masuk ke inbox saya. Supaya bisa diatur lagi nanti, komposisi materinya. Supaya bisa mengalir, menyenangkan dan tidak monoton.

Panggung ini akan diramaikan oleh audience pelajar SMP, SMA. Serta akan dimeriahkan oleh seniman muda multi talent :

1) MAS DALANG NANANG HAPE. Dengan peragaan alat-alat musik tradisional : suling, kendang, gambang, saron dalam nuansa tembang kepedulian.

2) DIMAS AMBORO. Musisi muda yang sejak SMP menggali nuansa Balada. Ia akan menyanyikan nanti lagu-lagu Balada ciptaannya sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: