Sepi yang Seksi

Oleh Syaiful Alim

 

 

Inilah hidup paling sepi itu, Eva

kau pergi seusai menanam surga

puisi yang tak kenal usia.

Aku lunglai masai

memunguti sisa-sisa khuldi

di ranjang usang dan tak berderit lagi.

Air mata yang luruh di lantai

tumbuh sepi. Tapi inikah cinta itu

melulu dicumbu bau kelambu

dari bumbu-bumbu yang kau perah dari rempah-rempah tubuhmu?

 

Tubuh sepi kian seksi

aku makin rapuh, tak kuasa mendatangkan saksi.

Tuhan, ular sanca, dan iblis tak menggubris lagi

sangsi yang kutulis di kain tipis, bebaris gerimis

yang menguapkan aroma gadis.

Manis sajak sembunyi di bebulu belibis

oh untuk apa aku menangis?

 

Tak tamat aku mencari alamatmu

meski lamat-lamat penat menggerogoti

lambungku yang limbung oleh sekerat roti.

Oh hidup yang berujung pada mati

alangkah langkah kaki menuai sejati.

 

Aku tak tahu persis apakah rindu

yang membuatku sekarat, tapi sepi bagai ular

mendesis, memercikkan bisa, terkapar

seperti si sakit yang kelebihan dosis obat.

Oh rasa yang purba

hendak ke mana meraba.

 

Bibir terakhir yang kau ukir

di bibir pasirku mengusir syair

paling getir, sihir paling anyir.

Aduhai betapa lihai kau menyisir desir

melansir bebutir zikir di pantai pinggir.

 

Ah, Sepi yang seksi

kupeluk dalam gigil, sambil mabuk bubuk kopi.

 

 

2010.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: