Sebuah Pintu

Oleh Ade Anita

 

SEPERTI PUZZLE, SAAT BINTANG JATUH… CINTA, SETITIK KABUT BERMAKNA CINTA, SANG BINTANG, JAUH DEKAT CINTA, KETIKA CINTA BELUM SAATNYA, KUE BULAN AGNI, KETIKA CINTA KEMBALI, HONEY AND BEE, TITIAN CINTA, DAN ADAKAH CINTA DI SANA ?… 10 NASKAH TERSEBUT MASUK DALAM 10 NASKAH YANG MEMBERI SAINGAN YANG SANGAT KETAT, KARENA HAL TERSEBUT MAKA TERPAKSA KAMI SINGKIRKAN DARI ARENA KOLABORASI CINTA. MAAF, PERJUANGAN ANDA SAMPAI DISINI SAJA, TERUSKAN BERKARYA. TRIMA KASIH.

Di atas itu adalah pengumuman yang keluar pagi ini di wallnya Dang Aji, pemilik perhelatan Audisi naskah Kolaborasi Cinta berpasangan dengan sahabat. Naskahku ternyata tereliminasi. Alhamdulillah. Berarti masih diberi kesempatan untuk memperbaiki dan mengembangkannya sendiri menjadi novel yang utuh sendiri, tidak lagi berkolaborasi dengan UNSA.

Tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan disini.

Aku mau menulis tentang kisah yang aku dapat dari tayangan sinopsis Honey And Bee di salah satu notesku.

Ya. Semua bermula dari sinopsis tersebut.

Datang sebuah email dari seseorang yang tidak dapat disebut namanya karena memang sudah sepakat untuk dirahasiakan.

Dia bercerita tentang kegundahan hatinya, dan merasa bahwa dirinyalah karakter HONEY yang aku ceritakan.

Dengan detil dia bercerita panjang tentang betapa pahitnya ketika menjalani kehidupan Long Distance Love… apa itu kesepian…. bagaimana rasanya gigitan sepi… dan, akhirnya hujatan mengapa Tuhan harus menciptakan “rasa kesepian”.

(dan sementara dia gegap gempita bercerita, yang aku lakukan hanya meng-cut-nya dengan kalimat “boleh aku tulis secara utuh kisahmu ini dalam novel Honey and Bee-ku kelak?”)

Belum selesai berbenah dengan satu kisah ini, datang lagi email dari seseorang yang lain. Dan lagi-lagi, dia meng-klaim bahwa dialah tokoh HONEY yang aku ceritakan. Lalu tanpa diminta dia bercerita tentang perselingkuhan yang dia jalani untuk mengobati rasa sepinya. Semua kelihaiannya untuk bersandiwara di hadapan banyak orang, dan semua sisi kehidupannya yang tidak pernah diungkap sebelumnya pada siapapun.

(dan tebak, apa yang aku balas dalam reply email tersebut? Ya, benar sekali. “BOleh aku tulis kisahmu ini dalam kisah honey and bee-ku? Rasanya ini harus dituntaskan untuk menjadi novel yang utuh, dan aku bukan seorang penghayal yang baik. Aku hanya seorang penulis.  Boleh ya?” )

Semua curhat-curhat ini, membuatku berpikir, “Aih, kenapa perselingkuhan sekarang jadi marak terjadi ya?”

Dan belum selesai berpikir, tiba-tiba ada lagi yang mengirim email, dan mengatakan bahwa dialah orang ketiga yang menghampiri HOney and Bee. Orang ketiga yang rela meninggalkan segalanya demi agar bisa menjadi orang kedua.

Ya.

Dia tidak menuntut lebih selain hanya kedudukan untuk jadi orang kedua karena rasa cintanya yang amat besar pada pasangan yang dia masuki rumah tangganya.

Baik. Akhirnya aku berhenti berpikir, dan berhenti mengamati. Mungkin benar, semakin banyak tahu akan semakin menyusahkan.

Hingga datang email lain, yang mengatakan bahwa dia … uh.. parah deh pokoknya.  Ngga bisa diceritain disini. Lalu email lain lagi. Lalu email baru lagi. Lalu curhat lain lagi.

AH!!!!

Sekarang aku jadi marah. Amat marah. Kesal.

Aku merasa seperti sedang membuka sebuah pintu yang tertutup dan memergoki pemandangan sepasang manusia yang sedang melakukan adegan mesra disana. Malu, dan ingin cepat-cepat menutup pintu itu rasanya. Tapi kaget, karena aku tahu pasti siapa  kedua orang yang sedang melakukan adegan tersebut. Aku kenal mereka. Aku kagum pada mereka selama ini. Semua bintang dan piagam masih bertengger di atas pakaian mereka. AH!!!

Sebenarnya, dimana letak TUHAN dalam hati orang-orang ini?

Apakah sebuah kesetiaan itu sudah tidak ada artinya lagi di jaman sekarang?

[]

 

Catatan penulis:

1. (Hei… siapa Honey and Bee sebenarnya? Cerita ini aku yang membuatnya bersama dengan Inggar, mengapa ada banyak yang berebut mengklaim sebagai pemeran sih? Tidak ada hadiahnya loh, tapi dosa sudah pasti. *berharap seperti halnya cerita ini tereliminasi, semoga semua kisah perselingkuhan juga tereliminasi dari atas muka bumi… hm…mimpi ya aku?)

2. Mengetahui sebuah kebejatan sedang terjadi itu jauuuuuh lebih perih dan menyakitkan ketimbang mengetahui bahwa naskah kita tereliminasi. Percaya deh ama aku.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: