Menyumbang Kata, Menyambung Kita

Oleh Syaiful Alim

Aku dengar gempa di luar sajak

menimpa segala yang nampak

kaki melangkah, beranjak

mengepak kata-kata, hendak

tegakkan jiwa retak, kembang berserak.

Kami para Penyair

harta kami Kata

serupa air mengalir

membasahi akar-akar tua.

Jangan kalian tanya kami

apakah sepiring puisi setara dengan sebungkus indomie.

Bukankah para Nabi

memikul kata-kata, bukan sebakul roti.

Jangan kalian pinta dari kami

sejuta nasi kotak dan seribu lembar selimut.

Mintalah kepada kepala negara

atau para pejabat yang hobi korupsi.

Eits, kami diam-diam menyisihkan jatah makan anak istri

buat mengganjal perut-perut pengungsi.

Jangan kalian kira kami tak berbuat apa-apa

kami membantu dengan segala yang bisa.

Ayo gigih tagih janji-janji partai dan politisi

bila perlu pemilu mendatang tak memilih lagi.

Apa tidak gila! Rakyat meronta, berlari dari air mata

Sementara para penguasa berpesta;

ada yang meluncur ke Sanur Bali

ada yang terbang ke manca negara

dengan alasan study banding

ada juga yang pusing mikirin dinding

vila yang lecet dan kurang cat warna gading

ada yang lebih gila: gali tabungan umat

buat ibadah haji yang teramat keramat.

Apa kita tak merinding!

Berapa milyar uang rakyat menggelinding

begitu lancarnya di kening dan perut pejabat

yang kebanyakan hamil enam bulan

sementara rakyat jalan ribuan mil

cuma mengambil rizki secuil.

Bapak, Ibu, Saudara, Saudari, ini tidak adil!

Sudah lama kita dikibuli

berkali-kali diakali

apakah betah jadi kuli.

Ayo ledakkan saja apa yang ada dalam dada

seperti amuk Merapi, bagai gempa Mentawai

serupa lumpur lapindo menyembur

atau bak jamur-jamur kemiskinan merebak

dan kebodohan tumbuh subur, beranak pinak.

Ayo jangan hanya sembahyang di mushola, gereja, pura, kelenteng, dan wihara.

Ibadah hampa jika tanpa bukti nyata.

Percuma sujud doa bila saudara sengsara

padahal mampu membasuh duka lara.

Mari, mari memberi

eratkan jemari

rekatkan retak matahari

pikat wangi mawar di diri duri

jangan kalian biarkan menusuk hati.

Mari, mari menari

bersama kata

pilih paling jelita.

Jangan berhenti

sebelum pak menteri

tiba membawa ikan teri

bila bisa, pinta pak presiden datang

mengusung istananya

supaya kalian bisa leluasa nginap beberapa hari saja

dengan gratis, dilayani gadis-gadis manis jelita.

Kami para Penyair

meniupkan angin semilir

meski bibir terkilir.

Jangan iba, kami terbiasa hidup

di pinggir dan dipinggirkan.

Ini bukan takdir

tapi ulah orang-orang pandir.

Menyumbang kata.

Menyambung kita.

Kami tak pernah telat

membasuh luka.

Kami tak pernah rehat

membancuh air mata.

Malaikat, catat, kami ikut terlibat!

[]

Sudan dan Saudi Arabiya, 2010.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: