Janganlah Diam, Merah (Putih)

Oleh Afrilia Utami

 

Dan barangkali didahimu penuh debu. 

bekas vulkanik menangis sorekan amis.

jangan hanya jadi batu, sayang.

kau lupa cara mengingatkan darah

akan perjuangan perebutan tanah

“Aku lupa mengangkat amunisi

menembak mati langsung bangsaku sendiri.”

hari ini aku ingin meminang air mata dari  mukjijat

kanal sebelah utara. lalu tertidur pada

tanah kudus. menjaring ikan dengan jala setengah

hangus.

“Mana yang paling hangus, seluasnya humus sudah

bergugur semalam. lama tidak terurus. hingga mati pun

lupa diliangkan lubang.”

jangan terlalu marah, sayang.

merah gagahmu telah lama masih saja

terjajah. aku berdiri mendekorasi putih

mengumpulkan seberapa lama lagi tulang

tanpa sum-sum mulai tunai terbilang

janganlah terlalu berdiam, sayang

dihari sini kesabaran kita mulai ditanam.

 

[]

10 November 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: