Bela dan Bento, Temanku

Oleh Dwi Klik Santosa

Bela dan Bento. Ibu dan anak. Keduanya temanku. Cuma jarang sekali aku bertemu dengan mereka. Pertemuan pertama dulu, Bela takut sekali melihatku. Sedang Bento waktu itu masih bocah. Juga menunjukkan takutnya padaku. Hal yang lucu mungkin. Kalau sesuatu baru pertama kali dikenal, dua makhluk bertaring itu menunjukkan galaknya. Tapi waktu itu, malah aku yang menggonggong, menyalak duluan.

“Haiii … teman, apa kabar!” Keras-keras sapaku seraya mendekati.

Keduanya ngibrit terbirit-birit menjauhiku. Tentu saja kukejar. Memangnya aku ini setan, apa? Mengapa takut?

Lalu datang si boss, temanku, tuan pemilik kedua makhluk imut itu.

“Kau bagi saja coklatmu,” katanya, “kalau mereka mau, maka kau dianggapnya makhluk manis bagi Bela dan Bento.”

Benar saja, masih tiga keping coklat itu ada dalam sak kantungku. Kudekati pelan-pelan keduanya.

“Ini akan kubagi satu untukmu. Satu untukmu,” kataku, “dan tinggal satu lagi untukku.”

Keping coklat itu kuulurkan dan segera dicomotnya benda mungil di tanganku itu oleh mulut si besar. Dikunyah dan nampak manis sikapnya.

Waahh … tapi si kecil, melihatku bengong. Matanya menatapku tanpa gerak. Keping coklat satunya segera kuulurkan kepadanya. Mulutnya yang kecil itu lekas menyambut dan melahapnya. Wajahnya lucu, lugu. Dan tinggal satu coklat, segera kutelan sendiri di mulutku. Kukunyah sambil memperhatikan cara kedua makhluk ini mengunyah.

Kuelus-elus dua binatang jinak itu. Bela dan Bento, begitu sudah kuketahui namanya, dari penuturan si boss temanku itu sewaktu perjalanan dari Jakarta menuju Gadog, istana heningnya.

Dan, ketika sore tiba. Aku berlarian di halaman yang lapang dengan rumput rata hijau. Hup .. huup .. hup …. Kemana aku berlari, Bella dan Bento mengikuti. Sesekali Bento, si Kecil mengais-ngais kakiku. Karena geli aku berusaha menjauh darinya. Tapi tiba-tiba Bela melompat, menubrukku. Disusul oleh Bento.

Bergulingan kami di atas rumput. Entah darimana datangnya, tiba-tiba Bella menyorong-nyorong Bola menuju kepadaku. Hahaha …. Kami pun main bola bersama. Terbitlah gokilku. Berlagak seperti Christiano Ronaldo, bola kumain-mainkan. Berputar-putar, kadang-kadang dengan gerak tanpa bola, kukelabui kedua binatang itu. Ulik-ulik-ulik … tak kubiarkan sebentar pun direbut Bela dan Bento. Betapa senang saat melihat keduanya yang penuh semangat merebut bola, tapi terus tertipu olehku. Beberapa lamanya. Tersengal-sengal dan ngos-ngosan nafasku. Tapi Bela dan Bento seperti tak habis capek mengejarku.

Akhirnya, aku kecapekan. Bola kupeluk saja. Bela dan Bento tetap semangat ingin merebut bola itu dariku. Tak kubiarkan juga. Dan begitulah, kami bergulingan di atas rumput hingga senja tiba.

Menjelang malam, aku harus pulang ke Jakarta. Bela dan Bento nampak diam saja memandangi ketika aku mau masuk mobil sama si boss. Aku merasa juga ada sesuatu yang entahlah ketika memandanginya. Aku pun turun. Dan lekas kusamperi.

“Kalian teman yang menyenangkan. Kapan-kapan nanti aku datang lagi, ya.”

…. Guuukk .. guukkk … terdengar nyalak si Bento.

“O, iya. Tentu saja. Nanti kalau kau sudah mulai besar, pasti akan bisa merebut bola itu dariku.”

Mobil pun berjalan. Pelan perlahan cepat. Udara Jakarta yang pengab, seperti telah melupakan elegi ingatan akan Bela dan Bento.

[]

Zentha

19 November 2010

: 12.40

Iklan

One response to “Bela dan Bento, Temanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: