Sebongkah Keberanian

Oleh Hera Hizboel

 

KALI ini saya akan menulis tentang keberanian.  Awalnya, saya teringat percakapan dengan seorang teman. Ketika itu kami  di awal perkenalan dan bercakap tentang keberanian hingga  akhirnya sampai pada tarik menarik tentang kesediaan saling berbagi keberanian. Percakapan dan perbedaan pendapat kami tidak selesai.  Menggantung begitu saja. Rupanya kami belum sepaham mengenai makna keberanian yang akan saling kami bagikan.

Saya juga teringat sebuah catatan pendek yang diberikan oleh sahabat tercinta saya yang sudah tiada, almarhumah Tuti Gintini, saat kami masih sama-sama bekerja di harian umum Suara Pembaruan. Saat itu saya tengah bimbang dengan urusan percintaan. Saya terombang ambing antara meneruskan hubungan cinta yang sudah terjalin bertahun-tahun ataukah putus saja, karena pelanggaran yang dilakukan oleh kekasih saya terlalu fatal untuk saya maafkan.  Bunyinya demikian:

hera sayang,

kau harus ingat dan cermat

hidup ini hanya seonggok pilihan

dan setiap pilihan adalah resiko

kalau kau ingin jadi orang besar

bercandalah dengan resiko

tantanglah maut seperti layar yang bergetar

di tengah samudera

tegarlah menentang arus dan

guncangan prahara

hera sayang,

orang besar tak pernah menyesali

resiko yang diterima

sebab

ketabahan pada resiko adalah

jalan terjal menuju surga

Meski dalam  catatan itu tak ada satu pun kalimat keberanian, tapi maksud sahabat saya sangatlah  jelas. Ia memberi dorongan pada saya agar  berani mengambil pilihan, sehingga saya tidak terombang ambing terus dalam ketidak pastian.

Makna lebih jauh dari catatan pendek itu adalah, jika seseorang telah berani mengambil pilihan, jangan sekali-sekali mundur atau menyesali semua hal yang telah dilakukan. Kalaupun keliru atau salah mengambil pilihan itu adalah resiko yang harus ditanggung. Dan kesediaan menanggung resiko merupakan jalan terjal masuk surga.  Anjuran Tuti  adalah anjuran untuk berani dalam arti yang bijak dan luas. Bukan berani yang hanya terdorong oleh ego yang biasanya hanya menginginkan keberhasilan tanpa cela.

Keberanian yang hendak saya bagikan di sini bukan keberanian yang terkait dengan karier dan bisnis karena kedua hal itu sudah banyak dibahas oleh para pakar. Berhubung saya hanya seorang perempuan sederhana yang sudah pernah melalui hidup yang hiruk-pikuk, maka saya hendak berbagi tentang keberanian yang hubungannya lebih pada pergulatan hati menyangkut hidup dan cinta.

Seorang kakak sepupu saya tidak berani menolak ketika dijodohkan oleh orang tuanya, padahal dia tidak sreg dengan sang calon.  Nalurinya tidak salah, karena ternyata suaminya adalah orang yang temperamental. Kerap memukulinya meski hanya untuk kesalahan sepele yang dilakukannya. Meski demikian, dia  tidak berani meminta cerai karena khawatir melukai perasaan ayah ibunya.  Ada lagi teman saya yang hidupnya terus menerus mengeluh karena suaminya berkali-kali mengkhianatinya.  Dia juga tidak berani meminta cerai karena malu dengan status janda yang bakal disandangnya. Dia memilih “mati” pelan-pelan daripada memperjuangkan nasibnya.  Teman saya yang lain, hidupnya tidak pernah tenang karena dia tidak pernah bisa memaafkan kesalahan suaminya yang pernah berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Pernikahannya memang terus berlangsung, tapi  hidup mereka tak lagi seperti semula. Jauh dari bahagia, karena mereka jadi sering bertengkar. Sang istri tak henti mengungkit-ungkit kesalahan sang suami. Di hati keduanya sebenarnya sudah tak ada lagi cinta.  Mereka terus bertahan demi gengsi. Padahal, bahagia adalah pilihan.  Untuk apa meneruskan pernikahan kalau tidak bahagia. Atau, kalau memang mau bertahan, ya ikhlaskan kesalahan yang pernah dilakukan pasangan, maafkan dan teruskan hidup dengan cara baru, dengan cinta baru.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang tidak bisa melupakan masa lalu. Padahal, tak ada yang salah dengan masa lalu. Apalagi kalau melihatnya dari sisi spiritual.  Setiap manusia dilahirkan dengan membawa “buku skenario” masing-masing. Suka atau tidak suka, lembaran masa lalu, baik yang manis maupun yang pahit memang harus dialami karena itu sudah menjadi ketetapan-Nya. Yang menjadi persoalan justru bagaimana menjadikan masa lalu sebagai  lembar sejarah yang berisi pelajaran berharga.  Sejarah tidak untuk digugat, dimarahai, disesali, apalagi kemudian menjadi beban seumur hidup.  Sebagai buku masa lalu, tengok sajalah sekali-sekali sebagai bahan renungan dan cermin diri, syukur-syukur menjadi sangu untuk kian mendekatkan diri kepada Allah. Menjadi bahan untuk bersyukur pada Allah, bahwa Dia masih menjaga, melindungi, dan menyelamatkan.  Kita harus berani menanggalkan masa lalu (yang menyakitkan), agar bisa hidup tenang dan melanjutkan sisa usia dengan baik dan produktif. Betapapun, tak ada manusia yang bebas dari kesalahan. Kesadaran bahwa manusia bukanlah Malaikat, yang bisa saja sekali-sekali melakukan kesalahan, akan membuat kita bijak dan sabar ketika melihat orang lain berbuat salah. Jadikan masa lalu sebagai bagian dari proses perjalanan hidup yang tak tertawar.

Franklin D. Rosevelt, pemimpin dan negarawan Amerika mengatakan: “untuk hidup sukses, diperlukan keberanian menghadapi hidup itu sendiri. Tak ada yang  perlu ditakuti selain ketakutan itu sendiri.“ Keberanian sebenarnya adalah kata yang ajaib. Ia bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Keberanian juga bisa mengubah sesuatu yang negatif menjadi positif. Bisa membuat seseorang yang pesimis menjadi optimis. Dan keberanian juga bisa membuat seseorang yang terpuruk menjadi mampu bangkit kembali.

Kata orang bijak, di dunia ini tak ada sukses dan keberhasilan bagi orang-orang penakut.  Setiap capaian memerlukan keberanian menghadapi resiko dan tantangan.  Seberapa besar keberanian seseorang menghadapi kesulitan, tantangan, dan  resiko, akan menentukan seberapa besar keberhasilan akan tercapai.  Yang pasti, seberapa besar hidup yang kita inginkan, akan setara dengan besarnya resiko dan tantangan  yang kita ambil. Tak ada keberhasilan tanpa melewati tantangan, kesulitan,  dan pengorbanan.

Pelukis terkenal Hardi, di akhir percakapan dalam sebuah wawancara dengan saya tahun 2001 lalu memberikan kenang-kenangan sebuah buku berjudul, Hardi Membangun Jembatan Hati. Di lembar pertama buku itu ia tulisi kata-kata mengesankan yang  lebih bermakna sebagai doa puitis buat saya.  Sebuah doa tentang keberanian. Bunyinya demikian: “Pro hera. Tegar, sehat, bahagia. Dunia milik orang berani. Semoga Allah beri kau bahagia.” Sampai sekarang saya masih saja berdebar setiap membacanya. Saya masih merasa disupport dan didoakan oleh mas Hardi meski sudah terpisah jarak dan waktu.

Pada dasarnya, setiap orang memiliki keberanian.  Namun tidak semua orang menyadari dan mendayagunakan potensi itu. Bagi orang yang terbiasa hidup mapan misalnya, pasti memiliki keberanian lebih kecil dibanding orang yang hidupnya susah.  Keterbatasan menyangkut fisik, kesehatan, intelektualitas, dan usia, tidak boleh menjadi alasan bagi seseorang untuk pasrah saja menerima nasib.   Selagi berani mengubah setiap kekurangan dan keterbatasan menjadi kekuatan diri,  dan berani mengubah kegagalan yang pernah dialami menjadi kesuksesan yang tertunda, maka nasib baik Insya Allah akan menuntun kita menuju tangga keberhasilan.

Tentu saja keberanian yang saya maksud juga bukan keberanian yang grusah

-grusuh. Keberanian itu haruslah yang terukur dan tetap mempertimbangkan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya, secermat-cermatnya. Dan dengan menghitung semua resiko, baik yang negatif maupun yang positif. Jangan bertindak dengan ego dan nafsu diri. Jangan membiarkan diri dikuasai oleh ambisi tanpa mempertimbangkan orang-orang sekitar.  Dan, yang tak kalah pentingnya, beranilah menanggung semua resiko. Sadarilah bahwa hidup memang tidak sempurna. Tidak semua hal yang kita inginkan bisa kita raih.  Saya setuju sekali dengan pepatah yang mengatakan:  “yesterday is  a history, tomorrow is a mystery, and today is a gift.” Maka, marilah kita lanjutkan langkah dengan kepala tegak.  Sambutlah masa depan dengan senyum paling manis.  Seperti apa pun hidup di depan nanti, yakinilah bahwa Allah bermaksud baik pada kita. Dia yang paling tahu apa yang baik dan tidak baik untuk hamba-Nya.

di sini aku

bersama sebongkah keberanian

di sini aku

bersama seberkas cahaya

di sini aku

menggenggam cinta

hidup ini terbentang untuk dijalani

bukan untuk diringkas menjadi teori

hidup ini terbentang memberi kita kesempatan

untuk berbagi pikiran-pikiran terdalam

hidup ini terbentang menemaniku memperbaiki kesalahan

dan hidup ini juga terbentang untuk membantu mengatasi

kerinduanku kepadamu

sebuah kerinduan tak berujung

sebuah harapan tak berujung

sebab

memahamimu adalah keberanian

memaknaimu adalah kesungguhan dan

menerimamu adalah ketegaran yang menggetarkan.

aku tak pernah bosan berharap

meski waktu tak juga habis

sebab cinta menentang seribu zaman.

[]

hera- 2/11/2011

doa puitis dari pelukis Hardi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: